Makan malam kali ini sama sekali tidak setegang minggu lalu. Sepanjang makan malam dan dialog-dialog di ruang menggambar, Naruto Namikazelah yang paling banyak menebarkan suasana santai. Nyonya Haruno menyukai sikap Naruto yang supel, dan dia yakin itu tak akan berubah jika seandainya dia belum mengenal putra tunggal walikota tersebut.

Sakura merasa menjadi pihak yang paling diuntungkan atas itu, karena mamanya tidak sekeras biasanya setiap kali Naruto berada di antara mereka. Hal tersebut bahkan sempat membuat Sakura berharap untuk bisa menikah dengan Naruto saja. Tapi, pikiran tersebut terkubur oleh prinsipnya yang ingin menikah dengan lelaki yang dicintainya. Selama ini Naruto memang selalu ada di sisinya, tapi rasa sayang Sakura padanya berputar di lingkaran sahabat.

Tatapan Sakura tertuju pada punggung Sasuke. Lelaki itu tengah mengamati lukisan di dinding dengan saksama. Sakura menghampirinya. Saat sudah berdiri tepat di sampingnya, tak ada dialog yang mengudara. Sakura melirik Sasuke yang betul-betul tampak serius dalam proses pengamatannya.

Tiba-tiba Sakura mencoba menilai kesan mamanya terhadap Sasuke. Mamanya bertindak biasa-biasa saja, tidak seperti pada Naruto yang memperlihatkan rasa sayang. Sakura sadar dia tidak seharusnya membandingkan, tapi entah mengapa kesan mamanya terhadap Sasuke menjadi hal yang terasa begitu penting baginya. Dan kesadaran bahwa tak ada yang bisa Sakura lakukan untuk mengubah impresi Sasuke di mata mamanya membuatnya merasa sungguh-sungguh tidak berguna.

Keheningan di antara mereka mulai membuat Sakura merasa canggung. Tampaknya Sasuke sudah tidak setertarik itu pada lukisan, tapi tatapannya masih terpancang ke sana.

"Kau tertarik pada lukisan, Tuan Uchiha?" tanya Sakura.

Sasuke menoleh. "Jika maksudmu tertarik pada lukisan ini, maka, ya. Tapi secara umum biasa-biasa saja." Tatapannya kembali pada lukisan lagi.

Sakura bergeming. Dia bisa menilai bahwa Sasuke adalah orang yang kurang pandai bergaul. Bagus sekali dia berteman dengan Naruto, karena di matanya, lelaki pirang itu pasti dapat banyak membantu Sasuke dalam interaksi sosial.

"Bagaimana denganmu, Nona Haruno?"

Sakura tidak menduga Sasuke akan bertanya balik setelah jeda yang cukup lama tadi.

"Sejujurnya aku sama sekali tidak paham seni lukis," katanya. "Seni musik lebih mudah dipahami, menurutku."

"Itulah alasan eksistensi piano di ruangan ini," kata Sasuke menyimpulkan. Tatapannya mengarah pada pianoforte di sudut ruangan.

"Sayangnya itu bukan alasannya," kata Sakura. "Kau tahu, perempuan dituntut harus memiliki bakat atau menguasai sesuatu setidaknya satu. Dulu pilihanku jatuh pada bermain piano."

"Kalau kau mahir melakukannya, artinya kau sudah punya lebih dari satu."

"Lebih dari satu?" Sakura mengernyit kebingungan.

"Hn. Kau jelas mahir dalam pacuan kuda. Dan dengan piano, kemahiranmu menjadi dua. Benar, bukan?"

Sakura tak bisa menahan senyum. "Aku tidak tahu," katanya, tak yakin untuk membeberkan penilaiannya sendiri atas apa yang dia lakukan. "Bagaimana kalau kau menilai permainan pianoku?"

Tawaran Sakura tampak mengejutkan Sasuke. Namun, Sasuke menyetujui dan mengikuti Sakura ke arah piano berada.

Sakura duduk dan Sasuke berdiri di sisinya. Jemari Sakura melayang di atas tuts piano tanpa menyentuhnya. Dia menengadah dan menatap Sasuke. Sasuke melempar tatapan bertanya.

"Sejujurnya kehadiranmu membuatku gugup," kata Sakura. Dia tertawa kecil.

