Disclaimer: Saya tidak meng-claim character dari Naruto maupun Kuroshitsuji, saya hanya meminjam beberapa character dari keduanya.
Terima kasih kepada Femix842, Vilan616, Do7Agares untuk meluangkan waktunya memberi votingan dan me-review.
Hasil voting sementara:
1. Sebastian Naruto (1)
2. Kakashi Naruto (0)
3. Kurama Naruto (1)
Votingan masih berjalan, jadi kalian bisa terus voting pasangan yang cocok. Dan kalian juga bisa mengusulkan pairing lain yang menurut kalian cocok, tapi diutamakan 3 pilihan itu ya hehe. Dan untuk usulan pairing antara Kurama dan Ciel masih dipertimbangkan karena alasan umur yang sangat jauh wkwkwk. Tapi tenang, akan kutampung. Kalau memang banyak yang setuju Ciel x Kurama, ya akan ku masukkan mereka berdua. Dan untuk usulan Naruto menjadi adiknya Ciel akan ku pertimbangkan juga, tetapi aku suka dengan usulannya. lol
Warning: pertarungan berdarah, yaoi/shounen-ai yang tidak suka kedua itu lebih baik kalian pergi. lol Dan yang suka enjoy the show!
Sebastian menggotong tubuh penyusup tersebut dengan mudahnya, membawanya ketempat kerja dimana tuan mudanya berada.
"Tuan muda?" Mengetuk pintunya pelan dan membuka pintu sesaat setelah mengatur posisi gendongannya agar bisa memegang ganggang pintu.
Ciel, yang melihat Sebastian telah kembali bersamaan dengan penyusup tersebut langsung berdiri dari tempat duduknya, mendekati mereka berdua. Mata biru sapphirenya menatap tubuh lunglai penyusup tersebut yang di senderkan oleh Sebastian di tembok. Jika melihatnya lebih dekat dengan rambut yang sangatlah familiar membuatnya mengingat akan anak berambut pirang dan menjengkelkan itu. Hanya saja orang ini memiliki warna rambut yang lebih terang dengan tanda aneh di kedua pipinya.
"Bukankah dia terlihat seperti rubah, tuan muda?" Tanya Sebastian tiba-tiba membuyarkan renungannya.
Ciel mendelik tajam kearah Sebastian yang hanya membalas dengan seringainya. Berdecak kencang, dengan jengkelnya dia menusuk perut penyusup tersebut dengan tongkat tengkorak yang selalu dia bawa. "Tidak lucu sama sekali." Ciel berkata.
"Tentu saja, tuan muda." Jawab Sebastian dengan geli.
"Apa yang akan kita lakukan dengannya?"
"Bukan kita tapi dirimu, Sebastian. Aku ingin dirimu mengetahu bagaimana dia bisa masuk kedalam mansion tanpa sepengetahuan orang lain (Termasuk demon seperti dirimu) dan motif apa dia masuk kesini. Mengerti?"
Membungkukkan badannya dengan tangan kanan berada di dadanya, Sebastian berkata. "Baik, tuan muda."
Sebastian mengangkat kembali orang tersebut dan membawanya ketempat kamar untuk tamu. Dibaringkannya dia diatas kasur.
"Hmm.." Sebastian mengamati orang itu sebelum melihat jam lipatnya. Menghela nafas panjang. "Sebaiknya aku bersiap-siap untuk membuat makan malam." ucapnya, berbalik arah dan keluar dari ruangan tersebut.
~Skip~
Merasakan wajahnya terasa basah dan sakit? Shikamaru tersentak bangun dan melihat seekor anjing labrador hitam berada sangat dekat dengannya. Jika saja dia bukanlah seorang ninja mungkin saat ini juga dia sudah berteriak layaknya perempuan.
