Mohon maaf untuk part kemarin, jari tangan gw mengkhianati otak gw, dan seenaknya ngetik to be continue yang seharusnya the end. Serius! Sebenernya cerita ini cuma Oneshoot! Tapi jari2 tangan gw mengkhianatai gw! *nangis*

Maaf juga buat part kemarin banyak banget typo, gw baru inget klo belum di edit, maaf ya semuanya. Otak gw ga bisa di ajak kompromi *sad*

But you know what guys? I'm really happy when i know gw berada di lingkungan yang tepat. Kebanyakan readers yang baca ff gw sama kayak gw mendukung HZT. *bahasa campuran aneh abaikan saja* *plak*

Dan. Karena pengkhianatan tak termaafkan(?) jari2 gw yang udah ngetik TBC, maka dengan otak mbulet yang gw punya, gw buatin part 2 yang sekaligus part final. Hehe.

Eh iya, ada tambahan dikit soal curhatan gw di part kemarin. Dikit kok, beneran deh, hanya memperjelas apa yang harus di jelaskan biar ga salah paham sama curhatan gw kemarin ^^

Balasan review di bawah ya, dan untuk beberapa review ada yang aku bales lewat PM :3

Author tidak menanggung jika saat membaca ff ini readers jadi senyum2 gila, kadar gula dalam darah naik, dan going crazy xD jika merasakan tanda2 yang di sebut, di mohon segera ke Rumah Sakit terdekat #plak

Saa~ enjoy!

.

.

.

Glas Doll

©Skylar.K

Kristao

Fantasy. Drama. Romance. Mature

Beware with the typo(s)

.

.

.

Tik tik tik tik

Jarum yang paling tipis dan kecil berderik monoton sekaligus layaknya ular derik yang mengancam sang waktu. Bunyi monoton itu sama sekali tidak ada bagus-bagusnya, membosankan, dan menjengkelkan. Sangat menjengkelkan jika berada di dalam sebuah ruangan dan menunggu seseorang datang. Karena itulah yang di lakukan Tao saat ini.

Nyatanya ruang baca super besar dan nyaman itu di selimuti alunan melodi lembut yang berasal dari beberapa alat musik dalam sebuah grup Orchestra yang menguar dari seperangkat audio super jernih yang di pesan secara khusus. Alunannya benar-benar lembut dan menenangkan, selalu berhasil membawa aura positif yang melingkupi seluruh ruangan. Namun entah mengapa derik detik jarum jam yang berada tinggi diatas sisi dinding yang lain terdengar amat jelas, mengalahkan symphony karangan Wolfgang Amadeus Mozart yang tersohor.

Penyihir bersulur keperakan bernama lengkap Huang Zi Tao yang manis sudah duduk diatas sofa selama hampir 2 jam lamanya, dengan sebuah buku di pangkuan kakinya, setoples macaroni pedas, dan setumpuk buku lain yang telah di selesaikannya selama menunggu yang berada di sisi kanannya. Tiap sebaris paragraf, ia menolehkan kepalanya ke samping kiri, sedikit melongok karena adanya sebuah rak lemari besar yang sedikit menghalangi pandangannya kearah pintu besi perpustakaan yang terrutup rapat.

Pintu besi itu diam hening. Tak ada tanda-tanda akan dibuka oleh seseorang.

Tao menghela nafas pendek, mengangkat kepalanya sedikit dan melihat pada jam kuno yang masih setia memberitahukan tiap detik yang terus bergerak maju.

"Kenapa master belum datang? Apa terjadi sesuatu?" ia menggumam resah. Black pearlnya bergulir gelisah menjelajah ke penjuru ruangan yang bisa di jangkaunya.

Tao menutup buku yang tengah di bacanya, tak lupa menyelipkan pembatas di halaman terakhir yang dibacanya. Ia bangkit berdiri, dengan kaki telanjang bergerak menjauhi set sofa nyaman yang memanjakan tubuhnya. Seperti tak merasakan dinginnya marmer mahal yang menghujam telapal kakinya, ia mendekati pinti besi yang di lengkapi seperangkat alat pengamanan yang Tao tahu tidak akan mudahembukanya. Dan yang bisa ia lakukan hanya berdiri diam di depan pintu itu, dengan rasa khawatir, dan manik mata yang penuh akan rasa cemas.

Jemari lentiknya bergerak menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal, kaki jenjangnya bergerak absurd. Mengulang langkah kakinya terus menerus. Sesekali menggigit-gigit kecil bibir kissable merahnya yang basah dan kenyal, dan jemari tangannya meremas-remas satu sama lain.

"Apa sebaiknya aku berteleportasi?" sebuah ide muncul dari otak kirinya, bersamaan dengan kedua kakinya yang berhenti dj tempat.

"Ah tidak-tidak, aku belum pernah melakukannya lagi sejak segel ku dibuka. Bagaimana kalau aku muncul di tempat yang salah? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengontrol kekuatan ku?" ia meracau bingung, berhenti saling meremas jari dan menatap kedua telapak tangannya.

Tao mendesis kesal, ia menghentakkan kakinya menjejak marmer dingin. Dirinya benci ini.

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada master? Bagaimana kalau ada penyihir lain diluar sana dan melukainya? Bagaimanaー"

Ting!

Password match

Suara digit-digit nomor yang di terkombinasi dan suara pintu besu yang dibuka kemudian, menghentikan langkah absurd Tao yang tak keruan. Penyihir manis bertubuh semampai itu terdiam di tempatnya berdiri, manik hitamnya melebar melihat sosok tinggi Kris yang masih memakai stelan kerja masuk ke dalam ruangan baca pribadi itu.

Brugh

Tubuh langsingnya menempel sempurna di tubuh Kris tepat saat pria tampan itu berbalik setelah menutup pintu. Beberapa detik ia terlihat kaget, dan kemudian tersenyum mengelus sulur keperakan Tao, memberi kecupan ringan di puncak kepalanya.

"Kenapa master lama sekali? Apa terjadi sesuatu diluar?" Tao melemparkan kilau indah black pearl nya pada auburn Kris yang gelap. Satu alis tebal pria itu terangkat.

"Merindukanku?" godanya.

"Aku mengkhawatirkan master. Master tidak pernah datang terlambat selama ini" wajah manisnya benar-benar terlihat cemas.

Kris tertawa kecil, ia bawa tangan kanannya mengelus pipi gembil halus Tao yang lembut di permukaan kulitnya, dan mendaratkan bibir plumnya di kelopak basah persik yang terbuka yang baru saja bergerak atraktif untuk menyuarakan ke khawatirannya.

"Terima kasih sudah mencemaskan aku sayang" bisiknya dengan bibir melekat. Tao menganggukkan kepalanya kecil.

"Jadi kenapa master datang terlambat?" tanyanya, menjauhkan wajahnya dari wajah tampan Kris dan menggenggam tangan besar pria itu. Ia menurut saja saat si tampan membimbingnya kearah sofa, dan duduk disana.

"Aku lembur di kantor dan tertidur" jawabnya seraya melepas jas abu-abu yang membungkus tubuh tegapnya.

"Pasti master lelah setiap malam menemaniku disini" Tao menatap sendu. Kris tersenyum tipis, meraih sulur keperakab Tao dan memainkannya di antara jemari panjang kurusnya.

"Aku memang lelah, tapi tidak pernah lelah bersamamu. Oh, kau membaca semua ini?" kalimat manis yang di tambahi nada keterkejutan saat matanya menemukan setumpuk buku cerita di dekatnya. Penyihir manis di sampingnya mengangguk.

"Iya, aku baca semuanya sambil menunggu master datang"

"Bagus" Kris mengangguk-anggukkan kepalanya kecil sambil membaca tiap judul buku yang bertumpuk itu. "Kau suka yang mana?" kembali di tatapnya manik kelam Tao.

Pemuda bermata Panda itu mengambil buku yang di tumpuk pada urutan paling akhir dan menunjukkannya pada Kris. Sebuah buka bersampul midnight blue dengan judul 'Prince and The Star'. Kris mengambil buku cerita itu.

"Aku juga suka buku ini. Nanti akan ku belikan buku cerita lain" senyumnya hangat. Tao mengangguk dengan lengkungan manis di bibirnya.

"Uhm, master" suara indahnya mendengung ragu. Jemari Kris yang bergerak membuka kancing kemeja hitamnya melambat, bersamaan dengan auburn yang kembali fokus menatap Tao.

"Ada apa?" jemari Kris berhenti pada kancing kelima, dan cukup memperlihatkan dada bidangnya pada penyihir manis yang duduk di sampingnya.

Tao menunduk memainkan jemarinya. "Apa...apa sudah ada kabar tentang ramuan itu?" ia bertanya takut-takut. Karena dirinya tahu jika Kris baru saja datang dan langsung menemuinya.

Dan sudah 5 hari sejak dirinya dan si tampan itu menemukan resep ramuan yang di kirimkan rekanan kerja Kris yang berasal dari Transylvania.

"Aku baru menghubungi orang-orang ku lagi siang tadi, mereka bilang dalam waktu dekat akan memberi kabar lebih lanjut"

"Uhn, aku mengerti" Tao masih menundukkan kepalanya saat mengangguk samar.

"Bersabarlah, sebentar lagi kutukan itu bisa kita patahkan" di usapnya lembut pipi halus Tao, dan meraih dagunya perlahan, agar sepasang mata indah si penyihir menatapnya.

Kelopak persiknya melengkung manis, mengundang belah plumnya untuk mencecapnya lagi. Dan ia melakukannya. Selalu, di setiap menit yang ia bisa, Kris akan melakukannya. Jika dirinya adalah lebah, maka kelopak merah Tao adalah sari bunga yang manis dan membukkan.

"Sekarang master tidur" Tao tersenyum manis, memamerkan betapa menawannya bentuk bibirnya ketika melakukan hal itu.

"Tidak mau" tentu Kris tidak rela jika harus memejamkan mata dan tak bisa menghabiskan malam dengan penyihir kesayangannya.

"Harus master" Tao menatap sebal.

"Tidak mau Taozi"

"Kenapa tidak mau?"

