Kediaman Namikaze, 20:25

Terlihat tiga orang tengah duduk saling berhadapan di halaman belakang Kediaman Namikaze. Mereka bertiga duduk atau bersila di atas tanah. Di dekat mereka terdapat kolam ikan yang berukuran lumayan besar. Mereka bertiga adalah Ino-Minato-Karin.

"Paman, apa yang sebenarnya terjadi kepada Naruto? Dan kenapa kalian tidak memberitahuku tentang keadaannya?" Ujar Ino membuka percakapan.

Minato menghela napas. "Naruto memiliki sebuah parasit. Dimana setiap kali ia bangun dari tidurnya, seluruh ingatannya akan lenyap. Hal ini telah berlangsung selama kurang lebih 15 minggu." ucap Minato.

Ino menatap Minato. "Apa? Bagaimana bisa ada penyakit semacam itu?" tanya Ino pelan.

"Aku tidak tahu." Minato menjeda ucapannya, "Tapi menurut Karin, ada sebuah virus. Virus itu bekerja dengan menginfeksi bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan memori."

"Apa?"

"Kau tahu virus mematikan yang ditemukan tahun 1618?" Tanya Karin pada Ino.

Ino memasang pose berpikir. "Ya, virus yang ditemukan oleh Sarutobi Hiruzen di daratan Jepang pada pertengahan tahun 1618." Ino membelalakkan kedua matanya. "Jangan bilang jikalau virus itu menginfeksi Naruto?!"

Karin menggeleng pelan. "Setidaknya belum dipastikan. Maka dari itu, besok dosenku akan melakukan pengujian kepada Naruto. Untuk mendeteksi adanya virus tersebut, dibutuhkan perekaman otak secara menyeluruh." Ujar Karin.

"Oh Tuhan!" Ucap Ino terkejut. "Dan apa yang harus kita lakukan jika Naruto benar terinfeksi virus tersebut?" Tanyanya serius.

Terdengar hembusan nafas berat. "Hahhh... Jika Naruto terinfeksi virus tersebut, tidak ada yang bisa kita lakukan. Setidaknya, kita belum mengetahui apakah virus itu menjadi penyebab Naruto menjadi seperti ini." Ujar Minato.

Ino menatap Karin penasaran. "Darimana kau mendapatkan informasi ini?"

"Aku tak sengaja membaca buku di perpustakaan kampus. Buku tersebut berjudul '1618s Tragedy' ditulis tahun 1623 karya Sarutobi Asuma, anak Sarutobi Hiruzen." ungkap Karin.

"Bisakah kau membacanya kembali? Mungkin saja ada cara untuk membunuh virus itu." Ino memberikan pendapatnya.

Karin menggelengkan kepalanya. "Aku hanya dapat membaca sebagian halaman yang ditulis dengan kanji dan katakana. Sebagian halaman lagi ditulis dengan tulisan yang tak ku mengerti." ujar Karin menjelaskan.

"Bisakah kau mengatakan kepada kami apa isi sebagian halaman tersebut?" tanya Ino pada Karin.

Karin mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kertas. "Aku sudah mencatatnya..."

"Virus 1618 atau yang kakekku namai C-18, adalah sebuah virus mematikan yang dapat merusak jaringan saraf otak. Virus ini tergolong sebagai parasit. Kerja C-18 adalah ketika virus memasuki tubuh, virus akan berinkubasi selama 72 jam. Jika korban memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, virus ini akan perlahan-lahan mati. Jika korban memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk, virus akan langsung menyerang bagian otak yang berfungsi menyimpan memori. Jika tak ditangani secepatnya, virus akan bermutasi dan menginfeksi seluruh otak. Dan ketika itu terjadi, kematian akan datang dalam kurun waktu 12 jam."

"Gejala seseorang terinfeksi virus ini adalah; tak dapat mengingat kejadian satu jam sebelumnya, berhalusinasi, bermimpi buruk. Jika muncul gejala tersebut, yang dapat dilakukan adalah menyuntikkan cairan anti-virus ke tubuh. Cairan anti-virus tidak dapat membunuh C-18, tapi dapat menunda virus bermutasi. Jika dalam 8 jam korban masih tetap tidak dapat mengingat kejadian satu jam sebelumnya, cairan anti-virus tidak bekerja dan dianjurkan untuk mendapat penanganan lebih lanjut."

