Disclaimer

Ansatsu Kyoushitsu punya Yuusei Matsui

Warning : OOC, cerita gak nyambung

Cuaca pagi hari ini sangat cerah. Secerah hati Rio saat ini. Lihat saja, jalannya melompat-lompat, senyum yang tidak ada habisnya dan sesekali terdengar senandung riang dari mulutnya. Nakamura Rio terlihat sangat senang, kontras sekali dengan anak kelas 3-E lainnya yang justru merinding dengan sikap iblis kuning itu.

Saat ini kepalanya disibukkan dengan memikirkan rencana selanjutnya untuk mengerjai ketua OSIS angkuh itu. Membuatkan cookies beracun? Atau menukar seluruh isi tasnya dengan ero-hon milik Okajima? Terlalu banyak hal yang bisa dilakukannya dengan status pacar itu. Mungkin nanti ia harus berunding dengan Karma. Uh, Rio tak bisa berhenti tertawa karenanya.

"Tampaknya kau senang sekali Rio-chan. Ada apa?" tanya Kurahashi yang tahu-tahu sudah duduk di depannya. Rio cengengesan. Cerita, nggak, cerita, nggak. Cerita saja deh. Toh Kurahashi Hinano kan sobat dekatnya.

"Tahu tidak? aku pacaran dengan Asano lho." Hening sejenak. Kurahashi pasang muka poker face.

"Rio-chan, bercandamu tidak lucu."

"Aku serius, Hinano."

"Pacaran sama kepala dewan?"

"Sama anaknya lah, aho." Ekspresi Kurahashi berubah horror. "EEEEEEEHHH?!" buru-buru Rio membekap mulut sobat kumbangnya itu. Rio menaruh telunjuk di depan mulutnya. Kurahashi mengerti.

"Bagaimana bisa?" tanya Kurahashi dengan volume suara yang dikecilkan. Rio senyum bangga.

"Kau ingat dengan surat cinta di loker sepatuku kemarin? Itu kiriman Asano karena ia kalah taruhan dengan teman-temannya. Aku pakai itu sebagai ancaman." Kurahashi tercengang. Sumpah, sahabatnya ini sudah gila. Oh, jenius di saat bersamaan.

"Kenapa harus pacaran?"

"Karena sepertinya menarik." Rio terkekeh. "Lagipula ini kesempatan kita untuk balas dendam ke ketua OSIS sombong itu." Mata Kurahashi mengerjap bingung.

"Memangnya apa yang dilakukan Asano sampai kau harus membalas dendam?" Rio mendengus.

"Hinanooo dia sudah meremehkan kelas kita. Kita harus membuka matanya!" seru Rio gemas. Kurahashi menggeleng tanda tak sependapat.

"Itu tidak baik, Rio-chan. Kau memainkan perasaannya."

"Tenang saja, Hinano. Kupastikan tidak ada perasaan khusus di antara aku dan Asano." Rio menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Kurahashi menghela nafas. Ia beranjak begitu melihat si empunya kursi, Okano Hinata meletakkan tasnya di atas meja.

"Ingat, jangan sampai kelewatan." pesannya sebelum kembali ke bangkunya sendiri.


Rasanya Asano ingin headbang di meja OSIS nya sekarang juga. Berkas-berkas dokumen yang menumpuk minta ditanda-tangani membuat si ketua OSIS Kunigigaoka ini merasakan mual yang amat sangat. Ukh, mana proposal permintaan sponsor belum beres pula. Rambut pirang stroberi itu sudah tak karuan lagi lantaran kebanyakan diacak akibat frustasi. Kalau sudah begini, Asano memilih untuk pergi ke atap sekolah agar pikirannya lebih fresh.

Dengan sebuah laptop di pangkuan, Asano melanjutkan pekerjaannya kembali. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara keyboard yang ditekan oleh jemarinya lincah. Saking seriusnya, ia tidak menyadari adanya makhluk lain yang menghampirinya.

"Di sini kau rupanya, ketua OSIS." Yang disapa menoleh. Wow, orang yang paling tidak ingin kulihat malah muncul, batin Asano. Rio membaringkan tubuhnya di sebelah sang ketua OSIS.

"Kenapa kau tahu aku di sini?" tanya Asano tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Rio mengangkat bahu. "Insting wanita." jawabnya cuek diikuti dengan gumaman malas dari lawan bicaranya.

"Apa yang sedang kau buat sih?" Rio mengintip layar laptop di pangkuan Asano.

"Proposal permintaan sponsor." jawab Asano singkat. Rio terdiam. Ia mengakuinya, lelaki di hadapannya ini memang super sibuk. Bayangkan, setelah jam belajar sekolah, ia harus melakukan tugas OSIS, belum lagi belajar untuk UAS yang sudah dekat. Terkadang Rio berpikir, untuk apa Asano berusaha sekeras itu hanya untuk melawan kelas 3-E?

Rio mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dengan lengannya sebagai bantalan. Manik birunya menatap Asano intens. Kaku, membosankan, tsundere. Hampir tidak ada sesuatu hal yang bagus dari Asano. Aah, Rio jadi menyesal memacari cowok ini…

"Apa kau lihat-lihat?" Ups, Asano sadar toh.

"Kau ganteng tapi judes, ya." Si pirang stroberi melotot. Rio tertawa kecil. Sebelum Asano sempat protes, ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan Asano. Di pintu atap masih sempat-sempatnya si pirang itu berteriak.

