THE CHASER

Author: Hye Ji

Genre: Wolf!AU, BL, BOYXBOY

Rating: T

Chapter 2 of 3

Cast: Wu Yifan | Kim Junmyeon | Siwon | EXO member | Others

Disclaimer: I only own the story.

Warning! Yang gak suka KRISHO gak usah baca. Yang gak suka Wolf!AU juga gak usah baca.

Wolf!AU ini karangan aku. Beberapa hal dibikin biar nyambung sama ceritanya. Jadi kalau ada yang aneh, maklum ya.


The Chaser

Chapter 2

Yifan tidak bertemu lagi dengan Junmyeon setelah itu.

Sudah satu minggu sejak pertemuan mereka ditepi danau, dan entah berapa kalipun Yifan kesana, tidak ada lagi Junmyeon yang tiba-tiba muncul. Dia gelisah. Apa mereka belum ditakdirkan bertemu lagi? Ha, pertanyaan itu terdengar konyol di telinganya. Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab dan tidak bisa Yifan tanyakan pada siapapun.

Takdir seperti apa yang Junmyeon maksud?

"Fan, jangan banyak melamun."

"Luhan, kau sudah kembali?"

Luhan mengangguk, dia baru saja pergi ke kota dengan Yixing dan Minseok untuk membeli beberapa keperluan. Yifan membiarkan Omega itu memeluknya dari samping, karena akhir-akhir ini sudah jadi kebiasaan. Dia masih tidak tahu apa alasannya, tapi dia menikmatinya.

"Aku merasakan kegelisahanmu. Kau pasti memikirkan sesuatu. Mau bercerita?"

Alpha itu berdecak, mengacak rambutnya frustasi. Dia melihat sekeliling untuk memastikan bahwa rumah kosong. Dia hanya bisa menceritakannya dengan nyaman pada Luhan, sejak Zitao lebih banyak menghabiskan waktu dengan pasangannya sekarang. Bagaimanapun dia harus mendengar cerita orang lain. Yifan malu. Dia tidak pernah menjalani suatu hubungan serius dengan Beta atau Omega manapun jadi dia tidak tahu rasanya.

"Lu, aku bertemu dengannya,"

"Siapa?" Luhan menegakkan tubuhnya, membiarkan suasananya menjadi lebih serius.

"Ada yang menarik perhatianku."

"Oh, astaga. KAU SERIUS FAN?!"

"Kecilkan suaramu, aku tidak mau anak-anak mendengarnya." Decak Yifan sambil menatap tajam Luhan. Omega dengan doe eyes itu menutup mulutnya, masih kaget. Tentu saja, siapa yang tidak akan kaget? Bahkan dia pikir Yifan aseksual karena tidak ada satupun omega dengan jenis kelamin apapun yang dapat membuatnya tertarik.

"Aku terkejut, okay?! Kupikir kau akan melajang seumur hidupmu dan Minseok berakhir menjadi Beta-mu karena terpaksa. Mendengar kau begini membuat—"

"Ya, ya, jadi kapan aku bisa bercerita?"

Luhan menyingkirkan tangan besar Yifan dari mulutnya. "Sekarang," cengirnya lebar. Diam-diam Luhan memanggil seluruh anggota kawanannya untuk datang dan mendengar cerita Yifan karena hei, ini penting. Mereka akhirnya akan mendapat Beta yang pantas dan menjalankan tugasnya sepenuh hati.

"Dia bilang pertemuan kita itu takdir. Aku tidak tahu, apa hal semacam itu ada?"

"Ada. Kau hanya harus mempercayainya. Seperti apa dia?"

Yifan mengedikkan bahunya. "Putri Salju."

"Maaf?"

"Kau tidak salah dengar, dia seperti Putri Salju. Kulit pucat, bibir merah, oke, pink. Rambutnya.. merah. Baiklah poinku adalah kulitnya sangat pucat."

"Hei, sepertinya aku tahu deskripsi itu." sebuah suara tiba-tiba muncul. Yifan menoleh cepat, dan menemukan Zitao berdiri di depan pintu dengan Sehun. Ada pandangan mengancam yang ditujukan Sehun padanya, tapi Yifan tidak mengerti kenapa.