"Resiko terburuk dari terinfeksi C-18 adalah kematian. Jika virus ini telah menginfeksi jaringan otak, kematian korban hanya dalam hitungan jam."

"Seburuk itu kah?"

"Karin, apakah korban menunjukkan tanda-tanda sebelum mati?" Tanya Minato datar.

Karin mengusap setitik air mata di pelupuk matanya. "Ha'i, Tou-san. Tanda-tanda sebelum kematian bagi korban adalah saat ia tertidur selama 72 jam. Dan oh ya, jika telah 16 minggu berlalu dan korban tidak menunjukkan tanda-tanda kematian, korban selamat dari kematian." Ucap Karin.

Minato terdiam sejenak. "Naruto mengalami hal ini 15 minggu yang lalu, itu berarti tinggal 1 minggu lagi kepastian umurnya." Minato menjeda ucapannya, "Dan jika dalam 1 minggu ke depan Naruto tidak mengalami tanda-tanda kematian, maka ia selamat." ujar Minato pelan.

Ino serta Karin diam saja.

Sedikit deskripsi mengenai Virus 1618 atau virus C-18, virus C-18 merupakan virus mematikan yang menyerang otak dan jaringannya. Virus ini menular melalui udara. Virus C-18 dapat dibunuh hanya dengan sistem kekebalan tubuh korban. Tidak ada antidote untuk virus ini. Konon, sang penemu, Sarutobi Hiruzen juga tewas karena terinfeksi virus mematikan ini.

"Ku harap kalian bisa merahasiakan hal ini. Jangan sampai orang lain mengetahuinya, apalagi Kushina. Jika dia tahu, dia pasti akan histeris." ujar Minato.

Ino dan Karin saling menganggukan kepala, tanda bahwa mereka mengerti. Minato mengangguk pelan.


Bersama Naruto, 20:42

Naruto saat ini tengah berdiam diri di kamarnya. Tatapannya terarah ke langit-langit kamarnya. Meskipun begitu, ia tidak memikirkan apapun. Ia hanya menanyakan satu hal kepada dirinya sendiri.

"Siapa aku?"

Ia tidak tahu siapa dirinya. Ia tidak mengenal dirinya sendiri. Bahkan jika memang ia hilang ingatan, bukankah seharusnya ia ingat secuil ingatan tentang dirinya? Dan jika ia hilang ingatan, tidak seharusnya setiap ia terbangun dari tidurnya, ia tidak mengingat apa-apa.

"Siapa aku?"

"Siapa aku?"

"Siapa aku?"

"Aku... Siapa?"

"Kau adalah bagian dari kami."

Naruto terkejut. Suara misterius hinggap di indera pendengarannya. Ia mencoba untuk tenang.

"Tenang, Naru. Itu hanyalah halusinasi. Itu tidak nyata, tidak nyata." ucapnya kepada diri sendiri.

"Itu benar, Naru. Itu tidak nyata. Tidak nyata sama sekali."

"Siapa kau?! Tunjukkan dirimu! Aku tidak takut padamu!" Naruto mulai panik.

"Siapa kau?! Tunjukkan dirimu! Aku tidak takut padamu! Hahaha! Jawaban dari seorang yang... ahm, putus asa akan kehidupannya."

Naruto memegangi kepalanya dengan kedua tangannya saat suara misterius tersebut terngiang-ngiang di kepalanya. Ia bahkan terjatuh dari ranjangnya dan terduduk dengan kedua lutut sebagai tumpuan.

"Kau tak bisa beralih dari masa lalu. Ketakutanmu akan masa lalu itu yang membuatmu tidak ingin menatap masa depan. Singkatnya, kau selalu melihat ke belakang, selalu mengingat hal yang telah terjadi. Kau menyedihkan, Namikaze Naruto."

