Himawari no Yakusoku
Shingeki no Kyojin ©Isayama Hajime
Himawari no Yakusoku © Motohiro Hata
This fict © Shigeyuki Zero
For my lovely readers,
Taisetsuna hito
Arigatou gozaimahita
Song fict
RnR please
Semua kesalahan dalam penulisan adalah kesalahan author. Mohon dimaklumi proses belajar ini.
Ini sequel dari 12gatsu no Himawari (udah tau ya? Wkwk)
Special thanks for Salwa Mayrizy
-Disana, Di dunia nista yang tak mengenal belas kasihan antara pemburu dan mangsa, bunga matahari tumbuh seolah menjanjikan kehidupan yang indah. Seperti sepasang kekasih yang saling berjanji untuk kembali hidup setelah memburu mangsa di langit senja.-
Petra Ral perlahan membuka manik karamelnya. Mata indah itu sedikit mengernyit saat cahaya silau menyergap pandangannya. Sudah pagi, gumannya dalam hati. Cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya menghangatkan ruangan berukura meter itu, membuat sang pemilik kamar tidak perlu lagi menggosok kedua telapak tangan untuk menghangatkan dirinya seperti yang biasa ia lakukan 2 bulan terakhir.
Musim dingin memang sudah berakhir, digantikan dengan musim semi yang berkesan menenangkan. Hal itu hanyalah angan saja sebenarnya. Karena jika kembali tersadar akan dunia yang sedang ia pijak, kata 'menenangkan' hanya akan ada dalam mimpi atau pemikiran naif tentang dunia yang damai.
Petra adalah satu dari sekian banyak jiwa yang mengharapkan perdamaian di tanahnya sendiri. Untuk itulah ia masih bertahan di medan perang, menodai tangan bersihnya dengan darah menjijikan musuh umat manusia. Menentang keinginan ayahnya untuk menetap di dinding paling dalam agar tetap aman.
'Shinzou wo sasageyo'
Dengan tekad itu, dengan harapan orang-orang yang masih percaya pada pasukan pengintai, dengan pria yang dicintainya berdiri disampingnya untuk bertarung dengan tujuan yang sama, ia tetap kuat. Gadis itu tetap mampu menopang ketakutannya dan berdiri tegak melangkah ke medan perang.
Mengingat akan keberadaan pria itu di dalam hidupnya, Petra bergegas untuk bangun dari tempat tidur. Sudah menjadi rutinitasnya untuk membuatkan secangkir kopi pahit untuk pria itu, ya kapten squadnya, pria dingin dengan beban lebih besar darinya. Beban harapan orang-orang yang mengandalkannya sebagai senjata efektif melawan raksasa-raksasa lapar itu.
Sedikit berhembus napas pasrah dari mulut Petra tatkala mengingat hubungannya dengan Levi bisa saja berakhir karena dipisahkan maut kapan saja. Bukan kemauannya untuk memikirkan berbagai hal yang bisa memisahkan mereka, namun bayangan akan kematian seolah siap menyergapnya saat gerbang dinding terangkat sebagai tanda ekspedisi ke luar dinding akan dimulai.
Ia akan dengan refleks menenggak ludah sendiri karena tindakan ini sama saja dengan menjemput kematiannya jika ia tak benar-benar mampu bertahan melawan musuhnya nanti. Ia tak mungkin harus mengandalkan kaptennya saat ekspedisi berlangsung kan? Bahkan sehausnya ia mampu melindungi kaptennya itu sebagai anak buah, dan sebagai orang yang ketakutan setengah mati saat melihat pria itu berlumuran darah saat misi pengambilan dokumen musim dingin lalu.
Petra telah siap dengan seragam prajuritnya. Ia hendak melangkah keluar dari kamarnya saat sebuah ketukan pintu terdengar. 2 ketukan santai yang sangat familiar bagi Petra. Dengan singkat ia langsung tersenyum dan membuka pintu kamarnya. Ia mendapati Levi disana. Senyuman di wajah gadis itu semakin mengembang.
"Aku kira kau masih tidur." Ucap Levi enteng. Dengan sedikit gerakan kecil di poni Petra –merapikan helai itu-.
"Jika iya, apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja membangunkanmu, dengan lembut ataupun kasar, sesuai kondisi."
Petra kembali tersenyum. Sangat menyenangkan baginya berbincang ringan dengan pria ini. Karena selama ini ia sempat menganggap hal itu tabu.
"Seperti?"
"Menciummu agar kau bangun, atau menidurimu agar kau bangun."
Rona merah terlihat samar di kedua pipi si gadis karamel.
"Aku tidak meyangka pemikiran prajurit terkuat umat manusia bisa semesum itu.."
"Hey, aku hanya bosan berfantasi dengan bagaimana cara membunuh monster kotor itu, setidaknya memikirkan hal-hal tentangmu bisa membuatku merasa menjadi manusia yang sebenarnya."
"Aku tersanjung kalau begitu."
Dengan sedikit senyuman tenang di wajah Levi, pria itu langsung meraih tenguk Petra, hendak menariknya maju. Jika saja suara hentakan kaki yang berhenti di depan mereka tidak menginterupsi gerakan Levi.
"Oh ayolah, jangan membuatku merasa gagal menjadi manusia." Keluh Hange yang memergoki mereka berdua.
"Tch, kalau kau merasa gagal tinggal cari penawarnya kan?" Levi kesal dan kembali menurunkan tangannya dari tenguk Petra.
"Penawar seperti apa maksudmu?"
"Seperti Erwin." Balasnya sambil berlalu dan menggandeng tangan Petra.
Hange termenung beberapa detik, sampai akhirnya..
"Nee! Erwin bilang kita besok ada misi lagi!"
"Kita bicarakan itu nanti."
Dan sepasang kekasih itu menghilang dari pandangan Hange.
()
()
"Ano.. heichou, sebaiknya kita tidak berpegangan tangan di dalam markas." Petra mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.
"Aku tidak ingat pernah menyembunyikan hubungan ini dari semuanya." Jawab Levi dengan enteng.
"Tapi aku ras a mengumbarnya seperti ini bukanlah hal yang baik, heichou.."
