Classic Ballad

A Sengoku Basara Fanfiction

Rate: T

Genres: General & Romance

Pairing: Keiji x Hanbei

Language: Bahasa Indonesia


Chapter 2

Mitsunari yang sedang duduk santai menikmati pertunjukkan musik tiba-tiba melirik ke arah kakaknya yang sedang terdiam bengong tanpa mengedipkan matanya sedetik pun.

"Kakak?" Mitsunari melambaikan tangannya di depan wajah kakaknya. Hanbei yang tersadar dari alam mimpinya langsung terbangun.

"Eh—apa—Mitsunari—hah?" Ucapan Hanbei menjadi kacau dan dengan segera Mitsunari langsung menenangkan kakaknya.

"Kak, show Ieyasu dan kawan-kawannya sudah selesai. Ayo, kuperkenalkan pada mereka," Mitsunari melambaikan tangannya ke arah teman-temannya lalu seseorang yang diperkenalkan bernama Ieyasu langsung melambainya balik.

"Mitsunari!" sahut Ieyasu sambil menghampiri Mitsunari diikuti teman-temannya.

"Semuanya, perkenalkan, ini kakakku, Hanbei Takenaka," Mitsunari memperkenalkan Hanbei pada Ieyasu dan lainnya.

"Namaku Hanbei Takenaka. Salam kenal," sapa Hanbei sambil menundukkan kepalanya.

"Salam kenal, kak Hanbei~ Namaku Itsuki, lalu yang disebelahku ini Ranmaru, lalu ini kak Masamune, dan ini kak Motochika, lalu ini kak Kojuuro, dan yang dibelakangku adalah kak Keiji~" Itsuki segera memperkenalkan rekan-rekannya pada Hanbei tanpa bernafas terlebih dahulu.

"I—itsuki, nafas dulu," ujar Ranmaru sambil menepuk pundak Itsuki. Mitsunari segera mempersilahkan Ieyasu dan teman-temannya untuk duduk bersama di meja mereka.

"Apa profesimu, Hanbei?" tanya Motochika.

"Aku seorang novelis dibawah pen name H.T," jawab Hanbei.

"H—H.T.? Tu—tunggu sebentar—AKU BENAR-BENAR BERTEMU DENGAN SEORANG NOVELIS TERKENAL! KYAA! KAK HANBEI, AKU SENANG DENGAN NOVEL-NOVELMU! TERUTAMA LE CAFE!" Itsuki yang bahagia mendengarnya langsung memeluk Hanbei dengan erat. Begitulah, sikap seorang fan ketika bertemu dengan idolanya.

"Terima kasih, Itsuki," Hanbei menepuk kepalanya lembut. Itsuki yang masih melayang ke dalam 'surganya' mulai terhuyung kembali ke tempat duduknya dan segera terjatuh, "Idolaku~" Ranmaru yang melihatnya hanya bisa menepuk jidatnya pelan dan menghela nafas.

"A novelist, huh? Cerita mengenai apa? Gay kah?" tanya Masamune sambil tertawa. Hanbei yang mendengarnya langsung memerah, "Bu—bukan. Semuanya mengenai klasik. Sekarang sedang membuat novel baru, dan te—tentu saja temanya adalah klasik, namun kuberi sedikit bumbu romansa karena aku menargetkan pembaca remaja wanita,"

"Maafkan Masamune atas pertanyaannya, karena dia gay, makanya menanyakan pertanyaan aneh," seru Kojuuro.

("Eh? Apa? Dia gay? Berani sekali...") pikir Hanbei terkejut setelah mendengar ucapan Kojuuro, namun Hanbei segera menggelengkan kepalanya dan mulai bertanya, "Kalian melakukan show seperti ini kapan saja?"

"Biasanya akhir minggu. Mungkin karena pengunjung yang datang lumayan banyak juga," jawab Ieyasu, "Dan kalau bingung mengapa kami semua bisa berkumpul seperti ini, itu semua berawal dari dua anak SMA ini, Itsuki dan Ranmaru, pertama kali kami melihat mereka ketika melakukan pertunjukkan musik jalan di pinggir jembatan London, lalu—"

"Kak Keiji! Bukan itu cara mengeluarkan baterai ponsel dengan benar!" protes Ranmaru kepada Keiji yang sedang berusaha mengeluarkan baterai ponselnya.