"Diam." ujar Naruto lemah.

"Ding dang dong. La la la. You're a mess. You're a fucking mess. Pathetic!"

"DIAM!" ujar Naruto keras.

"Na na na na. Namikaze Naruto takut akan masa lalu. Namikaze Naruto menyedihkan. Hahaha!"

"Diam!" Naruto memukul kepalanya sendiri.

"Diam kau!" Naruto meraih sebuah vas bunga di dekatnya dan melemparkannya.

Pranggg! Vas bunga tersebut pecah.

"Diam! Keluar dari kepalaku!"

"Ha Ha Ha. Naruto menyedihkan. He's a mess and pathetic."

"Diam!" Naruto memegang sebuah tongkat pemukul baseball, ia mengarahkan tongkat tersebut ke kepalanya.

"Get the fuck out of my head!"

Dhuakh!


"Diam!"

"Kalian dengar itu?" Tanya Minato.

Ino mengangguk. "Ya. Apa itu tadi?"

Karin menghela nafas. "Mungkin dari Kaa-san atau Naruko-chan."

Minato mengendikkan bahunya. "Entahlah, tapi suaranya sepertinya berasal dari..." Ketiganya terbelalak setelah menyadari sesuatu.

"NARUTO!" Ujar ketiganya kompak.

Tiga orang tersebut langsung menggerakkan kaki mereka berlari menuju kamar Naruto yang berada di lantai atas.

"Diam kau!"

Suara tersebut semakin jelas terdengar di telinga mereka. Mereka pun mempercepat kecepatan lari mereka.

Pranggg!

"Diam kau! Keluar dari kepalaku!"

Mereka bertiga pun akhirnya tiba di depan kamar Naruto. Minato memegang knop pintu dan membukanya.

Macet.

"Oh ayolah!" kesal Minato. Minato kemudian mundur beberapa langkah. Lalu ia bersiap untuk mendobrak pintu tersebut.

"Get the fuck out of my head!"

Blarrhhh! Dhuakh!

"Naruto!" Minato menghampiri Naruto yang terjatuh di lantai.

"Kenapa dia memukul kepalanya sendiri?!" tanya Minato heran setelah disamping Naruto tergeletak sebuah tongkat baseball.

"Oh tidak." Ino dan Minato mengalihkan pandangan mereka kepada Karin.

"Doushite, Karin?" Tanya Ino pelan.

Karin meneguk ludahnya. "Dia berhalusinasi. Itu tandanya bahwa dia..." Karin tidak melanjutkan ucapannya namun Minato maupun Ino telah mengerti.

"Naruto." ujar Ino lirih sambil menatap sepupunya yang berada dalam pangkuan Minato.

Minato terdiam. Tidak mungkin. Batinnya terus menolak apa yang dikatakan Karin. Ingin ia membantah itu semua, mengatakan bahwa Naruto baik-baik saja dan tidak mungkin terinfeksi virus mematikan itu. Tetapi, fakta serta kondisi berbicara. Anaknya baru saja memukul kepalanya sendiri dengan tongkat baseball. Tidak mungkin anaknya memukul kepalanya sendiri dengan sadar. Naruto pasti berhalusinasi yang membuat sebuah pukulan dari tongkat baseball melayang sendiri menuju kepala putranya tersebut.

Minato mengusap pucuk kepala Naruto yang memar. "Naruto." lirihnya.

Minato meraih punggung Naruto. Ia kemudian secara perlahan mengangkat Naruto dan membaringkannya di ranjang dengan perlahan. Tak lupa ia naikkan selimut hingga dada, memberikan kehangatan bagi siapa yang berada di baliknya.

Minato menatap bergantian Ino-Karin. "Kalian berdua tunggu disini. Aku akan memastikan bahwa Naruko dan Kushina tertidur." Ujar Minato.

Ino dan Karin serentak mengangguk. "Ha'i, jii-san. Kami akan menjaga Naruto." Ucap Ino sambil membungkukkan badannya sedikit.