Levi menghentikan langkahnya. Ia melirik Petra yang ikut berhenti, dan dengan ringan segera melepaskan genggaman yang dipermasalahkan Petra. Kembali berjalan setelahnya. Sepertinya dia sedikit kesal.
Petra menghela napas karenanya. Terkadang Levi memang terlihat kekanakan seperti ini. Sisi manis dan menyebalkan. Untuk mengakhiri kecemberutan Levi seperti ini, Petra harus menyelesaikannya dengan cara 'itu'.
Dengan cepat Petra berjalan menyamakan langkah Levi, setelah menyejajarkan diri Petra langsung mengecup singkap pipi Levi yang terasa dingin walau di pagi yang hangat ini. Dengan segera pula ia berjalan cepat meninggalkan Levi yang menghentikan langkahnya setelah mendapatkan kecupan itu.
Sedikit senyuman maklum terlihat.
"Dasar.."
()
()
-Adakah mimpi buruk di dunia ini selain raksasa? –
0
"Levi, aku ingin bicara denganmu."
Levi melirik sang komandan yang masih duduk di kursi singgasananya di ruangan ini. Tak seperti biasanya Erwin memulai pembicaraan dengan seperti ini –kecuali masalah yang akan dibicarakannya sangat pelik sampai harus menunggu mereka hanya berdua untuk memulai pembicaraan.
Ya, diruang kerja Erwin memang tinggal dirinya dan Levi. Setelah sebelumnya dilakukan rapat dadakan untuk misi besok.
"Katakan." Ucap Levi akhirnya setelah sekian detik hanya menatap atasannya itu.
"Ini tentang misi besok."
"Ya, lalu?"
"Dan ini misi rahasia yang aku berikan padamu untuk besok pula."
Levi mengerutkan alisnya, sedikit heran dengan perkataan Erwin yang berbelit-belit.
"Jangan biarkan aku meninjumu gara-gara perkataan tidak jelas seperti itu. Katakan saja intinya."
Erwin tampak menghembuskan napas sambil tersenyum tenang. Kebiasaan Levi yang selalu menuntut kejelasan dengan cepat tak bisa dihilangkan. Tapi ia memaklumi itu.
"Hanya kau yang bisa menjalankan misi rahasia ini. Karena ini akan menentukan keberhasilan misi kita besok."
"Baiklah. Jika keberhasilan misiku sangat mempengaruhi misi utama, akan kupastikan aku berhasil."
"Baguslah, tapi aku memohon satu hal padamu."
"Apa itu?"
Terdapat cukup banyak jeda yang terjadi, membuat Levi merasakan firasat buruk karenanya.
"Jangan gunakan dulu perasaanmu disini."
()
()
0
Doushite kimi ga naku no mada boku mo naite inai noni
(Mengapa kau menangis, meskipun aku masih belum menangis)
Jibun yori kanashi mukara tsurai no ga dotchi ka wakaranaku naru yo
(Aku hanya bisa mengasihani diri sendiri, bahkan aku tak tahu apa yang salah denganku)
Garakuta datta hazu no kyou ga futari nara takara mono ni naru
(Jika kita bersama, hari ini akan jadi saat-saat berharga bagi kita berdua)
'
Petra tengah asyik memetik beberapa tangkai bunga matahari yang ada di halaman belakang markas. Senja yang menjadi latar aktivitasnya sama sekali tak membuatnya risih. Terlebih dengan sayup-sayup suara burung yang tiba-tiba beterbangan seperti diusir seseorang.
Gadis itu masih tampak tenang sampai sebuah langkah kaki yang tenang menghampiri tempatnya. Sejenak Petra membalikkan badannya untuk menghadap pada seseorang yang datang itu. Senyuman simpul terlihat. Walau ia tahu lawannya sekarang tidak akan dengan mudah tersenyum meski sudah disapa seramah mungkin.
"Ada apa, heichou?"
Levi tak mengatakan apapun. Ia cukup hanya memandangi Petra dengan raut wajah yang tak bisa dibaca. Seperti menyembunyikan perasaan, Levi tak berniat sedikitpun untuk bicara.
Medapati sang kekasih dalam jarak pandangnya, Petra melangkah mendekati pria itu. Berharap dengan tindakannya ini akan membuat Levi mengatakan apa yang menjadi alasannya kemari di hari yang sibuk ini.
Levi tak kunjung berucap.
"Nee heichou, aku belum mendapatkan penjelasan tentang misi besok. Apa kau kemari untuk membahas itu?"
Sebuah raut nampak berubah. Dan saat tangan Petra hendak menyentuh wajah Levi, pria itu langsung menariknya kedalam sebuah pelukan erat.
Seperti akan berpisah esok hari, Levi membenamkan wajahnya pada bahu kecil gadis itu. Seperti biasa menyesap wangi yang ia dapat disana.
Petra menurunkan senyumannya. Fisarat buruk mulai mendominan di kepalanya. Tindakan Levi seperti ini memang baru pertama kali ia lihat, namun pelukan sarat emosi ini membuatnya berpikir berulang kali tentang apa yang bisa terjadi dalam ekspresi Levi.
"Heichou.. jangan katakan kau sedang menangis sekarang."
Lagi-lagi pria kelam itu tidak megatakan apapun. Ia tetap membenamkan wajahnya disana. Seperti enggan melakukan hal lain, seperti memberi isyarat akan hari esok. Menafsirkan firasat buruk Petra yang mulai menyeruak keluar.
Jika ingin jujur, Levi memang sempat menahan emosi bernama tangisan sesaat tadi. Entahlah, emosi itu datang tiba-tiba, tanpa diminta. Seperti saat dimana ia mendapati kedua sahabat karibnya dimakan raksasa. Rasa sakitnya kurang lebih seperti itu.
Lemah? Bukan. Levi hanya sedang menikmati masa 'manusiawi'nya, sebelum besok ia bena-benar akan menyimpannya terlebih dahulu untuk sebuah misi yang diturunkan untuknya. Misi yang ternyata jauh dari bayangan Levi sebelumnya.
Dalam posisi yang tak kunjung berubah, Petra mencoba untuk memulai pembicaraan lagi.
"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya sekarang, kau bisa menceritakannya nanti. Kapanpun kau mau aku akan selalu ada untukmu heichou.."
