One Hell of a School
Chapter 1. Students on the Loose.
Thanks buat reviewnya teman-teman dan mulailah penderitaan mereka Ta-Da!
Lokasi mengajar : Indonesia. Tempat dimana muridnya paling berandalan(termasuk saya), paling jago nyontek, menghancurkan property sekolah, menghacking computer Kepsek untuk mengubah nilai, hunting kunci jawaban UAN, dan dimana terdapat sarang iblis bermuka dua.
Dan Author dari fic ini sudah diburu sama orang se-Indonesia karena telah membocorkan rahasia negara(membuka aib)…LOL
Kesan pertama para Goldies sesampainya di 'Sekolah' tempat mereka akan mengajar:
"Erm…Ini benar alamatnya?" Tanya Kanon.
"Iya sudah benar, tapi…" Jawab Saga agak ragu.
"Itu tulisannya Yayasan Perguruan Sanctuary." Ujar DM pamer kemampuan membacanya yang sangat diragukan oleh Shura dan Aphrodite.
"Yakin nih, ini sekolah? Tapi kayaknya lebih mirip…" Milo tampak ragu.
"…Kebun Binatang." Sambung Camus dengan teramat sangat yakin.
Memang benar tempat yang disebut 'sekolah' itu dibangun dengan dana seadanya karena krisis ekonomi dan juga modal(guru) seadanya. Tetapi para murid sangat antusias menyambut kedatangan guru mereka(yang tidak becus ngajar) dengan memberikan(melempar) tomat, selada, kentang, telur, paprika, timun, dan tidak lupa saos tomat dan saos salad. Dan pegawai kantin turut membantu men-stock 'hadiah' mereka.
"Wah, tau gini tadi aku bawa ember buat nampung. Makan siang gratis nih!" Aldebaran membuka mulut selebar-lebarnya sebagai pengganti ember untuk menampung 'bekal gratis' tersebut.
Yah, begitulah yang terjadi pada saat masa orientasi siswa(?) selama 1 minggu berturut-turut, dan pada hari kedua Aldebaran membawa ember sebesar bathtub, sedangkan para goldies yang lain membawa payung.
Hari berikutnya, mulailah kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut. Para goldies yang telah berpakaian seragam sekolah layaknya guru professional berkumpul di ruang guru yang akhirnya dapat mereka temukan setelah kesasar berkali-kali. Bahkan sampai mereka beramai-ramai memasuki toilet perempuan karena mengira itu adalah ruang guru. Yah, setelah itu, Kanon yang memimpin dan membawa mereka memasuki toilet perempuan dihukum jemur di lapangan basket. Tentu saja setelah itu Kanon dikejar-kejar oleh cewek-cewek SMP dan SMA yang nge-fans dengannya, dan akibatnya dia terlambat memasuki kelas untuk mengajar.
Sementara itu, Milo yang ditugaskan mengajar biologi memasuki kelas disambut dengan murid-murid yang terpaku menatapnya. Dia sok cuek dan berlagak cool, mengira mereka terpesona akan penampilannya, sampai beberapa saat kemudian…
"Pak! Itu resletingnya kebuka tuh!" Kata seorang murid seraya menunjuk ke arah celana Milo.
Gelak tawa terdegar di seluruh penjuru kelas dan pada saat itulah rasa kepercayaan diri Milo langsung terbanting ke bawah, tak kuat menahan rasa malu seberat 1000 ton.
"Aku mau mati saja…" Kata Milo seraya mengambil tali jemuran untuk gantung diri, tetapi sesampainya di neraka, dia mendarat di kamar mandi tepat saat Hades sedang mandi dengan bebek karetnya dan tanpa basa-basi lagi Milo langsung ditendang Hades keluar dari neraka dan hidup kembali. Kembalinya Milo dari neraka disambut meriah oleh para muridnya.
"Horeeee! Gurunya hidup lagi! Bisa kita kerjain lagi nih!"
"Inikah yang disebut neraka sebenarnya?"ratap Milo penuh sesal menerima pekerjaan sebagai guru. Dia lebih memilih ditabok Athena dari pada harus mengajari para murid berandalan ini. Tetapi pelajaran harus tetap dimulai. Maka Milo membuka buku pelajaran biologi dan mulai mengajar.
"Baiklah, ada ngak yang tahu bagaimana manusia bisa bersuara saat berbicara ?"Tanya Milo.
"Karena diajarin sama papa dan mama, pak!"Jawab para murid serentak.
