Second Chance from The Hero
Chapter II: Who Are You?
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N : Helo. Inilah sambungan dari Fanficku. Terima kasih atas review kalian. Kalian, para senpai adalah sumber kekuatanku. Walaupun saat aku membaca review yang isinya tentang pertanyaan maksud dari Fanficku, itu membuatku jadi merasa agak gagal. Ah, tapi tak apa. Kesalahan murni dariku sendiri mungkin. Niatku hanya ingin membuat Fanfic yang isinya tentang tali persahabatan antara Naruto dan Sasuke, tapi ternyata ada reader yang mengira ini ada unsur Yaoi nya. Bukannya aku gak suka, aku fujoshi juga kok. Ah, sekalian aja kali ya kubuat ini jadi Fanfic Yaoi XD
Ah, udahlah. Happy Reading...
.
.
.
"Apa? Kau bercanda, 'kan?"
.
"Tidak, aku serius! Ada kerusakan Dimensi!"
.
"Kenapa bisa begitu? Kau tahu seberapa fatalnya hal ini? Semua takdir yang sudah terancang dengan baik bisa hancur sekejab!"
.
"Tuan, bisakah kita kesampingkan masalah itu? Salah satu Anggota kita terserap Lubang Dimensi dan hilang!"
.
"Astaga, demi Tuhan! Kau benar-benar bodoh!"
.
"Cukup, Souma. Ini tidak menyelesaikan apapun. Kau harus tenang."
.
"Ta-tapi, Tuan... Ini masalah serius..."
.
"Jadi, Saguru. Siapa yang terserap Lubang itu?"
.
"O-orang itu... R-Ryuu, Tuan...,"
.
"Tenanglah, dia memiliki alat pemancar radar pemberianku. Dia akan kutemukan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sang Uchiha masih ada di sana. Masih berada di hadapan Altar Sang Sahabat. Ia masih menundukkan kepalanya, masih duduk bersimpuh di depan Monumen Naruto. Ia bersama segala dosanya yang tidak mungkin terampuni lagi. Tidak pernah Uchiha itu merasakan rasa penyesalan yang sedalam ini. Satu kali ia rasakan saat membunuh Itachi. Membiarkan kedua tangan pucat Sasuke ternodai darah dan dosa, itulah yang selalu Sasuke lakukan. Tidak ada selain itu. Bayang-bayang kematian Naruto terus saja menghantui Sasuke. Ninja medis juga tidak akan banyak berguna saat tahu bahwa pasien mereka menderita luka serius. Dengan banyak luka menganga di sekujur tubuh lemah Sang Pahlawan. Sorot mata biru itu yang kehilangan cahayanya, memandang tidak fokus kepada mereka yang begitu panik. Sorot mata lelah yang sayu itu mungkin akan selamanya terekam dalam memori Sasuke. Naruto dan darah yang berlumur hampir di sekujur tubuhnya, hampir di seluruh wajahnya. Walau semua orang memandangnya penuh harap, berharap ia akan bertahan, tapi apa dayanya. Bahkan genggaman tangan Tsunade yang berusaha menyalurkan kehangatan sekaligus cahaya kehidupan pada tubuh penuh luka Naruto tampaknya tidak berguna. Naruto sama sekali tidak membaik. Seakan tubuhnya tidak bisa lagi merespon cakra penyembuhan itu. Seakan seluruh sel syarafnya lumpuh saat itu juga.
Memang benar, kalaupun Naruto bisa bertahan hidup. Sudah dipastikan ia tidak lagi bisa jadi Ninja sehebat dulu.
Tapi... Hei, bukankah ada Sasuke? Ada Sakura? Ada Kakashi, Iruka, Tsunade, dan teman-temannya yang lain? Bukankah selalu ada mereka untuknya? Bukankah... Bukankah seharusnya Naruto bisa bertahan melalui ini semua bersama mereka? Mereka adalah sumber kekuatan Naruto, iya kan? Seharusnya Naruto bisa bertahan...
Yah, itu hanyalah pemikiran dari kebanyakan mereka yang egois.
