Hai, Anne datang lagi. Kali ini chapter ke duanya siap meluncur.
Velvety : Hai, hehe namanya cantik kok. Iya ini kisah aku spesialin buat James. Mungkin nanti aku buat yang bagian kisahnya Albus. Ditunggu chapter-chapter selanjutnya, ya. Thanks - Anne ^_^
Petualangan James ditemani Al dimulai. Mereka kembali ke masa saat James belum lahir. Bagaimana perlakuan Harry dan Ginny dulu pada James?
Happy reading!
Ginny yakin dua anak yang dilihat Mr. Grimmie itu adalah kedua putranya, James dan Albus. Akibat perkataannya itu James berlari keluar rumah disusul kemudian Al. Ia yakin itu memang kedua putranya.
"Itu pasti James dan Al, Harry. Mereka hilang! Mereka menghilang!" Ginny panik dan mulai tak kuasa menahan tangis. Lily ikut ketakutan.
Harry merengkuh tubuh istrinya lantas berkata, "sayang, tenangkan dirimu. Mereka akan kembali. Pasti ada cara untuk mengembalikan mereka." kata Harry coba menenangkan.
"Mr. Grimmie, jam pasir itu akan membawa objeknya ke masa apa? Masa lalu apakah masa depan?" tanya Lily yang berdiri tak jauh dari Mr. Grimmie. Ia takut terjadi apa-apa dengan kedua kakaknya.
Mendengar pertanyaan Lily itu, Mr. Grimmie lantas melihat ke arah jam pasir yang sejak tadi ia pegang. "Merah, itu artinya mereka datang ke masa lalu, Ms. Potter. Jika pasirnya berwarna biru, objek akan datang ke masa depan. Tapi bisa dilihat, pasir ini jatuh menjadi warna merah. Itu artinya putra anda Mr. Potter pergi ke masa lalu," tutur Mr. Grimmie menatap Harry. Ia menyerahkan jam pasir itu pada Harry untuk memegangnya.
Ginny tampak sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya kosong, ia hanya menatap aspal jalan seperti orang linglung. "Masa lalu? Oh Merlin aku tak mengingat apapun apakah dulu aku pernah bertemu dengan mereka atau tidak," katanya lirih.
"Oh, Mr., Mrs. Potter. Sebelumnya saya mohon maaf atas kejadian malam ini. Tapi, maaf, jam pasir itu membuat objek yang tersedot menjadi kasat mata. Jadi walaupun mereka datang saat masa apapun, tidak ada seorangpun di masa itu akan melihat mereka. Tapi mereka bisa melihat lingkungan di sekitarnya." Mr. Grimmie menahan napasnya sejenak, melihat keluarga kecil itu tampak panik. "Dan.. mereka tidak akan pernah bisa mengendalikan waktu yang berjalan. Sampai mereka kembali. Entah kapan,"
Semuanya hanya bisa terdiam mendengar penuturan Mr. Grimmie. Lily sudah terisak, Ginny makin mengeratkan pelukannya pada Harry, dan tentu saja ia menangis. Harry masih tetap kuat meskipun sangat jelas terlihat ada raut kekhawatiran di wajahnya. Tidak bisa dipungkiri, dua putranya yang masih kecil hilang dan entah kapan kembali.
"Anda bisa melihatnya sendiri, Mr. Potter. Kecepatan pasir yang jatuh tidak tentu. Kadang cepat kadang juga lambat. Jika jam pasir biasa yang tanpa sihir bisa selesai dalam beberapa jam, tapi jam itu.. kita tak akan pernah tahu kapan. Muggle yang sebelumnya tersedot kembali setelah dua hari, dan menurut sejarah, objek terlama yang pernah tersedot dan akhirnya kembali adalah seorang penyihir berusia 30 tahun. Ia terperangkap di masa depan selama satu bulan."
"Ini salahku. Maafkan, Mom." Ginny sudah makin kalut. Tubuhnya lemas bergelayut di badan Harry. Wajahnya basah membuatnya tampak makin kacau.
