Thanks for the reviews:
SoraShieru, SnowTea, Mousy Phantomhive, Authorjelek, gia, Fara, Vi Ether Muneca
Balasan untuk review kalian ada di paling bawah ya. Enjoy this chapter!
Temui aku di depan cafetaria saat istirahat nanti
Chapter 2: Straight or Slash?
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat sudah berbunyi, inilah yang membuat Ciel malas.
"Haah, terpaksa, deh. Mungkin hari ini aku tidak makan siang lagi gara-gara dia."
Ciel melihat ke arah Sebastian. Ia sudah tidak ada di tempat duduknya, sudah keluar duluan ternyata.
"Cih, niat sekali orang itu."
Ciel akhirnya terpaksa bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju ke cafetaria. Tentunya tanpa sepengetahuan Lizzie, apa kata Lizzie kalau ia tau Ciel ke cafetaria hanya untuk.. menemui Sebastian? Bisa-bisa Lizzie menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Well, Lizzie bukan tukang gosip, sih.
Ciel sudah sampai di depan cafetaria. Tapi.. dimana Sebastian?
"Jangan bilang kalau dia hanya mengerjaiku. Huh" Ciel melengos kesal.
"Siapa yang mengerjaimu?"
Ciel kaget, seseorang tiba-tiba berada di belakang Ciel, dan dia Sebastian!
"Se-sejak kapan? Jangan membuatku kaget begitu, bodoh!"
"Hahaha, maaf. Kita makan, yuk"
Sebastian langsung menggandeng tangan Ciel, masuk ke dalam cafetaria.
"Kau menulis surat itu dan mengancamku untuk bertemu denganmu.. hanya untuk makan siang bareng?"
"Iya. Sudahlah.. kita makan saja. Kau tidak ingin tidak makan seperti kemarin, kan?"
Benar juga. Daripada seperti kemarin, lebih baik makan saja. Meski bersama orang ini..
"Mau pesan apa? Biar kutraktir sini" Sebastian menawarkan.
"Tidak usah. Aku tidak suka merepotkan orang" Ciel menolak dengan dingin. Sebastian hanya menghela nafas.
"Pesan 2 hamburger, french fries, dan soda, ya!" Sebastian langsung memesan makanan untuknya dan Ciel, tanpa izin dari Ciel dulu.
Tentunya Ciel kaget melihatnya.
"Hei, kubilang tidak usah, kan?"
"Sudahlah, aku ini yang bayar. Yuk, cari tempat duduk"
Ciel tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia bingung, Sebastian jadi berbeda dari kemarin. Kenapa dia jadi memperhatikannya? Apa dia begitu hanya untuk mencari perhatian Ciel?
"Kenapa? Kau bengong? Mau disuapi?" Sebastian menyeringai di depan Ciel.
"Cih, kau kira aku ini anak kecil"
Ciel langsung melahap hamburger di depannya, melahapnya dengan cepat.
"Lahap sekali.." Sebastian hanya diam melihat tingkah Ciel.
"Ohok! Ohok!"
Ciel tersedak karena memakan burgernya terlalu cepat. Dia terburu-buru, daripada nanti digoda atau disuapi Sebastian.
"Aku bercanda, kok, yang tadi. Kau polos, ya. Nih!" Sebastian menyodorkan minumnya sambil senyum-senyum melihat Ciel.
'Dia manis', pikirnya.
"Hei, Sebastian" Ciel langsung berbicara saat tenggorokannya sudah nyaman.
"Hm?"
"Kenapa kau tertarik padaku? Bukankah kau dikelilingi banyak perempuan? Lagipula aku ini laki-laki. Jangan bilang selama ini kau.."
"Tidak, tidak. Aku juga bisa tertarik pada perempuan kok. Aku tertarik padamu karena kau begitu manis" Sebastian tersenyum kepada Ciel. Wajah Ciel langsung memerah.
"Lagipula, aku menyukai salah satu perempuan, kok"
Ciel kaget mendengarnya. Jadi.. dia itu sebenarnya cowok straight atau slash?
"Mau tau siapa dia?" Sebastian menambahkan lagi. Membuat Ciel tambah kaget.
Well, Ciel penasaran, siapa perempuan itu. Ternyata perkiraan dia selama ini salah, karena dia juga menyukai seorang perempuan. Tapi.. perempuan macam apa memang yang bisa menarik hati Sebastian?
"Boleh.." jawab Ciel ragu.
"Hahaha, kau cemburu, ya? Mengakulah~" goda Sebastian.