"Karena waktu ku akan terbuang percuma. Aku tidak mau membuang waktu ku begitu saja"

Tao mendesah sebal, ia bawa tangannya menekuk di kedua sisi pinggangnya dan menatap Kris tajam.

"Mata master merah, itu artinya master harus tidur. Aku tidak mau kalau master sampai sakit karena terus menemaniku tiap malam"

"Aku tidak akan jatuh sakit sayang" di raihnya lembut kedua tangan Tao. Menarik si penyihir manis bermata ala Panda yang masih memberengut sebal akan kekerasan kepalanya.

"Oya? Lalu siapa yang 2 yang lalu demam dan tertidur diatas sofa?" Tao harus mendongak menatap Kris, karena saat ini tangannya memeluk pinggang Kris. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran sofa, dan kaki panjangnya terjulur lurus ke depan.

Sejenak si tampan itu mengghirup aroma kayu manis yang menguar dari sulur keperakan Tao. "Aku hanya makan tidak teratur saat itu" belanya menggumam.

"Dan juga tidak istirahat dengan cukup. Sekarang master harus tidur" berusaha menggertak, ia menajamkan sorot black pearl nya yang hanya membuat Kris tertawa geli.

"Kalau aku tetap tidak mau?"

Tao melepaskan pelukannya segera dan duduk dengam benar. "Tidak ada ciuman" ujarnya dengan kedua tangan menutupi bibirnya.

"Itu tidak adil Taozi" protes Kris. Tao hanya mengangkat bahu kecil. "Ok baiklah. Asal pahamu jadi bantal ku, bagaimana?"

Penyihir manisnya mengangguk.

Tao membenarkan posisinya, duduk bersandar dengan nyaman dan kaki lurus ke depan, lalu Kris segera berangsur mendekat dan merebahkan tubuhnya dengan kepala berbantalkan paha Tao. Si tampan itu tersenyum tipis pada penyihirnya, memejamkan mata ketika jemari lentik Tao menyapa kulit wajahnya yang lelah, merambat ke sulur pirang gelapnya, dan membelainya lembut disana.

"Flashing star, until the light fades slowly, and diffuser dream come divide expectations. Go nightmare and came a beautiful dream, here there is a need"

Dengan lembut dan indah Tao merapalkan salah satu mantra pembuat tidur yang manis. Ia tersenyum puas ketika mendengar dengkuran halus meluncur dari celah bibir tebal Kris, dan pria itu bernafas dengan tenang serta wajah nyenyak yang damai.

"Saranku master, jangan berdebat dengan seorang penyihir lain waktu. Hihihihi" ia terkikik geli.

Sebuah kecupan hangat di dahi, menyempurnakan istirahat malam Kris yang membuat mimpinya tiga kali lipat lebih indah.

.

.

.

"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu dapur menatap penuh harap pada sang majikan yang tengah berkutat dengan berbagai bahan masakan dan perlengkapan dapur

Kris Wu menggelengkan kepalanya, konsentrasinya masih teruju pada adukan tangannya pada sup ayam di kuali yang belum mendidih.

"Bibi tidur saja, akan ku selesaikan semua ini segera" ujarnya, dengan wajah dingin yang khas. Tanpa memandang lawan bicaranya.

Hal itu tidak di perlukan, sungguh. Karena seorang Kris tak pernah memunjukkan sikap menyenangkan pada orang lain, terkecuali boneka penyihirnya yang hidup tiap tengah malam.

"Baik. Selama malam Tuan" si wanita menundukkan kepalanya sopan dan segera membawa kakinya pergi dari sana.

Kris segera menuangkan sup ayam yang telah mendidih ke dalam 2 mangkuk porselen berwarna merah gelap, dan meletakkan kuali ke dalam bak cuci piring. Ia membawa kedua mangkuk itu ke sudut dapur, tepat di dekat lemari pendingin besar, disana terdapat sebuah pintu kecil dengan sandi pengamanan, pintu itupun terbuka, dan menampilkan sebuah ruang kecil yang hanya berukuran tidak lebih dari 30cm x 15cm. Kris meletakkan 2 mangkuk sup disana, beserta beberapa makanan lain, sepiring buah-buahan, 2 piring nasi, dan 2 gelas air. Ia menutup pintu kotak tersebut, dan menekan sebuah tombol berwarna merah yang membuat kotak itu bergerak baik. Menghantar makanan dengan akurat ke perpustakaan pribadinya.

Kris memang memasak, sejak kehadiran Tao di kediamannya. Ia akan memasak makanan mereka berdua dengan tangannya sendiri saat tengah malam.

Si tampan tinggi itu melepas apron biru gelap yang melingkar di sekitar pingggulnya, melipatnya dengan asal dan meletakkannya diatas pantry dapur. Membawa kaki panjangnya keluar dari sana meninggalkan peralatan memasak yang di gunakannya tadi untuk di cuci asisten Rumah Tangga pagi nanti. Sembari merogoh saku jogger pants hitamnya, ia melangkah mantap kearah lift, mengecek beberapa e-mail yang masuk dan salah satunya membuat seulas senyum senang terukir di bibirnya.

Begitu pintu lift terbuka dan membawanya ke tempat yang paling di sukainya, senyumnya tak juga pudar. Terlebih saat melihat Tao yang sedang menata makanan diatas meja kaca, lalu menoleh kearahnya dan menyambutnya dengan senyum manis yang hangat. Penyihir manisnya itu menunjuk sisi sebrang meja yang telah terdapat bantalan untuk duduk, sementara dia sendiri telah duduk manis sambil menekuk kakinya ke dalam.

"Kau suka makanannya?" tanya Kris, begitu duduk berhadapan dengan Tao. Pemuda itu mengangguk antusias. "Mana yang paling kau suka?"

"Tidak ada. Ibu bilang tidak boleh menyia-nyiakan makanan, jadi aku suka semua makanan" ia menjawab riang.

"Begitu? Kalau begitu besok akan ku beri permen saja, bagaimana?"

"Master mau membuatku mati kelaparan ya?"

"Bukankah tadi kau bilang suka semua makanan? Permen juga makanan 'kan?"

"Bukan berarti aku hanya diberi makan permen saja master"

Kris tertawa kecil melihat Tao yang mencibir dan meniru gayanya berbicara dengan gerak bibir yang lucu. Dan tanpa harus memulai dengan sebuah formalitas, mereka memulai makan malam yang sebenarnya sudah amat sangat terlambat. Tao makan dengan lahap, berbeda dengan Kris yang menikmati makanannya dengan tenang dan elegan. Karena meski tangan kanannya bergerak memegang sumpit dan menyuapkan makanan, matanya tetap tertuju pada Tao yang kini memasukkan banyak makanan ke mulutnya hingga pipinya menggelembung lucu.

"Sebenarnya makan tengah malam seperti ini tidak baik untuk kesehatan Taozi" ujarnya. Tao yang baru saja menyendok cumi-cumi saus pedas dari piring, beralih menatapnya.

"Kalau begitu aku saja yang makan, master lihat saja" kalimatnya terdengar tidak sebarap jelas karena sambil mengunyah. Kris tersenyum miring.

"Bagaimana kalau kau yang menghabiskan semua makanan ini dan setelah itu aku yang memakanmu?"

Tao mengernyit sambil mengunyah. "Master kanibal?" pertanyaan lugu keluar dari celah bibirnya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Tentu saja tidak, memakan dalam artian yang lain. Sudah, habiskan makanan mu dulu"

Tao mengangguk patuh, maka ia menikmati makan malamnya dengan khidmat. Dan meskipun sebenarnya Kris berkata jika makan tengah malam tidak baik untuk kesehatan, nyatanya ia rela melawati jam normal bersantap malam demi makan malam bersama penyihir tersayangnya di ruangan penuh dengan buku ini.

Kedua laki-laki berbeda usia dan warna sulur itu melalui makan malam mereka dengan hangat seperti biasa, sambil membicarakan kegiatan Kris di kantor dan beberapa hal menarik yang terjadi diluar. Selesai makan malam, mereka bahu membahu menyingkirkan peralatan makan ke dalam lift makanan yang letaknya tersembunyi di balik rak lemari paling ujung, kemudian menyamankan diri di bawah sofa sambil menonton acara tengah malam di bagian perpustakaan yang lain.

Tempat menonton televisi itu sengaja di pisahkan oleh Kris agar tak mengurangi suasana perpustakaan yang identik dengan keheningan dan tata krama membaca buku, karena letaknya diantara kungkungan rak-rak buku tinggi yang padat. Televisi layar datar dengan ukuran 35", menayangkan berita tengah malam yang cukup membosankan bagi Kris, namun tidak bagi Tao. Si tampan duduk bersandar pada sofa single berukuran besar yang mirip dengan tempat tidur mini, dengan kaki lurus ke depan dan celah di kedua kakinya terisi Tao yang dengan nyaman bersandar pada tubuh Kris selagi fokus menonton televisi.

Sesekali penyihir manis bermata ala Panda itu menanyakan hal yang tak di mengertinya pada Kris yang senantiasaenjawab semua pertanyaannya. Dengan kedua tangan melingkar hangat di pinggang ramping Tao, Kris menumpukan dagu lancipnya diatas kepala si penyihir, karena posisi duduk pemuda manis itu agak merosot ke bawah. Dan ketika berita yang di tayangkan tentang sebuah keluarga yang kehilangan putri balita mereka, Tao mengingat suatu hal yang penting.

"Master" panggilnya tak sabaran.

"Hn?" Kris menonton dengan malas tayangan ulang berita di televisi.

"Seperti apa wajah Orangtua master? Apa mereka tampan dan cantik?" Tao menegakkan posisi duduknya, dan membenahi letak pantatnya agar dapat menatap Kris lebih leluasa.

"Orangtua ku?" kepala itu mengangguk. "Sebentar" ia merogoh saku jogger pants nya, membuka gallery ponsel dan mencari sebuah foto keluarganya yang tertumpuk dengan foto-foto lain. Dan setelah menemukannya, ia memberikan smartphone hitam itu pada Tao.

Penyihir manis itu melihat dengan seksama seorang pria paruh baya dan seorang wanita cantik yang berdiri berdampingan dengan serasinya. Si pria memiliki rupa yang tampan dan tubuh tinggi, persis seperti Kris, dan si wanita bertubuh semampai, bersurai panjang dan memiliki senyuman yang indah. Tao menolehkan wajahnya menatap Kris yang duduk di belakang tubuhnya.

