TRAP

[SPECIAL FOR HUNHAN INDONESIA GIVEAWAY]

.

.

Luhan tengah memainkan laptopnya ditemani sebungkus keripik diatas meja, kelas bahasanya sudah usai sejak empat puluh lima menit yang lalu dan ia kembali ke asrama sendirian, karena Zitao harus menemani anjingnya berkeliling kota.

Jongdae dan Minseok memutuskan untuk tidur di kamar Suho selagi orang itu belum pulang dari kampus. Sehun juga masih berada di kampus untuk ikut latihan basket bersama Chanyeol dan Kyungsoo, Baekhyun dan Yixing masih berurusan dengan laboratorium dan planaria-planaria menjijikan.

Luhan sedikit tersedak ketika sepotong keripik melewati tenggorokannya tanpa dikunyah begitu saja, ia terbatuk untuk sejenak kemudian berlari kearah dapur untuk mengambil minum. Luhan membuka kulkas dua pintu itu, mengambil sebotol air minum dan meneguknya setengah.

Merasa lega, ia berjalan kembali meninggalkan dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang terdengar aneh. Suara itu berasal dari kamar Suho, seperti ia ketahui, didalam kamar itu ada Jongdae dan Minseok yang sedang beristirahat.

"Eunghh.."

"Yah—ughhh.. shhh ah Chen—ahh,"

Luhan mendengar.. sebuah.. suara—desahan? Bisa dibilang desahan. Ya, Luhan yakin itu adalah suara desahan. Dimakan rasa penasaran, Luhan menempelkan telinganya ke permukaan pintu kamar Suho.

"Lu—"

Ia terlonjak kaget dan menjatuhkan botol air mineralnya ke lantai, ia dapat melihat Kai berdiri dibelakangnya—sambil menatap aneh kearahnya—dan sekarang, Luhan tak tahu apa yang harus ia katakan pada Kai.

Kai berjongkok kemudian mengambilkan botol yang terjatuh dan memberikannya kembali pada Luhan. Sementara, lelaki itu hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada lelaki berkulit tan tersebut.

Kai terdiam, ia berpikir apa yang sedang Luhan lakukan didepan pintu kamar Suho? Namun, ketika suara desahan itu kembali terdengar, dirinya memejamkan mata sejenak kemudian merutuk dalam hati. Sekarang Kai tahu apa yang membuat Luhan menguping dan bersikap gugup seperti ini.

"Uhm, laptopmu sepertinya menyala." Kai berdeham cukup keras.

"Oh, yaampun aku lupa."

Luhan menepuk keningnya sendiri kemudian berlari keruang tv untuk menghampiri laptop dan keripiknya yang tergeletak disana. Kai menghembuskan napasnya lega, kemudian menendang pintu kamar Suho dengan cukup keras seolah mengingatkan kedua orang yang tengah melakukan 'itu' mengecilkan volume suara mereka.

Jongdae dan Minseok, setiap kali mereka berkunjung ke asrama, mereka pasti melakukannya.

.

.

.

Sehun berjalan menyusuri koridor kampus dengan sepasang earbud hitam dan kedua tangan yang ia jejalkan kedalam saku seragamnya. Ia berjalan dengan santai, pandangannya lurus kedepan dan ekspresinya datar.

Dari arah berlawanan, tampak Luhan yang tengah berjalan juga dengan beberapa buku yang ia gendong ditangannya. Luhan menunduk dan berjalan memperhatikan tanah yang ia pijak, bukan objek yang ada didepannya.

Sehingga akhirnya, mereka berhenti dititik yang sama. Luhan mendongak untuk melihat siapa pemilik dari sepasang sepatu bercorak biru galaksi yang ada didepan sepatunya itu, dan ketika ia mengangkat kepalanya, pandangannya bertemu dengan mata hitam Sehun.