"Aku tidak memaksa. Lagi pula ini bukan gagasanku."

Wajah Sakura bersemu merah. Benar, dia sendiri yang menggagas hal tersebut, dan akan janggal bila dia yang membatalkannya sendiri. Sakura menarik napas panjang sebelum menekan tuts demi tuts hingga terbentuk untaian nada. Sejauh permainannya, belum ada kesalahan yang muncul. Naruto yang sedari tadi berbincang bersama kedua orang tua Sakura kini berdiri di dekat Sasuke. Anehnya, kehadiran Naruto sama sekali tak memengaruhi rasa gugupnya, sangat berbeda dengan kesadaran bahwa mata dan telinga Sasuke tengah menilainya.

"Ini pertama kali aku mendengar kau memainkan lagu ini," kata Naruto.

"Aku memang baru berlatih bermain lagu ini akhir-akhir ini," tanggap Sakura tanpa mengalihkan pandangan dari tuts.

"Dan ini pertama kali aku melihatmu sengaja bermain untuk orang yang baru kau kenal satu minggu. Wah, Sasuke, kau beruntung. Aku yang teman sejak kecilnya saja tidak pernah."

"Iya, Tuan Uchiha, kau beruntung," kata Sakura. "Tidak seperti temanku Naruto yang biasanya hanya memperlakukan permainan pianoku sebagai musik latar, alih-alih sungguh-sungguh menikmati permainan."

Naruto meringis. Dia menepuk bahu Sasuke. "Teman Nona Haruno ini menikmati menggunakan telinga. Itulah fungsi dari musik, bukan?"

Sasuke memutuskan untuk tidak terlibat dengan perang satire di antara Naruto dan Sakura. "Permainanmu bagus, Nona Haruno," komentarnya sungguh-sungguh, bukan sekadar upaya untuk menghentikan mereka.

Sakura tersenyum. "Terima kasih." Lantas tiba-tiba kunci yang ditekannya salah. Wajahnya memanas lagi. Baru saja Sasuke memujinya, tapi pujian itu justru malah membuatnya semakin gugup.

"Sudah terbukti bahwa kau punya dua."

Sakura menghentikan tarian jemarinya pada piano untuk menilai ucapan Sasuke. Apakah yang dikatakannya barusan sungguh-sungguh, atau sebuah satire semata? Raut wajah lelaki itu tidak menampakkan seringaian atau apa pun yang menegaskan sarkasme. Tapi Sakura masih kurang yakin mengingat dirinya dan Naruto sempat saling sarkastis tadi. "Dengan kesalahan barusan, sepertinya aku hanya punya satu," katanya.

Sasuke mengernyit. Dia tak sadar Sakura melakukan kesalahan. "Artinya kau punya tiga. Yang ketiga adalah keahlianmu untuk menyembunyikan bahwa kau melakukan kesalahan."

"Wah, aku mengerti dengan sangat mendalam apa yang sedang kalian bicarakan," kata Naruto.

Sasuke mendengus dan Sakura tertawa.

Seluruh orang yang mengisi ruang menggambar kini melakukan kegiatan yang selaras. Sakura, kedua orang tuanya, Sasuke dan Naruto terlibat di dalam satu percakapan yang sama. Konversasi itu diawali dari Nyonya Haruno yang membahas tentang beberapa pelaut yang terkena cacar Variola saat tengah berlayar dan kapten terpaksa memutuskan untuk menurunkan mereka. Tak sampai di situ, penduduk Konohashire, tepatnya putra dari keluarga Nakamura, juga dikabarkan terkena cacar Variola. Nyonya Uchiha sama sekali tidak menyembunyikan kecemasannya, apalagi setelah tahu bahwa cacar membunuh banyak korban.

"Saat ini sedang giat diadakan penelitian untuk membasmi cacar," kata Sasuke. "Cara menyembuhkan hingga sepenuhnya pulih memang belum ditemukan, mereka yang mengidap cacar kemudian berhasil melewatinya tetap tidak bisa kembali pada kondisi tubuhnya sebelumnya. Yang paling jelas adalah bekas-bekas yang tersebar di kulit."

Seluruh perhatian sontak tertuju pada Sasuke.

