Kini pemuda beriris emas itu berdiri di depan ambang pintu belakang rumahnya. Terlihat Halilintar dan Ice sedang berusaha melepaskan diri dari angin topan yang menahan mereka bertarung. Taufan, dengan sekuat tenaga ia menahan anginnya untuk tidak lemah terhadap dua saudaranya itu.
"Apa.. yang sedang terjadi di sini?"
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Only My Bothers (c) Dragon Knight -DK
This story is mine. I'm not receive any profits in this fanfiction.
Rate K
Warning: OOC, OC, Miss Typo
ONLY MY BROTHERS
CHAPTER 2 (finished correted)
Pencuri Kas OSIS dan Nafsu Makan
"Ini tiket gratisnya."
"Lah? Cuma dua? Bonus tiga lagi donk paman."
Blaze sedang berdiri di depan seorang pria penjual snack berhadiah (?) yang baru saja memberikannya tiket nonton gratis. Tapi kelihatannya Blaze tidak suka dengan jumlah tiket yang diberikan oleh pria tersebut. Ia pun merengek ingin minta lebih dari sang pria.
"Ayolah paman, tiga tiket saja. Lagi pula saya kan langganan di sini, paman. Sekali-sekali kasih lebihlah.." ucap Blaze sambil menunjukkan wajah memelasnya.
Sang paman terlihat lemah di depan wajah imut pemuda beriris oranye itu. Ia pun menghela napas panjang dan mengambil tiga tiket lagi untuk diberikan pada Blaze. "Nah, paman pasrah deh. Paman memang nggak bisa ngelawan muka kamu itu. Emangnya tiketnya mau dipakai nonton sama siapa?" tanya sang paman sambil memberikan tiket tersebut pada Blaze.
Blaze melompat kegirangan saat mendapatkan tiga tiket lagi dari pria tersebut. Ia pun berterima kasih pada sang paman yang sudah memberikannya bonus tiket sekaligus memuji wajah tampannya.
"Terima kasih, paman. Sebenarnya tiketnya mau saya pakai nonton bareng saudara-saudara saya akhir pekan nanti. Tapi saya tidak yakin kalau semua saudara saya akan mau nonton bareng di bioskop, terutama Kak Halilin. Tapi, saya nggak bakalan buat tiket ini jadi mubazir nggak kepake. Heheh.."
"Wah.. bagus itu. Kalau begitu semoga film bagus ya. Tapi rencananya mau nonton film apa dek?" tanya sang paman lagi.
"Sunshine Becomes You." Seketika itu pun pemuda beriris oranye tersebut berlari kencang meninggalkan sang paman yang membelalak mendengar jawaban Blaze.
"KAMU INI MASIH KECIL TAPI SUDAH NONTON FILM ANAK KULIAHAN!!"
"Maaf paman.. maaf.. cuman bercanda, aslinya nonton AADC 2 kok."
"ITU SAMA AJA!"
DK
Gempa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia ingin sekali menginjak kedua saudaranya itu dengan golem tanah miliknya, tapi ia masih punya harga diri untuk tidak melakukan itu. Dan sekarang, ia tidak tahu harus marah atau sabar.
"Maaf Kak Gempa.. "
Anehnya lagi satu adiknya ini minta maaf terus dari tadi. Walau Gempa tahu apa yang membuat mereka jadi seperti ini, tetap saja masalah mereka sangat memalukan.
"Sekarang aku minta penjelasan kenapa Kak Halilintar marah hanya karena Rendi? Apa yang salah dengannya kak?" tanya Gempa yang kini sudah tidak menutup wajahnya lagi.
Tidak ada yang menjawab. Halilintar yang ditanya pun tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Nggak ada yang mau jawab ya.."
Drrrt! Drrrt!
"Tunggu sebentar."
Gempa segera mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia mengerutkan dahinya saat melihat nama yang tertera pada ponselnya. Ia pun menjawab panggilan dari bendahara OSIS tersebut.
"Halo?"
Terlihat Halilintar, Taufan dan Ice yang kini memperhatikan saudara mereka yang sedang menelepon. Kesempatan bagi Halilintar untuk mencari jawaban dari pertanyaan Gempa sebelum adiknya itu menagihnya.
"Iya, memangnya ada apa dengan kas OSIS kita?" tanya Gempa sambil mengerutkan dahinya.
