2nd Cap
"Kapten! Kapten! Hyung! Kyuhyun Hyuuuung!"
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang polisi tanpa pakaian dinas. Membawa selembar kertas di tangan dan mengayunkannya seakan lembaran itu adalah sebuah petunjuk harta karun yang berharga.
"Kyuhyun Hyung!"
"Yah! Kau masih di kantor. Kenapa terus memanggilku seperti itu?!" Kyuhyun yang saat itu sudah menumpahkan kopinya karena terkejut langsung mengomel. Namun saat melihat wajah berseri salah satu anak buahnya yang setia, sesuatu seperti dengan cepat diperbaiki. Bahkan niat untuk memukul pun hilang. "Di tanganmu itu... apakah..."
Minho mengangguk dengan semangat. Seakan kata-kata tak lengkap Kyuhyun tadi sudah tersampaikan dengan baik ke dalam otaknya. "Aku baru saja datang, dan sekretaris komisaris langsung memberikan ini. Kita bisa bergerak secepatnya. Tidak. Kita harus bergerak secepatnya. Sudah banyak desas desus penyergapan yang mungkin keluar dari kepolisian. Kita tidak boleh memberikan mereka waktu untuk bersiap-siap dengan 'kunjungan'.
Kyuhyun dan dua orang anak buahnya yang lain sangat mengerti dengan 'kunjungan' yang dimaksud Minho. Semua energi seperti tiba-tiba terisi.
"Jonghyun-ah, Kau hubungi SWAT dan lihat berapa personil yang bisa kita bawa." Kyuhyun langsung memerintahkan salah satu anak buahnya yang lain yang masih berdiri dengan banyak berkas di tangan.
"Siap, Kapten!"
Kemudian ia beralih pada Henry, "Kau sudah menyiapkan semuanya, kan?"
"Semua dalam kendali. Kupastikan tidak ada yang tidak akan terhubung. Aku akan lebih dulu menuju lokasi untuk mengaktifkan seluruh radar dan memeriksa kemungkinan jaringan keamanan yang akan menghambat." Henry menjawab dengan tegas.
Kyuhyun mengangguk. "Bawa beberapa orang dan senjata. Pastikan kalian tidak terlihat!" setelah itu dirinya melihat Henry keluar meninggalkan ruangan.
"Lalu kau..." ia menunjuk Minho. "Kuharap pakaian kita kali ini akan sedikit lebih keren."
[...]
Mereka berdua berdiri di dalam sebuah gedung penyimpanan bersama dengan orang-orang berpakaian kuning dan biru. Berlarian kesana kemari, mendorong kesana kemari, membongkar, memuat dan pada akhirnya mengumpulkan semua barang dalam satu ruangan lain yang lebih besar.
[Kapten, kau bisa mendengarku?]
Lamat-lamat suara Henry terdengar pada alat komunikasi mereka.
[Mengangguklah jika semuanya bersih. Aku berhasil terhubung dengan beberapa CCTV dari sudut pengambilan gambar yang bagus.]
Kyuhyun mengangguk, begitu pula dengan Minho. Sebagai pembuka jalur, mereka berdua menyamar menjadi salah satu pekerja di dalam gudang penyimpanan tersebut. Tempat ini dicurigai merupakan pusat pencucian uang dari dana pemerintah yang harusnya disalurkan untuk kesehatan masyarakat.
Untuk memastikan bahwa di dalan kardus-kardus ini menyimpan sejumlah uang, harus ada yang mengabadikannya sebagai bukti kuat jika terjadi kesalahan.
"Hyung, lewat sini." Minho sudah memulai penyamarannya. Ia memberikan kode untuk arah troli yang Kyuhyun bawa. Namun tidak seperti yang lainnya, mereka justru berusaha membawa kotak tersebut ke ruangan yang aman untuk memeriksa lebih jelas isinya. Hal yang paling penting untuk memutuskan apakah personil di luar sana akan melanjutkan penyergapan atau tidak. Kira-kira seperti itulah persyaratan konyol yang ditulis dalam perintah penggerebekan hari ini. Temukan barang bukti, kemudian komando akan seluruhnya ada di tangan Kyuhyun dan tim-nya.
Mereka sampai pada lift besar yang akan membawa keduanya pada beberapa lantai ke atas. Berdasarkan instruksi, semua barang akan dipindahkan ke lantai dua. Tempat yang lebih sepi dibandingkan dengan lantai dasar yang penuh sesak dengan pekerja. Setidaknya mereka memiliki sekitar sepuluh menit untuk membongkar dan mengirim foto berupa barang bukti tangkapan langsung.
"Buka." Perintah Kyuhyun.
Minho mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sepatu boot-nya. Ia membelah salah satu kardus hingga memperlihatkan isinya.
Terlihat beberapa buah boneka dalam bentuk yang sama. Kemudian dengan hati-hati Kyuhyun mengambil salah satu dari boneka tersebut dan mengoyak isi perutnya.
"Hyung—"
"Apa-apaan ini?"
