Beberapa hari kemudian...

"Kau melihat Kaito?" tanya Meiko pada seorang miko di kuil Shion.

"Akhir-akhir ini, Tuan Muda Kaito sering mengunjungi perpustakaan. Mungkin dia sedang ada disana sekarang." jawab sang miko.

Meiko menghela nafasnya, "Baiklah. Terima kasih."


Di perpustakan, Kaito berada di bagian sejarah keluarga Shion. Hingga sekarang, Kaito tidak menemukan biografi Shion Amagoto yang lengkap, dan dia tidak menemukan nama Kamui Gakupo dimana-mana. Saking kesalnya, Kaito meladeni semua orang dengan bentakan. Sejak saat itu pula tidak ada yang berani mendekatinya selain ayah dan ibunya. Meiko yang kembali lagi setelah festival Rubah Merah, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Karena terakhir dia melihat Kaito, dia menangis memanggil nama Gakupo, yang sama sekali tidak Meiko kenal.

Meiko membuka pintu perpustakaan, disana dia bertemu dengan Miku, si Perpustakaan Berjalan. "Oh... kalau tidak salah... namamu Miku, 'kan?" tanya Meiko.

Miku yang sedang membawa buku tebal tersenyum kearah Meiko, "Selamat pagi, Nona Meiko. Namaku Hatsune Miku. Hari ini aku yang bertugas di perpustakaan. Ada yang bisa saya bantu?"

"Dimana Kaito?" tanya Meiko, "Seorang miko berkata jika dia ada disini."

Miku langsung mengeluarkan keringat dingin, "O—Oh..." ucapan Miku agak terbata-bata. "Di—dia ada di bagian sejarah keluarga Shion. Ta—tapi! Lebih baik jika anda meninggalkannya dulu."

Meiko heran, "Kenapa?"

"Akhir-akhir ini Tuan Muda Kaito tidak ingin diganggu jika mengunjungi perpustakaan." Miku tampak gelisah, "Beberapa hari ini, Tuan Muda Kaito sepertinya sedang mendalami riwayat leluhurnya. Dan... dia juga terus meneliti tentang Rubah Merah dan Rubah Putih."

"Rubah Merah?" Meiko mengerutkan alisnya, "Ah... sejak festival itu, tidak ada tanda-tanda tentang Neishi si Rubah Merah. Bukankah Neishi masih ada di kotak segel?"

"Benar. Namun, kami masih waspada jika itu memang Neishi, atau Tanuki yang sedang membodohi kami." ucap Miku.

"Jadi... kapan Kaito akan keluar dari perpustakaan ini?" tanya Meiko.

Miku melihat jam, "Hmm... biasanya dia berada disana seharian, tapi dia akan keluar jika waktu makan siang."

Meiko menghembuskan nafasnya, "Cih! Berarti aku harus menunggu 4 jam lagi. Baiklah... saat dia keluar, beritahu dia jika aku mencarinya. Dia harus melatih murid baru di sekolah panahan."

"Baiklah, akan saya sampaikan." ucap Miku.


Sementara itu, Kaito mengunci ruangan bagian sejarah keluarga dan masih mencari apa yang dia cari. Wajahnya kusut dan matanya agak lebam dan memerah karena kurang tidur. Kini dia membaca buku berjudul 'Kejayaan Shion Amagoto'.

"Shion Amagoto memimpin beberapa pasukannya menuju utara untuk menangkap Neishi dan memasang beberapa jebakan di hutan Yamato." Kaito mengambil buku 'Hutan Yamato bagi Youkai' yang berada di sampingnya, "Pasti ada sesuatu di gunung terkutuk ini..." dia membuka halaman pertama, "Hutan Yamato adalah gerbang menuju dunia Youkai yang dijaga oleh keluarga Shion. Tidak ada yang bisa memasuki gerbang tersebut kecuali para youkai tersebut. Satu-satunya orang yang berhasil masuk ke dunia youkai adalah Shion Amagoto."

Kaito menyandar dan menghela nafas, dia menatap langit-langit dengan tatapan kosong, "Aku mulai muak dengan nama Shion Amagoto yang ada di semua buku, tapi tidak ada yang membahas sahabatnya yang bernama Kamui Gakupo." Kaito melirik kesana-kemari, "Dan mahluk bodoh itu tidak menampakan dirinya lagi setelah festival usai."

