Preview chapter :
"Lagipula, kau sudah dengar kalau ayahmu akan melindungi mereka berdua, kan?" / "P-pergi! A-aku t-tidak m-mau ma-ti! Ja-ngan bunuh a-ku!" / "Ya. Karena itulah aku benci perang. Dan aku hanya ingin perdamaian." / "Dan Aku tidak tahu bagaimana bisa kau mengikuti kami!"
.
.
.
.
POISONOUS CONNECTION
Chapter 2 : Impian dan Kematian
Disclaimer : Naruto dan segala antek-anteknya adalah milik MK-sensei. Sementara ceritanya adalah murni saya punya.^^
HAPPY READING!
.
.
.
.
"KAKAK!" Raung Tsunade saat dia datang bersama ibunya di pemakaman yang kini penuh jeritan tangis keluarga para prajurit yang meninggal.
Terlihat sang ayah berdiri dan menunduk lesu di antara dua lubang kubur. Tak menghiraukan teriakan histeris Tsunade yang kini tengah berlari mendekatinya.
"AYAH! ADA APA DENGAN KEDUA KAKAKKU?!" Seru Tsunade sambil menarik-narik ujung armor ayahnya yang masih saja bergeming, menatap kosong ujung alas kakinya, tak mampu menatap wajah Tsunade yang telah kuyub oleh air mata.
"Suamiku! M-mereka..."
"Maafkan aku," potong pria itu dengan nada bergetar.
Tsunade tersentak. Begitu pula dengan wanita yang menanyakan hal itu.
"Aku...gagal," lanjutnya sambil meletakkan tangannya yang berlumuran darah di atas kepala Tsunade yang terkejut ketika menyadari bahwa tangan ayahnya itu bergetar.
Mendengar jawaban suaminya, ibu Tsunade jatuh berlutut memandang dua peti yang belum tertutupi tanah itu bergantian. Tubuhnya berguncang. Terisak.
Tsunade merasa perih saat melihat ibunya seperti itu. Dia turut berlutut dengan pikiran tidak percaya bahwa di dalam dua peti itu adalah kakak-kakaknya.
Karena, jika demikian, itu berarti...tidak akan ada lagi kakak-kakaknya yang akan memanggilnya 'Nana' di rumah. Tidak akan ada lagi kakak-kakaknya yang selalu memberikan semangat padanya. Tidak akan ada lagi kakak-kakaknya yang selalu...menyayanginya.
Perlahan, Tsunade mengangkat tangannya yang bergetar, dan meletakkannya di bahu ramping ibunya yang berguncang hebat.
"Ibu...," panggil Tsunade dengan nada lirih dan bergetar.
Tangan kecil Tsunade seperti menyampaikan jeritan pada pundak sang ibu.
Sang ibu, dengan kepala masih menunduk, menghadapkan tubuhnya pada putrinya itu. Diraihnya tangan Tsunade, lalu menariknya dalam sebuah dekapan penuh duka. Membuat Tsunade mampu mendengar isakan ibunya dengan sangat jelas.
"Ibu...," rintih Tsunade lagi yang sekarang kedua matanya sembab luar biasa oleh air mata.
Tsunade tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia hanya bisa membenamkan wajahnya dalam dekapan ibunya dan menangis sekuat-kuatnya di sana.
Dia tidak akan lagi bermain bersama kakak-kakaknya. Tidak akan lagi mendengar celotehan tentang hasil latihan mereka yang mengesankan. Tidak akan lagi berdebat dengan mereka. Tapi, dia masih menepis semua pemikiran itu!
Tsunade, juga ibunya, terkejut saat sang ayah turut memeluk mereka. Ya, keluarga itu saling berpelukan. Melampiaskan kedukaan masing-masing di hadapan dua liang lahat yang gelap. Sementara di sekitar mereka, bunyi tanah yang digali, debam tanah yang mulai menutupi lubang, dan jeritan duka yang menggema, semakin menambah pedih suasana di pemakaman juga keluarga yang sedang berpelukan itu.