Keduanya terdiam. Apa yang mereka temukan sama sekali di luar perkiraan. Penggelapan dana adalah kasus yang tengah mereka selidiki. Dan hari ini sudah pasti barang bukti uang triliunan lah yang seharusnya mereka dapatkan.
"Bongkar kardus yang lain!" perintah Kyuhyun.
Minho menuju sebuah kardus yang dipilih secara acak. Membukanya, kemudian menemukan boneka-boneka yang sama. Ia kembali membongkar boneka tersebut. Dan kembali terkejut dengan apa yang ditemukan. Masih sama. Adalah bubuk putih halus dalam sebuah bungkusan. Sekitar satu kilogram kokain ada di dalam setiap boneka. Dirinya mulai menghitung. Jika satu kardus ini berisi sepuluh boneka yang akan di ekspor ke luar negeri, maka satu kardus membawa sekitar sepuluh kilogram. Dan sejauh pengamatan mereka, orang-orang di bawah sudah mengangkut sekitar seribu kardus. Itu sama artinya dengan gudang penyimpanan ini sudah menyelundupkan sekurang-kurangnya sepuluh ton barang haram tersebut setiap harinya.
"Pasukan harus bersiap—"
Kyuhyun sudah akan mengeluarkan alat komunikasi dari sakunya ketika Minho mencegah. "Hyung, jangan gegabah. Ini bisa saja jebakan." Ucapnya dengan cemas.
Namun Kyuhyun bersikeras, "Yang kita temukan nilainya bahkan lebih besar sepuluh kali lipat. Kau tidak berpikir untuk membuat semua orang kembali tanpa melakukan apa-apa bukan?"
"Ini sindikat terbesar yang pernah ada. Kita tidak bisa sembarangan."
"Untuk itulah aku tidak akan tinggal diam!" Kyuhyun meninggikan suaranya. "Dengar! Hanya dengan beberapa gram saja, benda ini bisa membuat kehancuran satu manusia. Kau tidak akan bisa membayangkan jika sepuluh ton setiap harinya barang ini tersebar. Berapa banyak nyawa manusia yang akan menjadi sia-sia!"
"Tapi—"
"Operasi kali ini di bawah perintahku." Kemudian Kyuhyun menekan sebuah tombol dari ponselnya hingga ia bisa terhubung pada tim di luar. "Henry, semua personil siaga pada tempatnya. Barisan depan mulai masuk ke dalam gedung. Aku tidak ingin ada celah sedikitpun untuk mereka yang ingin kabur."
"Hey! Sedang apa kalian?!"
Tidak baik. Dan sekarang mereka tertangkap basah dengan barang bukti sebuah boneka dengan perut terbuka memperlihatkan isinya yang tak wajar.
"Kalian mata-mat—"
Minho bergerak cepat saat petuagas tersebut mengeluarkan senjata api dari sakunya. Ia berhasil menjauhkan senjata tersebut dan menghajar wajahnya. Pria itu tersungkur.
Namun sialnya dia jatuh di tempat yang tepat. Tangannya berhasil menekan salah satu tombol darurat hingga membuat suara raungan menggema di setiap sudut gedung. Hanya dalam beberapa detik terdengar banyak langkah kaki mendekat.
Keduanya benar-benar dalam bahaya.
"Henry! Lakukan penyergapan dari atas gedung. Dan perintahkan semua personil untuk masuk. Serangan dari berbagai sisi!"
Kyuhyun dan Minho berlari ke arah tangga darurat, namun di sana sudah menunggu empat orang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan senjata api.
Mau tak mau mereka harus berkelahi. Satu orang menghadapi dua musuh masih bisa ditoleransi. Kyuhyun dan Minho adalah yang terbaik dalam bela diri dan penggunaan senjata. Untuk saat ini lawan mereka masih bisa dikatakan standar.
Satu pukulan telak di rahang mengakhiri perkelahian pertama mereka. Kyuhyun melucuti semua senjata dan kembali berlari. Minho sudah lebih dulu menuruni anak tangga.
Terdengar lebih banyak langkah kaki mengejar, dan untuk Kyuhyun dan Minho itu artinya adalah lari lebih cepat atau tertangkap dan mati. Hanya saja jika harus ada yang menghadang dari bawah...
Benar saja. Dua orang muncul dari pintu keluar. Kyuhyun dengan cepat menendang pintu dan membuat salah satunya pingsan karena terjepit. Minho mengurus sisanya. Namun karena melupakan prosedur penting setelah melumpuhkan lawan, mereka tidak tahu bahwa sudah terjadi kesalahan.
Dor!
Salah seorang yang mereka lumpuhkan di depan pintu tadi masih cukup sadar untuk melepaskan sebuah timah panas yang kini bersarang di pundak Kyuhyun.
"Hyung!" Minho berusaha membawa tubuh yang hampir terkulai lemas itu. Gerakannya mulai frustasi karena Kyuhyun terasa semakin berat di tangannya. Pria itu pasti sudah tidak kuat karena mengeluarkan banyak darah.