Dia pun berdiri dan membereskan penampilannya, dia membuka kunci ruangan tersebut dan keluar dengan wajah kusut. Kaito melewati Miku yang tampak canggung.

"Su—sudah selesai, Tuan Muda Kaito? Tumben anda keluar secepat ini." ucap Miku ragu-ragu.

"Sudah semua buku aku baca. Dan aku tidak menemukan apa yang aku cari." ucap Kaito.

Miku teringat pesan Meiko, "Tuan Muda Kaito, Nona Meiko mencari anda dan dia sepertinya ingin anda melatih murid baru di sekolah panahan."

Kaito tidak menjawab, sambil berjalan keluar, dia meninggalkan perpustakaan.


Kaito berjalan menelusuri lorong rumahnya yang besar. Suara kayu yang dia injak terdengar jelas karena suasana sangat sepi. Lalu, dia bertemu dengan Kiyoteru disana.

"Selamat pagi, Tuan Muda Kaito." ucap Kiyoteru.

"Pagi..." ucap Kaito biasa tanpa memandang Kiyoteru.

"Anu..." ucap Kiyoteru, "Hari ini kami akan pergi ke hutan Yamato untuk mengunjungi makam leluhur kelurga Shion. Ayah anda memang tidak mengatakan langsung, tapi beliau ingin anda ikut juga."

"Kapan?" tanya Kaito dengan nadanya yang tidak bersemangat.

"Sore ini, pukul 5." jawab Kiyoteru.

Kaito pun berjalan melewati Kiyoteru, "Baiklah. Aku mengerti."


Kongo berada di kuil dan mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk nanti saat berkunjung ke makan leluhur Shion. Sambil mempersiapkan, dia kini keheranan dengan sikap anaknya yang sangat aneh dan berubah. Selama dia memiliki Kaito, ini pertama kalinya dia melihat anaknya benar-benar terobsesi dengan leluhurnya dan sejarah Rubah Merah. Kiyoteru masuk ke altar, dia melihat tuannya nampak kebingungan.

Kiyoteru tersenyum, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Oh... tolong siapkan beberapa jimat keluarga." ucap Kongo, "Dan bisakah kau membawa gulungan mantera ke-4?"

"Gulungan ke-4? Bukankah itu gulungan mantera yang terlarang? Anda bilang jika gulungan itu penuh dengan mantera-mantera penguat youkai." Kiyoteru tampak gelisah.

Kongo dengan santai memberi sebuah catatan yang sudah sangat tua dan rapuh pada Kiyoteru, "Bukalah halaman yang tertulis namaku."

Kiyoteru kaget melihat catatan tua lusuh tersebut, "I—ini... catatan kepala keluarga Shion?"

"Iya dan sudah tentu itu diberikan turun temurun, suatu hari nanti, Kaito akan menerima buku tersebut. Di halaman pertama, generasi pertama Shion mengharuskan kepala keluarga Shion memilikinya. Lalu, dia menuliskan angka disetiap halaman." Kongo menunjukan nomor 99, "Disana tertera 'Kepala Keluarga Shion ke-99', dan aku menuliskan namaku. Disana aku menuliskan semua hasil kerjaku sebagai kepala keluarga Shion. Tapi aku kaget ketika membuka ujung halaman tersebut, ada sebuah catatan kecil. Dan itulah yang membuatku membuka gulungan mantera ke-4."

Kiyoteru langsung membuka halaman tersebut, "Bacakan mantera ke-6 dari gulungan mantera ke-4 di makam Shion Amagoto."

"Dan, karena ini adalah catatan leluhur, aku harus menurutinya." ucap Kongo.

Kiyoteru membuka halaman kepala keluarga ke-92, "Tuan... maaf, tapi kenapa tidak ada tulisan apa-apa di halaman Shion Amagoto."

"Entahlah." Kongo menghela nafas, "Dia adalah orang yang berhasil menyegel Rubah Merah, aku yakin dia sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menulis di catatan tersebut."

Kaito berjalan menuju kamarnya, di kamarnya, Ibu Kaito dan beberapa miko sedang membereskan kamar Kaito.

Kaito tampak malas, "Bu... aku ingin tiduran sebentar. Bisakah kau membereskan kamarku nanti?"