Ice yang mendengar nada bicara kakaknya yang terdengar semakin khawatir pun terlihat serius melihat sang kakak. Bukannya ia ingin ikut campur, tapi ia merasa kalau berita buruk akan segera menghampiri telinga kakak ketiganya.
Dan benar apa yang dipikirkan Ice, Gempa membelalak saat mendengar apa yang diucapkan oleh pemuda di seberang sana. Gempa bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Kalau begitu, cepat cari siapa pencurinya. Aku akan sampai di sana sebentar lagi." Gempa pun menutup sambungan telepon tersebut.
Ia bangkit dari duduknya dan mengambil jaketnya yang digantung di belakang pintu rumah. "Aku akan kembali nanti sore. Pokoknya untuk masalah tadi, tolong selesaikan sendiri dulu. Assalamualaikum." Pemuda beriris emas itu pun menghilang dari balik pintu masuk.
Kedua saudaranya yang masih terdiam di ruang tamu hanya memandang heran pintu rumah. Hanya Ice yang tampaknya sudah tahu jawaban dari pertanyaan tentang Gempa.
"Kas OSIS telah dicuri oleh seseorang." Jelas Ice dengan wajah datar.
Halilintar dan Taufan terkejut mendengar perkataan adik bungsu mereka. "Apa?!" keduanya membelalak dan menatap Ice penuh rasa ingin tahu. Yang ditatap tidak berubah ekspresi sama sekali dan hanya diam tanpa berkutik.
"Siapa pun dia, aku yakin dia cukup dekat dengan Ketua OSIS kita."
DK
Blaze berjalan dengan wajah riang di atas trotoar. Mendapat bonus tiga tiket dari seorang penjual snack menjadi kesenangan tersendiri bagi pemuda beriris oranye tersebut. Kakinya melangkah ringan sambil terus melantunkan lagu.
Pemuda dengan manik berwarna sama dengan langit senja itu berhenti di depan lampu penyeberangan. Warna merah masih terpampang jelas pada lampu penyeberangan. Blaze berdiri untuk menunggu lampu hijau menyala secepat mungkin.
Ia mengerjap saat melihat seorang laki-laki yang sedang berlari kencang dari seberang jalan. Pemuda beriris oranye itu tersentak saat menyadari siapa laki-laki tersebut. Lampu penyeberangan pun berganti warna menjadi hijau dan di saat itu pun laki-laki yang tadi berlari langsung menyeberang jalan dengan buru-buru.
Buk!
"Ah, maaf. Saya tidak sengaja! Maaf!"
Blaze hanya menatap heran laki-laki beriris emas yang sudah berlari usai menabrak seseorang. Pemuda beriris oranye itu pun menghampiri seorang pria yang ditabrak oleh kakaknya tadi.
'Dia saja tidak lihat siapa yang ia tabrak. Dasar Kak Gempa.'
Ia pun membantu pria tersebut berdiri dan meminta maaf atas nama kakaknya. Kemudian ia kembali menatap ke atas untuk melihat lampu penyeberangan.
'Dan dia membuatku kesal.'
Merah. Itulah warna lampu penyeberangan tersebut sekarang. Blaze hanya berdecap sambil berkacak pinggang. Ia tersenyum bosan pada aspal jalan di depannya. Ia harus ingat kalau sedang berada di luar rumah, jadi ia tidak boleh mengamuk dan membakar seisi kota.
Dan ia pun segera menyeberang jalan saat lampu penyeberangan sudah berganti warna. Dengan kesalnya dan tangannya yang ia kepalkan, ia berjalan dengan wajah menyeramkan yang ditujukan pada siapa pun di sana.
DK
Gempa berlari melewati gerbang sekolah, loker, dan beberapa kelas yang kosong karena sudah jam pulang. Pemuda beriris emas itu berhenti sejenak saat tiba di depan tangga. Napasnya memburu karena berlari dari rumah ke sekolah. Tidak lupa wajah tampannya yang berkeringat usai berlari.
"Hanya perlu menaiki tangga dan belok kiri.." ia berbicara pada dirinya sendiri. Gempa mengangkat wajahnya menatap setiap anak tangga di depannya. Walau tidak banyak, tetap saja itu sulit untuknya saat ini.