"Master anak tunggal?" tanyanya, kembali mengamati foto di layar ponsel. Kris mengangguk kecil.

"Ya. Aku anak tunggal"

"Lalu kemana Orangtua master sekarang?" Tao kembali mengarahkan iris hitamnya pada Kris yang tak pernah putus memandangnya.

"Mereka sedang menikmati masa tua mereka di Valencia"

"Master belum bertemu mereka?"

"Sudah, 1 tahun yang lalu. Mereka tidak suka di ganggu saat berlibur"

"Master tidak merindukan mereka?"

"Tentu saja aku merindukan mereka, tapi mereka yang tidak merindukan ku"

Cat eyes milik Tao melebar, wajahnya terlihat sangat terkejut akan pernyataan Kris. Dan seketika membuatnya merasa tidak enak hati. Pria tampan itu sendiri malah tertawa kecil melihat perubahan ekspresi menyesal di wajah manisnya.

"Tidak Taozi, aku bercanda. Mereka juga merindukan ku tentu saja" ia terkekeh geli, lalu mencubit pipi Tao gemas. Penyihirnya mengerucutkan bibir.

"Aku serius master. Bagian mananya dari pernyataan itu yang lucu?"

Kris kembali tertawa, di usaknya gemas sulur keperakan Tao. "Maaf maaf, habis wajahmu lucu sekali kalau cemberut seperti ini"

Tao menepis tangan besar Kris yang hinggap di pipinya, memanyunkan bibirnya seperti bebek, yang malah terlihat makin menggemaskan. Membuat si tampan tak tahan untuk tidak menarik bibir kissable menggemaskan itu.

"Bagaimana dengan Orangtua mu?" ganti ia yang bertanya, setelah mengecup kelopak persik yang menggoda imannya. Wajah cemberut Tao kembali berseri.

"Master ingin tahu?" tanyanya antusias. Kris mengangguk.

"Tentu saja. Ceritakan tentang Orangtua mu"

"Uhm, tidak~" Tao menggelengkan kepalanya imut.

"Kau tidak mau bercerita?" kedua alis tebal Kris terangkat.

"Tidak~ aku tidak akan menceritakannya, tapi menunjukkannya"

"Eh?" satu alisnya berkedut. "Menunjukkan?" ia menatap bingung. Tao mengangguk antusias.

Penyihir manis itu membalikkan tubuhnya, kini bangkit dan menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan diatas karpet yang lembut, dan Kris menatapnya tak mengerti. Penyihirnya itu tersenyum manis padanya, dan semakin bingung ketika Tao mengangkat kedua tangan tepat di depan wajahnya.

"Akan ku tunjukan pada master" senyum menawan itu masih tergurat indah di kelopak merahnya.

"Caranya?" Kris mendengung ragu.

"Aku penyihir master, aku bisa melakukan apa yang manusia biasa tidak bisa melakukan"

"Lalu bagaimana?"

"Tutup mata master, dan diam saja. Master akan melihatnya nanti"

"Hanya menutup mata?"

"Uhm" Tao mengangguk imut lagi.

Maka pria bermarga Wu itu menyembunyikan auburn gelapnya dari bombardir black pearl Tao yang tak ragu menembus ke dalamnya. Dapat dengan jelas mendengar suara nafas yang seirama, dan telapak tangan Tao yang lembut berada di sisi kepalanya, dan meski samar terdengar, telinganya dapat mendengar bisikan suara indah Tao yang sedang merapal mantra. Penyihirnya itu merapal dengan cepat, dan ia tak memiliki kesempatan untuk menelaah lebih jauh tiap kata yang di ucapkannya.

Hingga tiba-tiba muncul wajah seorang wanita cantik khas dataran Asia yang membuatnya tersentak mundur ke belakang. Namun tak sampai membuatnya membuka mata, karena ingat jika Tao menyuruhnya untuk menutup mata. Kris ragu, karena semakin lama ia memejamkan mata, tak hanya sosok wanita asing itu saja yang memenuhi kepalanya, tapi juga sosok seorang pria dan seorang anak kecil diantara mereka.

Apa ini kenangan yang di miliki penyihir manisnya?

Wajah itu, senyum itu, mata itu. Semua yang di miliki Taozinya sama persis dengan sosok wanita dan pria asing itu. Mereka terlihat bahagia, dengan senyuman dan binar yang terpancar di masing-masing manik mereka, dan anak laki-laki kecil yang berada di gendongan pundak si pria tertawa lepas. Adegan itu bergulir cepat menampilkan sepotong demi sepotong, tanpa suara meski bibir mereka bergerak. Dan sosok anak kecil itu berangsur-angsut berubah menjadi seorang pemuda tanggung yang menawan.

Tanpa di sadarinya. Sudut bibir plumnya tertarik keatas, ketika sebuah adegan remaja tanggung itu mendapatkan seekor kelinci dari kedua Orangtuanya.

Kau memang seperti itu Taozi. Apa adanya.

Dan sedetik kemudian bayangan itu lenyap, di gantikan pekatnya hitam karena kelopaknya masih terpejam.

Tak lagi merasakan sentuhan lembut di sisi kepalanya, Kris membuka matanya kembali dengan perlahan dan menemukan Tao yang tersenyum padanya.

"Aku melihatnya Taozi" ucapnya lembut. Penyihirnya mengangguk.

"Itu sebagian kenangan yang masih ku ingat di kepala ku"

Mengarahkan tangannya mengusap pipi Tao, kemudian ia menarik pemuda manis itu mendekat padanya. Di letakkannya dagu lancipnya di pundak penyihir manis itu, dan merasakan jika Tao juga balas memeluknya.

"Dimana mereka sekarang?"

"Entahlah" kedua bahunya terangkat samar. "Aku terpisah sejak kerusuhan itu dan setelah mendapat kutukan. Kalaupun mereka masih hidup, semoga hidup mereka baik-baik saja" suaranya terdengar pelan karena teredam bahu lebar Kris.

"Kalau mereka sudah tiada?"

Tao melepaskan pelukannya, menabrakkan black pearl berkilaunya pada auburn gelap yang beku.

"Aku akan mendo'akan ketenangan mereka kalau begitu. Mereka tidak harus mengkhawatirkan aku, karena aku baik-baik saja bersama master disini" senyumnya tercipta menawan, dengan bulan sabit yang melengkung cantik. Menarik seulas seny di bibir plum Kris.

"Life must go on, rite?"

Tao mengangguk lucu. "Jadi, master harus tidur sekarang ya?" ia bicara seperti sedang membujuk seorang bocah. Dan itu menggelikan untuk Kris.

"Kenapa aku harus tidur?" pelukan tangannya semakin rapat.

"Karena mata master memerah, dan apa master sudah berkaca malam ini?"

Keningnya berkerut. "Kenapa aku harus berkaca?"

"Karena saat ini wajah master seperti zombie. Pucat, lelah, mengantuk, kelaparan, semuanya menjadi satu"

Kris kembali dibuat tertawa dengan jawaban lugu yang keluar dari celah kelopak kesukaannya itu. Tao yang sebal segera membungkam mulut si tampan itu dan menatap garang, yang malah membuatnya terlihat seperti kucing kecil yang sok berani melawan kucing lain yang lebih tua darinya.

"Aah~ baiklah-baiklah. Aku akan tidur, asal aku dapat ciuman di bibir, bagaimana?"

Pipi gembil Tao terdapat semburat merah muda yang samar, matanya mengerjap lucu.

"Di bibir? Bagaimana kalau di pipi?" mencoba menawar.

"Tidak mau" Kris menolak seperti bocah laki-laki yang tidak suka diberi boneka sebagai mainan.

"Dahi?"

"Tidak mauu~"

"Bibir?"

"Bibir" ia menegaskan.

Tao sempat mengerucutkan bibirnya kesal, lalu akhirnya dengan malu-malu dan secepat kilat melekatkan belah persiknya diatas belah plum yang tebal. Awalnya hanya niatan untuk kecupan ringan, tapi tangan besar yang berada di belakang kepalanya mencegahnya untuk melepaskan diri, dan sebelum mengambil tindakan, bibirnya telah di lahap oleh laki-laki tampan itu.

Ciuman yang memperlibatkan lumatan, gigitan, jilatan, dan hisapan itu menghasilkan lelehan saliva yang keluar dari sudut bibir, serta lenguhan tertahan karena sensasi dan juga kebutuhan O2 yang semakin menipis.

Sebuah benang saliva pun tercipta ketika bibir yang mendominasi melepaskan terkamannya pada bibir manis berbentuk unik. Wajahnya memerah sempurna dengan nafas yang berat yang payah. Hanya bisa memberi protes kecil tak bermakna melalui tatapan matanya pada si tampan yang terkekeh senang.

.

.

.

Lebih cepat memacu langkah kaki panjangnya, permukaan sepatunya berdentum merdu menapak lantai marmer mahal yang terbebas dari noda dan debu sebelum sepasang sepatu miliknya mengoroti alas marmer tersebut. Langkahnya begitu tergesa, dengan wajah tegang dan jas hitam yang tak tertutup, dasi yang menggantung agak ke bawah di kerah kemejanya bergoyang pelan seiring dengan derap langkahnya yang berada di ritme yang semakin meningkat.

Tubuh tegap tingginya melesat cepat memasuki kamar mewahnya yang luas, tangan kanannya yang tidak kosong membawa sebuah kotak berukuran persegi yang tak terlalu besar, terbungkus plastic warp tebal berwarna coklat gelap yang buram, dimana dibagian atasnya sudah terkoyak dibuka. Tergesa, Kris membuka pintu besi perpustakaan dengan tangan kirinya yang kosong, meninggalkan pintu itu begitu saja dan menimbulkan debaman rendah rendam. Dan kaki panjangnya yang melangkah lebar refleks terhenti ketika melihat Tao duduk diatas sofa disana, dan terdengar suara kikikkan tawa tertahan, kepalanya menunduk seperti tengah memangku sesuatu diatas pahanya yang tertekuk keatas.