Ibu Kaito masih membereskan kamar itu, "Ini masih pagi... tidak baik jika kau tidur lagi. Kau sudah sarapan, dan lebih baik kau pergi menemui Meiko. Tadi dia mencarimu."

Tanpa basa-basi lagi, Kaito meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju tempat pelatihan panahan.


Tempat pelatihan panahan masih ada di wilayah kuil Shion. Kaito dan Meiko bertanggung jawab akan pelatihan tersebut, tapi dibandingkan dengan Meiko yang sangat rajin, Kaito yang benar-benar berdarah murni Shion sama sekali tidak peduli. Seringkali Meiko harus melatih para murid sendirian. Setibanya di tempat pelatihan, Meiko dan para murid senior cukup kaget melihat Kaito benar-benar datang sepagi ini.

Meiko menghampiri Kaito, "Aku kira kau tidak akan datang."

"Memang. Tapi ibuku membereskan kamarku." ucap Kaito malas.

Meiko terkekeh, "Baiklah. Lebih baik kau memakai perlengkapanmu, murid-murid baru ini benar-benar menjanjikan."

Kaito pun pergi ke ruang ganti, dengan perasaan malas dan sudah kehilangan semangat, dia mengganti pakaiannya sambil menatap cermin dengan tatapan kosong.

"Tidak baik menatap cermin dengan pikiran kosong."

Mata Kaito terbelalak dan dia melihat bayangan Seiran di cermin. Otomatis Kaito langsung membalik badannya untuk bertatapan langsung dengan Seiran. Namun dia sama sekali tidak ada disana. Kaito mengepalkan tangannya dan merasakan sakit di dadanya.

Tiba-tiba, punggung Kaito terasa dingin dan seakan-akan dia bersandar di bongkahan es. Tangan pucat dan dingin yang sepertinya sudah Kaito kenal, memeluk tubuh Kaito dari belakang.

"Apa kau merindukanku?" bisikan itu masuk ke telinga Kaito.

Kaito terdiam dan dadanya berdetak dengan kencang. Dia tahu siapa yang memeluknya, dia melihat kearah tangan pucat tersebut, kini dia benar-benar yakin. Dengan suara yang berat, Kaito mencoba memanggilnya, "Se—Seiran...?"

"Kau tahu aku memiliki nama, Shion Kaito." ucapnya.

Kaito menutup matanya, "Ga—Gakupo..."

Tiba-tiba pintu terbuka, Meiko muncul, "Kaito! Mau sampai kapan kau ganti baju?!"

Kaito tidak merasakan dinginnya tubuh Gakupo lagi, kini dia menatap Meiko dengan tampang kesal. Meiko yang keheranan melihat ekspresi Kaito, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

"Ka—Kaito...?" ucap Meiko terbata-bata.

Kaito berjalan menuju pintu lalu mengambil busur dan anak panahnya melewati Meiko, "Dasar bodoh... Bisakah kau mengetuk pintu?" ucap Kaito dengan nada ketus.

Di tempat pelatihan wajah Kaito benar-benar menakutkan. Dia menatapi para murid baru dengan dingin, dan jika dia melihat sedikit kesalahan, dia langsung menegurnya.

"Kau ini kenapa, Kaito? Kau tidak mungkin semarah ini hanya karena aku tidak mengetuk pintu, 'kan?" Meiko mengangkat sebelah alisnya.

Kaito berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, "Sudah cukup. Latihlah mereka. Aku sudah lelah." Kaito pun pergi meninggalkan tempat pelatihan.


Di altar kuil, Kaito melihat ayahnya dan Kiyoteru sedang membereskan persiapan untuk kunjungan ke makam leluhur Shion. Kaito menghampiri mereka.

"Ini untuk nanti sore?" tanya Kaito, dan dia melihat gulungan mantera ke-4, "Ayah... kenapa kau membawa gulungan mantera ke-4?"

Kongo dan Kiyoteru kaget karena Kaito tahu tentang gulungan tersebut, padahal Kaito tidak pernah mempelajari gulungan mantera.

"Tuan Muda Kaito, anda tahu tentang gulungan tersebut?" tanya Kiyoteru.

"Tentu saja. Disana banyak mantera penguat youkai, bahkan mantera menggandakan jiwa youkai. Apa yang akan kalian lakukan dengan itu?" Kaito tampak bingung.