~DFA~

Bersama Kushina, Ruang Utama, 20:54

"Baiklah, Ruko-chan. Sudah hampir jam 9 malam. Itu artinya..."

"Hah, Kaa-san. Aku tahu. Aku sudah bukan anak kecil lagi yang harus disuruh agar melakukan sesuatu." Ucap Naruko malas. Pasalnya, ini untuk yang kesekian kalinya ibunya memperlakukan dirinya seperti anak berumur 5 tahun. Gee, padahal ia sudah memasuki masa pubertas.

Kushina cekikikan. "Hihihi, gomen ne. Bagi Kaa-san, kau tetap anak kecil yang imut." kata Kushina sambil mencubit pipi Naruko yang tentu saja membuat Naruko mengaduh kesakitan.

"A-auch, Kaa-san!" Naruko mengusap-usap pipinya yang memerah akibat cubitan Kushina.

"Hihihi. Baiklah, sebaiknya Ruko-chan pergi ke kamar tidurmu dan tidurlah." Kushina mengecup kening Naruko. "Oyasumi, Naruko."

"Oyasuminasai, Kaa-san." Naruko pun beranjak menuju kamar tidurnya yang berada di lantai 1 dekat gudang, meninggalkan Kushina sendirian di Ruang Utama Kediaman Namikaze.

Kushina sendirian di Ruang Utama itu setelah Naruko pergi ke kamarnya untuk tidur.

"Hahh..." Kushina menghela nafas lelah.

"Kau lelah?"

Swushh! Leher Kushina diterpa oleh nafas dari seseorang. Kushina merinding geli dan melihat siapa yang melakukannya.

"Ah Anata..."

Minato tersenyum dan mengecup pelan tengkuk Kushina. "Kenapa kau belum tidur, hm?" Tanyanya berbisik tepat di telinga Kushina.

Kushina tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. "Lantas, kau juga kenapa belum tidur, Minato-kun?" tanya balik Kushina.

Minato bergerak menuju hadapan Kushina. "Kau tahu? Membalikkan pertanyaan orang lain itu tidak bagus." Ucap Minato.

"Oh ya?" Kushina tersenyum jahil.

"Ya." Minato menganggukkan kepalanya. "Itu seperti saat kau terjatuh dan orang lain menolongmu, lalu kemudian menjatuhkanmu lagi." Ujar Minato membalas pernyataan Kushina.

"Apa?" Kushina memberikan pandangan pura-pura terkejut. "Itu sungguh perbandingan yang tidak masuk akal, Anata." Ujar Kushina disertai tawa kecil yang lolos dari bibirnya.

"Apa maksudmu? Itu bukanlah sebuah perbandingan. Itu seperti kekhawatiran." ujar Minato.

Kushina menyeringai kecil. "Apa yang kau khawatirkan?" Tanya Kushina disertai seringai.

Minato tersenyum jahil. "Aku khawatir jika kau berbalik dan pergi dariku." ucapnya sambil memainkai surai merah milik Kushina.

Jantung Kushina berdetak lebih cepat. Perlakuan Minato sekali lagi membuat hatinya berdesir.

Kushina memukul pelan bahu Minato. "Huh, dasar gombal."

"Aku tidak sedang dalam mood bagus untuk merayu. Ini adalah kejujuran. Kau tahu itu 'kan?" elak Minato.

Kushina menggeleng disertai kekehan. "Tidak, Minato. Kita hidup berumah tangga selama 8 tahun. Aku tahu semua trikmu dalam merayu." ujar Kushina.

Kedua alis Minato saling tertaut. "Oh ya?" tantangnya. "Jika kau tahu semua trikku, apa kau tidak khawatir jika aku merayu perempuan lain diluar sana?" ujarnya sambil menyeringai.

Kushina tertawa. Minato menaikkan sebelah alisnya. "Hei, apa yang lucu?" ucapnya pada Kushina.

Kushina menutup mulutnya dengan satu tangannya. "Tidak. Kau pikir perempuan diluar sana terpesona denganmu? Kurasa tidak." ucap Kushina.

"H-hei!"