Mereka bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Sehun memutuskan untuk mengambil jalan ke sebelah kiri, namun Luhan juga melakukannya. Ketika Luhan bergerak ke kanan, Sehun juga bergerak kearah yang sama.

Sehun mendengus, kemudian berbalik arah dan merangkul Luhan. Sedangkan lelaki yang lebih pendek itu kaget dan bingung dengan apa yang dilakukan Sehun.

"Kalau ingin berjalan bersamaku ngomong saja, tidak usah menghalangi jalan." Sehun menahan senyuman tipisnya ketika mengucapkan hal itu pada Luhan.

Luhan sedikit menjauh dan menatap Sehun sekali lagi, "Apa? Tidak."

Namun, Sehun kembali menarik tubuh Luhan sehingga lelaki itu berada didalam rengkuhan tubuhnya, Sehun menoleh, menatap wajah Luhan yang sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter dengan wajahnya.

"Kau tidak tahu dimana letak perpustakaan, kan?" Sehun menatap buku-buku yang Luhan gendong untuk memberikannya isyarat.

Luhan hanya mengulum senyumannya, kemudian menyengir kuda dan mengangguk. Sehun melepaskan rangkulannya, kemudian berjalan duluan didepan Luhan. Namun lelaki itu hanya menatap punggung Sehun yang menjauh.

Sehun berhenti beberapa meter didepannya, berbalik kemudian mengisyaratkan Luhan untuk mengikutinya. Luhan tersadar kemudian mengangguk dan menyusul Sehun.

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor dan lift-lift kampus, hingga akhirnya tiba didepan sebuah ruangan yang cukup besar berisi ratusan buku-buku bermanfaat didalamnya. Keduanya melangkahkan kakinya masuk.

Tatapan Sehun seperti biasa—lurus kedepan—sedangkan Luhan sibuk mengamati seisi ruangan bernuansa biru muda itu. Kepalanya menengok kesana kemari. Namun, ketika tiba di rak ketiga, mata Sehun terbelalak melihat objek yang ada didepannya.

Dengan refleks, ia menghentikan langkahnya dan menutup mata Luhan. Yang ditutup matanya hanya kaget dan menggerutu, berusaha melepaskan tangan Sehun dari wajahnya.

Tangan kekar Chanyeol merengkuh badan kecil Baekhyun dan menjebaknya diantara rak buku, mencumbu leher Baekhyun dengan bibir tebalnya, memberikan tanda kemerahan di tiap inchi kulit Byun Baekhyun.

Sehun melotot kearah mereka, dan ketika Baekhyun membuka matanya, ia mendorong tubuh Chanyeol untuk menjauh. Sehun mengisyaratkan keduanya untuk segera pergi dan berciuman ditempat lain.

Kedua lelaki itu berlari meninggalkan perpustakaan, setelah semuanya normal, Sehun menyingkirkan tangannya dari wajah Luhan. Kemudian bersikap seolah tak ada yang terjadi. Luhan menatapnya heran,

"Kenapa kau menutup mataku?"

"Aku menutup matamu agar kau penasaran bagaimana tampilan rak-rak diperpustakaan ini." Jawab Sehun santai.

Luhan kembali mendengus, ia tak terlalu ambil pusing soal hal ini, ia kemudian berjalan mendahului Sehun dan mulai mencari buku yang ia suka di rak-rak besar itu. Sehun menghembuskan napasnya lega, kemudian duduk di kursi baca.

Beberapa menit kemudian, Luhan kembali menghampiri Sehun di kursi baca dengan beberapa tumpuk buku tebal yang ia letakan diatas meja. Sehun yang tengah memainkan ponselnya kemudian mengalihkan pandangannya kearah Luhan.

Setelah meletakan pantatnya diatas kursi, Luhan juga menatap kearah Sehun sebelum akhirnya ia membuka lembaran pertama dari sebuah buku karangan William Shakespeare bertajuk Hamlet.