Mereka sangat ingin Naruto tetap ada di sisi mereka. Tertawa dan bercanda bersama mereka. Tanpa peduli bagaimana perasaan Naruto nantinya. Hidup sebagai bukan ninja, bayangkan saja bagaimana down-nya dia nanti. Selama ini Naruto sudah berusaha kuat melalui kerasnya hidup. Sudah cukup. Jangan lagi. Yang kali ini, pasti Naruto tidak akan bertahan. Menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan berbaring di Rumah Sakit, kemana-mana harus dengan kursi roda. Perubahan se-drastis itu... bagaimana mungkin Naruto menghadapinya?
Mungkin takkan ada lagi canda dan tawa. Mungkin nanti... baginya Dunia hanyakah sebagai penjara yang gelap gulita. Yang ada hanyalah kegelapan dan keputus-asaan.
Mungkin sebenarnya dewa sangat menyayangi Naruto, memutuskan mengambil nyawa pemuda ceria itu daripada harus terus bertahan di bawah tekanan dan rasa sakitnya. Sang Pahlawan itu terlalu indah untuk menderita. Terlalu berharga untuk tersiksa.
Tapi jika memang desa menyayanginya... Kenapa dewa membiarkan Naruto melalui penderitaan dan kesepian begitu lama?
.
Itulah sebagian kecil dari perasaan mereka yang menyayangi Naruto, termasuk Sasuke. Ia yang kini tengah terdiam di hadapan Monumen Naruto pastinya sedang memikirkan banyak hal tentangnya. Tentang takdirnya.
.
.
Tanpa disadari, hujan sudah reda, langit berawan gelap itu kini lenyap, cahaya langit perlahan menunjukkan berkas cahaya miliknya. Dan tanpa disadari jugalah, sebuah pusaran hitam tercipta di langit Konoha, lebih tepatnya di atas langit tempat Sasuke berada. Sedangkan Sasuke yang masih duduk dan tertunduk di depan Altar Naruto membelalakkan matanya. Ia mendengar suara gemuruh aneh dari atasnya. Tanpa basa-basi, Uchiha itu mendongak, dan betapa terkejutnya ia begitu melihat pusaran hitam di Langit itu.
.
"Apa itu?"
.
.
Belum menemukan jawaban dari pertanyaannya, pusaran tersebut seolah membuka dan memuntahkan sesuatu. Sesuatu itu mirip seseorang yang terbakar. Apa itu? Meteor aneh yang keluar dari lubang yang aneh?
.
Dan sialnya, benda itu menuju ke tempatnya berada.
.
"Sial..,"
.
Dengan cepat, Sasuke langsung mengeluarkan tameng Susano'o miliknya. Bukan cuma tulang belulangnya saja, namun pria raven itu menciptakan Susano'o yang sempurna.
.
Bukannya untuk melindungi dirinya. Jika iya, Sasuke bisa dengan cepat berlari menjauhi meteor itu tanpa harus membuang Cakranya dengan membentuk Susano'o. Itu lebih mudah.
.
Ia sengaja tetap di sana dan membentuk Susano'o untuk melindungi Altar Emas Naruto.
.
Jadi dirinya memposisikan Susano'o untuk menembakkan panah pada Meteor itu. Tidak peduili apakah nanti pecahannya mengenai seseorang, yang penting Meteor itu tidak boleh mengenai Altar Naruto!
.
Namun sial, meteor itu sudah terlalu dekat.
.
"Kusso..!"
.
Ia akhirnya memfokuskan diri untuk bertahan.
.
.
.
Dan ledakan pun terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
oooOOOooo
.
Pintu ruangan Hokage itu langsung didobrak oleh seorang pemuda berambut hitam dikuncir mirip nanas. Ia terlihat cemas.
.
"Hokage-sama! Terjadi ledakan!" Serunya dengan cepat, seakan-akan membuktikan betapa gelisahnya dirinya. Kedua matanya tertuju pada seorang pria berjubah putih dengan motif api yang berdiri memunggungi dirinya. Pria yang disebut-sebut sebagai Hokage itu menatap tajam ke arah luar lewat jendela. Menatap tajam ke arah sumber ledakan.