"Ginny sudahlah, kau tadi hanya emosi. Kemarahan mereka akan segera reda saat mereka sudah sadar nanti."
Harry masih terus menenangkan tubuh Ginny yang berguncang pelan menahan isakan tangisnya. "Tapi tetap saja, Harry. Kata-kataku tadi keterlaluan. Mereka pasti sakit hati. Aku bukan ibu yang baik," ratapnya menyesal.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Mr. Grimmie?"
"Lebih baik Anda bawa saja jam pasir itu, Mr. Potter. Karena putra-putramu akan kembali nanti dari jam pasir itu. Saya harus pergi, sekali lagi maafkan kesalahan saya, Mr. Potter. Semoga mereka kembali dengan selamat, selamat malam,"
Malam semakin larut, Mr. Grimmie sudah pergi dari depan rumah Harry. Mobil boxnya semakin tampak kecil di langit malam ini. Ya, tentu saja setelah mobil box itu terbang. Di dalam rumah, Harry sudah mengantar Lily menuju kamarnya dan menemani gadis cilik itu barang sejenak.
"Dad, apa James dan Al tak suka denganku?" tanya Lily di balik selimutnya. Harry sudah duduk di samping ranjang Lily sambil mengelus rambut merahnya lembut.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang?" tanya Harry.
Lily menyamankan tidurnya, lampu meja di samping ranjang masih menyala. "Bukan begitu, Dad. Hanya saja, dari cara James bicara tadi, ia tampak tak suka dengan..,"
"Sssttt, sudahlah sayang, James hanya emosi. Kedua kakakmu itu sangat menyayangimu, Dad tidak bohong. Mereka akan jadi kakak yang baik untukmu," kata Harry kini memeluk Lily.
"So, kamu sekarang tidur. Kami akan menunggu James dan Al kembali. Berdoalah agar mereka kembali selamat,"
Ya, hanya butuh menunggu saja. Kedua Potter junior itu akan kembali saat waktunya tiba. Meskipun Harry bahkan tak tahu itu kapan. Yang ia hanya inginkan, James dan Albus kembali tanpa kurang satu apapun.
Brukkk!
"Al, menyingkir dari punggungku," pekik James mendapati lantai tempatnya mendarat membuat badannya sakit. Ditambah beban tambahan tubuh Al yang menindihnya.
Tempat ini seperti tak asing lagi bagi James dan Albus. Hanya saja dekorasinya sedikit berbeda dari yang biasa mereka lihat. Tidak ada lampu yang menyala, cahaya bulan tampak menembus gorden dari arah jendela.
James dan Al berdiri mencoba menyeimbangkan badan mereka yang masih sakit.
"Merlin! Ini kesalahan, Al,"
James lantas menarik badan Al berbalik arah saat mereka sadar yang mereka lihat adalah sebuah ranjang besar dengan dua orang sedang tidur di atasnya.
"Kau apa-apaan, sih, James. Itu kan Mom dan Dad," pekik Al langsung memelankan suaranya.
"Iya, itu Mom dan Dad. Tapi apa kau tak sadar, masuk ke kamar suami istri di tengah malam adalah sebuah kesalahan besar. Kesalahan besar. Apalagi untuk anak kecil seperti kita,"
Pelan-pelan Al mengerti arah bicara James. Ya, walaupun mereka masih kecil, Harry dan Ginny sudah mengajarkan pada anak-anak mereka sopan santun masuk ke kamar orang lain. Apalagi kamar orang tua mereka.
"Semoga saja mereka sedang tidak melakukan apapun,"
"James, kau lihat ini," Albus menunjuk koran Daily Prophet yang ada di meja dekat mereka. Bukan tentang beritanya, tapi Al menunjuk tahun yang tertera di bagian atas.
James memutar tubuhnya agar mampu melihat dengan jelas tulisan yang tertera di koran sihir itu, "Tahun 2005?" pekiknya tak percaya.
Mereka saling pandang. Sama-sama mulai tahu mereka sedang berada di mana. "Itu artinya kita sedang di masa lalu, James." Kata Al mengguncang tubuh kakaknya.
