Kuroko no Basuke and all identifiable characters and situations are created and owned by Fujimaki Tadatoshi. The author of the fan fiction does not, in any way, earn profit from the story and no copyright infringement is intended.
Di tempat yang sama, di meja yang terletak di luar kantin kampus, duduk salah satu dari delapan pemuda yang sering berkumpul di sana. Furihata namanya, dengan surai dan manik karamel yang hangat, entah bagaimana bisa tersangkut dalam pergaulan orang-orang elit dengan prestasi segudang.
Ia merenggangkan otot-otot yang kaku, merasakan rasa kantuk mulai menyerang dikarenakan jam tidurnya dikurangi secara paksa dua minggu belakangan. Mau bagaimana lagi, kalau tidak mengurangi jam tidur, maka nilai ujiannya yang akan berkurang. Tapi akhirnya dua minggu yang penuh dengan perjuangan itu berakhir juga. Dan apa kegiatan yang lebih tepat untuk merayakannya selain pergi menonton bioskop?
Tidak ada, pikir Furihata. Setelah dua minggu pusing dengan hidupnya, ia ingin duduk santai dan menonton kisah orang lain. Ia bahkan sudah melihat-lihat daftar film now showing dan menemukan satu yang cukup terkenal. Beberapa perempuan di kelasnya sudah heboh mengatakan bahwa film itu wajib ditonton.
Tidak berapa lama, Kagami dan Kuroko datang, menempati tempat berseberangan dengan Furihata. Ketiganya bertukar senyum sebelum si pemuda alis cabang menjatuhkan kepala di meja, tepar.
"Luar biasa," erang Kagami, jelas terdengar lega masa ujian sudah selesai. "Aku tidak akan menyentuh buku-buku ini lagi."
Furihata tertawa. Ia sendiri sudah melempar buku-buku kedokterannya ke kolong meja belajar, bersumpah ia tidak mau melihat buku-buku itu lagi setidaknya selama seminggu ke depan.
Kuroko tersenyum kalem, mengeluarkan novel misteri yang tidak tersentuh selama dua minggu. Meski kurang ekspresif, toh Furihata dapat merasakan kelegaan menguar dari tubuh kecil si pemain bayangan.
Matanya melebar saat mengingat film bioskop yang ingin ia tonton. "Omong-omong, akhir pekan ini kalian ada acara? Aku dengar ada film yang baru dirilis dan bagus sekali! Lihat." Ia menyodorkan ponsel agar dua temannya dapat melihat poster yang terpampang di layar.
Alis Kagami terangkat. "Ah, bukankah ini film yang kemarin kita tonton, Kuroko?"
Furihata mengerjap. "Apa? Kapan?"
"Kemarin," sahut Kagami. "Benar-benar baru kemarin, sehari yang lalu. Begitu selesai ujian yang terakhir."
Furihata menatap Kuroko, meminta kepastian. Wajah pemuda itu tampak tersipu. Ia memutar mata. Ah, rupanya kemarin dua temannya ini habis berkencan. Luar biasa, kenapa ia bisa lupa? Tentu saja mereka akan berkencan. Mereka kan pasangan kekasih.
Kemudian tanpa aba-aba ponselnya diambil oleh tangan dengan warna kulit sawo matang. Ia memekik pelan, kaget, sebelum mendelik pada Aomine.
"Hei!"
"Lihat apa sih kalian?" Manik biru gelap Aomine memicing. Sebuah pemahaman perlahan menghiasi manik itu. "Oh, film ini. Lumayan juga ceritanya."
Furihata membelalak lebar. "Kau sudah nonton?"
Aomine mendengus. "Sudah, kemarin sama Kise."
Seakan merasa terpanggil, pemuda pirang yang cantik itu muncul dengan suara nyaring yang ceria. Di antara mereka berdelapan, hanya mood Kise yang tidak terpengaruh dengan suasana kelam ujian. Bukan karena pemuda itu bisa mengerjakan semua ujian dengan lancar melainkan karena pemuda itu memang selalu ceria.
"Ada yang memanggilku-ssu?" Kise tersenyum lebar, memeluk Kuroko erat-erat sebelum duduk di samping pemuda itu. Tidak aneh karena itu memang kebiasaan Kise sejak SMP.
Aomine mengoper ponsel Furihata pada Kise. "Ini yang kita tonton kemarin, kan?"
Manik madu Kise berbinar. "Iya! Filmnya bagus sekali-ssu! Kuroko-cchi sudah nonton?"