"A-anjing.." Shikamaru mendorong anjing itu dari wajahnya dan bertumpu pada gerobak untuk membantunya berdiri. Dia melihat sekelilingnya menyadari jika dirinya berada di tempat yang tak dikenal. Begitu banyaknya orang asing dengan pakaian yang aneh berlalu lalang, beberapa dari mereka melihat dirinya dengan aneh sebelum memalingkan wajah dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Naruto.." Dia mengingat dimana tiba-tiba saja sebuah pusaran hitam muncul dan menghisap Naruto. Shikamaru dan lainnya yang melihat hal itu mencoba menolongnya sebelum ikut terhisap kedalam pusaran tersebut, mungkinkah pusaran itu mengirim mereka ketempat yang berbeda-beda? Jika hal itu memang terjadi.. Yang ada dipikirannya saat ini.
"Mendokusai ne.."
~Skip~
"Mistaah.. Mistah bangun. Mistah belum mati kan?"
Seseorang mengguncang-guncang tubuh Kakashi membuatnya tersentak bangun. Mata yang tak ditutup oleh bandana? (hitai-ate) terbelalak lebar mengagetkan seorang anak kecil yang tadi saja berusaha untuk membangunkannya.
"O-oh.. syukurlah aku kira dirimu sudah mati." Anak itu berkata terbata-bata sambil mengusap dadanya, mencoba menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang.
Kakashi memiringkan wajahnya, menatap anak itu dengan bingung. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan olehnya. Memalingkan wajahnya dari anak tersebut, dia melihat keadaan sekitar dan tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat mendapati dirinya berada di daerah yang asing. Dia berada di pinggir jembatan panjang dan banyaknya benda aneh bergerak melewati jembatan panjang.
"Oh tidak.." Bisiknya
"Mistahh, apa yang kau katakan?" Dan bahasa yang tak dapat dia mengerti lagi..
Dia berada ditempat asing, bahasa yang tak dapat dimengerti, benda asing bergerak dan dia pun tak mengetahui dimana yang lainnya berada! Ternyata misi ini lebih.. Apa yang biasa Nara katakan?
"Ah.. Mendokusai." Kakashi menghela nafas panjang.
"Ya, mistah?"
~Skip~
Sasuke merasakan sebuah tangan menggapai-gapai bajunya membuatnya dengan spontan mencengkram tangan orang itu dan membuka matanya. Sharingan terlihat berputar dengan cepat, menatap tajam kearah pelaku yang.. entah mau ngapain itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya dengan geram.
Orang itu menarik tangannya kuat dari cengkramannya sampai jatuh terjungkal kebelakang. Wajahnya terlihat begitu pucat dan badannya gemetar hebat, Sasuke dapat mengira jika orang ini akan pingsan ditempat sebentar lagi.
"De-De.."
"Hn?" Sasuke menatap aneh dan berdecak kencang. Bertumpu pada lututnya, dia berdiri dengan goyah, mencoba mendapatkan keseimbangan. "Berbicaralah yang benar.. Kau tahu berada dimana aku saat ini?" Ucapnya dingin.
Orang itu langsung tergesa-gesa berdiri saat dirinya medekat dan lari sekuat tenaga mencoba melarikan diri.
"Ohh.. Tidak secepat itu." Sasuke dengan gampangnya mengejar orang tersebut dan menyudutkannya dengan kunai yang berada di kedua tangannya. Wajahnya mendekat, memperlihatkan lebih jelas sharingannya. "Kau tidak mendengarku tadi? Aku bertanya dimana aku berada saat ini?"
"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan! Tolong jangan bunuh aku!!" Teriak orang itu menggunakan bahasa asing. "Tolong! Siapapun tolooong!"
"Tsk.. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Berisik sekali." Geramnya, mencengkram kerah baju orang tersebut menariknya dengan paksa sebelum mendorongnya kuat. "Tidak berguna."
Tergesa-gesa laki-laki itu berdiri dan dengan cerobohnya berlari menjauh. "Demoon!! Tolong akuu!"
"Berisik sekali. Mengingatkan aku dengan si bodoh itu." Gumamnya jengkel.
Sasuke berjalan melewati gang-gang dan berhenti saat melihat begitu banyaknya bangunan tinggi dan besar berjajar disekelilingnya.