"Kau pernah baca ini?" Tanya Luhan.

Sehun menggeleng. Merasa kurang tertarik dengan buku yang akan Luhan baca, maka ia kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponsel yang tengah ia genggam.

Luhan menghela napasnya, "Kalau begitu, kau pasti tahu William Shakespeare."

"Romeo dan Juliet." Jawabnya singkat.

Luhan sumringah, "Ya, apa kau tahu soal karangannya yang berjudul Hamlet?"

Sehun kembali menggeleng, cukup menyerah dengan sikap cuek Sehun, Luhan akhirnya merebut ponsel yang Sehun genggam dan menaruhnya jauh dari jangkauan Sehun. Lelaki itu menatap Luhan dengan tatapan dingin.

"Apa?"

"Apa?"

Sehun mendengus, "Oke. Ceritakan padaku bagaimana kisahnya." Ia melipat kedua tangannya didepan dada dan bersandar ke kursi.

Luhan tertawa, kemudian mulai menceritakan bagaimana alur cerita dari karangan William Shakespeare yang satu ini. Perhatian Sehun lambat laun mulai terpengaruh oleh kisah yang disampaikan oleh Luhan.

Perlahan, ia menolehkan wajahnya untuk menatap Luhan, memperhatikan tiap rentetan kata-kata yang Luhan ucapkan, setiap ekspresi yang Luhan gambarkan, dan setiap gerakan tangan yang Luhan praktekan.

"Kemudian, tamat." Luhan menutup pembicaraannya dan menopang dagunya menggunakan tangan kanan.

Sehun yang dari tadi hanya memandanginya tanpa berkedip, perlahan mengerjap kemudian menjawab;

"A—apa? Kenapa tamat begitu saja? Lalu, bagaimana dengan si Hamlet?"

Luhan tertawa, kemudian melemparkan buku itu ke tangan Sehun dan berdiri, bersiap untuk meninggalkan perpustakaan.

"Kau baca saja. Aku harus menemui Minho-ssi sebentar lagi, bye Sehun!"

Sehun hanya dapat memandangi punggung Luhan yang semakin berjalan menjauh, keluar dari pintu dan berbelok di lorong, menghilang. Mulut Sehun bahkan belum terkatup hingga saat ini. Sebenarnya ia menggumamkan kata 'tunggu' sedari tadi.

Ia mengalihkan pandangannya pada buku yang dilemparkan Luhan tadi, dahinya berkerut. Mungkin jika Luhan tidak menceritakan kisah dari buku ini, Sehun tak akan pernah tertarik untuk membacanya. Jangankan membaca, meliriknya saja ia malas.

Sehun menghembuskan napasnya, kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah keluar. Tidak, ia tidak akan pulang ke asrama sekarang. Berjalan-jalan sebentar mungkin akan lebih baik baginya.

.

.

.

Luhan berjalan menuruni tiap anak tangga yang tersusun di tiap lorong ruangan, hingga akhirnya ia sampa ke meja resepsionis. Ia bersenandung kecil sambil tersenyum sepanjang jalan karena hari ini mood nya sedang baik.

Namun, ketika ia sampai beberapa meter didepan meja resepsionis, matanya membulat dan mulutnya terbuka. Ia tercekat dan menimbulkan suara kaget. Kedua orang didepannya segera menghentikan permainan mereka dan berdeham keras.

Tetap saja, Luhan melihatnya. Minho, dan orang dibelakang meja resepsionis yang ia kenal dengan panggilan Jonghyun itu—tengah berciuman.

Luhan masih diam ditempatnya. Tak mampu bergerak dan otaknya masih terus memutar sepenggal cuplikan 'menjijikan' yang baru saja terjadi. Minho menggelengkan kepalanya, kemudian menghampiri Luhan dan memegang kedua bahu anak itu.

