Title Sederhana

Author blackpapillon

Disclaimer Spiral © Eita Mizuno and Shirodaira Kyou

Rating K+

Genre Friendship/Romance

Overall Sum Tak butuh hal-hal yang spektakuler dan istimewa untuk menikmati hidup, karena sebetulnya hal sederhana saja sudah bisa membuat kita bahagia. Semi-AU, oneshot collections. For Infantrum Black and White challenge—white.

AN (5-3-2009) Berhubungan tapi tidak berhubungan. Karena itu, jangan harap akan ada benang merah konflik dari kumpulan oneshot ini. Today's theme: Secret Joy. Apa yang terjadi kalau seseorang yang biasanya hanya meminta bekal tiba-tiba datang dan meminta diajari memasak? Kejutan. Happy White day, minna!


Hadiah Kecil

Secret Joy


-----

If men knew all that women think, they'd be twenty times more daring.

Alphonse Karr

-----

PAGI yang cerah hari ini, namun dingin. Matahari seperti bersinar malu-malu dari balik awan. Biarpun begitu, sinarnya menembus gumpalan awan-awan putih itu, membuat garis-garis sinar lembut yang tampak seperti gorden cahaya—menyinari rumah dan apartemen-apartemen lewat jendela. Jalanan tampak lengang. Pagi seperti ini memang menyenangkan dilihat sekaligus membuat malas bangun.

Tok tok tok

Tok tok tok

"Urgh..." Setengah sadar, Ayumu menggeliat di dalam selimutnya mendengar suara ketukan itu. Dengan malas ia melirik jam yang bertengger di sisi tempat tidurnya. Baru pukul 6:30 pagi. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu, sepertinya—karena ini masih sangat, sangat pagi.

Tambahan lagi, ini hari Sabtu. Sabtu adalah hari di mana kehidupan baru dimulai setelah pukul tujuh pagi, tahu! Ayumu menggerutu dalam hati. Hari libur yang jarang didapat tentu harus dimanfaatkan dengan baik, bukan? Dan bagi seorang Narumi Ayumu, cara menghabiskan waktu libur yang baik selain dengan memasak dan bersih-bersih—adalah tidur. Hei, sesekali malas tentu tak apa-apa, bukan? Pikirannya sedang begitu ruwet dan sekarang rasanya adalah waktu yang pas untuk tidur lebih lama...

TOK TOK TOK

Ah, ketukan lagi. Ayumu memutar tubuh, mencoba untuk berkonsentrasi dengan tidurnya yang terputus. Sial, gara-gara ketukan itu, dia jadi sulit tidur lagi. sebenarnya, kalau hari biasa—alias hari sekolah—dia selalu bangun lebih awal, sih. Tapi ini 'kan libur. Jadi, dia putuskan untuk tidak ambil peduli. Ia berguling lagi dan membungkus tubuhnya dengan selimut rapat-rapat—khususnya telinga. Mungkin itu tukang susu, pikirnya asal, atau tagihan koran. Atau pengantar paket. Kalau begitu biarkan saja. kalau memang iya, paling nanti mereka akan menunda dulu.

Atau bisa saja Wataya yang datang untuk menjemput Madoka-neesan? Mana mungkin. Madoka sedang dalam perjalanan tugas dan baru akan pulang hari Senin. Dan karena itu juga dia sendirian dua hari terakhir ini, membuatnya malas melakukan apapun karena kalau hari biasa, pasti kakak iparnya itu akan menyuruh-nyuruh dia untuk memasak dan bersih-bersih. Parah sekali, padahal sudah jelas-jelas dia perempuan. Dan kalau ada ketukan begini pagi-pagi, pasti—biarpun kakak iparnya itu sedang dalam keadaan santai dan menonton televisi, dengan baik hatinya wanita itu akan menyuruhnya untuk membukakan pintu.

Ngomong-ngomong, sepertinya dia jadi cukup penasaran juga siapa yang mengetuk pintu.

TOKK TOKK TOKK TOKK TOKK—

HEI!