.
"Ya...," hanya itu yang ia ucapkan dari balik masker hitamnya. Suaranya terdengar berat, seolah ada emosi yang terpendam dari satu kata yang singkat itu.
.
"Dan ledakan itu berasal dari Monumen Naruto..." sambungnya lagi, ia menoleh kepada asistennya yang bernama Shikamaru itu. Tatapannya tampak serius.
.
"Jika ini bentuk penyerangan. Takkan kumaafkan.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"U-ukh...," pemuda bersurai raven dengan gaya rambut yang menentang hukum Gravitasi itu meringis pelan. Ia membuka kedua matanya dan menampakan sepasang iris berbeda warna miliknya yang mengedar ke sekelilingnya. Awalnya pandangan matanya samar, sampai akhirnya ia bisa memfokuskannya kembali. Dan hal pertama yang ia lihat adalah asap yang mengelilinginya. Apa yang terjadi?
.
Kedua mata itu membulat begitu rentetan ingatan menyerang kepalanya. Serangan... Ini pasti serangan! Sasuke akhirnya memaksakan diri untuk bangkit dan siaga. Sepertinya dirinya terpental cukup jauh.
.
'Tadi itu... Bahkan dalam mode Susano'o, aku masih belum bisa menahannya..'
.
Ia merutuk diri, apa karena Dunia yang terlalu damai dirinya jadi selemah ini? Atau memang meteor itu yang terlalu kuat?
.
Dan satu hal lagi...
.
APA YANG TERJADI PADA MONUMEN NARUTO?
.
.
.
Perlahan asap itu menghilang, ia bisa memandang ke depannya. Ia bisa memandang reruntuhan Monumen Emas itu.
.
.
.
Reruntuhan... Monumen...
.
.
.
Ya, Monumen itu hancur...
.
.
.
Sasuke menatap shock kepada Monumen Naruto yang sudah tidak berbentuk itu. Kedua matanya terbelalak dan terus saja terpaku pada Monumen tersebut. Dengan gerakan pelan, ia melangkah. Kedua bibirnya sedikit menganga saking terkejutnya.
.
Hancur..
.
Monumen itu benar-benar hancur..
.
"APA-APAAN INI!?"
.
Sebuah suara melengking yang feminim itu terdengar dari arah belakang pria raven itu. Sasuke menoleh, dan mendapati bahwa jeritan histeris itu adalah milik gadis bersurai soft pink dengan manik Emerald. Bukan hanya dia, mereka semua, teman-teman seangkatannya plus Kakashi juga datang. Respon mereka semua tidak jauh berbeda darinya. Shock. Bahkan Hinata terlihat menutup mulutnya, menahan isak tangisnya.
.
"Siapa yang telah tega melakukan ini...?" Kakashi bertanya kepada pemuda Uchiha itu, dan dibalas dengan tatapan shock dari pemuda tersebut. Ya, Sasuke masihlah shock.
.
"Aku bicara padamu, Sasuke."
.
"A-auw~ Punggungku...,"
.
.
.
Semua pasang mata di sana dengan kompaknya terbelalak begitu mendengar suara ringisan yang terdengar begitu asing di telinga mereka.
.
Mereka menoleh, mendapati seseorang yang keluar dari beberapa reruntuhan emas yang nampaknya menimpa tubuhnya itu.
.
Dia.. seorang pemuda dengan surai perak kelabu acak-acakan, dengan kulit sedikit kecoklatan, dan kedua iris Sapphire indah yang agak redup.
.
Pemuda dengan mengenakan Jacket biru donker dan celana hitam itu terlihat mengusap punggungnya sekilas. Sampai akhirnya kedua iris biru itu terdiam begitu melihat Sasuke dan yang lainnya. Ia mematung.
.
"Kenapa? Ini bukan tontonan!" Ketusnya dengan dengusan sinis pada mereka semua. Terlihat ia mulai bisa berdiri tegak walau dengan susah payah. Sangat sulit meluruskan kembali tulang punggungnya yang tadi sempat tertimpa emas.
.
