Sore itu angin dingin mulai berhembus. Salju mulai luruh sedikit demi sedikit. Di Taman Kota, mereka berdua kaku dalam diam. Mata mereka tersalin dan berbagi hangat melalu nafas masing-masing….

Mikuo menempelkan telunjuk ke bibir Rin, menatapnya. Seperti pertanda untuk membuatnya diam—tapi Mikuo tahu, gadis seperti Rin tidak bisa diam. Mikuo tidak suka.

"Shimoda… Shimoda sang stalker."

"Eh?"

"Aku tahu tentangmu. Kau tak peduli apa yang mereka katakan. Bahkan gosip yang beredar, kau sampai tidak mendengarkan petuah-petuah si Kagamine. Bagaimana rasanya menguntitku selama satu tahun hidupmu, huh? Menyenangkan?"

Dengan sengaja Mikuo memberi penekanan, bercampur dengan rasa dingin dalam setiap perkataannya. Terlihat jelas Rin terkejut dengan manik mata berkilat. Menandakan bahwa rahasianya sudah terkuak. Rahasia menjadi stalker selama satu tahun hidupnya.

Rin bungkam—lebih tepatnya tak sanggup untuk berkata apa-apa. Mikuo tahu pasti, Rin tidaklah bodoh dan tidak akan mengaku sebagai stalker.

"Baiklah, kalau kau tak ingin menjawab. Aku akan pergi."

Mikuo merasakan badannya mendadak berdiri tanpa terkontrol olehnya—meninggalkan Rin dan berjalan pergi. Ia memalingkan muka agar Rin tidak tahu seperti apa tampang wajahnya. Ketahuilah, Mikuo sedang menyembunyikan wajah yang luar biasa dingin—bahkan lebih dingin daripada salju.

Grep!

Tanpa disangka, jari-jemari lentik mencengkram lengan jaket Mikuo.

"Tunggu! Kau belum menjawab tentang perasaanku!" seru Rin.

Cengkraman tangannya membuat Mikuo tersadar, bahwa watak satu lagi mulai terlihat. Dia... keras kepala. Keras kepala seperti batu. Dan keras kepala itu menyebalkan.

Syaraf Mikuo mungkin terlalu gila untuk bergerak tanpa akal, namun itulah faktanya. Dipegangnya dagu Rin dan menatap irisnya. Mendadak pipi gadis itu merah merona.

Hah, dasar… Hanya diperlakukan seperti ini saja sudahspeechless. Bagaimana kalau aku menghancurkannya? Hahaha!

"Aku menolak. Karena kau bodoh, terlalu centil, tomboy, urakan, keras kepala, norak, selalu menguntitku, dan aku yang terkena penyakit kanker paru-paru. Jadi—"

"TIDAK!"

Rin memotong, memekik tiba-tiba. Menutup cuping telinga dengan kedua tangan. Seakan-akan tidak ingin mendengar ucapan Mikuo.

Mikuo mengeryit. Ada apa dengan gadis ini? Apakah suaraku terlalu dingin? Menyakitkan? Ah, ayolah. Cinta tak selalu berakhir dengan bahagia...

"Kalau begitu, ijinkanlah aku untuk berubah! Aku akan lakukan apa saja, hanya untukmu! Belajar 'saling mencintai'! Apapun untukmu, aku rela!" seru Rin dengan bergetar.

Apapun untukku, kamu rela, Rinny?

Mikuo memutar bola matanya. Entah karena hawa dingin atau perasaan tak karuan, ia merasa tidak betah berada disini—meskipun Taman Kota ini terlihat cantik. Dimasukkannya kedua tangan ke dalam saku. Antisipasi agar tangannnya tak berbuat sesuatu.

"Sudahlah. Aku tidak meyukaimu."

Rin terbelalak, begitupun dengan Mikuo. Mikuo tidak bisa membayangkan bahwa ia bisa berkata sesadis itu—sebuah kalimat belati yang menembus dada Rin seketika. Perlahan Mikuo merasakan aura kesedihan memancar lamat dalam diri Rin.

Ahh... Sepertinya Mikuo berhalusinasi. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. Watak Ego Mikuo muncul dan menahan tawa dinginnya. Lihat, bukankah mudah menghancurkan cinta seseorang?