-

-

"Na-ru-mi-SAAAAAN! Buka pintunya, dasar pemalas!"

-

-

Ah.

Sepertinya ia lupa kalau ada satu orang yang selalu setia menghancurkan hari liburnya setiap minggu.

-----

"SUDAH kuduga itu kau."

Ketukan yang tiba-tiba menggila itu benar-benar membuat Ayumu terlonjak dari tempat tidurnya. Masih memakai kaus tidurnya yang sudah butut, disambarnya jaket yang tergantung di dinding dan dengan langkah panjang-panjang cepat pergi ke pintu depan. Karena setahunya, kalau didiamkan lebih lama lagi, gadis itu bisa saja menghancurkan pintu. Dan memang hampir.

Yuizaki Hiyono berdiri dengan wajah tanpa dosa begitu pintu dibuka. "Selamat pagi, Tukang tidur! Kupikir kau sudah mati!" Sapanya riang seperti biasa. Tangannya tidak kosong hari ini. Gadis itu membawa beberapa kantung plastik, entah isinya apa.

Benar, kan, gerutu Ayumu dalam hati.

"Nyaris, kalau kau terus mengetuk dan akhirnya menghancurkan pintu rumahku," sahut Ayumu sambil menguap lebar. Ia menunduk dan mengambil kantung-kantung plastik di tangan gadis itu. "Apa ini? Oleh-oleh?" tanyanya sambil berlalu ke ruang tengah.

Mendengar nada setengah menyindir itu, Hiyono cuma nyengir. "Mungkin bisa juga dianggap begitu," katanya sambil melepas sepatu dan mengikuti Ayumu ke dalam rumah. "Ah, tapi tenang saja! Aku tak punya rencana mengajakmu keluar kali ini, Narumi-san!" ia berkata seakan-akan itu adalah suatu keberuntungan besar (dan bagi Ayumu, itu mungkin ya).

"Lalu?" Terdengar bunyi dentingan gelas sementara Ayumu menyiapkan teh. "Mengapa harus ada acara mengetuk segala? Biasanya kau tidak sesopan itu sampai harus mengetuk pintu."

Memang. Baginya, Hiyono masuk dengan cara mengetuk pintu itu janggal. Karena—berdasarkan beberapa peristiwa ke belakang—gadis cerewet itu selalu masuk begitu saja, menerobos ke kamar dan langsung berteriak untuk membangunkannya. Atau tiba-tiba saja gadis itu sudah muncul di dapur dan minum teh dengan santainya.

Atau yang paling parah: kemarin dulu, karena dia tidak bangun-bangun, menggelitikinya agar dia bangun dan mau menemani gadis itu menonton resital piano Eyes Rutherford. Kalau ingin tahu, digelitiki agar kau bangun tidur itu benar-benar sangat menderita.

Dan sepertinya makin parah saja sejak Ayumu memberikan salah satu duplikat kuncinya pada gadis itu beberapa waktu lalu—tapi, oke. Siapa suruh memberi gadis itu kunci? Jadi dia tak bisa mempermasalahkannya juga meskipun kadang ia berpikir seharusnya sesekali Hiyono ditahan dengan alasan mengganggu kenyamanan orang lain.

Mendengar pertanyaan itu, Hiyono hanya tertawa kecil. "Aaah, jangan sinis begitu, Narumi-san. Paling tidak aku sudah membantumu bangun pagi, kan?" ujarnya sembari mengambil teh yang baru saja disediakan Ayumu, dan langsung meminumnya. "Lagipula, seharusnya kau menyadari kalau aku memiliki kepentingan yang cukup serius hari ini, mengingat aku datang dengan cara normal yang amat sopan—" Ayumu berjengit mendengar kata 'sopan'. "Aku datang untuk minta tolong."

"Apa?" Ayumu hanya menjawab sekenanya, sambil melihat sekilas isi kantong plastik milik Hiyono. Beberapa kotak cooking chocolate, rasberi, susu, krim encer, tepung, walnut... Cowok itu cuma bisa mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"

Gadis berambut kecokelatan itu mengerjapkan mata. "Aku ingin diajari memasak!" jelasnya tangkas.