"Kenapa tidak membantu, sih? Aku kesakitan, nih!" Semprotnya lagi sambil membersihkan helaian peraknya yang berdebu.
.
.
.
Dan para Ninja itu hanya mematung tidak mengerti.
.
Kecuali Kakashi tentunya.
.
"Kutemukan pelakunya..," gumamnya yang masih bisa terdengar oleh pemuda berjacket biru itu.
.
"Pelaku..? Pelaku apa? Aku korban, tahu!"
.
"Kau pelaku perusakan Monumen Pahlawan kami.. Apa kau sadar itu?" Sahut Kakashi kembali.
.
Tidak ada kata yang terucap lagi dari mulut pria asing itu, kedua irisnya membeku mencoba memahami maksud dari Kakashi.
.
Dan setelah sadar, ia membelalakan matanya.
.
"Huh?"
.
Dengan gerakan cepat, pria berjacket donker itu mengedarkan sepasang maniknya ke sekitarnya. Betapa terkejutnya ia begitu sadar reruntuhan apa yang telah hancur itu. Ia gemetar, raut cemas terpampang dari wajahnya.
.
"APA YANG TELAH KULAKUKAN!?"
.
Ia berteriak sehisteris mungkin. Membuat aura hitam yang sejak tadi menyebar dari sekeliling Kakashi lenyap seketika. Runtuh sudah kesan mengerikan yang tadi sempat tercipta dari wajah Sang Hokage.
.
"A-aku akan dikutuk... Akan dilaknat... Oh, maafkan aku.. Sungguh, aku tidak sengaja!"
.
Pria bersurai Silver itu bersujud-sujud di depan Monumen itu. Dengan penuh penyesalan hati, ia meminta maaf dengan sepenuh hati. Tapi itu justru terlihat konyol di depan mata Para Ninja di sana.
.
.
.
"Kau sebenarnya siapa?"
.
.
.
.
.
.
"Tuan muda, bagaimana?"
.
"Apanya?"
.
Terlihat di sebuah ruangan tertutup yang cukup besar dan gelap dengan hanya berisikan satu meja saja, seorang pria berkemeja putih dibalut jas hitam lengkap dengan celana hitamnya dan dasi bergaris berwarna biru hitam sedang berdiri menghadap seorang pemuda yang tengah duduk bersandar di kursi dekat meja tersebut.
.
"E-ettoo... Tentang Ryuu. Bukankah dia.. menghilang?" Entah kenapa mendadak nyalinya menciut untuk bicara dengan Tuan Muda-nya ini. Padahal Sang Tuan hanya baru mengatakan satu kata saja.
.
"Ya, dia menghilang." Sang Pemuda hanya menjawab seadanya. Terdengar santai, tanggapannya terkesan tidak serius, bahkan di saat ada masalah besar seperti ini.
.
"La-lalu? Kenapa Anda hanya... duduk diam bersantai di sini?"
.
"Jadi, aku harus bagaimana menurutmu?"
.
"Ma-maaf, bukan maksudku mengatur Anda..,"
.
"Kau hanya harus tenang. Semua akan baik-baik saja. Seperti biasa aku yang akan mengurus masalahnya. Jadi kalian tinggal terima beres."
.
"Maaf, bukan maksudku meragukan Anda.. Aku benar-benar minta maaf."
.
"Sudahlah, bukan maksudku menyindirmu. Jangan terlalu mudah meminta maaf."
.
"I-iya..,"
.
"Bagaimana jika kau panggilkan Arthur dan yang lainnya?"
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi... Jelaskan semuanya, pengacau aneh."
.
Seperti itulah pinta Kakashi kepada orang itu, orang yang datang secara tiba-tiba dan menghancurkan pusara suci Pahlawan Dunia. Bayangkan seberapa tidak terimanya Sang Rokudaime Hokage ini. Kembali ia memasang tampang 'kau akan mati di tanganku' kepada pria asing itu. Dan mendapat perlakuan begitu dari Sang Pemimpin membuat pemuda ini cukup gentar.
.
"He-hei, jangan melihatku begitu..."
.
