Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto
Status : On going
Length : Multichap
Author : Haru P B feat Muthiamomogi
Warning(s) : BoysLove, AlternativeUniverse, A lilttle bit Out Of Character. Don't like? Don't read!
Happy reading!
Setelah kejadian di ruang kesehatan itu, tak ada yang berubah. Semua tetap sama. Naruto tetap bersikap biasa, Sasuke tetap saja diam mengacuhkan Naruto. Dan Naruto juga tak perlu beramah-tamah pada Sasuke. Namun sepertinya, ada salah satu di antara mereka yang tidak kerasan dengan keadaan seperti ini.
Lorong sekolah terlihat ramai karena bel pergantian jam telah berbunyi beberapa waktu lalu, membuat beberapa kelas berpindah. Entah ke ruangan multimedia, laboratorium sains, laboratorium bahasa, lapangan olahraga, atau ke ruangan-ruangan lainnya. Sebenarnya Konoha High School tidak menerapkan moving class system. Namun, mungkin karena kebutuhan pembelajaran, para guru sering menggunakan laboratorium untuk kegiatan belajar-mengajar.
Naruto menghampiri loker miliknya yang bernomor 1023, bersiap mengganti seragamnya dengan seragam olahraga khas Konoha High School untuk pelajaran olahraga beberapa saat lagi. Guru olahraga yang membimbing kelasnya memberikan waktu lebih kurang limabelas menit untuk berganti baju.
Naruto berdiri di depan lokernya, ia merogoh sesuatu di saku celananya dan menemukan benda yang dicarinya; kunci. Ia memasukkan ujung dari kunci bergerigi itu ke tempatnya dan memutarnya sedikit, segeralah lokernya terbuka. Melihat keadaan lokernya sekarang membuatnya menghela napas panjang.
'What the—' Naruto cemberut ketika tak menemukan baju olahraga di lokernya. Ia mengacak sembarang buku-bukunya untuk mencari seragam olahraga miliknya. Ia yakin seragam olahraganya tidak hilang, baru saja kemarin ia melihatnya di loker ini.
"Apa aku salah loker ya?" Naruto melirik ke loker di sebelahnya. Dan nomor loker di sebelahnya adalah nomor 1024. Sadar akan sesuatu, ia mengacak rambut pirangnya dengan frustasi, "bodoh. Kalau memang salah loker, harusnya kunci lokerku tak berfungsi di loker ini."
Ia kembali mencari hingga ke dasar loker, dan akhirnya ketemu. Seragamnya ada di dasar loker karena tertimbun buku-buku yang tak beraturan itu. Segera ia berusaha mengambilnya.
"Dobe." Cemooh sebuah suara di belakangnya. Dan Naruto mengetahui pemilik suara itu. Siapa lagi yang memanggilnya seperti itu selain si pemuda yang berlaga keren itu?
"Jangan menarik-narik seragammu itu, Idiot. Itu membuat seragammu tak akan bertahan lama." Dari nada suaranya, terdengar meremehkan. Dan apakah Naruto peduli? Dalam mimpimu. Ia terus menarik-narik seragamnya agar ke luar dari tumpukkan buku-buku miliknya itu.
"Sudah bodoh, keras kepala juga." Sasuke lama-lama merasa kesal karena ucapannya seperti tidak diacuhkan oleh remaja blonde yang membelakanginya ini. "Minggir, Idiot, kau harus memindahkan atau mengangkat buku-buku itu terlebih dahulu."
Alis Naruto berkedut kesal mendengar rentetan ucapan Sasuke. Kemarin-kemarin Naruto tidak diacuhkan habis-habisan oleh pemuda raven ini, dan sekarang mengapa menjadi sok akrab begini?
"Teme! Urus urusanmu sen—" ucapan Naruto terhenti secara refleks karena Sasuke menggeser badannya sedikit menjauhi lokernya. Dan yang membuat Naruto terkaget adalah Sasuke membantunya untuk membuat seragamnya ke luar dari loker itu. Mohon digarisbawahi kata 'membantunya' itu. Seorang Uchiha peduli pada urusan orang lain? Apa ini adalah alam bawah sadar Naruto? Atau memang kenyataan yang begitu sulit diterima nalar? Mungkin lebih masuk akal adalah yang terakhir itu.
