Part 2 "The Right Choice"
Aku tak menyangka Jaehyun akan kembali ke Korea dengan meninggalkan anak perusahaannya di Kanada untuk beberapa waktu ke depan hanya demi menemui kedua anaknya. Pria itu tak mungkin rela meninggalkan pekerjaannya dan menitipkannya pada sekretaris pribadinya, tapi, entahlah, apakah semenjak perceraian ini hatinya mulai terbuka?
Mark yang mengetahui papanya akan ke Korea, mulai semangat menanyaiku macam-macam tentang tempat-tempat di Korea yang bisa dikunjunginya bersama si papa. Padahal ya, tiga minggu ini ketika aku berusaha membuat Mark nyaman berada di Korea dan mengajaknya jalan-jalan di berbagai tempat, Mark tak menikmatinya dan terus merengek untuk pulang saja. Rasanya tidak adil, inilah mengapa aku lebih mendambakan seorang anak perempuan ketimbang laki-laki yang biasanya menganggap ayahnya sebagai idola. Atau aku menikah lagi saja ya, hanya demi 'membuat' anak lagi?
"Ma, dulu papa mengajakku dan Jungwoo di shooting range. Apa di Korea juga ada?" Mark berbicara di saat ia masih mengunyah serealnya dengan lahap, seakan seperti seorang tahanan yang telah lama tak memakan daging. Oh, aku senang sekali Mark akhirnya berbicara dengan semangat, kali ini membicarakan kenangannya bersama si papa, tentang shooting range. Hahaha..
Tunggu... shoo-what-shooting range?! Jadi Jaehyun pernah mengajak anak-anak di tempat bedebah itu tanpa seizinku?
Aku menatap Mark yang masih fokus memakan serealnya tetapi tetap memperhatikanku, menunggu jawabanku dengan antusias. Melihatnya begini, aku jadi ingin melaporkan Jaehyun di perlindungan anak. Oke, mungkin aku berlebihan, tetapi ayolah, shooting range adalah tempat yang keras, bagaimana jika anakku menjadi pribadi yang kasar atu bahkan psikopat?
"Kapan papa mengajakmu?" Tanpa menjawab pertanyaannya, aku balik bertanya pada Mark yang terlihat mengingat-ingat kembali.
"Euhm... tanggal 2 Agustus saat aku berulang tahun ke 2. Waktu itu papa pulang lebih awal, lalu langsung mengajakku dan Jungwoo di shooting range tanpa melepas jas kerjanya terlebih dahulu. Di sana papa bermain sangat hebat, dia terus menembak tepat sasaran padahal tangan satunya sedang menggendongku!"
Biasanya aku akan memuji ingatan Mark yang hebat, anak itu seperti jenius yang mengingat apapun dan memahami apa saja yang terjadi di hidupnya. Tetapi sekarang bukanlah waktu yang pas untuk mengusap-usap kepala Mark dan mengatakan, 'Tuhan memberkati seorang Lee Taeyong ini dengan mengirim anak secerdas Mark~'. Mark terus saja berceloteh tentang kenangan yang menurutnya paling berkesan itu, bahkan ia masih saja mengingat berapa poin yang didapatkan Jaehyun di dalam permainan.
Aku tak lagi fokus pada celotehan Mark, kini aku sibuk mengingat kapan aku mengizinkan Jaehyun membawa keluar anak-anak. Ah ya... seingatku setahun yang lalu Jaehyun mengajak anak-anak keluar rumah dengan alasan untuk merayakan ulang tahun Mark. Jadi sebenarnya malah mengajak keduanya di shooting range dan mengajarkan anak itu permainan tembak menembak? Ya Tuhan, padahal waktu itu aku sempat terharu sekali, Jaehyun rela menyingkirkan obsesinya pada perusahaannya hanya demi merayakan ulang tahun Mark.
"Itu tempat yang buruk, Mark. Bukankah lebih asyik bermain mandi bola atau menaiki bianglala?"
"Mama itu membosankan! Aku dan Jungwoo kan laki-laki, menembak itu keahlian laki-laki!"
Ah, iya, mereka laki-laki. Walau sekeras apapun aku beranggapan bahwa cara mendidik Jaehyun di luar batas, di pandangan Jungwoo dan Mark, papanya itu adalah orang hebat yang pantas dijadikan panutan ketimbang diriku yang hanya bisa memasak makanan dan membacakan dongeng sebelum tidur.
Tetapi entah mengapa aku merasa lega. Aku kembali yakin bahwa perceraian ini benar. Setidaknya Jaehyun tak lagi merusak prinsipku dalam mendidik anak-anak. Siapa yang berani bertaruh Jaehyun adalah ayah yang baik? Tidak, menurutku tak ada yang berani bertaruh tentang itu. Dia hanya sesekali membahagiakan anaknya dengan mengajaknya bermain, tetapi caranya mendidik pun tidaklah bijak, tipikal ayah muda yang tak berpengalaman.
Tengah malam Jaehyun menelponku kembali di saat aku masih mengerjakan resume-ku, mengabarkan ia akan segera terbang ke Korea dan akan mengabari lagi jika sudah mendarat. Aku hanya bisa mengucapkan, 'safe flight, Jaehyun' lalu memutuskan sambungan tanpa menanyakan apakah ia butuh supir untuk menjemputnya di bandara dan sejenisnya. Pria itu sudah pasti telah mendapatkan anak buah di Korea, terlebih ayahnya adalah pemilik induk perusahaan di Korea, sudah pasti memiliki banyak anak buah ketimbang Jaehyun yang hanya sebagai pemilik anak perusahaan yang berada di Kanada.
"Papa sampai di Korea kapan?"
Aku terkejut ketika Jungwoo sudah duduk di sampingku, lalu meletakkan susu coklatnya di meja.
