Disclaimer : again, i own nothing, lucky for JK Rowling
WARNING: ada beberapa yang aku edit/ubah di chapter 1 & 2, mengingatkan untuk kalian yang sudah baca. Terima Kasih.
A/N : lagi, ada banyak yang aku copas dari adegan saat Harry pertama kali masuk Hogwarts, kalau kalian malas baca okei, tekan saja tombol back, well? Terima kasih banyak untuk yang review! Keep Reviewing!
I just want u to Read and Review plz!
CHAPTER 2 - Selamat Datang di Hogwarts
Albus duduk di depan Lily dan Rose. Dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, ia hanya memandangi padang rumput hijau luas yang mulai tak berwarna hijau lagi dari jendela kompartemen. Lily sedang asyik membaca buku, sesekali dia tertawa kecil, mengerutkan dahinya berpikir, menaikkan kedua alisnya bingung. Albus tak tahu buku apa yang dia baca, menurutnya tak ada buku yang sampai semenarik itu kecuali seputar olahraga terutama quidditch. Albus ingin sekali masuk ke tim quidditch asramanya nanti. Mendapatkan sapu terbang terbaru dan tercepat seperti yang dibelikan ayahnya untuk Rose (Mum sangat marah, "masuk tim saja belum, kau sudah membelikannya!") yang bertekad untuk ikut seleksi tim asrama Slytherin tahun ini. Albus memandang Rose yang berada di sebelah Lily, kakaknya itu juga berada dalam tingkat kebosanan yang sama tinggi dengannya, beberapa kali dia mengetukkan tongkatnya, berpikir tentang apa yang akan dilakukannya setiba di Hogwarts nanti mungkin, atau siapa yang pertama yang akan dia kerjai. Albus berharap pikiran jahil Rose tidak tertuju padanya selama tahun pertamanya ini. Kadang Albus berpikir, sangat menyebalkan punya kakak cerdik dan licik seperti Rose, tapi kalau dipikir-pikir lagi Rose menyenangkan untuk di ajak kompromi beda dengan Lily yang sangat sulit, kalau dibujuk beberapa kali biasanya dia baru mau. Berpikir tentang kedua kakak kembarnya, membuat otak Albus tertuju pada Hogwarts. Albus mulai memikirkan di asrama mana dia akan di tempatkan, dengan siapa saja dia akan bertemu, berkenalan, teman baru, seperti apa profesor-profesor di sana. Menurut Lily mereka baik-baik, beberapa dari mereka menyenangkan, tapi Albus punya perasaan kalau definisi baik dan menyenangkan menurut Lily berbeda dengannya. Sementara menurut Rose, biasa saja, guru Sejarah Sihir katanya sangat membosankan tapi jangan khawatir kau bisa tidur aman selama pelajaran itu, kata Rose. Albus berdoa semoga saja tak ada guru yang seperti Mrs. Dott, wanita gemuk pendek tanpa leher dengan wajah yang selalu marah, guru bahasa Inggris-nya Albus saat di elementary school, yang sekarang syukurlah dia tak akan bertemu lagi.
Albus mulai merasa tak sabar untuk segera sampai di sekolah sihir itu. Dari surat-surat yang ditulis Lily dan Rose, Hogwarts sangat menakjubkan. Ratusan lilin yang meneranginya di malam hari, langit-langit atapnya yang disihir seperti langit sungguhan, bangunannya yang megah, Albus penasaran dengan semua itu. Kata ayahnya salah satu hantu di Hogwarts ada yang hampir putus kepalanya, Nick si Kepala-Nyaris-Putus, tapi tidak menakutkan malahan berteman baik dengan ayahnya. Albus baru tahu dia sudah lama terjerumus dalam pikirannya hingga tak menyadari Lily telah menghabiskan bukunya atau mungkin sudah bosan dan menutupnya sambil menghela nafas.
"Apa kalian lihat Mum tadi?" katanya.
Rose dan Albus mengangguk pelan mengerti maksudnya.
"Well, di rumah tak ada siapa-siapa lagi, hanya dia dan Dad, Teddy jarang menginap di sana, dia sudah punya flat sendiri, Mum pasti sedih." Lanjut Rose.
"Yeah, mungkin dia akan lebih menyibukan diri dengan pekerjaannya." Ucap Lily pelan.
"Aku jadi merindukan rumah." Ucap Albus sama pelannya.
"Anak mummy." Goda Rose dengan seringaiannya membuat Albus menyesal mengucapkan kalimat tadi.