Yang ditanya mengangguk. "Sudah."
Furihata mendengus jengkel ketika Kise mulai fanboying dengan luar biasa antusias. Ia bisa menebak pastilah Kise dan Aomine juga pergi berkencan langsung setelah ujian selesai. Ia menggerutu. Dikelilingi pasangan kekasih itu tidak menyenangkan.
Kise menoleh pada Furihata, lalu menyeringai menggoda. "Furihata-cchi belum nonton?"
Dilemparnya catatannya ke wajah Kise yang menghindar dan dengan menyesal ia menyadari buku catatannya terlalu tipis untuk menyakiti siapa pun. "Silakan pamer sesuka hati kalian."
Aomine mengambil tempat di samping Kise sementara Kagami tertawa. "Kalau kau memang butuh teman nonton, aku nggak keberatan menonton sekali lagi."
Kuroko dan Kise mengiyakan. Aomine tentu saja menolak karena ia bosan menonton film yang sama dua kali, tak peduli seberapa bagus filmnya.
Furihata menggerutu. Ia sadar tingkahnya agak kekanakan. "Tidak usah, terima kasih."
Aomine menyeringai. "Coba ajak Midorima atau Murasakibara. Mereka sepertinya bukan tipe yang sering menonton bioskop."
Memang ucapan Aomine ada benarnya, tapi Furihata keburu bergidik duluan membayangkan dirinya menonton dengan Midorima dan Murasakibara. Ia bahkan sudah merasa canggung hanya dengan membayangkannya. Yah, tapi ia rasa itu tetap lebih baik daripada menonton seorang diri. Lagipula pengemis tidak bisa pilih-pilih, kan?
"Furihata, apa kau sudah mengerjakan makalah yang harus dikumpul dua hari lagi?"
Suara Midorima terdengar dari belakang Furihata. Pemuda itu meletakkan tas di sampingnya dan tumpukan kertas-kertas di atas meja. Ia memutar mata. Mengapa Midorima selalu membawa setumpuk kertas ke mana-mana?
"Sudah, tinggal cek typo," sahutnya, reflek menahan kertas di paling atas tumpukan yang nyaris terbang ditiup angin.
Aomine mengerang. "Astaga, singkirkan barang tidak berguna itu."
Tumpukan kertas di atas meja kini ditemani bungkusan-bungkusan cemilan saat Murasakibara tiba. Meja mereka semakin penuh saja.
Ia mengambil ponselnya yang masih dipegang Kise dan menunjukkannya pada Midorima. "Hei, sudah nonton ini belum?"
Reaksi Midorima sudah dapat ditebak. Pemuda itu menatap Furihata dongkol. "Kalau punya waktu nonton, cepat selesaikan makalahmu."
Ia berdecak tidak sabar. "Ah, kan masih dua hari. Kau sudah nonton apa belum?"
"Belum."
Sejujurnya jawaban itu sesuai prediksi Aomine dan Furihata, namun anehnya jawaban itu datang terlalu cepat. Lima pasang mata menatap Midorima lekat-lekat. Kemudian Furihata membelalak shock, menyadari bahwa Midorima berbohong.
"BAHKAN KAU SAJA SUDAH NONTON?"
Midorima menyikut Furihata kasar. "Apa maksudmu? Dan sudah kubilang aku belum nonton-nodayo!"
Furihata menjulurkan badannya melewati Midorima secara paksa dan memberikan ponselnya pada Murasakibara. "Murasakibara, kau sudah nonton film ini?"
Pemuda dua meter itu melirik dengan malas. Lalu mengerjap pelan dan menoleh pada Midorima. "Mido-chin—"
Jarang-jarang wajah Midorima memerah. Ia tidak menyalahkan Aomine dan Kise yang langsung heboh. Bahkan Kagami saja sampai tersedak burgernya.
"Eeeeeh? Midorima-cchi dan Murasaki-cchi ternyata pergi berkencan-ssu!"
Furihata tertawa, dan untuk kali ini ia bersyukur ia tidak punya pasangan. Teriakan Kise itu sungguh teramat memalukan. Apalagi bagi orang seperti Midorima yang sedang sibuk mengutarakan berbagai macam alasan pada Kise dan Aomine yang tidak berhenti meledek. Murasakibara sendiri tampak bosan, tidak mengerti kenapa teman-temannya heboh.