"Aku juga seperti pernah mendengarnya. Hei, bukankah orang seperti itu sangat jarang?" timpal Chanyeol. Baekhyun mengangguk. "Rambut merah, tidak salah lagi, pasti dia."

Ada diskusi lain yang sedang berlangsung sementara satu-persatu anggota kawanannya masuk ke ruang keluarga. Yifan mengerutkan kening, tidak mengingat memanggil mereka atau, oh, Luhan.

Omega itu beringsut ke sisi Yixing ketika Yifan menyadarinya. Semua sudah terlambat. Luhan nyengir tanpa dosa, sedangkan Yifan rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok terdekat. Semua orang memberikan pendapatnya tentang siapakah 'Putri Salju' yang dimaksud Yifan.

"Itu pasti Choi Junmyeon. Benar 'kan, Yifan hyung?" tanya Jongdae, menjadi pemberi kesimpulan. Semua orang berhenti berbicara dan menatap Yifan penuh tanya. Astaga, kenapa bisa dia berada di posisi seperti ini lagi? Alpha itu melirik Jongin dan Sehun yang berwajah datar, membuatnya semakin gugup.

"Kalau benar kalian mau apa?"

"Tidak!"

"KAU GILA HYUNG?!"

"Tidak boleh!"

"Kau mau bunuh diri, Yifan?"

"Aku akan membunuhmu lebih dulu, hyung."

"Err.." Yifan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak mengerti kenapa semua anggota kawanannya bereaksi begitu keras. Well, kecuali Jongin dan Sehun yang tetap berekspresi datar, bahkan tertawa kecil. Apa mereka tidak keberatan kakaknya secara tidak langsung dihina oleh kawanannya?

"Dari semua wolf diluar sana dan kau memilih Junmyeon hyung. Ge, apa kepalamu terbentur sesuatu kemarin?" tanya Zitao, benar-benar khawatir. Kris ingin tertawa kalau saja dia tidak melihat betapa seriusnya pertanyaan itu dari wajah kawanannya. Semuanya melihat Yifan dengan perhatian penuh, termasuk Jongin dan Sehun.

"Memangnya apa yang salah dengan Junmyeon?" pertanyaan Yifan polos, cenderung bodoh. Semua orang langsung mengerang dan menutup wajahnya, kecuali Jongin dan Sehun yang tertawa kecil sambil berpandangan.

"Pertama, kakakku itu Alpha."

"Dan kedua, kami tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekatinya." Ujar Sehun dan Jongin bergantian. Yifan menoleh pada mereka, menaikkan sebelah alisnya.

"Yeah, lalu?" memangnya Yifan peduli? Baginya urusan ini adalah antara Junmyeon dan dirinya, tidak perlu persetujuan siapapun lagi. Oh well, mungkin adik Junmyeon juga? Jongin dan Sehun menggeram, sepertinya tidak senang dengan jawaban Yifan.

"Hanya karena pasangan kami berasal dari kawananmu, bukan berarti kau bisa seenaknya."

"Perhatikan kata-kata kami ketika kami masih bicara baik-baik."

Yifan tidak bisa menjawab karena, hei, apakah dua bocah tadi baru saja mengancamnya? Yang benar saja. Mereka berdua bahkan langsung pergi begitu saja, dan mengontrol Kyungsoo dan Zitao untuk ikut pergi. Wajah Yifan masih sama, penuh keterkejutan karena dia tidak merencanakan ini sama sekali.

Ruang keluarga hening setelah itu.

"Uh.. ada yang bisa menjelaskan padaku kenapa?"

"Kau pikir saja sendiri, mana bisa Alpha dengan Alpha," ujar Minseok menjewer telinga Yifan. Karena sebagai yang tertua disini, Minseok kadang tidak segan memarahi Yifan jika perlu, terlepas dari status Alphanya. Baekhyun dan Chanyeol cekikikan melihatnya.