Pintu kompartemen bergeser, menampakkan seorang gadis dengan kacamata kotak dan rambut gelap dikepang, gadis yang Albus lihat tadi, yang ibunya bertanya tentang peron 9 ¾ di stasiun King Cross.
Mata gadis itu memandangi penghuni kompartemen satu persatu,
"Oh-maaf, aku salah masuk kompartemen." Kata gadis itu pelan, kemudian menutup pintu kompartemen lagi.
Ketiga Potter hanya menatap pintu kompartemen yang sudah tertutup lagi,
"Bagaimana bisa dia salah masuk? Apa dia tidak menengok ke jendela di pintu itu dulu?" Rose yang pertama bicara.
Lily menaikkan kedua pundaknya.
Terdengar bunyi berkelontangan di lorong, lalu seorang wanita berlesung pipi tersenyum membuka pintu kompartemen itu lagi dan berkata,
"Mau beli sesuatu dari troli, anak-anak?"
Albus tersenyum sambil berjalan keluar menuju troli itu, diikuti Lily dan Rose.
Banyak yang mereka beli terutama Rose, ada Kacang Segala Rasa Bertie Bott, Permen Karet Tiup Paling Hebat Drooble, Coklat Kodok, Tongkat Likor, dan beberapa cemilan dengan nama aneh lainnya.
"Coba ini!" Rose melemparkan kacang abu-abu padanya yang refleks ia tangkap.
Albus memasukkan kacang itu ke dalam mulutnya, menguyahnya.
"Bleaargh." Albus segera menyabet kantong kosong bekas entahlah. Mungkin hampir semua sarapannya keluar secara paksa. Benar-benar menjijikkan. Kacang itu punya rasa yang sangat menjijikkan, campuran hati ayam yang belum matang dengan taoge dan sesuatu berlendir di dalamnya atau apalah, Albus belum pernah merasakannya.
Rose tertawa terbahak-bahak, sampai Lily pun ikut tertawa juga, kedua wajah mereka memerah. Sialan kakaknya itu.
"Sorry Al, beneran aku tak tahu apa rasanya kacang itu, aku tak tahu kalau rasanya sampai seperti itu." Ucap Rose di sela tawanya.
"Kau harus benar-benar siap jika ingin makan kacang Bertie Bott." Lanjut Lily setelah dia menghentikan tawanya sambil masih tersenyum lucu.
Albus menatap tajam mereka berdua, mulutnya terbuka, dia tak ingin mengecap lagi rasa kacang itu yang masih tersisa di mulutnya.
"Apa kau mau coba ini, Lily?" Tanya Rose manis sambil menyodorkan kacang seperti yang ia berikan pada Albus.
"Sorry saudariku, aku tidak bodoh untuk masuk jebakanmu." Kata Lily sama manisnya dengan kembarannya sebelum dia mengambil coklat Kodok di sampingnya.
"Oke, terserah." Rose meletakkan kacang itu kembali ke tempatnya lalu menimbang-nimbang dia akan memakan apa lagi. Dia putuskan untuk mengambil permen warna-warni yang terlihat menggoda lalu memakannya sebelum Lily berteriak, "jangan makan itu!" Terlambat, Rose sudah menutup mulutnya, dan BOOM!
Suara dentuman keras menggema di ruang kompartemen, Albus takut kalau kompartemen sekitar juga mendengar suara itu dan panik, padahal hanya suara permen pecah di mulut Rose. Lily tertawa terbahak lagi, begitu juga Albus yang langsung lupa dengan rasa kacang menjijikan tadi. Rose yang tadi kaget ikut tertawa bersama mereka, Lily sampai memegangi perutnya.
Begitulah seterusnya selama perjalanan kereta tua itu, ketiganya tertawa, mengobrol, mencoba sisa makanan-makanan aneh itu atau main lempar-lemparan dengan makanan itu sampai Albus memandang keluar jendela dan menyadari kereta pelan-pelan semakin melambat.
"Oh-ayo cepat ganti baju." Suruh Lily sebelum dia dan Rose keluar kompartemen untuk mengganti baju mereka memberi Albus privasi untuk berganti di dalam.
Terdengar pengumuman yang dikumandangkan ke seluruh kereta. "Kita akan tiba di Hogwarts lima menit lagi. Silahkan tinggalkan barang-barang kalian di kereta. Barang-barang tersebut akan dibawa ke sekolah secara terpisah."
