Rasa : Membuat Bahagia
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rate : M for save,
Cast : -Haruno Sakura
-Uchiha Sasuke
-Other Cast
Warning : Sasuke agak OOC hehe, typo banyak, misstypo, penggunaan bahasa yang mungkin amburadul dan DON'T LIKE DON'T READ ajalah, aku udah peringatin lho!
So, let's read!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Aku bangun dari tempat tidurku dan segera kekamar mandi. Melihat dicermin mataku besar dan sembab, terlalu banyak menangis. Aku sangatlah sedih, mengetahui ternyata kekasihku selama ini mengkhianatiku dengan yang kutau sekertaris di perusahaan yang dipegangnya. Pantas saja beberapa bulan kebelakang,dia tidak pernah lagi mengunjungiku dengan alasan sibuk bahkan menghubungiku-pun sangatlah jarang, ternyata. Shit!
Saat aku baru saja menyelesaikan mandiku, tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Aku melangkah sedikit malas dan membuka pintu. Kudapati wajah yang tidak terlalu asing tapi sialnya dia sangat tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini, sedang berdiri didepanku dengan gaya cool. Ugh... pikiranku menjadi kotor dibuatnya, cepat-cepat aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berusaha fokus dengannya.
"Ada apa eum...
"Uchiha Sasuke. " dia memperkenalkan diri
Uchiha ya? Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil menatapnya.
"Okey, lalu? " tanyaku agak enggan, aku baru saja ingat jika dia adalah salah satu teman dekat bisa dibilang sahabat dari si brengsek itu.
"Aku menyerahkan undangan. " dia menyerahkan sebuah kertas undangan
"Siapa yang akan menikah? " tanyaku karena penasaran, seorang bos besar sepertinya harus menyerahkan undangan, oh ayolah itu sedikit tidak elit bukan?
"Buka saja! "
Ragu, aku membuka undangan itu, tubuhku lemas dan akan membentur lantai jika Sasuke tidak menangkapku. Aku begitu shock melihat nama mantanku dan selingkuhannya terdapat dalam undangan itu. Double Shit! Berapa lama sebenarnya dia berselingkuh dibelakangku?
"Aku... tak apa Uchiha-san, terimakasih undangannya. " kataku agak gagap dan melepaskan diri darinya, lalu berjalan tertatih ke sofa terdekat.
"Bodoh. "
"Maaf? " aku mendengarnya dengan jelas dia bergumam sehingga membuatku berbalik dan menatapnya
"Kamu bodoh Sakura, kamu tau keadaanmu tidak baik dan jangan berpura-pura lagi didepanku, aku tidak mudah untuk dibohongi! " katanya penuh penekanan lalu menggendongku ala bridal style menuju kamarku setelah sebelumnya menutup pintu.
Aku tak memberontak dan pasrah, yang dia katakan adalah benar aku terpukul dengan kejadian ini. Dia yang selalu aku cinta ternyata lebih busuk dari sampah dan mungkin akan lebih baik aku membagi dengannya karena dia tau hubunganku dengannya. Aku orang pendiam, jadi aku hanya punya beberapa teman itupun juga mereka tidak terlalu dekat denganku. Aku terlalu fokus mengejar impianku dan karirku serta Gara kekasihku. Salahku terlalu lupa dengan orang-orang disekitarku.
"Tidurlah, aku disini akan melindungimu! " perintahnya setelah menurunkanku di tempat tidur dan duduk dipinggirnya
"Tapi kamu bukanlah siapa-siapaku Uchiha-san, aku tidak mau membebanimu, " kataku masih duduk diranjang
"Kalau begitu jadikan aku siapa-siapamu Cherry, aku akan senang kamu membebaniku. " senyum yang jarang dilihat orang lain, dia tampilkan untukku
Seketika itu rasanya aku seperti seseorang yang sangat berarti untuknya, padahal aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu, astaga. Pria tampan memang susah ditolak.
"Jika aku salah Uchi...