Setelah merasa mendingan, Gempa berjalan santai menaiki tangga. Ia sudah lelah berlari dan ia ingin berjalan saja sekarang. Pemuda itu pun berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan RUANG OSIS dan membukanya. Para anggota OSIS yang berada di dalam ruangan tersebut segera menoleh padanya yang baru saja membuka pintu.
"Jadi.. bagaimana dengan kas kita? Apa benar-benar dicuri?" tanya Gempa memulai percakapan setelah beberapa menit berdiri di ambang pintu. Semua orang di ruangan tersebut menunduk memberi isyarat bahwa hal itu benar.
Gempa mendesah. Ia pun berjalan menghampiri sang bendahara OSIS yang berada di pojok ruangan dan terus menatap layar laptop di depannya. "Ren-"
"Maafkan aku, Gempa! Sungguh, aku tidak bermaksud untuk menghilangkannya!" belum selesai Gempa berbicara, Rendi sudah lebih dulu memotong perkataannya. Pemuda berambut hitam berantakan itu menatap Gempa sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Gempa tersenyum pada teman seangkatannya itu. "Tidak apa-apa. Aku tshu kau tidak salah. Kita akan segera mencari siapa pelakunya. Jadi tidak perlu khawatir." Ucap Gempa menenangkan temannya itu.
Rendi mengangkat wajahnya yang sempat menunduk itu dan menatap Gempa berbinar. "Terima kasih." Ucapnya singkat sambil menunjukkan seulas senyum tipis.
Gempa terdiam. Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ia pun segera tersenyum setelah beberapa menit ia berpikir. "Jadi, bagaimana ceritanya sampai kas OSIS bisa hilang dicuri?" tanya Gempa.
"Ah, itu. Saat aku sedang menghitung uang kas kita di kelas, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh temanku. Aku menitipkan makanan padanya saat jam istirahat dan ia pun memberikannya padaku saat jam kosong. Aku memutuskan untuk langsung memakannya bersama temanku di atap sekolah sebelum jam pelajaran berikutnya. Jadi aku memasukkan kembali uang kas itu ke dalam tasku."
Gempa tampak menatap setiap gerak-gerik sang bendahara.
"Lalu, saat aku kembali ke kelas, aku baru sadar kalau tasku terbuka. Ternyata uang kas kita sudah tidak ada. Aku pun panik dan baru memberitahukan hal ini padamu saat jam pulang." Kata Rendi menjelaskan sambil terus mendekatkan jari-jarinya ke wajahnya.
Pemuda beriris emas itu menyeringai diam-diam dan kembali ke ekspresi seriusnya. Ia pun tersenyum pada Rendi. "Kalau begitu kita pecahkan kasus ini saat pulang sekolah besok. Hari ini aku akan memikirkan siapa tersangkanya."
"Ketua sudah seperti detektif saja pake kata kasus tersangka segala." Kata salah satu anggota OSIS yang berdiri di belakang Gempa.
Gempa tertawa kecil. "Iya, kelihatannya aku sudah ketularan sifat detektifnya Kak Taufan. Lagi pula setiap kasus itu.." Gempa kembali menatap sang bendara OSIS. Ia segera tersenyum tipis namun menakutkan.
"..pasti punya tersangka."
DK
Keesokan harinya, saat jam istirahat tiba, Gempa tidak ke kantin. Tentu hal ini tidak seperti biasanya dan terasa berbeda dengan para saudaranya. Terutama untuk Taufan dan Blaze.
"Gempa tidak mau keluar ruang OSIS nih? Bosen donk.." kata Taufan yang menyentuhkan dahinya pada meja kantin.
"Hn. Tidak biasanya." Halilintar kembali menyeruput minumannya.
Blaze dan Ice yang sejak tadi tidak berkutik dan hanya mengangguk saat ditanya benar atau tidak. Mereka berdua terlihat sangat tidak bersemangat atau lebih tepatnya sangat bosan.
"Apa ini ada hubungannya dengan telepon dari Rendi?"
"Jadi kau tahu kalau yang menelepon itu Rendi?!" Halilintar segera menatap adik bungsunya dengan wajah penasaran.
Ice yang ditatap seperti itu seakan diminta jawaban. Ia pun akhirnya kembali menjelaskan. "Aku tidak tahu. Tapi, kemungkinan yang menelepon itu Yaya atau mungkin Rendi. Tidak mungkin anggota OSIS lainnya. Kak Gempa juga tidak terlalu kenal dengan anggota lainnya."