"Kalau rusak, pasti bisa dibetulkan di toko service ponsel, kan?" Keiji membalasnya dengan kesal. Terlihat Keiji berusaha mengorek baterai ponsel miliknya yang tersangkut di dalam. Ranmaru yang turut kesal pun menjambak rambut Keiji dan Keiji segera membalasnya dengan menjambak rambut Ranmaru. Ieyasu yang dekat arahnya dengan mereka berusaha menenangkan kedua rekannya tersebut. Dari kejauhan, Hanbei yang melihat kejadian itu hanya tertawa.

("Lucu sekali mereka ini,")


Eve Library, 19 Desember 2005, 10:00 AM,

(Hanbei's POV)

Ugh, kepalaku pusing sekali. Dan jam tiga pagi tadi editorku sudah menelepon. Menyebalkan. Seluruh ideku terhapus sudah. Segeralah aku ke perpustakaan, untuk mencari inspirasi. Kugerakkan kakiku dan memberi komando para mereka untuk terus bergerak. Kupasang dua earphones milikku dan menyetel lagu "Bach – Little Fugue in G Minor". Jarang sekali orang-orang menyukai lagu yang hanya dimainkan secara instumental. Namun, jujur saja, aku menyukainya. Kuteliti isi ruangan yang kumasuki. Aku mengangkat wajahku dan melhat papan yang terletak tepat diatasku dan bertuliskan "Classic novel and poetry", mataku berbinar-binar melihat tulisan itu dan melangkah kedalamnya dengan gembira. Aku mulai mencari beberapa novel yang akan menjadi referensi bagian novelku. Setelah dua puluh lima menit, aku berhasil menemukan beberapa buku bagus karya Edgar Allan Poe, Pablo Neruda, Langston Hughes, bahkan William Shakespeare. Sayangnya usahaku belum selesai. Aku harus menemukan buku mengenai kisah perjuangan Jeanne D'Arc. Kisah mengenai seorang pejuang wanita asal Perancis yang akhirnya dihukum mati dengan cara dibakar oleh penduduk dan hakim Inggris karena diduga telah membawa ajaran sesat. Namun, setelah dua puluh empat tahun, diketahui kembali bahwa Jeanne D'Arc sama sekali tidak bersalah. Dasar pemerintah dan politik yang kasar! Kugembungkan pipi kananku dengan kesal mengingat kembali kisah Jeanne D'Arc. Setelah mencari dari satu rak ke rak lainnya, akhirnya kutemukan juga buku itu! Aku segera mengulurkan tanganku untuk meraihnya. Namun, bukan buku itu yang kuraih, melainkan tangan seseorang.

"Ke—keiji?" panggilku terkejut.

"Hanbei Takenaka?" panggilnya kembali dengan ekspresi terkejut yang sama denganku.

"Ma—maaf! Kau ingin meminjamnya juga? Silahkan ambil," kuturunkan tanganku dan mempersilahkan Keiji untuk mengambil bukunya. Kurasakan panas di wajahku mulai naik. Astaga, aku malu sekali.

"Tidak perlu," Keiji segera mengambil buku itu lalu memberikannya kepadaku,"Kau lebih membutuhkan ini. Lagipula, kau ini novelis, bukan?" ujarnya tertawa.

"Te—terima kasih," kuterima buku itu dengan gugup. Aku tidak pernah merasa segugup ini di depan orang yang baru kukenal. Apa yang terjadi?

"Mau jalan denganku? Mungkin kita bisa membeli kopi atau semacamnya," ajaknya kepadaku. Aku segera mengangkat wajahku dan menatap matanya.

"Bo—boleh saja..." jawabku malu.

(POV ends)


Setelah menyelesaikan urusan di perpustakaan, Keiji dan Hanbei segera bergegas menuju sebuah kafe di pinggiran jalan yang berlokasi tidak jauh dari perpustakaan tadi. Keiji dan Hanbei segera duduk dan memesan minuman. Pelayan yang menerima pesanan mereka mengangguk dan pergi untuk mempersiapkan pesanan mereka. Keiji segera mengeluarkan beberapa kertas bertuliskan not lagu dan mulai menulis sementara Hanbei mengeluarkan laptopnya dan segera mengetik. Terlihat oleh Keiji, pemuda yang berada di depannya terlihat serius dengan ceritanya namun tetap santai berkat earphones yang dipasangnya untuk mendengarkan lagu.