"Dan a-aku.. belum lahir?" timpal James.
"Aaaghhh...,"
James dan Al mendengar suara itu. Suara perempuan yang sudah tak asing lagi di telinga suara Ginny. "Mom kenapa, James?" Al ketakutan ia tak berani berbalik. Begitu juga dengan James.
"Aaahhhgghh huk huk..," suara Ginny terbatuk-batuk.
Duk duk duk...! James melihat ibunya itu lantas berlari keluar kamar sambil menutup mulutnya. Kini keduanya berani untuk menatap ranjang kedua orang tuanya. Di sana masih tampak Harry tidur dengan nyenyaknya tanpa kacamata yang bertengger di wajahnya.
"Kita ikuti Mom!" Ajak James mengikuti langkah Ginny.
Ginny tampak masih begitu muda. Rambut merahnya panjang sebahu digerai. Masih sama seperti saat ia sekolah dulu. Namun raut kedewasaan sudah terlihat di sana.
Hoek.. hoek...!
"Mom, sakit!" kata Al. James menahan mulut Al agar tak bersuara. Mereka hanya melihat dari arah belakang wastafel kamar mandi di lantai dua. Ginny tampak mengelap mulutnya dengan air yang mengalir dari kran. Ia menatap wajahnya sendiri. Lantas.. mengarahkan pandangannya ke perutnya.
Dusss! Harry datang dari belakang James dan Al menghampiri Ginny. Harry menembus tubuh mereka berdua.
"Kita transparan!" Teriak mereka bersamaan.
"Ginny, kau tak apa?" tanya Harry sambil memijit tengkuk istrinya, "keluarkan saja," sambungnya. Ginny kembali mengeluarkan isi perutnya sampai bibirnya kering. "Aku tak ap..," Bruk! Harry sudah sigap menerima tubuh Ginny yang jatuh lemas. Ia pingsan.
"Mom!"
Tiba-tiba James merasa dirinya bergerak-gerak sendiri, ia meraih tangan Al yang merasakan hal yang sama lalu.. mereka menghilang.
Duss!
Kini James dan Al menginjakkan kakinya di lantai bawah. Tepatnya di ruang tamu. Mereka kini tak perlu khawatir akan diketahui oleh orang lain karena mereka tak bisa dilihat apalagi disentuh.
"Itu mereka," Al menunjuk ke arah meja makan.
Ginny dan Harry sedang duduk berdua menyantap sarapan mereka. Tampak Ginny sangat laham menyantap pancake di piringnya, "Kau suka, sayang?" tanya Harry. Ia kembali memakan potongan kecil pancake ke mulutnya.
"Enak sekali," jawab Ginny masih terus makan.
"Wow, selera makan Mom seperti kau, James. Rakus. Sampai perutnya besar begitu," kata Al melihat Ginny yang kini berdiri membersihkan meja makan. Perutnya tampak mengembung.
James menjitak kepala Al keras diikuti suara 'aw' dari mulut Al. "Mom sedang hamil, Al. Ini masih tahun 2005." Tunjukknya pada halaman depan Daily Prophet di meja. "Dan itu artinya, diperut Mom sedang ada aku," kata James yakin.
"Biar aku yang bereskan, kau duduk saja. Oh ya, tadi ada surat untukmu dari Holyhead Harpies. Aku taruh di meja dekat sofa." Kata Harry sedikit berteriak dari arah dapur. Mencoba lebih keras dari suara air dari kran cuci piring.
Ginny tampak tersenyum mendengar nama tim tempatnya bermain baru saja mengiriminya surat. James dan Al menyingkir dari dekat sofa dan duduk menghadap Ginny yang kini sudah asik membuka amplop suratnya.
"Kalau isinya permintaan ijin untuk kau main lagi, jawaban dariku masih sama seperti surat yang lalu.. NO!" Harry keluar dari dapur sambil mengancingkan kemejanya. Ia sudah menganti bajunya, siap pergi ke Kementrian.
Ginny menatapnya sambil memajukan mulutnya sebal. "Aku tahu," jawabnya lemas.
"Hanya suami bodoh yang membiarkan istrinya yang sedang hamil tujuh bulan.. untuk jadi seeker. Mengejar bola emas di atas sapu berkecepatan tinggi dengan perut yang sebesar ini," kata Harry sambil mengelus perut besar istrinya, "Kalaupun kau tidak jadi seeker dan ditunjuk jadi chaser, jawabannya juga sama. Aku tak mau istriku membawa dua beban sekaligus di tubuhnya," terang Harry cerewet. Ginny sudah membantunya memakaikan kemeja dan jas Harry.
"Baik, Mr. Potter. Ya begini kalau punya suami yang juga pemain quidditch hebat. Sudah paham bagaimana rasanya patah tulang sampai tidak sadarkan diri berhari-hari hanya karena mengejar bola kecil," gerutu Ginny mengancingkan kemeja Harry bagian atas.
Harry yang sedari tadi memandang Ginny hanya bisa tersenyum simpul, "dan begini rasanya punya istri pemain quidditch hebat dari tim besar Holyhead Harpies. Tiap ada pertandingan selalu dibuat deg-degan melihat istrinya terobang-ambing di udara dengan ketinggian ratusan kaki," timpal Harry tak mau kalah.
Itulah yang dirasakan Harry saat melihat istrinya bertanding. Apalagi beberapa bulan lalu, Ginny sempat bermain sebagai cheser di timnya. Dan saat itu Harry bahkan Ginny sendiri, sama sekali belum tahu kalau sedang mengandung.
"Untung saja kau saat itu tak jatuh," Harry merinding mengingatnya, "Nak," panggil Harry sambil mengelus perut Ginny. James menatapnya penuh perhatian, "kau harus jadi pemain quidditch hebat seperti kami, ya. Jadi seeker atau mungkin cheser. Jangan keras-keras menendang perut Mom. Kami tak pernah jadi keeper, Nak." Harry terkekeh sejenak diikuti tawa Ginny. Harry menutupnya dengan kecupan singkat di perut yang berisi calon anak pertamanya itu.
James menatapnya terharu, "aku sudah jadi cheser di Hogwarts, Dad. Kau tenang saja, sebentar lagi aku akan jadi kapten tim Gryffindor sepertimu dulu," kata James bangga mendapatkan tepukan semangat Al di punggungnya.
"Mereka sayang padamu, James."
"Mungkin hanya ini. Kau dan Lily kan belum lahir. Jadi perhatian mereka terpusat sepenuhnya padaku. Biasa, euforia calon orang tua baru," kata James masih menatap kedua orang tuanya.
"Iya, iya. Nanti aku kirim balasan ke mereka kalau aku minta cuti dulu," kata Ginny. Kedua tangannya menepuk-nepuk dada bidang Harry pelan. Harry sudah rapi dan terlihat.. gagah.
Tiba-tiba Ginny menutup mulutnya seperti merasakan sesuatu akan keluar dari mulutnya.
"Kau mau muntah? Aku pikir morning sicknessmu sudah lama hilang sejak kau hamil 3 bulan, sayang," tanya Harry keheranan.
Ginny lantas tersenyum, "iya, aku hanya bercanda. Hanya saja tad..,"
Hoekk! Dan, baju Harry yang tadi rapi kini sudah terkena noda muntahan Ginny. Di sudut lain dua anak laki-laki itu berteriak 'iyakk' melihat ibu mereka menumpahkan muntahannya di dada ayahnya yang siap pergi kerja.
"Kau mengerjai Dad, Nak?" tanya Harry dengan cengiran khasnya. Ia mengelus perut Ginny lembut. "Maaf, mungkin aku tadi kekenyangan makan," ujar Ginny lirih.
"Rupanya sejak kau di perut Mom kau sudah jahil, James," kata Al menatap kakaknya sinis.
James hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Di saat yang sama tubuh mereka berdua kembali berguncang, seperti yang mereka sebelumnya lakukan. James dan Al langsung berpegangan tangan sebelum tubuh mereka kembali hilang.
Duss!
"Al? Kita di mana sekarang?" tanya James yang mendapati sebuah pintu di depannya. Suasana agak gelap, banyak lampu yang di matikan. Ini malam hari.
"Entahlah, James. Tapi aku rasa ini di depan kamar Dad dan Mom. Ini malam. Pasti mereka sudah tidur." Jawab Al. Keduanya hanya bisa diam di tempat. Tidak tahu apa yang selanjutnya mereka lakukan.
James mengayun-ayunkan tangannya dan tak sengaja hampir membentur meja kecil di sampingnya, tapi.. tangannya menembus meja itu.
"Al, kau lupa kita ini transparan. Dan tanganku sama sekali tak bisa menyentuh apapun selain kau. Ini artinya kita bisa menembus apapun,"
Keduanya kembali menatap pintu kamar Harry dan Ginny. Sejenak mata hijau Al dan coklat James beradu. Mereka sama-sama memikirkan hal yang sama. Tangan James mengandeng tangan Al yang selanjutnya melangkahkan kakinya menembus pintu.
"Ini sudah jam lima pagi, James. Kok Dad tidur sendirian, ya?" Al rupanya melihat jam dinding di tembok kamar. James mengangguk membenarkan saat ia tahu di ranjang hanya ada Harry yang tampak lelah sedang tertidur. Ia juga melihat pergelangan tangan kanan Harry yang tersingkap selimut menampakkan balutan perban di sana.
Tidak berapa lama mereka di memandangi Harry, Al seperti mendengar suara rintihan wanita.
"James, kau mendengarnya?"
"Iya, seperti suara, Mom?"
Dan benar saja, saat James dan Al berbalik, tampak di depan mata mereka Ginny dengan masih menggunakan piama duduk di lantai membungkuk sambil menenggelamkan wajahnya di dudukan sofa kecil dekat meja rias.
"Aagghhh, sakit!" rintihnya pada perutnya yang luar biasa besar.
"Mom, kau tak apa?" Al menghampiri ibunya yang sudah bermandikan keringat. Ia lupa tubuhnya tak mampu memegang apapun.
Sama kalutnya, James coba berteriak membangunkan ayahnya yang masih tertidur. "Dad, bangun! Aku akan segera lahir. Mom sudah kesakitan di lantai. Dad! Bangunlah!" teriak James.
"Al, kita tak bisa berbuat apa-apa di sini," lanjutnya makin takut.
Ginny yang masih dengan posisinya di lantai terus mengerang kesakitan. Ia bahkan menggigit bantal sofa untuk menyalurkan rasa sakitnya itu. "Bertahanlah, sayang. Mom akan kuat untukmu," kata Ginny coba menenagkan pergerakan di perutnya. James terpaku.
"Aggghhhh, Harry!" panggil Ginny.
Namun suaranya masih terlalu pelan untuk membangunkan suaminya. Harry masih tak bergerak. Ia terlalu lelah hari ini. Penyerangan tahanan Azkaban yang kabur oleh para Auror tadi pagi bahkan membuat pergelangan tangannya terluka.
Harry akhirnya bergerak, tangan kirinya tak sengaja menyentuh tempat tidur Ginny dan mendapati tak ada tubuh istrinya itu di sana. Harry mengucek matanya dan mencari kacamata bulatnya. Benar, matanya tak salah lihat, Ginny tak ada di sampingnya.
"Harry!" panggil Ginny untuk kesekian kalinya.
Untung Harry mendengar rintihan istrinya, "Ginny, kenapa kau tak membangunkanku? Sejak kapan kau begini?" tanya Harry saat mengahmpiri istrinya.
Ginny mengatur napasnya sebelum menjawab, "pukul 12 malam tadi aku sudah merasa kontraksi. Tapi itu berlangsung sebentar. Aggghh...," Ginny kembali merasa sakit yang luar biasa.
"Aku tak tega membangunkanmu, tapi tadi sekitar pukul 4 perutku sakit sekali. Aku berniat mengambil minum tapi.. aku tak tahan," lanjut Ginny yang kini meremas piyama Harry.
"Oh Lord, Ginny. Kau masih memikirkan aku di saat seperti ini," kata Harry sudah semakin panik. Ia bahkan melupakan tangannya yang sakit dan mengendong tubuh Ginny yang semakin berat. Harry meringis menahan sakit di tangan kanannya.
Di saat Harry berapparate, James sudah siap bergandengan tangan dengan Al saat tubuh keduanya bergerak tak tentu.
Ruang putih dan khas bau ramuan. Tempat yang kini James dan Al berada.
"Ini St. Mungo. Mungkin sekarang Mom ak..,"
Suara teriakan terdengar dari arah sebuah ruangan, Al sudah menerobos salah satu pintu. "Aku ingin melihat bayimu," katanya pada James.
"Pegang tanganku, sayang," pinta Harry ada di samping Ginny yang setengah berbaring.
"Aku tak pernah melihat orang melahirkan sebelumnya, James," kata Al sesaat setelah James menyusulnya masuk. James melihat ibu dan ayahnya sedang sama-sama menahan sakit. Mata James tertuju pada tangan ibu dan ayahnya, yang terbalut perban, saling berpegangan erat.
"Dad pasti kesakitan tangannya yang terluka diremas Mom," batin James miris.
Seorang penyembuh datang sambil menginstruksikan ini-itu pada Ginny. James dan Al tak paham apa saja hanya beberapa yang mampu mereka pahami seperti perintah mengatur napas dan mengejan yang dilakukan oleh Ginny.
"Bagus, Mrs. Potter. Sedikit lagi, aku sudah bisa melihat kepalanya," kata si penyembuh.
Ginny terus mengejan sampai suara tangisan bayi pecah di ruangan itu. "Well done! Selamat Mr. dan Mrs. Potter. Putra kalian sehat dan tampan sekali," kata peyembuh langsung menelungkupkan bayi merah yang basah kuyup itu ke dada Ginny. Ada beberapa noda darah di tubuhnya.
"Waaa, kau lucu sekali, James," pekik Al kegirangan.
Ginny sudah membuka kancing atas piamanya lantas membiarkan putranya merangkak mencari sesuatu yang membuatnya tak kehausan.
"Apa tak dimandikan dulu, Madam?" tanya Harry masih dengan rasa tak percayanya. Ia baru saja menjadi ayah.
"Tak perlu, Mr. Potter. Ini akan membantu gerakan refleknya mencari ASI pertamanya." Jawab si penyembuh masih sibuk di balik selimut yang menutupi area intim Ginny. Bayi James sudah menemukan apa yang ia cari. Ginny tampak meringis menahan sesuatu saat lidah James yang kasar menyentuh area kulitnya yang sensitif. "Geli," katanya lirih.
Harry tersenyum melihat istrinya bahagia melakukan tugas keduanya setelah melahirkan, menyusui bayinya.
"Silakan dipotong sebelah sini, Mr. Potter," diserahkannya sebuah gunting steril pada Harry. Tangannya memang masih sakit, namun ia menahannya saat tangan kanannya dipersilakan memotong tali pusat James.
"Selanjutnya plasentanya, Mrs. Potter."
Sesaat kemudian, Ginny kembali mengejan singkat. Gumpalan merah darah meluncur dari jalan lahir James dan diletakkan pada sebuah wadah oleh penyembuh. "Sempurna!" katanya singkat.
James dan Al hanya bisa diam sembari pandangan mereka tak lepas dari kedua orang tuanya, sampai goncangan itu terasa kembali. Terakhir yang dapat James lihat adalah perkataan kedua orang tuanya, "selamat datang James Sirius Potter. Terima kasih sudah melengkapi kehidupan kami." Bisik Harry pada bayi James.
Ginny masih mengendongnya dengan penuh kasih sayang, "kami sangat menyayangimu, Son!" air matanya jatuh. Ia terharu.
Yups, cukup untuk chapter ke duanya. Tinggalkan review untuk kritik dan saran.
Ditunggu chapter selanjutnya, ya!
Thanks,
Anne ^_^