"Minho-ya. Choi Minho!" Kyuhyun menghentikan apapun yang tengah Minho lakukan terhadapnya. "Dengar! Kau harus pergi. Bawa barang bukti ini kepada kantor pusat dan jelaskan semua yang terjadi. Mereka akan mengirim lebih banyak orang kesini dengan cepat."
"H-hyung—"
"Jangan pedulikan aku. Kau harus pergi atau kita berdua akan mati sia-sia di sini."
Minho berada dalam dilema besar untuk saat ini. Ia harus memutuskan dan memilih dalam beberapa detik sebelum semua orang sampai pada pintu keluar dan menemukan mereka.
"CEPAT PERGI!"
Kemudian dengan berat hati dan hampir menangis pemuda itu terpaksa menuruti perkataan Kyuhyun. Minho berlari kencang setelah beberapa kali harus menoleh karena tidak ingin meninggalkan pimpinannya.
Beruntung ia sudah tidak terlihat ketika semua orang dengan pakaian hitam yang lain menemukan Kyuhyun. Tergeletak hampir tak sadarrkan diri dengan darah membanjirinya.
Dalam sisa-sisa kesadaran, Kyuhyun mendengar salah satu dari mereka untuk memeriksa apakah ada orang lain selain dirinya. Beberapa melewatinya dan berlari ke arah Minho pergi. Ia berdoa semoga Minho sudah jauh meninggalkan gedung ini dan bergabung dengan yang lain.
Dan mungkin ini adalah akhir dari hidupnya. Seseorang yang memberi perintah tadi mengeluarkan sebuah pistol dengan peredam dan mengarahkan padanya. Ia sedikit menyunggingkan senyum. Sama sekali tak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir hari ini. Namun Kyuhyun merasa puas karena ia berhasil melakukan penemuan yang luar biasa. Jika memang ia harus mati saat ini, Kyuhyun tidak akan menyesal.
Semuanya bagai dalam gerak lambat saat pria berpakaian hitam di hadapannya mengayunkan lengan untuk mengarahkan senjata tepat di kepala Kyuhyun. Dan kemudian...
Bunyi tembakan beruntun. Dan Kyuhyun merasa aneh karena masih bisa mendengarnya dengan sangat baik. Bukankah dia seharusnya sudah mati dan tidak bisa mendengar apa-apa? Suara tembakan tersebut belum berhenti, dan kini disertai dengan teriakan-teriakan kesakitan.
Beberapa detik berlalu, ia memutuskan untuk membuka sedikit matanya dengan susah payah.
Apa yang terjadi? Kenapa semua orang tergeletak?
Kemudian seperti tidak memberikannya sedikit waktu untuk mengetahui bagaimana hal tadi bisa terjadi, ia menatap mata yang sepertinya pernah ia lihat. Kemudian tidak berlangsung lama karena kesadarannya sudah benar-benar hilang setelah satu pukulan di pangkal leher.
oOo
Kyuhyun merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Tenggorokan dan mulutnya benar-benar kering. Ia seperti tidak pernah minum berhari-hari. Kedua kelopak matanya pun terasa sangat berat. Hanya sedikit cahaya yang masuk, dan itupun baginya sangat menyilaukan.
"Hyungnim..."
"Kyuhyun Hyungnim.."
Dimana aku? Apa yang terjadi?
Setelah menarik napas dalam-dalam, ia mencoba membuka kembali matanya. Cahaya itu semakin terang dan membuat bola mata sekaligus kepalanya berdenyut hebat. Namun ia harus bangun. Menyadari bahwa dirinya masih hidup (karena ia tak mungkin merasakan sakit jika sudah mati), Kyuhyun akhirnya berhasil memfokuskan penglihatannya.
Minho, Henry, Jonghyun. Kemudian komisaris Lee juga ada di sana. Ia tak mengenal tiga orang yang bersama pria tersebut.
"Hyung—Kapten!" Minho adalah yang pertama memberikan senyuman lega setelah melihat Kyuhyun bangun dari tidur panjang. "Bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang sakit?"
Kyuhyun kini berusaha menggerakkan bibirnya. "Air..."
Sangat pelan, namun Minho mendengar semuanya. Ia menerima segelas air dari tangan Henry. "Kau bisa menggunakan sedotan, kan?" setelah mendapat anggukan sebagai jawaban, Kyuhyun minum setengah gelas air tanpa suara. Ia benar-benar penasaran berapa lama dirinya tidak sadarkan diri.
Komisaris Besar Lee mendekati ranjang dimana Kyuhyun terbaring. Pria itu menepuk pelan pundaknya yang tidak diperban. "Kau sudah bekerja keras, Kapten Cho. Penemuanmu kali ini benar-benar besar. Kepolisian seperti kejatuhan durian runtuh."
"Apa yang terjadi?" Kyuhyun bertanya dengan suara parau.