"Lebih baik kau buang sampah-sampah itu—" Sasuke menunjuk beberapa bungkusan bekas makanan yang bersarang di loker Naruto, "—Dobe." Sasuke melempar seragam itu ke wajah Naruto. Lalu berbalik meninggalkan Naruto setelah sebelumnya melukiskan sebuah seringai di wajahnya.
'Teme.' Naruto hanya menutupi wajahnya dengan seragam itu dan berjalan menuju ruang ganti khusus pria. Sesekali menabrak siswa-siswi lain yang melintas. 'Kuso Teme.'
.
.
Sasuke memperhatikan Naruto dari ujung matanya, terlihat olehnya Naruto sedang bermain sepak bola di lapangan tengah dengan Inuzuka Kiba, seorang remaja berambut cokelat dengan tanda segitiga merah terbalik di kedua sisi wajahnya, dan beberapa teman Naruto yang lainnya. Sasuke mengakui dalam hati bahwa teknik dan permainan Naruto dan kawan-kawan memang cukup baik. Terlihat dari strategi penyerangan yang dibaca oleh Sasuke ketika melihat pola permainan mereka.
Merasa panas begitu menyengat kulitnya, segera ia mengusap peluh yang mulai mengucur dari pelipisnya.
"Hei, Sasuke," panggil seseorang di arah serong kanannya. Ia melihat seorang remaja berhelai perak keabuan sedang tersenyum padanya, menampilkan gigi-gigi runcingnya yang terlihat tajam itu. "Ayo bermain bola basket bersamaku dan Juugo," ajak remaja berhelai perak itu. Ia melirik sekilas pada temannya yang lain.
Merasa tak ada kegiatan lain, Sasuke menyetujuinya. "Hn," ia menjawab ajakan itu sembari beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Suigetsu, si remaja berhelai keperakan itu.
Akhir-akhir ini ia memang sering bermain dengan Juugo, Suigetsu, dan Karin. Ya, mungkin lebih tepatnya sejak insiden foto yang sekarang sepertinya mulai mereda. Namun tetap saja masih ada yang terkikik ketika melihat ia bersama Naruto, seperti kejadian di loker tadi. Jujur saja, Sasuke masih merasa risih dan tak nyaman dengan semua itu.
Sebenarnya ia mengetahui perasaan Naruto saat ia mulai menghindar dari remaja blonde itu. Ia tahu bahwa Naruto kesal dengan perubahan sikapnya yang acuh beberapa waktu lalu. Rasanya rindu juga bertengkar dan beradu mulut dengan si idiot itu. Dan kemarin ia berpikir, mungkin sudah saatnya kembali seperti sebelum-sebelumnya. Untuk itu, tadi pagi ia mencoba untuk bersikap dan bertingkah seperti biasa. Dan sepertinya, Naruto masih kesal padanya. Huh, apa pedulinya? Nanti juga akan kembali seperti semula.
Dan kenapa sejak tadi pikirannya hanya dipenuhi oleh Naruto, Naruto, dan Naruto? Oke, perasaan aneh ini muncul lagi. Sasuke terlalu fokus pada pemikirannya hingga tak menyadari bahwa bola basket yang ia dribble sudah berpindah ke tangan lawan.
"Sasuke, bolanya, bodoh!" Suigetsu hanya menggeram kesal melihat Sasuke yang tak fokus begitu. Sasuke juga terlihat sudah tak berminat untuk bermain. Ia lemparkan bola basket yang tadinya sempat ia rebut itu kembali ke dasar lapangan, membuat bola itu memantul ke atas dan kembali ke bawah, begitu seterusnya hingga akhirnya bola itu hanya menggelinding tak tentu arah.
.
.
Sasuke menjauh dari lapangan olahraga dan memilih menepi ke sebuah pohon rindang di pinggir lapangan setelah sebelumnya berjalan ke kantin untuk membeli sebotol air mineral untuk melepaskan dahaganya. Ia duduk bersandar pada pohon itu, mencari sisi paling baik untuk melihat Naruto bemain sepak bola. Oke, katakan ia bodoh karena merepotkan diri hanya untuk sesuatu yang berhubungan dengan Naruto. Namun bukan salahnya, sel saraf dalam tubuhnya yang mengendalikannya.