"Maka dari itu, penelitian lebih difokuskan pada pembasmian dengan cara mencegah dan cara agar penularannya tidak gencar mengingat virus penyebab cacar Variola memang sangat ganas."

Yang tampak tidak terkejut dengan pengetahuan Sasuke hanyalah Naruto.

"Apakah penelitian itu sudah membuahkan hasil?" tanya Nyonya Haruno. Nada bicaranya mengharapkan jawaban yang mampu memiaskan rasa cemasnya soal cacar.

"Sudah," jawab Sasuke. "Ditemukan satu cara untuk mencegah, dengan cara menyuntikkan material dari virus cacar sapi. Manusia yang sudah disuntik material dari virus cacar sapi tersebut tidak akan tertular cacar Variola walaupun tinggal di lingkungan yang sudah terkontaminasi. Metode ini disebut vaksin."

Sakura tampak heran sekaligus takjub. "Mencegah virus cacar dengan virus cacar lain?" tanyanya tak percaya.

"Kurang lebih seperti itu," jawab Sasuke. "Awalnya hal ini memang sulit dipercaya, tapi bukti-buktinya memang sudah ada."

Nyonya Haruno masih tampak cemas. "Kabar ini tidak cukup untuk membuatku tenang. Aku benci disuntik. Apalagi jika yang disuntikkan padaku adalah material dari virus cacar sapi. Virus cacar sapi!"

"Apakah penyuntikan vaksin itu memiliki efek samping?" tanya Tuan Haruno.

Sasuke menggeleng. "Nyaris tidak ada," jawabnya. "Jika saya menjadi Anda, Nyonya Haruno, saya tidak akan berpikir seperti itu. Pencegahan itu perlu."

"Artinya, kau sudah disuntik vaksin itu?" Sakura penasaran dan terkejut dengan asumsinya.

"Bukan hanya aku," jawab Sasuke.

"Aku juga sudah." Naruto yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.

Percakapan mereka berlanjut pada bagaimana cara mendapatkan vaksin cacar dan Sasuke yang meyakinkan bahwa hal tersebut teramat sangat diperlukan.

Selama konversasi itu berjalan, Sakura tak bisa melepas perhatiannya dari Sasuke. Kecerdasan Sasuke yang tampak dari pemaparan pengetahuannya membuat dirinya terpesona. Ternyata kelebihan lelaki itu bukan hanya dari fisiknya yang menarik saja. Tanpa sadar, Sakura semakin terpikat padanya. Dia sama sekali tak ingin pertemuan mereka saat ini menjadi yang terakhir kali.

Dan Sasuke menerima undangan untuk makan malam di sini lagi.

.

Sasuke tidak terlalu suka menghadiri acara-acara sosial. Lingkaran ini masih terasa asing baginya. Asing, tapi jika dirinya tak hadir, asumsi-asumsi akan alasan absensi Sasuke akan menjadi topik paling hangat di malam itu. Bagaimana tidak, para gadis selalu menantikan kehadirannya dan mengincarnya sebagai pasangan dansa. Padahal jika Sasuke hadir pun belum tentu dia mau terlibat di atas lantai dansa.

Namun, malam ini opininya berbeda. Sasuke tidak masalah menghadiri pesta dansa yang diadakan oleh keluarga Hyuuga karena yakin Sakura akan hadir di sana. Dia mendengar bahwa hubungan Sakura dengan putri sulung Hyuuga, Hinata, cukup dekat. Mustahil Sakura tidak akan datang.

Ternyata perkiraannya benar. Sakura keluar dari kereta yang sempat menghalangi jalannya menuju Hyuuga Hall. Gadis itu tersenyum saat mereka berpapasan. Saat kereta kuda di belakang Sakura sudah menjauh, mereka segera berjalan beriringan ke dalam Hyuuga Hall. Suara biola-biola yang digesek secara bersamaan menyambut kedatangan mereka.

Sakura menjadi pasangan dansa Sasuke yang pertama dan begitu juga sebaliknya. Di dansa kedua, pasangan mereka masih sama. Sakura berdiri di jajaran para wanita dan Sasuke berdiri di jajaran para pria di seberangnya. Mereka berhadap-hadapan sampai musik mengalun dan memberi tahu waktunya dansa dimulai.

"Kau punya empat," kata Sasuke, memecah keheningan di antara mereka sejak dansa dimulai.