Tanpa disangka ucapan Petra itu menggugah keinginan Levi untuk turut berucap. Jauh mengawang pada sebuah umpamaan dalam.
"Mungkin janjiku tidak semurni janji bunga matahari yang akan selalu mekar tak mengenal musim, tapi aku akan berusaha agar aku mampu menceritakannya nanti, setelah misi selesai. Sampai hari itu datang, berjanjilah untuk tetap hidup dan mencintaiku.."
Masih dalam pelukan hangat, Petra mengangguk pelan. Ia percaya bahwa Levi akan benar-benar menceritakannya nanti. Dan ia yakin, misi besok pasti masih ada keajaiban untuknya agar bisa tetap hidup. Begitu pula untuk Levi, Petra masih mengharapkan tak ada luka sedikitpun pada tubuh Levi seselesainya misi besok. Harapan yang selalu ia gantung setinggi mungkin, melebihi keinginan pribadinya di dunia ini.
"Aku akan menunggu.."
()
0
()
Hange mengernyit setelah mendengar penjelasan Erwin tentang hal yang akan menjadi penyebab keberhasilan misi hari ini. Pagi buta wanita nyentrik itu memang sudah menemui Erwin untuk menyerahkan beberapa bekas. Dan ternyata mendapati komandannya itu tengah memijit keningnya yang pening. Setelah ditanya, keluarlah sebuah curahan kegelisahan sang komandan yang berhasil membuat pria itu tidak tidur memikirkannya.
"Tunggu, aku sudah tahu kalau objek misi kita hari ini adalah Annie Leonhardt, tapi aku baru tahu kalau dia hanya bisa ditaklukan oleh Levi. Ditaklukan dengan cara.."
"Aku juga tidak menyangka itu, tapi fakta yang aku dapat memang membuktikan bahwa di dalam tubuh Annie terdapat sosok Titan, yang akan terbangun hanya dengan cara itu.."
"Darimana kau tahu informasi itu?"
"Bertolt Hoover. Dia pernah melakukannya dengan Annie."
Hange membelalak.
"Tidak masuk akal.."
"Dunia ini memang tidak masuk akal, termasuk semua hal didalamnya."
"Tapi, bagaimana dengan Petra? Kau tidak memperhitungkan perasaannya?"
"Aa, jadi rumor itu benar?"
Kali ini Hange menghembuskan napasnya yang lelah. Enggan berkomentar tentang ketidaktahuan sang komandan tentang hubungan Levi dan Petra.
Erwin tersenyum getir menghadapi peliknya kenyataan yang baru ia dapat. Pantas saja raut wajah Levi langsung berkeringat dingin saat kemarin ia menjelaskan misi yang ia berikan. Pantas saja kebimbangan langsung menyerbu dalam bayangan mata kelabu itu. Pantas saja hembusan napas berat terdengar setelah Erwin selesai menjelaskan apa tujuan misinya.
"Jika Levi berhasil, taruhannya adalah terungkapnya misteri dinding yang melindungi kita ini."
"Mungkin kau benar, setidaknya kita rahasiakan ini dari semua prajurit."
"M'm, dan untuk sementara squad Levi akan digabungkan dengan regumu."
"Doakan aku bisa menjawab pertanyaan 'dimana Levi sekarang'.."
"Aku percayakan padamu."
()
0
()
Soba ni itai yo kimi no tameni dekiru koto ga boku ni aru kana
(Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu?)
Itsumo kimi ni zutto kimi ni waratte ite hoshikute
(Melihatmu tertawa itulah yang selalu ingin kulihat)
Himawari no youna massuguna sono yasashisa wo nukumori wo zenbu
(Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya)
Kore kara wa boku mo todokete yukitai koko ni aru shiawase ni kidzuita kara
(Karena itu sekarang aku ingin sampaikan bahwa aku bahagia bersamamu)
Cahaya matahari sudah nampak dari arah timur, menerangi semua objek yang ada di hadapannya.
Levi menyipitkan matanya. Perasaan gelisah yang ia dapat sejak kemarin tak kunjung mereda. Yang ada malah semakin membabi-buta.
Kini ia tengah berdiri bersender di depan sebuah kamar di markas kepolisian. Dengan setelan kemeja putih, celana hitam dan jas yang senada dengan celananya ditenggerkan pada bahu. Meski terlihat kantung mata yang menghitam, namun ia masih tetap terjaga bersidekap menunggu waktu yang pas.
Kelam. Itu adalah kata ynag tepat untuk menggambakan seorang Levi. Jika saja tidak diiming-imingi terkuaknya misteri dinding, Levi tidak akan mau melakukan misi ini. Dan jika Erwin tidak mengatakan bahwa Annie telah jatuh cinta padanya, Levi tentu akan menyuruh prajurit lain yang melakukan misi ini.
Tidak, Levi bukan merasa bersalah telah membuat seorang anak gadis jatuh cinta padanya. Ia hanya berpikir bahwa terdapat keuntungan dalam misi ini jika dirinya yang turun langsung. Annie pasti akan dengan mudah ditaklukan dengan modal cinta.
Masa depan. Kali ini Levi ingin menciptakan masa depan yang damai, bukan hanya untuk orang-orang yang menaruh harapan padanya. Namun untuk gadis yang Levi pilih untuk menghabiskan sisa waktunya di dunia saat semuanya sudah selesai –perjuangannya. Petra. Nama itu selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Membuatnya berkali-kali berdoa agar masih ada hari esok untuknya dan untuk gadis itu.
Nilai tambah misi yang ia emban adalah, ia mampu mempercepat kenyataan tentang dunia ini.
'Kono sekai wa zankoku na'
Levi ingin sekali berteriak misinya kali ini begitu gila, sangat gila. Tapi untuk apa? Bayaran misi ini begitu mahal. Walau dengan cara seperti itu, ia harus melakukannya.
.
Tak lama pintu disampingnya terbuka, dan seseorang keluar dari dalam sana –targetnya hari ini-.
Mata biru itu tampak terkejut mendapati sosok Levi berada disana, di barak prajurit polisi militer, di depan kamarnya. Sedikit semburat merah nampak disana. Oh ayolah, jangan tunjukkan rona jatuh cinta itu pada Levi.