"Kalau begitu, masalah kas OSIS yang dicuri itu benar?" tanya Taufan yang tampak sedikit panik.
"Hm. Tapi kita tidak boleh menyimpulkannya secepat ini." Kata Ice yang kemudian meminum susu kotaknya.
"Hah.. yang jelas tanpa Gempa kita seperti tidak bahagia."
Taufan kembali menidurkan kepalanya pada meja kantin. Biasanya saat seperti ini ia akan bertanya banyak hal pada Gempa. Tapi sepertinya, ia akan menunggunya hingga si pelaku ditemukan.
DK
Hujan deras turun mengguyur seisi kota. Beberapa siswa yang membawa payung berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sementara yang tidak membawa payung harus menerobos hujan dengan sangat terpaksa. Dan hujan ini akan turun hingga besok pagi.
Seorang pemuda dengan iris hazel miliknya menatap hujan deras di depannya. Ia tidak membawa payung dan tidak punya keinginan untuk menerobos hujan. Ia hanya berdiri dalam diam di tempat teduh itu.
"Nggak pulang?"
Pemuda itu menoleh pada sang ketua OSIS yang sedang tersenyum padanya sambil membuka sebuah payung di tangannya. Pemilik iris emas itu menyodorkan payung kuning miliknya pada sang bendahara OSIS.
"Kau pulanglah lebih dulu. Aku masih harus mengerjakan tugas dari guru." Ucap Gempa yang kemudian memberikan payung itu pada Rendi.
"Eh, tapi-"
"Sudahlah."
Gempa langsung mendorong punggung itu agar mau menyentuh tanah yang basah itu. Tentu saja Rendi spontan menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Ia berbalik dan memandang pemuda beriris emas yang tersenyum lembut padanya. Ia pun ikut tersenyum dan pamit pulang.
Pemilik iris emas itu memudarkan senyumannya. Ia menatap serius punggung sang bendahara OSIS yang semakin menjauh dari halaman sekolah. Ia menutup matanya berusaha untuk menenangkan pikirannya melalui suara hujan dan dinginnya udara.
"Kak Gempa."
Gempa tersentak saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia terkejut saat mendapati sang adik yang sudah berdiri di depannya sambil memegang payung yang terbuka.
"Kakak.. sudah tahu pelakunya bukan? Tapi Kak Gempa masih bingung harus melakukan apa. Apa aku benar?"
Gempa tersenyum pada adik bungsunya itu. "Iya. Tapi aku masih tidak percaya kalau dia yang mencuri kas OSIS." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya untuk menatap sepatunya yang sedikit basah.
"Sudah kuduga. Kak Gempa tidak akan mampu untuk menghukum atau melaporkannya pada guru." Kata pemuda bermanik akuamarin itu. "Tapi aku dan Kak Halilintar akan membantu kakak." Ia segera mendekat pada Gempa untuk memayungi kakaknya yang masih berteduh.
Wajah datar tanpa emosi itu menunggu pemilik iris emas itu untuk bicara. Gempa pun mengangkat kepalanya sambil tersenyum tipis. Ia masih tidak mau menatap sang adik yang berdiri di depannya.
"Ayo kita pulang." Ucapnya pada Ice.
DK
"Bagaimana remidialmu?"
Pertanyaan yang biasa didengar oleh pemuda beriris hazel. Ia sudah terbiasa menghadapi remidial di sekolahnya. Dan saat pulang ia sudah hafal pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh kakaknya yang beriris merah.
Blaze mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Tiga kertas hasil remidialnya. Halilintar yang duduk di sofa terdiam saat melihat angka yang tertera pada kertas itu. 100. 100. Dan 100. Hebat. Padahal adiknya itu selalu membolos sekolah dan entah kenapa otaknya tetap berjalan seperti otak Gempa.
Ya, nilai seratus pun akan tetap berubah standar jika itu adalah remidial. Halilintar beranjak dari sofa dan menaiki tangga. Ia hendak memasuki kamarnya yang berada paling dekat dengan tangga sebelum langkahnya terhenti dan melihat kamar yang berada di pojok. Kamar Gempa.