"Apa?" Sakura mengernyit heran. "Empat apa?"

"Kau mahir berdansa. Jumlahnya jadi empat, bukan?"

Sakura tertawa saat memahami maksud Sasuke. "Semua orang mahir berdansa. Ini tidak seharusnya dihitung."

Sasuke melirik ke samping kanannya. Sakura refleks mengikuti arah pandang lelaki itu, menemukan pria yang tampak canggung dan kaku dalam berdansa. "Tidak juga," kata Sasuke.

Sakura memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.

Dansa kedua selesai dan mereka berbincang-bincang. Percakapan mereka berhenti saat Naruto menghampiri dan mengajak Sakura berdansa. Ada seorang gadis yang bertanya pada Sasuke apakah dia hendak berdansa lagi atau tidak setelah Sakura dan Naruto meninggalkannya, dan dia menjawab tidak. Dia merasa tidak nyaman membayangkan berdansa dengan gadis selain Sakura.

Naruto menghampirinya tanpa Sakura. Sasuke diam-diam mencari keberadaan Sakura, dan gelagatnya tertangkap oleh Naruto. Naruto tersenyum, menemukan semakin banyak pertanda bahwa Sasuke memang tertarik pada Sakura—yang sudah lelaki berambut hitam itu sangkal berkali-kali.

"Sakura sedang berdansa dengan sepupunya," kata Naruto.

Sasuke tidak menjawab apa-apa, tetapi dia menghentikan pencariannya.

"Kenapa kau tidak berdansa bersama gadis lain?" tanya Naruto.

"Aku tidak mau," jawab Sasuke singkat.

"Iya. Aku tahu kau memang hanya mau berdansa bersama Sakura."

Sasuke mengerutkan dahi. "Aku tidak mengatakan hal seperti itu."

"Oh, tidak perlu kaukatakan pun aku sudah tahu," ujar Naruto. Dia tersenyum mengejek. "Itu sudah tertulis di dahimu."

Sasuke refleks menepuk dahinya. Naruto sama sekali tidak bisa menahan tawa.

"Akuilah, Sasuke, Sakura adalah salah satu hal terbaik di dalam perubahan hidupmu, bukan? Kau belum tentu bisa mengenalnya jika tidak berada di posisimu sekarang."

"Tidak," jawab Sasuke tegas. Bukan salah satu, tapi satu-satunya.

Naruto membeliak. "Menyangkal saja terus, Tuan Uchiha. Bisa-bisa kau patah hati jika terus begini. Sepupu yang sedang berdansa dengan Sakura sekarang adalah pria yang Tuan Haruno harapkan menjadi suami Sakura."

Sasuke sontak menoleh ke arah Naruto. Matanya menilai raut wajah Naruto, mengharapkan indikasi bercanda timbul di sana. Nyatanya tidak ada.

Sasuke tak mengatakan apa-apa dan segera meninggalkan Naruto. Dia mencari eksistensi Sakura. Saat rambut merah muda mencoloknya tertangkap, Sasuke menatap wajahnya. Mimik muka yang gadis itu tampilkan sama sekali tidak mengindikasikan rasa senang, bahkan ketenangan pun tidak. Sakura tampak ingin segera dansa itu berakhir secepatnya. Ekspresinya jelas sangat berbeda dengan saat berdansa bersama Sasuke. Sasuke bahkan merasakan bahwa wajah gadis itu berbinar saat tengah berdansa bersamanya.

Saat dansa selesai, Sasuke melihat Sakura menghampiri putri sulung Hyuuga. Mereka berbincang-bincang dan keceriaan Sakura tampak kembali lagi. Nona Hyuuga mengatakan sesuatu yang membuat wajah Sakura bersemu merah, Sasuke penasaran apa yang baru dikatakannya. Sakura menggeleng malu-malu.

Tatapan mereka bertemu saat wajah Sakura masih merona. Sakura tampak terkejut, namun lantas menyunggingkan senyum. Sasuke yang sama-sama terkejut karena baru saja tertangkap basah tengah memperhatikan hanya menanggapi dengan mengangguk.

