FOR YOU
.
.
.
.
Jimin. Yoongi.
Romance. Romance. Romance.
Oneshot. BL
More fanfict from naranari and MoronKiddo
.
.
.
.
.
Siapa bilang hidup di kota besar macam Seoul ini enak. Meski semuanya terlihat mudah dan cepat karena apapun ada di sana; nyatanya masih saja ada beberapa orang yang masih kesulitan hidup di Seoul. Memang banyak sekali lapangan pekerjaan yang terbuka di sana, tapi untuk lelaki yang hanya lulusan SMA, Park Jimin, tetap saja kesulitan melamar pekerjaan.
Sebut saja dia Jimin. Anak rantauan dari Busan yang hanya tinggal sendiri di kota besar Seoul ini. Datang dari Busan hanya membawa pakaian secukupnya dan juga ijazah SMA, Jimin mencoba peruntungannya.
"Maaf, tapi kami hanya mempekerjakan yang minimal S1"
Begitulah jawaban yang selalu di berikan orang-orang penting itu ketika Jimin melamar pekerjaan di perusahaan mereka. Jimin selama sekolah merupakan anak yang pintar. Selalu mendapatkan peringkat pertama dan memenangkan beberapa olimpiade. Tapi itu belum cukup untuk menjadikannya salah satu karyawan di perusahan.
Akhirnya Jimin melamar pekerjaan di sebuah restoran yang cukup besar. Dan dia diterima. Sejak saat itu Jimin mulai bekerja, sehari penuh setiap hari. Untuk tempat tinggal, Jimin menyewa sebuah flat kecil yang harga sewanya tidak terlalu mahal. Jadi uang gaji Jimin bisa menutupi biaya hidupnya di Seoul.
Kadang, ada terbesit rasa iri ketika melihat ada mahasiswa yang sedang makan di restoran itu. Jimin sebenarnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya, tapi karena keluarganya termasuk keluarga yang pas-pasan akhirnya Jimin tidak mengambil beasiswa itu.
Sampai akhirnya Jimin bertemu dengan satu mahasiswa Inha University bernama Min Yoongi. Dia pemuda yang baik dan ramah. Yoongi selalu menyempatkan makan di sana dan belajar. Saat itu Jimin tidak sengaja bertanya tentang apa yang sedang dikerjaan Yoongi, dan akhirnya obrolan itu mengalir seperti air.
"Kau pintar juga ya untuk pelajaran ini." Yoongi menyeruput es jeruknya. "Ya, aku kadang mengerjakan soal seperti ini jika sedang senggang."
"Jimin, kau mau jadi mentorku? Aku kadang menemukan kesulitan untuk ini."
Jimin menatap Yoongi tidak percaya. Apakah Yoongi sedang menawarkan pekerjaan lain padanya? "Aku akan membayarmu. Kau mau kan?"
"Hemm, baiklah kalau kau memaksa."
"Yeay! Terima kasih Jimin."
Tanpa sadar tangan Yoongi menggenggam erat tangan Jimin dan membuat Jimin membeku ditempat. Ini pertama kalinya mereka bersentuhan setelah sebulan lebih berteman. Dan tangan yang tadi digenggam Yoongi tiba-tiba saja mengalirkan listrik kejut. Oh, atau ini hanya perasaanya saja karena Jimin melihat bias sinar dari wajah Yoongi yang tersenyum.
Manis sekali.
Hingga Jimin merasa ingin merasakan manisnya.
.
.
.
.
Ternyata Yoongi itu anak orang kaya. Ayahnya pemilik perusahaan yang lumayan besar di Seoul. Ketika pertama kali datang ke rumahnya, Jimin tidak berhenti mengagumi besarnya rumah ini. Dan semua orang yang ada di sini juga ramah. Pantas saja Yoongi juga ramah.
"Ayo Jimin, kita mulai sesi belajarnya."
Jimin menunjukkan kepintarannya selama membantu Yoongi belajar. Hal ini kemudian diketahui oleh kedua orangtua Yoongi. Mereka memanggil Jimin disuatu hari dan meminta pemuda itu untuk menyetujui beasiswa yang mereka berikan.