"Aku tidak percaya kau belum pernah mendengar tentang mereka, duizhang." Yixing angkat bicara, setelah sebelumnya hampir tertidur. Yifan berhasil menyelamatkan telinganya dari jeweran Minseok, menyingkir ke ujung sofa yang lainnya.

"Tentu saja aku pernah! Aku tahu siapa keluarga Choi itu." sanggah Yifan membela diri.

"Kalau begitu kau seharusnya tahu mengenai Choi Junmyeon." Ujar Luhan, cenderung ketus. Oh, lihatlah betapa mereka seperti keluarga. Di klan mana lagi ada seorang omega berbicara ketus pada Alphanya? Yifan mengerutkan kening, masih tidak mengerti.

"Kenapa? Aku tahu dia Alpha."

"Tunggu, sebenarnya dia kurang lebih sama denganmu, hyung." Sela Chanyeol, tepat sebelum Luhan ingin menimpali Yifan lagi. Semua orang melihatnya, dan cengiran lebar khas pemuda itu muncul. "Sama-sama Alpha kesepian dan sulit memilih pasangan."

"Ya,"

Chanyeol bersembunyi di belakang Baekhyun untuk menghindari pukulan maut Yifan. Tawa Jongdae terdengar paling keras, disusul Luhan yang sampai harus menutupi mulutnya karena hei, dia berada di sebelah Yifan.

"Begini, Yifan hyung. Kalau kau ingin mengejar Choi Junmyeon itu sama saja kau mau bunuh diri. Pertama karena kalian sama-sama Alpha, kedua karena dia tidak ubahnya seekor burung dalam sangkar emas. Kau harus mendapat persetujuan adik-adiknya lebih dahulu, dan juga ayahnya." Jelas Jongdae, memulai. Yixing manggut-manggut di sampingnya, menyetujui.

"Tentu saja ini hanya rumor, tapi katanya banyak yang kehilangan nyawanya karena mencoba mendekati Choi Junmyeon. Banyak yang salah mengira dia bukan Alpha karena wajah cantiknya." Tambah Luhan.

Yifan merengut, tidak mengerti. Dia tidak mau berburuk sangka tapi kenapa keluarganya begini padanya? Disaat mereka berusaha keras mempertemukannya dengan banyak beta atau omega dan dia tidak tertarik, mereka merasa putus asa. Dan sekarang saat Yifan memiliki ketertarikan sendiri keluarganya malah mati-matian memutuskan harapannya.

"Tapi kan aku hanya bilang aku tertarik padanya,"

"Astaga Yifan, kau tidak mendengar apa yang dua anak tadi katakan?" respon Minseok tak percaya. Semua tahu kalau Yifan sangat keras kepala, tapi mereka akan berusaha keras melarangnya kali ini.

"Aku tidak tuli, Minseok. Dan aku tidak peduli. Harusnya itu adalah urusanku dengan Junmyeon, bukan dengan mereka berdua."

"Jangan memaksakan dirimu, Yifan hyung. Katanya, semakin ekstrim caramu mendekati Junmyeon, semakin ekstrim juga mereka menyiksamu sampai mati. Kudengar mereka mati mengenaskan oleh Choi Siwon." Baekhyun angkat bicara.

Yifan merapatkan bibirnya, kehabisan kata-kata. Choi Siwon? Alpha keluarga Choi yang ramah itu? Yang begitu hangat memeluk Yifan kemarin? Kenapa rasanya sedikit sulit untuk membayangkan pria itu melakukan hal seperti itu demi putranya. Yifan menggeleng.

"Percayalah, duizhang, bukan kami ingin menghalangimu memiliki pasangan. Tapi Junmyeon adalah seseorang yang mustahil untukmu. Apalagi dia sudah diklaim putra sulung keluarga Jung, Changmin. Keselamatanmu akan terancam."

Oh, Jung itu ternyata Changmin, pikir Yifan mengingat di hari pertama kali dia bertemu Junmyeon. Dia ingin tertawa, tapi ditahannya ketika melihat ekspresi Yixing yang begitu serius dan khawatir saat mengucapkannya. Junmyeon dengan jelas menolak lelaki itu jadi Yifan pikir dia punya kesempatan.