Albus membuntuti kedua kakaknya keluar kompartemen dan bergabung dengan murid lainnya yang sudah berkumpul di lorong kereta. Hogwarts Express semakin melambat dan akhirnya berhenti. Para murid berdesakan ke pintu dan keluar ke peron kecil yang gelap. Hawa malam terasa menusuk kulit Albus melewati jubah hitam dan seragamnya, membuat dia bergidik. Kemudian ia mendengar suara yang beberapa kali didengarnya, yang tak asing lagi -Hagrid, setengah raksasa yang baik hati- muncul dengan sebuah lampu yang bergoyang-goyang, "Kelas satu ke sini! Ikuti aku, kelas satu!" Anak-anak kelas satu mengikutinya dengan antusias meskipun beberapa kali ada yang terpeleset, menyusuri jalan sempit dan sedikit curam. "Hati-hati melangkah! Pelan-pelan!" serunya lagi. Memang harus hati-hati, Albus memandang sekelilingnya yang nyaris tak bisa ia lihat dalam radius sekitar dua meter mungkin, entahlah, sangat gelap, hanya lampu Hagrid yang menjadi pelita, bintang-bintang di langit tak memberi banyak penerangan, dan hampir tak ada yang bicara. Entah kenapa Albus merasa sendiri sekarang, tak ada lagi Lily yang memandunya atau Rose yang menjaganya dari belakang. Dia merasa tak punya teman, lalu ia ingat Narcissa. Albus mencari sosok itu dan menemukannya sedang berbisik-bisik dan tertawa dengan seorang gadis pirang, teman barunya mungkin, dan Albus sendirian. Dia tak kenal dengan anak-anak lainnya, mungkin ini saatnya dia berkenalan dengan orang-orang baru, pikirnya. Belum sempat dia memulai aksi perkenalannya, Hagrid berseru lagi, "kalian akan melihat Kastil Hogwarts nanti setelah belokan ini, dan ... itu dia."
Terdengar ooh banyak sekali, suara terkagum-kagum melihat sebuah bangunan tua di seberang danau, berdiri dengan megahnya di atas gunung tinggi di bawah bintang-bintang berkilau di langit. Dengan menara-menara besar kecil, jendela yang begitu banyak yang mungkin akan sulit untuk Albus hitung, tapi siapa juga yang mau menghitungnya. Jendela-jendela itu bersinar keemasan dari dalam, mungkin cahaya dari ribuan lilin-lilin itu, Albus duga.
Albus baru sadar dia di samping Hagrid saat setengah raksasa itu menyapanya, "halo Al." Albus mendongak, dia hampir tak bisa melihat mulut bergerak di balik berewok lebat yang hampir memutih itu lalu tersenyum, "hai Hagrid, Mum dan Dad titip salam untukmu."
"Oh ya! Salam juga pada mereka. Bagaimana keadaan Harry dan Hermione?"
"Mum dan Dad baik-baik saja."
Dia menghela nafas berat, "sudah lama aku tak mengundang mereka untuk minum teh di pondokku." Diam sejenak dan melanjutkan, "apa kau mau minum teh di pondokku?" Hagrid menengok ke Albus.
"Tentu saja." Jawabnya tersenyum, "bagus, minggu depan, kau bisa mengajak Rose dan Lily juga, eh? Sekalian." Ucap Hagrid sebelum berseru lagi pada anak-anak kelas satu, "semua naik perahu! Satu perahu tak boleh dari empat anak! Ayo semuanya!" Seraya menunjuk perahu-perahu kecil di dekat tepi danau.
Albus segera naik ke salah satu perahu kecil itu diikuti tiga anak lainnya, satu anak laki-laki berkulit gelap dan dua anak perempuan, salah satu anak perempuan itu adalah gadis berkacamata kotak yang Albus jumpai tadi, lainnya seorang gadis keturunan Asia mungkin, dilihat dari wajahnya yang oriental, mata sipit dan rambut hitam lurus, raut wajah keduanya menampakkan kekaguman.
"Semua sudah naik, 'kan?!" Teriak Hagrid yang sendirian di atas satu perahu, "kalau begitu, BERANGKAT!"
Dan armada perahu-perahu kecil serentak meluncur di atas permukaan danau yang selicin kaca. Semua diam, masih terkagum dengan kemegahan kastil Hogwarts yang terlihat begitu misterius.
"Hai, aku Michael Carbret, kau bisa memanggilku Mike." Anak laki-laki yang seperahu dengan Albus, menyodorkan tangannya siap untuk berjabat tangan, di wajahnya terpampang senyum lebar yang ramah. Albus menjabatkan tangannya, tersenyum ramah juga, "Albus, Albus Potter."
