"AMLOST" squel of LISTEN
Naruto belong Masashi K
Waning!
DLDR, TYPOS, AU, EYD masih menyelempang dst
.
.
.
.
"Yosh sudah jadi! Tidak buruk juga hmm – bahkan ini cocok untukmu Pluto! Hihi" dengan bangga Bolt memamerkan Flowercorn yang terdiri dari beberapa ranting, daun dan bunga yang berwarna warni buatannya kepada kudanya sepecial untuk ibunya.
Bruu! Merasa di permalukan sebagai kuda jantan Pluto menyibak dedaunan kering ditanah dengan mulutnya kearah Bolt "He-hei apa yang kau lakukan, tidak nanti karyaku hancur" Bolt melindungi karyanya dengan memebelakangi Pluto yang masih menerjangnya dengan dedaunan kering."Awas kau, akan ku balas!" Bolt meletakan karangan mahkota bunganya lalu mengambil seraup dedaunan kering di kedua tangannya "Rasakan ini!" Bolt melemparkan dedauanan kearah Pluto dan kudanyapun tidak mau kalah dengan majikannya mereka terus membalas satu sama lain "Hahahah" Bolt tertawa.
Bruu!
Merasa angin hutan sudah mulai berhembus begitu dingin Bolt menghentikan serangannya sejenak dan melihat ke arah langit hutan "Ini sudah sore sebaiknya kita pulang, nanti bisa di marahi ibu" Bolt mengakhiri permainan perang daun keringnya dan menarik kudanya untuk pulang.
.
.
.
"Terimakasih Toneri-kun" Hinata berojigiri sebagai tanda terimakasihnya.
"Tak apa, ohiya kemana Bolt?aku tidak melihatnya di ladang tadi biasanya dia disana" Hinata yang baru menyadarinya jadi ikutan melihat ladang di samping rumahnya.
"Ibuu!"
Kedua insan tersebut menoleh ke sumber suara dan melihat Bolt dan Pluto menghampirinya
"Ah ada paman Toneri, selamat sore paman" Bolt menunduk hormat
"Selamat sore juga Boruto" Toneri mengelus rambut pirangnya
"Kamu darimana nak?" Tanya sang ibu
"Dari hutan bu, aku tadi sedang mencari sesuatu untuk ibu" Hinata menaikan alisnya bingungapa yang dicari anaknya?, dan Bolt mengambil Flowercorn buatannya di tas punggung kudanya "Taaraa! Ini untuk ibuku tersayang"
Hinata yang mendapatkan hadiah kecil dari anaknya menjadi terharu "Terima kasih sayang, ini cantik sekali boleh ibu pakai?" Bolt mengangguk cepat "Bagaimana apakah cocok untuk ibu?" Hinata memakai karangan mahkotanya
"WOAHHH!Ibu seperti bidadari!" Bolt mengancungkan dua jempolnya dengan antusias pada Hinata dan Plutopun memberi tanggapan juga dengan bersuara
"Hihi, kamu bisa saja Bolt, bidadari itu sangat cantik sedangkan ibu tidak seperti itu—"
"Kau juga cantik Hinata seperti bidadari" potong Toneri. Mendengar pujian itu membuat rona merah di pipi Hinata muncul "Toneri-kun kenapa juga ikutan—"
Toneri tertawa pelan melihat tingkah malu malu mengemaskan "Itu memang benar bu! Aku sangat bangga punya ibu seperti ibu" Bolt memeluk Hinata dan Hinatapun memeluknya kembali
"Ibu juga bangga punya anak tampan dan cerdas seperti kamu" Hinata mencoel hidung Bolt dan mereka tertawa bersama
"ehem!" mendengar suara Toneri menyadarkan dunia ibu dan anak tersebut "Bolehkan aku ikutan berpelukan bersama juga?" lanjut Toneri dengan raut pura pura kecewa
"Tidak boleh, paman kan sudah besar jadi tidak perlu di peluk" mendengar ucapan dari Bolt membuat Hinata tertawa
"Sedih rasanya, dan lebih sedih karena Hinata mentertawakanku juga" ucap Toneri dengan raut wajah dibuat sedih
"Maaf maaf Toneri-kun hihi abis lucu sekali" Hinata berusaha menahan tawanya, Toneri hanya tersenyum melihat Hinata tertawa sebahagia itu, syukurlah dia sudah kembali ceria lagi...