Luhan mundur selangkah, Minho paham betul bahwa anak ini tengah mengalami rasa terkejut yang luar biasa. Namun, dirinya mencoba untuk tenang. Lelaki tinggi itu menghela napasnya.

"Kau melihatnya."

"Ya, aku melihatnya."

"Yang kau lihat adalah aku dan Jonghyun berciuman."

"Ya, berciuman."

"Kami tidak."

"Apa?"

"Itu pepero. Kau tahu apa itu pepero? Apa di Kanada tidak ada pepero game? Kau tidak tahu stik panjang nan manis itu apa namanya?"

Minho membalikan badannya, menunjuk kearah sebuah kotak kecil yang tergeletak disamping Jonghyun. Luhan juga melihatnya, ia tahu apa itu pepero dan pepero game. Dan ia juga tahu, setiap orang yang melakukan permainan ini pasti akan terlihat seperti berciuman.

Dengan ragu, Luhan mengangguk dan menatap Minho. Kemudian ia berkata maaf.

"Aku—"

"Tidak masalah. Jangan dipikirkan, oh—aku ada perlu denganmu." Minho kemudian merangkul pundak Luhan dan membawanya berjalan bersama.

Mereka tiba disebuah ruangan cukup besar, Luhan melihat banyak sekali berkas-berkas dan map yang berserakan dimana-mana, Jas dan jaket yang tersampir sembarangan di sandaran kursi, bungkus vitamin, dan sebagainya.

Minho berkutat dengan salah satu laci di mejanya, menggerutu beberapa saat sampai akhirnya kembali memunculkan kepalanya didepan Luhan dengan sepucuk amplop berwarna cokelat ditangannya.

Dahi Luhan berkerut, sebuah surat?

"Surat ini datang kemarin sore. Maaf baru menyampaikannya padamu karena kemarin aku sedang sibuk, ini untukmu."

Luhan meraih amplop yang Minho sodorkan padanya. Dibelakang amplop itu tertera nama pengirim berserta alamat lengkapnya. Segera, bibir tipis Luhan membentuk sebuah senyuman kemudian membungkuk mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Minho.

Itu adalah surat kiriman dari kakaknya, Kris di Kanada. dan Luhan tahu isinya bukan hanya surat, melainkan ada benda lain. Ya, uang. Kris tahu betul kalau adiknya memang tengah membutuhkan banyak uang untuk kesehariannya di Korea.

Selesai dengan urusannya, Luhan menaruh amplop kecil itu disaku celananya dan berjalan meninggalkan ruangan Minho. Ia kembali berjalan sendirian sepanjang koridor untuk kembali ke asramanya, sampai akhirnya manik hitamnya menangkap kembali sosok Oh Sehun dari seberang sana.

Astaga, kenapa anak itu masih juga berkeliaran disekitaran kampus?

Luhan berlari untuk menghampirinya, Sehun hanya menatapnya datar; seperti biasa. Satu tangannya menjinjing buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi, dan tangan lainnya ia jejalkan kedalam saku seperti biasa.

"Kenapa masih berada disini?" tanya Luhan.

Sehun berdeham, meregangkan otot lehernya sambil berpikir mencari jawaban yang pas dengan pertanyaan Luhan. Tidak mungkin, 'kan, ia terang-terangan bilang kalau dirinya masih berkeliaran dikampus karena mencari Luhan?

"Aku baru saja mau kembali ke asrama. Minggir."

"Tapi, Sehun—"

"Minggir."

"Tapi asrama lelaki ada disebelah sana,"

Luhan menunjuk kearah utara, tepat kesebuah pamplet besar yang terpajang didepan gedung tinggi bertingkat. Sehun membalikan tubuhnya, tolol. Ia salah arah.

"Aku—uhm, ugh, ayo kembali! Diluar sudah mulai hujan." Refleks, Sehun menarik tangan Luhan dan berjalan terburu-buru menuruni anak tangga terakhir untuk dapat keluar dari gedung kampus.

