Trouble

Naruto (c) Masashi Kishimoto

This fic (c) Author

Oneshot, OOC (banget!), typo(s), gaje, abal, nggak menarik. DLDR, wokeh?

.

.

.

Kali ini, sebab musabab kepulangannya yang terlambat berbeda lagi. Kushina baru sampai di kelas begitu disuruh menyalin catatan sebanyak empat papan tulis, setara dengan delapan lembar lebih halaman buku tulis. Mungkin Kushina memang sangat sial hari ini, dari teman-temannya yang berubah menyebalkan karena anak perempuan baru yang katanya cantik itu sampai sekarang ditugasi menyalin catatan yang tidak tanggung-tanggung.

Kushina menghela napas ketika catatannya baru sampai seperempat dan langsung melirik Inoichi. Sama saja, Chouza juga sibuk. Tapi, kelihatannya Fugaku sudah selesai.

"Fugaku, pinjam dulu ya! Besok pasti kukembalikan!"

Kushina sudah melesat ke pintu ketika Fugaku akan berteriak mewanti-wanti Kushina agar catatannya tidak sobek atau kusut. Fugaku memang sudah biasa menerima kenyataan jika setiap barangnya yang dipinjam Kushina tidak akan berbentuk lagi saat dikembalikan. Tapi, ia selalu susah menghindarkan barang-barangnya dari tangan Kushina yang secepat anak panah. Selalu tepat.

Maka dari itu, Fugaku hanya bisa menunduk pasrah.

Sementara itu, Kushina hampir mendekati halaman belakang sekolah, tempat sepedanya diparkir. Lapangan yang tidak seberapa luas itu sudah sepi—kosong bahkan, karena sepeda Kushina saja yang masih terparkir di situ. Gadis itu membuka kuncinya dan menuntun sepeda itu hingga keluar gerbang belakang. Sudah sepi, ia bisa langsung menaikinya dan langsung pulang ke rumah, tentu saja.

Angin sore menerpa wajah putih itu ketika Kushina menaiki sepedanya, lalu meluncur karena tanjakannya curam. Daun-daun kering terdengar bergemerisik ketika roda sepeda berputar di atasnya. Kushina menatap senja yang mulai datang. Indah sekali. Gadis itu memejamkan mata sebentar, menikmati aroma pohon-pohon yang berguguran. Dan saat ia membuka mata, ia baru menyadari ada seseorang yang berjalan pelan, sangat pelan di depannya.

Terlambat.

Kushina sudah menginjak pedal. Gadis itu pun ingat kalau remnya untuk sementara ini masih blong, karena masih diperbaiki. Tidak ada waktu untuk menghindar. Hanya menunggu apa yang akan terjadi.

—BRUAK!

Gawat, pikirnya. Gawat, benar-benar gawat. Kushina buru-buru menyetop sepedanya dengan kakinya, lalu tanpa memedulikannya lagi, sepeda itu ambruk di tanah berdaun. Ia berlari menghampiri gadis yang sedang duduk di tanah, memunguti buku-buku paket.

Tunggu, buku paket? Dia anak Konoha High School bukan? Jadi, dia anak baru? Anak yang tadi dibicarakan teman-temannya. Tiba-tiba saja, wajahnya berubah datar. Perasaan sebal yang tadi hinggap saat sahabat-sahabatnya membicarakan anak itu kini datang lagi, menjalari muka dan tubuhnya. Membuatnya ingin berbalik saat itu juga dan melupakan niat untuk menolong gadis ini. Anak ini yang membuat sahabat-sahabatnya tak lagi mempedulikannya. Haruskah ia tetap menolongnya?

"Sini biar kubantu." Tangan Kushina terulur, membantu mengumpulkan buku-buku itu dalam satu bagian.

Dengan kegiatan begitu, wajah masamnya akan tertutup meskipun gadis dihadapannya tidak berhenti menatap Kushina seperti menatap makhluk aneh dari luar angkasa. Kushina akhirnya menyentakkan kepala, menatap manik hitam milik gadis berambut hitam itu. Rambutnya hitam dan panjang. Kulitnya putih.Samar-samar suara Shikaku masuk ke indra pendengarannya. Ia merasakan wajahnya memanas, dan karena memanas itu pula, ia mulai tersenyum, dipaksakan.

