Chap 1
I Know it Never
Semua karena ayahku – Guanlin
Jihoon-ah, so take my hand lets dance with me – Jinyeong
Semua ini karena si brengsek guanlin – woojin
guanlin oppa hanya milik kim seonho – seonho
jinyeong-ah berhenti menggangguku – jihoon
woojin's hot too super hot – hyungseob
.
Main cast: Guanho
Jinhoon (winkdeep)
Jinseob
Produce 101 members and couples
EXO couples
Rate: T+++
Typo everywhere, Judul gak sesuai cerita, complicated
.
Guanlin POV
Pintu kaca itu terbuka secara otomatis saat aku melangkahkan kaki ku keluar yang memperlihat pemandangan sekempulan orang yang sedang menunggu sanak saudaranya keluar dari tempat yang sama dengan tempatku keluar atau yang biasa orang sebut dengan bandara. Aku berjalan mengikuti pria yang bersama denganku sejak dari China sampai sekarang aku menginjakan kaki ku di Korea. Pria itu, Pria yang baru saja aku ketahui statusnya dalam hidupku. Pria itu adalah ayahku
"Guanlin-ah kau ingat kata ayah waktu itu sebelum kita kesini kan ?" tanya pria yang notabennya adalah ayahku. Ayah kandungku
"Ne" jawabku dalam bahasa korea, sebenarnya aku baru saja belajar bahasa korea setahun sebelum ibuku meninggal. Iya, ibuku meninggal seminggu yang lalu dan seminggu yang lalu juga orang ini datang kehadapanku dan mengatakan bahwa dia adalah ayah kandungku. Jujur aku tidak percaya. Kata ibu ayah telah meninggal saat aku masih didalam kandungan ibuku. Ibu menyuruhku untuk belajar bahasa korea yang tidak ku ketahui alasanya.
"Guanlin-ah masuklah dan kita akan menuju ke rumah kita" ucap Park Chanyeol. Pria yang sekarang sudah duduk di dalam mobil sambil menungguku masuk dan akhirnya aku melawan egoku lalu masuk kedalam mobil itu.
Aku membenci pria yang duduk disebelahku ini karena dia hidup yang kujalani dengan ibuku yang sangat cantik sangat menderita selama enam belas tahun. Ibu sudah menjelaskannya padaku saat terakhir sebelum dia meninggal, saat itu pria itu sedang membeli makan di dekat rumah sakit tempat ibu berobat. Ibu menceritakan semuanya, aku tahu bahwa ibu adalah seorang model ternama dengan bayaran yang sangat mahal dulu tapi kata ibu semenjak ia bertemu dengan pria brengsek itu yang sudah menghamilinya dan meninggalkannya yang lebih memilih hidup bersama dengan keluarganya di negeri ini. Karena ibu hamil, ibu tidak bisa lagi menjadi model dan bangkrut orangtua ibuku tidak menginginkanku saat aku berada dalam kandungan ibu, makadari itu aku dan ibu hanya tinggal berdua di flat kecil dan sederhana kami. Ibuku Victoria Lai betapa berat hidupnya meninggal karena penyakit kanker serviks yang dialaminya.
"Guanlin-ah kita sudah sampai" sahut Chanyeol membuat lamunannku tentang ibu buyar. Aku keluar dari mobil sambil memperbaiki ransel di pundakku lalu membantu tuan Min sang supir yang mengeluar koper kami dari bagasi. Saat di mobil dia memberi tahu namanya padaku.
"Tuan Park duluan saja, biar saya yang membawa koper tuan muda dan tuar besar kedalam rumah" ucap tuan Min padaku tapi itu yang malah membuatku tidak enak dengan tuan Min karena walaupun dia supir tetap saja dia lebih tua dariku
"Aniya gwenchana tuan Min, aku tidak dapat membiarkan orang yang lebih tua menarik beban yang berat, koper ku sangat berat biar aku yang membawanya sendiri tuan Min", ucapku lalu tersnyum "Nan gwenchana ahjusshi" dengan dialek yang masih belum fasih lalu mengambil alih pegangan koper dan berjalan memasuki rumah.
Aku mengikuti pria yang bersama denganku tadi sambil mendorong koper yang ada ditanganku, aku membuka pintu putih besar yang megah aku melihat sekelilingku penuh takjub. Ayahku ini ternyata adalah orang yang sangat kaya, bagaimana caranya emmiliki rumah semewah ini jika tidak memiliki uang yang banyak, rumah ini berjuta kali lebih besar dari flat tempatku tinggal dulu bersama ibu. Beberapa maid yang berlalu lalang di depanku selalu menunduk hormat kepada saat mereka melewatiku.
"Aku pulang" suara seorang perempuan terdengar dari arah depan pintu, membuatku membalikkan tubuhku menghadapnya, terlihat dia sangat terkejut dengan matanya yang membola sambil berjalan kearahku llau melihatku dari atas sampai bawah.