"Sasuke, panggil aku dengan namaku Cherry! " potong Sasuke
"Oh baiklah, " aku sedikit terkejut ketika dia menyelaku "Jika aku salah Sasuke-san, apa kamu sedang merayuku? Mungkin jika kamu melakukannya sebelum aku patah hati ataupun bertemu dengannya, aku akan dengan senang hati membukakan hatiku untukmu. Tapi sangat disayangkan, saat ini aku sedang dalam masa pemulihan diri dari keterpurukan, jadi sepertinya usahamu akan sia-sia, "
"Tidak ada yang sia-sia di dunia ini Cherry, kamu harus tau itu. Aku akan mengobatimu, asalkan kamu membiarkanku melakukannya. "
"Obat apa Sasuke-san, tidak ada obat untukku saat ini!"
"Cinta Cherry, obat itu yang akan menyembuhkanmu dan biarkan aku melakukannya padamu. " kata Sasuke mendekatkan wajahnya dan tanpa sempat menghindar dia menempelkan bibirnya padaku.
Ciuman ini sangat lembut dan tidak terburu-buru, membuatku kehilangan akal dan membalasnya. Dulu sewaktu dengannya aku bahkan tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, perasaan yang membuat senang, melayang dan kupu-kupu berterbangan dalam perutku. Tak lama dia melepas ciuman lembutnya, membuatku sedikit kehilangan sekaligus merona mengingat bahwa tadi aku membalasnya, akupun menunduk karena malu. Jarinya menyentuh daguku dan membuatku menatapnya, tatapan yang bisa melelehkan hati setiap wanita yang memandangnya, begitu pula denganku.
"Jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa berhenti Cherry. Kamu, membuatku kehilangan kontrol dengan membalas ciumanku tadi. " kata Sasuke
"Kalau begitu jangan berhenti Sasuke-san, "
"Kun. Cherry. "
"Baiklah Sasuke-kun, " aku merona sendiri memanggilnya seperti itu
"Ini pertama untukmu kan? "
"Da-darimana kamu tau? "
"Aku tau semuanya Cherry, aku akan pelan-pelan nanti jika sakit, pukul saja aku dan jika yang kulakukan nikmat mendesahlah! " bahkan disaat seperti inipun dia masih memerintahku
"Bisakah berhenti bicara dan melanjutkan ini? Ah, aku seperti jalang sekarang! "
"Jangan berbicara seperti itu Cherry, kamu bukanlah gadis seperti itu, "
"Oh Sasuke-kun, aku merasa terhina dengan sebutan gadis yang keluar dari mulutmu, sayang, " kataku dengan nada seduktif
"Ugh, kamu membuat adikku bangun Cherry, ya ayo selesaikan ini. "
Sasuke mendekatkan wajahnya menciumku kembali, merasakan bagaimana bibir lembutnya menyentuh dan melumat bibirku juga menyentuh tubuhku. Tangannya tak berhenti merangsang tubuhku, aku mengerang dan mendesah. Malam ini, aku menyerahkan hal paling berharga yang sudah kujaga selama dua puluh dua tahun hidupku, pada seseorang yang baru kukenal namun sudah menelusup ke dalam hatiku. Ugh,... Kami-Sama, ini nikmat sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku perlahan membuka mataku ketika sinar matahari mulai menampakkan sinarnya, tadi malam adalah tidur paling nyenyak menurutnya, yah sejak putus dia sangat menyesal pernah bertemu dengan dia.
Saat aku akan duduk aku merasakan tangan besar diperutku dan kudengar lenguhan, aku menoleh kesamping. Ah shit! Kejutan di pagi hari yang indah, aku hampir saja lupa aku telah tidur dengannya.
"Pagi Cherry! " sapa Sasuke
"Eh pagi Sasuke-kun,"
Dia menatapku dengan pandangan yang ah, membuatku meleleh. Salah tingkah karena dipandangi lelaki tampan aku lalu duduk, menyadari ketelanjanganku segera kutarik selimut dan malah memperlihatkan tubuh indah Sasuke. Double shit! Tubuh kekar yang menggiurkan, aku sangat ingat bagaimana tangan dan tubuh itu menyentuhku tadi malam. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengusir pikiran mesum tentang Sasuke. Mencoba berdiri, tapi aku malah terjatuh dengan pantat yang mendarat duluan, membuatku meringis menahan sakit.