"Kami menyita semuanya tentu saja. Apa lagi? Sepuluh ton kokain bukan main-main. Kau benar-benar menemukan harta karun." Komisaris Lee tersenyum. Terlihat benar-benar bangga pada salah satu perwiranya.
"Lalu? Apa yang akan kita lakukan pada barang-barang itu?"
"Pertama kau harus istirahat untuk pemulihanmu. Aku sudah menyerahkan semua pada departemen obat-obatan terlarang, mereka akan mengurus sisanya. Aku akan memberi liburan pada tim-mu. Jadi gunakan dengan sebaik-baiknya."
Pemberian libur itu seharusnya terdengar menyenangkan, namun entah mengapa Kyuhyun merasa seperti sebuah perintah. Tapi untuk saat ini ia sama sekali tidak ingin berpikir panjang. Benar apa yang dikatakan Komisaris Besar nya itu, dia harus istirahat dan pulih. Kyuhyun merasa seperti bangkit dari kematian.
"Hyung, apa yang terjadi? Aku benar-benar sudah putus asa saat mendengar suara tembakan tepat setelah aku meninggalkanmu. Tapi kau justru ditemukan di dalam hutan sekitar gedung." Minho segera melancarkan pertanyaan yang sudah membuatnya tidak tidur pulas berhari-hari. Segera setelah Komisaris Besar dan ketiga ajudannya pergi dari ruangan.
Kyuhyun menggeleng. "Aku pun sudah menyerah saat itu. Kupikir hidupku sudah selesai. Tapi orang itu tiba-tiba saja muncul."
Minho, Henry, dan Jonghyun saling menatap bingung.
"'Orang itu'?" Henry mengulangnya dengan hati-hati.
"Rasanya seperti aku sudah berhalusinasi karena terluka saat itu. Aku seperti melihat kembali pencuri tas yang kuceritakan tempo hari. Tapi..." Kyuhyun merasa sangat bingung karena semuanya terjadi begitu cepat.
"Kapten, jangan pikirkan apa-apa dulu untuk saat ini. Kau harus segera sembuh, dan kita akan menyusun kembali segala hal yang mungkin sudah kita lewatkan. Walaupun kasus ini sudah ditangani oleh departemen yang berkepentingan, aku dan yang lain akan tetap berusaha mengorek informasi perkembangan di sana. Kami tahu kau tidak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja, kan?"
Kyuhyun terkekeh mendengar ucapan anak buahnya. "Kau benar-benar sudah memiliki sebagian kepalaku, Choi Minho. Lakukan dengan benar. Jangan sampai terlihat."
Minho tersenyum, "Selama tidak ada yang mengajakku berdebat, kami akan melakukannya dengan tenang tanpa suara."
oOo
Kyuhyun keluar dari rumah sakit setelah menjalani perawatan selama satu minggu, dan saat ini ia sudah bersandar di sofa favoritnya di rumah. Kapan-kapan ia harus memberi hadiah pada Minho karena sudah menjaga apartemennya tetap bersih. Kyuhyun mempercayai Minho seperti adiknya sendiri. Itu sebabnya ia tidak cemas dengan hal-hal kecil seperti misalnya mencarikan housekeeper ketika ia berada di rumah sakit.
Ia menggunakan waktunya saat ini untuk memeriksa tas ransel yang pernah dicuri. Karena mempersiapkan segala hal untuk operasi penyergapan waktu itu, Kyuhyun sama sekali melupakan kejadian pencurian kecil tersebut dan tas nya yang sudah kembali.
Yang pertama ia lihat adalah isi dompetnya. Kyuhyun tertegun saat mendapati semua masih ada di tempatnya. Tiga lembar uang lima puluh ribu won, dua kartu kredit, tanda pengenal, SIM, beberapa kartu nama, serta sebuah foto. Sejujurnya ia agak malu jika siapapun melihat satu benda itu masih ada di dalam dompetnya. Karena itu Kyuhyun segera mengeluarkan dan melemparnya ke atas meja.
Sisanya tidak ada yang mencurigakan. Bahkan boneka kelinci kecil berwarna merah muda masih ada di dalam sana.
Hmm... Kyuhyun tidak akan suka menceritakan bagaimana ada benda seperti itu di dalam tas nya.
Tak lama poselnya berdenting. Sebuah pesan muncul.
From : Minho
Periksa emailmu. Aku mendapatkan sedikit rekaman orang yang sudah menolongmu waktu itu. Aku juga sudah membandingkannya dengan rekaman salah satu blackbox mobil yang terparkir di tempat saat tasmu dicuri.
Kau harus mentraktirku besok.
Tidak menunggu lama, Kyuhyun langsung menuju meja kerjanya dan membuka notebook. Email yang Minho kirimkan masuk ke dalam pesan spamming. Cara ini merupakan ide Henry untuk mengamankan jaringan pribadi dari reviewer kepolisian. Tim cyber selalu melakukan tindakan konyol untuk mendapatkan perhatian Komisaris Besar. Termasuk mengganggu privasi orang-orang.