"Kenapa anda ada disini?"
"Aku ingin bertemu denganmu, Annie Leonhard."
.
0
.
Kejadiannya cukup cepat dan mengejutkan. Levi mendorong Annie untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Pintu kamarpun dikunci dari dalam. Dan kini posisi Levi berada di atas tubuh Annie, menahan tubuh itu dibawah kendalinya.
"A-ada apa Levi heichou? Kenapa anda tiba-tiba-mmmm"
Levi membuat gadis pirang itu bungkam dengan mulutnya. Ciuman panas membuat gadis itu mendesah merasa nikmat, walau rasa bingung masih ia rasakan. Namun tentu, Annie tidak menolak ciuman itu. Ia malah membukakan mulutnnya agar Levi bisa menjarah lebih dalam, menyatukan lidah mereka berdua, saling membelit. Saliva keduaya sudah bersatu. Rasa nikmat yang begitu ketara membuat sebuah perasaan meminta lebih bangkit.
Levi dengan ganas terus meraup bibir terbuka itu, mulai menikmati pekerjaannya. Tanpa disadari miliknya pun mulai tegang karenanya, sama seperti saat melakukannya dengan Petra.
Saat kedua insan itu merasa sesak meminta udara, akhirnya ciuman berakhir. Napas mereka terengah cepat. Rona merah dan keringat nampak jelas di wajah Annie. Sorot mata biru itu meminta penjelasan akan kejadian barusan –yang sebenarnya sangat ia nikmati.
"Aku lelah, dan aku membutuhkan orang untuk menghibur hasratku." Ucap Levi singkat.
"Kenapa aku?"
Sejenak Levi terdiam, memandang manik biru itu yang meminta alasan.
"Karena aku tahu kau mencintaiku."
Mata dihadapannya membelalak. Tidak menyangka bahwa perasaan yang ia pendam sejak masuk kemiliteran ini telah sampai pada orangnya. Kebahagiaan dan ketakutan muncul dibenaknya.
"Lalu.. bagaiaman dengan anda.. terhadapku?"
"Aku mulai tertarik padamu setelah tahu kebenaran itu."
Dusta. Tentu perkataan Levi itu dusta. Yang ia lakukan bukanlah berlandaskan cinta. Yang ia lakukan bukanlah karena ingin menyenangkan gadis di bawah kendalinya ini. Sungguh.
Tanpa disangka Annie mulai melepaskan jaket militernya, seolah memberi lampu hijau untuk permainan selanjutnya.
"Tak apa aku melakukanya jika denganmu, heichou."
Levi kembali mendekatkan wajahnya perlahan, masih menatap manik biru berkilauan itu.
"Kalau begitu aku akan menikmatinya."
Permainan dimuali kembali. Setelah besarnya ketakutan yang Levi rasakan sejak pemberian misi ini. Kini Levi seolah mengunci perasaannya, yang ia lakukan hanya menggunakan naluri dan instingnya sebagai seorang pria, dimana ia akan menikmati setiap lekuk tubuh seorang gadis yang tersuguh di depannya. Ia akan mengeluarkan segenap nafsu prianya untuk berhasil mendapatkan kebenaran yang ia cari.
Ciuman panas kembali terulang. Lidah yang kembali membelit dan liar menjadi pembuka permainan mereka sebelum keduanya saling meraba tubuh, perlahan melepaskan pakaian sehingga keduanya polos tanpa pakaian sekarang. Keringat sebagai hasil bersatunya suhu tubuh kedua insan itu dihiraukan keberadaannya. Yang ada mereka hanya menikmati 'cinta' semu yang mereka jalin.
Tangan Levi mulai liar menjarah dada polos dibawahnya. Awalnya tangan kiri ia gunakan untuk gerakan lembut meremas payudara sang gadis, sesekali memainkan gundukan kecil yang mulai mengeras itu. Semakin nikmat ciuman yang terjadi dan semakin sering Annie mendesah, Levi mulai menggunakan kedua tangannya untuk meremas dada sang gadis dengan lebih keras. Hal itu membuat tubuh Annie melengkung menikmati remasan cepat di dadanya, suaranya pun tak bisa ia tahan untuk mengeluarkan desahan nikmat.
"Ahhhn ahhn aaaahhhn."
Desahan-desahan yang Levi dengar semakin membuat miliknya mengeras. Ia tergoda untuk mencicipi dua belahan empuk yang ia pegang itu. Dengan cepat akhirnya ia meraup dadanya, menjilati puting dan sesekali menghisapnya dengan lembut. Rasa nikmat keduanya semakin merajalela.
Tangan kiri Levi masih menikmati gundukan kecil yang mengeras, mulutnya masih dengan khidmat mengemut gundukan satunya. Dan tangan kanannya ia gunakan untuk memainkan sesuatu yang mulai basah. Ya, milik Annie yang merasa panas sudah mengeluarkan cairan-cairan bukti kenikmatan yang ia rasakan.
Diawali dengan elusan-elusan lembut di belahan milik Annie, sampai akhirnya jemari Levi tak kuasa untuk menahan gerakan selanjutnya dimana ia masuk ke belahan itu, menyentuh apa yang ada di dalamnya, merasakan cairan basah yang juga ada di sana. Bisa ia rasakan milik Annie terasa panas, membuat pria itu kembali menggunakan instingnya untuk memasukan jari tengahnya untuk masuk ke dalam lubang Annie.
"Ahh aahnn aahnn`"
Jari tengah itu melakukan gerakan naik turun di dalam sana, dengan ini lubangnya akan membesar perlahan dan milik Levi bisa masuk nantinya.
Levi sudah tidak mengemut dada, kini ia menciumi tenguk dan leher Annie, menjelajahi setiap jengkal tubuh polos itu, masih dengan tangan kanan yang keluar masuk di dalam lubang.
"Ahh Le..vi.. aahhn"
Cairan yang lebih banyak keluar dari lubang Annie, cairan lengket yang mempermudah gerakan keluar-masuk jari Levi, dengan begitu yang menambah jari yang masuk menjadi 2.