"Dimana ini?"
~Skip~
"Sakura-san.. Sakura-san, bangun."
Sudah hampir 5 menit Sai mencoba untuk membangunkannya, tetapi tak membuahkan hasil sama sekali.
Sesaat setelah dirinya terbangun, Sai memutuskan untuk berkeliling. Dia berada di sebuah bangunan yang begitu besarnya melebihi bangunan yang lain. Dia pun melihat jam besar menyatu dengan bangunan tersebut. Tak cukup untuk menghilangkan rasa penasarannya, Sai membuka scrollnya dan mulai membuat seekor burung. Burung tiruan tersebut terbang keluar dari scroll dan terbang menjauh.
Setelah itu, Sai memutuskan untuk kembali saat tiba-tiba matanya menangkap perhatiannya langsung.
Begitulah ceritanya.. Dan sampai saat ini Sakura tak kunjung bangun juga. Tetapi, ada satu cara di pikirannya saat ini.
Sai berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Dia mengamati wajah terlelapnya beberapa saat sebelum mengambil nafas sebanyak mungkin sebelum mengeluarkannya dengan perkataan.
"Sakura!!"
Setelahnya, dia mendapatkan tinjuan kuat pada wajahnya hingga badannya terpental jauh. Darah mengalir dari kedua hidungnya. Dia melihat kesampingnya dan mendesah sedih.
"Makanan yang kuambil.." Sai meraup remah-remah roti yang baru saja dia ambil dari gerobak saat melihat begitu banyaknya orang-orang yang berdatangan. Dia bermaksud untuk memakannya tetapi melihat keadaan yang seperti sungguh tidak meyakinkan. Dan yang ada dipikirannya saat ini adalah..
"Seharusnya aku tidak berteriak dihadapan perempuan yang sedang pingsan."
~Keesokan Harinya~
"Tuan muda, saatnya bangun." Sebastian membuka jendelanya lebar-lebar, membiarkan cahaya masuk kedalam ruangan. Setelah itu, dia menuangkan secangkir teh kedalam gelas.
Ciel menghalangi matanya dari sinar matahari dengan tangannya dan mengerang pelan.
"Hari ini, sarapan pagi telah disiapkannya bacon, telur mata sapi dan macaroni. Untuk makanan pendampingnya ada roti paggang, scones, dan muffin. Mana yang anda pilih?" Ucap Sebastian.
"Scone." Jawab Ciel membiarkan Sebastian memakaikan baju padanya.
Sebastian memberikan tehnya sesaat setelah dipakaikannya baju.
"Bagaimana keadaan tamu kita, Sebastian?" Tanyanya.
"Belum ada kemajuan. Dia masih tak sadarkan diri saat aku mengeceknya tadi." jawab Sebastian, tangannya yang dengan lihai memakaikannya dasi.
Ciel beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang makan. "Ada berita apa hari ini?"
Sebastian meletakkan makan paginya diatas meja yang setelah itu memberikan koran pagi kepadanya. "Kegemparan terjadi pada semua warga saat beberapa dari warga menceritakan jika mereka melihat orang yang muncul entah dari mana. Dan itu berada di tempat yang berbeda-beda, salah satu dari mereka pun mengatakan jika dia menghadapi seorang anak laki-laki yang memiliki mata merah dengan bola mata yang aneh, dan dia pun mengatakan jika anak itu terlihat seperti demon."
"Demon.. huh?" Ciel mengecap kata-kata tersebut dari mulutnya dan menyeringai lebar. Menaruh korannya diatas meja dan memulai memakan sarapannya. "Bukankah terlihat menarik Sebastian? Mereka muncul disaat bersamaan dengan kemunculan penyusup ini dirumah kita."
Sebastian menatap Ciel dari sudut matanya. "Jadi apa yang akan dirimu lakukan, tuan muda?" Tanyanya.
"Untuk saat ini kita hanya akan menunggu sampai orang itu tersadar."