Halilintar menghampiri pintu kamar yang terbuka itu. Jarang-jarang pintunya terbuka. Ia pun masuk dan melihat keadaan kamar yang bersih dan rapi, berbeda jauh dengan kamarnya yang hampir sama dengan kamar Taufan. Pemuda beriris merah itu mendekat pada meja belajar Gempa. Ada sebuah kotak di sana. Ia tidak tahu kotak apa itu dan iseng membukanya.
Betapa terkejutnya saat menemukan setumpuk uang dari dalam kotak tersebut. Di bawahnya ada selembar kertas dengan tulisan di atasnya. Kas OSIS. Itu tulisan yang menjelaskan semuanya pada Halilintar. Ia bahkan sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 'Tidak mungkin.. mustahil Gempa melakukannya.' Ujarnya dalam hati.
"Assalamualaikum. Kami pulang.."
Pemuda beriris merah itu tersentak dan buru-buru menutup kembali kotak tadi dan keluar dari kamar sang adik. Ia berlalu memasuki kamarnya dan mengunci pintunya. Sementara itu di lantai satu, Gempa dan Ice baru saja memasuki ruang tamu karena Blaze terlambat membuka pintu.
DK
Seorang pemuda beriris biru tua itu menatap langit-langit kamarnya dengan bosan. Sudah kira-kira dua jam ia memelototi kamarnya. Sudah pukul 23.00 dan Taufan belum juga tidur. Salahkan dirinya yang minum kopi tadi pagi. Padahal ia kan tidak bisa minum kopi.
Walau pun besok hari minggu, Taufan merasa ia harus tidur sebelum wajahnya keriput. Pikirannya mirip dengan para gadis yang merupakan fansnya. Ia pun meraih ponselnya yang berada di atas meja dan menyalakannya.
Dibukannya sebuah aplikasi dan masuk ke sebuah grup chat yang sudah lama tidak aktif. Grup chat yang hanya berisi lima anggota. Yakni ia dan saudara-saudaranya.
Taufan: Ada yang masih bangun nggak?
Pemuda beriris biru tua itu menunggu balasan. Ia tersenyum senang saat ada yang membaca pesannya.
Ice: Aku
Oh, ternyata adiknya. Ia kembali dilanda bosan karena tahu bahwa mengobrol bersama Ice sangat membosankan. Yang dibahas hanya tentang pelajaran saja.
Gempa: Kalian tidak tidur?
Taufan segera bangun dari tidurnya saat melihat chat dari adik paling warasnya. Ia hendak membalas namun didahului oleh adiknya yang satu lagi.
Blaze: Kak Taufan pasti main game lagi. Gabung ya~
Ice: Tapi tidak ribut.
Taufan: Hei, hei! Aku tidak begadang main game! Aku hanya sedang insomnia!
Gempa: Kak Taufan sedang banyak pikiran ya.. jangan.. jangan..
Taufan: Tidak! Tidak! Bukan begitu Gempa! Jangan berpikiran negatif tentangku!
Ice: Ternyata kakak sudah melakukan hal terlarang.
Blaze: Uwooh.. pantas saja tadi Kak Taufan pulang bareng Yaya. Bilangnya club time ternyata..
Taufan: Sudah kubilang aku hanya insomnia!! INSOMNIA!!!
Gempa: Iya.. iya.. Kak Taufan minum obat saja.
Ice: Obat apa coba?
Blaze: Obat nyamuk..
Taufan: Biarkan aku menerbangkanmu, Blaze.
Halilintar: Kalian berisik.
Blaze: Eh.. my darling udah muncul.. unch.. unch..
Gempa yang berada di kamarnya serasa ingin muntah saat membaca pesan dari adik keempatnya. Untung saja ia cepat-cepat minum air di atas meja belajarnya. Kalau tidak ia akan benar-benar muntah.
Halilintar: Menjijikkan.
Ice: Aku off deh. Ngantuk..
Setelah Ice mengirimkan pesan itu, ia segera mematikan ponselnya dan mengatur pendingin udaranya. 16 derajat, seperti biasa, Ice tidak bisa tidur kalau udara di sekitarnya panas. Ia pun segera terlelap dalam mimpi.
Blaze: Off juga..
Pemuda beriris oranye itu menarik selimutnya dan mulai memainkan game favoritnya. Dari atas ranjang tentunya.
Taufan: Kok pada off sih?
Halilintar: Off.
Gempa: Off.
Taufan: Kalian mah jahat..
Dan mereka pun kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.
DK
"Gila! Masa dia mencuri!"
"Ganteng gitu pencuri."