Namun, hujan diluar sudah turun dengan sangat deras, langkah mereka terhenti sejenak didepan gedung dan memikirkan cara untuk dapat menyebrang ke asrama lelaki tanpa payung. Walau jarak gedung kampus, dan gedung asrama tidak begitu jauh, namun hujan kali ini cukup deras. Baju bisa basah dengan cepat.

"Ayolah, hanya hujan. Kita bisa berlari, ku hitung sampai tiga, kita berlari bersama, oke?" Luhan menatap Sehun kemudian memegang bahunya.

Lelaki itu membuang napasnya kasar, bukan masalah berlari atau jarak. Sehun memang takut dengan air hujan, maksudnya, jika tubuhnya terkena air hujan maka besoknya ia akan langsung sakit.

Kekebalan tubuh Sehun cukup lemah jika sudah dihadapkan dengan air, kepalanya akan terasa pusing dan suhu tubuhnya naik beberapa derajat celcius. Itulah sebabnya ia tak pernah mau hujan-hujanan meski hanya semenit.

"Oke."

Tidak. Sehun tahu ia akan menyesali keputusannya nanti, ia sudah siap menerima resiko kalau-kalau ia harus sakit setelah ini. Lagipula, tidak mungkin juga jika Sehun secara terang-terangan bilang pada Luhan kalau dirinya alergi air hujan.

Mau ditaruh dimana mukanya?

Sehun tidak mau terlihat lemah dimata semua orang.

"Satu.."

"..dua."

"Tiga!"

Dan mereka berlari bersama dibawah derasnya hujan hari itu, kaki-kaki panjang Sehun memudahkannya untuk berlari lebih cepat dari pada Luhan, dalam sekejap, air hujan telah menyihir pakaian yang mereka kenakan menjadi basah kuyup.

Beberapa menit kemudian, keduanya sudah sampai dibawah atap gedung asrama lelaki, dan Sehun bisa bernapas lega untuk itu.

.

.

.

Ketika Sehun selesai mengetik password pintu dan benda itu terbuka, keduanya hanya bisa terpaku ditempat ketika teman-teman yang lain sudah berdiri dibelakang pintu dengan wajah cemas dicampur kesal.

Dan tak perlu menunggu satu menit, Zitao sudah menarik tubuh Sehun mendekat, berjinjit kemudian memeluknya. Luhan yang ada disebelahnya hanya tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya.

Dengan cepat, Kyungsoo mengambil alih keadaan, ia mengalungkan handuk ke punggung Luhan dan merangkul lelaki itu untuk duduk di ruang tv. Membiarkan Sehun dan Zitao disana.

"Mau kubuatkan kopi hangat?" Kyungsoo tersenyum seraya menyuruh lelaki itu untuk duduk dikursi dan tetap mengenakan handuknya.

Luhan menggeleng, "Aku tidak suka minum kopi."

"Kalau begitu, akan kubuatkan kau teh hangat saja." Lelaki doe itu melangkah meninggalkan Luhan dan pergi kedapur.

Sehun sedikit mendorong tubuh Zitao agar menjauh, dengan salah tingkah, Zitao mengulurkan handuk kearah Sehun.

Lelaki itu segera memakai handuknya untuk mengeringkan rambut-rambut basahnya sebelum akhirnya mengalungkan benda itu ke leher dan berjalan melewati Zitao, melihat perilaku cuek Sehun, dirinya kecewa.

Namun, kekecewaannya terurung ketika lelaki itu kembali menghampirinya dan mengacak rambut Zitao, "Terimakasih." Ujar Sehun sebelum ia kembali meninggalkan Zitao.

Sehun ikut bergabung dengan Luhan dan yang lainnya di ruang tv, mereka duduk sambil menonton berita ramalan cuaca di televisi. Sampai akhirnya suara Suho terdengar menggema diseluruh ruangan.

"Kenapa kalian hujan-hujanan begini?"