Tepat ketika ia mendudukkan diri, Naruto berhasil melesatkan bola kaki itu ke gawang lawan tanpa bisa dicegah oleh sang penjaga gawang. Membuat lengkingan suara Naruto terdengar di telinganya. Di sudut sana pasti ramai sekali dan Sasuke tak menyukai itu. Ah, rasanya sudah lama sekali ia tidak berbincang dengan Naruto, kecuali hanya bertengkar pagi ini. Dan tunggu sebentar, Sasuke, memangnya kau pernah berbincang dengan Naruto?
Sasuke mencoba melihat dalam jarak pandang lebih jauh dari tempatnya duduk. Ia merasa alisnya berkedut kesal melihat Shikamaru dengan seenaknya merangkul pundak Naruto karena berhasil menambah skor, diikuti dengan Kiba dan Sai yang secara bergantian mengacak helai pirang milik Naruto. Sasuke secara tak sadar meremas botol mineral yang ada di genggamannya sekarang. Perasaan ini datang lagi. Oke, tarik napas dan coba kendalikan amarahmu yang tak jelas sebabnya ini, Sasuke. Dan Sasuke terus menggumam seperti itu hingga amarahnya mereda.
.
.
Naruto mengusap peluh yang merembes ke luar dari pori-pori kulitnya. "Rasanya segar sekali berkeringat sehabis olahraga seperti ini. Dingin." Ia berujar sambil tersenyum lebar entah pada siapa. Ia menggelengkan kepalanya bertujuan untuk mengacak helai pirangnya. Yah, walaupun dadanya masih terasa terbakar karena habis berlari-lari di lapangan tadi. Namun sensasi ketika kulit kecokelatan tubuhnya yang berpeluh tergesek angin, rasanya dingin sekali.
Ia menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon di tepi lapangan, yang ia tak tahu bahwa pohon itu sebelumnya telah menjadi sandaran Sasuke. Ia meneguk air bersuhu cukup rendah dalam botol mineral yang digenggamnya sekarang ini. Baru setengah ia menegak nikmatnya air dingin itu, sebuah tangan dengan teganya mengambil botol itu dari tangannya.
Naruto mendongak untuk memberikan tatapan marah pada seseorang yang mengambil botol minum miliknya. Dan ia semakin marah saat melihat siapa orang yang telah mengambil botol minum itu dari tangannya.
"TEME! Kembalikan!" Kenapa sejak tadi seseorang yang bernama Uchiha Sasuke ini tak henti mengajaknya untuk bertengkar, hah?
"Dasar usuratonkanchi, sudah berapa kali kubilang jangan meminum air dingin ketika habis berolahraga?" Sasuke menatap Naruto dengan pandangan jengah. Naruto mengerjap beberapa kali. Dalam posisi menengadah seperti ini membuatnya sedikit pusing. Ditambah lagi dengan cahaya Matahari yang menembus melalui celah dedaunan.
"Aku haus, Teme," Naruto berujar sambil menghela napas. Sedang tak berniat untuk beradu mulut dengan Sasuke.
"Tsk," Sasuke mendesis kesal. "Ambil ini," Sasuke melemparkan sebuah botol mineral lain yang tak berembun pada permukaan botolnya. Sasuke meletakkan botol itu di pangkuan Naruto.
"Tidak mau. Pasti airnya tidak dingin." Naruto mengambil posisi bersidekap sambil terus bersandar pada pohon yang melindunginya dari cahaya Matahari yang menyengat itu.
"Dasar bodoh. Kau mempercepat kematianmu, Idiot." Sasuke berujar dengan nada kesal bercampur di dalamnya.
"Yang akan mati itu aku 'kan? Apa urusanmu?" Naruto berujar tak kalah kesal dan sebuah pertanyaan yang menusuk untuk Sasuke. Apa seorang rival akan memperhatikan lawannya seperti ia ini? Kenapa ia jadi sebodoh ini? Oh, pasti tertular dari remaja pirang ini.
"Cih, terserah kau saja." Sasuke berujar sambil menyandarkan sebelah bahunya pada pohon yang juga menjadi sandaran Naruto. Lama hening berselimut di sekitar mereka hingga sebuah suara datang.
"Eh, eh, Hinata-chan, coba lihat di bawah pohon itu," Sasuke mengedarkan pandangannya untuk mencari si pemilik suara yang merusak ketenangannya.
"A-ada apa, Tenten-chan?" jawab suara lain. Mungkin orang ini yang bernama Hinata.
"Ada pasangan kekasih yang lagi kasmaran di bawah pohon. Ah, mesranya mereka berdua." Gadis yang bernama Tenten itu menjawab. Sasuke refleks menduga bahwa ia dan Naruto yang menjadi bahan perbincangan.