Tsunade dapat merasakan kehangatan yang turut bercampur dengan kesedihan. Sebuah kombinasi perasaan yang tak berperi.
"Tuan?!" Panggil seseorang. Keluarga kecil itu tersentak. Sang ayah melepaskan pelukannya, sementara istrinya tetap memeluk Tsunade.
Tsunade mendongakkan kepala dan menatap pada tiga orang laki-laki yang masing-masing membawa sekop.
"Ya?" Sahut ayah Tsunade.
"Apa sekarang sudah boleh kami..."
"Ya, silakan saja."
Orang itu kemudian mengangguk. Dan memulai menyekop gundukan tanah di dekat dua lubang itu lalu memasukkannya pada lubang tempat peti mati kakaknya berada.
"KAKAK!" Teriak Tsunade.
"Tuan, jangan lakukan itu! Mereka di dalam sana! Mereka masih hidup!" Pinta Tsunade. Tapi, ketiga orang itu tetap melanjutkan pekerjaan mereka.
"Ibu, hentikan mereka!" Ujar Tsunade sambil menatap wajah ibunya yang masih saja menunduk.
"Diamlah, Tsunade!" Gertak sang ayah. "Diamlah..., biarkan kakak-kakakmu tenang di sana."
"Tidak! Aku tidak ingin kakak-kakakku tenang di sana! Aku ingin kakak-kakakku tenang di sini!" Teriak Tsunade sambil memejamkan matanya yang kalut.
"TSUNADE!" Gertak si ayah yang kini menghampiri Tsunade.
"HENTIKAN!" Teriak wanita yang sedari tadi memeluk Tsunade. Ayah dan anak itu berhenti saling debat.
"Kalian, tolong angkat kembali peti itu," perintah ibu Tsunade pada tiga orang pengubur.
Sang suami yang mendengarnya membelalakkan mata. Begitu juga dengan Tsunade yang tak percaya dengan ucapan ibunya barusan.
"Apa katamu?!" Tanya ayah Tsunade.
"Angkat peti itu!"
"Nyonya, tapi...," protes si penimbun.
"KUBILANG ANGKAT!"
"JANGAN!" Larang suaminya pada tiga orang penimbun itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Seru ayah Tsunade sambil menatap istrinya dengan tajam.
"Aku hanya ingin melihat wajah kedua putraku untuk terakhir kal..."
"OMONG KOSONG!" Teriak suaminya. "Lanjutkan, kalian," perintahnya pada tiga orang pengubur itu. Mereka mengangguk meski agak ragu.
Tsunade yang mendengar cek-cok mereka merasa ketakutan. Sang ibu yang menyadari bahasa tubuh anaknya itu segera saja merapatkan pelukannya sambil tersenyum singkat pada Tsunade. Tsunade tertegun.
"Apa yang kau pikirkan? Ada Tsunade di sini! Dia bisa ketakutan nanti!"
"Justru dengan itu Tsunade akan menjadi kuat!"
"Seperti itulah kau. Kekanakan!" Sembur ayah Tsunade.
"Ayah...," rintih Tsunade. "Jangan kasar pada ibu..."
"DIAM, TSUNADE!" Gertak ayahnya. "Jangan dengarkan ibumu."
"Kenapa? Aku juga ingin melihat wajah kedua kakakku untuk—"
"CUKUP!" Seru ayahnya sambil menghentakkan kakinya penuh murka.
Tsunade maupun ibunya menunduk terdiam. Sementara ketiga pengubur itu menjadi canggung untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
"Tsunade, ayo pulang!" Ujar ibunya tajam sambil menyeret Tsunade dalam cengkeraman tangannya. Meninggalkan sang ayah yang menatap murka tingkah istrinya, meninggalkan tiga orang yang sekarang melanjutkan menimbun peti itu, meninggalkan dua peti yang kini mulai terisi itu, dan meninggalkan pemakaman yang masih saja dipenuhi raungan kesedihan.