"Tidak, bodoh! Aku hanya penasaran siapa orangnya!" Ciel cemberut dan memerah, membuat Sebastian tambah cekikikan melihatnya.
"Oke, ikut aku, akan aku tunjukkan sekarang"
"Iya"
Mereka segera beranjak dari cafetaria. Ciel mengikuti Sebastian dari belakang. Cukup lama mereka berjalan dan akhirnya mereka sampai di sebuah.. gudang?
"Mau apa kita di sini?" tanya Ciel heran. Kenapa harus gudang?
"Di sini tempat perempuan itu!" jawab Sebastian sambil sedikit.. berbinar. Baru pertama kali Ciel melihat ekspresi Sebastian yang seperti itu. Saking sukanya terhadap perempuan itu, kah?
"Angie" panggil Sebastian.
'Oh, namanya Angie. Tapi.. rasanya aku tidak pernah mendengar nama itu' Ciel makin penasaran di dalam hatinya.
Oh iya, dimana perempuan itu? Dari tadi tidak ada siapa-siapa. Itulah yang membuat Ciel tambah bingung.
"Meong"
'Eh? Meong?' pekik Ciel di dalam hati.
"Angie! Kau di situ rupanya" Sebastian langsung berlari ke arah.. KUCING!
"I-Itu.." Ciel mulai ragu + sweatdrop melihatnya.
"Iya, dia Angie. Dibanding perempuan di kelas, dia lebih bisa memikat hatiku. Lihat.. manis, kan? Baru saja aku menemukannya kemarin sore" Sebastian mengangkat Angie ke arah Ciel.
"Jangan de- Huachim!"
Ciel langsung bersin. Yah, dia alergi terhadap kucing..
"Eh? Kau flu?"
"Tidak, aku alergi terhadap kucing! Menjauh dariku, bodoh!" Ciel mulai mengusap hidungnya setelah bersin-bersin dan mulai mundur.
Dan Ciel sendiri tidak menyangka bahwa perempuan itu hanyalah seekor kucing.
'Cowok ini memang lebih bisa disebut gila.. Oh, Tuhan, kenapa aku harus bertemu orang seperti ini?' Ciel terlihat seperti.. menangis di dalam hati.
"Kau kenapa? Cemburu, ya?" Sebastian mulai menggoda Ciel lagi, sambil mengelus-elus Angie.
"Sudah kubilang aku tidak cemburu, bodoh! Lagipula siapa juga yang mau cemburu terhadap seekor kucing!" Ciel sudah kesal, wajahnya mulai memerah.
"Hoo, berarti kalau perempuan manusia, kau bisa cemburu, ya?" goda Sebastian. Lagi.
"Bu- Aaaaargh!" Ciel mulai bingung + salting, wajahnya memerah, entah kenapa baru pertama kali Ciel seperti ini. Seperti biasa, Sebastian tersenyum melihat tingkah Ciel yang menurutnya manis itu.
"Hoi, Sebastian"
"Apa?"
"Kau ini straight atau slash?"
Sebastian hanya diam. Baru pertama kali ada orang yang bertanya seperti itu.
"Menurutmu?" Sebastian malah balik bertanya, membuat Ciel sweatdrop.
"Kalau orang bertanya jawab yang benar, dong, bodoh"
"Yah, bisa dua-duanya sih. Sama perempuan pernah, sama laki-laki juga pernah"
Ciel bergidik ngeri melihatnya. 'Hiih, jadi sama siapa aja mau? Mengerikan'
"Kenapa bertanya seperti itu? Kalau bersamamu, aku rela slash, kok"
BUAG!
Sebuah kardus mendarat tepat di muka Sebastian. Untungnya kardus kosong. Coba kalau ada isinya.
"Aw, tega sekali!" kata Sebastian sambil mengusap mukanya, yang sebenarnya tidak sakit, sih.
"Kau mengerikan" kata Ciel sambil merinding.
"Kau menarik! Hahaha!" Sebastian malah membalas seperti itu.
"Memang kenapa aku menarik? Hanya karena aku manis? Di luar sana banyak yang lebih manis kan?" Ciel bertanya lagi kepada Sebastian.
Sebastian tersenyum dan menjawab, "Karena baru pertama kali aku menemui orang sepertimu. Tidak tertarik denganku dengan mudahnya. Biasanya kalau aku dekat dengan orang, orang itu malah kegirangan, tidak seperti kau, yang kelihatan terpaksa dan ingin menjauh terus"
Ciel bengong mendengar Sebastian. Jadi, dia orang pertama yang tidak menyukai Sebastian?