"Lalu kalau semuanya begitu mustahil, siapa yang akan menjadi mate Junmyeon? Kalian sadar kalau Changmin juga seorang Alpha 'kan? Hanya karena aku bukan dari klan yang besar bukan berarti aku tidak pantas untuk Junmyeon. Aku akan maju."

Karena seorang keturunan Choi tidak akan berbicara begitu asal, bukan begitu? Apakah salah Yifan merasa begitu spesial karena Junmyeon mengatakan sesuatu tentang takdir di pertemuan mereka yang terakhir? Luhan berbagi pandangan yang sama dengan Minseok, lelah. Kalau sudah begini tidak akan ada yang bisa menghentikan Yifan atau bahkan merubah pikirannya.

"Hyung, tolonglah. Kami tidak mau kau mati konyol." Ujar Chanyeol blak-blakan. Dia bahkan mencembikkan bibirnya agar Yifan melemah. Namun sayangnya, yang aegyonya bekerja pada Alpha itu hanyalah milik Zitao. Yifan tertawa melihat Chanyeol, mengusak rambutnya.

"Tidak akan."

.

"Junmyeon?" panggil Yifan lembut, mereka bertemu di pinggir kota hari ini. Akhirnya, setelah hampir dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Junmyeon tampak sangat menawan meskipun hanya memakai pakaian serba hitam dari atas kebawah. Wolf cantik itu menoleh padanya.

"Yifan-ssi," balasnya dingin.

"Mau kuantar pulang?" Yifan tampak ragu.

"Tidak usah." Junmyeon melanjutkan jalannya.

"Tapi disini berbahaya." Ujar Yifan melihat sekeliling. Pinggir kota selalu jadi tempat yang tepat untuk para wolf tanpa klan yang hidup sendiri, mengincar musuh yang lemah yang tersasar kesana.

"Aku tahu tempat apa ini. Kau yang harusnya waspada." Dengan keras kepala Junmyeon terus saja berjalan, tidak memperhatikan sekitar. Yifan menjadi sangat khawatir di sampingnya, dan dari yang bisa simpulkan adalah; justru Yifan yang jarang melewati tempat ini. Junmyeon menahan tawanya, menjaga jarak dari Alpha jangkung itu.

Baru saja Yifan merapatkan jarak mereka kembali, tiba-tiba diantara pepohonan muncul beberapa wolf dalam wujud manusia mereka. Pakaian mereka terlihat sangat murahan dan penampilan mereka dekil. Banyak yang mengincar Yifan karena dia terlihat cukup bodoh, kalau saja dia tidak berwajah galak secara natural. Jadi, mereka memindahkan targetnya ke Junmyeon, yang tampak mungil disebelah Yifan.

"Mau kemana manis." Salah seorang dari antara mereka memberanikan diri menghadang jalan Junmyeon. Putra tertua keluarga Choi itu menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang. Yifan masih berusaha menguasai dirinya, tidak menyangka mereka akan begitu berani mencegat seperti ini.

"Minggir." Balasnya dingin. Tapi wolf itu tidak bergeming, dari tanda keunguan kecil di dekat lehernya Junmyeon langsung mengenali dia dari keluarga Nam. Sepertinya dia tersasar terlalu jauh karena keluarga kecil itu adanya di tengah kota, jauh darisana.

"Minggir, Nam. Kau tidak tahu berurusan dengan siapa. Kakakmu Nam Woohyun itu sudah habis oleh keluargaku dan sebaiknya kau pulang sekarang sebelum aku melakukan hal yang sama padamu."

Taehyun menelan ludah. Tahu darimana dia soal kakaknya Woohyun? Si bodoh itu penyebab Taehyun dikeluarkan dari rumah untuk mencarinya, sekarang setidaknya kabar kematian playboy itu sudah cukup. Taehyun mundur dan langsung berlari pulang. Junmyeon meneruskan langkahnya dan merasa sangat aman karena tidak ada pandangan tertuju padanya lagi. Tapi Yifan?