Saat Mikuo menatap Rin, sebulir air mata turun dari dagunya.

Mikuo merasa tidak enak hati. Ia memang tidak suka dengan air mata perempuan. Begitu... menyedihkan. Serasa ikut merasakan kesedihan di setiap tetesnya. Seakan-akan setiap air mata perempuan itu menularkan sakit.

Tapi kali ini berbeda. Bahkan menyaksikan Rin menangis pun, Mikuo tidak merasakan apa-apa. Dengan ringan kakinya bergerak, meninggalkan Rin yang masih berdiri kaku.

Mati Rasa. Melihat Rin menangis hanya membuat Mikuo mati rasa.

Mikuo pergi meninggalkan gadis berpita putih itu. Bahkan kepalanya tidak ingin memutar untuk melihatnya—yang mungkin untuk terakhir kalinya.

Mikuo telah mengetahuinya. Rin selalu mengikutinya, kemanapun dia pergi. Tentu saja, Rin adalah stalker. Pengikut setia Mikuo. Mikuo bisa melihatnya mengintip dari semak-semak ketika dirinya pulang. Entahlah, rasanya aneh sekali jika diikuti orang.

Oh, ia terlalu mempunyai obsesi pada Hatsune Mikuo? Hahahaa… Mikuo terkikik geli. Ternyata menertawakan Shimoda Rin begitu menyenangkan!

Melalui e-mail,Rin meminta Mikuo datang tepat pukul setengah empat sore, dan Mikuo sengaja datang terlambat. Sengaja hari ini Mikuo memenuhi permintaan Rin—untuk menguji apakah dia benar-benar serius tentang kegiatan stalkernya.

Yang membuat Mikuo heran, Rin tidak keberatan bahwa dirinya datang terlambat. Malahan ia menyatakan perasaannya tanpa basa-basi, dan… perjuangan satu tahun menjadi stalker hancur sia-sia! Kisah cinta Shimoda Rin kandas di tengah jalan! Huahahaa! Bukankah itu lucu? Ego membuat Mikuo kembali menertawakan Rin.

"Kalau begitu, ijinkanlah aku untuk berubah! Aku akan lakukan apa saja, hanya untukmu! Kita akan belajar untuk saling mencintai!"

Oh, hal ini begitu kejam. Ketika Mikuo tertawa, hati nurani mengulang kembali perkataan Shimoda. Kata saling mencintai itu begitu mengaduk-aduk isi perut Mikuo. Kata yang Mikuo butuhkan adalah dicintainya.

Hatsune Miku.

Entah. Mikuo rindu padanya. Rindu dengan suara tawanya. Rasa kangen menghardik Mikuo bertahap.

Mikuo melangkahkan kaki lebih cepat, lebih tepatnya setengah berlari. Mikuo hanya menginginkannya. Langkah kakinya bertuju pada Café Voca. Cafe dimana Miku bekerja.

/

Akhirnya Mikuo sampai.

Café Voca. Pot-pot bunga croissant mewarnai teras café. Lentera yang tergantung di dinding menambah suasana tenang. Wallpaper-nya hijau lembut, membuat kesegaran terasa. Tak ada penduduk Sapporo yang tidak betah dengan tempat ini. Salah satu Café terfavorit di wilayahnya.

Mikuo memutuskan untuk masuk. Ia duduk di tempat pojok café. Mikuo hanya ingin privasi agar tidak terganggu dengan ramainya pengunjung lain.

"Maid! Hatsune Miku-chan!" Mikuo berseru memanggil, mengacungkan jari ke arah counter.

Dia datang mendekat. Gadis dengan rambut bergaya twintailsberwarna rambut sama dengan dirinya, bola mata itu selalu membuat Mikuo meleleh. Senyumnya merekah sempurna—dengan begitu ringannya.

"Anda mau pesan apa?" Tanya Miku, ia mengeluarkan pena dari saku, layaknya maid café professional.

"Tidak usah terlalu formal. Aku hanya ingin bicara denganmu sebagai… sepupu. Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja," kata Mikuo terpatah.

"Ya?"

"Apa kau tahu tentang Shimoda Rin?"