Di sinilah mereka, Ruang Introgasi. Ruangan kecil bercat putih dengan hanya berisikan satu meja dan dua kursi, tempat orang asing itu dan Kakashi duduk bersebrangan. Lalu dimana Sasuke dan yang lainnya? Mereka tentunya tidak akan pergi setelah kejadian ini. Jadi mereka hanya melihat dari sebuah jendela, yang tentunya jika dilihat dari dalam ruangan itu hanya terlihat seperti sebuah cermin biasa.
.
"Katakan saja, siapa kau dan apa maksudmu menghancurkan Monumen Pahlawan kami?"
.
"Sudah kubilang itu tidak sengaja!"
.
Orang itu menggebrak meja. Seolah ingin menunjukan bahwa dirinya benar-benar tidak sengaja. Namun, Kakashi hanya menatapnya dengan tatapan menyelidik.
.
"Hh... Bagaimana caraku memberitahukan kebenaran ini jika kau saja tidak percaya padaku.."
.
Pemuda asing itu membuang nafasnya pasrah, ia kemudian bersandar kepada kursinya dan melipat kedua lengannya di dada.
.
"Namaku Ryuu Kanzaki, Penyihir dari Vinland."
.
.
"Vinland?" Di luar ruangan, Shikamaru terlihat menautkan kedua alisnya. Nama itu terdengar sangat asing baginya.
.
"Dan... Penyihir? Benarkah?" Kini Sakura yang angkat bicara. Mereka mulai bertanya-tanya dalam diam. Minus Sasuke yang masih tetap tenang menyimak.
.
"..."
.
"Kau tidak tahu, 'kan? Karena itulah... lebih baik jangan bertanya." ujar pemuda asing bernama Ryuu tersebut kepada Kakashi. Kini ia terlihat mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila di kursi tempatnya duduk. Tidak sopan memang, terlebih di saat di depannya ada Sang Pemimpin.
.
Dan Kakashi masih tidak bergeming.
.
"Jika kau keberatan untuk kutanyai maka kami akan menggunakan cara kasar." Lugasnya datar. Singkat, padat, dan sangat mengena kepada Ryuu. Membuat pemuda itu memasang wajah sweatdropnya.
.
"A-aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan senang hati..."
.
Mendengar itu, Kakashi tersenyum puas dengan matanya yang terpejam.
.
"Baiklah, lanjutkan~"
.
"U-uhh~ Aku tidak tahu harus mulai darimana, tapi..."
.
Untuk sejenak, Ryuu memberi jeda pada ucapannya.
.
"Di sana kami memiliki semacam Gerbang Portal yang bisa membuka paksa Dimensi dan merobek Ruang dan Waktu." Pemuda bersurai keperakan dengan jacket biru itu kini mulai menjelaskan detail-nya.
.
"Gerbang besar itu memungkinkan kami untuk kembali ke masa lalu, meluncur ke masa depan, atau menjelajahi Dimensi lain. Oh? Apakah aku harus menjelaskan tentang Dimensi juga? Ya ampun..." Ryuu mulai menjambak-jambaki helaian surai silvernya. Ia bukanlah orang yang senang mengajari seseorang tentang sesuatu.
.
Dan melihat pemuda itu begitu frustasi, Kakashi hanya terkekeh kecil.
.
"Jelaskan saja secara sederhana."
.
"Astaga..." Keluh Ryuu lagi dengan pelan dan memejamkan matanya, sampai akhirnya ia menarik nafas dalam-dalam.
.
"Mudahnya, Dunia ini memiliki berbagai macam cerita yang berbeda, dan itulah yang dinamakan Dimensi."
.
Ia kemudian menatap lurus kepada Kakashi.
.
"Jika di sini kau menjadi seorang pemimpin, maka di Dimensi lain kau mungkin hanya menjadi orang biasa. Di dimensi lainnya lagi, kau mungkin seorang penjahat."
.
Kembali, Ryuu memberi jeda pada penjelasannya. Mungkin ia bermasud memberi waktu untuk Kakashi mencerna ucapannya secara pelan-pelan.
.
"Dan Dimensi itu sangat banyak, kau tahu~ Tidak terhitung oleh kami."