Kongo memberikan catatan kepala keluarga Shion pada Kaito, "Karena disana tertulis ayah harus melakukannya."

Kaito kaget melihat catatan tersebut, dan tanpa menunggu apa-apa, dia langsung membuka halaman Shion Amagoto. Dan ternyata disana tidak tertulis apa-apa. "Ayah, kenapa halaman Shion Amagoto tidak ada tulisan apapun?"

"Entahlah. Mungkin dia terlalu sibuk untuk menulis catatan di masa itu." jawab Kongo.

"Bolehkah aku mengambil catatan ini?" ucap Kaito dengan matanya yang penuh harapan.

"Baiklah. Asalkan kembalikan ke ayah sebelum kunjungan ke makam leluhur. Belum saatnya kau menerima catatan itu. Dan hati-hati, itu buku lama dan sudah rapuh. Jangan sampai rusak." ucap Kongo.

Kaito mengangguk setuju dan lari keluar dari altar kuil menuju kamarnya. Kaito berharap ibunya sudah keluar dari kamarnya. Ketika dia membuka kamarnya, terdengar suara dari kamar Kaito.

Kaito membuka pintu, "Ibu, tolong... aku ingin sendirian di—" Kaito kaget karena tepat di depannya, Gakupo berdiri dan tersenyum kearahnya. "Ga—Gakupo..."

Gakupo tersenyum, "Kau bersemangat sekali. Apa kau menemukan sesuatu yang bagus?"

Kaito mencoba untuk tidak terbawa suasana dan perasaan menguasainya, dia berusaha tenang tanpa merasa senang—bahkan terlalu senang—melihat Gakupo setelah beberapa hari dia menghilang dari hadapannya. Akhirnya, Kaito mengabaikan Gakupo dan dia duduk untuk membaca catatan yang dia dapat dari ayahnya.

Gakupo ikut melihat catatan tersebut, dan kepalanya benar-benar berdekatan dengan Kaito. Kaito bisa merasakan hawa dinginnya.

"Catatan kepala keluarga Shion?" Gakupo tersenyum, "Bukankah ini terlalu cepat untukmu, Shion Kaito?"

Kaito masih mengabaikan Gakupo, dia membuka halaman Shion Amagoto yang kosong. Gakupo menatap halaman itu tanpa berkata apa-apa. Kaito melirik Gakupo, "Kau tahu kenapa halaman Shion Amagoto kosong?" tanya Kaito.

Gakupo tidak menjawab, Kaito melihat ekspresi wajah Gakupo, dan sepertinya Gakupo juga tidak tahu kenapa catatannya kosong. Kemudian, Kaito membuka halaman selanjutnya. Disana tertera nama anak dari Shion Amagoto.

"Kemenangan keluarga Shion atas Neishi, membuat keluarga Shion kembali ke puncak. Perayaan dan selamatan dilakukan di banyak tempat. Sebagai anak dari Shion Amagoto, aku tidak begitu banyak menghasilkan banyak selain hidup di belakang kemenangan ayahku. Aku harap, anakku bisa membuat sesuatu yang hebat di masanya." Kaito kini berpikir, "Dilihat dari catatannya dan semua pendahulunya—kecuali Shion Amagoto, sepertinya mereka menuliskannya dimana mereka hendak memberikan catatan ini pada anak mereka."

Gakupo tersenyum, "Aku penasaran, apa yang akan ayahmu catat nanti."

"Ayah telah membangun sekolah panahan Shion 10 tahun yang lalu. Aku yakin ayah akan menuliskannya di catatan ini." ucap Kaito.

"Tapi tetap saja, ayahmu adalah orang yang lemah." ucap Gakupo tiba-tiba.

Kaito berdiri dan menarik scarf Gakupo, "Berhentilah memanggil ayahku lemah. Kau tidak tahu betapa beratnya dia menjadi kepala keluarga Shion."

Gakupo menatap Kaito, "Apa kau lebih kuat darinya? Atau kau lebih lemah darinya?"

"Kami sama." ucap Kaito tegas, "Kami kuat dan lemah disaat tertentu. Tidak ada orang yang selalu kuat menghadapi apapun."