"Apa yang aneh? Kalian kan tahu kami jadian," kata Murasakibara datar, melanjutkan memakan cemilannya yang banyak.
Kise kembali berseru girang. Midorima semakin merah. Diam-diam, Furihata merasa iri. Ia menghela napas. Sepertinya ia harus menonton film itu sendirian.
Ia bangkit dari tempat duduk dan meraih tasnya. "Kurasa aku akan pulang dan lanjut mengerjakan makalahku."
Kuroko yang pertama merespon, menatapnya dengan pandangan bersalah. "Furihata-kun, kita bisa menonton bersama kalau kau mau."
"Tidak, tidak. Kurasa aku sudah tidak mood. Sampai ketemu," gumamnya lesu, berbalik dan berjalan melewati Akashi yang baru saja tiba.
Pemuda bersurai merah itu menatap kepergian Furihata dengan pandangan aneh. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada sekelompok pemuda bersurai warna-warni pelangi.
Aomine menyeringai penuh arti. "Dia mau nonton film tapi kami semua sudah nonton. Bagaimana kalau kau ajak dia pergi?"
Alis Akashi terangkat. Ia bisa menyimpulkan kalau teman-temannya pergi dengan pasangan masing-masing. Ia menatap Midorima dan Murasakibara. "Aku terkejut ternyata kalian juga berkencan."
Midorima mendelik. "Wajah datarmu itu tidak terlihat terkejut-nodayo!"
Akashi tersenyum tipis. Kemudian ia memberikan sesuatu pada Midorima. "Ini proposal pertandingan dari Universitas Shiratorizawa. Aku ingin tim basket kita ikut jadi besok aku akan mengadakan rapat. Tolong kabari yang lain."
Pemuda berkacamata itu berubah serius, membolak-balik proposalnya dan mengangguk. "Aku mengerti, Akashi."
Sang kapten balas mengangguk. "Aku permisi dulu. Aomine jangan lupa ikut rapat besok."
Kise tampak kaget. "Kenapa buru-buru sekali, Akashi-cchi?"
Akashi yang sudah melangkah pergi, menoleh menatap Kise sesaat dan tersenyum. Lalu kembali meneruskan langkah.
Di samping Kise, Aomine bergidik. "Hei, yang saat ujian dikatakan Akashi pada Furihata itu tidak serius, kan?"
Mereka semua hening, memikirkan kejadian yang baru lewat beberapa hari itu. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Aomine. Sebab mereka semua tidak akan pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Akashi.
Dengus Midorima memecah keheningan mereka. "Itu bukan urusanmu, Aomine."
Aomine memutar mata. "Hanya merasa aneh saja. Kenapa Furihata? Dia kan seorang Akashi."
Kagami menyipitkan mata. "Memang apa yang salah dengan Furi?"
Kise dan Kuroko bertukar pandang. Agaknya mereka mendapat firasat akan terjadi pertengkaran. Cepat-cepat Kise membicarakan topik lain dengan suara keras, sedang Kuroko memecah fokus Kagami pada Aomine. Untuk sejenak, Akashi dan Furihata terlupakan dari benak mereka.
Furihata sedang sibuk berkutat dengan laptopnya di sudut perpustakaan saat seorang pemuda duduk di hadapannya. Lirikan diam-diam memberitahunya bahwa pemuda itu adalah Akashi. Jantungnya sempat berdebar gugup karena, ayolah, siapa yang tidak gugup jika berhadapan dengan pewaris perusahaan dagang terbesar di seantero Tokyo? Tapi dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. Toh Akashi pewaris atau bukan tak ada kaitannya dengan Furihata yang hidupnya biasa-biasa saja.
Maka ia tak mengindahkan kehadiran ciptaan Tuhan yang sempurna itu dan kembali fokus pada makalahnya. Ia rasa Akashi juga akan angkat bicara jika memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Entah sudah berapa lama Furihata di sana, memeriksa ejaan makalahnya yang sudah nyaris membuatnya juling. Hanya satu dua kali ia mengecek apakah Akashi masih ada dan pemuda itu tidak pernah menghilang. Duduk diam membaca buku dengan judul bahasa asing yang tidak dimengerti Furihata. Barulah ketika bahunya mulai terasa pegal, ia berhenti untuk merenggangkan tubuh. Saat itulah Akashi mengulurkan botol air mineral yang masih disegel padanya.
Ia mengerjap menerima tawaran itu, dalam hati bertanya-tanya kenapa ia tidak sadar Akashi pergi membeli minum. "Terima kasih."