.
Ryuu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menggambarkan betapa banyaknya 'Dimensi' yang ia maksud itu. Sepertinya ia mulai serius menjelaskan.
.
"Aku tidak perlu menjelaskan tentang menjelajahi masa lalu dan masa depan, aku yakin itu mudah dimengerti. Dan... Asal kau tahu saja, kau dan Dunia yang sedang kau jalani ini adalah salah satu dari sekian banyaknya Dimensi yang ada. Begitu pula denganku dan Duniaku, itu adalah bagian dari Dimensi juga. Jadi kau bukanlah satu-satunya. Dan aku juga bukanlah satu-satunya, mengerti?"
.
Tanpa menjawab, Kakashi tidak merespon. Ia hanya menyimaknya saja.
.
"Hanya pihak pemilik kuasa tertinggilah yang mengetahui tentang Gerbang itu. Dan mereka merahasiakannya dari publik. Tapi aku tahu soal itu! Dan aku sama sekali tidak setuju jika Gerbang unik itu dirahasiakan! Jadi aku menceritakan tentang hal ini kepada teman-temanku. Awalnya mereka tidak percaya, jadi kubawa mereka ke Gua dimana Gerbang Raksasa itu berada."
.
Kini raut emosi terpancar jelas dari wajah Ryuu.
.
"Niat awalku hanya ingin memperlihatkannya saja, bukan untuk hal lain apalagi untuk menggunakannya. Tapi entah kenapa sesuatu yang tidak beres terjadi pada Gerbang itu... Gerbang Dimensi itu bercahaya terang dan menyerapku yang kebetulan saat itu berada paling dekat dengan Gerbang. Yeah~ Paling tidak teman-temanku sudah percaya dan bukan mereka yang tersedot Gerbang Dimensi itu. Dan—"
.
Ryuu kemudian mengangkat kedua bahunya sejenak, iris sapphire redupnya menatap Kakashi.
.
"—Di sinilah aku."
.
"..."
.
Kakashi masihlah tidak bergeming, tidak memberikan respon apapun.
.
Dan itu membuat urat-urat emosi muncul di kening Ryuu.
.
"KAU DENGAR TIDAK, SIH!?" Bentak Ryuu emosi, bahkan ia sampai berdiri di meja dan menunjuk kesal ke arah Kakashi, dengan konyol.
.
Kakashi hanya melemparkan tatapannya kepada Ryuu. Sampai akhirnya ia angkat bicara.
.
"Yare-yare~" ia menopang dagunya dan memejamkan mata dengan dahi yang berkerut. Entah sejak kapan aura membunuh di sekitarnya hilang.
.
"Aku tidak tahu harus percaya pada cerita tidak masuk akal begini atau tidak~"
.
"MAKANYA SEJAK AWAL AKU MALAS MENCERITAKAN INI PADAMU! AAARRGGHH!"
.
Oke, tampaknya pemuda asing itu mulai frustasi.
.
.
"Err..."
.
Di sisi lain, terlihat Ino membalikkan badan untuk menatap satu persatu temannya. Ekspresinya terlihat tidak yakin.
.
"Bagaimana menurut kalian?"
.
"Apanya yang bagaimana? Jelas-jelas orang itu mengarang cerita. Kita sudah membuang-buang waktu di sini." Ketus Kiba, pemuda bersurai coklat dengan segitiga merah terbalik itu mendengus kesal.
.
Berbeda dengan Shikamaru, ia terlihat berpikir keras.
.
"Shikamaru?" Ino memanggilnya.
.
"Dia... entah kenapa saat dia menceritakan soal Gerbang dan Dimensi tadi... wajahnya terlihat serius." ucap Shikamaru dengan nada pelan sambil memegang dagunya.
.
"Lalu kau percaya? Begitu?" Timpal Kiba.
.
"Tapi orang itu lucu juga, ya? Semangat masa muda terpancar darinya!" Seru Lee dengan semangat.
.
"Ayolah, Lee... Apa hanya itu yang bisa kau lihat?" Keluh Tenten padanya sambil berkacak pinggang.
.