"Astaga Cherry, kamu tidak apa? " Sasuke mendekatiku dan langsung menggendongku menuju kamar mandi
"Astaga Sasuke-kun! " aku memekik dan langsung menutup mataku melihat tubuh Sasuke
"Sst... Cherry, tenanglah, "
"Sasuke-kun, kenapa kamu masuk juga? Aku malu tau! " pekikku untuk kedua kalinya karena Sasuke ikut masuk bath up yang sudah terisi air
"Ayolah Cherry, kenapa malu bahkan aku sudah melihat semuanya tadi malam, "
Setelahnya tidak ada perbincangan lagi, aku menunduk karena malu apalagi sepertinya Sasuke sedang asyik menyabuniku, kadang dia tersenyum dan serius sesekali. Dia sangat lembut, berbeda dengan pembicaraan orang-orang yang berpendapat dia dingin, arogan, pemaksa dan tidak pernah tersenyum. Tapi sejak kemarin dia memang tidak berhenti tersenyum dan sangat bahagia sekali, aku sampai tertegun melihatnya dapat begini.
"Kenapa kelihatannya kamu bahagia sekali Sasuke-kun? Sepertinya imej dingin dan arogan tidak cocok kali ini denganmu." lidahku sudah gatal ingin bertanya dan setelahnya aku terkikik melihatnya berhenti lalu menatapku.
"Hn. "
"Jawablah Sasuke-kun. " aku menuntut jawaban darinya
"Aku bahkan sudah mencintaimu sebelum kamu bertemu dengan mantanmu itu Cherry, aku begini juga hanya padamu jadi berbahagialah! " nadanya memerintahku
"Yak Sasuke-kun, menyampaikan perasaanmu-pun juga memerintahku?! Dasar Uchiha! "
"Kamu juga Uchiha, Sakura, "
"Bagaimana bisa? "
"Karena aku semalam tidak memakai pengaman, sudah saatnya kamu mengurus anak-anakku nanti! " dia memerintahku lagi
"Astaga, bahkan kita belum menikah Sasuke-kun dan kita baru kenal juga kemarin? " aku shock, tentu saja
"Baiklah, minggu depan kita menikah. " putusnya seenaknya
"Tidak bisa Sasuke-kun, menikahnya bulan depan saja, lagipula kita harus datang ke pernikahannya, "
"Kenapa? "
"Agar aku bisa menunjukkan padanya bahwa aku sudah tidak peduli dengannya lagi, sekalian pamer hehe... "
"Hn, setidaknya kita tunangan dulu minggu depan dan tidak ada tawar-menawar! "
"Aye-aye Captain, " aku tersenyum diikuti Sasuke
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author POV
"Bagaimana persiapanmu Sasori?" tanya Naruto pada lelaki bersurai merah diseberangnya
"Sudah semua, hanya tinggal menunggu harinya. " kata Sasori setelah meminum jusnya
"Kau sangat beruntung sudah akan menikah, sepertinya aku dan Hinata masih lama, "
"Kenapa? Bukankah kalian sudah tunangan? "
"Itu, menunggu kakak ipar yang lain haha... Benarkan Neji-nii?" Naruto menatap Neji sambil tersenyum
"Kalau begitu kau harus menunggu lama, karena aku dan TenTen belum ingin menikah. " kata Neji
Disamping mereka ada Sasuke yang terlihat diam saja tanpa berniat ikut pembicaraan, dia hanya menatap mereka bertiga dengan tenang. Mereka sedang berada di kafe yang mereka kunjungi, suasana kafe sedang ramai tapi tak membuatnya bising karena pengunjung lain menikmati musik jazz yang tersaji ditelinga mereka.
"Hei Teme, kenapa diam saja heh? Atau percakapan kami membuatmu tersinggung karena sampai sekarang kau belum ada pasangan? " tanya Naruto dengan nada mengejek
"Bulan depan aku menikah. " kata Sasuke tanpa tedeng aling-aling
"Jangan bercanda Teme, apa kau sudah frustrasi karena belum dapat pasangan? "
"Aku tidak bercanda, mungkin dia sedang hamil anakku sekarang. "
"Secepat itu Teme? Memangnya sejak kapan kau punya kekasih? "
"Pikiranmu Dobe! Dua minggu lebih. "
"Seriusan mau nikah? " ganti Sasori yang bertanya, sepertinya dia ikut Naruto yang masih tidak percaya
"Hn, tunggu saja undangannya kalau tidak percaya. "
Tiba-tiba pintu kafe terbuka, memunculkan seorang wanita cantik bersurai merah kuda dengan dress yang melekat sempurna membentuk badan wanita. Keempatnya memperhatikan wanita itu, ketika dia sudah memesan dia memutar pandangan mencari tempat kosong dan sayangnya hanya tempat disebelah Sasuke yang kosong, Narutopun melambai pada wanita itu.