"Jadi kau yang namanya Albus, anak-anak di sana menyebut-nyebut namamu terus tadi." Mike menunjuk ke perahu-perahu di samping perahu mereka, penumpangnya tertangkap sedang memandangi Albus sementara ada yang berbisik-bisik. Albus merasa tak nyaman dengan pandangan mereka dan mencoba untuk tak menghiraukannya, meskipun pandangan mereka tidak berarti buruk, ia tak tahu harus merasa senang dengan hal itu atau sebaliknya.
Kastil tua itu menjulang tinggi di atas mereka sementara perahu mereka semakin dekat dengan bukit karang tempat kastil itu berdiri. Beberapa kali Hagrid memperingati mereka untuk berhati-hati di atas perahu dan tundukkan kepala ketika perahu-perahu itu membawa mereka melewati tirai sulur kemudian memasuki lorong gelap yang rupanya berada persis di bawah kastil, sampai mereka tiba di semacam pelabuhan bawah tanah. Mereka naik ke daratan berbatu karang dan berkerikil.
"Tak ada yang ketinggalan 'kan?" Tanya Hagrid yang memeriksa perahu-perahu setelah semua anak turun. Kemudian mereka mendaki jalanan di bukit karang, mengikuti cahaya lampu Hagrid sampai akhirnya tiba di hamparan rumput halus berembun tepat di depan bayangan kastil. Mereka mendaki undakan batu dan berkerumun di depan pintu besar dari kayu ek.
"Semua masih lengkap 'kan?" Tanya Hagrid sebelum dia mengetuk pintu besar itu dengan kepalan tangan besarnya.
Pintu terbuka sedikit, anak-anak mendongak untuk melihat kehadiran sosok dewasa yang akan membimbing mereka memasuki ruang aula tapi tidak, tidak ada seseorang yang terlihat sampai suara orang berdehem menyita perhatian mereka. Mereka menengok ke suara itu dan menyadari ternyata ada anak, bukan, bukan anak, melainkan sosok dewasa dengan tubuh kerdil di depan mereka. Sosok itu lumayan pendek seperti masih berumur 9 tahunan, kalau saja kumis tebal itu tidak ada mungkin orang-orang akan menyangka dia anak kecil.
Orang itu memandangi mereka, rambutnya hitam -meskipun ada sedikit yang memutih menandakan sudah tua- jubah abu-abu gelapnya sedikit kebesaran.
"Kelas Satu, Profesor Flitwick." Kata Hagrid.
"Terima kasih Hagrid, biar kuambil alih sekarang." Hagrid mengundurkan diri. Terdengar dengung ratusan suara dari balik pintu kayu itu. Albus bisa melihat beberapa anak dengan jubah hitam duduk di deretan bangku panjang mengobrol dengan tetangganya. Suara orang berdehem mengalihkan perhatian anak-anak dari gambaran aula Hogwarts di balik pintu besar ke orang dewasa di depan mereka.
"Selamat datang di Sekolah Sihir Hogwarts, anak-anak." Kata Profesor Flitwick sambil tersenyum ramah dari balik kumis tebal itu. Profesor Flitwick berdehem lagi,
"Baiklah anak-anak, sebelum kalian mengambil tempat duduk di aula besar, kalian akan diseleksi masuk asrama mana terlebih dahulu. Seleksi ini sangat penting, karena selama kalian di Hogwarts asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi kalian. Kalian akan belajar bersama, tidur bersama di asrama kalian, dan bisa meluangkan waktu di ruang rekreasi asrama kalian. Ada empat asrama di sini yaitu, Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff. Tujuan kalian tidak hanya memenangkan nilai tapi juga untuk memperoleh teman dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Pelanggaran aturan akan menyebabkan kalian kehilangan poin dari asrama kalian dan tentu saja detensi. Dan di akhir tahun, asrama dengan poin tertinggi akan memperoleh Piala Asrama, itu merupakan suatu kehormatan besar. Kuharap kalian semua akan membawa kebanggaan bagi asrama manapun kalian ditempatkan."
"Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di Aula Besar." Bola matanya mencermati murid-murid di depannya, "aku akan kembali saat persiapan selesai, tunggu di sini." Kata Profesor Flitwick masih dengan senyum ramahnya sebelum menghilang di balik pintu.
