Tema: Sad Ending Shortfic Love Story
Judul: It's A Bad Ending
Rating: PG 13 / T untuk penyebutan tindakan minum-minuman keras dan pembunuhan
Jenis: Fanon, tapi paralel dengan Canon
Sumber: Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, serta Harry Potter dan Relikui Kematian.
Kau sadar akan perhatiannya yang melebihi kadar. Tapi kau menepisnya. Kau mengatakan pada diri sendiri, mungkin tindakan itu wajar untuk peri rumah yang senang dibebaskan. Tapi, kau, tidak senang dibebaskan. Karnea itu kau mencoba berkelit dengan mengatakan tindakannya di luar kewajaran.
Bagaimana tidak? Saat kau larut dalam efek Butterbeer, ia dengan sabar menuntunmu ke arah tempat tidur, menyelimutimu, memberi minum saat kau sadar. Menemanimu saat ia sedang tidak ada tugas, sedang kau selalu dalam keadaan sedang minum Butterbeer. Kau memang sedih sesedih-sedihnya karena majikanmu memberimu pakaian, sedang dia sama sekali tidak. Ia bahkan merasa senang saat majikannya tidak sengaja memberi pakaian.
Ia sangat bahagia jika Harry Potter memberinya tugas, walau ia bukan peri rumahnya. Ia juga sangat senang pada Profesor Dumbledore. Karenanya dia sering sibuk mengerjakan tugas dari mereka.
Kau sama sekali tidak merasakan hal ini saat ia masih ada. Kau baru merasakannya saat ini. Saat Aberforth Dumbledore memanggilnya, dan memberi tugas yang diterimanya dengan sukacita: menyelamatkan Harry Potter.
Entah kenapa kau merasa ada yang aneh pada tugas kali ini. Ada yang salah. Ada yang berbeda. Kau merasa takut melepasnya pergi.
Dan benar saja. Kreacher ber-Apparate ke ruang bawah tanah Hogwarts dengan wajah yang kusut. Memang biasanya juga kusut, tapi sekarang jauh lebih kusut.
"Dobby mati," katanya pendek.
Beberapa detik awalnya kau masih belum bisa mencerna perkataannya. Lalu kau baru sadar. Kau seperti mengeja kata itu satu demi satu, "Dobby … mati …? Mengapa ...?"
"Miss Black ... maksudku Mrs Lestrange ... membunuhnya."
Dan kau baru sadar. Kau baru saja sadar, bahwa separuh nyawa-peri-mu sudah lepas, sudah pergi, sudah melayang jauh. Kau baru sadar. Bahwa Dobby selama ini benar-benar menyayangimu, mencintaimu dengan sepenuh hati. Mencintai tanpa balas, tanpa pamrih.
Dan kau juga baru saja sadar bahwa selama ini kau juga menyayanginya. Kau kehilangan dia. Dan kau kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan padanya, betapa kau sebenarnya mencintainya.
Bau laut samar tercium saat kau terduduk di sisi makamnya, di Shell Cottage. Kau bahkan sudah tak punya energi untuk menjeduk-jedukkan kepalamu ke batu karang. Kau hanya bisa lemas menatap nisannya, DI SINI TERBARING DOBBY, PERI-RUMAH YANG MERDEKA.