~Sementara itu~
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memijat pelipisnya yang tak dapat berhenti berdenyut. Ditarik tubuhnya dengan sekuat tenaga agar dapat bersender pada pinggir kasur dan menghela nafas panjang. Dia melihat sekelilingnya, menyadari jika hanya dirinyalah yang berada disini.
"Akhirnya memutuskan untuk bangun, Naruto?"
"Kurama!" Naruto tersentak kaget, meneggakkan badannya hingga terduduk. "Apa yang terjadi? Kau tahu kita berada dimana? Bagaimana dengan yang lain?"
"Banyak pertanyaan bukankah dirimu? Kita terhisap oleh pusaran aneh dan temanmu itu mencoba menyelamatkanmu yang oada akhirnya mereka ikut terhisap. Aku tidam tahu kita berada dimana, karena aku juga baru saja terbangun 5 menit yang lalu. Dan aku pun tidak tahu dimana teman-temanmu berada, tetapi aku dapat merasakan chakra dari salah satu temanmu yang memiliki rambut seperti nanas. Walaupun terasa lemah."Naruto mendengus geli, "Maksudmu Shikamaru? Kalau begitu Shikamaru berada tak begitu jauh dari kita berada saat ini. Haruskah aku mengirim Gamakichi padanya?"
"Tidak. Sebaiknya kau memanggil rubah-rubahmu dan gunakanlah mereka untuk mencari teman-temanmu yang lain." Kurama menanggapi.Mengangguk menyutujui tanggapan dari demon tersebut. Dia membuat segel dengan tangannya dan berkata dengan lantang.
"Kuchiyose no jutsu: Kitsune!"
4 kitsune dengan ukuran normal seperti rubah biasanya muncul dihadapannya. Mereka menundukkan kepalanya hormat dan menyalak pelan.
"Aku ingin kalian menemukan teamku. Kalian mengenal Kakashi-sensei, Sasuke, Sai dan Shikamaru, bukan? Bagus. Cari mereka semua, jika mereka berada di tempat yang berbeda-beda cobalah untuk menyatukan mereka terlebih dahulu sebelum menemuiku. Mengerti?" Perintah Naruto.
Mereka menyalak padanya sebelum menghilang dari pandangan.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang, Naruto?"
"Selagi menunggu yang lainnya, aku akan meluangkan waktu dengan mengecek rumah ini." Jawabnya, beranjak dari tempat tidur. Naruto mengabaikan jaket dan bajunya yang telah bercampur dengan darah, tangannya menggapai ganggang pintu saat tiba-tiba sebelum dia menariknya terbuka pintu tersebut terbuka duluan dari arah luar, membuatnya secara spontan memundurkan badannya dengan tangannya berada di kantung celana. Memegang erat kunainya.
"Ah maaf aku sudah mengagetkanmu. Selamat pagi, perkenalkan namaku Tanaka, tuan muda sudah menunggu anda diruang makan." Ucap seorang pria paruh baya dengan rambut abu-abu dan memiliki kumis. Dia memakai jas hitam dan sarung tangan putih.
Dengan canggung Naruto menatap pria paruh baya itu, dia tak mengerti apa yang dikatakan orang tersebut. "Ano.. Aku tak mengerti apa yang kamu katakan, oji-san." Naruto menggaruk kepalanya.
Kakek-kakek itu terlihat terkejut dan mengangguk mengerti. Dia mencobanya lagi dan kali ini dengan bahasanya.
"Oh! Baiklah. Antar aku kesana, oji-san!" Ucap Naruto.
Tanaka mempersilahkannya untuk keluar dari kamar dan membimbingnya menuju tempat.. Siapa tadi? Tuan muda? berada. Dia penasaran mengapa kakek ini sampai memanggilnya tuan muda.
'Misi ini semakin menarik, bukankah begitu Kurama?'
"Hmph." Dengkuran dalam terdengar, dia dapat merasakan jika Kurama menyeringai lebar saat ini. Oh- Sepertinya Kurama terlalu menikmatinya.
Akhirnya mereka berhenti didepan pintu. Tanaka memberikan intruksi untuk menyuruhnya menunggu dan mengetuk pintunya pelan.