.
.
.
.
.
Langit sudah menggelap dan bunyi burung malam sudah bermunculan namun wanita bermata amethyst itu belum juga terlelap, bangkit dari kasurnya dan menuju dapur untuk minum segelas air.
'sudah lama sekali aku tidak bertemu Sakura, Ino, Tenten dan Temari. Bagaimana kabar mereka ya? Sebaikanya aku menanyainya lewat email' batin Hinatayang teringat pada teman temannya
Hinata kembali ke kamarnya lalu menyalakan laptopnya dan membuka email barunya yang jarang dibuka, email lamanya sudah tidak Hinata gunakan karena begitu banyak kenangan tentang masa lalunya di sana... Ternyata ada banyak balasan dari temennya di buka satu persatu email tersebut dan membalasnya, ternyata mereka juga merindukan dirinya. Hinata menangis entah itu senang atau sedih membaca pesan mereka Hinata sangat merindukan mereka, terlebih saat melihat foto baru mereka bersama sama yang dikirim ke emailnya ada rasa ingin sekali memeluk mereka saat itu juga.
Tring!
Hinata kaget saat mendapatkan balasan dari Sakura, 'dia belum tidur?' langsung saja Hinata mereka pun memulai percakapan untuk melampiaskan kerinduan mereka.
'Aku baik baik saja dan Sekarang aku sedang berada di desa kecil yang damai di Nara, aku sangat merindukan kalian'
Send.
Tring!
'Baguslah kalau kau sehat sehat saja Hinata. Kau itu ya, menyebalkan sekali! sudah tahu merindukan kami seharusnya kau sering-sering memberitahu kami kabarmu dan rumahmu! kau seperti sebuah mitos yang keberadaannya susah diketahui, kami sangat merindukanmu '
Hinata tertawa membayangkan ekspresi Sakura yang bawel saat mengetik pesan ini
'Maafkan aku, aku mengaku salah jarang memberitahu kalian, aku sibuk disini dan haruskah ku beritahu kalian kalau sebenarnya aku suka berpindah pindah?'
Send.
Tring!
'HEI KAU FIKIR KAU HIDUP DI ZAMAN APA? NOMADEN?Astaga aku tidak habis fikir Hinata, kalau kau kesulitan seharusnya kau memberitahu kami, kami akan selalu siap membantumu'
Hinata tersenyum membacanya, Hinata merasa sangat bahagia mendapatkan teman teman seperti mereka.
'Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Dengan segera akan kuberitahu kalian kalau aku butuh sesuatu, aku sangat mencintai kalian'
Send.
10 menit berlalu dan tidak ada balasan dari Sakura sepertinya dia sudah tidurmengingat sekarang sudah malam dilirik jam pada laptopnya 12.02 am
Hinata merasa dejavu tentang sosok yang dulu sangat Hinata sayangi, biasanya jam segini dia masih bertaut dengan pekerjaannya sebelum dirinya ngambek dan memaksanya tidur, pasti dia akan tetap melanjutkannya hingga keblablasan tertidur di atas komputer. Hinata tertawa kecut mengingat kembali kenangan masalalu itu rasa sesak yang kembali menyerang hati Hinata hingga air mata nya menetes tanpa kontrol "Tidak tidak! Lupakan Hinata kau tidak boleh mengingatnya kembali dan Sebaiknya aku harus tidur" Hinata segera menghapis airmatanya dan membereskan laptopnya lalu bergegas tidur.
.
.
.
.
.