-

-

Giliran Ayumu yang menatap gadis itu dengan mata nyaris meloncat keluar dari tempatnya.

"HAH?"

-----

YUIZAKI Hiyono. Tujuh belas tahun, Kelas 2 Shiritsu Tsukiomi Gakuen, perempuan. Jabatan: Ketua klub Koran Sekolah—dan satu-satunya anggota. Keahlian: mencari informasi, memata-matai orang, ahli menyusup, melakukan hacking pada database server, bahkan mengambil informasi dari kepolisian. Keahlian tambahan: memainkan boneka tangan, menggunakan boneka tangan sebagai senjata, bela diri standar, dan merayu Narumi Ayumu untuk membagi makan siangnya. Hobi utama: mencari informasi dan mencuri bekal makan siang Ayumu. Hobi tambahan: menyanyikan lagu aneh ciptaan sendiri.

Benar-benar satu hal yang mengejutkan bila tiba-tiba saja gadis itu datang dan minta diajari untuk memasak. Ayumu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sejak kapan "gadis" ini jadi berlagak kewanita-wanitaan? Padahal, baru saja kemarin—seperti biasa—Hiyono memakan bekal buatannya dengan lahap. Yah, setelah berkali-kali dia kecurian bekal makan siang, akhirnya Ayumu memutuskan untuk membuat dua kotak bento saja (yang diterima Hiyono setiap hari dengan berurai air mata).

"Tunggu." Ayumu masih menatap gadis itu sangsi. "Kau serius?"

Hiyono merengut sambil bangkit dari meja dan berkacak pinggang. "Serius, dong! Memangnya kau meragukanku, ya, Narumi-san?" katanya cepat. "Aku datang ke sini dengan sungguh-sungguh, karena itu kuharap kau juga menerima dengan sungguh-sungguh!" tatapan matanya berkilat saat mengatakannya. "...Dan kuharap kau mau menerimanya karena biasanya aku yang membantumu. Iya, kan?"

"Uh—" Ayumu menarik napas, menatap Hiyono yang matanya sudah berkilauan, "aku memang sering memasak untuk diri sendiri, tapi kalau mengajari orang..."

"Apa?" suara Hiyono merendah saat mengatakan hal itu. "—Begitu, ya? Sayang sekali. Padahal aku sudah berkali-kali membantumu, lho, Narumi-san. Aneh sekali. Padahal memasak itu 'kan keahlianmu? Ah, sayang... kalau begitu... apa kusebarkan saja 'yang itu', ya?" gadis itu terkekeh dengan suara rendah sambil mengeluarkan notes saktinya. "bahwa Narumi Ayumu sebenarnya..."

Gadis itu menarik napas dalam-dalam sambil membaca kalimat berikutnya dengan gaya pidato resmi, "saat tidur di sekolah, dia pernah menyebutkan nama—"

"STOOOOOP, STOOOOOOOP!" teriak Ayumu keras-keras sebelum Hiyono membuka mulutnya lagi (beberapa detik kemudian dia baru sadar, sebetulnya tidak usah dihentikan pun tidak apa-apa. di rumah hanya ada mereka berdua, kan?). dan secepat itu juga Hiyono langsung tutup mulut, kembali tersenyum lebar, dengan aura yang...

Dan tiba-tiba saja rasanya ada kipas angin berukuran raksasa yang menerbangkan salju artifisial dengan latar belakang gunung salju di belakang Ayumu, membuat cowok itu tak kuasa menolak—tepatnya, tak bisa menolak.

"Baiklah, baiklah! Aku menyerah!" kata Ayumu, mulai capek. Heran, padahal belum ada satu jam sejak Hiyono datang. Kalau ada gadis satu ini, hidupnya benar-benar jadi berisik... dan sikap manisnya hanya muncul kalau dia ada maunya saja. Huh, dasar!