Kyuhyun langsung mendownload video dan kemudian menghapus history pengiriman. Setidaknya dengan cara ini aktivitas pengiriman pada email yang mereka lakukan tidak akan terlihat sibuk dan menarik banyak perhatian.
Kyuhyun melakukan double streaming untuk video yang diunggahnya. Kemudian memperhatikan dengan seksama. Salah satu kemampuan tambahan yang harus dimiliki setiap tim penyidik—memeriksa banyak video dalam satu waktu untuk mendapatkan perbedaan ataupun kesamaan yang mungkin saja terlewat.
Kemudian hanya satu kesimpulan yang Kyuhyun dapatkan setelah itu.
Ya Tuhan... siapa sebenarnya orang ini?
oOo
"Kim Ryeowook?" wajah seorang wanita paruh baya di hadapan Kyuhyun saat ini menunjukkan ketidakyakinan. Bukan... lebih kepada ekspresi bingung. "Kami tidak memiliki siswa dengan nama itu. Baik tingkat satu, dua ataupun tiga."
"Apa Anda yakin?" Kyuhyun sama bingungnya dengan wanita di depannya. Ditambah dengan kenyataan bahwa dia semakin frustasi karena sekali lagi menemui jalan buntu untuk satu-satunya petunjuk yang dimiliki.
Mencari seseorang yang baru dua kali ditemui dan tidak bisa melihat wajahnya adalah hal yang mustahil. Kyuhyun ingat betapa bersemangat dirinya ketika menarik kesimpulan dari video yang dikirim Minho. Delapan puluh lima persen orang yang ia lihat di dalam rekaman adalah sosok yang sama. Dan untuk memastikannya, Kyuhyun harus mulai menelusuri semuanya. Hal itu adalah satu-satunya cara agar bisa memiliki malam yang tenang untuk tidur.
Namun sekarang jalannya kembali terhambat. Kyuhyun mencoba menghubungi nomor telepon yang telah mengembalikan tasnya ke kantor polisi. Tapi yang ia dapat hanya mesin penjawab, menyatakan bahwa nomor tersebut tidak terdaftar. Kemudian petunjuk yang tersisa adalah data nama sekolah, karena seperti yang dikatakan Minho, tasnya dikembalikan oleh seorang siswa menengah atas bernama Kim Ryeowook.
Kyuhyun masih mencoba mengais kemungkinan yang ada dari kepala sekolah SMA Paran karena terlihat wanita itu juga masih tengah mengingat-ingat sesuatu sambil pandangannya tidak lepas dari layar komputer. "Bagaimana?"
Wanita itu kembali menggeleng. "Aku sangat yakin bahwa tidak ada kesalahan pada pencarian data, tapi sepertinya nama itu memang tidak asing."
"Benarkah? Kepala Sekolah Park, anda harus membantuku, ini sangat berhubungan dengan kasus yang sedang kami selidiki di kepolisian." Kyuhyun mulai mengeluarkan kemampuannya bernegosiasi. Ia bisa melihat sang kepala sekolah mengerutkan kening.
"Kasus? Ya Tuhan, Tuan Cho Kyuhyun, sekolah kami sudah bertahun-tahun terkenal dengan kredibilitas yang mengagumkan, menghasilkan lulusan-lulusan yang handal tanpa cela. Tapi apa yang Anda katakan tadi? Kasus? Aku sangat yakin jika ini berhubungan dengan kepolisian, tidak akan terdengar baik."
"A-hm... tidak... tidak Nyonya Park. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Beberapa waktu yang lalu ada kejadian seorang perwira yang tertimpa musibah perampokan. Ada beberapa berkas yang hilang. Tapi setelah melakukan pencarian kesana kemari, ternyata ada seorang siswa yang mengembalikan barang-barang tersebut tanpa satupun yang kurang. Dia memberikan identitas dengan nama tersebut dan mengaku merupakan siswa sekolah ini. Kami hanya ingin memastikan dimana tepatnya dia menemukan barang-barang yang sudah dicuri tersebut, dan tentu saja memberikan sedikit penghargaan karena sudah sangat peduli. Sangat jarang bukan kita menemukan anak muda yang seperti itu jaman sekarang?" Kyuhyun benar-benar memutar otak untuk mengarang cerita. Ya... walaupun tidak sepenuhnya bohong karena memang seperti itu kejadiannya bermula.
Kepala sekolah Park terlihat menimang perkataan Kyuhyun. Sebagai salah satu sekolah terbaik di kota itu, sudah seharusnya sebisa mungkin menolak setiap isu-isu yang dapat memperburuk citra sekolah di mata masyarakat. Dan hal itulah yang tengah dilakukan wanita di hadapan Kyuhyun. Tapi walau demikian adanya, Kyuhyun sangat yakin seorang elit seperti Kepala Sekolah Park adalah panutan. Dia tidak akan menolah jika aparat penegak hukum meminta kerjasamanya, terlebih jika membawa nama Sekolah Paran.