Bunyi ketikan laptop menjadi satu satunya suara di ruangan dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya –mengelolah data penting perusahaan. Naruto sang pemuda workaholic hingga tengah malam seperti ini dia terus bertaut dengan angka angka dan data yang ada di depan layar.
Menghentikan sejenak kegiatannya dan melihat jam yang ada di ruangannya. "Sudah jam 12.03? astaga kenapa waktu cepat sekali" Naruto memijit pangkal hidungnya dan memejamkan matanya sejenak. Padahal baru tadi dia mulai bekerja dan sekarang sudah berganti hari? Waktu memang sangat cepat maka dari itu Naruto sangat menghargai waktu, tidak suka bertele tele, menunda sesuatu dan basa basi itulah yang dibencinya tapi ada yang paling di bencinya di dunia ini itu adalah … dirinya sendiri.
Naruto tersenyum kecut mengingat betapa pecundangnya dan bodohnya dia menyianyaiakan wanita yang sangat mencintainya hingga sosoknya sudah pergi entah tahun Naruto mencari Hinata namun bagaikan di telan bumi sosoknya hilang begitu saja hingga detektifpun ahli yang di sewanya pun tidak bisa menemukannya hingga sekarang.
Wanita yang selalu berada di sisinya dikala sedih maupun senang, ia sangat merindukan kasih sayang Hinata yang selalu memeluknya, menciumnya,tawanya yang menyenangkan, rambut indigonya yang begitu lembut dan wangi, kebawelannya yang begitu mengemaskan, masakannya yang sangat lezat dan sentuhan Hinata lainnya yang mampu membuat Naruto menghilangkan semua bebannya namun kini sudah tidak ada lagi... bagitu hampa dan frustasi saat Hinata meninggalkannya, walaupun jabatan yang diinginkannya sudah diraihnya tapi bukan kebahagiaan yang melanda dirinya namun penderitaan.
Naruto bisa saja mencari wanita lain toh dirinya memang banyak diincar wanita luar tapi Naruto tidak bisa, semua hasratnya, gairahnya dan ketertarikannya seakan sudah hilang bila itu bukan Hinata kalaupun terpaksa toh dirinya akan berfantasi liar dengan bayangan Hinata. Naruto tersadar bahwa yang terpenting dalam hidupnya bukanlah karir ataupun pekerjaan idamannya tapi itu adalah kasih sayang dari wanitanya Hinata seorang.
"Hinata" ucapnya dengan nada pilu hingga tak sadar Naruto mengepalkan gengamannya begitu kuat hingga tangannya memutih hanya untuk menahan rasa sakit, sesak dan perih yang melanda hatinya tiap kali mengingat Hinata "Bagaimana kabar anak kita?—" Naruto mengigit bibisnya keras hingga timbul darah di bibir tipisnya menahan airmatanya yang ingin jatuh "Aku merindukan kalian -" final sudah airmata itu jatuh dari mata safirnya, biarakan air mata itu mengalirsebagai hukuman dari Kami-sama atas perbuatan bodohnya
.
.
.
Sinar mentari sudah muncul dari ufuk timur untuk menyapa dunia, sinarnya mulai menusuk bagunan bangunan yang menjulang tinggi ke langit.
"Engg" Naruto terbangun karena sinar mentari yang menerpa wajah tampannya namun mata safirnya tidak memiliki hasrat untuk hidup. "Aku tertidur di kantor lagi" Naruto saudah terbiasa kebiasaan barunya ini. Bangkit dari kursinya dan mengambil tasnya untuk kembali ke apartemennya.
Pip pip pip pip
Clek!
Naruto langsung melepas segala atributnya kerjanya hingga dirinya hanya mengenakan celana kerjanya, membuka tas kerjanya dan mengeluarkan benda panjang berwarna putih dan ada dua buah garis merah.