"Jika kau tetap nekat merayu perempuan lain, mereka akan memberimu cap tangan mereka. Hahaha." Tawa Kushina akhirnya meledak setelah ia berusaha menahan tawa sebelumnya.

Minato cemberut mendengarnya. "Tapi hanya kau yang terpesona denganku. Benar 'kan, Kushi-chan?" goda Minato pada istrinya itu.

Kushina terdiam dengan wajah memerah. Meskipun telah berkali-kali suaminya itu melemparkan rayuan, tapi entah kenapa dirinya tidak merasa bosan. Rayuan Minato langsung menancap tepat di hatinya. Membuat hatinya berdesir.

Minato kemudian menggerakkan badannya lebih ke depan. Kemudian, ia mengecup kening dan bibir Kushina dengan penuh kasih sayang.

"Oyasumi, Hime."

"Oyasuminasai, Anata."

~DFA~

30 menit kemudian

Setelah menunggu dan memastikan bahwa istrinya terlelap, Minato langsung melangkahkan kakinya kembali ke kamar Naruto yang berada di lantai 2.

Krieet! Pintu kamar Naruto terbuka pelan.

"Bagaimana, Ino, Karin?"

Ino menatap sosok yang baru saja masuk. "Jii-san, Naruto belum menandakan tanda-tanda kesadaran." ucap Ino sedikit khawatir melihat kondisi sepupunya itu.

Minato menatap putranya dengan tatapan sendu. "Jika sampai besok pagi Naruto belum menandakan tanda-tanda kesadaran, kita akan membawanya ke rumah sakit." ujar Minato dengan tenang.

"Dan bagaimana jika ini tanda-tanda sebelum kematian Naruto? Seperti yang tertulis di buku?" Tanya Karin pelan.

"Karin, yang perlu kau lakukan adalah tenang. Oke? Jika kita tidak tenang, kita akan berpikiran negatif. Dan kita seterusnya akan berpikiran negatif. Tenanglah dan percaya bahwa Naruto akan baik-baik saja." kata Minato sambil memegang kedua bahu Karin, menenangkannya.

Karin mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

Setelah Karin tenang, Minato mengalihkan tatapannya kepada Naruto. "Naruto, cepatlah bangun. Kita semua disini menunggumu."

Ino yang sedari tadi diam, beralih menatap wajah datar Minato. Dalam hati ia bergumam, 'Kenapa paman Minato masih tetap tenang? Apakah ia tahu sesuatu tentang kondisi Naruto yang sebenarnya?'

Minato yang merasakan Ino menatapnya pun balik menatap keponakannya itu, "Doushite, Ino?" Tanyanya pelan.

Ino gelagapan dan menunduk. Merasa malu dengan kegiatan yang ia lakukan. Memandangi wajah pamannya.

"I-ie, jii-san. Daijobou da yo." Ucapnya terbata-bata.

Minato tak ambil pusing mengenai hal itu. Yang ada di pikirannya kali ini adalah Naruto. Keselamatan Naruto. Dan itu lebih penting dari mencari tahu kenapa Ino menatapnya.


Somewhere with Naruto

"Enghh..."

Naruto mengerjapkan kedua matanya dan ia terbelalak. Ini bukan kamarnya. Juga ini bukan rumahnya. Yang ia lihat sejauh mata memandang hanyalah pohon-pohon besar dengan daun yang rimbun. Pohon-pohon tersebut bergoyang setiap ia mengedipkan mata, menambah kesan seram baginya. Dan langit yang berwarna kemerahan, menambah kesan horror baginya.

"Apakah ada seseorang disini? Jika ada, berteriaklah!" panggil Naruto.

Namun, tak ada suara apapun yang merespon panggilan Naruto.

"Apakah ada seseorang disini? Jika ada, berikan aku tanda!" teriak Naruto lagi.

Craw! Kwak! Kwak! Kwak!

"Apa itu tadi?" Naruto mendengar sebuah suara teriakan dan melihat burung-burung gagak beterbangan. Ia memutuskan untuk mendatangi tempat asal burung-burung gagak tersebut.