"Tuan muda, tamunya telah terbangun..."Suaranya terendam saat pintunya tertutup dari dalam.
Naruto merasa tidak nyaman secara tiba-tiba, persis sekali seperti dirinya saat sedang menghadapi Madara saat itu. 'Apa kau merasakannya juga, Kurama?' Tanyanya. Siapa sebenarnya tuan muda ini?
Kurama tidak mengatakan apapun sampai pintunya kembali terbuka dan Tanaka mempersilahkannya untuk masuk.
"Tuan muda sudah menunggu anda." Ucapnya.
Naruto melangkah masuk dan tak dapat menyembunyikan rasa takjubnya saat melihat kedalam ruangan tersebut. Dia tak dapat mengira betapa megahnya ruang makan ini, berbagai banyak hiasan mewah terpanjang rapi didinding. Ditengahnya terdapat meja panjang dan besar dengan terdapat kain putih menutupi meja tersebut. Gelas, garpu, sendok dan piring tersusun rapih diatasnya.
Naruto secara spontan bersiul takjub, menggelengkan kepalanya. "Kau melihat ini, Kurama?" Dia tak menyadari telah mengatakannya secara lantang, membuat orang yang berada didalamnya terkejut dengan perkatanyaannya secara tiba-tiba.
"Bodoh! Baru pertama kali sudah membuat perhatian banyak orang." Kurama menepak kepalanya dengan salah satu ekor 9nya.
"Ahem.."
Naruto dengan terkejut berbalik arah dan menatap seorang anak kecil bermata biru dan berambut biru tua. anak itu memakai penutup mata berwarna hitam di mata kanannya. Disebelah anak itu terdapat seseorang yang memiliki postur badan yang tinggi, rambut hitam, mata merah, dan kulit pucat. Dia menggunakan pakaian pelayan, yang terdiri dari celana panjang hitam, enam tombol double-breasted jas berekor, dan rompi abu-abu.
"Naruto aku tidak suka dengan orang yang baju hitam itu. Menjauhlah dari dia kalau bisa!" Geram kurama.
"Selamat datang di mansion Phantomhive. Nama saya Sebastian Michaelis sebagai ketua pelayan. Saya sudah menyiapkan makanan untuk anda jadi silahkan duduk." Ucap Sebastian tersenyum dengan ramah.
'Tenanglah Kurama, aku juga dapat merasakannya.' Ucap Naruto mencoba menenangkannya. Dia takut seperti waktu itu dimana kurama kehilangan kendali atas kekuatannya yang mengakibatkan hampir meruntuhkan desa Sunagakure. Jika saja Gaara tidak membantunya untuk menenangkan Kurama mungkin saja sudah runtuh tak bersisa.
Tak menunggu jawaban dari Kurama, Naruto membalas senyuman pelayan tersebut dengan seringai lebarnya, memperlihatkan betapa persis dirinya dengan rubah. "Ohh kalian dapat berbicara dengan bahasaku! watashi no namae wa Uzumaki Naruto desu! Konohagakure kara kimashita! Senang berkenal denganmu Sebastian-san dan.." Naruto tersenyum pada anak laki-laki itu, berharap dia membalas perkenalannya.
Anak itu mendengus memandangnya dengan aneh. "Ciel Phantomhive." Jawabnya.
Berusaha menjaga senyumannya Naruto menundukkan badannya dan melanjutkan perkataannya dengan riang. "Senang berkenalan denganmu Ciel-san." Dia mendudukan dirinya dikursi yang bersebalahan dengan Ciel. Hanya saja jaraknya agak berjauhan.
Sebastian menaruh makanan beserta secangkit teh? diatas mejanya sebelum kembali berdiri disebelah Ciel.
Ciel mengamati Naruto yang hanya terdiam menatap piring tersebut tanpa memakannya. Bahkan tangannya pun tak bergerak untuk memegang garpuh dan sendoknya.
"Naruto, Kau ingin memakannya atau hanya memandangnya saja? Mereka melihatmu dengan aneh." Seru Kurama.