"Kami—"

Luhan hendak menjawab, sebelum akhirnya Sehun memotong ucapannya dengan cepat.

"Kami menghabiskan waktu bersama hingga lupa waktu. Aku berkenalan lebih jauh dengan Luhan, jadi, Suho hyung, jangan anggap aku sebagai makhluk individualis lagi, oke."

"Hei, kapan aku bilang—"

"Aku lelah." Sehun menguap, kemudian berjalan meninggalkan semuanya dan mengurung diri didalam kamar.

Dan suasana menjadi canggung seketika. Luhan hanya menatap mereka bergantian sambil memasang senyuman kikuk dan sesekali menyesap teh nya untuk menghilangkan rasa canggung.

.

.

.

Luhan terduduk sendirian diruang makan ketika teman-temannya mulai meninggalkan ruangan setelah acara makan malam berakhir.

Ia masih berkutat dengan secarik surat yang tulisannya sudah luntur dan rapuh karena terkena air hujan tadi siang. Sekarang, ia tidak bisa membaca dengan jelas tulisan yang tertera di surat itu. Lagipula, kenapa Kris mengirim semuanya lewat surat?

Se-gaptek itukah dia sehingga tidak mengenal apa yang disebut dengan telepon, ATM, bank dan lain sebagainya?

Alih-alih memikirkan surat dari kakaknya, otak Luhan malah memutar kembali setiap kejadian yang terjadi hari ini. Kejadian yang bisa dibilang cukup janggal untuknya.

Mulai dari suara aneh yang berasal dari kamar Suho, Sehun yang tiba-tiba menutup matanya ketika diperpustakaan, Minho dan Jonghyun, Zitao yang memeluk Sehun…. Apa itu bisa dibilang hal yang janggal?

Maksudnya, hal-hal aneh itu terjadi diantara sesama lelaki. Ini yang membuat Luhan berpikir cukup jauh, karena kalau hal-hal tadi terjadi antara lelaki dan wanita, Luhan pasti tidak akan peduli.

Lamunan Luhan segera terpecah ketika seseorang mendudukan pantatnya dikursi sebelah Luhan duduk. Itu Kai. Lelaki tan itu kembali ke ruang makan dengan setelan boxer dan tanktop hitam.

"Kau belum tidur?" Kai bertanya.

Luhan mengangkat bahunya, "Aku belum mengantuk."

"Sama."

"Hm?"

"Luhan, apa dulu Ibumu mengidam anak perempuan yang cantik?" Kai mengalihkan pembicaraannya ke topik yang lebih jelas.

"Aku tidak tahu, kenapa?"

"Jari-jarimu lentik seperti perempuan."

Dan pandangan Luhan ikut terarah pada jari-jari nya, "Kau orang ke-sekian yang bilang begitu."

"Oh, ya? Maaf, tenang saja. Kau tidak sendiri, Baekhyun hyung juga memiliki jari yang cantik seperti milikmu." Kai tertawa ringan.

Luhan ikut tertawa, sebenarnya ini kesempatan baginya untuk bertanya pada Kai perkara suara aneh dikamar Suho itu tapi—rasanya tidak penting juga untuk dibahas.

.

.

.

Mata Sehun perlahan terbuka, pandangan buramnya perlahan menyatu menjadi sebuah penglihatan yang sempurna. Ia memandang keseluruh sudut ruangan, retina nya masih enggan untuk menerima cahaya yang diberikan oleh matahari pagi.

Maka, Sehun membalikan posisi tidurnya, membelakangi jendela. Dan ia dapat melihat Luhan yang berdiri didepan cermin hanya dengan balutan boxer tipis tanpa kaos atau apapun yang menutupi bagian dada hingga pusarnya.

Lelaki itu tengah berkutat dengan beberapa komedo nakal yang bertengger seenaknya di sekitaran hidung, Sehun dapat melihat tubuh itu terekspos begitu saja. Kedua nipple merah jambu itu..

