Chapter 1 : The Spoiled Boy
.
.
Tinggal satu atap bersama Oh Sehun jelas bukan sesuatu yang Jongin anggap menyenangkan.
Jongin merasa canggung karena ia tidak pernah tinggal satu atap dengan orang asing biasanya. Namun, berbeda dengan Jongin. Sehun tampak nyaman-nyaman saja tinggal bersamanya. Malah, mungkin Sehun merasa terlalu nyaman. Jongin mengerutkan keningnya setiap mendapati Sehun sedang membajak televisinya.
"Aku mau nonton HBO!"
"Tapi, aku sedang menonton FOX, Bocah!"
Lihat, Sehun malah terlihat lebih galak darinya. Padahal, televisi dan parabola itu milik Jongin! Dengan wajah jengkel, Jongin berjalan masuk ke dalam kamarnya dan sengaja membanting pintu sekeras mungkin. Ia berharap Sehun akan sadar dan kemudian, meminta maaf padanya. Namun, setelah beberapa menit menunggu di dalam kamar. Sehun tidak kunjung masuk ke dalam kamarnya.
"FUCK YOU, OH SEHUN!" teriak Jongin.
"FUCK YOU BACK, KIM JONGIN!" balas Sehun, ikutan berteriak.
WHAT THE FUCK?! Jongin tidak tahan lagi! Dua hari tinggal bersama Sehun nyaris membuatnya gila.
Jongin menyalakan komputernya berniat untuk menenangkan dirinya dengan memainkan salah satu game horor favoritnya – Slenderman. Tiba-tiba saja, ponselnya yang berada di atas berdering menandakan ada seseorang yang menelponnya. Jongin meraih ponsel tersebut dengan malas lalu menerima panggilan telpon.
"Halo?"
"Jongin-ah, apa kabar?"
"Umm, ini siapa ya?" Jongin menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar untuk melihat nomor orang yang menelponnya itu. Unknown number. Pria yang menelponnya ini menggunakan private number. Jongin kembali mendekatkan ponsel pada telinganya dengan tangan gemetar.
"Halo? Halo? Kau masih ada di sana?"
"Ya."
"Good. I just want you to know that I miss you, baby."
"Hah?" Jongin tidak tahu harus membalas apa. Ia tidak mungkin membalas 'what the fuck, dude' atau mengutuki pria itu dengan berbagai macam kata kotor. Bisa saja, pria ini adalah wartawan iseng yang sengaja ingin mencari-cari berita buruk tentang dirinya.
Namun, jujur saja Jongin mengenali suara pria ini.
"Someday, we will meet again. See you, Jonginie."
Lalu, sambungan telpon terputus. Dengan gelisah, Jongin berjalan keluar dari kamarnya menghampiri Sehun yang sedang asyik menonton CSI. Sejenak, mata Jongin terpaku memperhatikan Sehun yang tampak hanyut ke dalam serial tersebut. Apa sebegitu sukanya pria es batu itu dengan serial detekif atau pembunuhan?
"Sehun." Jongin memanggilnya dengan sedikit ragu. Sehun segera menoleh ke arahnya dan mendapati ekspresi lain diwajah Jongin. Kening Sehun mengerut. Something's wrong.
Pria itu langsung bangkit berdiri dan mendekati Jongin. Tanpa perlu Jongin menjelaskannya, Sehun tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu bocah itu. "Ada apa, Jongin? Cepat beritahu aku." Sehun tidak bermaksud memerintahnya. Ia hanya terbawa emosi karena apapun yang terjadi kepada Jongin akan menjadi tanggungjawabnya.
"Seseorang menelponku barusan dengan private number. Dia mengatakan hal-hal yang aneh, Sehun. Dia seolah mengenalku dan bilang kalau dia merindukanku. Tapi, dia tidak memberitahu siapa dirinya." Jelas Jongin, jelas sekali kalau pemuda itu terlihat takut akan situasi yang dihadapinya.
Sehun menarik nafas panjang. "Mungkin, itu hanya telpon iseng."
"Mana mungkin! Aku yakin telpon itu bukan sekedar telpon iseng. Kau harus memercayaiku, Sehun!" Seru Jongin. Pemuda itu berharap, kali ini saja, Sehun mau mendengarkannya dan kemudian, menyelidiki siapa penelpon misterius itu. Jongin tidak mau menerima panggilan kedua. Ataupun panggilan-panggilan lainnya.