"Waaah, terima kasih, Na-ru-mi-kuuun! Kau benar-benar bijak!" sorak Hiyono dengan penuh kegembiraan dan jeritan hati penuh kemenangan. "Kalau begitu, bantu aku, ya?"

"Kalau begitu, hentikan 'Narumi-kun'mu itu. Mengerikan."

"Iya, iya..."

-----

"ADA celemek yang bisa aku pakai, tidak?" tanya Hiyono semangat. "Aku butuh benda itu—sebagai penyemangat diri sendiri."

"Ambil saja di lemari di pojok dapur, sebelah kanan bawah," kata Ayumu sambil mengeluarkan timbangan dan mangkuk besar dari lemari di sisi lain. "Karena bahan-bahan yang kau bawa itu hanya bisa dipakai untuk membuat kue, jadinya agak repot. Memangnya apa yang mau kau buat dengan bahan-bahan itu?"

"Tidak tahu!" sahut gadis itu riang, membuat kepala Ayumu hampir saja membentur pintu lemari. Dia menengok ke arah Hiyono—yang masih tersenyum dengan polosnya. "Karena aku tidak membuat persiapan apapun, jadi aku beli saja yang menurutku menarik dan membawanya kemari. Lagipula, kau pasti tahu kira-kira apa yang bisa dibuat dari bahan-bahan ini, kan?" kata Hiyono sembari membentangkan tangannya di atas lautan bahan—eh, belanjaan yang sudah dibongkar di atas meja.

"Hhhhh...." Ayumu hanya bisa menghela napas panjang. "Paling tidak putuskan dulu, dong! Memangnya begitu ya, sikap orang yang ingin belajar memasak, hah?" sentaknya galak ("jangan serius amat kenapa, sih!"—Hiyono berbalik berteriak dari dalam lemari). "Uhh... kalau begitu biarkan aku berpikir sebentar, oke? Tolong bereskan barang-barang yang tadi aku keluarkan ini."

Hiyono nyengir lebar dan melakukan gerakan hormat ala tentara. "Ba-iiiik!" kata gadis itu ceria, dan langsung bergerak. Saat Ayumu mengeluarkan mangkuk-mangkuk dan timbangan, memang ada barang lain yang harus dikeluarkan untuk mengambil barang tersebut. Karena itu, Hiyono mengambil sebuah kursi pendek. Agak berjingkat, ia naik dan memasuk-masukkan kembali barang yang tidak akan dipakai—seperti panci tekan dan pyrex.

Di sudut ruangan, Ayumu berkutat di meja makan. Tangannya memilah-milah bahan makanan yang kemarin dibeli Hiyono di atas meja. Cokelat-cokelat-gula. Tepung-walnut-jus rasberi... hmmm. Sekali waktu ekspresinya tampak berpikir keras, lalu tampak bosan, lalu tampak seperti menemukan sesuatu, lalu kembali berkonsentrasi, lalu menggaruk kepalanya bingung, lalu nyaris tertidur, lalu berpikir lagi.

Gadis berambut cokelat itu hanya tersenyum dalam hati saat memikirkan hal itu. Baginya, wajah Ayumu yang seperti itu benar-benar berbeda dibanding saat memikirkan kasus. Cowok itu memang selalu serius dalam hal apapun. Saat mencari keberadaan kakaknya, saat memikirkan kakak iparnya, saat melindunginya. Begitu banyak hal yang sudah dia lakukan—dan yang menyebalkan, cowok itu masih saja menganggap dirinya tidak berguna.

Hmmm. Padahal, ekspresi adik kelasnya itu saat sedang memikirkan masakan lucu sekali, kan?

-----

"JANGAN diaduk cepat begitu! Ini campurannya lembut, jadi harus diaduk perlahan. Per-la-han, dengan gerakan memutar seperti ini."

Hiyono cuma mengangguk-anggukkan kepala dan melakukan gerakan seperti yang dicontohkan Ayumu tadi. Namun, sepertinya dia malah mengulang gerakan sebelumnya. Ayumu membelalakkan mata ke arah gadis bermata madu itu.