"Tapi, ibu...!" Seru Tsunade sesenggukan sambil berusaha melepaskan cengkeraman ibunya.
Sang ibu berhenti mendadak, membuat Tsunade terkejut hingga sesenggukannya terhenti, "Kumohon, Tsunade."
"Tapi aku tidak ingin meninggalkan kakak-kakakku!"
"Ibu juga, Tsunade," ujar ibunya sambil menyentak tangan putrinya itu.
Tsunade terdiam—agak ketakutan—dan ia terpaku pada wajah ibunya yang sungguh diliputi kesedihan. Tak pernah ia melihat wajah ibunya se-mengenaskan itu.
"Ibu...," gumam Tsunade dengan nada bergetar.
Sang ibu berlutut. Menghadapkan wajah sedihnya pada wajah Tsunade yang kini sejajar dengannya. Tsunade terkejut karena wajah sendu itu menampilkan senyuman lemah padanya. Kemudian, wanita di hadapannya itu memeluknya.
"Ibu akan menyelamatkanmu dari kutukan ini," bisik ibunya. "Takkan kubiarkan kau hidup sepertiku, juga seperti mereka."
Tsunade masih saja terpaku pada pelukan ibunya. Dia juga tidak paham apa maksud ucapan ibunya itu.
"Suatu hari nanti...," ujar ibunya sambil melepaskan pelukannya, "Kau akan seperti moyangmu yang sesungguhnya..."
"Ibu...," mulai Tsunade ragu-ragu. "Apa yang ibu bicarakan? Kutukan apa? Dan moyangku yang...sesungguhnya?" Katanya penuh ketakutan.
Sang ibu hanya tersenyum lembut.
"Yang ibu bicarakan adalah masa depanmu...keinginanmu, Tsunade," jawab ibunya perlahan.
"Keinginan?" Ulang Tsunade. Mendadak, tangannya menyentuh saku di celananya, tempat shuriken itu berada. Dan teringat ucapan itu...
"Dan aku hanya ingin perdamaian."
Ucapan anak laki-laki bernama...entahlah, Tsunade lupa. Ah, rupanya kesedihan telah menumpulkan ingatannya.
"Bukankah kau benci perang, Tsunade?" Tanya sang ibu sambil menatapnya lembut.
"Perdamaian dan perang..."
Tsunade membelalakan kedua matanya yang masih saja sembab. Lalu mengangguk kuat-kuat. Melihat anggukan putrinya, sang ibu semakin tersenyum lebar.
"Kalau begitu, ibu akan mendukung impianmu itu. Kau dengar?"
Tsunade mengangguk lagi.
Lalu, sang ibu mempertemukan dahi Tsunade dengan dahinya dengan wajah masih tersenyum. Tsunade terkejut menyadari wajah ibunya sangat dengan wajahnya. Semakin jelas saja wajah sendu wanita itu.
"Kalau begitu, kau jangan pernah menyerah, kau...pasti bisa," ujar ibu Tsunade.
Tsunade mengangguk lagi dan lagi. Dia tak bisa menata kata-kata apa yang harus ia ucapkan.
"Nah, kalau begitu, ayo kita pulang...," ajak sang ibu sambil menggamit tangan kecil Tsunade.
Tsunade menatap tangannya yang di pegang ibunya, lalu mendongakkan kepala. Meskipun dia melihat kedua mata ibunya masih sembab, Tsunade tak pernah bosan melihat senyuman ibunya yang selalu mengembang di setiap langkah mereka berdua menuju rumah. Bersama ditemani tenggelamnya mentari senja.
Dan setiap kali Tsunade menatap wajah ibunya, ia selalu bertanya dalam hati apakah ibunya masih sedih? Apakah ibunya sudah lupa dengan kematian kedua kakaknya?
TBC
.
.
.
Yeah! Ch.2 UP! Tapi...jauh lebih pendek. Semoga nggak apa-apa, deh!
Curhat dikit, lumayan susah buat chapter 2 nya...
Tapi, moga tetep bisa di-enjoy-in^^
Mohon reviewnya ya ^^