Wajah Annie sudah memerah total. Matanya yang terpejam menikmati apa yang Levi lakukan dengan tubuhnya. Tangannya sedikit bergetar diantara rasa nikmat yang begitu hebat ia rasakan.
Levi mengeluarkan jarinya. Ia juga menghentikan keasyikannya menciumi tubuh Annie. Mata biru kembali terbuka, memerhatikan Levi yang kini memaksa kedua kaki Annie untuk terbuka. Dengan lemah Annie hanya menurut, detik berikutnya ia kembali merasa nimat dengan lidah Levi yang bermain di permukaan milik gadis itu. Dengan lembut Levi menjilati permukaan dihadapannya, menghiraukan cairan yang masih rutin keluar meski sedikit demi sedikit. Malah Levi juga menikmati cairan itu dengan lidahnya. Ia menikmati permukaan berbelah itu, menikmati objek panas yang ia makan, menikmati setiap erangan kenikmatan yang dikeluarkan Annie.
Kini pria itu membuat kedua belahan menunjukan isinya. Permukaan yang sedikit menonjol di dalam sana merupakan kenikmatan lain yang Levi makan. Ya, ia meraup bagian dalam bibir permukaan itu. Menyesap dan kemudian membiarkan lidahnya kini keluar masuk di dalam lubang Annie yang sudah agak besar.
"Ahh Levi.. lagi.. ahhhn aahhn kimochi.. aaahhn."
Levi masih memainkan lidahnya didalam sana. Nikmat, sungguh nikmat. Sampai ia melupakan tujuannya. Ia malah terus bermain, meraup apa yang ada dihadapannya, memakai nafsu yang besar sampai milik pribadinya sudah membesar keras.
Saat Levi hendak menyudahi 'makan'nya, ternyata Annie masih merasa kenikmatan dan memintanya lagi dengan cara menahan kepala Levi tetap di permukaan miliknya. Ia juga membelit kepala Levi agar tidak beranjak dari sana.
Akhirnya Levi menurut, ia kembali menjilati dan menciumi permukaan yang panas itu. Merasakan juga cairan yang keluar dari sana, hangat dan nikmat.
Saat kepalanya mulai pegal, Levi akhirnya mengangkat panggul gadis itu, menahan dengan tangannya agar Levi bisa duduk dan tetap menikmatinya.
Annie sudah terengah kenikmatan. Lemas yang ia rasa. Namun ia masih menginginkan lebih. Gadis itu akhirnya melaksanakan gilirannya. Ia mulai menahan kendali Levi agar bisa ia nikmati juga. Annie mendorong Levi agar berbaring, sedangkan dirinya duduk di atas perut Levi, membelakangi pria itu, menghadap ke milik Levi yang tegang.
Perlahan ia mulai menunduk, memundurkan cara duduknya sehingga miliknya menusuri dada Levi, mencapai jangkauan bibir Levi yang sepertinya masih ingin merasakan Annie. Sedangkan Annie sendiri, tengah memegangi milik Levi, bermaksud untuk melahapnya. Namun ternyata Levi mendahului Annie dalam hal memakan. Levi lebih dulu kembali menikmati miliknya yang tepat berada di dalam jangkauannya. Setelah sempat mendesah, Annie akhirnya memasukkan sesuatu yang tegang itu ke dalam mulutnya. Keduanya saling menikmati milik pribadi.
Masih dalam posisi yang sama, Levi meraih dada Annie yang masih terjangkau, meremasnya seperti tadi. Belipat-lipatlah kenikmatan yang dirasakan gadis itu.
Dalam aktvitasnya meremas dan menjilati Annie, Levi juga merasakan kenikmatan di bagian bawahnya. Dimana miliknya merasa hangat di dalam mulut Annie. Ditambah mulut Annie yang bergerak maju mundur di miliknya, membuat kenikmatan tak tertandingi dan membuatnya mengeluarkan cairan bening juga.
"Annie, aku akan keluar."
Mendengar itu, bukannya Annie menyudahi kegiatannya, ia malah semakin menikmati aksi maju-mundur di milik Levi itu. Hasilnya, Levi benar-benar mengeluarkan cairannya di dalam mulut Annie.
Annie membuka mulutnya, cairan hangat yang ada di mulutnya meningkatkan suhu tubuhnya.
Levi menghentikan aktivitasnya karena lemas. Napasnya juga terengah. Akal sehatnya seolah hilang.
"Annie.. aku akan memasukan milikku padamu."
Gadis itu pun mengangguk.
()
0
()
Petra menurunkan senyumnya. Saat dia menanti kopralnya yang datang dengan kuda hitam seperti biasa, yang ia dapati hanya kapten Hange, yang katanya menggantikan Levi pada misi kali ini. Kecewa? Tentu. Tapi ia tetap berpikir bahwa ada hal lain yang Erwin tugaskan pada Levi sampai pria kelam itu absen dalam misi ini. Dengan begitu Petra bisa tetap fokus menghadapi target yang sedang mereka tunggu eksistensinya sekarang.
Ya, kini pasukan pengintai tengah bersiap di area sekitar markas kepolisian. Mereka sudah tahu target mereka hari ini adalah Annie Leonhardt, yang mereka tidak tahu adalah apa yang sedang ia lakukan di dalam markas.
Tak ada aba-aba untuk merangsek masuk, langsung menangkap kadet angkatan 104 itu, yang mereka lakukan hanya terus mengintai bangunan megah itu dari luar, tentu dalam jarak pandang yang jauh dari para polisi militer yang sedang bertugas di luar gedung markas.
Sebagai salah satu orang yang tidak tahu kebenaran yang terjadi, telapak tangan Petra berkeringat tanpa sebab, seolah ia merasakan sesuatu yang tidak ia ketahui itu. Ia merasakan firasat ambigu antara baik dan buruk. Birunya langit yang mengayominya hari ini menyaksikan setiap kegelisahan yang menanti ketenangan.
Tak lama kemudian suara ledakan terdengar. Suara itu berasal dari dalam markas,mengakibatkan bangunan besar itu hancur seketika, mengeluarkan asap hitam pekat yang menyita pandangan. Dari balik asap itu terlihat sebuah siluet, besar, tidak salah lagi, itu adalah raksasa.