"Ayo sayang, percepat langkahmu! Aku tidak mau berada disini saat malam." sahutnya pada Yifan yang sudah mulai didekati beberapa wolf. Yifan tertegun, dia melihat sekeliling dan langsung menghampiri Junmyeon yang mengulurkan tangannya.

Yifan menggenggam tangan Junmyeon dan melewati daerah itu dengan aman.

Dua hari setelahnya, Yifan masih sangat menyesal.

Yifan tahu, dia tidak bisa meremehkan keluarga Junmyeon atau Junmyeon seorang saja. Tapi kejadian di pinggir kota itu menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Alpha. Dia seharusnya akan menjadi yang dominan dalam hubungan mereka, tapi kenapa, dia gagal mengatasi ancaman seremeh itu? Kalau sekarang dia saja tidak bisa mengatasi kelompok rendahan seperti itu, bagaimana dia akan mengatasi klan-klan besar lainnya nanti?

"Dasar payah,"

Alpha itu menoleh ke samping kanannya, dimana Sehun baru saja minum dari keran. Ada pandangan yang begitu culas dan senyum meremehkan di wajahnya. Yifan tidak yakin harus merespon apa jadi dia hanya bilang, "Eh..?"

"Dua hari lalu, di pinggir kota. Kalau kakakku tidak ada tamatlah riwayat klan ini." Sehun berkata dengan santainya. Yifan meringis, ingin berkata kasar atau memberi bocah ini pelajaran, tapi dia teringat posisinya dan dia pikir mengumpat pada anak itu bukanlah awal yang bagus untuk menarik hati calon adik iparnya itu.

"Aku jadi teringat, aku belum berterimakasih."

"Tidak usah. Tidak perlu. Aku yang harusnya berterimakasih."

"Untuk?"

Senyum Sehun begitu tulus, seperti mengejeknya. "Membuktikan bahwa kau tidak pantas untuk Junmyeon hyung."

Kau dengar itu? Suara kepalan tangan Yifan yang mengerat. Pasangan Zitao itu pergi begitu saja, meninggalkan Yifan yang bersandar pada counter di dapur, memikirkan perkataannya. Tidak pantas. Tidak pantas. Tidak pantas. Tapi Sehun ada benarnya juga. Yifan menyesal sekali lagi dan mengutuk dirinya untuk yang kesekian ribu kalinya dalam dua hari ini. Rasanya dia tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengan Junmyeon.

"Kau kenapa hyung? Toilet kosong, kok." Tanya Baekhyun yang baru saja masuk, mencuci tangannya.

"Aku tidak sedang ingin buang air."

"Lalu kenapa kau punya ekspresi aneh begitu?"

Perhatian Baekhyun bahkan hanya tertuju pada jari-jari lentiknya. Yifan menghela napas, merasa tidak akan ada gunanya juga bercerita pada Omega itu. "Tidak apa-apa, Baekhyun-ah."

"Bagaimana dengan Junmyeon-ssi? Apa ada kemajuan?"

Baekhyun selesai mencuci tangannya dan mengeringkannya di handuk yang digantung. Belum sempat Yifan menjawab, Jongin masuk ke dapur dan berkata, "Kudengar kau hampir mati konyol kalau bukan karena kakakku?"

Tahan, Yifan. Alpha itu menarik napasnya dalam-dalam, tangan mengepal kuat lagi. Tidakkah cukup dia menderita memikirkan ini sendirian selama dua hari? Sekarang dua setan sialan itu menambah beban pikirannya. Baekhyun menoleh pada Jongin, yang baru saja mengambil soda dari kulkas.

"Mati konyol?" tanya Baekhyun bingung.

"Oh? Beritanya tersebar dengan cepat, ya." Jawab Yifan sarkastik. Mungkin karena mereka baru bertemu hari ini, makanya dua kakak beradik itu baru menghinanya sekarang. Jongin tersenyum miring, meremas kaleng sodanya.

"Iya, secepat kau mempermalukan dirimu sendiri di hadapan Junmyeon hyung." Pemuda berkulit tan itu melempar kaleng sodanya yang remuk lalu beranjak darisana, tanpa melewatkan Baekhyun yang begitu kebingungan.