"Itu artinya kalian lemah." ucap Gakupo santai, "Amagoto dulu menyegel Yuuma dengan tangannya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Setelah kehilangan banyak, dia tetap berdiri tapi—"

Kaito mendorong Gakupo, dia benar-benar marah dan menatap Gakupo dengan perasaan sangat kesal, "Itu karena aku bukan dia! Berhentilah membandingkanku dengan dia! Dia adalah nenek moyangku dan aku hanyalah keturunannya yang membawa namanya saja."

Kaito terengah-engah karena marah dan masih menatap Gakupo dengan matanya yang berapi, sedangkan Gakupo menatap balik dengan wajah tenang, "...tapi dia tidak sepertimu, kau memiliki keberanian dalam mengungkapkan apa yang kau pikirkan. Kau bisa membela diri, bahkan membela ayahmu—padahal kau tidak peduli dengannya." Gakupo tersenyum.

Kaito terdiam, tatapannya berubah menjadi tenang namun dia tidak bisa berkata apa-apa.

Gakupo kembali tersenyum, "Maka dari itu... dengarkan pembicaraan seseorang hingga selesai." Gakupo memegang dagu Kaito dengan tangan dinginnya, "Karena ayahmu lemah... lindungilah dia."

"Di—dia... Maksudku, Yuuma... Apa dia benar-benar akan kembali?" ucap Kaito sambil memegang tangan Gakupo yang menyentuh dagunya.

"Aku tidak bisa membaca masa depan, dan sekalipun dia kembali, aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Aku terbangun dari tidurku 19 tahun yang lalu. Aku cukup terkejut karena dunia benar-benar berubah." ucap Gakupo lalu dia membuka jendela kamar Kaito yang pemandangannya langsung menuju Gunung Yamato. "Aku kembali ke kuil ini setelah bangun, dan aku melihat ayahmu. Aku mengikutinya seharian, dia sepertinya tidak memenuhi syarat sebagai kepala keluarga Shion. Dan aku bisa menyimpulkan, bahwa dia tidak begitu kuat jika bertarung langsung dengan youkai. Sedangkan keluarga Shion harus mampu berhadapan langsung dengan youkai. Akhirnya, aku mengelilingi seluruh kuil. Di tempat pelatihan panah, aku melihat seorang anak laki-laki dengan wajahnya yang penuh harga diri... dan aku mengenal wajah itu."

Mata Kaito membulat, "Itu..."

Gakupo tersenyum, "Iya... dia adalah anak tunggal dari keluarga Shion generasi ke-99, Shion Kaito. Dengan gagahnya membidik sasaran dengan busur dan anak panahnya. Aku melihat banyak hal yang bisa kau lakukan hari itu, kuat, penuh percaya diri, dan tidak memiliki rasa takut. Oleh karena itu, aku sengaja menembakan sebuah panah kearahmu dan melihat sejauh mana kau bisa bertahan. Tapi sejak itu, kau malas menekuni panahan."

"Te—tentu saja! Apa kau sadar telah melukai seorang anak berusia 6 tahun?!" Kaito protes.

Gakupo melihat kearah kaki kiri Kaito, "Aku yakin bekas lukanya masih ada."

"Panah itu terbuat dari besi tua yang dipanaskan beratus-ratus tahun. Tentu saja meninggalkan bekas luka!" Kaito mengangkat celana bagian kirinya dan memperlihatkan Gakupo bekas lukanya. "Lihat! Bekas luka yang tidak indah!"

Gakupo tersenyum, "Maafkan aku. Lupakan itu..." kini Gakupo berwajah agak serius, "Beberapa hari aku tidak kembali setelah mengirimu ke masa Amagoto, sebenarnya aku pergi ke dunia youkai. Disana benar-benar kacau karena berita Yuuma akan bangkit kembali. Aku telah berbicara dengan Kagamine bersaudara—"

"Kagamine?" ucap Kaito, "Mereka youkai yang terkenal karena kemampuan mereka untuk merasuki pikiran, 'kan? Bukankah mereka termasuk youkai yang berbahaya?"

"Kagamine bersaudara memang terkenal dengan kejahatan mereka saat merasuki pikiran seorang Kaisar dan membuat seluruh rakyatnya bertarung hingga tidak tersisa nyawa satupun." Gakupo tersenyum, "Tapi percayalah... kejahatan mereka hanya saat itu saja. Dan lagi, mereka menganggapku sebagai kakak mereka. Mereka mendengarkan semua yang aku katakan."