"Hiiieeee, maaaaf!" Hiyono melompat menghindar dari timpukan buku memasak yang dipegang Ayumu. "Habis, aku juga 'kan memang baru kali ini belajar membuat kue! Paling tidak kau harus sedikit kompromi, Narumi-san!" katanya merajuk.

Ayumu melipat tangan di dada mendengar alasan itu. "Kau yang meminta lebih dulu, bukan? Kalau kau tidak mau serius, aku juga malas." Cowok itu menatap Hiyono galak—yang kecepatan adukannya mendadak melambat. "Lagipula... memangnya ini kali pertama kau masuk ke dapur?" tanyanya, dengan pandangan aneh campur sinis.

Hiyono angkat bahu. "Aku memang tinggal sendirian, tapi aku paling malas memasak. Kau tahu itu, kan? Aku cuma bisa buat mi instan, lalu kari instan, lalu..."

"Ya—stop." Ayumu menggerakkan tangannya malas. "Memang kau bukan tipe perempuan seperti itu, ya. Kau lebih suka mengumpulkan informasi tentang keburukan orang lain daripada membuat makanan—dan lebih suka mengambil makanan orang." Cowok itu bergumam sembari memasukkan mangkuk kosong ke dalam bak cuci. Dan tentu saja, melipatgandakan porsi bekal yang harus dibawanya setiap hari.

"Mou, kadang kau berkata lebih dingin daripada yang kukira, Narumi-san!" protes gadis itu sambil memasukkan tepung dan telur ('Ah, KAU—jangan dimasukkan sekaligus!"), lalu kembali mengaduknya, membuat gumpalan adonan. "Aku juga dulu pernah berusaha memasak sendiri. Hmmm..." wajah Hiyono mulai tampak berpikir. "Ah! Ada!"

"Kapan? Jangan bilang itu praktek PKK."

"Bukan, bodoh!" potong Hiyono sewot, membuat cowok itu tertawa kecil. "Sewaktu kecil dulu, aku pernah suka pada seorang anak laki-laki yang menjadi kakak kelasku di SD. Dia jahil sekali! Tapi, entah mengapa, aku begitu semangat menjelang hari Valentine."

Ayumu mengangkat alis. Valentine—dan cewek berisik pendulang gosip. Sungguh bukan paduan yang cocok.

Gadis itu menarik napas, lalu melanjutkan kisah masa kecilnya dengan semangat sambil menuangkan adonan kue ke dalam loyang, lalu memasukkannya ke dalam oven yang tadi sudah disiapkan Ayumu. "Aku ingin membuatkan cokelat. Klasik sekali, bukan? Beberapa hari sebelum hari itu, aku bersama teman-temanku pergi ke toko terdekat dan membeli bahan-bahannya. Kami akan membuat sendiri-sendiri... ah, iya. Rasanya senang sekali saat membuatkan sesuatu untuk orang lain."

"Lalu? Kau melakukannya, tidak?" tanya Ayumu sambil lalu, membuka botol jus rasberi dan menuangkannya dalam mangkuk. Mencampurnya dengan cornstach, dan srrt! seperti sulap, jus di mangkuk itu mengental, mengental, mengental—menjadi pasta. Pasta Rasberi. Raspberry paste. Hm, apapun. Yang pasti, aroma dari pasta yang masih panas itu menggugah hidung.

Hiyono hanya ber-Woooooow saat melihat cara cowok itu mencampur rasberi dan cornstach menjadi pasta. Pandangan mereka bertemu dan gadis itu tertawa.

"Sayang sekali, aku begitu bodoh sehingga mencampurkan cokelatnya dengan air, dan bukan mengetimnya! Jadi, cokelat yang sudah kubeli dengan uang saku seminggu itu, kandas begitu saja. Dan aku menghabiskan sore dengan mengunyah cokelat liat bercampur air!"

Mendadak tubuh tegap yang sedang mengaduk pasta itu berguncang.

Dan,

HMMMF HA HA HAKH HMMMMFFF! UHUK UHUK.