Hampir semua anak merapikan jubah, baju, dan celana mereka, menepuk-nepuk kalau ada debu yang menempel, mempersiapkan diri mereka seaik mungkin. Beberapa merapikan rambutnya, Albus tak ketinggalan ikut menata-nata rambutnya meskipun sangat sulit untuk ditata.
"Menurutmu, kau akan ditempatkan di asrama mana?" Tanya Mike padanya, yang dijawab dengan menaikkan kedua pundak.
"Aku ingin di Gryffindor. Kau?" Pernyataannya penuh percaya diri.
"Aku juga ingin masuk sana." Jawab Albus tak yakin. Dia memandangi anak-anak di sekitarnya yang penuh dengan raut wajah panik, cemas, antusias, bercampur menjadi satu. Apa dia memang ingin masuk Gryffindor?
Pintu besar itu dibuka lagi, lebih lebar, sosok itu berdehem lagi "sekarang baris satu-satu, dan ikuti aku." Kata Profesor Flitwick pada mereka.
Di balik pintu itu adalah aula yang sangat besar dengan dinding batu menjulang ke atas diterangi ratusan lilin yang melayang-layang di langit atap yang disihir supaya terlihat seperti langit sungguhan, sangat menakjubkan. Di bawahnya terdapat empat meja panjang, murid-murid kelas yang lebih tinggi duduk mengelilingi meja itu yang atasnya dipenuhi piring dan piala keemasan. Di ujung aula, di tempat yang lebih tinggi, ada meja panjang yang lain, tempat para guru duduk.
Anak-anak kelas satu mengikuti Profesor Flitwick melintasi lantai batu kotak-kotak ke sana, mereka berhenti dalam satu barisan yang panjang. Ratusan wajah memandangi mereka di bawah cahaya lilin-lilin bersama dengan hantu-hantu keperakan yang melayang-layang di sana-sini. Albus melihat ke sekelilingnya, mencari-cari dua sosok kakaknya. Dia menengok ke kanan ke meja murid-murid berdasi hijau-silver, menemukannya sedang duduk diapit oleh anak laki-laki pirang platina, Scorpius, dan gadis dengan rambut pirang yang hampir sewarna pink, namanya Mary-Anne Flokree , beberapa kali Rose menyebut namanya dalam surat. Rose sedang terseyum, atau yang lebih tepatnya menyeringai ke arahnya, kakaknya menggerakkan mulut dan Albus menangkap kata itu, "semoga beruntung." Dengan senyum itu membuat kata 'semoga beruntung' terasa seperti ejekan, sama sekali tak membantu Albus yang sedang panik akan menghadapi seleksi. Dia menengok ke kiri ke meja murid-murid berdasi dengan garis biru. Lily berada lumayan jauh di deretan belakang meja itu duduk diapit oleh dua gadis dengan rambut gelap, dia tersenyum pada Albus yang langsung dibalasnya dengan senyuman juga. Cukup menenangkan, pikir Albus seraya dia kembali memandang lurus melewati gadis pirang di depannya. Dia bisa melihat Profesor Flitwick meletakkan sebuah bangku berkaki empat di depan. Di atas bangku itu diletakannya sebuah topi kerucut penyihir. Topi itu sudah bertambal, berjumbai, dan kotor sekali. Albus bertanya dalam hati apa topi itu pernah dicuci? Kapan terakhir kali mereka mencucinya? Mungkin seabad yang lalu. Dari belakang dia mendengar Mike berbisik, "apa itu topi seleksi? Aku dengar dari sepupuku yang sudah lulus kita akan diseleksi hanya dengan sebuah topi."
Albus mengangguk, "kakakku juga mengatakannya." Lily dan Rose hanya memberitahunya seperti itu, diseleksi dengan topi, Albus tak tahu apa maksudnya, bagaimana prosesnya, seperti apa, semoga saja Profesor Flitwick mau memberikan intruksi. Dia hanya memandangi topi usang itu, selama beberapa detik hanya ada kesunyian total. Kemudian topi itu meliuk-liuk. Robekan di dekat tepinya membuka lebar seperti mulut, dan topi itu mulai bernyanyi
Oh, mungkin menurutmu aku jelek, tapi jangan menilaiku dari penampilanku.
Berani taruhan takkan bisa kau temukan Topi yang lebih pandai dariku.
Jubahmu boleh hitam kelam, topimu licin dan tinggi, aku mengungguli semua itu karena di Hogwarts ini aku Topi Seleksi.
Tak ada apapun dalam pikiranmu yang bisa kau sembunyikan dariku.