"Hus! Nanti dia dengar."
Beberapa murid yang mulai bergosip di kelas 8A terus bertambah. Mereka membicarakan seorang siswa yang merupakan pelaku pencurian kas OSIS. Dan Gempa yang merupakan ketua OSIS bahkan merasa bersalah dengan omongannya pada para siswi yang berani bertanya padanya.
"Maaf ya, Gempa saat ini sedang bad mood, tolong jangan diganggu." Kata Taufan yang masuk ke kelas adiknya dua menit setelah beberapa siswi berlari keluar dari kelas 8A sambil menangis.
Taufan yang merupakan kakak kedua dari Gempa hanya bisa bersabar melihat sikap adiknya tersebut. Bagaimana tidak, ekspresi Gempa tiba-tiba berubah seperti Halilintar dan membentak seperti Blaze.
Parahnya lagi, Gempa tidak mau makan siang walau sekarang sedang jam istirahat.
"Gempa, kau yakin tidak ingin makan?" Tanya Taufan dengan hati-hati, berharap adiknya tidak menginjaknya dengan golem tanah.
Adiknya tidak menjawab. Hanya diam sambil memandang keluar melalui jendela kelas, persis seperti kebiasaan Halilintar saat jam pelajaran.
Taufan menghela napas berat, sangat sulit baginya untuk membujuk Gempa jika suasananya seperti ini. Yang bisa dilakukannya hanya berdiri dan menunggu waktu berlalu. Namun rencananya untuk menunggu waktu tertunda saat melihat seseorang berwajah sama dengannya sedang berjalan mendekatinya.
"Dia masih tidak mau makan?" tanya pemuda beriris merah tersebut sambil berkacak pinggang.
"Aku sudah membujuknya, tapi ia tidak menjawab dan terkadang ia membentakku. Kau tahu betapa mengerikannya Gempa saat sedang bad mood.."
Halilintar, si sulung yang bermasalah dan baru saja kembali dari ruang BK, menatap adik terwarasnya dengan tajam. Ia meletakkan satu tangannya di meja dan satu tangannya lagi membalikkan tubuh adiknya tersebut dengan cepat. Kelakuannya membuat beberapa siswa menatap ke arahnya.
"Makan." Ucap Halilintar sambil menatap tajam ke iris emas tersebut. Dihantarkannya sedikit aliran listrik melalui tangannya ke bahu sang adik.
Gempa tersentak. Bahu kanannya terasa panas. Ia yakin sekarang kulitnya sudah terbakar. Irisnya bergerak untuk menghindari kontak mata dengan Halilintar. Ia menunduk dan bibirnya bergetar.
"Aku tak bisa makan!" kata Gempa dengan suara tinggi sambil memukul meja. Ia berdiri dan berlalu meninggalkan seisi kelas yang masih menatapnya bingung.
Halilintar menutup matanya dan berjalan keluar dengan santai. Hanya tersisa sang kembaran kedua yang masih terdiam di tempat.
"Kelihatannya hanya Ice yang bisa." Ia pun menghela napas dan mengikuti jejak sang kakak yang sudah menghilang dari balik pintu.
DK
Ruang BK. Tempat di mana para siswa yang berbuat masalah di sekolah mendapat ceramah. Bagi mereka yang sudah terbiasa masuk ke ruang BK, termasuk Halilintar dan Blaze, akan merasa biasa saja saat diinterogasi oleh guru. Menurut mereka hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
Tapi,
Bagaimana jika yang masuk ke ruang BK adalah murid teladan? Ya, di sinilah dia, sang murid berprestasi, yang merupakan murid pindahan, masuk daftar Pangeran Sekolah, dan menjabat sebagai bendahara OSIS. Rendi Syaputra.
Bagaimana ia bisa masuk ke ruang BK? Itu karena ia
..adalah pencuri kas OSIS.
Bahkan Gempa yang mengangkatnya sebagai bendahara pun merasa tidak percaya dan ikut membela. Namun para guru menyuruhnya untuk tidak ikut campur karena bukti-bukti yang ada lebih jelas.
Dan, siapa yang melaporkan tindakan itu pada guru?
Siapa lagi kalau bukan dua Pangeran Sekolah berwajah dingin, Halilintar dan adik bungsunya, Ice. Mereka yang melaporkan dan mengambil bukti perbuatan keji itu. Mereka melaporkannya tentu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Gempa, yang pasti akan menolak tawaran mereka.