"Kembali ke kamarmu. Kau hanya parno saja." Jawab Sehun dengan tenang.
Jawaban Sehun itu berhasil membuat Jongin mendengus keras. Perasaan yang dirasakannya terhadap pemuda itu bukan sekedar jengkel lagi. Melainkan, kebencian. Bisa tidak, sekali saja Sehun mendengarkannya dan tidak bertindak sesuka hati pemuda itu. Bukannya, ini adalah tugas Sehun untuk melindunginya. Tanpa berargumentasi, Jongin berbalik kembali menuju kamarnya.
Kali ini, ia tidak membanting pintu kamarnya. Namun, Sehun tahu kalau Jongin marah padanya. Well, that's good.
Sehun cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan menelpon seorang temannya yang juga bekerja sebagai shield (pelindung) keluarga Kim. "Halo? Jongdae. Ya, ini Sehun. Dengar, aku membutuhkanmu untuk meng-hack ponsel Jongin. Lalu, kau lacak panggilan terakhir dari private number sekitar lima menit yang lalu."
Beberapa detik, Sehun terdiam mendengarkan penjelasan Jongdae di sebrang sana. "Apa? Kau tidak bisa meng-hacknya? Biasanya kan, kau hanya membutuhkan nomor seseorang dan bisa langsung melacak panggilan terakhirnya. Apa? Kali ini, kasusnya berbeda? What the fuck, Jongdae! Jangan berbohong padaku. Aku yakin kau hanya malas saja untuk berpindah dari ranjangmu." Nada suara Sehun tidak terdengar seramah sebelumnya. Jongdae yang awalnya berniat bercanda langsung menyesali perbuatannya.
"Oke, oke, aku sudah tenang. Aku hanya tidak ingin bermain-main sekarang. Ini masalah serius. Keselamatan Jongin adalah prioritasku, Jongdae. Aku tidak ingin seseorang menyentuhnya atau bahkan melukainya." Sehun tidak tahu apa yang membuatnya dapat berkata-kata seperti itu. Ini adalah pertama kalinya ia merasa begitu takut jika seseorang melukai klien-nya. Biasanya, Sehun tidak seposesif ini.
Sehun menghela nafas panjang. Ia mengangguk pelan meskipun Jongdae tidak bisa melihatnya. "Ya, terima kasih, Jongdae. Aku tahu kalau aku bisa mengandalkanmu." Setelah itu, sambungan telpon terputus. Sehun membanting dirinya jatuh ke atas sofa. Matanya kembali terfokus ke layar televisi, namun pikirannya melayang entah kemana.
Seperti apa yang dikatakannya pada Jongdae barusan. Keselamatan Jongin adalah prioritasnya sekarang. Ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Jongin atau bahkan menyentuhnya. Sehun rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi Jongin – kliennya.
.
.
Beberapa jam berlalu, Jongin masih mengurung dirinya di dalam kamar. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sehun yang sudah mulai melelah menonton maraton serial favoritnya tiba-tiba merasa lapar. Ia memegang perutnya yang sedaritadi sudah berteriak-teriak minta diisi. Sehun melirik ke arah kamar Jongin. Ia yakin pemuda itu juga pasti kelaparan sekarang.
Dengan sedikit cemas, Sehun berjalan menghampiri kamar Jongin. Awalnya, ia mengetuk pintu dahulu sebanyak tiga kali. Namun, karena tidak ada jawaban dari dalam. Kecemasan Sehun semakin bertambah. Ia segera mencengkram kenop pintu dan untungnya Jongin tidak mengunci pintu kamarnya. Sehun langsung menerobos masuk ke dalam kamar Jongin.
Untungnya, ia masih menemukan Jongin di sana – tidur berbaring di atas ranjang kamarnya. Sehun menghela nafas lega lalu menutup pintu kamar. Ia mendekati Jongin lalu jongkok di sisi ranjang pemuda itu tepat di samping wajah Jongin. "Hei, bangun, ini sudah malam." Bisik Sehun. Namun, Jongin tidak bergeming sama sekali.