Jadi pakailah aku dan akan kuberitahu asrama mana yang cocok untukmu.
Mungkin kau sesuai untuk Gryffindor,
Tempat berkumpul mereka yang berhati berani, dan jujur
Keberaian, keuletan, dan kepahlawanan mereka membuat nama Gryffindor mahsyur.
Mungkin juga Hufflepuff-lah tempatmu,
Bersama mereka yang adil dan setia, yang sabar dan royal
Kerja keras bukanlah beban dari mereka.
Atau siapa tahu di Ravenclaw,
Kalau kita cerdas dan mau belajar, ini tempat para bijak dan cendekia
Ajang berkumpul mereka yang pintar.
Atau bisa juga di Slytherin,
Kau menemukan teman sehati,
Orang-orang licik ini menggunakan segala cara, untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
Jadi segeralah pakai aku!
Jangan takut dan jangan ragu!
Dijamin kau akan aman, karena aku Topu Seleksi-mu!
Seluruh aula meledak dalam tepuk tangan riuh rendah ketika topi itu mengakhiri nyanyiannya dengan membungkuk ke arah empat meja dan kemudian diam lagi. Profesor Flitwick maju memegangi gulungan perkamen panjang, ia berdehem sebelum memulai.
"Yang disebut namanya harap maju, memakai Topi dan duduk di bangku untuk diseleksi. Baiklah." Katanya, "Aggrove, Ian!"
Seorang anak laki-laki dengan muka bundar keluar dari barisan, maju ke depan pelan, rambut coklat gelapnya terlihat sangat rapi, tapi raut wajahnya sangat ketakutan. Dia memakai Topi itu,yang langsung melorot menutupi wajahnya, dan duduk.
Sejenak kemudian ..."RAVENCLAW!" Teriak sang Topi.
Meja kedua dari kiri dengan dasi biru bersorak dan bertepuk tangan ketika Ian mendekat dan duduk di bangku itu, wajahnya terlihat senang dan penuh kelegaan sekarang. Murid-murid di bangku itu menyalaminya.
"Bett, Alona!"
"HUFFLEPUFF!" Giliran meja sebelah kanan bersorak.
"Bowie, Isabella!","GRYFFINDOR!" Terdengar sorakan lebih meriah dari meja-meja sebelumnya.
"Brightie, Evana!"
"HUFFLEPUFF!" gadis pirang itu berlari dan duduk di sebelah Alona.
"Bush, Lorie!","GRYFFINDOR!" gadis kecil dengan rambut pirang gelap berlari centil ke arah meja di ujung kiri, dudk di samping Isabella Bowie.
"Carbret, Michael!" Mike yang berada di belakang Albus maju ke depan penuh percaya diri, memakai topi itu dan duduk. Albus tak bisa melihat wajahnya yang tertutup Topi itu, lalu...
"GRYFFINDOR!" meja di ujung kiri bersorak lebih meriah lagi menyambutnya. Mike tersenyum lebar sambil menjabat tangan mereka, Albus bisa melihat beberapa dari mereka berambut merah menyala.
"Crodley, Dean!", "SLYTHERIN!" Dean berjalan ke meja paling kanan yang bersorak kurang meriah dibanding tiga meja lainnya, meskipun begitu Dean tetap terlihat sangat senang.
"Diophan, Annelise!" gadis berkacamata yang Albus lihat tadi keluar dari barisan, berjalan tenang, muka datar, memakai topi kebesaran dan duduk. Sejenak kemudian...
"GRYFFINDOR!" Dia tak lagi berjalan tenang, tapi berlari menuju meja Gryffindor yang menyambutnya sama meriahnya dengan Mike, dia tersenyum dan duduk di seberang Mike.
"Finch-Fletchley, Benjamin!", "RAVENCLAW!"
"Gangga, Tina!" seorang gadis dengan wajah asia, bisa ditebak dia keturunan India mendengar namanya saja, maju ke depan, pakai topi dan duduk, "RAVENCLAW!"
"Greengrass, Arianna!" Kemenakan jauh Bibi Astoria berjalan dengan penuh percaya diri, dagunya terangkat dengan penuh wibawa. Albus pernah bertemu dengannya sekali saat ulang tahun Narcissa di Malfoy Manor. Saat itu mereka masih berumur delapan tahun, gadis kecil berambut pirang lebat mengenakan gaun pink dengan pita besar, menangis ketika dia tidak mendapatkan boneka besar saat ulang tahunnya sedangkan Narcissa mendapatkannya. Arianna duduk di kursi kecil itu dengan senyum termanisnya, memakai topi bertambal dengan enggan sampai akhirnya si Topi berteriak, "SLYTHERIN!"