"Baekhyun hyung,"

"Oh, Jongin-ssi." Respon Baekhyun canggung, kemudian beralih pada Yifan yang mengacak rambutnya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Bunuh aku saja, Baek."

"Oh ayolah, berhenti jadi dramatis. Kau sendiri yang bilang akan maju tidak peduli apa."

Yifan menggeleng, tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Apa semua keluarga Choi begitu pintar dalam menjawab? Sampai-sampai dia dipukul telak oleh kakak beradik itu hanya dengan beberapa kalimat. Hatinya membela diri sendiri dengan berkata kalau dia memang tidak pandai berdebat, tapi bukan itu masalahnya sekarang.

"Kalau kau mempermalukan dirimu sendiri di hadapan calon pasanganmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Um.. seberapa fatal?"

"Saaangat fatal," ujar Yifan sambil menggeleng. Baekhyun terlihat ragu sebelum menjawab, "Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Malu."

Selamat, Wu Yifan. Anda telah menjadi pecundang terbesar di seluruh jagat ini.

.

Nyatanya Yifan tidak bisa menghindari Junmyeon.

Entah bagaimana caranya, tapi mereka selalu bertemu. Di hutan. Danau. Kota. Mungkin Yifan lupa kalau mereka adalah tetangga. Ya, tetangga semacam orang yang tinggal tepat di sebelahmu dan dapat saling mengunjungi kapan saja. Apalagi, Junmyeon punya alasan kuat untuk melakukannya.

"Aku tidak akan datang."

Sebuah undangan datang sore itu, lewat Sehun dan Jongin. Mereka bilang Siwon mengajak kawanan Yifan untuk berburu bersama. Dengan salam terhangatnya, Siwon ingin kawanan mereka jadi 'akrab' entah bagaimana caranya.

Itu aneh.

"Kau harus datang. Ayah kami secara khusus menyebutkanmu untuk datang." Ujar Jongin tegas, menatap tajam Yifan. Dua kakak beradik itu semakin tidak baik padanya dan Yifan tidak ingin ambil pusing, jadi dia membiarkannya berlaku tak sopan.

"Tapi aku tidak bisa datang. Banyak yang harus aku urus esok pagi."

Bohong. Yifan hanya ingin menghindari Junmyeon apalagi Siwon. Mau ditaruh dimana wajahnya, setelah kejadian waktu itu di hadapan Alpha keluarga Choi? Siwon sudah pasti mengetahui kejadian itu dan Yifan mungkin memang terlalu pengecut. Lagipula sungguh tidak masuk akal untuk Siwon meminta semua anggota kawanan itu datang. Zitao dan Kyungsoo akan pergi dari kawanan ini, setelahnya tidak akan ada urusan lagi diantara mereka.

"Ge, kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Alpha Choi lagi jika kau menolak kali ini. Hubungan akan jadi tidak baik." Zitao bersuara. Sebagai Beta Yifan, dia masih bisa mendengarkan apa yang Alphanya itu pikir atau katakan dalam hati. Yifan menoleh padanya.

"Haruskah aku?"

"Apa itu sesuatu yang perlu ditanyakan lagi?" tanya Sehun, tak sabar. Yifan tahu Jongin dan Sehun memang sangat tidak sopan dan kehilangan respect padanya, tapi sore ini, rasanya ada sesuatu yang membuat mereka ekstra benci padanya. Yifan tidak tahu apa, tapi mungkinkah ini ada hubungannya dengan undangan kawanan Choi?

"Baiklah, baiklah. Aku datang."

"Dia semakin minus saja di mataku," bisik Jongin pada Sehun yang mengangguk, menyetujui. Mereka benar-benar menentang keinginan ayah mereka yang ingin menguji Yifan besok. Satu-satunya yang diuji oleh Siwon selama ini hanyalah Changmin, dan kalau itu bukan karena kekuatan klan mereka, sudah pasti Changmin juga disiksa sampai mati.

"Kita berangkat kapan?"