"Bangun, Jongin." Kali ini, Sehun tidak lagi menjaga volume suaranya. Ia sengaja membesarkan suaranya tepat di samping telinga Jongin. Perlahan-lahan, Jongin mulai mengedipkan matanya dan terbangun.
Saat kedua mata pemuda itu balas menapat Sehun. Sehun dapat menyimpulkan kalau Jongin adalah tipikal orang yang tidak suka jika tidurnya diganggu. "Kau boleh menghinaku, mengataiku atau tidak memercayaiku. Tapi, jangan pernah.." Nada suara Jongin tidak terdengar main-main. Sehun menelan ludahnya, entah mengapa mulai merasa ngeri melihat pemuda yang seperti kerasukan roh jahat ini. "sekalipun membangunkanku kalau aku sedang tidur!" Bentak Jongin.
Sehun hanya nyengir, bingung ingin membalas apa. "Tapi, ini sudah malam. Apa kau tidak kelaparan?"
Sebelum sempat Jongin berbohong, perutnya sudah berkata jujur terlebih dahulu. Suara perut Jongin berhasil memecah ketegangan di antara mereka berdua serta mengundang derai tawa dari Sehun. Pria es batu itu tergelak membuat Jongin merasa semakin jengkel kepadanya. "Kau ingin kutendang ke pluto atau kukubur sampai ke pusat bumi?!"
"Bagaimana kalau kita makan saja ke Pizza Domino?" Ajakan tiba-tiba Sehun itu membuat Jongin tertegun sejenak. Sehun serius mengajaknya makan di luar berduaan? Entah mengapa, Jongin merasa canggung setiap membayangkan dirinya dan Sehun duduk bersama di salah satu restoran ditemani oleh lilin-lilin romantis-
"Jangan berkhayal yang aneh-aneh, Bocah!" Seru Sehun. Pria itu berhasil menghancurkan segala macam imajinasi romantis yang mulai tersusun di dalam pikiran Jongin. Jongin memutar matanya berpura-pura kalau tuduhan Sehun itu jelas tidak benar.
Namun, sayangnya Oh Sehun dapat mencium kebohongannya dengan mudah.
"Aku mulai meragukan orientasi seksualmu, Jongin. Apa sebegitu tertariknya dirimu denganku?" Jongin tahu kalau Sehun hanya bermain-main dengannya. Pria itu pasti tidak serius menyerangnya dengan pertanyaan seperti itu. Namun, itu bukan berarti Jongin tidak merasa tersinggung oleh pertanyaan bodohnya.
"Aku straight! Kau tidak pernah melihat foto-foto skandalku? Apa itu tidak membuktikan sesuatu, huh?"
"Hehehe. Aku hanya bercanda denganmu, Bocah." Sehun kembali tergelak. Pria itu menertawai Jongin seolah Jongin adalah hiburan terbaiknya. Jongin menatapnya dengan jengkel merasa semakin gerah setiap Sehun menyebutnya bocah.
What the- usia Jongin nyaris menginjak 22 tahun beberapa bulan lagi. Bocah bukan lagi sebutan yang pantas baginya lagi. Ia adalah seorang pria dewasa yang seharusnya tidak membutuhkan perlindungan dari orang lain.
"Berhenti memanggilku bocah! Aku yakin usia kita tidak terpaut terlalu jauh."
"Siapa bilang? Tahun ini usiaku akan menginjak 28 tahun."
Jongin terdiam dengan mulut menganga, sama sekali tidak siap akan jawaban Sehun itu. Tidak mungkin usia Sehun 28 tahun! Bagaimana bisa seseorang yang usianya nyaris menginjak tiga puluh tahun memiliki wajah seusia Jongin? Well, fuck it. Dunia memang terkadang tidak adil.
Dengan lengkungan bibir tertarik ke atas dan tatapan seduktif yang dipaksa, Sehun berkata. "Aku tahu kalau aku tampan. Aku tahu kalau aku ini baby-face." Lalu, ahjussi setengah setan itu terbahak keras membuat Jongin ingin menampar wajahnya dengan bantal.
"Terserah. Intinya, sekarang aku lapar sekarang!" Rajuk Jongin sambil memanyunkan bibirnya.
