Taehyung selalu suka langit menangis, namun malam itu ia membencinya kuat sekali.

Saat mata sahabatnya melihat kegiatan kotornya- yang sama sekali tidak ingin Jungkook dengar alasan apapun- tidak ingin, atau bahkan tidak bisa melihat kearahnya.

Setelah tau bahwa itu Jungkook, sahabatnya, mereka berhenti. Jimin berusaha melepaskan diri dari tautan yang terjalin, dan memakai baju seadanya dan melenggang pergi, meninggalkan dua manusia yang ia tidak paham kenapa seperti orang yang siap tempur.

Jungkook tidak sedikitpun bergerak dari ambang pintu kamarnya, menatap nanar ruangan nista kegiatan pengkhianatan yang dilakukan sahabatnya. Ruangan nista yang sebelumnya ia suka untuk tidur- dan melakukan segalanya. Namun malam itu, Jungkook bahkan mual untuk melangkah lebih jauh barang satu centi.

Aroma khas hanya membuat perutnya berputar, saat ia harus menelan pahit fakta, Jimin bekas sahabatnya sendiri.

Saat Taehyung telah berpakaian seadanya- hanya bertelanjang dada dan menggunakan boxer hitam- ia tahu mereka harus bicara, bukan di kamar ini, karena ini tak lagi jadi tempat main mereka lagi mulai detik saat Jungkook melihatnya bermain.

Mereka di sofa, dalam keadaan remang karena cahaya hanya ada dari bulan, dengan alasan Jungkook yang bilang-

"Jangan nyalakan lampunya, wajah jelekmu hanya membuatku ingin menonjokmu habis."

Seharusnya mereka bisa tertawa, seperti biasanya saat Jungkook melayangkan lawakan garingnya. Namun Taehyung hanya merasa takut kala itu, karena Jungkook murka.

Sudah dikata, seharusnya hujan di malam itu beserta bau petrichor yang menyenangkan- seharusnya- membuat mereka bergelung dibalik selimut, membuka mata dan bercerita apa saja dan berbahagia atas datangnya hujan, tapi tidak.

Kedua sahabat itu membenci setiap tetes air yang jatuh malam itu.

Taehyung suka langit menangis, bukan Jungkook menangis.

Jungkook laki-laki dan menangis bukan hal yang sepatutnya, menangis untuk Jungkook dalam arti karena ia sudah tidak bisa, merasa semua ini sia-sia.

Karena detik ia tahu Taehyung berkhianat untuknya, ia hanya ingin satu cara agar lupa ingatan dengan seluruh kenangan keduanya.

Ingin ia menjambak rambut yang dijambak Jimin tadi, ingin ia menonjok pipi yang Jimin sentuh tadi, ingin ia merobek bibir yang dicium Jimin tadi, ingin ia patahkan leher yang Jimin peluk tadi- ingin ia lakukan semuanya, namun tidak bisa karena hanya sebuah alasan- itu Taehyung, sahabatnya.

Yah, mantan sahabat. Karena alasan sahabat dari pikirannya juga seharusnya membuat sahabat tololnya itu tidak begini terhadapnya.

"Kook, aku mabuk."

Taehyung memulai, tangannya terkepal keras ingin memeluk Jungkook di seberang sofa, sesekali kedua telunjuknya saling bertaut dan lepas lagi lalu mengepal kembali, tipe Taehyung saat merasa bersalah.

"Lalu kau sudah sadar saat ini? Oh ya Tuhan, terimakasih!"

Jungkook mulai tidak rasional, otaknya masih mencerna bagaimana kedepannya.

"Tadi aku dan dia mabuk-"

"Dia siapa? Katakan padaku, siapa dia?" Potong Jungkook cepat, matanya mencari hazel mantan sahabatnya dalam kegelapan, namun nihil, karena Taehyung menunduk sempurna.

"Jimin, Park Jimin."

Suara Taehyung yang biasanya luar biasa jantan, saat itu seperti anak kucing yang mengeong kecil.

Jungkook tertawa kecil, menggigit pipi dalamnya karena menahan agar tidak berteriak dan menerjang manusia diseberang sana dan berkata "Itu Park Jimin-ku! Dasar kau bodoh! Alien tolol!"

Suasana mencekam dalam kegelapan itu masih bertahan, Jungkook tidak bisa bicara lagi selepas Taehyung menyebut nama pujaan hatinya dengan cicitan lemah, setidaknya Taehyung sadar bahwa lelaki yang berapa menit lalu dibawahnya adalah Park Jimin, yang selalu jadi pujaan hatinya dalam diam.

"Ada yang ingin kau bicarakan lagi?" Karena Jungkook merasa hanya ingin pergi sebelum ia membabi buta menghancurkan segalanya.

"Tidak- dengar- maaf, Jungkook-ah, aku minta maaf."

Taehyung berjalan kearahnya dalam kegelapan, mencoba mencari tubuhnya untuk dipeluk, namun ia sudah terlampau jijik dengan tangan yang sudah bermain jauh dengan pujaan hatinya. Jadi ia menepisnya, kasar.

"Kau pikir, kau bisa menyentuhku seperti biasa Tae? Kau pikir tangan kotor itu bisa memelukku lagi dan berlagak menenangkanku Tae? Hah?!" Jungkook berteriak, kedua kalinya ia berteriak pada Taehyung. Pertama kali, saat Taehyung dengan bodoh menggoreskan pecahan beling ke tangannya sendiri saat orang tuanya bercerai.

"Maaf, Jungkook. Jangan- jangan marah, jangan marah padaku, aku tidak punya siapapun lagi, jangan marah- kau sahabatku-"

Jungkook terkekeh ganas, dan Taehyung yang tampak luar biasa butuh, butuh Jungkook karena Jungkook hanya satu, satu-satunya yang ia punya.

"Sahabat macam apa, kutanya, sahabat macam apa- yang tau dengan jelas bagaimana perasaan konyol sahabatnya berapa tahun terakhir dan malah memperkosa- Taehyung astaga- kau bermain dengan Jimin dan aku, aku melihatnya!"

"Dengan bodoh kemarin-kemarin aku bercerita hal-hal kotor yang ingin aku lakukan pada Jimin, ternyata kau duluan yang mencobanya, kau- hebat."

"Kau pasti luar biasa puas kan?"

"Jimin luar biasa cantik dan mempesona, kau pasti puas, ya?"

"Kalau dengan alasan mabuk bisa membuatnya ada dibawahku dan mendesahkan namaku, aku rela mabuk setiap malam."

"Sudah mabuk dan mendapat jackpot Jimin ada dibawahmu, benar-benar lupa diri kau pasti."

Mulutnya tidak dapat berhenti ingin menusukan ribuan kalimat kemarahannya.

"Sudahlah- ini tidak berhasil. Aku muak padamu, pada pertemanan kita, ini sampah."

Dan Jungkook tidak pernah kembali untuk sekedar bermain dengan Taehyung, lagi.

Taehyung sendirian.

.

.

.

.

.

TBC

Ya jadi flashback nya dulu y, semoga berhasil menghantarkan feelnya, tapi ky gagal gitu yha karena aku usaha buat nyari kata yang tepat buat tegasin bahwa mereka masih(?) sama laki- dalam arti seme y gengs:) bener deh biar kurang minat asal ada yg nunggu mah tbc aja dulu, masih ada yg nunggu love fighter y? Sip dilanjut bisa kok:) ehe.

Review gaes!