Kaito menghela nafas, "Aku harus menulis ulang semua buku youkai di kuil ini."

"Baiklah... kita lanjutkan." ucap Gakupo, "Kagamine bersaudara melihat tanda-tanda Yuuma telah kembali. Ayahmu tidak memasang jimat penahan youkai di ruang bawah tanah, jadi Kagamine bersaudara sering mengecek keadaan Yuuma yang tersegel. Setiap harinya, tulisan pada jimat segel telah terkikis. Mereka benar-benar panik, karena bekas guratan tersebut bukan karena tua atau debu, melainkan guratan dari goresan kuku. Mereka tidak tahu siapa yang melakukannya, jadi mereka setiap hari bertugas menjaga segel tersebut. Tetapi... mereka tidak melihat keanehan."

"Apa mungkin itu goresan kuku manusia?" tanya Kaito.

"Entahlah... aku tidak pernah melihat kesana." jawab Gakupo.

Kaito tampak berpikir, "Aku akan mengeceknya kalau begitu. Aku akan berbicara dengan ayah. Dan memberitahu dia agar memasang jimat penahan."

"Apa itu perlu? Kagamine telah melakukan pengecekan setiap hari hingga kini. Lebih baik mereka yang melihat perkembangannya dibandingkan menempel jimat." usul Gakupo. "Dan aku akan ikut denganmu ke ruang bawah tanah untuk melihatnya secara langsung. Tapi, aku pikir kau tidak perlu berbicara dengan ayahmu, dia tidak akan mengijinkan siapapun kesana kecuali saat perayaan Rubah Merah."

Kaito teringat sesuatu, "Oh iya, sore ini aku akan mengunjungi makan leluhurku, jadi aku tidak bisa pergi sekarang." Kaito tersenyum kearah Gakupo, "Baiklah. Datanglah ke depan gerbang kuil nanti malam. Aku akan menunggumu disana." ucap Kaito.

Gakupo tersenyum, "Dengan senang hati, Shion Kaito."


Sore itu, keluarga Shion dan semua anak buahnya pergi ke makam leluhur Shion. Cuaca saat itu mendung dan suara guntur mulai bermunculan. Kaito memegang gulungan mantera ke-4 untuk dibacakan ayahnya nanti. Setibanya di makam, persiapan upacara segera dipersiapkan. Kaito duduk menunggu sambil membaca gulungan mantera yang dia pegang.

"Mantera-mantera penguat dan terlarang untuk diucapkan di depan youkai secara langsung." Kaito mengerutkan alisnya, lalu dia melihat kearah ayahnya, "Ayah... apa benar kau harus membaca mantera di gulungan ini? Jika aku ada di posisimu aku tidak akan membacakan mantera ini."

"Itu pesan yang tertulis di buku catatan kepala keluarga Shion. Kau tidak bisa mengabaikannya. Kau harus menurutinya. Itu adalah sebuah pesan yang penting dari pendahulu kita." ucap Kongo.

Kaito menghela nafas dan membuka mantera ke-6, "Mantera ini yang harus dibacakan?" Kaito membaca dalam hatinya, "Seluruh alam semesta mendengar dan melihat. Teriakan manusia, dan tawa iblis. Buka gerbang menuju jalan lurus yang panjang dan tak berujung. Disana kau melihat, sebuah tetesan darah. Mengalir, menghalangi jalanmu—" Kaito kini benar-benar khawatir, "Ayah! Kau sudah membaca mantera ini? Mantera ini tidak masuk akal!"

"Tentu saja. Tapi ayah harus membacakannya." Kongo bersikeras. "Baiklah! Semuanya, upacara akan segera dimulai. Duduk di posisi masing-masing."

Upacara awal berjalan dengan lancar, hingga akhirnya sampai ke bagian dimana Kongo harus membacakan mantera ke-6 dari gulungan ke-4. Kaito mulai mengeluarkan keringat dingin karena khawatir, dia mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya.