Kris menyimpulkan senyum tipis ketika berjalan mendekat, melihat jika ternyata penyihir kesayangannya itu rupanya sedang menonton animasi di tablet pc miliknya. Salah satu fasilitas yang di sediakannya agar kesayangannya itu tak bosan berada di ruang baca tersebut.

Si pemilik nama menoleh, dengan air mata yang menggantung di sudut matanya. Ragu apakah harus menitik turun atau tetap berada disana. Pemuda manis itu menyekanya sebelum hal itu terjadi, sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa. Masih dengan selingan tawa dan bahu yang berguncang saat Kris mendudukan dirinya di sofa, dan melihat tayangan Larva, animasi asal Korea di youtube.

Tao menyingkirkan tablet pc di pangkuannya ke samping tubuhnya, dengan wajah memerah karena terlalu banyak tertawa, ia menghadap Kris yang tengah melepas jas kerjanya. Dan ia melihat kotak persegi yang berada di pangkuan si tampan.

"Kotak apa itu master?" ia bertanya penasaran. Jari kurus Kris menarik lembut dasi yang menggantung ragu di kerah kemejanya.

"Ah ini..."

"Eh tapi, kenapa master baru pulang? Ini sudah larut sekali master" Tao merengut lucu, memprotes Kris yang akhir-akhir ini seringa sekali pulang larut. Bahkan terkadang terlambat menemuinya.

Si tampan berdarah China itu menghela nafas pendek, membuka kaitan kancing kemeja kemudian menggulung kedua lengan kemeja sampai ke siku. "Ada banyak hal yang harus ku urus di kantor, dan ada beberapa relasi bisnis ku yang datang. Sebagai Tuan Rumah aku harus menjamu mereka. Kau menunggu ku?" jelasnya ringkas namun jelas, di akhiri sebuah pertanyaan retoris.

"Apa aku pernah tidak menunggu master? Lalu kotak apa itu?"

Kris memegang kotak di pangkuannya tersebut, lalu menoleh pada Tao yang memperhatikannya. "Sesuati untukmu" ujarnya, memindahkan kotak tersebut diatas pangkuan Tao.

Penyihir manisnya mengerutkan dahi samar, membawanya keatas dan mengamati kotak tersebut. "Apa ini master?"

"Sesuatu yang kau inginkan dan kau tunggu sepekan ini"

Tao terdiam, tampak berpikir, lalu kemudian pupil matanya melebar sempurna dan menatap Kris tak percaya. Pria itu mengangguk, dan seperti sebuah tanda agar ia segera membuka kotak tersebut. Tangannya bergeral cepat mengoyak lebih lebar plasrtic warp yang membungkus kotaknya.

Bagai menemukan sebuah permata yang langkah, manik black pearl nya berkilauan lebih indah melihat sebuah botol kecil transparan yang terisi penuh cairan berwarna hijau muda kental yang membuat Kris mengenyit jijik melihat botol tersebut ketika Tao mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Apa itu ramuannya?" bertanya ragu. Bukannya menjawab, Tao malah terlihat mengubrak-abrik isi kotak di pangkuannya, dan menemukan secarik kertas yang di lipat. "Apa itu?" dahinya mengernyit bingung.

"Kurasa ini catatan dari Mr. Carmen master" Tao membuka lipatan kertas itu tak sabaran.

Dan benar, lipatan kertas itu adalah sebuah resep ramuan yang di tulis tangan yang sebenarnya sulit dibaca karena terlalu tak berbentuk. Sepertinya bukan tulisan dari rekan bisnis Kris Wu.

Maka, Tao membacakan catatan tersebut.

Pentru Mr. Wu.

Ne pare rău pentru un timp mai lung decât am promis în urmă cu o săptămână, te, de asemenea, să știu dacă ingredientele pentru o reteta potiune care ați solicitat este foarte dificil în obținerea epoca modernă a tot acest timp. Sperăm că, aceasta planta este util pentru tine, și nu voi întreba ce faci.

Am clarifica următoarele ingredientul reteta ați solicitat.

Bibir persik Tao bergerak tanpa kesulitan ketika membacakan tulisan tangan Rumanian yang berseni tinggi itu. Dan Kris hanya bisa mengernyitkan dahi mendengarnya.

Apa-apa'an Mr. Carmen itu? Kenapa membuat catatan dalam bahasa Rumania? Kenapa tidak dalam bahasa Inggris saja? Oh ayolah, meski pria itu tidak terlalu fasih berbahaaa Inggris masih ada asisten untuk menuliskan catatan pendek bukan?

"Ada terjemahan bahasa Inggris di bagian bawahnya, master mau membacanya?" pemuda manisnya menawarkan. Kris menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu, intinya saja" tolaknya malas.

"Jadi..." Tao memperhatikan botol kecil seperti serum di tangan kanannya. "Mr. Carmen meminta maaf karena waktu yang dia janjikan meleset, dan dia harap ramuan ini bermanfaat untuk master"

Jangan lupakan jika dulu Tao cukup lama hidup di Transylvania. Meski sudah berabad-abad yang lalu, tentu Rumanian masih tersimpan secara sempurna di salah satu ruang otak kanannya.

"Ada lagi?"

Kepalanya terangguk kecil. "Ya, dia membuat daftar bahan ramuan ini"

Daftar ramuan? Entah kenapa Kris merasa janggal dengan hal itu.

"Lima potong ekor kadal gurun, segumpal jantung octopus, beberapa kelopak mawar hitam, setets racun ular cobra, segenggam hati bayi beruang, sehelai bulu merak, beberapa tetes embun, dan sekuntum bunga lotus"

Kris merasa mual dengan beberapa resep ramuan yang tidak masuk di akan, dan dirinya heran bagaimana Tao dapat setenang itu saat mengucapkannya. Apakah dulu penyihir manisnya itu juga berkutat dengan bermacam-macam bahan aneh menjijikkan nan tak masuk akal yang sukses mengaduk isi perutnya.

"Kau yakin akan meminum ramuan itu?" tatapan cemas tertuju pada botol kecil yang di genggam Tao.

"Tentu saja master" anggukan antusias. Kris meringis kecil melihat cairan hijau kental di dalam botol itu.

"Kalau begitu cepat minumlah"

Wajahnya berseri meletakkan kertas notes tersebut, dan sangat bersemangat membuka tutup botol kecil di genggamannya. Bau anyir bercampur bau aneh menguar setelahnya, Kris sampai harus menutup hidung serta mulutnya. Dengan satu tarikan nafas dan jantung berdebar, Tao menegak habis cairan hijau kental itu dalam sekali tegukan. Kris mencebik, menekan perutnya yang mual, dan memalingkan wajahnya ke samping kiri.

Punggung tangan kanannya mengusap lembut permukaan bibir merahnya yang basah dan tersisa cairan hijau yang baru saja si teguknya, senyum manis tersemat di belah persiknya, tak menyadari ekspresi jijik Kris yang menatapnya.

Tentu si tampan itu tak perlu bertanya perihal rasanya. Cukup menjijikan hanya dengan melihatnya saja.

"Ada yang perubahan yang kau rasakan?" tanyanya, mencondongkan tubuhnya ke depan meraih kotas tissue dan menyerahkannya pada si penyihir manis.

Tao menerima kotak tissue itu setelah meletakkan botol ramuan yang kosong di dalam kotak. Anggun mengusapkan tissue yang lembut di sekitar bibirnya, dan sendawa halus lolos dari celah kelopaknya. Cepat ia tersenyum manis di hiasi semburat merah muda di pipi gembilnya, menahan malu.

"Tidak ada yang aneh dengan tubuhku master" jawabnya sambil menunduk memeriksa tubuhnya.

"Mungkin akan terasa nanti khasiatnya"

"Uhm~" Tao mengangguk imut. Bibirnya tak bisa berhenti untuk tidak tersenyum saat ini, dan hal itu membuat Kris ikut senang melihatnya.

Di letakkannya kembali kotak tissue terebut keatas meja beserta kotak paket di pangkuannya. Namun saat ia hendak kembali duduk, tubuh semampainya tiba-tiba limbung ke belakang tanpa tenaga. Kris yang melihat hal itu menangkap cepat tubuh ramping Tao, dan panik melihat mata cantik penyihirnya itu terpejam.

"Taozi!" suaranya terdengar panik.

Kris meringsek mendekat, selagi tangan kanannya menopang kepala Tao, tangan kirinya menepuk pelan pipi pemuda itu.

"Taozi! Hey!" Kris benar-benar cemas.

"Sayang bangun!" di guncangnya keras pundak si penyihir.

Kelopak persik basah milik penyihir manisnya itu terbuka sedikit dan mendengungkan dengkuran lembut yang seketika melemaskan otot tegang di wajah dan leher Kris. Pria itu mendesis lega, membungkukkan tubuh dan menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya di dahi Tao yang terturup poni.

Jantungnya hampir saja merosot dari posisinya andai saja jika penyihir manisnya itu tidak sedang tertertidur.

Sangat tiba-tiba.

Dibawanya jemari kurus tangan kanannya menyingkirkan sulur keperakan Tao yang menutupi dahi yang mulai berkeringat, memberi kecupan hangat, kemudian berlabu di permukaan lembut nan basah kelopak persiknya.

"Tidur yang nyenyak sayang" bisiknya penuh kasih.

.

.

.

Lenguhan kecil meluncur keluar dari celah bibir persiknya yang merah ketika merasakan tusukan sinar lampu yang terasa begitu menyilaukan meski kelopaknya masih terpejam. Di iringi gerakan kecil, kelopak dengan bulu mata lentik itu mengerjap lemah, masih enggan bangun, namun karena kondisi tubuhnya yang terasa agak lengket membuatnya mau tak mau harus membiasakan diri dengan bias lampu yang menyiksa iris kelamnya.

"Sudah bangun sayang?" suara rendah berat nan lembut itu menyapa gendang telinganya untuk yang pertama kalinya setelah membuka mata.

Tao menoleh ke sisi kirinya, mengernyit samar melihat Kris yang berbaring di sampingnya, tersenyum lembut dan membelai sulur peraknya.

"Master? Ini dimana?" suara indahnya terdengar sengau dan seksi.