Semua langsung bersiap di posisinya masing-masing. Mata mereka tetap waspada terhadap siluet raksasa target mereka itu, ancang-ancang jika makhluk besar itu menyerang tiba-tiba.
Namun ternyata, sampai asap kelam itu menipis, si rakasa sama sekali tidak menunjukkan penyerangan. Raksasa tu hanya menjatuhkan dirinya, kemudian tidak bergerak lagi.
Hange dengan cekatan langsung menghampiri sosok raksasa yang ia yakini adalah Annie. Saat dirinya sudah berada di hadapan raksasa itu, Hange menenggak ludahnya sendiri, raksasa Annie tampak dilindungi oleh kristal yang belum sempurna menyelimuti tubuhnya, menyisakan bagian wajah , tangan, kaki, dan tenguk yang masih terbuka tidak dilindungi kristal.
Hange mencoba untuk menghancurkan kristal-kristal itu dengan pedangnya, alhasil pedangnya yang patah. Hange berdecak kesal, ia langsung memutar kudanya menuju tenguk raksasa yang masih lengang.
Sekali hentakan ia langsung menggores tenguk itu, mengeluarkan orang di dalam sana –yang ternyata masih belum terselumiti kristal-kristal. Beruntunglah ia akan hal itu.
"Cepat tarik dia keluar."
;
;
;
Levi tengah membasahi tangannya dengan air kran terdekat yang ia temui. Mata kelamnya tampak sangat sayu. Pakaian yang sudah melekat di tubuhnya sejak 10 menit lalu mulai terasa menghangatkan tubuhnya.
Entahlah, pandangan kosongnya sangat membuktikan bahwa sekarang pria itu tidak mau memikirkan apapun. Ia bahkan menghiraukan suara gaduh jauh di belakangnya yang berasal dari para pasukan yang tengah menyelesaikan sisa misi yang ia tinggalkan.
Air dingin masih membasahi kedua tangan Levi. Entah bagaimana, Levi seolah merasa sebanyak apapun tangannya terkena air, dosa yang sudah ia lakukan dengan tangan ini tidak pernah bersih. Lebih buruk dari darah titan. Levi barulah berhenti saat dirinya merasa sesak tiba-tiba. Sesak yang menyayat kesadarannya dan membuat napasnya terengah.
Pria kelam itu memejamkan matanya, semua yang ingin ia lupakan tiba-tiba kembali menyerang kepalanya. Sekali hentakan membuat sesak di dadanya itu tidak bisa ditahan lagi. Tangan kanannya sibuk meremas sumber rasa sesak yang ia rasakan, seolah dengan cara itu sesaknya akan berkurang sedikit demi sedikit. Namun ternyata yang ada hanya membuatnya semakin tidak baik-baik saja.
Misi hari ini sudah dijalankan sesuai harapan. Dan karena itulah dosa yang Levi tanggung sendiri tidak bisa ia maafkan. Apa yang bisa ia pertanggungjawabkan akan hal ini? Apa yang bisa ia katakan pada Petra nanti? Ia yakin gadis itu kini tengah membantu prajurit lain untuk mengevakuasi objek misi untuk selanjutnya diintrogasi. Dan ia juga yakin tidak ada tempat untuknya sekedar menampakkan diri didepan gadis karamelnya itu.
"Owari da..." gumannya mulai menguasai diri akan kondisinya.
Levi yang masih menunduk sendiri perlahan mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dan ia meyakini satu hal..
"Heichou.."
Ya, suara gadisnya yang ia yakini. Suara lembut itu yang memaggilny dari dosa. Levi yang masih menunduk menahan sesaknya akan perasaan bersalah, perlahan menegakkan tubuhnya –tanpa berbalik.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, heichou.."
Perasaan bersalahsemakin berat terasa, tapi ia tetap tidak tahu harus melakukan apa. Yang ia inginkan hanyalah menyendiri untuk saat ini meski keberadaan gadis di belakangnya sangatlah penting.
"Heichou?"
Hanya sedikit, Levi melirik ke belakang, menunjukkan tatapan sayunya. Namun dengan cepat pula ia kembali ke posisi awalnya. Baiklah, ia belum sanggup berhadapan dengan Petra saat ini. Berat untuk menatap manik polos itu baginya. Dan ia rasa pendosa sepertinya tidak berhak melakukan apapun pada gadisnya. Tunggu, gadisnya? Bahkan sepertinya ia tidak behak mengatakan bahwa gadis itu miliknya, setelah apa yang ia lakukan pada gadis lain –dengan kesadaran penuh.
"Aku sedang ingin sendiri."
Ucapan singkat dari Levi cukup membuat Petra terhening di tempat, mencoba mendeteksi apa yang telah terjadi ada pria itu.
"Maaf."
Samar. Sangat samar. Petra dapat mendengar kata 'maaf' itu dari mulut seorang Levi –yang selalu ia kenal dengan ucapannya yang tajam, kata-kata sarkastis seadanya, dan egonya yang setinggi langit-. Pasti ada sesuatu yang terjadi, yang belum siap Levi ceritakan padanya. Karena itulah Petra tak bisa melakukan apapun saat melihat sosok kelam di depannya itu berjalan menjauh, tanpa menengok lagi padanya.
Mungkin pria itu membutuhkan waktu untuk sendiri, batin sang gadis.
'
"
Touku de tomoru mirai moshi mo bokura ga hanarete mo
(Kita sering bersama-sama melihat jauh ke masa depan)
Sore zore aruite yuku sono saki de mata deaeru to shinjite
(Aku selalu percaya bahwa masa depanmu akan lebih baik dengan cara ini)
Chiguhagu datta hazu no hohaba hitotsu no youni ima kasanaru
(Aku selalu berharap kau akan melangkah di jalan yang kita lalui sekarang)
2 hari berlalu sejak misi terakhir dilakukan. Dan 2 hari berlalu bagi seorang Levi yang mendekam sendiri di kamarnya. Tanpa melakukan apapun, menyendiri.
Oh ayolah, tampang Levi kini seperti orang yang baru patah hati. Sangat merana dengan wajah kusut dan kelamnya. Sudah pasti bahwa pria itu sekarang tengah menjadi pribadi yang pengecut, dimana ia menghindari setiap hal yang ada di luar kamarnya, menghindari kehidupan yang terus berlanjut diluar sana. Dengan egois menelantarkan orang-orang yang ingin tahu kondisinya. Dengan kekanakan terus mengurung diri dan menganggap dirinya akan aman baik-baik saja jika berdiam diri disini.