"Tapi ini bukan.."
"Ada apa, tuan? Anda tidak menyukainya?" Sela Sebastian.
Kaget karena pelayan tersebut dapat mendengarnya Naruto dengan cepat membalas pertanyaannya tanpa terdengar gugup. "Ah tidak, tidak apa-apa. Hanya saja aku belum pernah mencoba makanan seperti.. Ini."
Ciel mengangkat alisnya seakan jawaban dirinya adalah hal terbodoh yang pernah dia dengar. "Kamu belum pernah mencoba itu sebelumnya? Bukankah ini makanan yang simple? Kamu pernah melihat telor ataupun daging sebelumnya bukan?"
"A-apa.." Naruto mengerjapkan matanya tak percaya. 'Apa-apaan anak itu! Argh! Dia persis sekali seperti Sasuke-teme.' Geramnya dalam hati. Matanya terasa berkedut. "Te-tentu saja! Aku pernah melihat semuanya! Hanya saja aku lebih suka makan ramen! Makanan paling enak didunia daripads ini!" Geramnya, berdiri dari tempat duduknya sambil menunjuk jarinya pada Ciel.
Keheningan mencengkam terasa setelahnya. Ciel mengangkat alisnya semakin keatas. Naruto yang baru menyadari kesalahannya langsung menurunkan jarinya dan kembali terduduk dikursi, menggaruk kepalanya sambil terkekeh malu.
"Bodoh.""Diamlah Kurama." Desisnya pelan dan mulai memakan makanannya dalam diam. Tak menyadari jika Sebastian dapat mendengarnya dan berkomunikasi pada tuannya dengan tatapan dan ketukan pelan pada nampan.
"Naruto-kun bagaimana dirimu dapat berada disini? Tanpa sepengetahuan.. Orang lain?" Ciel memutuskan untuk memulai kembali pembicaraan.
Naruto menurunkan kedua alat makannya dan meneguk cangkir tehnya hingga tandas dan menghela nafas lega. "Sebelumnya aku ingin mengatakan kalau makanannya lumayan enak. Walaupun masih enakan ramen." Ucapnya kepada Sebastian tetapi menurunkan nadanya saat di bagian akhir. "Untuk menjawab pertanyaan darimu. Akupun tak mengetahui bagaimana aku bisa berada disini. Saat itu aku dan teamku mendapatkan sebuah misi, tetapi tiba-tiba saja diperjalanan kami terhisap oleh sebuah pusaran hitam yang menarik kami kedalamnya. Dan disinilah aku berada sekarang, untuk teamku yang lain aku tidak tahu keberadaan mereka saat ini." Jawabnya. Naruto memutuskan untuk tidak memberitahu mereka jika rubah-rubahnya tengah mencari teamnya.
Ciel menangkup wajahnya, menatapnya dengan bosan. Walaupun begitu, Naruto dapat melihat ketertarikan pada penjelasannya. Dia sudah berhadapan dengan begitu banyak orang dan perilaku mereka. Jadi dia dapat dengan mudahnya membaca wajah anak diseberangnya ini dengan jelas.
"Aku mendapat sebuah kabar jika para warga dibuat ketakutan karena mereka menemukan beberapa orang yang muncul secara tiba-tiba diberbagai tempat. Dan salah satunya mereka bilang jika dia melihat seorang remaja memiliki mata merah yang aneh. Bisa kemungkinan jika mereka adalah teammu." Ciel berkata dengan serius, memandang lekat-lekat wajah Naruto.
'Teme itu.. Selalu saja dia dan sharingannya.' Umpat Naruto dalam hati. "Untuk itu.. Aku belum mengetahuinya, aku haruz bertemu mereka untuk memastikan jika yang kau bicarakan itu memang adalah teamku." Jawab Naruto dengan santai, tak merubah wajah netralnya.
Diam-diam Sebastian terlihat takjub akan emosi yang dapat anak pirang ini tahan atau kontrol. Dia bahkan tak mengetahui jika Naruto mengatakannya dengan jujur ataupun bohong. 'Siapa sebenarnya anak ini?' Pikirnya.