Entah keberanian darimana, Sehun perlahan bangkit dari tidurnya dan berjalan menghampiri Luhan kemudian memeluk tubuh lelaki itu dari belakang.

Menempelkan bibirnya tepat dileher belakang Luhan, kemudian menyesap aroma leher itu sambil memejamkan matanya. Tangan-tangan Sehun bergerak dari pinggang menuju ke dada Luhan.

Memainkan nipple kecil itu sesekali sampai akhirnya Luhan membalikan tubuhnya dan mengalungkan tangannya dileher Sehun, meraup bibir tebal Sehun dan melumatnya perlahan, lidahnya memaksa untuk masuk dan memutuskan untuk berperang dengan lidah Sehun.

Dengan mata terpejam, Sehun mengangkat pantat Luhan dan menggendongnya, tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Membaringkan Luhan diranjang dan menindihnya, tangan-tangan Sehun berusaha melucuti celana tipis yang membaluti benda milik Luhan.

Dan ketika tersisa satu kain lagi yang menutupi benda itu, lumatan bibir Luhan semakin cepat dan ganas, berubah menjadi tergesa-gesa sehingga Sehun sempat kerepotan dengan bibirnya sendiri.

Ketika Sehun berhasil menyentuh milik Luhan…

Ketika itulah pipinya terasa tertampar.

Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya dapat melihat Luhan berdiri disampingnya dengan tangan yang siap memukul pipi Sehun untuk kedua kalinya.

"Hei, kau tidak akan bangun untuk kuliah?"

sialan, hanya mimpi. Batin Sehun.

Ia bangun dari tidurnya kemudian duduk diranjang, memukul kepalanya beberapa kali dan sesekali mengutuk Luhan dalam hati. Kenapa lelaki itu harus membangunkannya disaat yang tidak tepat?

Sehun membuang napasnya kasar, menyibak selimutnya kemudian berjalan keluar dari kamar untuk ikut sarapan bersama teman-teman konyolnya itu. Ketika Sehun duduk dikursi, ia merasa sesuatu mengganjal dibawah sana.

Oh, brengsek. Miliknya benar-benar tegang sekarang. Sialan lagi, kenapa harus tegang disaat yang tidak tepat seperti ini? Sehun menopangkan kaki kirinya keatas kaki kanan untuk dapat menutupi sesuatu yang menonjol dari balik celananya.

Zitao meletakan peralatan makannya dan berdiri, kemudian ia pamit sebentar untuk ke toilet. Sehun yang sedari tadi sudah menggoyang-goyangkan kakinya gusar, pada akhirnya ikut berdiri dan membuntuti Zitao ke arah toilet.

Zitao tengah memutar keran air ketika Sehun tiba-tiba muncul dibelakangnya dan mengunci pergerakan Zitao, kemudian dengan kilat menyambar bibirnya dan melumat bibir itu dengan ganas.

Tangan Sehun masuk kedalam kaos yang Zitao kenakan dan mulai menjamah setiap inchi tubuhnya, semakin memperdalam ciumannya dengan suara napas yang memburu dan terdengar tergesa-gesa.

Sesaat kemudian, Sehun melepaskan tautan bibirnya dan menjauh, berbalik membelakangi Zitao dan sedikit berteriak sambil meremas rambutnya sendiri.

"Maaf. Tao, aku—nafsuku hanya—agh,."

Zitao menunduk, kemudian tersenyum tipis. "Aku tahu. Kau melakukan itu setiap nafsumu bergejolak, aku sudah terbiasa dengan kata maafmu yang semu itu. Tidak masalah."

Kemudian lelaki itu berjalan keluar meninggalkan toilet,

Nafsu.

Maaf.

Ciuman.

Zitao.

Sehun peka sekali bahwa dirinya memang benar-benar brengsek.

.

.

.

TO BE CONTINUED.