Tap tap tap

Naruto menghentikan langkahnya saat di depannya terdapat semak-semak yang cukup rindang. Dan langit pun perlahan-lahan berubah menjadi gelap.

"Sial! Aku butuh cahaya!"

Naruto mengambil sebuah kayu panjang dan tebal berukuran 50 cm di sekitarnya. Lalu ia mengambil beberapa daun kering serta ranting kering di sekitarnya dan dua buah kayu berukuran sekitar 30 cm.

Naruto memposisikan dua buah kayu berukuran 30 cm tepat di atas tumpukan daun kering dan ranting kering. Kemudian, ia mulai menggesekkan dua buah kayu tersebut.

Clak! Dua buah kayu yang bergesekan menimbulkan percikan api. Dan percikan api tersebut langsung membakar tumpukan daun kering dan ranting kering.

Naruto pun kemudian merobek sedikit bajunya. Lalu ia mengambil kayu berukuran 50 cm dan mengikatkan sepotong bajunya di ujung dari kayu tersebut. Naruto kemudian mendekatkan ujung kayu yang telah ditutupi oleh sepotong baju ke api yang menyala.

Bwoofh! Jadilah obor sederhana. Naruto kemudian membakar semak-semak rindang di depannya.

Craw! Craaaaaw!

Bruggh!

Sebuah makhluk muncul dari kobaran api dan mendarat tepat di depan Naruto. Naruto tanpa pikir panjang langsung menerobos kobaran api, melarikan diri dari makhluk tersebut.

CRAW!

"Aw, shit!" Naruto berbalik setelah makhluk tersebut mengkronfontasi laju larinya dengan muncul tepat di depannya.

Drap! Drap! Drap! Drap!

Lari Naruto begitu cepat. Namun tak secepat makhluk yang mengejarnya.

Brukh! CRAAAAAAWWW!

Naruto tersandung setelah makhluk tersebut memegang kakinya. Naruto menendang-nendang udara, berharap makhluk tersebut melepaskan kakinya.

Brukh! Satu tendangannya mengenai telak wajah makhluk tersebut dan makhluk tersebut lengah. Naruto dengan cerdik menendang sekali lagi wajah makhluk tersebut dan lekas berlari kembali dengan membawa obor sebagai penerang jalan.

CRAWWWW!

Makhluk tersebut muncul lagi tepat di hadapannya. Naruto dengan reflek langsung mengayunkan obornya ke wajah makhluk tersebut.

Dhuakh! Naruto langsung berlari setelah memukuo makhlui tersebut dengan obornya. Ia terus berlari tanpa arah. Sampai ia menemui sebuah persimpangan. Arah kanan dan kiri.

'Kemana yang harus ku pilih?!'

'Kanan!' Naruto memutuskan untuk mengambil jalan setapak sebelah kanan dan ia mempercepat larinya.

"Hah... Hah.." suara nafasnya yang patah-patah terdengar begitu jelas. Meskipun begitu, Naruto tetap berlari dan mengusahakan agar laju larinya tidak melambat ataupun berhenti.

Dhuakh! Bruakh!

Naruto terus berlari. Walaupun ia beberapa kali tersandung, ia tetap berlari. Ingin secepatnya terlepas dari kejaran makhluk di belakangnya.

Brakh! Craw! Brakh! Crawww!

Suara jeritan makhluk tersebut terdengar jelas di indera pendengarannya. Naruto memperlebar langkah yang ia ambil. Meskipun beresiko tersandung, ia tetap mempercepat langkah lebarnya. Dan ia tahu jika makhluk yang mengejarnya mulai mempersempit jarak dengannya.

"Fuck! Fuck, fuck, shit!" ia mengumpat kesal.

Dia terus berlari. Sampai ia menghentikan laju larinya ketika tepat di hadapannya terdapat sebuah pagar yang dihiasi kawat berduri yang mem-blokade jalannya.

"Sial! Apa yang harus ku lakukan?!"

Hingga kedua mata Naruto menangkap sebuah alat pemotong kawat yang tergeletak tak jauh dari pagar tersebut. Ia dengan cepat mengambil alat pemotong tersebut dan langsung mencoba memotong kawat berduri yang menempel pada pagar.