"Kuharap kau tidak mempermainkan kami. Aku akan mencoba memeriksa data alumni siswa-siswi beberapa tahun ke belakang. Tapi ini akan memerlukan waktu karena kami harus mencarinya secara manual. Itu artinya kau harus ikut membantu."
Kemudian senyum lebar segera terukir di bibir Kyuhyun. "Tentu saja Nyonya Park. 'Mencari' adalah salah satu keahlian kami."
[...]
Kyuyhun telah melewati arsip-arsip alumni dari tahun dua ribu dua belas sampai dua ribu lima. Tidak begitu sulit karena semua tersusun dengan sangat rapi dan berdasarkan abjad. Setiap kali menuju rak arsip untuk tahun yang berbeda, mereka langsung berjalan di barisan huruf 'R'. Dan setelah setengah jam berburu, harapan itu kembali muncul.
"Kim Ryeowook, Tuan Cho. Ternyata dia memang benar-benar siswa sekolah ini, kecuali untuk kenyataan bahwa anak ini sudah tidak lagi bersekolah di sini."
"Jadi dia lulus tahun dua ribu lima?"
"Seperti yang kau baca sendiri."
Kyuhyun diam sambil menganalisa isi data yang ada di tangannya. Kim Ryeowook. Lahir dua puluh satu Juni tahun sembilan belas delapan tujuh. Tahun masuk delapan belas Juni dua ribu dua dan lulus tiga agustus dua ribu lima. "Tidak ada foto?"
Kepala sekolah Park menatap Kyuhyun dari balik kacamata tebalnya. Jelas jika pertanyaan dengan nada 'menuntut' adalah sesuatu yang tidak ia suka. Namun karena karisma adalah hal terpenting untuk wanita sepertinya, dia masih bisa menahan diri. "Tidak, Tuan Cho. Arsip yang ada di tanganmu adalah buatan siswa sendiri. Tradisi dari tahun ke tahun. Mungkin semacam 'buku-tahunan'—walaupun tidak berbentuk buku seperti sekarang. Data yang diisi berasal dari siswa sendiri. Jadi mereka berhak mengisi ataupun membiarkannya beberapa tetap kosong."
Kyuhyun mengangguk, "Sepertinya bukan salah satu siswa populer dan cenderung tertutup." Simpulnya.
Wanita di sebelahnya hanya bereaksi tak acuh mendengar komentar yang ditujukan kepada salah satu mantan siswanya.
"Ada alamat terakhir dia tinggal. Kurasa ini satu-satunya petunjuk." Kyuhyun tidak bicara pada Kepala Sekolah, tapi pada dirinya sendiri. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dan memfoto berkas yang ada di tangannya. Hanya agar wanita yang bersamanya yakin jika apa yang tengah ia lakukan hanya benar-benar sekedar mencari seorang anak yang sudah membantunya.
Ah... mungkin dia bukan seorang 'anak' lagi sekarang.
oOo
"Apa kau sudah tidak apa-apa minum banyak begini?" Minho terlihat khawatir saat melihat Kyuhyun sudah membuka kaleng bir keempatnya. Dan yang lebih membuatnya terus mengerutkan dahi adalah mereka minum bir, bukan anggur.
"Tidak ada yang melarangku minum. Lagipula aku sudah berhenti mengkonsumsi obat-obatan dari rumah sakit. Hanya membuatku banyak tidur."
Minho menggeleng tak percaya. Ia tahu pimpinanannya yang satu ini tidak akan menuruti apapun yang menurutnya tidak perlu dilakukan. Cho Kyuhyun akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan. "Jadi apa yang kau lakukan selama 'liburan'?"
Mendengar pertanyaan tersebut ekspresi wajah Kyuhyun langsung berubah drastis. Seperti lelah, frustasi, atau semacamnya. Ia terlihat menghela napa panjang sebelum menjawab, "Aku berjalan kesana kemari untuk menemukan orang itu. Kau tahu? Dia bagaikan hilang ditelan bumi. Kepolisian bahkan tidak memiliki data identitas 'Kim Ryeowook' dengan ciri-ciri yang kuberikan beserta alamat sekolah dan tempat tinggalnya yang dulu."
"Kau masih mencarinya? Kupikir persoalan pria misterius ini tidak terlalu mengganggumu." Ucap Minho sambil menyesap minumannya. "Aneh sekali, tidak seperti Cho Kyuhyun."
"Aku juga tidak mengerti kenapa. Hanya saja... aku harus bertemu dengannya. Dan satu-satunya jalan untukku adalah lewat seseorang bernama Ryeowook ini."
"Hyung," Minho mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan wajah Kyuhyun. Ia bicara dengan berbisik. "Pria yang sedang kau cari ini bisa saja seorang kurir gelap yang bekerja secara ilegal. Kita semua tahu betapa berbahayanya dunia seperti itu. Aku tidak bicara seolah dia adalah tokoh pahlawan misterius seperti yang ada di film-film. Tapi siapa yang tahu jika memang ada saja orang yang memiliki kehidupan seperti itu."
"Jika memang berbahaya, bukankah itu memang tempat bermain kita?"