Miku mengangguk, ia segera duduk di kursi berhadapan dengan Mikuo. "Tentu! Dia sahabatku! Eh, pelanggan setiaku tadi mampir ke sini, sekedar minum kopi. Tapi setelah mendapat terlepon, mendadak ia keluar. Sedetik kemudian kau masuk. Hahaha, lucu sekali."

Ahh… Tawa renyah Miku. Kerinduan Mikuo sudah terbayar sekarang.

"Memangnya kau kenal mereka? Rin? Len? Kaito?" Tanya Miku antusias

Suara Mikuo mulai memberat, ada beban cemburu di tenggorokannya. "Aku tidak kenal… tidak sekelas, sih. Kecuali Shion Kaito itu, dia 'kan wakil ketua OSIS sekolah kita."

Miku memintal ujung rambutnya. "Kalau aku sekelas dengan Len dan Kaito. Lalu Rin ada di kelas sebelah, jadi aku sering bertemu dengannya."

"Oh."

"Ngomong-ngomong, sekarang aku makin senang bersama Kaito. Dia sangat baik," katanya tersenyum malu-malu.

Ayolah, Miku. Jangan bicarakan Kaito lagi… Mikuo benci mendengarnya. Kata-kata Miku yang polos menghardik hatinya dengan mudah. Apakah kau tidak tahu kalau kau bahagia dan aku tersiksa? Jauh dari apa yang aku tunjukkan di hadapanmu.

"Hahahaa…" Mikuo pura-pura tertawa. "Err, tentang Shimoda itu…"

"Ya?"

"Shimoda itu… menyukaiku."

"Owh, Selamat!"

"—Aku menolaknya"

Miku tercenung, menatap Mikuo tak percaya—penuh dengan tanda tanya bertubi. Tanpa diperintah, Mikuo menceritakan semuanya.

Ia menyimak setiap kata dengan antusias. Itulah salah satu sifat yang Mikuo suka darinya; Miku selalu mendengarkan. Mendengarkan apapun. Dia pengertian… Dia perempuan yang paling sempurna yang pernah Mikuo temui…

Setelah Mikuo menceritakan kejadian tadi, Miku hanya menarik napas—menampilkan senyum menyejukkan. "Tapi itu tidak baik, Mikuo…" katanya.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi hargailah dia sedikit. Jangan berkata dingin ataupun kasar. Hargai perasaannya. Setiap orang tidak sama, Mikuo…"

Ah ya, tak sama, tidak sesempurna dirimu…

"Selama sempat, minta maaf pada Rin. Aku takut hal ini akan berbuntut panjang…"

Minta maaf? Semudah itukah? Kalau begitu maukah kau maafkan aku, jika aku mencintaimu?

"...Aku mengerti kamu, Mikuo. Kau bisa cerita apa saja tentangku. Kita sepupu 'kan?"

Tiba-tiba kehangatan menjalar cepat di jemari Mikuo. Di balik meja, mereka berdua saling bergenggaman tangan, sebuah simpati Miku untuk saling mengerti. Miku tersenyum penuh makna.

Ahh, Miku… Kau tak mengerti tentang aku.

"Jadi… Apa bisa aku menceritakan tentang orang yang aku sukai?"

Miku mengerdipkan sebelah mata. "Tentu, kau boleh cerita apa saja."

Mikuo mengambil napas. Bersiap-siap, menceritakan semuanya. Seperti apa kata Miku...

"Aku menyukaimu. Miku adalah sepupu dan sahabat terbaikku. Cantik, baik, menawan, ramah… Dia suka sekali dengan keripik daun bawang. Aku suka ketika ia tertawa, terdengar enak sekali. Tapi perasaan ini aku sembunyikan, menahan perasaanku, karena… Ia sudah punya pacar..."

Mata Miku seketika membulat, terkejut, mulutnya menganga. Disusul dengan warna merah di wajahnya. "Ma-maksudmu—" ia tergagap.

"Nah, sudah aku ceritakan semuanya. Aku mencintaimu. Aku c-i-n-t-a kamu, Hatsune Miku! AKU MENCINTAIMU LEBIH DARI SIAPAPUN! Aku lebih mencintaimu daripada Kaito, kekasih es-krim-bodoh itu!"

"Mi-Mikuo! Sudah, tenanglah! Aku mengerti perasaanmu... tak perlu menceritakan semuanya," ucap Miku, suaranya mulai serak, tapi Mikuo sudah terlanjur berang.