"Ini, ini bukan mimpi, kan?" Jimin rasanya ingin menangis saja.
"Tidak Jimin. Aku akan memberikan beasiswa penuh padamu. Bakat yang kaumiliki sungguh sayang jika disia-siakan. Sementara itu kau masih boleh bekerja paruh waktu."
"Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa. Ini terlalu banyak untukku."
"Tidak perlu sungkan. Lagipula Yoongi juga ikut merekomendasikanmu. Jika kau ingin berterima kasih, katakan itu pada Yoongi."
Hati Jimin menghangat kemudian dan sudut bibirnya tertarik membentuk suatu senyuman yang tulus. Yoongi, terima kasih untuk semua.
.
.
.
.
Setelah itu Jimin merasakan bagaimana menjadi mahasiswa. Dan masih bekerja part time sebagai waiter dan mentor Yoongi setiap akhir minggu. Intensitas pertemuan mereka berdua pun memunculkan benih-benih cinta diantara keduanya. Tapi Yoongi masih malu untuk menunjukkannya. Beda dengan Jimin yang selalu memberi sinyal kepada Yoongi.
"Jimin, kau selalu bisa menjawab soal ini ya."
"Iya dong. Tapi kau juga bisa jawab soal kok,"
"Oh ya. Soal apa?"
"Soal cintaku padamu."
Yoongi diam sambil merona parah. Selalu seperti ini kalau sudah berduaan dengan Jimin. Membuatnya salah tingkah sendiri dan jantungnya yang dibuat berpacu cepat. "Yoongi," tangan Jimin berada di atas tangannya, "Jadilah kekasihku."
Rahang Yoongi terbuka sedikit, bagaimana bisa? Apakah Jimin baru saja memintanya menjadi kekasihnya?
"Bagaimana?"
Yoongi gelagapan sendiri hingga salah tingkah. Bagaimana cara menjawabnya. Yoongi baru pertama kali ditembak oleh seseorang. "Katakan 'iya' kalau kau mau. Dan 'tidak' jika kaumenolak."
Semudah itukah.
"I-Iya."
"Iya?"
"Iya. Aku mau."
Leganya.
Jimin tersenyum membawa tangan Yoongi ke depan bibirnya dan menciumnya. "Terima kasih Min Yoongi."
Rona merah sudah menjalar ke seluruh wajah Yoongi. Bibirnya selalu tersenyum cerah. Jimin mendekat padanya dan tubuh Yoongi menegang otomatis. "Min Yoongi-ku. Sekarang aku bisa memanggilmu milikku."
"Ish Jimin, gombal terus,"
Mereka berdua tertawa dan tatapan mereka terkunci. Yoongi terlihat sangat manis dengan senyum gulanya dan Jimin sungguh lucu dengan mata sipitnya itu. Jimin yang melakukannya duluan. Mendekatkan wajahnya pada Yoongi, hingga bibirnya tepat berada di depan bibir Yoongi, dia menutup wajahnya.
Dua bibir itu akhirnya bertemu dalam satu ciuman yang manis.
.
.
.
.
Walaupun Jimin kuliah secara gratis, tapi untuk memenuhi kehidupannya dia masih harus bekerja. Kadang Jimin juga bekerja sebagai pengantar susu dipagi hari sebelum berangkat kuliah. Yoongi sudah ingin membantunya tapi Jimin menolak. Keluarga kekasihnya itu sudah terlalu banyak membantu, Jimin hanya tidak ingin mempunyai budi yang harus dibalas.
Yoongi selalu menjalankan perannya sebagai kekasih yang baik. Dia selalu mengunjungi Jimin di restorannya pada waktu senggang. Setiap akhir bulan mereka akan belanja bersama untuk membeli kebutuhan Jimin. Yoongi juga selalu mengingatkan Jimin untuk menjaga kesehatannya, karena beberapa bulan ini Jimin bekerja lebih keras lagi.