"Masa gitu aja ngak tahu !"Para murid tertawa bahagia melihat ekspresi sang guru.
"Ehm…jawabannya adalah karena adanya pita suara di tenggorokan kita."Jawab Milo berusaha untuk tidak menangis.
Tiba-tiba ada seorang murid yang mengangkat tangannya.
"Saya mau tanya pak!"
"Ayo, apa ?"Rasa kepercayaan diri Milo bangkit lagi.
"Kata bapak kan, kita bisa berbicara karena adanya pita sura di tenggorokan kita."
"Iya, jadi ?"Milo mulai merasa pintar dan bangga.
"Jadi, kalau kita kentut, artinya ada pita suara juga dipantat kita?"
Milo pingsan seketika.
Sementara itu, Saga sedang mengajar matematika kepada anak TK yang imut-imut dan masih polos. Jadi, mungkin menurut kalian, Saga tentu tak akan mendapat kesulitan apapun. Tetapi ternyata Saga juga mengalami penderitaan yang tak kalah mengerikannya dengan yang dialami Milo.
"Baiklah anak-anak, mari kita mulai pelajaran kita hari ini!"Kata Saga sok ceria dan sok dekat dengan anak-anak.
"Pak, kalau kita bisa berhitung, bapak mau kasih apa ?"
"Ehm…Nanti bapak tepuk tangan!"Saga masih mencoba tersenyum.
"Yeeee…Ngak mau! Kami maunya laptop baru!"
'Astaga anak-anak zaman sekarang matre!'Batinnya.
"Eh, ya sudah…kalau pak Saga punya 5 kue, dan kalian makan 1, sisanya tinggal berapa?"
Para murid menatap Saga dengan tatapan penuh kecurigaan yang mendalam.
"Bapak ini mau godain kita ya? Dasar pedophile!"Teriak salah satu murid cewek centil.
"Aduuhh…jawab aja deh pertanyaanya!"Saga sudah mulai tak sabaran.
'Gila, ini anak TK dari mana belajar kata pedophile?'
"Sisa 5 pak!"Jawab mereka dengan sangat amat yakinnya.
"Hah ? Koq masih 5? Kan sudah dimakan 1?"Tanya Saga bingung.
"Soalnya kami takut pak, kalau nanti kuenya ada racunnya."
"Aduuhh! Misalkan saja kuenya tidak beracun. Sisanya berapa ?"Air mata Saga sudah mau keluar.
"Masih tinggal 5 pak!"
"Kenapa lagi? Seharusnya sisanya 4!"Saga sudah mulai emosi.
"Soalnya kata mama, kita ngak boleh sembarangan makan kue pemberian orang asing, apalagi kalau orangnya om-om yang rambutnya gondrong acak-acakan dan wajahnya preman banget kayak bapak!"
Menangislah Saga menanggung siksaan batin tersebut. Bahkan anak-anak TK yang kecil imut-imut tersebut dapat berubah menjadi iblis yang mengerikan jika pada gilirannya dalam hal mengerjain guru meraka yang tak berdosa.
Bel istirahat berbunyi, dan kedua guru kita yang mengalami bencana dan tekanan mental tersebut berjalan dengan lesu menuju ruang guru, menghindari suasana kantin yang semula tenang pada saat jam pelajaran menjadi medan perang yang brutal layaknya perkelahian ibu-ibu antar RT saat obralan di pasar loak.
Sesampainya di ruang guru, ternyata bukan hanya mereka yang mengalami hari pertama yang mengerikan namun yang lainnya juga. Suasana di ruang guru lebih mirip suasana di kuburan pada malam hari. Wajah mereka pucat dan tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan dan keinginan untuk melanjutkan hidup mereka di bumi ini.
Milo dan Saga duduk disebelah DM yang wajahnya mirip dengan pajangan kebanggannya di kuil Cancer. Saga dan Milo tidak menghiraukannya dan hanya duduk diam meratapi nasib mereka di hari pertama yang keji tersebut. Tidak berapa lama kemudian, bel masuk berbunyi menandakan babak kedua penderitaan mereka akan dimulai. Suara gagak sudah terdengar berkicau meriah membentuk orchestra disekeliling sekolah dan tawa licik para murid menggema mengerikan mendirikan bulu kuduk para goldies. Akankah mereka selamat dari terror para murid ?
Nantikan di chapter berikutnya!
Hahaha! Penasaran dengan penderitaan apa yang sedang menanti goldies lainnya? Tunggu Chapter berikutnya ya! Dan ingat, jangan lupa reviewnya…!^w^