"Kit salah satu dari rubahku telah kembali." Beritahu Kurama.
Naruto menghela nafas dan beranjak dari tempat duduknya. "Apakah sudah selesai? Aku orangnya termasuk tidak betah berdiam diri di satu tempat. Terima kasih untuk makanannya. Aku akan pergi dan mulai mencari teamku. Ja-ne!" Naruto mengangkat tangannya dan bergegas pergi dari tempat makan.
Naruto dapat mendengar Ciel berdecak dan memanggil nama Sebastian. Dan benar saja, pelayan tersebut muncul didepannya menghalanginya untuk keluar.
"Apa-apaan ini?!" Geram Naruto, mengerutkan wajahnya kesal. Tangannya menggapai kunai yang berada di kantong celana.
Sebastian membungkukkan badannya sekilas dan tersenyum kearahnya. "Maafkan saya, tetapi tuan muda tidak mengizinkan anda untuk pergi dari mansion ini."
Menggretakkan giginya kuat-kuat, Naruto melempar kunainya kearah Sebastian yamg ditangkis dengan mudahnya. Naruto melompat mundur, mengambil kunai lainnya dan dengam kecepatan penuh, dia menyerang pelayan tersebut. Tetapi dengan cara apapun dan bagaimana pun, Sebastian dapat menangkis maupun menghindar dengan begitu mudahnya. Ada beberapa kali dia sempat mengenai tubuhnya tetapi seterusnya membuatnya merasa frustasi.
"Aku belum pernah berhadapan dengan orang sepertimu selama ini." Ucap Sebastian.
"Hmph. Haruskah aku mengucapkan terima kasih?"
"Terserah." Sebastian tersenyum lebar. Disetiap sela tangannya terdapat pisau yang dia sisipkan tadi, dan dengan gesitnya dia melompat sembari meghujani Naruto dengan pisaunya.
Dengan susah payah Naruto menghindari pisau-pisau tersebut hingga tak menyadari jika Sebastian berada dibelakangnya. Sesaat saat dia menyadari kesalahannya, Naruto berputar arah dan tepat setelah itu, dia merasakan tendangan pada wajahnya hingga tubuhnya terpelanting menghantam tembok dengan keras.
"Kit!" Kurama meraung murka saat melihat Naruto kembali kehilangan kesadarannya. Karena tak ada lagi segel yang menahannya, Kurama dengan gampang mengambil alih tubuh Naruto.
Sebastian mendekati tubuh tak sadarkan diri itu saat tiba-tiba pusaran berwarna merah mengelilingi tubuh Naruto. Begitu kuatnya membuat barang-barang yang berada di dekatnya jatuh kebawah.
"Perbuatanmu kepada Naruto sungguhlah tak dapat dimaafkan. Aku tahu jika dirimu adalah demon.. Agar adil bagaimana jika demon melawan demon?"
Sebastian tersentak badannya kebelakang kaget memdengar suara yang berbeda keluar dari mulut Naruto. Mengerutkan wajahnya saat melihat mata Naruto tak lagi berwarna biru laut melainkan merah darah dengan kelopak matanya berbentuk oval seperti kucing. Tanda seperti kumisnya pun menjadi menebal dan giginya menjadi runcing saat dia menggeram. Tubuhnya mulai diselimuti pusaran merah tadi, semakin membesar dan membesar.
"Perkenalkan aku adalah Kyuubi, demon rubah ekor 9. Dan hari ini, saat ini juga aku akan memperlihatkan kemurkaanku!" Raung Kurama keras, mengguncang seisi mansion.
Sebastian tak mengira akan berhadapan dengan seekor kitsune secara nyata.
~To be continue~
Untuk chapter berikutnya saya masih belum yakin kapan akan di publish karena melihat jam sibuknya saya di kampus. Tapi diusahain kalau memang ada waktul angsung djlanjut dan di-publishkasikan. Terima kasih dan selamat malam.