"Subuh. Tepat sebelum fajar datang." Jawab Jongin dengan tegas, tidak tertarik berlama-lama mengobrol dengan Yifan. Alpha itu hanya bisa melihat kepergian mereka dengan helaan napas, untuk saat ini memutuskan untuk mengalah. Besok, entah bagaimana caranya dia pasti akan membuktikan bahwa dia pantas dan punya kesempatan yang sama seperti Changmin.

Pagi menjelang dengan cepat.

Yifan hampir tidak bisa tidur semalam, dan sekarang rasanya gravitasi menahannya di tempat tidur. Alpha itu meminum segelas air putih dalam satu tegukan untuk menyegarkan tenggorokannya, kemudian memutuskan untuk keluar. Sehun dan Jongin sudah berada diluar dalam bentuk wolf mereka, mata menyala.

Oh wow, mereka bukan Choi tanpa alasan. Yifan merapatkan bibirnya dan segera berubah ke bentuk wolfnya juga. Sehun dan Jongin yang merupakan Omega dan Alpha relatif lebih kecil dari Yifan, dan itu sedikit membuat Yifan bangga. Alpha itu kemudian maju ke depan, lalu melolong, memanggil Betanya dan Chanyeol. Para Omega tidak akan ikut dalam perburuan, dan Sehun adalah pengecualian.

Zitao berada di sampingnya dalam waktu yang singkat. Yifan mungkin akan tersenyum lebar dalam bentuk manusianya, melihat Zitao dan Chanyeol dalam keadaan terbaik mereka pagi ini. Tapi dia tidak berlama-lama mengagumi mereka saat kemudian, sesosok wolf berwarna putih muncul bersama sosok wolf berwarna putih lainnya. Tubuhnya paling besar diantara mereka semua dan Yifan hampir refleks mundur.

Siwon dan Junmyeon.

Hanya mereka berdua yang datang dan Yifan semakin heran saja. Baiklah, Klan Choi memang sangat besar tidak mungkin semuanya datang. Jadi Alphanya saja sudah cukup. Siwon memberi komando untuk berpencar sesaat kemudian, dan merekapun masuk ke kegelapan hutan.

Alpha memang sudah seharusnya sendiri, paling tidak ditemani Beta-nya. Namun itu tidak berlaku bagi Siwon yang memimpin perburuan ini. Dia berada di posisi terdepan, diikuti oleh Yifan, Junmyeon, dan sisanya di belakang. Mereka menuju ke bagian hutan lain untuk berburu, namun masih di wilayah kekuasaan Choi dan Wu.

Wangi yang khusus menerpa penciuman Yifan ketika akhirnya mereka sampai. Tim-tim dikomando oleh Siwon, Jongin dengan Chanyeol, Zitao dengan Junmyeon, Sehun dengan Yifan, dan Siwon sendiri. Bukannya merasa tersinggung, Yifan justru merasa tersanjung dipercaya menjaga adik Junmyeon yang paling kecil ini. Omega berbulu abu terang ini menjaga jarak darinya, bahkan sengaja menunjukkan taringnya padanya. Yifan pikir itu lucu, menganggap Sehun seperti anak anjing yang ketakutan dan sedang berusaha menggertak.

Kau sedang dalam periodemu, Sehun?

Ini wangi Omega. Tidak salah lagi. Aura submissive yang sangat kuat bisa dirasakan Yifan tapi instingnya mengatakan kalau itu bukan dari Sehun. Aneh. Sehun satu-satunya omega disini.

Bukan aku. Mungkin omega liar. Jawab Sehun kasar di pikirannya. Yifan menghirup lagi udara di sekitarnya, sial, kenapa pagi ini dingin sekali. Wangi itu mulai menghilang, bersamaan dengan berpencarnya kelompok berburu pagi ini. Sehun berjalan merapat ke sebelahnya, dan Yifan tertawa dalam hati. Mungkin ini yang disebut dengan tsundere, kalau kata Chanyeol yang terlalu banyak menonton anime itu.

