Disclaimer : Oda-sensei.. *Menyembah*, aku ingin Zoro jadi pacarku.. *ditimpuk bakiak sama semua readers, termasuk Zoro's Fans*. Hiks.. Tidak boleh ya, sensei? Tapi apa? Mau memberikan lisensi OP padaku? *semua readers langsung menendangku dengan Leg Of Devilnya Sanji*. Hahaha.. Bercanda kok *apa? Gak lucu? Hiks.. memang.. Tapi udah, ketawa aja, ntar gue tebas lo pake Shusui!*, ONE PIECE HANYA MILIK ODA-SENSEI
Summary : Zoro yang hidup menjadi manusia setelah menyelamatkan gadis yang ada di dalam daftar misinya.
Chapter 1
Perlahan seorang gadis membuka matanya. Ia merasa sangat silau dengan cahaya yang menyerubut masuk ke dalam matanya. Tadi kenapa ya? Apa aku sudah mati? Batin gadis berambut ungu muda lurus yang terbaring lemah tak berdaya.
"Otak lo ditaro dimana sih?"
Gadis itu terkejut akan suara yang tiba- tiba datang tanpa dijemput. Ia melihat ke arah suara itu berasal. Seorang laki- laki bertampang dingin dan duduk di dekatnya dan menyenderkan punggungnya ke dinding. "Lo kalo mau melamun tuh di rumah dong, liat dikit kalo mau merenung. Masa di tengah jalan? Gila ato sinting lo?" Ejeknya dengan tatapan tanpa memandangnya.
Kesal juga. Bahasanya itu menyakitkan! "Gue gak butuh bantuan lo!" Tegasnya tanpa terima kasih, "tadi gue berharap gue udah MATI. Dan lo malah menambah kesengsaraan gue lagi!" Serunya dengan nada marah dan kesal.
"Udah ditolong gak tahu terima kasih amat sih lo!" Gerutu laki- laki berkaos putih itu, "lo tuh masih muda. Sebisa mungkin yang namanya mati tuh dihindarin! Buat apa lo dilahirin kalau lo malah mau mati di usia muda?" Tanyanya dengan setengah menyalahkan sifat gadis yang mengerutkan dahinya itu.
"Karena itu.. Gue gak minta untuk dilahirin! Toh gue dilahirin bukannya ada kebahagiaan!" Umpatnya dengan keras. Ia terkejut sendiri, 'siapa tuh cowok? Kok gue bisa ngasih tau perasaan gue? Emangnya dia siapa? Nama kenal aja kagak tau!' Batinnya masih dengan kesal. Padahal ada salah satu jalan pintas tak berdosa untuk dirinya dan membuatnya jadi mati mengikuti orang- orang yang disayanginya. Tapi malah jadi gagal!
Laki- laki yang masih muda itu berdiri dan memberikan tangannya untuk berjabatan, "Roronoa Zoro." Ucapnya memperkenalkan dirinya, "lo Rouxe D. Allen kan?" Tanyanya tanpa basa- basi.
Allen memandang tangan laki- laki bernama Zoro itu, "ya. Gue Allen. Kenapa bisa tahu?" Tanyanya dengan bingung.
Zoro mulai gelagapan, "itu.. Aku... Yah, tahu saja! Gak perlu kau tahu! Yang penting aku nggak salah orang kan?" Tanyanya membelokan jawaban.
"Huh." Allen membuang muka ke kiri, "aneh."
"APA? Gak tau diri! Udah ditolong malah ngatain gue? Iblis ato Setan lo?"
-Love_is_amazing-
Zoro menggerutu sendiri! Nggak ada bedanya! Semua tugas yang dikasih sama Ace nggak ada yang enak! Ia membeli makanan yang dibungkus daun pisang. Apa lah namanya, yang penting rasanya lumayan.