"Maaf karena telah menabrakmu. T-tapi aku harus cepat-cepat. Gomen…nasai." Kata Kushina setelah berdiri, lalu membungkukkan badan dalam-dalam. Yang penting ia sudah bertanggung jawab.

Sedetik kemudian, sepeda gunung itu meluncur lagi. Meninggalkan Mikoto yang menatap kepergian teman pertamanya itu. Bahkan Mikoto saja belum mengucap terima kasih padanya.

.

.

.

Minggu. Hari paling tenang untuk semua orang; bangun sampai siang, main game seharian, hari bebas mandi, menyetel musik keras-keras, apalagi jika orang tuamu tidak ada di rumah sekarang.

Dan di hari Minggu itu juga, Kushina sudah membuka jendela balkon. Memastikan sekali lagi apa yang dilihatnya kemarin bukan hanya halusinasi saja. Anak yang ditabraknya kemarin adalah anak yang sedang menyirami bunganya di balkon seberang. Memang, ujar pikirannya. Dan anak itu pula yang membuat perhatian sahabat-sahabatnya kepadanya semakin tersita—Kushina sama sekali tidak suka diacuhkan.

Dari dulu, ialah pusat perhatian sahabat-sahabatnya. Ceritanya, omelannya, curhatannya selalu saja didengarkan oleh mereka. Kushina tidak peduli apa yang membuat mereka memperhatikannya, yang penting ia didengarkan, itu saja. Tapi sebaliknya, ia tidak suka ketika mereka memulai pembicaraan dengan topik anak perempuan lain di sekolah. Apalagi jika mereka mulai membandingkan Kushina dengan anak perempuan itu.

"Kau tahu, Chouza, aku baru saja menghajar Karin yang kemarin kau bicarakan itu. Kau bilang dia jago karate? Yang benar saja, dia menangis kemarin. Aku yakin orang tuanya ada di kantor kepala sekolah sekarang." Kushina Uzumaki datang dengan wajah polosnya.

Chouza membelalak dan tersedak keripik kentangnya. Sama dengan Shikaku, yang jatuh terduduk dari pohon saking kagetnya.

"Makanya, kalau makan itu hati-hati!" hardik Kushina sambil memberikan botol minumnya kepada Chouza.

Chouza menghabiskan air itu hingga tandas. Shikaku yang masih mengaduh sehabis jatuh berbicara, "Yang benar, Kushina? K-kau me-memukulnya…?"

Kushina tidak menjawab. Anggukan kepalanya yang mantap itu sudah menunjukkan kalau ia bangga dengan hasil kerjanya.

"A-ap-pa…?"

"Kudengar Karin masuk UKS kemarin," tambah Fugaku yang ternyata sudah berada di belakang Kushina.

"Ti-tidak m-mungkin…."

Shikaku yang shock langsung saja ambruk bersama Chouza. Anak perempuan yang kemarin mereka bicarakan… ternyata… ternyata Kushina mendengarnya. Tidak mungkin! Kushina…

"E-eeh? Shika? Kau kenapa? Chouza!?"

"HEEEEEIIIIIII!"

Yah, dan anak baru itu, barangkali, harus berhati-hati—sangat hati-hati—dengan gadis Uzumaki yang satu ini. Karena jika ia satu langkah salah dengan Kushina, ia tidak tahu bagian tubuh mana yang akan memar nantinya.

Taraaa… Kushina tidak melihat gadis hitam—rambut hitam, maksudnya—itu. Dengan kecewa plus senewen, Kushina melirik jam dinding di kamarnya. Jam setengah sembilan pagi. Pantas saja, ia telat bangun. Anak itu kelihatannya bukan gadis seperti Kushina, jadi ia tidak mungkin bangun seperti Kushina—ia sudah bangun pagi-pagi tadi.

Dengan nista, ia bangkit dan seketika teriakan ibunya menggema dari bawah.

"—TURUN SEKARANG JUGA ATAU TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU KELUAR LAGI KUSHINAAAAA!"

Gadis merah meneguk ludah dan menutup pintu sebelum suara kelontangan panci memecah suasana Minggu pagi yang hangat di rumah itu.