"Kau sudah pulang daehwi-ah ?" tanya Ayah yang menuruni tangga bersama seorang pria disebelahnya, aku melihat pria itu tanpa ekspresi apapun karena sejak turun dari pesawat aku tidak berekspresi kecuali tadi bersama tuan Min. Pria itu menggunakan kaos hitam dengan celana pendek berwarna coklat dan tak lupa headphone merah yang bertengger di tengkuknya dengan. Dia melihatku dengan ekspresi yang tidak suka.
"Appa siapa pria ini ?" tanya wanita tadi menunjukku
"Dia Guanlin. Saudara kalian" Jawab Chanyeol membuat senyuman genit di wajah daehwi berganti menjadi wajah yang cemberut dan tidak suka.
"Yah berarti aku tidak dapat berkencan dengannya" jawab wanita bernama daehwi itu.
"Kau tidak usah terlalu genit daehwi. Ingat dia adalah oppamu" nasihat Chanyeol
Pria tadi yang tidak kutahu siapa namanya berlari menuju kamarnya kembali setelah mendengar perkataan ayah bahwa aku adalah saudara mereka. Yah yang kutahu dia adalah anak dari ayah kandungku tapi aku tak tau siapa namanya.
.
.
Suasana pagi hari yang indah dengan siulan burung yang berterbangan dilangit sunnguh membuat pagi ini indah. Tapi tidak indah dalam kehidupan Kim jinyeong di pagi ini.
"Hyungseob-ah bangunkan adik pemalasmu itu" teriak sang kepala keluarga Kim dari meja makan. Hyungseob yang baru saja berniat turun dari tangga atas membalikan tubuhnya kembali dan berjalan menuju kamar adiknya
"Baik appa" ujar Hyungseob dengan nada tingginya. Tak butuh waktu lama hyungseb sudah berada didepan pintu kamar adik semata wayangnya yang hanya terpaut setahun dengannya itu.
Knock
Knock
Knock
"YAK KIM JINYEONG IRREONA" panggilnya dari luar pintu kamar jinyeong tapi tidak ada balasan apapun dari adiknya itu. Hyungseob menendang pintu kamar adiknya itu. Ternyata pintunya tidak terkunci, padahal dia berniat menobraknya atau emnghancurkan pintu dengan tendangannya.
"Jinyeong-ah irreona palli" teraknya sambil menarik selimut sang adik. Tapi usahanya sia-sia karena sang adik menariknya kembali lalu menyamankan kembali posisi tidurnya
"Kalau kau tidak bangun aku akan menyirammu dengan air panas" anacam Hyungseob dengan sangat kejamnya
"Emmmmm" jawab Jinyeong masih tidak ingin bangun dari ranjangnya yang sangat membuatnya nyaman. Hyunseob yang merasa dihiraukan pun tak tahan lagi dan akhirnya menendang bokong jinyeong dengan kerasnya.
"AUUWWWUYAHHH NOONA" teriak Jinyeong kesakitan sambil memegang bokongnya yang malang karena menerima dua kali kesialan, pertama karena ditendang oleh noonanya sendiri dan yang kedua karena tendangan noonanya Jinyeong terjaatuh dari ranjangnya yang nyaman itu.
"Noona neo micheseo hah?" bentak Jinyeong yang berdiri sambil mengelus pantatnya sayang
"Kan sudah ku suruh untuk bangun, kenapa kau masih menghiraukanku adikkku sayang" jawab Hyungseob dengan santainya sambil berjalan keluar kamar Jinyeong dengan senandung riang yang dikeluarkan dari mulut manisnya itu.
"Appa aku sudah membangunkan si tukang tidurrrrrr" ucapnya riang sambil menuruni tangga dengan riangnya berjalan menuju meja makan
"kalian ini ada-ada saja. Kasihan Jinyeong" ujar Kyungsoo yang masih setia dengan kerjanya memasak sarapan untuk keluarga kecil nya itu.
"Biarkan saja eomma" tawa Hyungseob dan ayahnya dimeja makan
Sekitar sepuluh menit kemudian jinyeong bergabung dengan keluarganya di meja makan.
"Jinyeong-ah" kau mandi seperti apa ? kenapa cepat sekali turun tidak seperti biasanya" tanya Kyungsoo yang heran dengan anaknya. Biasanya jinyeong akan turun sekitar tiga puluh menit setelah dibangunkan
"Dia tidak mandi eomma" sahut Hyungseob
"Diam kau" Ujar Jinyeon sambil memukul kepala noonanya
"Appa Jinyeong memukulku" adu Hyungseob
"Sudahlah. Kalian ini sudah umur berapa ? kenapa kalian masih saja bertengkar. Malu dengan umur kalian" nasihat Kyungsoo melerai perkelahian antara kakak beradik Kim
"Biarkan saja mereka ribut seperti itu eomma jika mereka hanya diam saja seperti anak pendiam rumah ini pasti akan sepi sekali. Apa perlu kita menambah adik baru untuk mereka eomma ?"
"Andweeeee" teriak ketiganya kompak
"Wae ?" teriak jongin kesal
T B C