Baiklah, ia sudah mencoba membiasakan diri dengan berbagai macam pandangan yang ditujukan padanya ketika gosip itu merebak. Tapi tetap saja ia masih belum bisa membiasakan diri. Ia melirik Naruto yang masih bersikap biasa-biasa saja. Si bodoh ini, ke mana perasaan malunya? Hilang ditelan Bumi?
"E—eh, sepertinya si Pangeran Es yang beku itu tak nyaman jika kita memperhatikannya terus, Hinata-chan," gadis bercepol dua itu terkikik ketika melihat Sasuke yang hendak beranjak pergi dari pohon.
"I-iya. S-sepertinya kita mengganggu mereka, Tenten-chan," ujar remaja putri berambut indigo itu. Lain Tenten, lain juga Hinata. "Aku jadi tak enak hati." Hinata berujar dengan suara lembut.
"Kalau begitu kita pergi saja, ya? Baiklah, nikmati siangmu yang indah dengan kekasihmu itu, Prince of Ice." Tenten sempat tertawa sebelum menarik tangan Hinata menjauh dari sana.
"Hn." Sasuke malas menanggapi ucapan si gadis perusuh itu. Jadilah kata kesayangannya itu terucap dari bibirnya sebagai tanda bahwa ia tidak mau membahas hal itu lagi.
"Tidak jadi beranjak dari tempatmu, Tuan Uchiha? Atau kau sudah terbiasa dengan ocehan mereka itu?" Naruto berujar cuek. Ia akhirnya meminum air mineral yang diberikan Sasuke padanya. Rasa haus mengalahkan egoisnya. Ia terlalu malas untuk berjalan ke kantin untuk membeli sebotol mineral padahal sudah tersedia di depannya.
"Kau mau aku pergi dari sini?"
"Aku tak bilang begitu."
"Ucapanmu memiliki makna seperti itu."
"Itu terserahmu jika menganggapnya begitu."
"Oh."
"Hn."
"Itu kata milikku, Bodoh."
"Hakku untuk mengucapkan sesuatu."
"Kau merebut hak cipta, Dobe,"
"Dan kenapa kau mulai membuatku kesal, Teme?"
"Karena kau yang mulai terlebih dulu." Sasuke menyeringai senang. Akhirnya ia bisa beradu mulut lagi dengan Naruto.
"Terserah kau. Aku pergi dulu."
"Kau mau lari, Dobe?" Sasuke mulai memancing Naruto dengan nada yang meremehkan.
Naruto hanya menanggapinya dengan cuek, ia berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari pohon itu dan Sasuke. "Tidak. Aku sedang malas beradu mulut denganmu dan aku ada janji dengan Haku-senpai. Jaa, Teme,"
Dan ini pertama kalinya seorang Uchiha Sasuke merasa diabaikan hingga seperti ini, ditinggalkan begitu saja bersama dengan perasaan sialan yang mulai menjalari benaknya.
"Tsk!"
To Be Countinue
*nyengir tanpa rasa bersalah* Yaaaaa, hallo, long time no see ya! *tebar bunga*
Hahaha maaf ya telat update, *nyengir again* [someone: gak sadar, Muth? Udah berapa lama fict ini terbengkalai?] ukh.. iya, aku dan Eri-nee minta maaf udah terlalu lama ngaret. Abisnya kau waktu itu kompu-ku rusak, Eri-nee ada ujian entah-apa. Dan juga banyak event-event kemari 'kan? YA KAN? Udah ah, intinya aku dan Eri-nee minta maaf, -_-
Dan untuk chapter ini, maaf banyak kekurangan. Ini juga dirombak lagi sama aku idenya. Dan ada beberapa kata dari Eri-nee yang gak kutulis di sini. Abis tanganku bergerak sendiri. Maaf yo, Eri-nee~ *cium kaki Eri-nee*
Maaf juga kalau di awal itu deskripsi mendominasi. Dikit percakapan. Abisnya itu kan dari sudut pandang Sasuke, masa iya aku buat dia bawel? Dia yang begini aja udah mulai OOC buatku, -_-
Ohya, apakah ada yang membingungkan? Ya maaf, -_- udah terlalu lama gak nulis fict ini. hehe^^
Buat yang merasa log in, coba cek PM kalian ya! Tapi buat yang belum dapet, aku minta maaf~ secepatnya aku bales review kalian~
Dan ini bonus review buat yang gak log in~ kali ini Muth yang akan melayani kalian~
Arthemis, woiya duongs~ Teme pan juga manusia! Walau itu kadang diragukan=_= ini udah update. Tapi maaf ya gak bisa kilat! Thankies buat review-nya! *haguhagu*
Suki, uhhh Suki gak mau ada HakuNaru ya? Tenang aja, tjintjah! Si HakuNaru itu gak ada hubungan apa-apa kok, ^^ eh? Maaf ya, Suki, gak bisa ngabulin permintaanmu buat jangan bikin fict multi-chap dulu sebelum ini selesai, T^T gatel nih tangannya. Uyee, maacih review-nya~
N.h, ehehehe, apa update hampir tiga bulan itu termasuk update kilat? #WUSH yosh, inilah update-annya. Moga tidak kecewa! Makasih review-nya!