"Kalau begitu cepat ganti bajumu, Princess. Setelah itu, kita ke McDonald."
"Berhenti memanggilku bocah, princess atau panggilan aneh lainnya!"
"Oke. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu baby."
Skak mat. Tiga bantal yang tadinya terbaring tenang di atas ranjang langsung melayang tepat mengenai wajah Sehun. Karena serangan Jongin yang tiba-tiba, tiga bantal itu berhasil membuat Sehun jatuh ke belakang. Jongin bersorak menang di atas ranjangnya. Sementara, Sehun merintih kesakitan mengusap-usap belakang kepalanya.
Fuck. Sehun menyesal karena telah meremehkan Jongin. Ia harusnya sadar kalau Kim Jongin bisa menjadi evil jika ia sudah menekan kesabaran bocah itu terlalu jauh. Jongin yang masih menertawai Sehun di atas ranjang sambil menunjuk-nunjuk Sehun dengan wajah puas, sama sekali tidak menyangka kalau Sehun akan menarik tangannya dan membuat dirinya terjatuh ke atas Sehun.
Karena latihan rutin bertahun-tahun, Sehun memiliki reflek yang bagus. Ia segera menahan berat tubuh Jongin dengan mengangkat kedua sisi pinggang Jongin. Sementara, tangan Jongin berada di antara bahu Sehun untuk menyangga dirinya sendiri. Keempat mata mereka saling bertemu mengubah situasi menjadi lebih... menegangkan, bagi Jongin.
Jongin berusaha untuk bangun, namun kedua tangan Sehun yang berada di pinggangnya menahan dirinya. Jongin ingin membuka mulutnya untuk memaki Sehun atau meminta bajingan itu melepaskannya. Namun, kedua belah mata Sehun yang tidak beralih sedikit pun darinya membuat ia membeku.
Jongin tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan siapapun – mau itu pria, wanita maupun keluarganya sendiri. Ini adalah pertama kalinya Jongin dapat memperhatikan lekuk wajah seseorang secara dekat. Sehun memiliki garis rahang dan hidung yang tegas, bibirnya cukup tebal, lalu matanya.. itu adalah bagian yang membuat Jongin terpaku padanya.
"Aku lapar. Ayo kita ke McDonald." Ujar Sehun kembali merusak suasana di antara mereka berdua. Jongin sengaja menghela nafas di depan wajah Sehun, tidak perduli jika nafasnya bau atau tidak. "Goddamn it, Jongin! Nafasmu bau sekali." Seenaknya saja, Sehun mendorong dirinya lalu berjalan keluar dari kamar Jongin sambil menutup mulut dan hidungnya.
Saat suara pintu tertutup terdengar, entah mengapa Jongin langsung berguling-guling di lantai kamarnya. Fuck, fuck, fuck! Kenapa jantungnya berdetak secepat ini? Apa ini tanda-tanda kalau Sehun sedang mencoba membunuhnya secara perlahan? Ah, ya! Pasti itu! Sehun menggunakan trik kotornya untuk membuat Jongin mati muda karena serangan jantung!
Jongin berhenti menggulingkan dirinya ke kiri dan kanan. Ia tidur telentang menghadap ke langit-langit kamarnya. Dia mendekatkan telapak tangannya ke depan mulutnya lalu menghembuskan nafasnya. Hm, nafasnya normal-normal saja. Siapa bilang nafasnya bau? Apa Sehun hanya berusaha mencairkan suasana di antara mereka berdua? Atau.. mungkin Sehun sedang flu? Pasti, Sehun sedang flu!
Lagi-lagi, Jongin menyimpulkan jawaban yang melenceng dari kenyataan.
.
.
Perjalanan dari apartemen Jongin menuju McDonald terdekat tidak memakan waktu lebih dari setengah jam. Selama perjalanan, Jongin tidak berhenti mengganggu Sehun dengan menyanyikan berbagai macam lagu yang diputar oleh salah satu stasiun radio. Sehun nyaris menabrakkan mobil ke pohon karena suara Jongin yang bahkan tidak bisa terdefinisi saking buruknya.
Sesampainya mereka di McDonald, Jongin langsung melangkah riang menuju tempat pemesanan. Sementara, Sehun hanya mengikutinya dari belakang merasa kelelahan karena tingkah menyebalkan bocah yang berdiri di depannya ini.