Senyumnya lebih lebar lagi saat berjalan anggun ke deretan murid-murid berdasi hijau-silver.
"Longbottom, Frank!"
Dan Albus baru teringat sahabatnya masuk Hogwarts tahun ini juga, Frank. Bagaimana Albus bisa lupa tentang hal itu? Mungkin karena rasa gugupnya untuk pertama kali ke Hogwarts membuatnya lupa tentang semua.
Anak laki-laki dengan rambut gelap dengan pelan melangkah ke bangku kecil di depan, Albus melihat wajah gugup itu sebelum topi seleksi menutupi setengah kepalanya.
"Gryffindor!" topi seleksi menyeru, persis seperti ayahnya, pikir Albus.
Albus sudah merasa tak sabar dengan gilirannya, tapi dia juga merasa ingin menghundurkan diri dari seleksi ini. Pertanyaan-pertanyaan aneh, menakutkan, mulai bermunculan. Akan ditempatkan di mana dia? Dia tak sepintar Lily untuk masuk Ravenclaw. Dia tak selicik Rose yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan seperti seorang Slytherin. Dia ragu apa dia punya cukup keberanian untuk Gryffindor, mungkin tidak. Lalu Hufflepuff, apa dia penyabar? Albus tak begitu suka dengan kerja terlalu keras. Dia bertanya lagi, apa ada opsi lain selain empat tersebut? Tentu saja tak ada, jawabnya pada diri sendiri. Apa dia akan mengecewakan keluarganya? Para Weasley menggadang-gadang ia pasti masuk Gryffindor, tapi sepertinya itu tak akan terjadi. Melihat Mike yang begitu percaya diri, dan gadis berkacamata, Annelise, yang berjalan tenang, tak terlihat takut, Albus merasa tak punya apa yang mereka punya sebagai seorang Gryffindor. Albus kembali memperhatikan proses seleksi itu ketika Profesor Flitwick berseru, "Makarone, George!" lalu Topi berteriak, "GRYFFINDOR!" seorang anak laki-laki dengan rambut gelap berlari tersenyum senang ke meja Gryffindor, lagi-lagi dengan sambutan yang meriah. Selanjutnya,
"Malfoy, Narcissa!" Albus penasaran, apa gadis itu akan masuk Slytherin karena dia seorang Malfoy, atau di Gryffindor, melihat tampilannya yang khas Weasley. Paman Ron bilang Narcissa mirip dengan Bibi Ginny saat kecil dulu. Topi menjawab penasarannya, "GRYFFINDOR!" Meja Gryffindor meriah lagi. Sepupu-sepupunya menjabat tangannya dengan senang, Fred menjulurkan lidahnya saat Scorpius memandangi adiknya. Albus tertawa dalam hati melihat hal itu. Pasti, Narcissa adalah Malfoy pertama yang masuk Gryffindor, tebaknya.
Satu persatu anak yang berbaris berkurang,
"Millie"... "Nerd"... "Nick-Carry"... "Oescrop"... "Panova, Natasha"... lalu "Peyton, Mark"... dan akhirnya... "Potter, Albus!" Albus berjalan sesekali menelan ludah. Entah kenapa seluruh aula terdengar mendesis seperti ular. Dan pertahanan percaya dirinya yang sudah dibangun dengan susah payah mulai ambruk. Dia berpikir, apa ada yang menertawakannya di belakang punggungnya? Apa ada yang membuat lelucon padanya? Dia berharap kalau ada, bukan Rose orangnya. Apakah dulu kedua kakaknya mendapat perhatian seperti ini juga? Entah kenapa berjalan ke bangku kecil itu terasa sangat lama. Albus memakai Topi Seleksi dan hal terakhir yang dilihatnya adalah mata anak-anak yang tertuju padanya sebelum topi itu menutupi hampir sebagian kepalanya. Dia menunggu untuk suara teriakan topi,
"Hmm" terdengar suara kecil di telinganya, "menurutmu di mana kau akan ku tempatkan?" Albus berpikir, apa anak-anak tadi bisa meminta untuk dimasukkan ke asrama yang mereka inginkan? "Tentu saja tidak." Kata suara kecil itu lagi. Albus kaget kalau topi ini bisa membaca pikirannya. "iya, aku bisa, aku Topi Seleksi, tak ada apapun dalam pikiranmu yang bisa kau sembunyikan dariku." Topi itu menjawab lagi pertanyaan Albus yang tak disuarakannya. "Sekarang, menurutmu di mana kau pantas ditempatkan?" Albus diam, bingung, dia berpikir lagi, bukankah dia yang seharusnya menentukan Albus ditempatkan di mana? "Oke, baiklah. Apa kau yakin? Dulu ayahmu membujukku supaya tak di tempatkan di Slytherin", Albus baru tahu tentang hal itu, dia mengangguk kecil menjawab pertanyaan si Topi. "Baiklah, cukup sulit." Hati Albus mencelos, "otak lumayan encer, dan, oh-ada keinginan untuk membuktikan diri, sangat mirip, sangat mirip, hebat, tapi juga ada keraguan. Menurutmu, aku boleh menentukan, iya 'kan? apa kau mau masuk Slytherin?" Albus diam lagi, dia menimbang-nimbang, "oh-sudahlah, lebih baik di ...GRYFFINDOR!"