"Jungwoo tidur sana... hei, jangan diletakkan di situ gelasnya, nanti tumpah, terus terkena kertasnya," aku tak ingin membahas tentang Jaehyun dan mengalihkan perhatian Jungwoo yang kini langsung mengambil susunya lalu meminumnya sekali tenggak.
"Nenek yang membuat susu?" Tanyaku kemudian sembari membereskan berkas-berkasku dan menatanya dalam satu map. Besok pagi aku akan melamar pekerjaan di perusahaan asing yang ada di Korea, dulu perusahaan itu mengincarku yang memiliki ranking teratas di jurusanku apalagi kemampuan bahasa asingku secara aktif dan perusahaan itu menawariku tes lewat jalur dalam, kesempatan bagus, tapi kutolak karena Jaehyun mengajakku menikah setelah kami sama-sama lulus kuliah dan akan mengajakku hidup di Kanada setelah dirinya berhasil memantapkan ayahnya untuk memberikan anak perusahaan di Kanada untuk Jaehyun. Sekarang rasanya aku menjadi pecundang melamar di perusahaan yang sudah kutolak itu.
"Aku sendiri yang membuatnya. Nenek sudah tidur dengan Mark."
"Itu bagus, Jungwoo. Tapi tetap harus hati-hati ya menuangkan air panasnya."
Aku tersenyum bangga pada Jungwoo lalu mengusap kepalanya lembut. Kemudian menggiring anak itu menuju tempat tidurku. Jungwoo sempat menolak untuk tidur denganku dan bersiap untuk keluar menuju kamarnya dan Mark. Tetapi aku menahan tangannya, tak ingin Jungwoo pergi, sudah lama aku tak tidur dengan anak pertamaku yang entahlah umurnya masih 6 tahun tetapi aku sudah terasa seperti kehilangan anak kecilku karena sudah tumbuh dewasa.
"Nenek tidur dengan Mark, jadi Jungwoo tidur dengan mama saja. Cukup malam ini, okay?"
Jungwoo akhirnya menurut dan mulai berbaring di sampingku.
"Huft... aku jadi anak kecil lagi kan seperti Mark?" Jungwoo menggembungkan pipinya kesal, terlalu sensitif jika dianggap masih seperti anak-anak.
Aku tersenyum lalu menggeleng-geleng berulang kali, "Tidur bersama mama bukan berarti anak kecil, buddy. Jungwoo sudah bukan anak kecil lagi kok, buktinya bisa membuat susu coklat sendiri."
"Tentu saja, aku kan sudah dewasa. Tidak seperti mama yang kekanak-kanakan, bertengkar dengan papa, lalu berpisah."
Hatiku terasa ditusuk ribuan jarum, bahkan kalimat Jungwoo terasa lebih menyakitkan ketimbang amarah ibu ketika tahu aku sudah menceraikan Jaehyun. Memangnya ini semua salahku? Mengapa setiap orang menyalahkanku yang menceraikan Jaehyun? Mereka tidak tahu yang terjadi sebenarnya ketika di Kanada, rumah yang kudambakan menjadi rumah terhangat karena adanya orang-orang yang kucintai, malah menjadi tempat yang paling dingin dan membuatku merasa kesepian. Seharusnya aku lebih nyaman berada di rumah ketimbang di kantor, tetapi kenyataannya keadaan rumah membuatku lelah, harus mengurus Jungwoo dan Mark ketika babysitternya selesai bertugas sampai sore hari saja. Bertambah lelah saja fisik dan mentalku, ketika Jaehyun tiap harinya pulang dalam keadaan mabuk di tengah malam. Pria itu maniak klub malam dan alkohol, apa aku salah jika membencinya dan menyesal menikah dengannya?
"Jungwoo, berpisah dengan papamu adalah hal yang sudah kupikirkan berulang kali. Apa Jungwoo tidak memahami perasaan mama?" Gumamku dengan suara agak bergetar.
Jungwoo yang melihatku begitu terpuruk, langsung memelukku erat dengan tangan kecilnya itu. Ia mulai menangis dan berkali-kali mengusapkan matannya pada bajuku untuk menghilangkan jejak air mata yang bisa merusak harga dirinya sebagai 'anak dewasa'.
"Maafkan Jungwoo, ma... Aku hanya merasa sedih mama berpisah dengan papa. Aku tahu, papa salah karena jarang menemani mama. Tetapi hanya saja... aku belum terbiasa hidup tanpa memiliki seorang ayah... Walau papa memang jarang menemani kita, tapi dia selalu sempat menjemputku dari sekolah. Aku hanya... rindu saat-saat itu."
Aku harus bagaimana lagi, kenangan dengan Jaehyun telah terpendam sangat dalam di hati anak-anakku. Aku tak menyangka, pria jahat yang telah melukaiku berulang kali, bukan secara fisik tapi secara mental, ternyata adalah ayah yang baik bagi anak-anakku. Tetapi tetap saja... ayah mereka bukanlah yang terbaik untukku. Biarkan mereka terus merindukan kenangannya dengan ayah mereka, yang jelas aku tetap tak mau mengalah dan kembali lagi dengan pria yang tak tahu caranya membahagiakan perempuan.
TBC
Terima kasiiih bangeeet yang sudah review ataupun follow. Semoga aja akan update teratur ke depannya. Btw yang tanya ff ini gs atau mpreg, ff ini gs, tapi aku malah salah nulis di sinopsisnya /boww/
Kritik dan saran diterima dengan senang hati~~
Thanks for review: YJJY114, Dy Huang, Tycasper, TYongieBaby, xolovexian, jeffreyyahaeng, Julia Kie, phanb, askasufa, nunim, elspethlee