Zoro adalah seorang malaikat. Malaikat yang bertugas mendapat perintah dari atasan yang sudah ditunjuk. Karena Atasannya adalah Ace, Zoro harus melakukan apapun yang Ace suruh. Walaupun mereka seumur dan kekuatan mereka hampir sama, Zoro cenderung lebih pemalas dalam urusan bekerja. Ya, malaikat yang tukang tidur.
Zoro tidak menyukai manusia. Walaupun wujud mereka hampir sama, Zoro tidak menyukai manusia yang ia rasa sangat merepotkan. Sepertinya ini contohnya..
[Flasback]
Ace mulai menceritakan prolog dari tugas yang diberikan untuk Zoro, "Seorang keluarga pada hari Minggu manusia mengalami kecelakaan. Mereka terdiri dari ayah-ibu-1anak. Mereka tiba disini, walaupun dengan keras malaikat lain membujuk, mereka tak bisa diam. Itu karena seorang anak mereka masih tersisa di Bumi karena saat itu tidak ada di lokasi mereka kecelakaan." Ace berhenti berbicara, melihat ekspresi wajah Zoro. Kalau misalnya tak mengerti, pasti akan tertujnjuk jelas karena Zoro jujur saja, memang tidak bodoh.. Tapi jauh dari pintar.. "Mereka meminta apapun caranya agar anak bungsu mereka dapat tersenyum lagi. Mereka melihat bahwa anak dan adik mereka.. Jadi terus bersedih."
Zoro mangut- mangut, "lalu? Apa yang harus kulakukan?"
"Cukup mudah." Ucap Acem membuat Zoro cukup bahagia, "mengiburnya saja kok."
Zoro masang tampang sweetdropped, "Eh, jelek! Emang lo kira ngibur manusia gampang hah? Kalau dia anaknya nurut- nurut dan nggak gampang bersedih!" Protes Zoro kesal.
"Nah, itu." Ace menunjuk Zoro. Maksudnya ke ucapan Zoro, "dia anaknya kalau nggak lo temukan bagaimana meruntuhkan galak dan juteknya dia, lo nggak akan tau sisi terdalamnya." Ucapnya membuat Zoro ngamuk.
"Trus gimana?" Ultimatum Zoro kesal, "Masa gue juga terus- terusan ngekorin dia? Emangnya dia juga bakalan seneng? Sial, ah! Batas waktunya berapa hari?" Umpatnya kesal.
"Unlimited." Ucap Ace mengambil data gadis yang dimintai tolong itu. Ia dapat dari seorang malaikat yang memang sudah bertugas memperhatikan keluarga Rouxe. "Tapi lo jangan harap bisa pulang kalau lo nggak buat rasa sedihnya ampe bener- bener ilang!"
[End of Flashback]
Zoro terus memaki atasan sialnya itu. 'kurang ajar. Gue emang udah pernah ke Bumi, tapi gue gak kenal letaknya baik- baik! Mana duit Cuma dikasih dikit begini! Udah plus DP ni cewek masuk Rumah Sakit, sisanya Cuma 10 ribu berry, emang dikiranya gue makan sehari ½ porsi kali ya?' batinya marah- marah.
"Kenapa lo?" Tanya Allen bingung dengan penyelamatnya yang aneh itu. Ia membaca sebuah buku dengan serius.
"Ah, gue Cuma.." Ia berpikir alasan yang baik, "ngg.. Itu.. Duit gue.." Ucapnya dengan cengiran tak berarti.
"Eh, makasih.." Ucapnya tanpa melihat Zoro, "pastu lo tadi udah bayarin gue.." Ucapnya dengan nada rendah, tapi terdengar.. tulus..
"Ah, nggak." Ucap Zoro malu- malu, 'tapi masalahnya duit gue nih!' Batinnya berteriak dalam hati. 10 ribu berry hanya cukup buatnya makan 2 hari.
"Lo anak mana sih?" Tanya Allen tiba- tiba, "lo hampir seumur sama gue. Tapi gue gak pernah liat lo di sekolah. Soalnya di kota ini sekolahan Cuma satu." Ucapnya dengan alasan yang membuat Zoro mati-kutu.