"Jadi, cerita klasik dan bumbu romansa, eh?" tanya Keiji.

"Iya, begitulah," jawab Hanbei sambil terus mengetik tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop kesayangannya. Keiji terdiam dan kemudian menutup layar laptop Hanbei.

"Hei!" seru Hanbei terkejut melihat apa yang Keiji lakukan. Keiji menghela nafas dan berkata, "Jangan kebanyakan ngetik. Istirahat saja dulu. Nanti matamu rusak,"

"Aku sedang dikejar deadline. Lagipula, aku sudah sarapan dan mendapat cukup istirahat," ujar Hanbei sambil membetulkan kacamatanya. Keiji kembali diam lalu membuka layar laptop Hanbei.

"Terima kasih untuk tidak menganggu pekerjaanku," jelas Hanbei sambil tersenyum pada Keiji. Keiji kembali menulis lagu dan membiarkan Hanbei menyelesaikan pekerjaannya. Untuk sesaat, Keiji bisa mendengar dentuman bass dari earphones Hanbei. Keiji mengenal lagu yang Hanbei dengar.

"Little Fugue in G Minor oleh Bach?" seru Keiji.

"Kau bisa menebaknya?" tanya Hanbei yang masih mengetik.

"Begitulah, aku sering memainkan kasetnya setiap hari Rabu," mendengar ucapan itu, Hanbei menutup layar laptopnya dan melepas kedua earphones miliknya.

"Kau bercanda?"

"Kedua orang tuaku penggemar lagu-lagu klasik. Begitu juga dengan novelnya,"

"Symphony No. 9 in E minor From the New World?"

"Oleh Dvorak,"

"Revolutionary Etude?"

"Oleh Chopin,"

"Symphony No. 5 in C minor Fate 3rd Movement?"

"Oleh Beethoven," kedua mata Hanbei terlihat bercahaya. Dirinya terkagum oleh Keiji yang terus menjawab pertanyaannya dengan benar.

"Night Nurse? Stalker? Sinner on the Dancefloor? Pyromania?" Keiji tertawa mendengar pertanyaan dari Hanbei kali ini, "Kau suka sesuatu yang memiliki beat juga, eh? Tentu saja lagu-lagu itu dinyanyikan oleh Cascada,"

"Aku tidak percaya kau tahu semua itu," Hanbei ikut tertawa, "Kurasa kita memang ditakdirkan untuk bertemu," mendengar ucapan tersebut, Keiji pun terdiam dan wajahnya terlihat sedikit memerah. Hanbei menatapnya dengan bingung. Setelah beberapa detik hening, pelayan yang tadi menerima pesanan mereka pun datang sambil membawa pesanan milik mereka berdua dan menaruh pesanan mereka diatas meja, "Pesanan anda, tuan-tuan,"

"Terima kasih," ucap Hanbei sambil memberikan tip kepada pelayan tersebut dan pelayan itu pergi menjauh dari meja mereka. Hanbei segera meraih kopi pesanannya lalu meminumnya diikuti Keiji melakukan hal sama.

"Proyekmu sekarang sudah dapat judul?" tanya Keiji sambil memainkan gelas kopi miliknya.

"Belum sama sekali. Aku sendiri tidak tahu ingin memberi judul apa," jawab Hanbei.

"Apa referensimu sudah cukup?"

"Sebenarnya belum. Aku masih membutuhkan beberapa referensi lain. Dan untuk chapter berikutnya, sudah harus kuberikan besok kepada editor,"

"Mau main ke rumahku? Aku masih menyimpan beberapa bacaan klasik. Mungkin itu bisa membantumu,"

"Apa boleh aku ke tempatmu sekarang?"

"Tentu saja,"


Swinton Street Apartment, Swinton Street King's Cross, 19 Desember 2005, 01:00 PM,

(Hanbei's POV)

Keiji ternyata tinggal di sebuah apartemen murah. Anggap saja dia seperti anak kosan. Tempat tinggalnya terasa nyaman sekali. Bisa kurasakan dari angin lembut di sekitar lingkungannya. Sayangnya, tempat tinggalnya cukup jauh dari tempat dia biasanya melakukan pertunjukkan di Starbucks tempat kami pertama kali bertemu. Tidak salah bila orang ini selalu terlihat capek. Bayangkan saja tiga jam untuk pergi ke lokasi dan tiga jam lagi untuk kembali ke rumah. Aku merasa kasihan ketika memikirkan hal itu, lalu Keiji mengetuk kepalaku pelan dengan tangannya yang mengepal dan aku kembali tersadar dari alam bawah sadarku.