"Aku mau pesan double cheese burger, french fries, dan yang pasti fried chicken! Umm, dua fried chicken! Dan, umm, french fries-nya tambah satu lagi!" Sehun pikir Jongin sedang memesankannya juga. Namun, saat pemuda itu berbalik menatapnya dan berkata, "Kau mau pesan apa?" Sehun tidak bisa menahan mulutnya yang kemudian terbuka lebar, begitupun dengan pelayan McDonald yang sedang melayani mereka berdua.
What the fuck! "Umm, aku.. coca cola saja." Jawab Sehun. Mendadak, ia tidak merasa lapar lagi.
Jongin menatapnya tidak percaya. "Kau serius?"
"Serius, Jongin. Aku bukan tipikal pemakan rakus sepertimu." Jawab Sehun sambil mengedipkan matanya pada Jongin. Jongin memutar matanya lalu beralih pada pelayan itu.
Setelah membayar pesanan makanannya dan juga Sehun. ("Aku saja yang bayar! Kau kan bekerja padaku jadi aku yang bayar!" Jongin ngotot dan Sehun yang tidak mau mencari malas dengannya hanya pasrah, membiarkan Jongin membayar coca cola-nya). Mereka menyingkir sebentar ke pojok counter menunggu pesanan mereka berdua. Kira-kira kurang dari lima menit, pesanan Jongin dan coca cola Sehun sudah siap untuk dibawa ke meja terdekat.
Suasana restoran kala itu tidak begitu ramai dan cenderung sepi. Mungkin karena hari ini termasuk hari biasa dan waktu sudah menunjukkan nyaris pukul sepuluh malam. Jongin memilih sembarang tempat dan berakhir menduduki kursi yang berada di tengah restoran. Sehun mengikutinya dari belakang dan kemudian, duduk di sebrang pemuda itu.
Sementara Jongin sibuk melahap ketiga jenis makanannya, Sehun hanya terdiam memperhatikan Jongin sambil menyedot coca cola-nya. Merasa diperhatikan, Jongin mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan Sehun. "Apa?!" Tanya pemuda itu, tidak bermaksud untuk membentak.
Sehun menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tertahan. Jongin menatapnya beberapa saat, sebelum kembali menyantap makanannya. Sehun mendengus tidak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi. Ia tidak menyangka kalau menjadi bodyguard seorangbocah chaebol seperti Kim Jongin cukup menghiburnya.
"Kim Jongin."
Dengan mulut penuh ayam serta kentang goreng, Jongin menyahut. "Apa?"
Sehun menopang satu dagunya dengan pandangan tertuju lurus pada Jongin. Jongin yang entah mengapa mulai merasa gugup perlahan-lahan menelan seluruh isi mulutnya dengan susah payah. Apa Sehun kembali bermain-main dengannya? Apa pria itu berusaha membuat dirinya mati muda karena serangan jantung?
"Aku hanya ingin kau tahu kalau aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka. Kau adalah tanggungjawabku sejak aku menerima tawaran untuk menjadi bodyguard-mu. Apapun yang terjadi padamu, siapapun yang berusaha menyakitimu, akan kuhabisi dengan tanganku sendiri."
Jongin hanya melongo tidak tahu harus bereaksi apa. Apa yang Sehun katakan barusan terdengar seperti skenario film romance-action, dimana pemeran utama pria sedang berusaha melindungi pemeran utama wanita. Tunggu, kalau begitu.. Jongin adalah pemeran utama wanita? What the hell? No fucking way!
"Pegang janjiku itu!" Lalu, Sehun menepuk pipinya membuat Jongin nyaris menyemburkan sisa-sisa makanan yang masih berusaha dilunakkannya di dalam mulut.
That's it. Pria pedo ini memang sedang berusaha membunuhnya secara perlahan.
.
.
Rin's note :
HI GUYSS! THANKS FOR THE SUPPORT ^^ I'm back with a new chapter and tbh, aku bingung mau nulis apa di author's note kali ini..
Palingan aku mau minta saran kalian aja soal.. siapa yang cocok jadi karakter antagonis or villian di fanfic ini? kalau bisa yang anti-mainstream hehe