Kongo membuka gulungan tersebut dan membacakan manteranya, "Seluruh alam semesta mendengar dan melihat. Teriakan manusia, dan tawa iblis. Buka gerbang menuju jalan lurus yang panjang dan tak berujung. Disana kau melihat sesosok berlumuran darah. Darahnya mengalir, menghalangi jalanmu yang tak berujung. Kau berteriak, karena mahluk yang kau lihat adalah mahluk terkuat di alam semesta ini." lalu Kongo menutup gulungan tersebut dan dia membacakan mantera penutup dengan suara pelan.

Kaito membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya, tapi... ternyata tidak terjadi sesuatu. Entah kenapa Kaito merasa lega. Upacara selesai dan mereka pun kembali ke kuil dengan tenang.


Malam itu, suara guntur semakin kencang. Sepertinya akan segera turun hujan. Kaito berlari ke gerbang kuil, dia takut Gakupo sudah ada disana. Setibanya disana, Gakupo sedang duduk di atas gerbang kuil sambil memandang langit mendung yang bercampur suara guntur.

Kaito menghela nafas, "Sejak kapan kau tiba?"

Gakupo tersenyum kearah Kaito, "Baru saja. Aku datang karena kau datang."

"Sudahlah. Ayo kita pergi ke ruang bawah tanah." ucap Kaito.

Gakupo turun dari gerbang dan mengikuti Kaito, "Baiklah."

Sementara itu, di kamar orangtua Kaito, Kongo dan istrinya sedang mempersiapkan futon untuk tidur.

"Aku bangga dan sekaligus heran dengan Kaito." ucap Kongo sambil menarik selimutnya.

Ibu Kaito tersenyum dan tidur di samping Kongo, "Kenapa?"

"Sehari sebelum perayaan Rubah Merah, dia masih sama seperti dulu. Tapi setelah itu, dia telah menekuni apa yang seharusnya dia lakukan sejak kecil di keluarga Shion."

"Apakah seaneh itu?" Ibu Kaito tersenyum, "Mungkin kau harus mengajarkan dia membuat beberapa jimat."

Kongo menghela nafasnya, "Tentu saja. Membuat jimat adalah yang paling sulit. Apalagi membuat jimat penahan youkai. Jimat itu banyak memakan proses dan aku harus mengajarkan dia cara menempelkannya di seluruh daerah kuil, terutama ruang bawah tanah. Aku tidak akan pernah lupa menempelkan jimat itu di ruang bawah tanah."

Kaito dan Gakupo tiba di depan gerbang menuju tangga ke ruang bawah tanah. Kaito membuka kuncinya yang dia bawa secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Kaito berhasil membuka gerbang tersebut.

"Baiklah... ayo kita masuk, Gakupo. Mungkin di dalam salah satu dari Kagamine sedang menjaganya." ucap Kaito sambil melangkahkan kakinya ke tangga.

Gakupo hanya berdiri terdiam. Kaito membalik badannya untuk melihat Gakupo. Dia heran kenapa Gakupo tidak mau masuk.

"Gakupo...?" tanya Kaito, "Kau tidak apa-apa?"

Gakupo melihat beberapa jimat penahan youkai di dekat pintu kedua menuju ruang bawah tanah. "Kaito... ada jimat penaha youkai disana." ucap Gakupo sambil menunjuk ke arah jimat.

Kaito menoleh dan melihat jimat tersebut. "Ini...? Jimat penahan youkai? Kenapa terpasang? Bukanhka—"

Mata Gakupo terelalak, "Tunggu... mungkin ayahmu telah memasangnya dan salah satu dari Kagamine terperangkap disana."

"Apa?" Kaito langsung menghampiri jimat tersebut dan merobek semuanya, "Apa sekarang tidak apa-apa?"

Gakupo tersenyum, "Mungkin." dia perlahan melangkahkan kakinya ke tangga dan akhirnya menginjak anak tangga. Tidak ada yang terjadi pada Gakupo. "Aku masih utuh." ucap Gakupo.

"Baiklah. Ayo." ucap Kaito, lalu dia membuka pintu bawah tanah.

Disana benar-benar gelap, Kaito mengeluarkan senter yang dia bawa dan mengarahkannya kesana-kemari. Dia melihat sebuah kotak lusuh dimana Yuuma tersegel disana. Kaito menghampiri kotak tersebut dan melihat jimat khusu Rubah Merah yang baru terpasang disana. Kini Kaito menoleh kearah Gakupo.