Kini ganti Minho yang menghela napas. "Dia hanya seseorang yang mencuri darimu, Hyung."
"Tapi dia adalah seseorang yang sudah menyelamatkan hidupku."
oOo
"Dimana tata krama mu, anak muda?"
Kyuhyun memilih berjalan menyusuri pinggiran jalan-jalan kota yang tidak terlalu ramai. Pergi ke tempat Minho kadang adalah keputusan bagus. Walaupun sangat jarang pemuda itu memberikan solusi di setiap masalah, namun terkadang Minho adalah sebuah pancingan untuk membuatnya memikirkan jalan keluar.
Perjalanannya pulang begitu tenang sampai ia melihat beberapa orang yang salah satunya tengah berkata dengan nada tinggi pada yang lain. Hmm... bukan pemandangan yang aneh. Malam ini sepertinya semua orang mabuk dan tidak ingin disentuh walaupun secara tidak sengaja.
"Ayo minta maaf!" Pria paruh baya itu kembali berteriak pada seorang pemuda yang sepertinya bahkan tidak sedikitpun memiliki niat untuk menuruti perkataannya.
"Kau mabuk dan menabrakku. Paman, yang seharusnya minta maaf di sini adalah kau sendiri."
"Apa kau bilang?! Benar-benar ingin dihajar. Yah! Berapa umurmu?" Pria itu masih berteriak. Kalimatnya agak kurang jelas karena pengaruh alkohol. Dua pria yang bersamanya pun tidak mau kalah memasang wajah garang.
"Untuk apa tanya umur segala? Kau akan sakit hati nanti—"
Kemudian tanpa aba-aba sebuah pukulan telak mendarat di wajah pemuda tersebut. Tubuhnya yang tidak terlalu besar langsung terjatuh ke jalan. Kyuhyun hampir saja berteriak khas seorang petugas polisi untuk melerai jika saja ia tidak menyadari bahwa lencana dan senjatanya tidak ada. Ia sedang tidak bertugas. Membawa perlengkapan semacam itu bisa saja membuatnya terkena sanksi indisipliner.
Awalnya Kyuhyun hanya ingin memperhatikan saja, namun karena sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa tiga pria mabuk itu akan berhenti, dan pemuda malang di sana sudah mulai memuntahkan cairan merah dari mulut akibat beberapa pukulan, akhirnya tidak ada cara lain.
"Tunggu... berhenti... Tuan-tuan, kumohon berhenti!" Kyuhyun berteriak dan menghampiri tempat kejadian. Ia meringis saat melirik kondisi korban penganiayaan di sana.
"Siapa lagi ini? Siapa kau?! Ingin kami pukul juga?"
"A-ah... tidak... tidak... begini Tuan-tuan, aku tadi sempat melihat mobil patroli di ujung jalan ini. Mungkin dalam beberapa menit mobil itu akan lewat sini. Kalian semua tidak ingin bukan bermalam di penjara karena keributan kecil ini? Jadi... jadi aku hanya mengingatkan. Sudahi saja. Aku akan mengurus orang ini."
"Dia sudah kurang ajar pada kami. Jadi harus diberi pelajaran."
Sesaat Kyuhyun harus mencegah ketiga orang itu untuk memukul lagi. "Tuan-tuan.. Dia..." Kyuhyun terlihat memutar otak untuk kalimat berikutnya. "Dia... sebenarnya dia pacarku!"
"Eeehh? Apa kau bilang?" Salah satu dari pria paruh baya terlihat terkejut dan tidak percaya. "Kalian... apa?"
"Bukan.. bukan... ini tidak seperti yang kalian lihat. Dia ini sebenarnya perempuan." Kyuhyun beralih pada pemuda tadi yang masih terduduk di lantai aspal. Kemudian menangkup wajah orang itu seolah untuk memperlihatkan lebih jelas kepada ketiga orang mabuk di depannya. "Lihat baik-baik, bagaimana laki-laki bisa memiliki wajah sehalus ini. Dia hanya punya kebiasaan memakai pakaian pria. Lihatlah, paman. Dia perempuan."
Kyuhyun berusaha menggigit bibir bawahnya gugup saat orang-orang mabuk tersebut berusaha memperhatikan wajah 'pacar'-nya lebih dekat. Apa bisa ketahuan? Tanyanya dalam hati.
"Benar juga."
Kemudian jantung Kyuhyun seperti akhirnya bisa kembali memompa udara. Kebohongannya ternyata bisa mengelabui mereka.
"Aku juga hanya melihat laki-laki dengan wajah halus di televisi"
"Eeeyy... itu karena efek cahaya dan gambar yang di-edit."
Ketika melihat ketiga orang tersebut justru sekarang saling berdebat, Kyuhyun akhirnya dapat melihat jika tipuannya berhasil. "Hmm... Paman... apa kami sudah boleh pergi?"