Wanita itu lalu membalas lambaian Naruto dan berjalan mendekati mereka lalu duduk disamping Sasuke dan Sasori. Bahunya sempat menegang melihat Sasori yang berada di samping kirinya, tapi ketika dia melihat pria disamping kanannya dia terlihat kembali santai.
"Bagaimana kabarmu Sakura-chan? " tanya Naruto ceria
"Hem ya, baik Naruto. " jawab Sakura canggung
"Darimana saja kamu Sakura, TenTen menanyakanmu sudah seminggu dia tidak bertemu denganmu?" tanya Neji
"Eum, oh maafkan aku Neji, aku akan menghubunginya nanti. Seminggu ini aku sibuk dengan persiapan pesta, jadi belum sempat menghubunginya, "
Sasuke mengamati pembicaraan ketiganya, dan Sasori diam memperhatikan Sakura.
"Kamu sudah terima undanganku pernikahanku Sakura? " tanya Sasori saat mereka hanya diam, membuat Sakura menegang sebentar dan menatap Sasori yang tengah menatapnya dengan sorot penasaran.
"Aku tidak, eum... mungkin saja. " Sakura terlihat bingung
"Lalu apakah kamu sudah memilik pendamping Sakura? " Sasori terdengar meremehkan
Sasuke mendengus tak kentara mendengar nada Sasori yang meremehkan Sakura, sedangkan Sakura terlihat gelisah karena meskipun sudah ada yang menjamin dia tidak dipermalukan tapi hatinya masih sedikit sensitif dengan pertanyaan itu. Mungkin hormon juga mempengaruhi, apalagi dia belum ingi mengungkapkan pasangannya, dia semakin terlihat putus asa.
"Permisi Nona, ini pesanannya. Terimakasih! " seorang pelayan mengantarkan minuman pesanannya, menyelamatkan Sakura dari gelisah
"Ya, kembali! " Sakura tersenyum dan langsung meminum jusnya, entah kenapa tadi ketika dia ingin sekali membeli jus di kafe ini padahal dia jarang berada disini, sekarang dia tahu kenapa.
"Pelan-pelan Sakura-chan, " Naruto mengingatkan Sakura yang langsung meminum jusnya "Sakura-chan juga suka jus tomat? Woah sama dengan Teme ya? "
"Hn. " kata Sasuke
"Eum, mungkin itu bawaan Naruto, " kata Sakura setelah meminum tandas jusnya
"Memangnya kamu hamil Sakura-chan?" tanya Naruto
Ketiga pria didepannya sekilas terkejut tapi mereka hanya diam dan tetap mendengarkan. Sakura menatap Sasuke disampingnya lalu melihat Naruto didepannya, dia hanya tersenyum dan berdiri.
"Aku harus pergi Naruto, sampai jumpa semua dan oh terimakasih traktirannya Sasuke-kun! " Sakura lalu pergi setelah tanpa diketahui ketiga orang sahabat Sasuke, dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum senang.
Sasuke langsung menghadap arah lain sambil sebuah garis melengkung tercetak dibibirnya dengan rona merah yang sangat tidak kentara jika tidak melihatnya seksama.
"Jadi apa benar Sakura-chan sudah hamil, tapi sejak kapan?" Naruto bertanya pada Sasuke, Neji dan Sasori
Ketiganya kompak hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Hari Pernikahan Sasori
Aku baru saja turun dari mobil dan langsung dihadapkan pada mempelai sedang menyalami tamu yang hadir. Sasori ~mantanku~ dan selingkuhannya, eum aku lupa namanya dan tidak penting juga aku ingat. Sebelum berjalan aku mengusap perutku yang masih datar, ya aku hamil tentu saja anak Sasuke-kun.
Saat aku berjalan semakin dekat dengan pelaminan yaitu ditangganya sebuah tangan menyusup dipinggangku dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya, ugh aroma menenangkan. Seketika aku menatap orang yang memelukku dan tersenyum, lalu aku beralih menatap Sasori dan istrinya yang sedang menatapku terkejut, dengan alasan yang berbeda tentu saja.