"Jangan lama-lama diam di situ! Bisa masuk angin!" Cekrek. Tak peduli, Asano mengabaikan peringatan gadis itu.

Eh, tunggu. Suara 'cekrek' barusan itu apa ya?

Asano menatap horror ke arah pintu satu-satunya di atap itu.

"NAKAMURA SIALAN! JANGAN DIKUNCI PINTUNYA!"


Hari ini Isogai mengumumkan acara festival budaya yang akan diadakan minggu depan. Seluruh murid kelas 3-E sangat antusias mengusulkan idenya. Kecuali Rio yang duduk bertopang dagu di mejanya, melamun. Ia baru mengerti dengan kesibukan Asano beberapa hari ini. Pantas saja pemuda itu lebih sering berkutat dengan laptop kesayangannya. Oh, Sugino juga bercerita kalau si ketua OSIS itu mencari sponsor untuk stand kelasnya. Astaga, hanya untuk stand kelas ia berusaha sampai sejauh itu?

"Haah… Bisa menang tidak, yaa…"

"Ada apa, Nakamura-san?" suara lembut menginterupsi pikirannya. Rio menoleh, mendapati pemuda bersurai biru yang duduk di sebelahnya.

"Tidak, aku hanya sedang kepikiran. Si ketua OSIS itu sepertinya sedang berusaha keras sekali untuk menghancurkan kita." Nagisa tertawa kecil mendengar komentar Rio.

"Tapi aku senang lho, dia berjuang keras untuk melawan kelas kita." Dua pasang bola mata berwarna biru bertabrakan. "Artinya, dia menganggap kita musuh yang kuat, kan'?"

Rio termenung.


Syukurlah, berkat pengumuman yang menyatakan bahwa guru-guru sedang rapat, para murid dibebaskan dari jam sekolah lebih cepat dari biasanya. Asano langsung berkemas. Tubuhnya terasa pegal dari atas sampai bawah. Kelelahan, ia memutuskan untuk pulang sesegera mungkin untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sebelumnya ia singgah sebentar di depan mesin penjual minuman untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang kering. Rupanya sudah ada tiga orang lainnya yang lebih dulu mendatangi tempat itu.

"Ah, selamat sore, Asano-kun." pemuda berompi biru menyapa Asano. Di belakangnya, ada si surai merah dan hijau yang mengikuti.

"Selamat sore, Shiota-san." Balas Asano basa-basi. Si surai biru itu membungkuk sopan dan berjalan kembali meninggalkan si rambut jingga. Sopan, baik hati dan lembut, begitu penilaian Asano kepada Shiota Nagisa. Asano merasa kalah juga jika dibandingkan dengan Nagisa dalam hal merperlakukan cewek. Hah, ia segera menepis pikiran-pikiran tidak penting itu. Kakinya kembali melangkah, namun terhenti lagi begitu melihat gadis pirang berdiri di depannya.

"Apa maumu?"

"Baka! Bukannya hal wajar, sepasang kekasih pulang bersama?"

"Merepotkan." Asano menghela nafas. "Biarkan aku pulang sendiri. Aku lelah." Rio tidak mengindahkan permintaan Asano. Ia berjalan bersisian dengan lelaki itu.

Angin musim gugur menerpa tubuh keduanya. Rio bergidik merasakan dingin yang menusuk tulangnya. Sesekali ia melirik wajah pemuda di sebelahnya yang terlihat kelelahan.

"Sepertinya kau berjuang sangat keras, ya." kata Rio memecah keheningan.

"Tentu saja, aku sudah bertekad untuk menghancurkan kalian." sahut Asano cepat. Huh, dengan wajah kelelahan begitu, masih saja ia bersikap angkuh, batin Rio sebal.

"Haha, padahal biasanya kau kan' dengan mudah menjatuhkan kami. Tumben kau tidak meremehkan kami." Langkah Asano berhenti. Rio spontan menghentikan langkahnya dan menatap pemuda di sebelahnya dengan bingung.

"Kau bicara apa? Tak pernah sekalipun aku meremehkan kalian, kelas 3-E." jawaban Asano yang tak disangka-sangkanya itu membuat Rio terpana. Asano memutus kontak matanya dengan Rio dan kembali berjalan meninggalkan Rio yang masih saja bengong. Begitu ia melintasi sebuah sungai, tiba-tiba terdengar derap langkah dan terasa dorongan keras di punggungnya. Asano terlambat menyadarinya dan…

BYUUUR!

"Pirang sialan! Apa yang kau…" umpatan di ujung lidahnya kembali tertelan begitu Nakamura Rio ikut menceburkan diri ke sungai yang tak terlalu dalam itu.

"Hahahahaha ini menyenangkan!" begitu kepalanya muncul di permukaan air, tahu-tahu Rio sudah tertawa lepas. Asano tercengang. Ini pertama kalinya ia melihat tawa dan senyuman Rio yang tulus. (Kalau tawa sinis dan seringaian sih sudah biasa Asano dapatkan.) Mau tak mau, Asano menyimpan gerutuannya dan ikut tersenyum. Entah mengapa, rasa lelahnya menguap begitu saja. Sore itu mereka habiskan dengan bermain air sampai kedinginan.

Sepertinya mereka mulai melihat satu sama lain dengan pandangan yang berbeda.

TBC

Yooo akhirnya saya update juga… hohoho udah satu bulan ya. *cekekauthor* Untuk chapter ini saya bikin ceritanya fokus ke Rio. Harus ada something yang bikin mereka melangkah maju. Maaf kalo ngebosenin… hehe

Review?