(maaf, anggap saja itu tadi suara batuk—dan tawa—yang tertahan.)

"Apa? kau mencampurnya dengan air? Jenius—" Ayumu terbatuk keras sampai harus menghentikan kegiatannya, dan memberikannya ke tangan Hiyono—memberi tanda ia yang harus melanjutkan. "—kurasa itu bukan cara yang baik untuk memulai pengalaman di dapur. Ha—"

"Huh, berisik! Biarkan saja, dong! Memang aku hanya rakyat jelata yang bodoh, tidak mengerti apa-apa, dan ceroboh, tidak seperti—" Hiyono menghela napas dalam-dalam, "Tuan Muda Jenius Narumi Ayumu yang di usia segitu sudah pandai bermain piano dan memasak sekaligus, hm? Maaf saja kalau aku tidak pandai!" kata Hiyono dengan wajah merengut, membuat Ayumu jadi ingin tertawa lagi.

"Ah." Ayumu berhenti terbatuk, "apa karena itu kau berhenti memasak?"

"Hah? Tidak juga," sahut Hiyono cepat. "Tapi memang, aku jarang, JARANG sekali memasak sendiri dengan serius—kecuali ada tujuan tertentu!"

"Lalu apa?"

Hiyono berkacak pinggang—bangga. "Tentu saja, MALAS!"

-

-

Ada gunung es patah di belakang Ayumu, jatuh ke dalam lautan lepas—BURR, dengan deburan keras. Hiyono hanya tertawa. "Ah, ovennya berbunyi!" katanya cepat, dan ia langsung berlari menghampiri oven, meninggalkan Ayumu yang sudah kehabisan ekspresi.

-----

HASIL akhirnya adalah kue.

Yup, kue Brownies. Dengan cokelat yang banyak dan aroma vanila menggelitik penciuman. Oh, dan tambahan walnut—tadi Hiyono menambahkan BANYAK walnut. Hiyono mengeluarkan kue itu hati-hati seperti sedang mengusung omikoshi emas. Ayumu mengawasi di belakangnya, dengan tatapan khawatir—bukan soal tangan gadis itu menyentuh bagian atas oven yang panas, tapi takut kuenya jatuh.

"Hmmm, sepertinya hasil ujicoba dapur pertamaku berhasil, ya?" kata Hiyono memastikan—setelah mencuil ujung kue itu dan memakannya sedikit. "Haaa, ternyata kalau dicoba bisa juga!" katanya gembira—sekali lagi, mencubit kue dan memakannya lagi. pahit, manis—aromanya pun lembut. Dalam hatinya ada banner melayang bertuliskan MISSION SUCCEED dengan tambahan kembang api. Oh, yeah.

"Paling tidak kau tidak menghancurkan dapur." Ayumu muncul di belakangnya, membawa mangkuk pasta. Hiyono tersenyum masam. "Ngomong-ngomong, kue ini mau diapakan? Mau dibungkus saja?"

"Tidak usah," kata Hiyono sambil mengambil pisau dan mengirisnya, "begini saja."

Lagi-lagi Ayumu mengerutkan kening. "Ha? Kau membuat ini untuk diberikan, kan?"

"He? Mengapa kau tahu?" Hiyono balik bertanya, "memang. Aku membuat ini buatmu, kok."

Butuh beberapa menit untuk mencerna pernyataan Hiyono.

-

-

-

"HEH?"

-

-

-

-----

SUNGGUH. Bahkan Ayumu merasa dia tak pernah merasakan hari seaneh ini. "Apa, ini buatku?" dia menunjuk kue yang sudah diiris-iris itu, dan ia mendapatkan jawaban anggukan tegas. Sekali lagi, cowok itu mendadak merasa kepalanya sakit sekaligus pusing dalam waktu yang sama.

"Hmmm... ini tanggal empat belas Maret, kan? Jadi aku harus memberikan padamu sesuatu, kan?" Hiyono mengambil piring kecil dari lemari, mengindahkan wajah Ayumu yang masih kaget. "Setidaknya, karena kau suka membuatkanku makanan, kupikir aku harus berterima kasih padamu." Gadis itu nyengir melihat ekspresi melongo cowok di hadapannya. "Hei! Setidaknya, bilang terima kasih, dong!"