Tao bangkit duduk perlahan, bertumpu pada kedua tangannya yang menekan permukaan spring bed super empuk yang menjasi alas tidurnya. Dengan wajah bingung ia memperhatikan ke seluruh ruangan luas yang di penuhi dengan tebaran properti mahal nan berkelas yang tak pernah dirinya lihat sebelumnya. Ruangan ini asing, tapi aromanya tercium begitu familiar di indra penciumannya.

Aroma mint yang lembut. Sama seperti aroma Kris.

"Ini di kamarku" pria itu akhirnya menyahut. Tao menoleh cepat. Kini Kris telah duduk di tempatnya berbaring tadi.

"Kamar master?" si tampan mengangguk.

Kali ini dengan wajah antusias dan mata berbinar, ia melihat ke seluruh ruangan luas itu. Mulai dari meja kerja yang teronggok elegan, satu set sofa, lemari kaca antik yang menyimpan koleksi benda-benda kristal, lemari wine, rak buku, televisi beserta seperangkat alat canggih lainnya yang tak ia mengerti, dan sebuah chandelier kuno namun elegan yang bergantung tepat diatas tempat tidur.

Tao terpesona dengan kamar bernuansa elegan namun masih terkesan kelakian ini. Belum lagi tempat tidur king size yang di tempatinya saat ini. Benar-benar hebat, dirinya serasa menjadi penyihir bangsawan yang terhormat.

"Kenapa aku bisa berada disini master?" manik kelamnya menyiratkan kebingungan menatap Kris. Pria itu bergerak mendekat, menyisir sulur keperakan Tao yang mencuat dengan jemari kurusnya.

"Kau tertidur setelah meminum ramuan itu jadi aku membawamu kemari, tidak ingat?" di tabrakkannya auburn gelapnya pada sepasang black pearl menawan.

Kelopak persiknya membentuk bulatan kecil setelah mengingat kembali peristiwa saat dirinya meminum ramuan berwarna hijau itu. Mengangguk kecil, kemudian tersenyum pada si tampan yang menatapnya lekat.

"Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu? Atau sesuatu yang lain?" kecemasan tersirat di auburn gelap Kris.

Tao menundukkan kepala, mengintip di balik t-shirt hitamnya, meraba wajah, leher, kepala, perut hingga ke bagian bawah, lalu mengintip ke balik selimut yang menutupi bagian pinggul hingga ujung kaki. Semuanya normal, tidak ada yang aneh ataupun kurang, dan dirinya juga tidak merasakan apapun.

"Tidak ada yang aneh master" ucapnya, kembali menatap Kris.

"Kau yakin?"

Si manis mengangguk. "Iya, hanya saja tubuhku terasa lengket karena keringat" di kibas-kibaskannya bagian atas t-shirt nya.

"Ah, ACnya memang tidak ku nyalakan, mungkin karena itu. Sebaiknya kau mandi"

"Mandi?"

"Iya, kenapa?"

"Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku mandi master"

Kris tertawa kecil. "Kalau begitu mandilah agar kau ingat seperti apa rasanya"

"Uhm, roger!" Tao mengacungkan satu ibu jarinya. Baru saja ia menyibak selimut, aroma menyengat tercium dari tubuh si tampan yang duduk seranjang dengannya itu.

Mengernyit, ia menatap Kris sambil menutup hidung. "Master bau sekali" ujarnya lucu dengan suara sepertu kucing terjepit pintu. Refleks si tampan itu mengendus tubuhnya.

"Kau benar, aku baru ingat jika sebelum pulang aku sedang menemani beberapa rekan bisnis ku di club"

"Bau alkohol, pantas" Tao mengernyit tak suka.

"Sana mandilah dulu"

Penyihir manisnya itu mengangguk patuh, segera ia arahkan kaki jenjangnya kearah kamar mandi atas pemberitahuan Kris jika pintu kamar mandi itu berada tepat berhadapan dengan tempat tidur. Dengan tidak sabar pemuda manis itu menggeser sliding door berkaca buram dan tebal kamar mandi, dan ia terperangah melihat walk in closet yang luas dan serba putih. Terdapat lemari yang tertanam di dinding di lengkapo kaca besar yang akan memantulkan tubuh keseluruhan jika berdiri di depannya, wastafel dengan kaca yang panjang, ruangan shower, bath up yang nyaman beserta meja laci unik yang menyimpan peralatan mandi dan aromateraphy di sisi kanannya.

Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk semakin dalam, berdecak kagum akan luas ruangan tersebut dan properti elegan yang mewah di matanya. Setelah puas mengagumi walk in closet itu, Tao segera melepas semua pakaiannya dan meletakkannya begitu saja di lantai marmer yang dingin. Berjalan kearah ruang shower yang berbentuk tabung, dibukanya perlahan pintu geser tersebut dan masuk ke dalamnya. Ia tak tahu harus membuka kran yang mana, jadi ia memilihnya dengan menyanyikan lagu anak-anak yang masih di ingatnya jika dirinya kesulitan memutuskan sesuatu. Dan pilihannya jatuh pada sebuah kran berwarna hitam, maka air hangatlah yang tercurah dari shower yang menggantung tepat di atas kepalanya itu.

Rasanya sungguh segar, Tao merasa sangat beruntung dan senang dapat merasakan kesegaran semsega ini. Namun bukan berarti dirinya jadi tidak peka saat bunyi pintu kamar mandi yang dibuka sampai ke telinganya. Maka ia menoleh ke balik punggungnya dan mendapati Kris yang berdiri mematung di depan pintu menatapnya yang telah memakai bathrobe abu-abu gelap. Kelopak persiknya tersenyum lebar, kemudian meloloskan kepalanya dari celah pintu tabung shower yang tak tertutup sempurna.

"Kemari master! Masuk!" ajaknya gembira. Kris berdiri kaku, wajahnya masih terlihat kaget dan tegang.

Bagaimana tidak tegang? Dia melihat Taozinya telanjang di dalam tabung shower dengan keadaan basah dan hal itu sangat menggairahkan.

Shit!

"K-kau saja duluan, aku lupa kalau kau sedang mandi. Ku tunggu diluar" tenanglah Mr. Wu, dan sebaiknya kau segera keluar darisana sebelumー

"Ayo kita mandi bersama master~ tempat ini luas sekali, masih ada ruang untuk kita mandi bersama~" ucapnya riang penuh senyum.

Kepolosanmu sungguh berbahaya sayangku...

Kris makin mematung di tempatnya berdiri. Meremas udara kosong dan menarik nafas dalam-dalam.

"T-tidak apa-apa kah?" terdengar penuh harap.

Oh, kau brengsek juga ternyata Mr. Wu

"Tentu saja! Kemarilah master!"

Diamlah sayang. Kau baru saja mengundang Harimau masuk ke dalam kandang kelinci, kau tahu?

Sudah terlanjur. Kris menerima undangan mandi bersama itu, melepas bathrobenya dan menggantungkannya pada hanger yang sudah tersedia di dekat lemari. Jantungnya berdegup kencang ketika berbalik dan kembali di suguhi pemandangan indab tubuh ramping nan seksi penyihir manisnya yang berdiri membelakanginya. Perlahan namun pasti ia berjalan mendekat, masuk ke dalam tabung seraya menutup pintunya perlahan.

Tao memang menyukai elemen air, karena itulah dulu saat kecil ia selalu lama berada di kamar mandi. Untuk bermain tentunya. Dan keasyikannya bemain dengan air shower terganggu ketika sepasang tangan tahu melingkar di sekitar pinggulnya, dan punggungnya terasa hangat karena suhu tubuh pria yang berdiri di belakang tubuhnya. Kulit mereka bersentuhan.

Ada sesuatu yang menggelitik dasar hatinya merasakan itu. Membuatnya tak tahu kenapa tiba-tiba tersenyum.

"Mandilah dengan benar" suara berat Kris terdengar begitu dekat. Meremangkan bulu halus di tubuh Tao.

"Aku tahu master~" protesnya tak terima.

"Gege"

"Huh?" menolehkan wajahnya ke balik pundak kanannya, menatap Kris yang intens menatapnya.

"Panggil aku gege kalau kau tidak mau memanggilku dengan nama"

"Uuh, tidak mau" rengutnya.

"Aku juga tidak mau terus-terusan kau panggil master sayang. Kau bukan slave"

Tao masih memberengut kesal karena di haruskan mengganti panggilannya untuk Kris. Sambil berpikir, ia membiarkan pria itu mengelus punggungnya dengan bath shower yang lembut. Kris menekuni tiap gerakan tangannya yang membasuh punggung halus Tao dengan cairan sabun cair yang beraroma lemon.

"Ah aku tahu" penyihirnya kembali bersuara.

"Hm?" sekilas ia menatap bagian belakang kepala Tao, sebelum kembali fokus pada punggung halus itu dan tak sengaja matanya bergulir turun melihat bongkahan pantat sintal yang menggoda.

"Aku akan memanggil master-gege saja, adil 'kan?"

Kris mendesis kecil. "Iti terdengar aneh Taozi. Lagipula kenapa kau tidak mau mengganti nama panggilan ku itu?" tentu ia penasaran.

Membawa bath shower ke tubuh bagian depan Tao, ia mengusap lembut di bagian perut dengan kedua tangan memeluk pinggang rampingnya. Sesekali mengecup ringan perpotongan leher penyihirnya yang menggiurkan.

"Tidak boleh. Kata Mama dan Papa, aku harus memanggil seseorang master jika orang itu sudah mengajarkan banyak hal padaku"

"Tapi aku tidak mengajarkan apapun padamu sayang ku, jadi jangan memanggil ku master" selagi tangan kanannya bergerak lembut terkesan berlama-lama mengusap perut rata Tao, tangan kirinya mencari kesempatan meratakan busa sabun cair itu ke bagian lain yang lebih terlarang.

"Sejak aku terlepas dari segel dan sampai detik ini master sudah mengajarkan banyak hal padaku. Jadi mulai sekarang aku akan memanggil master-gege"

Oh sungguh. Kris bahkan tak lagi mempermasalahkan hal itu, karena saat ini dirinya menang banyak. Sangat banyak malah. Kegiatan menyabuni tubuh Tao sekaligus menjadi ajang meraba baginya.