"TENANG?" Nada suaranya mulai meninggi. "Bagaimana aku bisa tenang?— KAU BAHKAN TIDAK MENGERTI APA PERASAANKU!"

Miku menggigit bibir merahnya, grogi, matanya berkaca-kaca. Kemudian dengan perlahan, mata indah itu berlinang—dan akhirnya, menangis tersedu. Membenamkan wajah di balik tumpukan lengannya. Pundaknya berguncang, diikuti suara sengugukan.

Hah... Apakah aku yang membuat Miku menangis seperti itu..?

"Hiks... Hentikan keegoisanmu itu. Aku tidak sanggup... Itu membuatku tersakiti." Miku menyeka jejak air mata pipinya. "Ini bukan hanya perasaanmu saja, Mikuo... bukan hanya kamu..."

"Miku, kau menjilat lidah sendiri. Kau bilang, kau mengerti aku..." Mikuo menopang dagu, menatapnya jengkel. Kepala Mikuo serasa ingin meledak. Mikuo benar-benar marah dengan sikap Miku! Selebihnya ia kecewa karena Miku tidak mengerti tentangnya.

"Sebelum ingin dimengerti, mengertilah orang lain! Seharusnya kau juga mengerti tentangku!"

Miku melempar asal pena dari sakunya, dan sukses mendarat tepat di badan Mikuo. Seperti salah satu cerminan kemarahan yang terpendam... "Tolong, mengertilah tentang aku, Mikuo... Aku tak sanggup... kamulah lelaki yang paling kusayang…"

Setelah Kaito bukan? Oh yeah, lelaki itu lagi.

"Jadi, kau menolakku? Sopan sekali cara bicaramu. Ini terlalu menyakitkan, Miku..."

"...Aku tidak ingin kau terjatuh, tapi kenyataannya, perasaanku memang tidak bisa dibohongi. Aku sudah pacaran dengan Kaito. Aku mencintainya... Maaf." K

ini dia menangis kembali, lebih hebat dari pada sebelumnya. Di setiap air mata Miku, Mikuo mendapat pedih menyayat badan.

Nyuut...

Pertama kali dalam hidup, dada Mikuo tak sesakit ini. Seperti orang tua yang menderita penyakit asma. Perasaannya tak berbalas dan tidak berbuah apapun—yang justru membuatnya menangis. Tangis Miku kian menjadi.

Kilat air matanya, pundak yang bergetar… Mikuo hanya memalingkan muka.

Dengan segera, Mikuo mengenyahkan suara tangis yang menggema di pikirannya. Dia meninggalkan Cafe Voca—atau lebih tepatnya meninggalkan Miku. Sungguh, Mikuo tak sanggup melihatnya menangis—atau mungkin sebaliknya; Mikuo yang menangis...

Mikuo melangkahkan kaki lebih cepat, menyusuri tanah berlapis salju. Bermain dengan napas, udara putih mengepul di hadapannya. Yah, hari ini terlalu dingin. Membuat wajah Mikuo pucat karenanya. Ia hanya ingin kembali pulang—menikmati teh hangat dan menonton drama televisi murahan.

Berjalan menuju halte merupakan hal yang sulit, perkataan Miku masihlah terulang. Perkataan Miku begitu menusuk. Halusinasi pahit; fakta bahwa Miku mencintai Kaito. Sebuah mimpi tentang cinta tak tercapai—atau memang tidak mungkin tercapai. Mimpi yang terlalu muluk untuk mendapatkannya.

"...Aku mengerti kamu, Mikuo. Kau bisa cerita apa saja tentangku. Kita sepupu 'kan?"

Status tentang sepupu itu... brengsek. Mikuo tak peduli perasaan ini termasuk incest,hubungan terlarang, atau apalah namanya. Mikuo tetap tak peduli, jadi ia ceritakan saja semuanya. Yang Mikuo inginkan hanya Miku. Miku. Miku. Miku...

"...Aku tidak ingin kau terjatuh, tapi kenyataannya, perasaanku memang tidak bisa dibohongi. Aku sudah pacaran dengan Kaito. Aku mencintainya... Maaf."