Sejenak Ayumu merasa salah tingkah. "Eh—apa? Oh, ya—tapi... tunggu. Bukannya kau meminta diaajari olehku, heh?" protesnya cepat, meskipun dengan ekspresi yang masih bingung. "Ini aneh, tahu! Bukannya bodoh kalau kau meminta diajari pada orang yang justru kau beri—MMPH!"

"Memangnya tidak boleh, ya? Yang kutahu, yang paling pintar memasak hanya Narumi-san, kan?" gadis itu menjawab polos sambil menyuapkan sepotong kue pada cowok itu, seakan hal yang dilakukannya biasa saja. "Aku ingin membuatkanmu sesuatu yang enak, mengingat waktu kita berdua piknik dulu kau mengejek masakanku. Jadi, kali ini aku ingin buat sesuatu yang enak. Dan untuk itu, aku harus belajar pada yang pintar!"

Tawa Ayumu rasanya benar-benar ingin meledak. Tapi, tahan saja.

"Dasar bodoh..." Ayumu mengambil lagi sepotong kue, "ini 'kan bulan Maret?"

"Ya? Lalu?"

Tangan Ayumu terulur, menepuk kepala gadis itu—sesuatu yang akhir-akhir ini sering dilakukannya. Dilihatnya gadis itu merengut, dan ia hanya menyeringai. "Bukannya empat belas Maret itu, laki-laki yang memberikan hadiah pada perempuan, dan bukannya perempuan pada laki-laki?" tanyanya sambil memandang gadis itu lurus-lurus. "Ba—ka."

Tampak wajah Hiyono agak memerah mendengar hal itu. "Iya, aku tahu, kok!" sahutnya sambil ikut memakan kuenya, "tapi karena Februari kemarin aku tak membuat apa-apa—ah, dan karena baru awal bulan kemarin kau membuatkan bekal untukku—jadi baru aku buat sekarang! Tidak apa-apa, kan? Lagipula rasanya enak!"

"Hmmmm..." Ayumu bergumam, mulutnya sibuk mengunyah kue. "Konyol sekali. Ini sama saja dengan memakan kue buatanku sendiri...."

Empat belas Maret, ya...

"KITA, kaaaaan?" Hiyono berteriak galak, mengerutkan bibir mendengar kalimat itu, "Narumi-saaaaan! Berapa kali aku bilang kau harus lebih menghargai orang lain? Setelah kau mengalami banyak hal, kau masih belum belajar juga, kan! Hari libur itu bukan untuk disia-siakan, tahu! Bahkan madoka-neesan pun berkata bahwa kau adalah orang yang arogan, sombong, dan juga cuek pada keadaan sekitar! Lalu—"

"Aaaaah, terserah kau saja." Ayumu berbalik sambil menunduk dan membuka lemari es lagi. "Kau mau apa?"

"—bengis, sok tahu, dan—eh?" Hiyono menghentikan kata-katanya, menatap Ayumu tak mengerti. "Apa?"

"Kau mau membantuku memasak, bukan?" cowok itu menyeringai melihat mata besar Hiyono yang membulat. "Mungkin kita butuh makan siang yang agak asin karena benda ini manis sekali," Ia menunjuk kue yang tinggal setengahnya. "Kau mau apa?"

Sunyi sejenak, lalu gadis itu tersenyum lebar menanggapi. "Bagaimana kalau hari ini kita buat sukiyaki saja? Dengan daging yang banyaaak?"

"Kau serius mengatakan kalau kau ingin masakan dengan daging yang banyak? Setahuku beratmu sudah naik tiga kilo dan—ADUH!"