"Itu karena kau mesum, tau!" Ciel menambahkan.
"My, my, kau tidak suka orang mesum, ya?"
"Ya, karena itu menjijikan" jawab Ciel, membuat raut muka Sebastian jadi sedikit kecewa. Namun, ia tersenyum lagi.
"Tidak sepenuhnya sikapku seperti itu, kok! Hahaha!"
Sebastian langsung mengacak rambut Ciel. Ciel bengong mendapat perlakuan seperti itu. Entah kenapa, ia jadi ingat ayahnya.
Ciel sudah cukup lama bengong, sehingga dia tidak sadar bahwa bel telah berbunyi.
"Mau bengong sampai kapan? Kau ini bengong terus, ih. Yuk, ke kelas"
Sebastian menaruh Angie yang dari tadi ia gendong, di balik kardus-kardus di gudang itu. Lalu ia mengelus Angie, mukanya tersenyum hangat hanya karena kucing itu.
"Yuk, ke kelas" Sebastian mengulurkan tangannya.
Ah! Mengulurkan tangannya.. Persis seperti mimpi itu! Muka Ciel memerah,
"Tidak usah bergandengan, aku bisa berjalan sendiri" kata Ciel, sambil memalingkan mukanya. Dia malu mukanya yang sudah merah padam itu dilihat oleh Sebastian.
"Ahaha, oke, oke"
Mereka akhirnya berjalan kembali ke kelas.
. . .
"Baiklah, sekian pelajaran kita hari ini. Sebelum itu, saya akan memberikan tugas kepada kalian" kata Mr. Aberline sebelum keluar kelas.
"Heeeeehh?"
Seperti biasa, itulah suara yang dikeluarkan anak-anak setiap mendengar kata 'tugas'. Kecuali Ciel.
"Tugas kali ini cukup berat, kalian harus membuat makalah untuk pelajaran 2 bab selanjutnya, dan makalah itu minimal 25 lembar. Dilarang meng-copy dari internet, buku, dan lainnya, gunakan kata-kata kalian sendiri. Oleh karena itu dikerjakan dalam kelompok, tiap kelompok terdiri atas 2 orang. Dan kelompoknya saya yang memilih, jadi akan saya umumkan sekarang"
Yak, anak-anak pun jadi malas mendengarnya. Namun Ciel tetap seperti biasa. Otak Ciel memang termasuk encer, dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik, dipasangkan dengan siapapun juga tidak masalah.
"Semoga kita satu kelompok, ya, Ciel~" kata Lizzie yang berada di sampingnya. Gadis itu memang selalu ingin bersama Ciel, walaupun Ciel tidak peduli, sih..
Mr. Aberline mengumumkan kelompok yang sudah ia tentukan. Dan akhirnya..
"Ciel Phantomhive. Kau bersama.."
Ciel masih tidak peduli. Dia lupa kalau di kelasnya ada..
"Sebastian Michaelis" lanjut Mr. Aberline.
Bingo!
Sebastian yang senang langsung mengeluarkan seringainya, dan Ciel yang awalnya tidak peduli, langsung membatu mendengarnya..
To Be Continued
Yak, walau ending chapter ini udah kepikiran cukup lama, tp susah juga buat mikirin isinya.
Dan akhirnya saya bisa update juga! Wohoo~
Dan maaf buat readers yang kecewa karena Sebastian bikin surat itu cuma buat ketemu Ciel. Abisnya, saya sendiri bingung sih *pasang muka innocent, digaplok readers*
Untuk chapter berikutnya, kita lihat, Ciel bisa kerja sama dengan Sebastian dengan baik atau tidak. Silahkan tunggu chapter berikutnya yaah
Yang udah review, terima kasih banyak!
SoraShieru: Iyaa, saya author baru. Salam kenal juga, saya Yumeko :3
Oke, sudah update kok ini~
SnowTea: Thankyouu~
Iya ini sudah saya update :3
Mousy Phantomhive: Hohoo makasih :3
Ini sudah diupdate yaa
Authorjelek: Maunya sih gitu, author juga maunya sekalian Sebastian ngancem bakal kasih 'lemon' dan Ciel sepertinya ma- Aw! *digeplak Ciel*
Ini sudah ketahuan kan, dan intinya mereka ga ke cafe doang :3
gia: Okee, sudah di update kok, ini~
Fara: Huohoo makasih
Soal adegan panas, author lagi minta duit dulu sama Sebastian *plak*
Vi Ether Muneca: Yap, namanya juga Sebastian
Okee sekian untuk chapter ini. Mind to review?