"Ayo! " ajak Sasuke-kun
Aku menganggukkan kepala dan melangkah bersamanya.
"Selamat atas pernikahan kalian! " ucapku
"Hn. Selamat"
Sasori masih terdiam bahkan setelah menyalamiku, aku hanya tersenyum. Aku beralih menatap istrinya dan mengalaminya, diapun mengangguk takzim padaku, dia tau aku siapa dulu dihidup Sasori.
"Woah Teme dan Sakura-chan, sangat mengejutkan ya Hinata-chan? " suara cempreng Naruto menyapa kami
"Eum ya Naruto-kun, " seorang wanita cantik berada disamping Naruto berkata dengan menundukkan wajahnya
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Sasuke sambil mengelus perutku
"Ya, katanya dia merindukanmu hihi... " aku tersenyum senang
"Cih, bahkan dulu kusentuhpun kau tidak mau Sakura, tapi dengannya kau mau, apa maumu sebenarnya? " desis Sasori
Aku mendengus mendengar pertanyaan Sasori dan mensidekapkan tanganku didepan dada, memandangnya dengan remeh dan angkuh agar dia sadar dengan statusnya sekarang.
"Bukankah dulu pernah kubilang untuk melamarku atau setidaknya kenalkan aku dengan orangtuamu tidak Sasori?" aku berhenti menunggu dia menyelaku "Ah, aku ingat bukankah kamu terlalu pengecut karena tau orangtuamu tidak menyukaiku? Cih, kamu lebih memilih jalang yang dijodohkan denganmu, jadi kita impas. "
"Cherey! " Sasuke mengingatkanku
"Iya Sasuke-kun, maafkan Mama ya sayangku untuk saat ini tutup telinga dulu ya? " kataku mengelus perutku
"Tentu saja aku memilihnya, dia bisa memuaskan hasratku daripada kau wanita tidak tau diuntung! " Sasori mengumpat
"Jaga ucapanmu Sasori, atau kau mau tau akibatnya? " Sasuke hampir saja melompat meninju Sasori yang memang sudah kelewatan tapi aku menghalanginya dengan merentangkan tanganku
"Sudah Sasuke-kun! " kataku menenangkan
"Ajak pergi Sakura-chan," kata Naruto terlihat khawatir akan terjadi perkelahian, aku mengangguk dan menggandeng tangan Sasuke
"Kau tidak akan pernah tau, dia bahkan lebih baik dari imajinasimu sekalipun Sasori. Kau tidak akan pernah tau rasanya karena kau memilih dia bukan? " bisik Sasuke-kun yang masih bisa kudengar, hanya kami bertiga yang bisa mendengar dan hal itu membuatnya merona lalu segera mengajaknya pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Astaga Sasuke-kun, kenapa kamu mengatakan hal sevulgar itu? " tanyaku saat kami sampai diapartmenku, dia sedang membuka lemari pendingin dan menuangkan air dingin kegelas lalu meminumnya
"Hanya agar dia tau Cherry," kata Sasuke lalu berjalan kearahku lalu menggandengku memasuki kamarku
"Eh Sasuke-kun, ya ampun aku mau mandi jangan seperti ini! " pintaku ketika dia mulai menciumiku dengan kilat yang jelas dimatanya
"Ini hukuman untukmu Cherry! " geramnya sambil menahan hasratnya, astaga
"Ta-tapi apa salahku Sasuke-kun? " cicitku pelan karena takut melihat wajahnya
"Kamu menggunakan baju terlalu seksi Cherry, kamu akan aku hukum dan tidak ada penolakan! " perintahnya tidak terbantahkan
Akupun pasrah mendengar nada perintahnya, toh dia tidak akan meninggalkanku seperti dia. Semoga hubungan kami bertahan selamanya, ha ini nikmat selalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
FIN
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai hai readers! Menunggu sekuel ya? Haha... Curhat dikit ya, sebenarnya ini lagi dibuat tapi nunggu inspirasi datang kepadaku, oh inspirasi datanglah!
Ada yang mau usul? Hehe
Salam ketjup semuuaahhh!
Oh ya, ini bukan sekuel ya, hanya kumpulan oneshoot jadi doakan saja cerita tentang Sasuke ada sekuelnya haha...
Terimakasih