-

-

Pagi, hari libur, dan Hiyono. Bukan kombinasi yang bagus memang, karena setiap Ayumu bertemu dengan tiga kata kunci itu, ia selalu mengalami hal-hal aneh—kalau tidak bisa dibilang, memusingkan dan menyusahkan. Tapi kalau ditambahkan dengan kue dan kado, kesan itu mungkin bisa sedikit berubah, meskipun tetap saja aneh.

Tapi kali ini, rasanya agak berbeda.


fin


Approx. Words: 3,065

AUTHOR'S NOTES (13-3-2009)

Butuh waktu seminggu untuk menyelesaikan cerita yang ini. Timelinenya kali ini bisa mengambil waktu di sekitar volume 12-13, mungkin? Saya berpikir mungkin mereka masih punya waktu luang untuk melakukan hal-hal aneh seperti ini. (Dan tolong, singkirkan dulu Hizumi si antitesis. Hahaha.) Ide ini memang muncul duluan. Soalnya, karakter Ayumu itu bener-bener kompleks, kan? Lucu aja, liat Ayumu yang punya piercing, pintar daam pelajaran dan olahraga, dan cakep pula, pinter main piano juga, tapi arogan dan cuek bebek, dan pintar masak. Kali ini saya ingin menonjolkan sisi kehidupan sehari-hari mereka. Sosok Ayumu di manga dan anime paling keren (baca: seksi), kalau dia lagi... masak. Hihihi.

Tapi, karakternya di fic ini juga lebih berkembang—dia tidak searogan dulu, lebih fleksibel. Meskipun agak OOC karena dia tertawa sampai lebih dari sekali dalam satu hari ==3==;;, tapi lumayan lah. Seperti biasa, saya juga mengambil elemen dari manga maupun anime. Misalnya cerita waktu mereka akan nonton resital piano Eyes—Ayumu bener-bener 'ngakak penuh penderitaan' waktu itu. Hiyono juga memang suka masuk seenaknya. Soal saat Ayumu dan Hiyono piknik (dan Ayumu mengejek makanan buatannya), itu diambil dari anime episode terakhir.

Kalau soal kunci duplikat? Uhm, itu memang agak sedikit maju, sih. Itu baru muncul menjelang akhir seri manga, sebenarnya. Selain kunci rumah, Ayumu juga memberikan –piiiiiiiipspoilerpiiiiiip-, hahaha. Tapi, ngga apa lah muncul di sini. Biar nyambung aja. Begitu juga dengan Ayumu yang akhirnya membuatkan bekal untuk Hiyono, itu hanya ada di manga (animenya ngegantung, sih...).

Saya ngga nyangka bisa dapet review dari fandom ngga terkenal ini... tapi mungkin karena ini juga ikut challenge, ya. Dan dengan abalnya, saya malah belum review yang lain. Baca juga belum sempat. Sebagai pemilik challenge, harusnya saya ngasih review, ya? Hihihi. Oke, kita jawab saja sekaligus...

Kayaknya kok malah pada penasaran sama blade children, ya? Hehe. Saya juga suka kok smaa mereka. Ada rencama sih untuk bikin yang berfokus pada blade children, tapi nanti, habis ini selesai. Pada dasarnya, memang Blade children itu villain, tapi bukan juga. Karena manga ini memang sangat kompleks (dan itu yang bikin saya jatuh cinta). Karakternya berada pada zona abu-abu. Tiap orang punya sisi baik maupun buruk—dan juga rahasia. Bahkan cewek seberisik dan sepolos Hiyono, yang selalu berkata bahwa dia akan selalu berada di sisi Ayumu. (spoiler lagi... haha)

Tadinya sih mau dibikin berhubungan... tapi kok kayaknya jadi misah-misah gini? Okelah, saya mah nurut ide aja, deh. Tapi, saya pastikan bagian terakhir alias white day, akan ada mangaverse spoilers—alias ending yang bikin saya teriak-teriak kesenengan itu, haha. Dan selain itu... memang serial ini isinya bishies semua. COWOK GANTENG CEWEK CANTIK BERTEBARAN DIMANA-MANAAAAA... ahaha.

Terus...

Oke, cukup rambling saya di sini. Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon