Tittle : Look at me!

Genre : Romance, Yaio [ NC 17 ]

Casting : Seo In Guk, Lee Hoya, Jung EunJi and Other

Rating : M ( PWP )

Pairing : SeoYa ( In Guk x Hoya )

Sumary :

"Ho Won-ah, Aku jatuh cinta dengannya, namanya Jung Eun Ji" "Aku Mencintaimu Seo In Guk" "Ho Won, Eun Ji cantik hari ini? Apa dia tampil seksi?" "Stop In Guk-ah, it's Hurt" "Ho Won-ah, hari ini aku akan kencan dengan Eun Ji" "Kencan? Kapan kau akan mengajak ku kencan?" "Ho Won-ah, Eun Ji menyukai namja lain" "In Guk-ah, Look at me! I Love You. Don't you feel it? Look at me"

WARNING!

KISAH INI DI BUAT DENGAN KEIKHLASAN YANG SEBENAR-BENARNYA[?]. CERITA INI MENGANDUNG UNSUR SAKRAL[?], TERDAPAT ADEGAN PERCINTAAN SESAMA JENIS, YAOI! NOT FOR CHILDREN LESS THAN OR 17 Y.O! PWP, SLUTY TALK[?] MAKSUDNYA TERDAPAT DIRTY TALK

DON'T LIKE? DON'T READ!

TIDAK MENERIMA JASA PENDENGARAN BASH, TETAPI MENERIMA JASA

PENDENGARAN KRITIK DAN SARAN

ATAS KRITIK DAN SARAN YANG ANDA SAMPAIKAN SAYA UCAPKAN BELA SUNGKAWA[?]

Preview Chap. 1

"Aku jatuh cinta padanya. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Namanya Eunji" Lanjutnya semakin memeluk Hoya seakan memeluk untuk terakhir kalinya.

'Aku Mencintai mu Seo In Guk! Bahkan jauh sebelum Siswi itu datang. Kenapa kau suka pada sepupuku?' Batin Hoya. "Geure? Betapa beruntungnya dia"

"Ah, aku tau aku tampan dan mempesona, Tapi aku baca name tagnya Jung... Jung" Katanya mengingat-ingat nama gadis itu

"Jung Hye Rim"

"Ah iya, kau kenal?" In Guk memutar badan Hoya sampai membuat tatapan mereka bertemu. Keheningan panjang mulai menyelimuti keduanya.

"A-aku kenal, dia sepupuku" suara Hoya memecah keheningan di antara mereka

Chapter 2

*Author Pov*

Detak jantung yang tak terkontrol, pilu yang semakin menyeruak. Buliran air mata yang semakin menumpuk. Seakan-akan mendesak empunya untuk meneriakkan rasa sakit yang tak bisa ia bendung. Ia hanya menangis dalam diam. Tak pernah terbayangkan olehnya selama ini. Sakitnya patah hati. Membuatnya benar-benar jauh larut dalam kesedihan.

"Ittai oni-chan, tottemo ittai" racaunya dibalik ruangan tersebut. Entah sudah berapa lama dia berdiam diri dikamarnya dan tak mengizinkan siapapun masuk. "Nah, cukup Ho-chan, kau harus kuat" katanya menyemangati dirinya sambil menghapus airmatanya.

"Sial, mataku sembab" rutuknya.

.

.

.

"Aaahh aku rasa akurasa aku akan mudah mendapatkannya" racau namja bernama Seo In Guk itu tatkala berjalan menuju rumah Hoya. Perlahan diketuknya rumah tersebut. "Annyeong~ Howon-ah, Kau dirumah?" teriaknya sambil mengetuk pintu rumah tersebut. "Ahh Lee Ajjuma, Howonnya ada?" tanyanya ketika Eomma Hoya membukakan pintu tersebut.

"Ada, masuk aja, dia ada dikamar, dari tadi mengurung diri" kata Ibunya dengan tampang sangat sedih(?)

"Ah? Jinjja? Gomawo Ajjumma" katanya dan langsung menuju kamar Hoya

"Ho-Howon-ah" Panggilnya sambil mengetuk pintu tersebut

"Mwo?" Sahutnya

"Kau kenapa? Boleh aku masuk?"

"Sebentar" Katanya dan beberapa saat kemudia membukakan pintunya.

"Matamu kenapa? Kok sembab?" tanya Inguk antusias

"A-aniya, tadi ter... tersengat serangga saja"

"Hah? Bentuknya kok aneh"

"Aish, sudahlah, ada apa?"

"Kau kenapa mengurung diri hm?"

"Tidak apa-apa, aku hanya kecapean dan ketiduran"

"Begitu, baguslah" Kata Inguk dan masuk kekamar sahabatnya itu. Tampa basa-basi dia langsung menidurkan dirinya di kasur sahabatnya.

"Eh? Kok basah?" katanya sambil meraba-raba bantal yang ia tiduri

"I-itu tadi a-aku ileran" jawab Hoya gagap

"Hah? Ileran? Kau tidak gosok gigi ya tadi?" tanya In Guk selidik

"Aish, kau banyak tanya" jawab hoya dan menjitak kepala sahabatnya tersebut.

Cengiran keluar dari bibir In Guk. Dengan senang hati dia mulai menyamankan posisinya dan terlelap dikasur sahabatnya tersebut. Hoya hanya menatap nanar tubuh sahabatnya yang tertidur dengan nyenyak diatas kasurnya. Perlahan didekatinya tubuh sahabatnya dan dielusnya surai hitam milik sahabatnya itu.

"Apa kau datang kesini Cuma untuk tidur? Atau memang sengaja membuat jantungku berdetak lebih cepat?" ucapnya pelan. Perasaan yang semakin mendalam dan logika yang menahan seolah sebuah perang dingin di dalam dirinya. Sesak dan tertahan. Tak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk menggapai cinta pertamanya ini. Ya cinta pertamanya yang sudah menyimpang dari ambang kebiasaan. Bahkan takpernah terfikirkan olehnya. Namja yang sedang menempati tempat tidurnya sekarang ini adalah cinta pertamanya. Namja yang baru ia kenal, dan bahkan jatuh cinta pada sepupunya. "Cup" ia mengecup kening sahabatnya lalu berpindah kesampingnya. "Oyasumi" katanya dan merebahkan badanya disamping sahabatnya. "Maaf aku tak mengatakan soal perasaanku" gumamnya dan mulai terlelap.

Hari demi hari terus berlalu. Perasaan Hoya tumbuh semakin besar. Tak bisa ia kontrol. Tak pernah terfikirkan olehnya untuk menjauhi namja itu. Bersamanya, itu sudah lebih dari cukup buatnya. Seakan tidak ada kesempatan kedua. Dia rela memendam perasaanya yang semakin hari semkin besar dan semakin dalam.

"Ungghh~" erangan ringan muncul dari mulut Hoya. Perlahan ia melepaskan pelukan dipinggangnya. Tangan itu. Tangan orang yang sangat ia cintai. Perlahan rasa sesak menyeruak didadanya. Sesak akan ketidak pastian akan perasaannya. Akankah tetap seperti ini atua tidak. Tak ada jawaban, bahkan ia hanya menunggu dan menunggu. Kelak cinta pertamanya bisa berpaling padanya. Ya, ia tau itu sama saja dengan melompat ke puncak gedung pencakar langit. Namun, bukankah itu sudah sering ia lakukan?.

"Ya! In Guk-ah ireona!" Katanya membangunkan In Guk. Merasa tidak ada respon. Iapun menggunakan rencana B "YAAA SEO IN GUK IREONA" Teriaknya sambil menjewer kuping sahabatnya.

"A-a-a YE YE, lima menit lima menit!"

"YAA ANDWEEE! IREONA!"

"Arraseo, but kisseu please! Morning kiss morning kiss" katanya sambil menaik turunkan alisnya. BUGH, sebuah bantal mendarat dimukanya.

"Sekarang sudah jam 5, kau mandi duluan. Aku tidak mau terlambat hari ini" kata Hoya sambil meninggalkan tempatnya.

"Aish, anak itu"

Semburat merah membuat Hoya langsung berlari menuju dapur dan membantu eommanya memasak. "Eomma, apa pendapat eomma kalau anak namja eomma jatuh cinta pada namja?"

"Ah,eomma harap salah satu anak namja eomma ada yang seperti itu. Tapi eomma rasa tidak ada yang seperti itu" kata Eommanya sambil menghela nafas. Hoya hanya menatap bingung ibunya dan tersenyum pelan.

'Coba kau dan In Guk pacaran, aku dan Nn. Seo pasti senang' batin Nn. Lee.

Hoya mulai mengambil beberapa sayur dan memotongnya kebagian kecil. Entah apa yang membebani pikirannya. Keadaan muka yang cukup muram dan masam membuat tampangnya seolah seekor monster yang siap menerkam mangsanya. Pikiran yang menumpuk membuatnya lupa akan sekitar. Seakan tuli, dia menghiraukan panggilan orang yang melahirkannya.

"Ho-Ya~" Panggil Eommanya sambil mengelus rambut anaknya tersebut. "Melamun lagi hm? Ada apa? Sering-sering melamun tidak baik" tambahnya mengingatkan Hoya. Hoya hanya tersenyum dan mengangguk sebagai respon. Eommanya juga tersenyum dengan sangat manis, seakan mengerti perasaan anaknya. Dia hanya menepuk-nepuk pundak anaknya tersebut sambil menyemangatinya.

.

.

.

.

.

.

Hari yang cerah membuat Hoya melangkahkan kakinya dengan semangat. Sambil sesekali ia melihat kearah samping, tepatnya kearah sahabatnya yang berjalan dengan tenang. Senyuman penuh arti masih terukir dibibirnya. Hoya masih melangkahkan kakinya dengan tegap dan penuh percaya diri, tampa ada suatu perasaan penasaran yang ia rasakan. Lagi-lagi ia tersenyum dengan penuh arti. Seorang Seo In Guk masih tersenyum tampa ada rasa dosa yang menyelimuti tubuhnya. Pandangannya tidak pasti. Terkadang memandang Hoya, terkadang memandang lurus kedepan. Sesekali ia menundukkan kepalanya atau menggelengkannya dengan cepat.

Hoya masih setia dengan semangat empat limanya. Seakan hidup selamanya, ia melangkahkan kakinya terus menuju sekolah mereka. Ya, kali ini ia tidak melompati gedung-gedung lagi. Semenjak In Guk lebih memilih berangkat bersamanya, ia dengan senang hati berjalan kaki. Walau menurutnya itu adalah cara yang sangat tidak efektif namun, asal dengan orang yang ia sukai itu sudah cukup berarti.

"Ho Won-ah, kau duluan masuk kelas, aku ada urusan" Kata In Guk mengawali pembicaraan mereka. Hoya hanya mengangguk tampa ada pertanyaan yang melintas diotaknya. Senyuman ia ukirkan kembali dan langsung bergerak menuju kelasnya. Dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, ia masih tersenyum dan tersenyum seakan senyuman itu menempel permanen dibibirnya.

Hoya langsung melangkahkan kakinya menuju kelas. Seperti biasanya ia memilih tempat duduk strategis yang cukup jauh dari keramaian. Sesekali ia menatap keluar jendela dan tersenyum dengan sangat manisnya. Ia memperhatikan awan yang tercetak dari jendela tersebut. Ya, memang tidak banyak yang ia dapat lihat, namun itu cukup membuatnya senang.

"Ten~ dereng~ dereng" Seru In Guk sambil memamerkan dua buah tiket.

"Ini? Tiket? Untuk film baru itu kan? Kau mau nonton? Dengan siapa?" Segelintir pertanyaan Hoya lontarkan. Dengan harapan yang sangat tinggi satu tiket yang satunya adalah untuknya. Sedikit semburat merah bersemu dipipinya.

"Aku ingin menontonya dengan Hyerim" katanya sambil menggaruk tengkuknya.

"Hyerim?" Tanyanya dalam hati. Goresan besar kembali tersayat di hatinya. Semakin ia memikirkannya rasanya semakin besar dan sesak. Kelenjar air matanya semkin kuat menekan isinya untuk keluar. Namun fikirannya masih menahan itu. Senyuman palsu ia lontarkan dan mengangguk. "Good Luck" katanya menyemangati sahabatnya itu. Senyuman yang terpaksa itu membuatnya semakin tersakiti.

"Fighting In Guk-ah, aku yakin kau berhasil" katanya lagi. Hatinya seakan ingin meledak. Matanya mulai perih dan ia langsung berdiri dan meninggalkan sahabatnya itu. Bergerak menuju lantai teratas dan melompati atap gedung itu. Berdiri di tempat yang tak akan digapai manusia biasa. Dan mulai melepaskan semua yang ia rasakan. Rasa sakit yang mendalam. Buliran air matanya sekarang sudah mengalir dengan derasnya. Sesekali tangannya meremas baju bagian dadanya. Rasa sakit yang samakin mendalam membuatnya semakin tak tahan dengan semua ini.

Nafsu belajarnya telah hilang, ia masih menyembunyikan dirinya di tempat itu. Tak bisa berfikir jernih. Ia masih merenungkan nasibnya yang semakin hari semakin buruk. Bayangan orang yang ia cintai tertawa bukan untuknya. Tersenyum bukan untuknya, namun untuk orang lain. Sebuah tangan memberikan seberkas tisu untuknya. Ia menengok ke arah tangan tersebut.

"Sung Gyu Hyung?" Herannya. Senyuman manis terukir dibibir namja itu.

"Menangisi In Guk lagi?" Tanya Sung Gyu. Hoya hanya diam dan mengangguk pelan. Ia memeluk erat adik tingkat dan satu timnya itu dengan sangat erat.

"Menangislah sepuasnya. Aku mengerti perasaan mu" Lanjutnya sambil mengelus rambut Hoya. Isakan pelan kembali terdengar. Seakan tamengnya roboh, ia menangis sejadi-jadinya.

"Kau harus kuat Hoya, jangan lemah. Suatu saat kau harus berani menyatakannya. Agar kau bisa tenang" Tambahnya. Hoya mengangguk dalam isakannya. Perlahan isakanya mulai memelan.

"Sekarang, kembalilah belajar!" titahnya sambil menghapus air mata Hoya. "Jangan menyerah, jangan lemah. Aku yakin kau pasti bisa" Lanjutnya, dan langsung meloncat meninggalkan gedung itu. Seakan mendapatkan tenaganya kembali Hoya tersenyum kembali dan bergerak menuju kelasnya kembali.

.

.

.

.

"Wae?" Tanya In Guk ketika Hoya memasuki kelasnya.

"Apanya?" tanyanya dengan tampang super polos

"Tadi, Kau berlari keluar kelas"

"O, perutku sakit, aku butuh ke toilet" Bohongnya.

"Oh"

Keheningan diatara mereka mulai menyeruak kembali. Tak ada satupun yang mulai mencoba untuk melanjutkan percakapan. Hingga akhirnya Kim Seongsaemnim memasuki kelas menandakan pelajaran akan segera dimulai. Tak seperti biasa, mereka belajar dengan tenang tampa adanya percandaan dia antara mereka seperti hari-hari sebelumnya. Hoya diam, In Gukpun tak mau mengganggu. Sesekali In Guk melihat kearah Hoya dan juga sebaliknya. Namun, tak satupun di antara mereka memulai.

.

.

.

.

.

.

Jam Sekolah sudah usai. Semua siswa berkeliaran menuju tujuan masing-masing. Pulang kerumah, main sebentar atau sekedar menyelesaikan urusan ekskul masing-masing. Tidak dengan mereka berdua. Dua sejoli ini masih diam-diaman tampa ada kejelasan permasalahan diantara mereka.

"Ya, Lee Ho Won. Kau kenapa? Apa aku ada salah?" Tanya In Guk sambil menarik Hoya masuk kekelas kembali.

"Ani" Jawabnya dingin

"So? Kenapa diam saja? Kau aneh hari ini"

"Tidak apa-apa, aku hanya tidak enak badan. Kajja kita pulang" katanya sambil tersenyum dengan manis sepeti biasanya.

"O, arraseo" Katanya dan mulai menggandeng Hoya keluar ruangan. Ia kembali tersenyum tampa arti. Seakan separuh dari jiwanya kembali. Semburat merah kembali bersemi dipipi Hoya. Senyuman merakah terukir dibibirnya. Mereka langsung bergerak kerumah mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan mereka bercanda dan bermain-main berkali-kali dan dipisahkan letak rumah mereka yang berbeda namun bersebelahan.

Hoya langsung masuk kerumahnya. Senyuman merakah kembali terukir di bibirnya. Setiap aktivitasnya ia lancarkan dengan perasaan yang berbunga-bunga. Pergerakan badannya beralih menuju meja belajarnya. Perlahan ia menarik keluar laci mejanya. Dibawah selipan alas lacinya ia mengambil foto telanjang dada In Guk yang entah kapan ia dapatkan. Ia tersenyum kembali dan meletakkan foto itu ketempat asalnya.

Suara ketukan pintu membuatnya berhenti dengan aktivitasnya. Ia memutar posisi badannya dan melihat kearah pintu kamarnya. Ia berjalan pelan menuju pintu tersebut dan membukanya. Senyuman manis keluar dari bibirnya. Sang punjangga telah kembali kekamarnya. Dan senyuman dari bibir In Guk juga menghiasi bibirnya. Ia menyelonong masuk kamar Hoya dan langsung merebahkan badannya dikasur empuk Hoya.

"Ho Won-ah, Kau bertemu dengan Hyerim tadi kan?" Tanyanya sambil menatap Hoya yang masih disamping pintu kamarnya.

"Ne, Waeyo?"

"Ho Won, Eun Ji cantik hari ini? Apa dia tampil seksi?" Tanyanya lagi

"Stop In Guk-ah, it's Hurt" Batinnya. Ia hanya menunduk dan mencoba tenang. Senyuman manis nan palsu ia tampilkan. Sebuah anggukan ia keluarkan menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Keheningan menyelimuti mereka. Tak satupun yang melanjutkan pembicaraan.

"Ho Won-ah, hari ini aku akan kencan dengan Eun Ji" Katanya memecah keheningan. Sayatan besar melebar dihati Hoya. Ia hanya bisa diam dan diam. Tak ada yang dapat ia lakukan. Senyumannya hilang entah kemana. Kepala tertunduk dan tak berani mengangkatnya.

"Kencan? Kapan kau akan mengajak ku kencan?" Batin Hoya. Hoya lagi-lagi menatap sahabatnya dengan senyuman manis nan lebar dan PALSU. Ia duduk disamping sabahatnya. Dan menatap sahabatnya lekat-lekat.

"Oooo, jadi kesini dengan rapi dan gagah seperti ini, karna mau kencan?" tanya Hoya penuh selidik. In Guk hanya mengangguk mengiakan pertanyaan Hoya. "Sana Pergi temui Eunji, dia pasti menunggu-nunggu mu" lanjutnya.

"Doakan aku" kata In Guk dan bergerak menuju keluar kamar Hoya.

"Um" angguknya dan tersenyum.

Hawa kehadiran In Guk sudah menghilang dari kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan merosot di depan pintu itu. Buliran air matanya kembali meleleh membasahi pipinya. Isakan pelan ia lantunkan menandakan betapa terpuruknya dia sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

AAAAA _
Bingung lanjutinnya :3

BTW Makasih udah dibaca, Mohon sarannya kaka