Naif. Seperti anggapan dosanya akan hilang jika ia bermediasi. Seperti pemikiran bahwa misteri dinding akan terungkap dengan bayaran dosa yang lebih beasar. Seperti angapan bahwa suatu saat nanti akan ada senyuman yang menyambut kehadirannya setelah perang.
Tapi Levi masih dalam kondisi itu sampai detik ini. Sebutan 'pria bodoh' mungkin akan ia terima untuk dirinya yang sekarang. Dan dengan senang hati ia akan menolak sebutan 'prajurit terkuat umat manusia'.
Manusia tanpa harapan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu berhasil menarik perhatiannya. Ia mulai bertanya-tanya siapa orang dibalik pintu. Ada harapan dan rasa takut di dalam dirinya. Sampai..
"Ini aku, Levi."
Levi menghembuskan napas lega mendengar suara Erwin yang menyahut.
Tanpa mengatakan apapun, ternyata Erwin langsung masuk ke ruangan miliknya itu, menghiraukan rusaknya pintu yang ia genggam itu.
Jika biasanya Levi akan langsung marah jika seseorang merusak barang miliknya, kini ia tanpa gariah hanya menatap kedatangan Erwin.
Di wajah tenang Erwin tersirat sedikit kekesalan. Namun tentu saja ia meedamnya dengan mudah.
"Ternyata kau selemah ini."
"Ya."
"Aku tidak ingat orang yang aku ambil dari bawah tanah pernah selemah ini`"
"Ya."
"Kau harusnya mengerti sebab-akibat dari apa yang aku perintahkan padamu."
"M'm."
Erwin menghela napas kasar mendengar respon Levi yang sangat singkat dan jauh dari espektasinya beberapa menit lalu.
"Ah baiklah aku minta maaf karena menempatkanmu di misi itu. Aku kesini untuk memberitahumu bahwa misi yang kau lakukan itu telah membuat kita tinggal selangkah lagi menuju impian umat manusia."
Levi membelalakkan matanya. Tampak tertarik dengan ucapan Erwin yang menjanjikan.
"3 hari lagi kita akan menyerang kerajaan. Kita akan melakukan kudeta dan menarik penjahat umat manusia selama ini."
"Kau tidak sedang bercanda kan.."
Erwin tersenyum maklum.
"Kita mendapat informasi berharga itu dari objek misi kita sebelumnya. Dosa yang kua rasakan akan terbayar dengan kemenangan kita."
"Bagaimana jika informasi itu bohong?"
"Bagaimana kita bisa tahu itu bohong atau tidak jika tidak mencobanya kan?"
"Mempertaruhkan pasukan pengintai?"
"Untuk keberhasilan, harganya memang mahal bukan? Misi kemarin kau yang menanggung harganya, dan aku rasa misi kali ini aku akan menanggung harga yang lebih besar."
Senyuman di wajah Erwin memudar perlahan. Wajahnya kini menyiratkan banyak penyesalan.
"Kau tahu? Melihat banyak sekali anak buahmu jatuh bukanlah hal yang bisa dibanggakan. Aku sudah berdiri terlalu lama menginjak tumpukan mayat-mayat bawahan dan rekan-rekanku, menampakkan wajah bahwa aku baik-baik saja dengan mengorbankan banyak nyawa, terus menatap ke depan untuk mewujudkan semua harapan orang-orang yang mendahuluiku. Beban berat kepercayaan mereka tidak bisa aku lepaskan begitu saja, karena itulah aku selalu mencari celah jalan tercepat untuk menuju tujuan kita."
Hening sesaat.
"Sebentar lagi, tinggal sebentar lagi aku bisa menebus dosa dengan menjaga apa yang ingin aku lindungi. Dunia ini memang terlalu jahat untuk dapat mengerti diriku yang hanya seorang pendosa ini, namun setidaknya aku tidak ingin menyia-nyiakan penyesalan yang dan pegorbanan yang sudah aku lakukan. Aku rasa kau juga akan berpikir sepertiku."
Erwin menpuk pundak Levi dengan ringan. Sebagai rekan yang sama-sama merasakan beban dosa yang menghantui setiap malam, Erwin akan dengan senang hati menyemangati rekannya ini. Jangan sampai orang menderita lebih banyak lagi. Cukup dirinya saja yang merasakan sengsara tiada akhir setelah ini.
"Cobalah menemui Petra, aku rasa kondisinya akan semakin buruk jika kau terus mendiamkan dia. Tak ada salahnya memulai dari awal kan?"
Dan sang pria blonde berlalu pergi.
'
"
Soba ni iru koto nanigenai kono shunkan mo wasure wa shinai yo
(Jangan pernah lupakan saat-saat kita bersama)
Tabidachi no hi te wo furutoki egao de irareru youni
(Kau yang tersenyum saat kita bersalaman sebelum kita berpisah)
Himawari no youna massuguna sono yasashisa wo nukumori wo zenbu
(Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya)
Kaeshitai keredo kimi no koto dakara mou juubun da yo tte kitto yuu kana
(Jika kau ingin aku kembali, bisakah kau bilang bahwa kau percaya padaku?)
Manik kelam dan karamel saling bertemu, saat ruang makan pasukan sudah sepi dari para prajurit lain. Melalui tatapan itu mereka berdua seolah merasakan perasaan masing-masing. Tersirat akan rasa rindu yang tertahan.
Petra berjalan mendekat meski sedikit ragu kopralnya akan mau berbicara padanya atau tidak. Namun tanpa disangka ternyata pria itu membarkannya mendekat dan duduk di depannya. Masih saling menatap, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ruangan itu sudah benar-benar tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Ano-"
"Maafkan aku."
Manik karamel terkejut.
"Kau tahu, Petra? Aku benar-benar tidak tahu pilihanku akan berakhir bagaimana. Tapi ternyata pilihan yang menurutku salah itu menghasilkan sesuatu yang besar. Aku.. tidak berharap kau akan memaafkanku atas pilihanku itu. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap berada di sampingku setelah apa yang aku perbuat, aku-"
"Aku sudah tahu semuanya, heichou."