"Selamat pagi anakku— bagaimana kabarmu? Semoga kau sehat selalu anakku dan menjadi anak yang cerdas, penurut pada ibumu, baik pada siapapun, pemberani, dan kuat sehingga kau bisa melindungi ibumu—" Naruto tertawa kecut "sampai sekarangpun aku tidak tahu nak, kamu itu laki laki atau perempuan lucu sekali ya?Ayahmu ini memang bodoh" Naruto mengelus tespack yang di gengamnya "—tapi tidak masalah untuku kamu itu laki laki atau perempuan karena yang lebih ku inginkan adalah memelukmu sekarang ini" Naruto memeluk tespack itu dengan penuhkerinduan yang mendalam untuk sosok seorang ayah pada anaknya.
Setiap hari Naruto selalu membawa 'anaknya' karena Saat Naruto merindukan mereka pasti sang ayah selalu mengajak 'anaknya' mengobroldan iamerasa tidak bisa jauh dari 'anaknya'mungkin orang akan menganggapnya gila tapi Naruto tidak memikirkan itu, terserah pendapat mereka tentang dirinya. Naruto tidak peduli karena yang lebih di pedulikan adalah anaknya, karena semua sosok ayah akan memiliki pemikiran seperti ini dan keberadaanAnaknya juga alasan ia untuk tetap menjalankan hidupnya yang sudah hancurlebur ini.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan waktu siang hari dan sudah masuk waktu makan siang namun sang boss masih tetap bergeming di depan layar
Clek!
"Jangan terlalu memaksakan diri dobe" Sasuke masuk ke ruangan Naruto tanpa permisi, yang dilakukan Naruto hanya mengabaikan sahabatnya tersebut dengan tetap mengerjakan pekerjaannya "Haah, keras kepala sekali. Kau itu manusia atau robot?" Sasuke duduk di bangku depan kursi Naruto
"Kau menjadi cerewet seperti Sakura" ucap Naruto tanpa mengalihakan perhatiannya dari kerjaannya
Sasuke menghelaikan nafas pelan menahan kekesalannya, memang karena siapa dia menjadi cerewet seperti ini hah? "Ada hal yang ingin ku sampaikan, dan kupastikan kau akan menyesal bila tidak mendengarkannya" kini Sasuke mulai serius
"Cepat katakan aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan basa basimu teme" balas Naruto datar masih tetap bertaut dengan laptopnya.
Jujur, kesabaran Sasuke selalu di uji setiap bersama Naruto, semenjak peninggalan Hinata sib aka dobe ini menjadi sangat menyebalkan dari biasanya "ini tentang Hinata—"
Brak!
"APA?! KAU MENDAPAT INFO TENTANGNYA? CEPAT KATAKAN TEME!" Naruto langusng bangkit dari kursinya dan menatap tajam Sasuke
"Lebih baik kau tenangkan dirimu dul—"
"Aku tidak akan pernah bisa tenang bila itu menyangkut Hinata teme!"Naruto menjambak rambutnya frustasi, dirinya sangat sensitive bila terkait tentang Hinata.
Miris itulah yang di rasakan Sasuke saat melihat sahabatnya yang sudah berubah total dan lebih mirisnya lagi Naruto bagaikan Robot hidup yang tidak memiliki hasrat untuk hidup. Sasuke sudah menganggap Naruto seperti keluarga nya sendiri maka dari itu Sasuke akan berusaha sebisanya untuk membantu sahabat bodohnya ini.
Set!
"Bukalah" Mata safir redup itu menatap Sasuke lalu mulai membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan isinya
"Ini—" Naruto terbelalak melihat isi amplop tersebut, jantungnya seakan berhenti berdetag saat ini dan nafasnya berhenti begitu saja.
"Ya itu anakmu"
.
.
.
.
Tbc.
Salam Fanfiction!
saya tidak tahu ternyata ada yang menunggu pembuatan squel LISTEN, saya mengucapkan banyak terimaksih pada kalian yang sabar menunggu hingga squelnya up! Yey.
Ditunggu ya kelanjutannya!
Sigh
Namaki Shidota.