Krieet..
"Kak Gempa.."
Gelap. Kamar yang biasanya terlihat bersinar itu sekarang berubah suram layaknya kamar sang kakak pertama. Ice yang membawa nampan berisi makanan untuk sang kakak terdiam sejenak di ambang pintu. Pemuda beriris akuamarin itu hanya mengedipkan matanya berkali-kali untuk bisa melihat lebih jelas. Iris birunya menyala dalam kegelapan ruangan tersebut.
Ia meraba-raba dinding untuk menemukan tombol lampu. Dan saat berhasil menemukannya, tanpa aba-aba ia langsung menekannya dan ruangan pun kembali terang.
Terlihatlah kamar yang berantakan bagai diterjang angin topan milik kakak keduanya. Hancur. Satu kata yang pantas untuk mendefinisikan kondisi ruangan tersebut. Ice mendekat ke arah ranjang. Terlihatlah selimut kuning keemasan yang menutupi seluruh tubuh seorang laki-laki di dalamnya. Ia tahu kakaknya sekarang sedang meringkuk di dalam selimut.
Ia pun menaruh nampan tadi di atas nakas. Ia mendudukkan dirinya di tepi kasur dan terdiam. Mulai berpikir untuk membangunkan kakaknya dengan berbagai cara. Namun sebelum ia benar-benar membangunkan sang kakak, gerakannya terhenti saat mendengar suara dari balik selimut.
"Pergilah. Aku tidak ingin makan."
Ice tidak terpengaruh dan langsung menarik selimut tebal tersebut dengan kasar. Ice tidak kesal, hanya saja ia sudah diberitahu oleh kakak keempatnya untuk melakukannya. Ia masih ingat perkataan Blaze tadi sebelum masuk ke kamar Gempa.
"Ingat, jika dia menyuruhmu pergi, kau harus menarik selimutnya dengan kasar dan-
"Hei, hei, apa yang-" Gempa terkejut dengan apa yang dilakukan adik bungsunya setelah menarik selimut tebalnya. Ice..
-memeluknya.. jangan lupakan itu.."
Ya, Ice memeluknya.
Pemuda beriris emas itu meringis. Ia tidak keberatan dipeluk, tapi masalahnya..
"Tubuhmu dingin sekali Ice!!"
Sesuai namanya, Ice dapat menurunkan suhu tubuhnya serendah mungkin. Dan siapa pun yang dipeluk olehnya akan merasa seperti dikubur dalam air dingin.
Pemilik iris akuamarin itu menjauh namun tidak melepaskan genggamannya dari baju kakaknya. Ia menatap mata kakaknya yang tampak masih dikelilingi aura ketakutan. "Aku nggak bakal hancurin keperjakaan kakak kok."
"Bukan itu yang aku maksud!!"
"Lah? Terus?"
Gempa mengacak rambutnya stres. Ia capek menghadapi adiknya yang super polos ini. "Menyingkir sebelum aku menginjakmu dengan golem tanah, Ice." Kata Gempa dingin.
"Kalau begitu aku akan tetap di sini dan membekukan kakak sebelum golem tanah itu muncul." Kata Ice dengan nada tak kalah dingin.
Kini keduanya terdiam hingga akhirnya Gempa menghela napas panjang. Ia pun mengubah posisinya menjadi duduk diikuti oleh Ice di sampingnya. Pemuda beriris kuning kemasan itu melirik sebentar adiknya yang tampak sedang menunggu reaksi selanjutnya dari dirinya.
Gempa menghela napas lagi. Merasa diperhatikan terus, ia pun mengambil sup yang diletakkan di atas nakas tadi. Dengan wajah bosan ia memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan pelan.
Adiknya masih belum melepas pandangan darinya. Gempa bingung apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ice? Ia sudah memakan sup yang dibawakan oleh adiknya, dan apalagi yang ditunggu oleh si bungsu ini?
"Kenapa kau menatapku terus?" tanya Gempa yang mulai tidak nyaman dengan suasana.
"Kak Blaze bilang, aku harus terus memperhatikan Kak Gempa supaya tidak tidur dan meringkuk lagi di dalam selimut." Jawab Ice dengan wajah datar nan polosnya.