"Kau tidak apa-apa, Takenaka?" tanyanya.

"Aku tidak apa-apa. Dan, panggil saja aku Hanbei," jawabku sambil mengelus kepalaku yang baru saja diketuknya.

"Baiklah, Hanbei," ucapnya. Mendengar namaku diucap olehnya, wajahku kembali menjadi panas. Oh, Tuhan, apa yang terjadi padaku?

"Ma—maaf, tapi—" seruku tiba-tiba, "Apa aku boleh memanggilmu Keiji-kun? A—aku terkadang bersikap formal kepada orang-orang, makanya—" ucapanku menjadi terbata-bata saking memanasnya wajahku. Panas dan merah, bagaikan tomat yang berhasil terlempar dan mengenai wajahku.

"Boleh saja," jawabnya sambil tersenyum. Terlihat gigi-gigi putih berseri muncul dibalik senyumnya. Aku lega mendengar jawabnya dan kurasakan panas wajahku semakin tinggi. Oh, Tuhan, siapa sebenarnya orang ini? Kenapa aku menjadi berdebar seperti ini ketika melihatnya! Kuletakkan tanganku tepat didepan dada kananku. Kurasakan detak jantungku berdebar dengan cepat. Apa yang dia lakukan kepadaku? Kenapa aku menjadi seperti ini!

"Ayo, kita masuk," Keiji segera mengeluarkan kunci pintu apartemennya dan segera membuka pintu tersebut. Aku mulai melihat isi kamar apartemennya, dan aku terpana melihat isi kamarnya. Aku melangkah masuk ke dalam diikuti si pemilik kamar. Terlihat rak berisi bacaan klasik ditata rapi dan bersih. Dibelakangnya adalah ruangan kecil yang berupa seperti sebuah studio kecil. Terlihat di tengah ruangan sebuah piano klasik besar dengan beberapa kertas not lagu yang terletak diatasnya. Di sudut belakangnya terdapat rak yang berisi berbagai penghargaan. Orang ini hebat sekali. Lalu di sisi kanan, kamar tidur bercat ungu lavender segar yang membuat kamarnya terlihat nyaman.

"Wuah..kamar ini bagus sekali, Keiji-kun," seruku sambil terus menelurusi kamarnya. Kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang makan, seluruhnya ditata dengan rapi, "Aku tidak tahu kau bahkan punya studio sendiri,"

"Ibuku membelikan piano itu sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17, dan akhirnya ayahku mulai membangun studio ini begitu aku pindah ke sini," jelasnya padaku. Mataku berbinar-binar melihat kamarnya. Benar-benar rapi. Dan sekejap, aku mengingat kondisi kamarku. Berantakan, lantai penuh dengan berbagai referensi klasik yang berserakan. Ah, malunya diriku kembali mengingat kamarku.

(POV ends)

"Hanbei, hanbei?" panggil Keiji berkali-kali.

"H—ah—?" Hanbei kembali merespon.

"Mau minum sesuatu?" tawar Keiji.

"A—air putih saja," jawab Hanbei.

"Baiklah," Keiji segera pergi menuju dapur. Hanbei terdiam untuk beberapa saat lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Betapa malu dirinya terdiam saat orang sedang memanggilnya. Ah, penyakit ini harus dimusnahkan, pikir Hanbei.

RRRRRRR

Ponsel milik Hanbei bergetar. Hanbei segera mengambilnya dari saku dan melihat nama penelepon tersebut. Matanya terbuka lebar saat ia membaca nama penelepon itu.

"Ka—kasuga?"


To be continued.

Author's note: Gyahahaha! Maaf, minna! Saya baru update ini sekarang! Gomen, gomen! *mohon ampun*Silahkan menikmati ceritanya! Dan sekali lagi, maafkan saya! *bungkuk maaf*

Lovely but stressful author, Kichikuri61