Albus segera mencopot topi itu setelah ia berteriak ke aula, berpikir mungkin topi itu akan mengubah keputusannya dan menyuruhnya kembali, dia sangat lega sekali. Dengan senyum lebar dia berlari ke meja Gryffindor yang menyorakinya sangat meriah, lebih meriah dari anak-anak lain, banyak yang menjabat tangannya.
"HORE! KITA DAPAT POTTY!" pekik salah satu hantu yang terbang melayang-layang di sekitar Albus sebelum terbang mengelilingi aula dan hilang di dinding. Beberapa juga ada yang memekik, "Potter Kembali! Potter Kembali!" Albus merasa dia baru saja memenangkan Piala Quidditch untuk mereka. Dia duduk di samping Mike yang tersenyum lebar dan menjabat tangannya. Lalu ia didatangi hantu dengan kerah rimpel dan celana ketat. Hantu itu datang dengan senyum lebar, tapi menurut Albus malah membuat hantu itu menakutkan. Dia menyodorkan tangan berkilau keperakannya seraya berkata, "selamat Albus Potter, kau telah datang menyelamatkan asramaku."Albus tak tahu harus berbuat apa lagi, dia mengucapkan terima kasih dan dengan ragu menjabat tangan hantu itu. Tangan itu.. mungkin begitulah rasanya kematian, sangat dingin saat tangan itu menembus kulitnya, Albus tak akan coba-coba menyentuh hantu manapun lagi. Dia melihat meja sekelilingnya, menangkap senyuman Lily yang sambil menggerakkan mulutnya, "selamat." Albus tersenyum. Lalu jauh di seberang, Rose sambil menyeringai mengangkat jempol lalu membalikkannya. Albus tetap tersenyum.
Dia melihat ke depan, ke Meja Tinggi, jelas sekali ia dapat memperhatikan para guru yang duduk sejajar. Di tengahnya terdapat kursi besar emas diduduki Kepala Sekolah Profesor McGonagall dengan topi kerucutnya. Profesor Dumbledore duduk di kanannya sedang melambai ke arah Albus. Kemudian ada Hagrid yang paling mencolok di samping kiri Prof. McGonagall, dia sedang tersenyum lebar padanya sambil mengangat kedua jempolnya. Kemudian di sampingnya lagi ada seorang pria dengan rambut hitam hampir sepundak, kumis hitam lumayan tebal dan jenggot hitam dengan bagian tengah putih, pria itu nampak tersenyum terus, Albus tak tahu nama guru itu, mungkin guru baru. Saat pria itu menengok ke arahnya, pria itu tersenyum lebih lebar sambil mengedipkan matanya sekilas dan kembali memperhatikan proses seleksi yang masih berlangsung. Senyum itu mengganggu Albus, ada sesuatu yang tak pas dengan senyum itu tapi ia mencoba untuk tak menghiraukan.
Tinggal empat anak lagi sekarang yang belum diseleksi. "Sneil, Amanda!", "HUFFLEPUFF!" Kemudian "Towler, Thomas!" yang bergabung di meja Hufflepuff juga. "Zabini, Filbert!" dinyatakan masuk Slytherin dan terakhir seorang gadis asia yang seperahu dengan Albus, "Zhang, Liu!" yang masuk Slytherin juga. Profesor Flitwick menggulung perkamennya dan mengambil kembali Topi Seleksi.
A/N : oh-iya, mungkin genre-nya bkal berubah nanti. Kepanjangan? Membosankan? Let me know then,,REVIEW! It's very helpful u know.