"Ang.. Eng.. Gue.. gue.. Pe.. Pengembara..! Iya! Pengembara! Gue nyampe disini.. Pas lo waktu itu ketabrak," Ucapnya dengan gugup.
"Maaf banget kalau begitu," ucapnya masih dengan mata menghadap bukunya. "duit jadi pas- pasan gara- gara bayarin gue. Ntar gue keluar gue ganti.." Ucapnya dan mengalihkan pandangan sedikit dan tersenyum.
"Eh.. Nggak usah..!" Bantah Zoro, padahal hatinya juga mau duit. Sekarang ia manusia, tanpa uang, nggak bisa beli makanan: matilah sudah.
Allen sekan mengabaikan bantahan Zoro itu dan bertanya lagi, "pengembara kan? Nginep dimana?" Tanyanya.
Pertanyaan menyerbu ini benar- benar mampu membuat Zoro mati kutu. Ia dari tadi tak terpikir untuk membuat kebohongan yang enak didenger di kuping. Dia malah sibuk mengutuk Ace yang entah sedang apa, dan juga meratapi uangnya, "ngg..Masalah gampang! Tapi orang tua, eh—" Zoro menepuk jidatnya sendiri. 'Baka!' Makinya pada dirinya sendiri! Apa dia lupa, kalau anggota keluarganya sudah meninggal, yang meminta untuk menjaga Allen kan orang tuanya yang sudah di surga! Bodoh! Bakayaro!
Allen terdiam dan menunduk. Matanya tak tertuju kepada buku walaupun di depan matanya adalah buku. "Dunia ini gak pernah adil." Ucapnya dengan berdesis. Zoro bahkan hanya mendengar dengan sedikit walaupun mengerti.
"Gue rasa gak gitu juga, Allen.." Ucapnya dengan anda bersyukur. Bersyukur karena Allen nggak bertanya darimana kau tahu kedua orangtuaku sudah meninggal?
" Apanya.." Ucapnya dengan pelan, "Tuhan tuh nggak ada apa ya? Mengapa gue yang harus terus menjalani perasaan menyakitkan begini. Lo percaya kutukan? Gue rasa gue kena kutukan! Semua orang yang gue sayangi harus lenyap setelah gue bener- bener sayang banget sama dia!" ucapnya dengan setetes air mata.
Tanpa sadar..
Zoro berlari kearahnya dan menghapus air matanya, "jangan menangis." Desisnya pada Allen. "percayalah kalau hidup itu penuh harapan! Jangan begolah... masih untung lo masih hidup. Ya kan?" Ucap Zoro.
" Eh, ahou! Buat apa gue hidup kalau ga ada artinya? Lo bilang hidup itu penuh harapan, harapan apanya? Jidat lo harapan? " sontaknya kesal.
"Emang lo gak ada temen- temen tempat lo bersandar? Nggak bisa pakai mereka buat curhat sebentar?" Bentak Zoro nggak kalah nyolot. Malaikat macam apa dia ya? "Apa lo percaya sama namanya kutukan, huh?"
Allen menutup wajahnya ke dalam bukunya yang tadi dibacanya, "Ah! Berisik! Ini hidup gue! Gak usah ikut campur kenapa?"
"Uh, nyolot amat sih lo!" Dengusnya kesal, "pokoknya kalau gue bilang hidup itu indah ya indah! Bawel aja lo, ini takdir lo buat hidup! Awas lo ampe mikir lo mati lagi!" Bentaknya kemudian pergi dari kamar. Ups, kok malah buka pintu kamar mandi?
"Oi! Pintu keluar sebelah sana!" Ujar Allen dengan tatapan 'buset-dah-nih-orang'.
Zoro yang gengsi dan gak mau mengaku salah malah balik marah, "gue tau!" Ucapnya dengan menutup pintu kamar rumah sakit.
Allen melongo. "Orang aneh.." Komentar sambil geleng- geleng, kemudian merenung dengan menunduk..
"mungkin dia bener.."
-Love_is_amazing-