KAITO! Lelaki bodoh berambutocean blue itu membuatnya marah!—menyalahkan dia, menghinanya habis-habisan.
Lelaki brengsek, pecundang! Tampilannya yang kekanak-kanakan selalu membuatku muak! Sudah kusiapkan kepalan tangan untuk perutmu, sayang!

Dan, tentang Hatsune Miku. Ini adalah kali pertama Mikuo marah besar dengannya. Dia tidak mengerti tentang dirinya—salah, dia tidak mau mengerti dirinya! Mengapa Miku berprasangka sejahat itu? Bahkan saat menolak Mikuo pun, dengan tega dia sebut nama 'Kaito'? Sungguh, mengucapkan namanya saja adalah kesalahan terbesar!

DUAGH!

Tanpa sadar, Mikuo memukul keras tiang listrik di samping jalan. Sekadar melampiaskan amarahnya yang meletup.

Nyaris saja Mikuo lupa, kesedihan itu tergantikan oleh rasa amarah. Rasa sedih karena penolakan cinta menghilang bersama uap. Entah kemana. Tapi rasa sesak di dada ini masih belum tergantikan—yang justru amarah kian menguat, tersihir menjadi obsesi untuk memiliki Miku. Nafsu untuk memiliki Miku...

Kembali Mikuo berjalan menuju halte. Perlahan selaput cairan menggenang di matanya, semuanya meghablur dan tak konsisten. Mikuo menghapusnya dengan lengan sebelum air matanya menitik.

Mikuo merasakan ego kembali muncul, merajai hati. Yang aku inginkan hanya Miku, sepupuku sendiri. Kalau perlu singkirkan Kaito untuk mendapatkannya... Aku ingin gadis twintails itu milikku. Miku terlahir untukku, benar 'kan, Tuhan?

Ugh, Mikuo segera menepisnya. Tentu saja tidak mungkin jika Mikuo membunuh Kaito hanya untuk Miku, itu akan memperburuk masalah. Miku yang kehilangan Kaito...

Dosa atas hubungan darah membuatnya limbung. Bisakah dia berbuat yang terbaik? Yeah, apa saja untuk Miku...

Sekeras apapun Mikuo berusaha, ia tak akan mendapatkan Miku. Miku hanya untuk Kaito...

/

Mikuo berjalan layaknya robot, berkali-kali menghardik apapun. Emosi merah masih mengendalikannya. Melintasi jalan sepi dengan beberapa hentakan...

Dan lelaki berambut ocean blue berpapasan dengannya...

Mikuo menghentikan langkah, seketika ia terbelalak, begitu juga dengan Kaito. Kedua pasang mata itu saling memandang dingin. Mungkin ini adalah takdir Tuhan untuk mempertemukan mereka berdua pada hari ini. Hari pertama salju yang turun lebih awal...

Mikuo dan Kaito adalah teman sepermainan. Kemudian segalanya berubah di hari dimana Miku memperkenalkan Kaito sebagai pacarnya, dan Mikuo sebagai sepupunya, adalah hari terakhir kalinya mereka bertegur sapa.

Sekarang, pertempuran dua orang ini terasa sia-sia. Bagaimanapun juga, Kaito-lah pemenangnya. Kaito mendapatkan hati Miku. Sedangkan Mikuo, kalah telak, begitu memalukan. Pecundang yang berusaha lari dari godaan cinta, ia terlalu mencintainya. Memendam perasaan berlarut, hingga, hari ini. Perasaannya sudah diungkapkan...

Seperti telepati, mereka saling lempar pandangan mata tak suka.

Mikuo berjalan melewati Kaito dalam diam. Ia segera melambaikan tangan ke arah jalan—untuk memanggil taksi. Yang diinginkan Mikuo hanya pergi dari tempat itu sekarang juga. Namun itulah Hatsune Mikuo, seorang pecundang yang lari dari kenyataan...

Kaito memandang taksi itu kian menjauh. Dengan muka tanpa ekspresi, ia mengambil ponsel, mengetik nomor Miku dan menekan tombol hijau.

"Halo, Miku?... Ah, ya, maaf mengganggu jam kerjamu... ada sesuatu yang ingin kubicarakan... aku berpapasan dengan Mikuo barusan... Apa terjadi sesuatu?"


=To Be Continued=