Adelove sasunaru, INI DIA LANJUTANNYA! JENGJENGJENG! Oosh! Makasih ya atas appresiasinya!
Nyx Keilantra, Naruto suka sama Sasuke atau kaga? Wuohoho ada clue-nya kok di chapter 1 kemaren, ;3 pst, pst, bocoran, kakak Naruto itu ada dua loh, YA YANG KAMU SEBUTIN ITU LOHHH! \(^0^)/ oosh! Makasih review-nya ya! ;*
ichizuku(dot)takumi, hemhem kayanya ini author ya? Kenapa gak log in? *guling guling* gado-gado? Oke, santailah, kita tunggu aja next chapter-nya ya! 8D terimakasih atas appresiasinya!
RenMay, iya, Sasu memang begituh! Wajah bilang kagak tapi hati bilang okeh! XD yoah! Ini udah lanjut! Makasih atas review-nya ya! :D
sabaku no machi, setuju sama HakuNaru? SETUJU? *sujud syukur* Muth punya pendukung lagi! \^w^/
ag-stalker, percakapannya ya? Uhh sepertinya di chapter ini deskripsinya masih aja panjang ya? Okeh, nanti diusahain deh, supaya bisa panjang. B] terimakasih atas semangat dan review-nya!
Uchiha Nata-chan, NATA-NEEEEEEE! *tubruk* makasih atas segala saran dan kritiknya! Aku cinta Nee melebihi Onii-ku! #eh #abaikan apa? APA YANG KURANG, NEE? Tanggung jawab dong ah=_= yang Naru merokok itu ya? Hmm ada alasannya kok, kayanya, *nyengir* itu bukan keterangan dariku tapi dari dia! *tunjuk Eri-nee* ini jadi NS atau SN? Fufufu terserah Nata-nee mau pilih yang mana ah! #soalnyadiajugakagaktau
Un, iya, sedikitnya aku yang nulis—DAN IYA IYA AKU TAHU AKU SALAH DI SANA! *ngumpet* u-udah aku edit kok u.u aku ini anak baik tauk, =w=
YOOOSH, MAKASIH ATAS REVIEW DAN KOREKSINYA, NEE! *peyuk cium*
Arisu Kuroneko, g-g-good story? Maacih, -/- iya dongs! Naruto itu anak yang kuat! Lihat aja di manga-nya! Yegak? *senggol Arisu sekuat tenaga* diperparah cemburunya? Siplah! Ada rencana begitu kok. Makasih review-nya ya!
Vanilla Biscuit, s-suka? Ah, maacih, *gigit bantal* wuohohoh kita cari kreasi baru duongs! Naru jadi badass uke itu SEKSEH! Gak mendukung HakuNaru? Uh, oke, *mojok di kolong meja* ShikaNaru? Itu pasti ada! Mungkin nanti di chapter 3 atau selanjutnya ya! 8D ini udah di-update! Makasih atas appresiasinya!
Meg-chan, uhh, Meg-chan, maaf yaw gak bisa update pas SN day. Habisnya masih banyak projeknya sih u.u aaah yang penting udah update ya, #gakmaukalah yosh! Makasih review-nya!
No-name, ini dia udah update! Makasih ya buat review-nya!
Yosh, ada yang kelewat? Ya maaf, aku OL di warnet di tengah krisis. Makasih ya buat 36 review-nya! Ukh.. gak nyangka juga. Semoga chaptrer ini memuaskan ya!
