WARM HEART

Author : Cho Haneul

.

.

.

Angin berhembus sedikit kencang, membuat surai ikal berwarna hitam pekat itu sedikit berantakan karena tiupannya. Bocah laki-laki 16 tahun itu merapatkan jaket kusamnya, mencoba menghalau hawa dingin yang terbawa oleh hembusan angin musim gugur. Ia menggosokkan kedua tangannya, mencoba menciptakan kehangatan untuk tubuhnya.

Sudah setengah jam bocah itu berdiri di depan sebuah gerbang sekolah dasar yang cukup terkenal di Busan. Ia sedang menunggu seseorang, namun sudah hampir satu jam orang yang ditunggunya belum juga terlihat. Padahal sudah sejak setengah jam lalu bel pulang berbunyi, dan para siswanyapun juga sudah berhamburan keluar dari sekolah, membuat sekolah tersebut terlihat sepi.

"Jeno-ya!"

Bocah laki-laki yang dipanggil 'Jeno' itu mengalihkan pandangannya dari sekolah tersebut ke arah sumber suara, dan ia melihat 2 bocah laki-laki seumurannya sedang tersenyum sambil melambaikan tangan mereka ke arahnya.

Jeno tersenyum, lalu membalas lambaian mereka "Jaemin-ah! Donghyuk-ah!"

2 bocah laki-laki itu, Jaemin dan Donghyuk, mulai berjalan mengahampiri Jeno.

"kenapa sendiri?mana Jisung?" tanya Donghyuk, kepalanya celingukan mencari keberadaan Jisung, orang yang sedaritadi ditunggu oleh Jeno.

"entahlah,hapir satu jam aku menunggu disini tapi dia belum keluar juga, padahal sepertinya hampir semua siswa sudah pulang setengah jam lalu" adu Jeno dengan nada khawatir.

"apa?lalu kemana jisung?apa dia masih di dalam?atau mungkin sudah pulang?" kebiasaan Jaemin, selalu menanyakan lebih dari satu pertanyaan.

Jeno menggeleng karena tidak tahu, "bagaimana kalau kalian tunggu disini dan aku mencari Jisung ke dalam, sekolah sudah mulai sepi, aku takut terjadi sesuatu pada Jisung"

Setelah dibalas anggukan oleh kedua temannya, Jeno segera berlari kecil ke dalam sekolah tersebut.

Jeno terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut bangunan itu, mencoba mencari adiknya yang sedari tadi belum keluar. Ia menghela nafas gusar, kepanikan tergambar jelas dari sorot mata sipitnya dan langkah kakinya. Sekolah ini lumayan besar, membuat Jeno semakin kebingungan karena ia tidak tahu dimana kelas Jisung. Ia ingin bertanya, tapi sekolah ini sudah sepi, tidak ada satupun siswa yang terlihat.

Tepat ketika Jeno akan melangkahkan kakinya ke tangga, ia melihat seseorang yang sedaritadi ia cari, -Jisung- adiknya sedang berjalan tertatih di ujung lorong yang terhubung langsung dengan taman belakang sekolah dengan penampilan yang cukup berantakan. Pakaiannya basah oleh cairan berwarna coklat yang sepertinya air dari kubangan lumpur yang setahu Jeno ada dibelakang sekolah Jisung, jangan lupakan sepatunya yang hanya tinggal sebelah dan kakinya yang terlihat Jeno menghampiri adiknya.

"Jisung-ah..apa yang terjadi padamu?" tanyanya panik sembari melepas jaketnya, berniat untuk memakaikannya di tubuh Jisung yang basah kuyup. Bukannya menjawab pertanyaan Jeno, Jisung justru malah menangis sembari memeluk Jeno.

"sssttt..uljima,uljima..hyung disini,kau jangan takut" diusapnya punggung Jisung dengan penuh kasih sayang, mencoba membuat adiknya tenang. Ia membiarkan Jisung menangis di pelukannya, dan dengan sabar menunggu hingga tangisan Jisung reda.