"Baiklah. Kalau begitu sekarang lakukan ini untukku" ujarnya, membalikkan tubuh Tao dan menyerahkan bath shower pada pemuda manis itu. Tao mengangguk antusias, karena menurutnya hal ini sangat menyenangkan.

Dulu saat ia kecil juga sering mandi bersama dengan sang Papa, mereka juga saling menyabuni seperti ini. Dan kegiatan itu sangat seru, apalagi jika sambil bermain. Dalam artian yang sebenarnya. Bermain air.

Tolong singkirkan pikiran kotor kalian.

Tangan si manis itu bergerak lincah mengoleskan busa sabun di tubub tegap Kris. Dari sekitar leher, turun ke dada, memutar ke punggung, dan turun ke pinggang hingga pinggul, laluー

Gerakannya terhenti, matanya mengerjap lucu, melihat tubuh bagian bawah Kris yang membuat wajahnya memerah. Tangan kanannya yang menggenggam bath shower terasa sulit di gerakkan tatkala menyadari jika tangannya berada di posisi yang teramat canggung, yaitu perbatasan tulang belikat dan... Oh Tao memang polos, tapi bukan berarti ia tidak tahu dimana letak alat vital pria sedangkan dirinya sendiri juga pria. Benar bukan?

Kris menahan senyum melihat wajah Tao yang memerah dalam diam. Tak berniat menggoda penyihir manisnya, di raihnya dagu pemuda itu hingga mendongak menatapnya, dan cup!

Belah plumnya merekat sempurna di kelopak persik kemerahan milik Tao.

Huang Zi Tao melebarkan kepingnya kaget. Ciuman ini terlau tiba-tiba, bahkab sampai tubuhny terdorong ke belakang menempel pada dinding yang dingin. Namun ia segera memejamkan matanya, melingkarkan kedua tangannya di leher Kris dan mulai membalas tiap ciuman yang di terimanya.

Tangan kanan Kris bergerak melingkari pinggul ramping penyihirnya, memperdalam ciuman dan membuat kepala Tao yang sudah merapat pada dinding mendongak karena meningikuti tinggi tubuhnya. Ia bawa tangan kirinya yang bebas bertumpu pada dinding marmer putih tepat di sisi kanan tubuh Tao, menempelkan lebih erat tubuh telanjang mereka. Berbagi kehangatan yang menggetarkan.

Lenguhan kecil keluar dari celah kelopaknya. Memerangi lidah liar Kris di dalam mulutnya yang membuat kedua kakinya terasa makin melemas. Saling bertukar saliva, menyesap dan menggigit. Ia melakukannya dengan tepat dan tanpa kesalahan.

Hingga ciuman panas itu turun ke leher mulusnya. Tao semakin erat memejamkan mata, dan mendongak tatkala lidah hangat Kris menarik di permukaan kulitnya. Pria tampan itu juga menyesapnya lembut, mengarahkan tangan kirinya pada bongkahan sintal Tao dan mengelusnya ringan.

"Aaahhnn~" kepalanya merunduk cepat, meremas sulur pirang gelap Kris dengan wajah semakin matang.

Tangan yang semula melingkar di pinggul kini juga turut membelai bongkahan pantat menggoda itu, selagi memberi kecupan-kecupan kecil di leher dan wajah merah Tao. Tak peduli jike mereka sudah cukup lama berada di bawah guyuran air hangat shower dan telah membasuh tubuh penuh sabun mereka sejak tadi.

Ciuman basah kembali di hadirkan Kris pada penyihir manis tersayangnya. Diiringi suara kecipak saliva yang meningkatkan suhu di tabung itu, serta remasan kecil yang di lakukan kedua tangan Kris di bawah sana yang membuat Tao tak tahan dengan malu yang semakin menjadi dan secara sepihak melepaskan bibirnya.

Nafasnya terengah, wajahnya merah padam, kelopak persiknya membengkak dengan warna merah menggoda. Black pearlnya menatap protes Kris yang penuh keluguan, bibirnya di majukan karena kesal, dan memalingkan kepalanya ke kanan. Kris terkekeh kecil, memeluk hangat tubuh ramping nan semampai itu. Saat itulah Tao melihat bath up yang menganggur dan memanggilnya untuk segera di tempati.

"Boleh aku berendam?" menabrakan manik kelamnya pada auburn gelap si tampan. Black pearlnya berbinar indah penuh harap.

"Tentu saja"

Tao memekik senang. Cepat ia melepaskan diri dari kungkungan tubuh tegap Kris, keluar dari tabung tersebut dan menuju bath up putih yang masih kosong. Kris memperhatikan penyihirnya itu dengan senyum geli, melihat tingkahnya yang lucu seperti anak-anak, bahkan pemuda itu sangat tidak sabar menunggu air yang belum penuh mengisi bath up, lalu tampak kebingungan melihat botol-botol kecil berisi cairan-cairan bening yang tertata rapi diatas meja kaca di samping bath up.

"Itu sabun aromateraphy, pilih saja yang aromanya kau suka dan tuangkan ke dalam air" ujar Kris, menjawab kebingungan Tao. Dan pemuda manis itu menoleh kearahnya dengan senyuman.

Tao memilih sebuah botol beraroma khas bayi, menuangkan semua isinya ke dalam bath up, lalu meletakkannya kembali ke tempat asalnya. Raut antusias belum hilang dari wajahnya ketika mencelupkan diri di dalam bath up, membuat airnya melonjak naik dan tumpak ke lantai marmer, serta menciptakan buih pada air yang harum karena sabun aromateraphy yang telah di tuangkannya.

Pemuda manis itu sungguh menikmati bermain air dan mencipatakan busa semakin banyak dan nyaris menutupi keseluruhan permukaan air. Seperti anak kecil, ia mengambil busa-busa itu dan meniupnya hingga bertebaran, kemudian tertawa senang. Bahkan saat Kris mendekat dan ikut masuk ke dalam, duduk tepat di belakangnya, Tao tak mempedulikannya. Segera sepasang lengan Kris merengkuh pinggang ramping Tao, membawa agar penyihir manisnya duduk bersandar pada tubuhnya, dan pemuda itu menurut saja.

Kris meraih botol shampoo, menuangkannya sedikit dan mulai megusapkannya dengan lenbut di kepala Tao. Tersenyum tipis ketika melihat jika pemuda kesayangannya itu masih asyik bermain dengan busa sabun.

"Taozi" panggilnya.

"Uhm?" mulutnya sibuk meniup-niup busa yang menggumpal di kedua tangannya.

"Kalau kutukan itu sudah hilang, bagaimana dengan usiamu?" tanyanya penasaran. Berhenti mengkeramasi sulur perak Tao, dan memeluk pinggangnya kembali.

Pemuda itu menyenderkan punggungnya dengan nyaman di dada Kris, tersenyum pada si tampan yang menumpukan dagu di pundak kanannya. "Memang ada apa dengan usia ku master-gege?"

"Aku penasaran. Apa setelah kutukan itu hilang, kau akan berubah menjadi tua? Atau bagaimana?"

Taozinya terkekeh. "Tentu saja tidak~ Saat kutukan itu di jatuhkan padaku, usiaku masih 18 tahun, jadi usiaku juga terhenti di angka itu selama kutukannya masih ada" ia menjelaskan sambil memainkan busa di sekitar tubuhnya dengan menekan-nekannya lembut.

"Jadi kau tidak akan bertambah tua?"

"Tentu tidak" ia menggeleng imut. "Bagaimana aku bisa tua kalau sel-sel dalam tubuhku hanya hidup selama 6 jam selama sehari? Dan bahkan sebelum master-gege membuka segelnya, aku benar-benar hanya boneka"

Kris menganggukkan kepalanya kecil. "Aku mengerti"

"Lagipula kalaupun usiaku bertambah, bayangkan sudah berapa lama aku hidup master-gege. Kalaupun aku masih hidup, pasti bentuk ku sangat mengerikan saat hari itu tiba"

"Kau benar. Pasti lebih mengerikan dari zombie"

Tao melepaskan pelukan tangan Kris di pinggulnya, dan berbalik menghadap si tampan itu. Membuat sang empunya kebingungan, dengan satu alis terangkat, menbiarkan tangan Tao yang mengoleskan busa shampoo dari kepalanya ke kepalanya sendiri. Penyihir manisnya itu tak berhenti tersenyum, dan ia pun meraih botol shampoo yang tergeletak di dekat bath up lalu menarik tangan kiri Tao dan menuangkan cairan berwarna putih kental itu diatas telapak tangannya. Kemudian Taozinya mulai menggerakkan tangannya dengan lembut mengeramasi sulur pirang gelapnya yang sudah basah karena air shower.

"Bukankah penyihir itu hidup abadi?" pertanyaan yang terlontar tiba-tiba. Tao sempat melambatkan gerak tangannya, balas menatap ke dalam auburn Kris, kemudian kembali asyik memainkan sulur pirang gelap si tampan yang berbusa.

"Sebagian saja, penyihir juga manusia master-gege" jawabnya.

Kris menyamankan posisinya yang sedang memangku Tao, menyimpan kedua tangannya di masing-masing bongkahan pantat sintal penyihir manisnya dan mendorong tubuhnya semakin menempel pada dadanya.

"Jadi tidak semua penyihir?"

"Ung" ia menggeleng imut. "Hanya penyihir hitam yang menginginkan hal itu, karena mereka terikat dengan iblis"

"Penyihir putih tidak bida hidup abadi?"

"Tentu saja bisa. Kalau penyihir hitam mengandalkan tumbal dan semacamnya, maka penyihir putih bergantung pada ramuan"

"Ramuan apa?"

"Ramuan berumur panjang. Bisa di minum kapan saja saat si penyihir merasa ingin hidup lebih lama, dan kelebihannya tanpa efek samping yang seperti di lakukan para penyihir hitam"

Kekehan keluar dari celah bibir plum Kris, membuat Tao menatapnya bingung. "Kau tahu apa yang membuatku tertawa?" penyihirnya menggelengkan kepala.

"Jawabanmu itu lucu. Kau menggambarkan seolah penyihir gelap terlalu banyak mengkonsumsi msg dan penyihir putih yang sehat-sehat saja dengan minuman herbal. Begitulah" ia terkekeh lagi.