"Aku tidak melihat goresan. Dan lagi, apa kau melihat salah satu dari Kagamine disini?" ucap Kaito.

Gakupo tersenyum, "Aku tidak melihat mereka. Bahkan aku tidak pernah melihat mereka akhir-akhir ini." Tiba-tiba dia sudah berdiri di depan kotak segel. Gakupo menyeringai, "Shion Kaito. Maafkan aku."

Mata Kaito terbelalak dan keringat dingin keluar, "Gakupo... tunggu... apa yang akan—"

Gakupo berubah menjadi Rubah Putih seketika dan angin kencang menerpa Kaito, Gakupo meraung dan menghancurkan kotak segel Yuuma.

Kaito berusaha menahan serbuan angin, "Gakupo! Apa yang kau lakukan?!"

Cahaya merah muncul dan menyentuh langit, suara guntur berubah menjadi kilat. Seluruh daerah bergetar seakan-akan terjadi gempa. Sebuah raungan hebat terdengar sangat kencang, seluruh penghuni kuil Shion keluar dari tempat tidur mereka. Mereka ribut dan melihat keatas langit yang terkena cahaya merah tersebut.

Kiyoteru menghampiri Kongo, "Tuan! Arah cahaya merah itu datang dari ruang bawah tanah!"

"Apa?" Kongo menoleh ke istrinya, "Bawakan kunci ruang bawah tanah!"

Kiyoteru melihat sekelilingnya, "Tu—Tuan... saya tidak melihat Tuan Muda Kaito."

Istri Kongo kembali sambil panik, "Kongo! Aku tidak menemukan kuncinya!"

Sementara semua panik, cahaya merah tersebut kini membentuk menjadi sebuah tubuh. Rambutnya semerah darah, bekas luka di wajahnya membuat dia seperti seorang petarung yang gugur. Pakaiannya pun serba merah. Wajahnya memandang ke atas, dia menyeringai.

"Shion... Amagoto..." ucap sosok tersebut. Tiba-tiba sosok itu berubah menjadi sebuah rubah raksasa berwarna merah dan api di ekornya.

Semua yang melihatnya panik dan ketakutan.

Kiyoteru berwajah pucat, "A—Akagitsune no Neishi."

Tanah di kuil mulai bergetar kembali, kini pusatnya dari makam leluhur Shion. Cahaya putih menambrak Neishi dari makam tersebut. Neishi meraung dengan keras. Sosok rubah Neishi makin membesar dan sekarang tampak lebih menakutkan dari awalnya.

"Ya Tuhan... apakah ini akhir dunia?" ucap Kongo dengan wajahnya yang tampak ketakutan.

Kaito yang berhasil melarikan diri dari ruang bawah tanah, melihat sosok Akagitsune no Neishi yang menjadi teror bagi manusia. Dia terengah-engah dan menahan air matanya. Gakupo muncul dan berdiri di belakang Kaito.

"Kau benar-benar naif, Shion Kaito." ucapnya.

Kaito berdiri dan dia tampak murka, dia menarik scarf Gakupo dengan paksa hingga hampir robek, "Kau rubah sialan! Kau hanya memanfaatkanku! Kau tidak pantas disebut Shirokitsune no Seiran yang membawa kedamaian! Kau tidak jauh beda dari Neishi! Kenapa kau melakukan ini?! Aku mempercayaimu! Aku sangat mempercayaimu hingga aku tidak mau mempercayai orang lain lagi! Kau telah menghancurkan semua rasa percayaku padamu!"

Tangan Gakupo mengarah ke kepala Kaito, "Dengarkan aku—"

Kaito menampar tangan Gakupo, "Jangan berani kau menyentuhku lagi dengan tanganmu! Kau tahu aku tidak ingin semua ini terjadi! Kau sengaja melakukannya!"

Gakupo kini berwajah memelas, "Tolong dengarkan—"

"Hanya orang bodoh yang akan mendengarkanmu setelah semua ini terjadi! Kau mahluk menjijikan!" teriak Kaito sambil menggenggam scarf Gakupo yang kini benar-benar sudah robek, lalu dia berlari menuju ke arah kuil.

"Shion Kaito... dengarkan aku." ucap Gakupo sambil melihat Kaito berlari menjauhinya. "Tolong dengarkan aku."


to be continued...