Siwon tentu sudah menyiapkan ini semua, menilai dari bagaimana cepatnya Yifan menemukan seekor rusa yang sedang tertidur. Dia berjalan lebih pelan, dan Sehun mengikutinya tanpa diminta. Yifan menemukan tempat yang tepat untuk memperhatikan rusa itu lebih dekat lalu menunduk dan merebahkan tubuhnya. Sehun tidak mau mengikutinya kali ini, lebih memilih untuk mendekati lagi mangsa mereka pagi ini.

Kau akan membangunkannya, Sehun. Mundur. Perintah Yifan tegas. Sebagai seekor omega, Sehun tentu sangat ceroboh dalam berburu. Wolf abu itu tidak mendengar, masih terus saja berjalan lebih dekat, lebih dekat.

Sehun, berhenti.

Dia begitu bodoh, pikir Yifan. Omega tidak seharusnya berburu, mereka tidak dirancang untuk itu. Baru saja dia memperingatkan Sehun lagi saat kemudian suara lolongan terdengar tidak jauh diiringi dengan suara hewan kesakitan. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Yifan refleks melompat melewati Sehun dan menerkam rusa yang baru saja terbangun itu sekali gigitan.

Dan ternyata itu bukan rusa.

Itu karibu jantan dewasa yang tanduknya begitu besar. Salah langkah sedikit Sehun tadi bisa terluka. Omega itu terdiam di tempat, mengeluarkan suara pelan seperti minta maaf. Yifan mengencangkan gigitannya kembali ke karibu yang masih sekarat itu, mengantarnya menemui ajal. Baru saja Yifan melepaskannya, Siwon datang dan membunuh karibu itu sekali lagi untuk memastikan.

Kerja bagus, Yifan-ssi. Suara Siwon bergema di kepalanya, Yifan mundur, menundukkan moncongnya ke tanah. Selesai sudah, pagi ini. Jongin dan Chanyeol muncul tak lama kemudian, disusul Zitao dan Junmyeon, masing-masing membawa hasil buruan mereka. Bertatapan dengan anggota kawanannya, Yifan tahu kalau Junmyeon dan Jongin lah yang berhasil melakukan perburuan.

Fajar mulai menyingsing, dan Siwon memanggil kawanannya untuk membawa sisa buruan mereka. Chanyeol yang terlihat paling senang diantara mereka, menggoyangkan ekornya seperti seekor anjing golden retriever. Yifan tertawa di pikirannya, setidaknya dia melakukan hal yang benar hari ini, meskipun hanya refleks.

Wangi itu kembali menerpa Yifan, bertepatan saat Junmyeon melewatinya untuk mengecek keadaan Sehun. Putra sulung keluarga Choi itu memberinya tatapan terakhir sebelum Siwon memberi komando mereka bisa kembali sekarang, karena kawanannya sudah datang. Yifan tidak ingin percaya wangi itu dari Junmyeon. Dia seorang alpha, demi tuhan! Tapi Zitao terlihat begitu tenang di sampingnya, kekhawatirannya pada Sehun terasa wajar dan bukan territorial.

Mereka secara natural berpisah saat berlari pulang. Yifan masih memikirkan darimana wangi itu datang sedangkan satu-satunya omega disana adalah Sehun, dan tidak mungkin ada 'omega liar' berkeliaran begitu saja di wilayah ini.

Yifan hyung,

Yifan menoleh ke sebelah kirinya, dimana keluarga Choi berlari dalam kecepatan yang sama dengan kawanannya. Itu Sehun.

Selamat berjuang mendapatkan Junmyeon hyung.

Jongin yang berbicara kali ini, dan Chanyeol berhasil menubruk Yifan dari belakang karena Alpha itu tiba-tiba terdiam, mendengarkan satu lagi telepati yang masuk ke kepalanya. Zitao berhenti di tempatnya juga, menertawakan Chanyeol yang protes pada Yifan. Kawanan Choi melewati mereka begitu saja, menuju ke mansion besar yang berlawanan arah dengan kediaman Wu.

Yifan, Yifan. Apa perburuan ini takdir atau kebetulan?

TBC


this is trash im sorry