"Tapi memang begitu kenyataannya master-gege"

"Iya-iya aku tahu. Lalu, kenapa saat itu kau bisa terkena kutukan?"

Kedua tangan Tao yang bergerak diatas kepala Kris otomatis berhenti, dan memusarkan manik kelamnya pada auburn yang menatapnya lekat.

"Saat itu sedang terjadi kerusuhan di wilayah tempat tinggal kami. Dan orangtua ku melawan sepasang penyihir gelap, aku berusaha membantu mereka dengan menyerang anak pasangan penyihir gelap itu, berharap fokus mereka terpecah dan orangtua ku dapat mengalahkan mereka. Tapi ternyata hal yang ku lakukan membuat mereka sangat marah dan menjatuhkan kutukan itu padaku"

"Kau ingat siapa nama mereka?"

Tao mengangguk kecil. "Aku hanya ingat marga mereka. Xi namanya"

"Xi?" kerutan samar tercipta di dahinya. "Bukan penduduk asli Transylvania?"

"Bukan, mereka sama-sama dari China"

"Kenapa mereka ada di Transylvania?"

"Karena di China sedang terjadi perburuan penyihir, jadi semua penyihir di China pindah. Kebanyakan datang ke Transylvania, karena disana populasi penyihir lebih banyak dan lebih aman"

"Lalu apa yang memicu kerusuhan?"

"Tentu saja penyihir gelap, mereka membuat pemerintah marah. Master-gege sudah mengerti?"

Kris mengangguk. "Aku mengerti. Ah, ayo cepat bilas tubuhmu di shower" suruhnya. Di jawab anggukan patuh nan semangat oleh Tao.

Pemuda manis itu beranjak keluar dari bath up menuju tabung shower, sementara Kris membuka penyumbat di dasar bath up untuk membuang air sabun yang mereka buat berendam bersama. Setelah itu ia bergabung bersama Tao untuk membilas busa shampoo di kepala dan tubuhnya yang licin karena air sabun. Menyelesaikannya dengan cepat, Kris mengarahkan kakinya mengambil bathrobe abu-abunya yang tergantung di hanger, lalu mengambilkan bathrobe putih dan 2 buah handuk kecil dari dalam lemari yang ia serahkan pada Tao.

Bersamaan, mereka keluar dari kamar mandi yang sekaligus walk in closet itu, dengan kaca bening di bagian tengah yang berfungsi sebagai pembatas dan pintu untuk kedua ruangan. Mendiamkan handuk yang bertenger diatas kepalanya, Kris mendekat pada lemari besar miliknya, memilihkan sebuah t-shirt berwarna biru muda yang tak lagi di pakainya, memberikannya pada Tao yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dan pemuda manis itu menghentikan gerakan tangannya, tanpa canggung membuka ikatan tali bathrobenya dan memakai t-shirt yang sudah di pilihkan untuknya.

Tentu tak berpikir dan menyadari jika apa yang telah di lakukannya itu membuat Kris tersiksa.

Bagaimana bisa penyihir manisnya itu dengan santai bertelanjang bulat di depannya?

Ini adalah neraka terindah bagi Kris Wu, sungguh.

Tao tersenyum puas mengamati t-shirt yang di pakainya, karena biru warna kesukaannya, dan t-shirt tersebut terasa lembut dan harum. Jelas berbeda jauh dengan t-shirt hitam yang selama ini di pakainya. Kembali ia melanjutkan kegiatannya mengeringkan sulur peraknya dengan handuk, saat Kris memanggilnya. Kepalanya menengok lugu, mengerjapkan mata melihat pria itu yang kini terlihat santai dengan t-shirt tanpa lengan berwarna hitam dan training pants dark blue yang membalut sempurna tubuh tegapnya. Pria itu mengayunkan tangan kanannya memanggilnya agar mendekat.

Cukup penasaran, ia beranjak patuh, menghampiri Kris yang berdiri di depan meja yang terletak di samping kiri lemari besarnya,dan tangaan kanannya membawa hair dryer. Dengan tatapan bertanya-tanya dan rasa ingin tahu, manik kelam Tao mengikuti gerakan tangan Kris pada alat pengering rambut itu. Dan ia berjingkat kaget ketika moncong alat itu diarahkan ke sulur basahnya, udara panas yang di hasilkan alat pengering itu membuatnya menggerakkan kepala menghindari tangan Kris yang tetap mengarahkan moncong alat itu padanya.

Terjadilah kerusuhan kecil antara Tao dan Kris. Penyihir itu tidak suka dengan udara panas yang di hasilkan alat tersebut, dan si tampan yang kekeuh agar sulur keperakan pemudanya lebih cepat kering. Meski sebenarnya kerusuhan itu terlihat lucu dan konyol, karena Tao selalu memiliki argumen lugu yang terucap dari kelopak persiknya. Berakhir dengan tawa keras Kris yang meski begitu tetap melakukan apa yang sudah terlanjur di lakukan.

Akhirnya penyihir manisnya itu berlari menghindar, naik keatas tempat tidur king size super duper empuk dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal nan hangat Kris. Bahkan dirinya belum memakai celana sebagai bawahan, karena t-shirt yang di gunakannya cukup panjang hingga menutup sebatas paha. Ia berguling-guling di dalam selimut, mengundang tawa geli Kris yang memperhatikannya. Hingga kepalanya menyembul dari dalam selimut, tersenyum lebar pada si tampan.

"Ayo kita tidur bersama master-gege~" ajaknya gembira.

"Tunggu sebentar" Kris segera mematikan hair dryer di genggamannya, dan meletakkan alat tersebut diatas meja.

Langkahnya lebar mendekati tempat tidur, merangkak naik dan menempatkan tubuhnya di samping Tao. Penyihir manisnya itu tanpa di komando merapatkan tubuh padanya, memeluk pinggangnya dan membenamkan wajah segarnya di dada bidangnya. Terdengar kekehan senang dari celah kelopak kesukaannya, dan hal itu membuatnya harus menunduk untuk melihat wajah manis si penyihir yang tak pernah bosan di tatapnya.

"Kenapa tertawa?" tanyanya penasaran. Tao mendongak, seulas senyum di bibir merahnya, ia menatap Kris dengan kilau indah di manik kelamnya.

"Aku senang master-gege~" ia semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Kris.

"Apa yang membuatmu senang?" di bawanya tangan kanannya mengelus sulur keperakan si penyihir. Menghirup dalam-dalam aroma bubble gum dari shampoo yang ia gunakan mengermasi si manis itu.

"Aku senang karena master-gege menemaniku mandi, bermain busa waktu berendam, dan sekarang tidur di tempat tidur yang super empuk"

Kris mengulas senyum tipis. "Itu yang membuatmu senang?"

"Uhm!" kepala di dadanya itu mengangguk cepat.

"Kalau begitu mulai sekarang kau tidak perlu berada di perpustakaan lagi, disini saja bersamaku"

"Tapi..."

"Kenapa?"

Pemuda manis itu kembali mengangkat kepalanya, menabrakkan black pearl indahnya yang sedikit mendung pada auburn gelap Kris. Membuat si tampan mengerutkan keningnya samar melihat raut sedih di wajah feminin yang di sukainya itu.

"Master-gege lupa? Dalam hitungan menit lagi mungkin aku kembali berubah menjadi boneka" sedihnya dengan bibir mengerucut imut.

Bukannya ikut mencemaskan hal itu, Kris malah tersenyum tipis, mengusap lembut sulur peraknya dan menundukkan kepalanya semakin dalam. Hingga ujung hidungnya menyentuh dahi penyihir kesayangannya.

"Ada yang kau lupakan sayang" ucapnya memejamkan mata. Tao menatap bingung Kris yang tepat diatas dahinya.

"Ada yang ku lupakan?" ulangnya. Kepala Kris mengangguk samar. "Apa itu?"

Si tampan kembali membuka matanya, memberi jarak antara wajah mereka dan mengarahkan pandangan matanya ke belakang Tao, tepatnya pada seonggok jam berbentuk segitiga berwarna hitam yang tergantung di dinding tepat di belakang meja kerjanya. Tersenyum tipis melihat kedua jarum jam yang menunjuk angka berbeda.

"Lihatlah jam di belakangmu, lihat pukul berapa ini" ujarnya, kembali menatap wajah manis Tao.

Maka dengan satu alis terangkat dan wajah bingung, pemuda manis itu menolehkan kepalanya ke balik punggungnya, tepat pada jam yang di maksud Kris. Seketika pupil matanya melebar, bibirnya terbuka, secepat kilat kembali menatap Kris yang menatap lembut padanya.

"Apa jam itu rusak?" tanyanya tak percaya.

"Tidak"

"Batreinya habis?"

"Tidak"

Tao sekali lagi menoleh ke belakang punggungnya, masih tak mempercayai pukul berapa yang di tunjukkan benda berbentuk segitiga seperti pyramida itu. Beberapa kali ia mengerjapkan mata namun tetap saja kedua jarum jam itu tak berubah, dan itu artinya dirinya tidak sedang berhalusinasi atau salah lihat. Jam itu jujur menunjukkan waktu padanya.

"Sekarang pukul 6 pagi Taozi. Dan kau tidak berubah menjadi boneka" suara rendah nan lembut Kris seketika memutar kembali kepala Tao menghadapnya.

Wajah manis itu masih tampak tak percaya. Syaraf-syaraf di otaknya masih bekerja mencerna infornasi yang baru saja di dapatnya dan menyadarkannya pada suatu hal. Bahwa...

"Ramuan itu berhasil! Yeay!" ia memekik senang sekali dan refleks mengeratkan pelukannya pada pinggang Kris.

Si tampan itu juga balas memeluk erat, ikut tertawa senang, membiarkan penyihirnya bergerak-gerak kesenangan di dalam pelukannya.

"Ramuan itu berhasil, jadi sekarang aku akan mendapat ciuman sebagai ucapan terima kasih? Setuju?"

Black pearl nya berkilauan indah, kelopak persiknya melengkung cantik, dengan semburat merah muda menggemaskan di pipi gembilnya. Maka ciuman yang diminta pun ia berikan dengan senang hati.

Ciuman di bibir.