Sekalipun Jisung tidak menjawab pertanyaan Jeno tentang apa yang terjadi padanya, Jeno sudah mengerti. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Jisung seperti ini, adiknya juga pernah pulang kerumah dengan pakaian basah dan bau seperti kotoran. Hal seperti ini sudah sangat wajar terjadi pada anak seperti Jisung, anak panti asuhan yang bersekolah di sekolah ternama karena beasiswa.

Ya..mereka hanya anak-anak yang bisa dibilang kurang beruntung dari segi ekonomi. Mereka tinggal di sebuah panti asuhan sederhana yang kondisinya sedikit memprihatinkan dari segi keuangannya, hanya ada seorang donatur di panti asuhan mereka. Jeno dan Jisung tidak pernah tahu siapa orangtua mereka, karena ibu mereka bilang Jeno dan Jisung ditemukan ketika masih bayi didepan gerbang panti asuhan, yang mereka tahu hanyalah Ibu asuh mereka yang bak malaikat. Ibu asuh yang sudah seperti orangtua mereka sendiri, orang yang dengan penuh kasih sayang merawat mereka ditengah kesukaran yang tengah dihadapi.

Tangisan Jisung sepertinya mulai mereda. Jisung melepaskan dekapannya di tubuh Jeno, mengusap air matanya.

"kita pulang ya?Donghyuk dan Jaemin sudah menunggu kita di depan" ajak Jeno, ia tersenyum lembut ke arah Jisung. Jisung mengangguk, masih belm mengeluarkan sepatah katapun.

"cha! naiklah ke punggung hyung, biar hyung mnggendongmu" Jeno memposisikan dirinya di depan Jisung. Tanpa pikir panjang Jisung naik ke punggung Jeno. Setelah memastikan posisi Jisung aman, ia mulai berjalan ke tempat Donghyuk dan Jaemin menunggu mereka.

Jisung tersenyum di balik punggung Jeno, lalu mulai menelungkupan kepalanya dibelakang leher Jeno, menghidup aroma khas hyung kesayangannya. Jisung juga sayang Mark Hyung, Donghyuk hyung, Jaemin hyung, Renjun hyung, dan Chenle hyung, tapi Jeno adalah yang terbaik baginya. Jeno orang yang selalu menjaga dan memberikan apapun untuknya.

"Jisung-ah..lain kali jangan menangis lagi ya? " Jeno bersuara.

"mereka jahat hyung, mereka membenciku" adu Jisung dengan suara bergetar.

"kau harus melawan mereka, Jisungie. Kau laki-laki, kau harus kuat, laki-laki harus bisa melindungi dirinya sendiri"

Jeno merasakan Jisung menggeleng dibalik punggungnya. "aku kan punya Jeno hyung yang akan selalu melindungiku..hehe"

Jeno tersenyum. "geurae, hyung akan selalu melindungimu selama hyung mampu. Tapi bagaimana jika suatu saat hyung pergi dan tidak bisa melindungimu lagi?"

"andwae! Jeno hyung tidak boleh pergi! Nanti siapa yang akan membelaku kalau hyungdeul lainnya mengusiliku? Siapa yang akan menjemputku di sekolah? Siapa yang akan membantuku mengerjakan tugas dan siapa yang akan menemaniku tidur saat aku mimpi buruk? Jeno hyung tidak boleh pergi!" Jisung mengeratkan dekapannya di tubuh Jeno, dan isakan kecil mulai terdengan oleh Jeno. Ck, adiknya menangis lagi, seharusnya ia tidak berkata seperti itu pada Jisung.

"arrasseo,arrasseo..ssstt, uljima, hyung tidak akan pergi kok"

Jisung mengangguk dan menghentikan tangisannya, "eung,Jeno hyung tidak boleh pergi. Jisung sayang Jeno hyung"

Andaikan saja Jisung tidak berada di gendongannya,ia pasti sudah mencubit pipi adiknya. Adiknya yang satu ini memang menggemaskan, apalagi jika sudah bersikap manja sperti ini.

.

.

.

TBC or END?

Review juseyooo

Rimm : sementara baru berani yang dulu..hehehe. aku uda yang Family JaeYong couple, tapi gk tau mau dipublish kapan..hehe. gomawo reviewnya