Klai ini manik kelam yang nampak terkejut. Keterkejutannya sampai membuatnya tak bisa mengucapkan apapun dalam ekspresinya.
"Aku mencari tahu apa yang sudah terjadi padamu sejka misi kemarin, dan akhirnya aku mendapat kebenaran dari kapten Hange."
Petra menghela napasnya. Samar terlihat semburat kekesalan di matanya yang menyala. Semua kekesalan itu berusaha ia redam sedemikian rupa agar ia tidak melakukan hal yang tidak perlu.
Masih dalam keterkejutannya, Levi berusaha mencari hal yang bisa ia ucapkan dalam situasi ini. Sampai akhirnya Petra bangkit dai kursi yang ia duduki.
"Boleh aku menamparmu, heichou?"
Satu hentakan yang cepat dan tamparan itu terjadi.
Kini Petra menunjukkan kekesalannya, matanya berair dan alisnya berkerut dalam menatap objek tamparannya. Persetan dengan kenyataan bahwa Levi adalah atasannya saat ini, yang ia sadari hanya ia harus menyadarkan pria itu sekarang.
"Kau tahu seberapa resahnya aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara denganmu? Kau tahu bagaimana perasaanku saat mendengar hal itu dari orang lain? Kau tahu bagaimana kesalnya aku mendengar hal itu? Kau tahu aku... sangat mengkhawatirkanmu karena ini..?"
Air mata dari manik karamel semakin deras nampak. Perasaannya yang kalut tak membantunya untuk bicara dengan baik. Begitu pula Levi, pria itu dengan bodohnya hanya mematung setelah mendapat tamparan cuma-cuma dari Petra.
Setelah beberapa menit berlalu saling terdiam, Petra yang terisak sendiri mulai bisa menguasai dirinya. Ia juga berusaha menarik bibirnya menjadi sebuah senyuman simpul.
"Kau tahu, heichou.. seberapa pun kesalnya aku padamu, aku tetap tidak bisa mengalihkan pikiranku darimu. Aku tidak peduli apa yang telah kau lakukan, aku tidak peduli kenapa misi itu diberikan padamu, tapi tolong.. tolong jangan jauhi aku karena itu. Tolong jangan salahkan dirimu sendiri karena hal itu, tolong jangan anggap aku begitu lemah sampai meninggalkanmu karena hal itu.. aku mohon.."
Petra menyentuh tangan Levi yang tergeletak di atas meja. Seperti biasa tangan yang dingin itu ia genggam dengan erat.
"Jangan beratkan dirimu dengan satu hal, kau masih memiliki aku yang ada di sampingmu."
Rasa sesak yang menyakitkan datang kembali, membuat Levi bangkit berdiri dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan gadisnya. Pria kelam itu membenamkan wajahnya di pundak Petra, merasa bahwa sudah sangat lama ia tidak melakukan ini.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Itu memang tugasmu jadi tak apa.." ucap Petra menenangkan.
"Kau percaya padaku?" sura serak terdengar.
"Ya, seperti memercayakan hidupku di dunia ini."
Petra membalas pelukan sang pria. Kekacauan perasaan yang sempat terjadi kini bisa ia genggam. Ia tidak kehilangan orang terkasihnya. Ia tidak mementingkan ego manusiawinya dalam hal ini. Menilik pada tujuan misi yang selama ini menjadi alasan eksistensinya di pasukan, ia memang tidak bisa mementingkan egonya saat ini. Pilihan memang berat. Dan bayaran untuk sebuah kebebasan memang tak murah bukan?
"Ayo bertarung bersama untuk misi terakhir kita menuju kemenangan, heichou. Aku masih mencintaimu sama seperti saat pertama kali dekat denganmu."
"
Soba ni itai yo kimi no tameni dekiru koto ga boku ni aru kana
(Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan untuk dapat bersamamu?)
Itsumo kimi ni zutto kimi ni waratte ite hoshikute
(Melihatmu tertawa itulah yang selalu ingin kulihat)
Himawari no youna massuguna sono yasashisa wo nukumori wo zenbu
(Kau yang lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya)
Kore kara wa boku mo todokete yukitai hontou no shiawase no imi wo mitsuke takara
( Karena itu aku ingin sampaikan bahwa sekarang aku sudah menemukan arti kebahagiaan sejati)
Kebahagiaan di dunia balik tembok? Pikiran naif itu tidak akan ada yang memikirkannya lagi. Karena yang ada saat ini adalah kebahagiaan di dunia tanpa batas.
Bunga matahari yang lembut menggambarkan senyuman seorang gadis. Bunga matahari yang senantiasa tersenyum hangat dimanapun ia berada. Bunga matahari yang begitu kuat diterpa angin sekencang apapun. Bunga matahari yang bahagia karena menemukan arti kehdupan yang sesungguhnya.
Dunia tanpa batas
Tangan yang saling bertautan
Manik yang memandang jauh menalar fajar
Akhir perjuangan?
Jika yang dimaksud adalah perjuangan melawan Titan, jawabannya ya. Ini sudah menuju akhir perjuangan umat manusia dalam mimpi buruknya di dunia berdinding. Sejarah yang akan tertulis nantinya mungkin tidak akan ada kisah detail mengenai apa yang terjadi, tentang 2 insan yang berjuang bersama menapak hari esok. Kisah yang akan menjadi pencapaian hanyalah bahwa umat manusia mampu menunjukkan taring melawan takdir yang kejam.
-END-
'
"
Wah selesai .. gejos ya heu
Author bingung sebenernya ending mau gimana.. tapi ini harus diselesaikan. Mungkin nanti ada sequel dari sequel ini wkwk tapi author mau nyelesaiin fict yang dulu dulu hehe
Maapin ya updatenya jadi kaya persemester. Soalnya uthor ga punya waktu buat lanjut ngetik a.k.a belum kepikiran full ceritanya. Tapi mumung author sekarang lagi libur, mungkin author bakal produktif. 'mungkin' yaa wkwk
So, tunggu fict lain author yaaa
Ja neee
-author Shigeyuki-