Salah satu dari pria mabuk tadi akhirnya mendekat dan membantu 'kekasih' Kyuhyun untuk berdiri. "Ya ampun, Nona... kami hampir saja membunuhmu. Jangan seperti ini lagi lain kali. Lihat dirimu—" Pria itu tiba-tiba memperhatikan bagian dada pemuda yang hampir sekarat tadi.
Beruntung Kyuhyun langsung menyadari . Ia cepat-cepat membawa lelaki itu ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan bahwa pemuda itu terbatuk di dadanya. "Ya Tuhan, sayang, lain kali jangan seperti ini lagi. Apa kau tidak tahu kalau aku sangat cemas mencarimu kemana-mana tadi? Huh?"
Dengan begitu mereka berdua selamat.
oOo
"Kau baik-baik saja?" Kyuhyun masih mengikuti pemuda yang baru saja selamat dari para tukang mabuk tadi menyusuri gang kecil sebuah distrik. Seorang Cho Kyuhyun yang normal mungkin hanya akan pulang begitu saja dan tidak peduli. Toh tugasnya sudah selesai dengan baik walau tanpa lencana dan revolver. Namun Cho Kyuhyun saat ini seperti terhipnotis ketika kedua mata mereka bertemu. Hanya lima puluh persen, tapi Kyuhyun menggunakannya untuk meyakini jika ia sudah menemukan seseorang yang beberapa hari ini tengah ia cari.
Gila memang. Kyuhyun tidak pernah percaya akan takdir, dan ia hanya beberapa kali bicara dengan Tuhan di gereja. Untuk alasan yang sama sekali tidak ingin dia ungkit. Namun kali ini sepertinya frustasi sudah membawanya untuk berpikir diluar logika.
Jika seorang yang ia cari hanya sebatas pria yang sudah mencuri tasnya di suatu pagi, mungkin Kyuhyun akan langsung membawanya ke markas dan membuat pria itu bermalam di balik tahanan. Namun, lebih dari itu, si pencuri adalah malaikat penyelamatnya. Kyuhyun tidak tahu sikap rasional seperti apa yang harus ia perlihatkan untuk situasi seperti ini.
"Kau muntah darah tadi. Yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit?"
Pemuda itu berhenti. Namun tidak berbalik. "Pergilah. Aku baik-baik saja." Kemudian tanpa disangka dia lari sekuat tenaga dan membuat Kyuhyun terpaku.
Akan tetapi sesungguhnya jika Tuhan sudah akan mempertemukanmu dengan seseorang, tidak ada satupun yang akan bisa menghentikannya. Termasuk dirimu sendiri.
Pemuda itu terjatuh karena pukulan dan tendangan tadi pasti benar-benar mengenai organ dalam tubuhnya. Kyuhyun berlari menghampiri dan membantunya berdiri. "Ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus dibawa ke rumah sa—" dan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, pemuda tersebut sudah jatuh tak sadarkan diri.
oOo
"Aku menyuruhmu untuk tinggal lebih lama di rumah sakit. Kenapa tidak menurut, sih?" Kyuhyun terlihat gusar karena sedari tadi kata-katanya seperti sama sekali tidak diindahkan. Pemuda di hadapannya tetap saja berusaha mengganti pakaian rumah sakit dengan miliknya sendiri walaupun tampak sangat kesulitan.
Pemuda itu memiliki trauma akibat pukulan, tulang rusuknya patah, dan beruntung reaksi cepat tubuhnya yang langsung mengeluarkan darah hingga memungkinkan tidak ada pendarahan dalam yang dapat membahayakan di kemudian hari. Dokter hanya memberikannya obat-obatan yang salah satunya mungkin dapat meredakan rasa sakit. Kyuhyun sempat panik ketika mereka tiba di rumah sakit dan pemuda di punggungnya langsung terbangun memberikan reaksi kesulitan bernapas. Setelah petugas menyuntikkan obat bius, akhirnya pemuda itu bisa tenang. Dia tidur seperti bayi.
Tidur seperti bayi memang bukan berarti saat terbangun seseorang akan sama menggemaskannya seperti malaikat kecil itu. Kyuhyun harus beberapa kali mengatur napasnya menahan kesal. "Yah!"
"Aku yang akan membayar semua biaya rumah sakit. Jadi biarkan aku pergi." Pemuda itu menjawab lemah.
"Tidak. Bahkan dokter bilang bisa saja terjadi komplikasi. Kau harus tetap di sini dan menjalani beberapa pemeriksaan lagi." Kyuhyun tetap bersikukuh.
"Jangan pedulikan aku." Akhirnya pemuda tersebut melangkah untuk pergi.
Tapi tentu saja Kyuhyun lebih cepat. Ia menarik lengan pemuda itu dan mendorongnya kembali ke atas ranjang rumah sakit. Tangan besarnya mencengkeram kedua bahu milik pemuda itu.
Kemudian berbisik...
"Kim Ryowook, jika kau tidak menuruti perkataanku, aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang juga, kemudian menahanmu atas tuduhan pencurian. Dan karena kau mencuri dari seorang polisi, kupastikan hukumannya akan lebih berat..."