"Aku juga melihatnya begitu.." Sebuah suara datar kini terdengar, dan itu milik Sasuke.
.
"A-a-apa!? Kau!? Melihat semangat masa mudanya seperti Lee!?"
.
Kibalah yang mengatakan hal itu, tapi bukan hanya dia yang terkejut. Semua orang di sana terkejut. Terbukti dari tatapan mereka yang tertuju kepada Sasuke, dan seolah-olah mengatakan 'kau pasti bercanda' pada pria berambut raven itu.
.
"Lebih tepatnya aku melihat kebodohannya... mirip seperti seseorang yang sekarang sudah tidak ada lagi."
.
Dan satu ucapan itu membuat tatapan itu tergantikan. Mereka mematung. Tentu mereka tahu betul siapa yang dimaksud oleh Sasuke. Ah, sepertinya pemuda Uchiha itu masihlah ingat kepada 'Si Bodoh' itu... Ingatan yang takkan hilang... Dan akan terus ada untuk membuat busuk semua orang dengan rasa bersalah.
.
Dan kalimat Sasuke tadi membuat mereka menyadari, ternyata pria Uchiha ini peduli pada Si Pirang.
.
.
.
.
.
"Jadi... jika memang kau benar berasal dari err... Dimensi lain atau semacamnya, bagaimana caramu kembali?"
.
"Tenang saja, aku yakin Senior akan menolongku. Dia itu orang Kerajaan. Seorang Pangeran! Hebat, 'kan? Seniorku adalah orang atas. Dulu dia sempat jadi pengelana, hobinya adalah mengeksekusi pendosa, dia juga adalah seorang eksekutor yang ditakuti! Dan dia masih muda! Aku yakin sekarang ia tidak bisa lagi merahasiakan tentang Gerbang Dimensi dari semua orang." Ryuu memamerkan deretan giginya, seolah sangat bangga memiliki Senior seorang anggota Kerajaan.
.
"Aku tidak percaya."
.
"KAU DIAM SAJA!" Bentaknya, lagi. Kini Ryuu duduk di meja. "Dia itu orang yang pendiam, selalu serius, tapi sebenarnya dia adalah seseorang yang peduli. Semua orang mengandalkannya." Ia kembali melanjutkan ucapannya sambil memejamkan matanya dan bersidekap. Nadanya terdengar kesal.
.
Namun perlahan raut kesal itu berubah menjadi murung.
.
"Walau begitu... dia tidak pernah bahagia..."
.
"..."
.
.
.
.
"Baiklah, cukup sampai di sini.."
.
.
.
Hahaha! Makin aneh ya?
Yaa... Inilah isi dari kepalaku semuanya tersalurkan semua di sini. Dan akan kuperingatkan lagi. Di ke depannya akan muncul lebih banyak chara OC. Dan juga... OOC pastinya ya.
Rencanaku aku ingin membuat Fanfic ini jadi 3 part. Ehehe... Padahal baru juga 1 part ya ^^
Tapi seperti yang dikatakan doi, Naruto Uzumaki. Jangan takut bermimpi tinggi, jangan putus asa sebelum bertarung. /kapandiangomongbegini/
Aku harap kalian para reader menyukai Fanficku. Sekali lagi, kalian adalah sumber kekuatanku. Sumbangkan suaramu, reviewlah Senpai...
.
.
.
.
.
.
"KENAPA AKU MALAH DIPENJARA!?"
"Kau pikir aku bisa lakukan apa? Membantumu melarikan diri?"
"Tidak bisakah kalian memberiku kesempatan kedua?"
.
"Katakan padaku kalau kabar angin yang kudengar ini hanya sekedar gosip belaka..."
"Berdoalah saja, semoga pemuda Uzumaki itu tidak mengutuk kita."
.
"Tidak, aku juga akan menyusulnya."
.
"Rokudaime-sama..."
.
"Dia... Naruto Uzumaki. Pahlawan yang telah menyelamatkan kami dari Kegelapan Dunia. Dia kini sudah tiada.."
.
"Dan Monument emas yang telah kau hancurkan waktu itu... Itu adalah miliknya."