Sang kembaran ketiga menundukkan kepalanya pasrah. Pasrah dengan otak adiknya yang terlampau polos. Salahkan dia yang tidak pernah mengajak Ice untuk 'talk'.
"Ya, tidak perlu diperhatiin sampai sedekat ini juga. Supnya jadi nggak enak." Kata Gempa sambil melirik ke arah lain.
Ice mengerjap dan berhenti menatap kakak ketiganya. "Kak Gempa tidak perlu khawatir lagi soal Rendi. Dia sudah dipindahkan ke sekolah lain. Jadi, lebih baik kakak fokus lagi sama pelajaran dan OSIS. Yang lain khawatir melihat Kak Gempa kurang nafsu makan seperti tadi." Kata Ice menjelaskan.
Kini Gempa berani menatap manik akuamarin itu. Ia tersenyum. "Iya. Maaf kalau sudah membuat kalian khawatir." Gempa kembali menikmati supnya.
"Yang khawatir itu cuma Kak Halilintar, Kak Taufan, dan kak Blaze aja. Aku nggak tahu definisi khawatir itu seperti apa. Jadi aku tidak khawatir."
Sekali lagi, Gempa lupa kalau adiknya ini bukan hanya terlampau polos, tapi juga tidak punya emosi. "Iya deh, iya.." katanya dengan nada bosan.
"Kalau begitu Kak Gempa makan malamnya di luar sama yang lain aja." Kata Ice yang kini sudah berdiri di depan ranjang. "Ayo." Diulurkan tangan kanannya pada sang kakak yang masih terheran-heran dengan sikap adiknya.
Akhirnya Gempa hanya tersenyum dan menerima uluran tangan si bungsu. "Baiklah."
DK
HAHAHA! Gimana? Chapter hari ini jelek banget ya? (Readers: Jelas). Hehe.. gomen ne..
Sebenarnya Author ingin menuntaskan chapter ini dua hari setelah chapter 1 di revisi. Tapi ternyata Author mendadak terserang penyakit malas. Jadinya setiap buka laptop, bawaannya pengen nulis mulu. Jadi nggak kelar-kelar deh nih chapter. (Readers: Alasan macam apa itu?!)
Tapi tenang, Author sudah menyelesaikan season 2 dari Only My Brothers, jadi kalau chapter 3 belum update juga, kalian boleh lomcat kok ke season 2-nya, walau ceritanya nggak bakal nyambung (Readers*perempatansikusikudidahi)
Don't worry, ada lanjutannya kok di bawah. Kan belum ada tulisan 'Bersambung..' di atas tadi kan? Ini dia lanjutannya..
DK
"Kak Halilintar, kenapa kakak selalu berangkat awal dan tidak sarapan sebelum ke sekolah? Kami tahu kok kalau Kak Halilintar tidak ada jadwal piket di hari itu." Tanya Gempa yang sudah bergabung di ruang makan.
"Oh.. benar juga. Aku juga mau nanyain itu ke Kak Halilin. Emangnya, kenapa kak?" Blaze ikut bertanya hal yang sama.
Yang menjadi sumber jawaban tampak diam dan menikmati makan malamnya. Ia melirik sebentar kedua adiknya yang menatapnya dengan wajah penasaran, terutama Blaze. Pemilik iris merah itu pun mendengus sambil menyeringai, membuat Gempa dan Blaze kebingungan.
"Aku berangkat awal dan tidak sarapan itu karena aku memang piket kelas. Tapi karena aku pernah sekali tidak piket kelas, jadinya aku diberi hukuman piket selama sebulan. Itu saja."
Semua terdiam. Gempa dan Blaze menganga mendengar jawaban dari si sulung. Mereka lupa kalau kakaknya ini selalu meninggalkan piket kelas jika salah satu dari mereka sakit. Ingatkan mereka untuk tidak lupa bahwa 2 minggu lalu Taufan terkena demam.
"Jadi, selama ini kita khawatir.."
"Itu semua sia-sia."
Gempa dan Blaze menunduk dan membiarkan dahi mereka menyentuh meja makan. Sedangkan Taufan dan Ice hanya saling tatap dan kembali menyantap makan malam mereka.
Setidaknya Halilintar tidak punya masalah lagi saat inii. Hanya hukuman dari guru dan surat-surat skors yang menggunung yang masih menjadi masalah permanan sang kembaran pertama.
Bersambung..
Don't forget to review..