Sasuke baru saja hendak mengalihkan pandangan, tapi dia sempat mendapati Nona Hyuuga mengatakan sesuatu yang membuat Sakura merona lagi, dan pandangannya mengarah pada Sasuke. Sasuke tidak bisa menahan diri dari merasa bahwa kata-kata Nona Hyuuga yang membuat Sakura merona adalah tentangnya. Hal tersebut membuat tatapannya susah lepas dari sana.

Kemudian gadis berambut merah muda itu tertawa. Dan entah mengapa, Sasuke merasakan keinginan kuat untuk memiliki Sakura.

.

Sarapan hari ini hanya dihadiri oleh Sasuke dan ibunya. Biasanya, meja makan diisi oleh tiga orang. Sosok yang hilang hari ini adalah Shion Miko, putri dari tuan tanah yang mewariskan seluruh warisannya pada Sasuke. Berhektare-hektare tanah, termasuk tanah yang kini menjadi tempat tinggalnya, diwariskan kepada Sasuke Uchiha karena mendiang Tuan Miko tidak memiliki keturunan lelaki. Sementara ahli waris haruslah lelaki. Maka sampailah warisan tersebut ke tangan Sasuke yang merupakan kerabat jauh dari keluarga Miko. Jika Itachi—kakak Sasuke—masih hidup, warisan itu tentu saja akan jatuh ke tangan Itachi.

Sejujurnya, absennya Shion Miko hari ini membuat Sasuke lega. Gadis itu selalu sinis padanya dan sangat sombong karena masih merasa Sasuke tak berhak menerima apa yang sudah sah lelaki itu miliki. Sasuke tak akan seterganggu ini jika Shion meninggalkan ibunya. Nyatanya, kesinisan dan kesombongan gadis itu ditujukan pada ibunya juga. Beberapa kali Sasuke mendapati Shion meremehkan Nyonya Uchiha. Kediaman itu nyaris selalu terasa panas karena tindakan Shion yang semena-mena dan mulutnya yang tak dijaga. Ini jelas bukan salah Sasuke, tapi Shion masih memperlakukannya seperti pencuri seluruh hartanya.

Kadang-kadang Sasuke berharap kakaknya masih ada dan mengisi posisinya. Itachi pasti bisa jauh lebih sabar menghadapi Shion Miko, tidak sepertinya. Kalau bukan karena kebaikan hati ibunya, Sasuke pasti sudah menendang Shion dari kediaman ini sejak lama. Memang, Shion adalah korban dari ketidakadilan hukum di sini. Tapi status korbannya tetap tak bisa membenarkan tindakannya pada Sasuke dan ibunya. Seharusnya gadis itu bersyukur Sasuke mempersilakannya tetap tinggal di rumah besar ini.

Setelah sarapan selesai, Sasuke masuk ke perpustakaan. Dia melanjutkan membaca buku medis yang terakhir dibacanya—salah satu buku peninggalan mendiang ayahnya. Nyonya Uchiha pun ada di sana, duduk di sofa sambil menyesap teh. Tangannya meraih koran dan membaca berita hari ini.

Baru beberapa halaman dipelajari, Sasuke menutup bukunya dan menaruhnya di dalam rak. Dia bergabung dengan ibunya di sofa. Nampan dan perangkat teh yang mengisi meja kini sudah tiada di sana.

"Sasuke," panggil Nyonya Uchiha. Dagunya terangkat untuk menatap putranya yang lebih tinggi. "Kau masih mempelajari buku-buku kedokteran itu?"

Sasuke mengembuskan napas panjang. Dia meringis. "Hn."

"Artinya, kau masih ingin menjadi dokter?" tanya Nyonya Uchiha hati-hati. Dia terdiam, menanti jawaban. Namun, Sasuke sama-sama diam tanpa menjawab. Nyonya Uchiha mendesah. "Lantas mengapa kau memutuskan untuk menghentikan pendidikanmu?"

Sasuke meneguk ludah. "Ada banyak hal yang harus kuurus di sini."

"Kau tahu kau bisa mengutus agen untuk mengurus semuanya."

"Aa, tapi agen pun tetap membutuhkan konsultasi dariku. Jelas akan sulit urusannya jika aku berada di kota untuk melanjutkan pendidikanku."

Nyonya Uchiha tampak murung. Dia menggenggam dan mengusap punggung tangan putranya. "Bersyukurlah kau masih punya media belajar dari ayahmu. Dan kau bisa belajar dariku. Walaupun aku hanya perawat, tapi pengalaman banyak memberiku ilmu."