Ctakk! Alat pemotong itu terbelah karena sudah usang dan berkarat.

Naruto mengumpat kesal. "Damn it! Aku harus mencari jalan lain!" ujarnya.

Setelah ia rasa tak ada jalan lain, Naruto dengan gentlenya langsung memanjat pagar yang dihiasi kawat berduri. Alhasil, telapak tangan dan tangannya terluka dan sedikit lecet.

"Ouch!" setelah berhasil melewati pagar berduri tersebut, Naruto tanpa memerdulikan rasa perih di telapak tangan dan tangannya langsung berlari sekencang-kencangnya.

Craw! Craw! CRAWWW!

Suara jeritan makhluk tersebut semakin dekat dengannya. Naruto tak tahu apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa makhluk tersebut mengejarnya. Yang ia tahu, lari adalah solusi terbaik.

"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Sampai kemudian ia menghentikan larinya saat pandangannya menemui sebuah jurang yang curam yang dipenuhi oleh pohon-pohon lebat. Ia terpojok.

"Sial!" Naruto membalikkan badannya.

Drap! Drap! Drap! Brugh!

CRAAAAAAAAWWWWW!

Makhluk yang mengejarnya tadi kini tepat di hadapannya. Seekor makhluk kurus, tubuhnya berupa manusia. Badannya sangat kurus hingga terlihat tonjolan tulang di sekujur tubuhnya. Kepalanya seperti manusia biasa, namun tanpa rambut dan mulutnya hanya terdapat gigi taring, tanpa bibir. Makhluk itu juga tidak memiliki hidung, hanya dua lubang kecil di atas mulutnya.

'Makhluk jenis apa itu?' batin Naruto yang terpojokkan.

Makhluk itu berjalan mendekat ke Naruto dengan cara merangkak.

Craw!

Makhluk itu semakin mendekat.

Craw!

Naruto berjalan mundur perlahan.

Craw!

Set! Naruto tak memerhatikan langkahnya dan ia tersandung sebuah batu dan menyebabkannya terlempar ke jurang curam yang berada di belakangnya.

"Aaaaaaah!"

Brukh! Dhuagh! Brugh! Brukkhh!

Naruto memantul beberapa kali sebelum mendarat dengan keras di dasar jurang. Tak ada pergerakan dari Naruto setelah ia mendarat dengan keras di dasar jurang.

Mungkinkah ia mati...

...atau ia hanya pingsan semata?

TBC


A/N:

Merasa de javu dengan scene terakhir? Penjelasannya ada di chapter 3. Ga mungkin kan saya kasih tahu disini? Spoiler dong? :D

Finally, chapter 3 is out. Setelah minggu kemarin saya ada acara ㅡsehingga penulisan fic ini tergangguㅡ akhirnya saya kebut selama 3 hari terakhir. Sebenarnya kalo ga ada acara, hari Senin udah selesai. Tapi ya karena ada acara dari Sabtu sampai Selasa, maka fic ini baru di publish hari ini.

Di chapter 2 ini mengulik sedikit kemungkinan penyebab Naruto menjadi seperti itu. Dan ingat ya, ada genre Fantasy di fic ini. Jadi ada sedikit out-of-mind out-of-logic tapi masih bisa di maafkan lah. Dan buat yang punya ide atau masukan, silahkan tulis di kolom review atau bisa langsung kirim PM ke saya.

Update? Tanggal 23 bulan ini saya UTS dan tanggal 30 Oktober sampai 4 November ada Tes Probabilitas, dan kemungkinan akan up setelah pergantian bulan. Tapi saya belum bisa memastikan sih, entah saya bisa nulis pas UTS/Tes Probabilitas atau malah ga bisa nulis atau parahnya kena Writer Block *amit-amit*.

Okay, sekian dulu sampai disini. Gimme your feedback, please? By leaving a trace, like review or press fav/follow button. Your feedback are means a lot to me :)

So do you guys...

Mind to RnR?


© Uzumaki Nugroho