Jawaban Akashi hanya seulas senyum tipis.
Ia meraih ponsel, terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul enam kurang sedikit. Sudah nyaris empat jam ia di sana!
"Apakah sudah terlalu malam untukmu?"
Ia mengangkat kepala dari ponsel, tersenyum canggung. "Ah, tidak. Aku hanya kaget ternyata sudah berjam-jam aku di sini."
Manik merah Akashi terlihat geli. "Tadinya aku ingin memberitahu, tapi kau serius sekali sampai aku tidak berani mengganggu."
Wajahnya memerah malu. Ia benar-benar bertingkah kekanakan. Membereskan barang-barangnya, ia berkata, "Yah, kurasa sudah waktunya pulang."
Dirasanya tatapan Akashi padanya semakin intens. Seakan ada yang ingin disampaikan oleh pemuda itu. Maka ia pun bertanya, karena tidak tahan dengan suasana canggung dan kaku yang mengudara.
"Kudengar ada film yang ingin kau tonton."
Sorot mata Furihata berubah jengkel. Pastilah para pemuda dengan rambut pelangi itu yang memberitahu Akashi. Ia menggerutu. "Tadinya begitu, tapi semua sudah menonton sendiri-sendiri. Aku jadi malas."
Lagi-lagi Akashi terdiam, manik merah gemilang masih terpaku pada Furihata. Bukankah pemuda sempurna itu bertingkah sedikit aneh? Atau hanya perasaan Furihata saja?
"Aku belum menontonnya, film itu."
Furihata mengerjap. Otaknya yang sudah empat jam melihat istilah-istilah kedokteran membuatnya agak sulit memproses kata-kata manusia pada umumnya. "Ah!" serunya saat menyadari maksud pemuda bersurai merah itu. Manik karamelnya berbinar penuh harap. "Sungguh?"
Akashi tampak terpana, sebelum kemudian tersenyum memikat. "Mau pergi nonton bersama?"
Furihata bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawab.
"Mau!" tukasnya antusias. "Mau, mau, mau."
Akashi tertawa, dan Furihata seolah diingatkan kembali betapa sempurnanya paras Akashi. Ia menoleh ke samping dengan wajah merona. Memasuki semester ketiga bergaul dengan Akashi kadang suka membuatnya lupa kalau lelaki itu sangat mempesona.
Diam-diam diliriknya Akashi yang rupanya telah bangkit berdiri. Senyum meledek terpatri di wajah tampan itu.
"Kenapa wajahmu merah?"
Spontan ia menutupi wajahnya dengan punggung tangan. "T-Tidak merah!"
Senyum Akashi melebar, memberi isyarat agar mereka keluar dari perpustakaan. Furihata menggerutu dalam hati, mengikuti Akashi. Kalau ia yang laki-laki saja berdebar-debar melihat senyum Akashi, bagaimana dengan yang perempuan? Hah, pantas saja Akashi punya klub penggemar. Rasa-rasanya ia juga nyaris fanboying hanya dengan melihat senyum itu.
"Hei, Akashi," panggil Furihata. Akashi menoleh dengan pandangan bertanya. "Kau harus lebih sering tersenyum."
Sejenak pemuda itu tampak agak kaget dengan ucapan random itu. Tapi kemudian senyum itu muncul lagi. Manik merah mengunci manik karamelnya.
"Begitu kah? Kalau begitu kau harus sering-sering menghabiskan waktu denganku."
Furihata mengerjap. Apakah Akashi jarang tersenyum karena pemuda itu jarang berkumpul dengan teman-teman? Memang aneh juga sih kalau senyum-senyum sendiri. Awalnya ia kira sifat dingin Akashi itu disengaja, ternyata bukan ya?
Furihata balas tersenyum lebar. "Baiklah."
Akashi diam sejenak, hanya menatap Furihata dalam-dalam. Entah kenapa Akashi punya firasat lagi-lagi Furihata salah menangkap maksudnya. Tapi ya sudahlah. Toh Furihata berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Akashi. Hal sepele yang entah mengapa membuat hati Akashi terasa hangat.
TBC.
Yah, dengan di update nya cerita ini menandakan TFIOS sudah tamat. Terima kasih atas dukungannya. Mohon bantuannya lagi untuk multichap KENCAN ^^ Jadwal update diusahakan setiap Selasa. Sampai jumpa Selasa depan!
Terima kasih telah membaca! ^^ *bows*