Sasuke tidak menjawab. Nyonya Uchiha tahu kekecewaan putranya tentang hal ini akan terus ada dalam jangka waktu yang lama.

"Kau tahu, Sasuke, kondisi ini tidak sepenuhnya buruk," kata Nyonya Uchiha. "Kalau kau memang tak bisa ... tak bisa menjadi dokter, kau mungkin bisa membangun klinik atau rumah sakit."

Sasuke mendengus. "Percayalah, Ibu, aku sudah pernah memikirkan itu," katanya. "Tapi selama Nona Miko masih ikut campur dalam urusan tanah peninggalan ayahnya ini, hal itu tak akan pernah bisa diwujudkan."

Nyonya Uchiha mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya ... ada jalan keluar untuk kerumitan di antara kau dan Nona Miko."

"Jika yang Ibu maksud adalah pernikahanku dengan Nona Miko, maka aku menolak gagasan itu," tegas Sasuke.

Sasuke tahu ini memang jalan keluar yang paling tepat untuk menyelesaikan kerumitan ini. Sejujurnya, ini pernah melintas di kepalanya saat dia tahu dirinya akan menjadi ahli waris dari semua ini sewaktu Tuan Miko masih hidup. Baginya, yang dia miliki sekarang ada berkat kebaikan hati Tuan Miko, bukan karena aturan mutlak dari hukum. Dan dia berpikir untuk menikahi putrinya sebagai balasan atas kebaikan hatinya. Tapi gagasan itu ada jauh sebelum Sasuke tahu sikap Shion Miko itu seperti apa. Sekarang semuanya berbeda. Yang bisa dia lakukan untuk Shion hanyalah membiarkan gadis yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya itu tetap tinggal di sini sampai dia tahu ke mana harus pergi.

"Dan aku yakin Nona Miko pun tak mau menikah denganku, walaupun ini adalah satu-satunya cara dia bisa mendapatkan hak atas peninggalan orang tuanya," kata Sasuke lagi.

"Bagaimana kau bisa berkesimpulan seperti itu?"

"Bukankah itu sudah jelas?" ujar Sasuke. "Selain karena tidak menyukaiku, Nona Miko melakukan surat-menyurat dengan beberapa pria berstatus sosial tinggi dan sering mengundang mereka makan malam di sini."

Nyonya Uchiha terdiam sejenak. "Oh," gumamnya, "aku mengerti. Dia berharap salah satu dari mereka menjadi peminangnya."

"Kupikir begitu."

"Lalu bagaimana dengan gadis yang sering mengundangmu makan malam di kediamannya?" Nyonya Uchiha tersenyum. Dia mengamati reaksi putranya.

Sasuke tersentak. Dia berdeham. "Nona Haruno?"

"Hm." Nyonya Uchiha mengangguk. "Apakah tujuannya mengundangmu makan malam sering-sering sama dengan apa yang Nona Miko lakukan?"

Sasuke menyentuh bagian belakang lehernya, merasa canggung. Ujung-ujung telinganya memanas. Dia berdeham lagi. "Aku tidak tahu."

Nyonya Uchiha terkekeh. "Aku mengerti," ucapnya. "Kau menyukainya."

Berbeda dengan tuduhan Naruto, Sasuke tak bisa menyangkal ibunya. Dia hanya diam, enggan menanggapi dalam bentuk apa pun.

"Sasuke, kau harus mengundangnya makan malam di sini kapan-kapan," kata Nyonya Uchiha. Senyum masih menetap di wajahnya. "Aku ingin bertemu dengannya."

"Aku mau saja," kata Sasuke. Dia mengembuskan napas panjang. "Tapi itu tak akan kulakukan selama Nona Miko masih tak bisa menjaga sikapnya."

Nyonya Uchiha menepuk bahu putranya prihatin. "Mari kita berdoa agar keikhlasan segera mendatangi Nona Miko atas semua ini."

Sasuke mengangguk. Dia sungguh-sungguh berharap doanya cepat terkabul. Karena memang tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kerumitan yang dialaminya sekarang disebabkan oleh rasa tidak ikhlas yang Shion Miko rasakan atas kenyataan yang pahit ini.