Kisah cinta mereka sudah berjalan sekitar dua tahun. terlihat mudah dari luar namun sebenarnya Jimin dan Yoongi berjuang mati-matian untuk mempertahankan hubungan mereka. Dimulai dari kesibukan kuliah mereka berdua, Yoongi yang satu tahun diatas Jimin sudah mulai menyusun skripsinya. Itu membuat dia harus mengorbankan banyak waktunya hanya untuk penelitian.
Ditambah Jimin yang juga lebih banyak bekerja. Yoongi tidak pernah tahu kenapa Jimin menjadi giat seperti ini. Tapi tidak apa, selama mereka masih bisa berkomunikasi maka Yoongi akan sepenuhnya percaya pada Jimin.
"Yoongi, aku lelah."
Jimin menaruh kepalanya di atas paha Yoongi ketika mereka sedang menikmati libur akhir pekan. Yoongi melihat Jimin agak kurusan dibanding saat terakhir kali mereka bertemu. Pipinya tirus dan ada sedikit lingkaran hitam dibawah matanya. "Jimin apa kau baik? Kenapa kurusan, kau makan dengan benar tidak? "
Jimin berbalik badan menyembunyikan wajahnya pada perut Yoongi. "Aku baik dan aku makan dengan sangat baik." Yoongi terkekeh karena Jimin mengusapkan wajahnya pada perut Yoongi. "Tapi kau tampak tidak sehat Jimin. Aku tidak mau kau sakit."
Jimin mendongak, "Aku tidak akan sakit jika kau ada di sampingku."
"Ya ya. Menggombal lagi," Yoongi menowel hidung Jimin.
"Aku tidak sedang menggombal Yoongi sayang. Ada sesuatu yang harus kuperjuangkan." Yoongi terdiam sambil mengusap kepala Jimin. Sesuatu yang harus diperjuangkan? Sesuatu seperti apa hingga Jimin rela bekerja keras seperti ini.
"Kau hanya perlu percaya padaku Yoongi. Dan tetap mencintaiku."
.
.
.
Ketika Yoongi sudah mendapatkan gelarnya tahun lalu, sekarang saatnya bagi Jimin yang berjuang untuk itu. Dia sudah mengurangi kerja part-timenya dan hanya fokus pada skripsi akhirnya. Yoongi sendiri sudah bekerja di salah satu cabang perusahaan milik ayahnya. Yoongi tidak mau menggantungkan hidupnya pada apa yang sudah dimiliki kedua orangtuanya.
Karena hal ini mereka berdua akhirnya sulit untuk bertemu lagi. Walaupun bisa, tapi pasti ada salah satu diantaranya yang sudah terlihat lelah. Pertengkaran kecil mulai muncul tapi mereka selalu berusaha mencari jalan keluar dan berbaikan.
Empat tahun mereka menjalani hubungan ini. Semua lika-liku sudah mereka lewati. Cinta Jimin dan Yoongi bertambah besar setiap harinya. Hingga Yoongi mulai mempertanyaan kemana hubungan ini akan dibawa selanjutnya.
Yoongi bukan lelaki yang menuntut tapi dia hanya ingin sebuah kepastian. Empat tahun tidaklah lama untuk orang yang memadu kasih. Melihat teman-temannya yang sudah menikah, akhirnya keinginan itu muncul dalam diri Yoongi.
"Kapan kau akan menikahiku, Jimin."
Tapi Yoongi tidak pernah bisa mengungkapkan keinginannya itu. Dia tidak ingin membebankan Jimin dengan keinginannya itu. Biarlah dia menunggu untuk Jimin.
.
.
.
.
Sore itu ketika Yoongi sedang duduk di halaman belakang, Jimin datang. Dia sangat terkejut dengan kehadiran Jimin yang tiba-tiba seperti ini. Pasalnya sudah sebulan mereka tidak bertemu dan hanya bisa memandang lewat video call. Kata Jimin, dia harus mengurus suatu hal demi masa depannya.
Saking rindunya Yoongi sampai memeluk Jimin dengan erat dan membuatnya kesulitan bernapas. Ada taman bunga dalam hati Yoongi saat Jimin akhirnya membalas pelukannya dan membisikan kata-kata rindu yang membuat Yoongi serasa melayang. Jimin itu sudah dari sananya pintar menggombal. Tapi Yoongi selalu saja merona setiap digombali oleh Jimin.