Hanya saling merekatkan bibir dan pagutan lembut yang manis, Tao kembali tersenyum senang dan membenamkan wajahnya di dada bidang Kris. Si tampan itu mencium lembut sulur keperakan penyihirnya, hingga akhirnya keduanya terbuai ke alam bawah sadar dengan kelopak mata yang semakin berat dan jatuh ke alam mimpi.

Nyaman dan hangat. Suasana di kamar yang luas itu terasa lebih menyenangkan tatkala terdapat 2 sosok yang menempati tempat tidur king size yang awalnya hanya dihuni seorang saja. Aroma khas bayi yang bercampur dengan segarnya lemon yang menguar dari kedua tubuh itu menciptakan astmosfer yang berbeda. Seperti aroma musim panas yang datang lebih awal. Menyenangkan sekaligus menyejukkan.

Mengabaikan sinar mentari yang mengintip malu-malu di antara celah tirai berwarna salem yang hendakemberitahu sang penghuni kamar jika pagi sudah datang dan mengharuskannya beraktifitas. Sayangnya si pemilik kamar dan sosok tersayangnya telah terbuai ke alam mimpi dengan tubuh saling menempel, di bawah selimut tebal, dan deru nafas seirama yang tenang.

Pagi yang sempurna. Meskipun Kris Wu harus membolos kerja untuk hari ini, dan tak akan menjadi masalah besar.

'Good night' dan have a nice dream the handsome master-gege and your cute witch...

THE END

Selesaiiiii~~! Yeay! *sujud syukur*

Di review ya~ awas klo ngga, udah gw buatin n ga review, ta santet satu2 ntar :v

Dan soal curcol gw di part 1 kemarin, ada yang harus gw jelaskan.

Meski gw mendukung HZT sepenuhnya, bukan berarti gw membenarkan segala sesuatunya. Seandainya nanti HZT melakukan sesuatu yang salah baik atas perilaku or something, sebagai fans yang benar gw ga membenarkan itu, karena bagaimanapun sebagai fans yang baik kita ga boleh menutup mata. Kalau Idola kita salah, maka kita harus mengingatkannya, dan kalau dia melakukan sesuatu yang benar maka kita harus mendukungnya lebih lagi. Itu aja sih. Gw emang pendukungnga tapi bukan berarti membenarkan segala sesuatunya (:

Dan part ini gw persembahkan untuk sahabat saya Christal Otsu yang udah ngeremake ff gw dengan pairing Kristao, sampai gw cari tahu soal mereka, dan gw jadi tau ada boyband bernama EXO dan buat gw jadi suka sama Huang Zi Tao(dan gw tau HZT saat dia di kabarkan berobat di LN, dan hal itu gw syukuri karena cukup miris waktu dengar cerita tentang dia. Padahal gw ga tau apa2, tapi udah bilang 'lebih baik dia keluarlah', berasa sotot banget xD tapi gw memang lebih setuju dia keluar *peace*). Terima kasih banyak ya jeng, dan jangan sedih, di kecewakan seseorang itu sudah biasa, tapi akan jadi luar biasa jika yang melakukannya adalah orang yang berarti/berpengaruh dalam hidup kita, termasuk Idola. Karena Idola pun juga manusia, dia berhak egois, meski hal itu mengecewakan penggemar, dan sebagai penggemar yang baik kita2 harus mengerti. Karena pada dasarnya yang membuat semua itu jadi rumit adalah perasaan personal kita sendiri terhadap mereka (:

Dan soal Huang Zi Tao, dia akan baik-baik aja dan bahagia di tengah-tengah keluarga yang di cintainya, yang hal itu bukan berarti yang dulu bukan keluarga untuknya. Fans dan pendukungnya pasti mendo'akan segala sesuatu hal yang terbaik buat dia. Meskipun dia memiliki banyak haters, banyak juga fans yang mendukung dia, karena sesuatu yang buruk akan di imbangi dengan sesuatu yang baik. Jadi jeng tenang aja n ga perlu sedih, baik Kris, Luhan dan HZT, mereka memiliki keyakinan mereka sendiri yang memang kurang bisa di mengerti penggemar yang taunya hanya bisa menyenangkan mereka, para penggemar. Tuntutan itulah yang membuat seorang Idola menjadi di cemooh dan buruk di mata penggemar saat mereka melakukan sesuatu yang tidak dinginkan dan kehendaki fans. Yang lucunya kalau di pikir, siapa sebenarnya yang egois? Hahaha (ok lupakan, jangan bash gw. Soalnya hal ini yang ada di kepala gw)

Dan karena hari kamis tanggal 30 Juli ulang tahun jeng, anggap part ini sebagai kado ya.

Happy birthday! Wish u all the best~ terima kasih udah mengenalkan HZT ke orang geje macem gw xDd

Salam damai dan penuh cinta, Skylar.K a.k.a Otsu.K

And here we go~ i reply your review~

Flywithbaek: kamu yang pertama review nih, sink ta peluk *plak* hahaha, ini buah(?) hasil pengkhianatan jari gw yang seenaknya ngetik TBC xD jangan kesel, dibikin senyum aja ntar pasti keselnya ilang :3

JungSooHee: udah baca kan? Hehehe. Makasih buat reviewnya n harus review lagi! X3

faneeeyyy: hore ada yang setuju~ kita dukung terus HZT sama2 ya :3

Aiko Michishige: makasih reviewnya~ hu'um si Dragon Kris bener2 cinta ma Taotao :3

Kirei Thelittlethieves: fic ini dibuat imut2 kayak Taotao~ x3 maaf ya klo puyeng gara2 baca Dust Grains xD nah, udah kejawab kan nih ff oneshoot or 2shoot xD *gigitin jari pengkhianat*

Shui Jing: ayo kita cubitin pipinya sama2 xDd maaf y klo salah, daridulu gw bingung dengan satu kata itu, soalnya gw pernah tanya temen katanya pake D, tapi pas gw pake D ada yang bilang pake T, nah kan jadi bingung. Makasih udah di koreksi~ *bow* klo gw J-lovers, suka sama band Visual Kei terutama, dan HZT adalah Idola pertama diluar Jepang yang gw suka(tapi aku juga suka berbagai jenis musik kok, bahkan ada lagu India, Perancis, n lainnya yang juga gw dengerin) :D aku juga sering mampir ke IGnya akhir2 ini, abaikan aja komentar2 yang bikin iritasi mata itu, ne? :3

HannyZhie68: nih berlanjut sekaligus final! Yeay! Makasih buat review n tepuk tangannya~ sini gw peluk :3 #dibogem

LVenge: part ini termasuk rated M ga? XD

KrisTaoTao: udah niiiiiihhhh~ review lagi ya :D

Aylmarine: ini udah di lanjut :3 klo gw dengerin lagu2 Jay Chou udah daridulu sebelum K-pop melanda *halah* n belum tau soal Jepang, wkwkwk. Btw, ini id line n pin gw: otsu_k / 53CFD6A6 ayo kita ngborol banyak~ ekekekek

Jin Ki Tao: iya nih banyak banget typo ny, gw lupa edit, serius. Maaf ya bacanya jadi kurang nyaman. Tapi puaskan sama part final ini? Hehehe. Wah senangnya ada yang sehati~ gw soalnya orang yang terlalu santai jadi masalah Dunma kayak begitu males ikut campur meski ada yang ngatain Idola gw, wkwkwk. Biarkan ular mengeluarkan bisanya samapai habis, ntar klo kehabisan bisa kan ularnya pergi2 sendiri (: eh iya, bisa add id line aku nih: otsu_k . btw udah dengerin Tao nyanyi di program China itu? Suaranya lembut banget pas nyanyi Tornado :3

ciiismine: haaaaii~ enaknya panggil apa nih ya? Haha, makasih2 udah setuju dengan curcolan gw, wkwkwk. Ayo ngobrol lebih banyak lagi, ini id line gw: otsu_k . sejujurnya gw ga tau kepanjangan dari rated K itu apa, makanya salah deh nih, bingung nentuin rated juga xD love u too~ ekekekek. Oh atau ga bisaa invite pin gw: 53CFD6A6

deveach: biar Kris ga kesel dibikin sangar terus karakternya xD

HyuieYunnie: Dragon disini emang sweet, lembut, pengertian, calon suami penyayang istri deh xDd mari kita ber-high five! #tos seharusnya emang dibawa ketawa aja biar seru, hohoho

Rich L. Khalifa: maaf banyak typo x'D ini 2shoot, berkat pengkhianatan jari gw yang seenaknya ngetik TBC :'v wah seneng deh banyak yang setuju, gw berada di tempat yang tepat ^^

.7399: makasih makasih~ review lagi ya, hehehe :3 ini oneshoot sebenernya tapi jadi 2shoot gara pengkhianatan tak termaafkan(?) x'D ayo kita ber high five! #tos

BabyZi: elegan itu maksutnya eleg(jelek) gan xD becanda2, itu becandaan garing orang jawa yang di plesetin bahasanya *lol* xD Transylvania itu Negara bagian yang masuk ke dalam Rumania, bener2 ada kok2. Sedaerah(?) sama Hungaria, Slovakia, asal muasal Vampire xD klo part ini gimana? Semoga puas ya (:

yuni1906_: ruangan perpustakaannya emang terinspirasi dari Sensory Couple, hehe. Tapi tetap ada perbedaannya kan? Kita do'akan yang baik2 buat HZT ya (:

Rah: let me start with THANKS! Hehehe, makasih atas review positifnya :3 Taotao udah cerita tuh kenapa dia bisa kena kutukan, jangan lupa review lagi ya (:

munakyumin137: iya nih banyaj pake banget typo nya, maaf ya bacanya jadi ga nyaman ^^

Yeay! Mari kita lestarikan Kristao! Dan lebih memanusiakan manusia dalam berperilaku dan bertutur kata *sok iya* seneng rasanya banyak yang mendukung Taotao disini, gw ngerasa berada di 'lingkungan' yang tepat, bukan di lingkungan yang hobi menghujat. Thanks all, big hug for you all, i love you, and god bless you!

Tetep jangan lupa review ya, muah! *wink* maaf klo gw jadi banyak omong di ff ini, hehehe *peace* eh iya buat yang mau invite pin gw boleh juga kok ^^ 53CFD6A6