MENANGISLAH UNTUK TERSENYUM

A Fanfiction By Kohan44

Naruto and all the characters belong to Masashi Kishimoto


Chapter 1 : Rambutku


Di bulan sakura bermekaran, di hari pertama aku dinobatkan sebagai murid SMA, hari itu aku datang terlambat gara-gara stir dan ban sepedaku bengkok terjatuh dalam perjalanan. Kacamataku retak. Aku langsung dilarikan ke UKS dibantu oleh salah seorang anggota OSIS karena mereka mengira aku terluka parah Cuma karena darah tak berhenti keluar mengotori seragamku, bahkan mereka mengganti plester yang kuganti tadi pagi dengan yang baru, kemudian mereka meningalkanku sendirian seolah-olah aku korban tabrak lari yang perlu dibiarkan istirahat sendirian. Padahal sebenarnya hanya lutut dan siku yang berdarah, sisanya hanya luka-luka kecil dari minggu lalu.

Aku datang hari ini bukan untuk berbaring di UKS. Jadi, aku menyelinap keluar mencari aula untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Upacara ini sangat penting. Meskipun bukan aku yang berpidato tapi, dengan hadir di upacara itu aku bisa mengumpulkan satu teman perempuan. Di antara mereka pasti ada yang sendirian, dan orang itulah yang akan kuajak berbicara. Tapi...

"Sakura?"

Seseorang menegur. Aku terperanjat karena kukira orang itu adalah guru atau OSIS ynag menolongku tadi. Nampaknya bukan. Aku tidak begitu yakin karena kacamataku rusak. Aku mengerut, menoleh kiri-kanan dan belakang. Tak ada siapa-siapa selain aku. Yang disapanya benar-benar aku.

Lewat sebelah kacamata yang masih utuh, aku bisa melihat kulit pucat orang itu, rambutnya pirang dan ketika matahari pagi jatuh di kepalanya, warna rambutnya berubah pudar, seperti emas. Rautnya berpendar. Apa itu juga efek matahari? Pertama kali mata kami saling tatap, dia tidak tersenyum, begitupun aku. Kami melangkah mendekat, tapi bukan untuk menghampiri. Kami berpapasan. Aku melaluinya, dan dia melaluiku. Untuk tanpa alasan, padahal sebenarnya aku punya alasan tepat untuk berhenti menengok ke belakang lalu menanyakannya dimana aula berada karena di sini aku sudah tersesat, aku malah menengoknya untuk memergoki dia tengah mengarah padaku, kemudian dia memanggil sebuah nama yang bukan milikku.

Jari telunjukku mengacung ke hidung. Dia tersenyum membalas. Senyuman yang membuat kedua matanya seperti menutup. Melihat raut begitu, aku tak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang kurasakan. Tidak pernah ada yang tersenyum begitu kepadaku semenjak aku pindah ke Tokyo.

Oh iya, aku ingat hari pertamaku sekolah di SMP, kepalaku berdarah dan orang-orang menatapku iba. Keesokan harinya, mereka mencibirku. Saat mereka tersenyum, mereka merendahkan sorot mata mereka yang membuatku salah tingkah. Tapi kali ini, aku mendapat senyuman dengan mata menyipit begitu, aku seperti... ingin ikut tersenyum. Rasanya sudah seribu tahun berlalu sejak terakhir kali aku tersenyum.

"Rambutmu seperti punya temanku." Katanya masih memberiku kemilau di mukanya. "Matamu juga cantik."

Aku mengusap-usap ujung rambutku. Itu kedua kalinya seumur hidup aku merasa senang menjadi apa adanya diriku.


To be continued...