"Aku seperti menemukan hidupku kembali,"
"Lihat, sekarang siapa yang pandai menggombal."
Yoongi memukul dada Jimin main-main. "Ini semua karnamu. Kau yang sering menggombaliku." Jimin tertawa dan kembali memeluk Yoongi. "Aku sungguh merindukanmu."
"Aku juga. Aku lebih merindukanmu."
Jimin mencium bibir Yoongi lebih dalam. Hingga bunyi kecipak terdengar. Dia mendorong Yoongi untuk lebih dekat dengannya. Yoongi mengalungkan dua tangannya pada leher Jimin. Kakinya sudah terasa seperti agar-agar karena ciuman dari Jimin.
"Oh, kau begitu merindukanku kah?" Yoongi mengambil napas sebanyak-banyaknya. "Aku tidak bisa mencicipi rasa selain rasa bibirmu selama ini. Aku merindukan bibirmu."
"Ish, jadi kau hanya merindukan bibirku?"
"Ya. Dan seluruh dirimu,"
Jimin lalu mengambil tangan kanan Yoongi dan ia mengelus punggung tangan itu. "Kau tahu, tangan ini yang sudah membawa cintaku padamu," Jimin menatap Yoongi dan dibalas hal yang sama olehnya. "Maka dari itu," Jimin mengeluarkan kotak beludru dan membukanya, "Aku ingin menyematkan mahkota kecil ini pada tanganmu."
Sebuah cincin.
Yoongi tidak berkedip melihat cincin itu ketika dipasang Jimin dan melingkar sangat pas dijari manisnya. Rasa haru langsung menyambutnya, "Jimin, iniā¦"
"Min Yoongi, menikahlah denganku."
Yoongi tidak ingin menangis, dia tidak ingin merusak suasana yang bahagia ini. Tapi airmatanya tetap luruh juga tanpa bisa Yoongi hentikan. Airmata bahagia dan cinta. "Aku, Jimin ini sungguhan."
"Maafkan aku Yoongi karena selama ini aku terlalu sibuk dan kurang memperhatikanmu. Aku bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang dan membeli cincin ini. Aku belajar lebih giat agar bisa lulus lebih awal. Aku melakukan semua ini untukmu, Yoongi. Agar aku bisa memilikimu seutuhnya, menikah denganmu dan memiliki keluarga yang bahagia."
Yoongi langsung memeluk Jimin lagi. Berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan lelaki hebat seperti Jimin. "Tapi Yoongi, aku harus pergi." Yoongi melepaskan pelukannya dan menatap Jimin. "Pergi? Kemana? Ke-kenapa kau harus pergi?"
Melihat raut khawatir Yoongi membuat Jimin tidak tega untuk memberitahu ini pada kekasihnya. Tapi Jimin harus melakukannya, "Aku tidak pergi jauh Yoongi. Aku hanya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2-ku di Jepang. Hanya dua tahun saja setelah itu aku akan kembali. Ini demi masa depanku. Masa depan kita juga."
Yoongi kembali menangis tapi bukan karena sedih. Dia bangga dengan Jimin. Karena kekasihnya itu juga memikirkan tentang masa depan mereka berdua. "Pergilah Jimin. Aku tidak akan melarangmu selama itu baik untukmu. Aku akan setia disini untukmu. Aku akan menunggumu."
Jimin tersenyum dan mencium kening Yoongi lama dan mesra. Bersyukur pada Tuhan karena telah memilihkan pendamping hidup yang pengertian seperti Yoongi. Semua yang dia lakukan selama empat tahun ini semata hanya untuk Yoongi. Jimin ingin membahagiakan Yoongi dengan caranya sendiri. Dari hasil yang ia capai sendiri. Karena cintanya pada Yoongi tidak pernah main-main.
"Yoongi, aku pasti menikahimu, jadi sampai saat itu datang tetaplah disisiku. Dan percayalah padaku."
The end