.

.

.

Aroma sedapnya ramen saja sudah tercium dari kejauhan. Di meja makan itu, satu mangkuk seolah menanti-nanti kedatangan Kushina dengan bersorak-sorak ala tim cheers.

"Kau tidak akan mendapat mangkuk tambahan karena kedatanganmu yang terlambat," seringai ibunya saat ia mendekatkan tangan ke mangkuk terbesar.

Kushina merengut sebal tapi tangannya terus bergerak dan menyambar sumpit di meja. Ia teringat ayahnya dan mendapati laki-laki itu lagi-lagi sedang menyesap kopi, bahkan di jam setengah sembilan pagi! Kushina tidak peduli. Secepat kilat, ia memasukkan mi itu ke dalam mulut dan ibunya mulai membuka topik baru.

"Tadi aku bertemu anak perempuan cantik itu di pasar."

"Hm?"

Hanya itu yang bisa ia katakan, mulutnya penuh dengan mi dan akan menyembur keluar jika ia mencoba berbicara.

"Ya. Rajin sekali," ibunya melirik putrinya yang bersusah payah menelan mi, "mau membantu ibunya pagi-pagi."

Kushina sepertinya (sengaja) tidak mendegar.

"Ia juga bersekolah di Konoha High School, Kushina. Apa kau tidak mengenalnya?

"Hah? Tetangga baru?" Kushina tersentak.

Ibunya berdecak kesal. "Ya, tetangga baru. Seumuranmu. Apa kau tidak mengenalnya?"

"Dia juga di Konoha High School?"

"Memangnya Ibu bilang apa tadi, Kushina."

Ia ber-oh panjang dan melanjutkan menyantap ramen. Diam-diam, pikirannya langsung teringat dengan gadis yang kemarin ia tabrak. Jangan sampai ibu tahu. Jadi… benar tetangga baru dan juga murid baru. Tapi ia belum tahu namanya.

Benaknya tiba-tiba membandingkan keadaannya dengan gadis putih seputih cat tembok itu. Gadis itu manis, anggun, rajin, dan kelihatannya, ia pintar. Sementara Kushina, ia… err—bangun kesiangan, kasar, semaunya sendiri, malas, dan yah… ia hanya ahli di bidang olahraga saja. Jauh sekali. Sangat sangat sangat berbeda.

Ah, dan satu lagi! Gadis itu benar-benar seorang perempuan!

Err, Kushina memang perempuan, dan ia yakin akan hal itu. Tapi, suatu saat, Kushina ragu apakah anak yang lebih suka bermain olahraga kasar dan menonjok orang lain tanpa alasan yang jelas itu pantas dipanggil perempuan. Mungkin itulah mengapa ibunya tidak suka ia dengan seragam tim basketnya atau ia yang sedang memakai sepatu kets dan lebih mengagumi anak-anak perempuan lain yang membantu ibunya memasak di dapur dan memakai rok.

Kushina memandang ramennya yang tinggal sedikit. Selera makannya mendadak hilang.

"Aku sudah selesai." Kushina berdiri. Di sana, di dalam mangkuk, sorak kecewa para ramen berkumandang walau Kushina sendiri tidak mendengarnya.

"Lho? Tidak habis? Biasanya kau menambah tiga mangkuk. Ramennya masih banyak kok, tenang saja."

Gadis itu menggeleng. "Sisakan buat nanti saja." Dan menjauh dari meja makan.

Sesaat kemudian, Kushina kembali dengan topi dan sneakers yang sudah tertali rapi. Ia mengenakan celana tiga perempat kesayangannya dan berjalan menuju garasi. Seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya, ia memundurkan sepedanya keluar dan saat itu, ibunya menengok dari jendela dapur.

"Mau kemana?"

"Main."

"Bereskan dulu kamarmu."

"Nanti saja, setelah aku pulang." Ibunya baru saja akan mencegah ketika putri tunggalnya sudah mengayuh pedal dan mencapai gerbang depan.

"Aku berjanji Bu!"

.

.

.

Kushina tidak memikirkan apapun setelah menyadari ia sudah keluar dari jalanan rumahnya. Ia terus menginjak pedal, membelokkan setang, walaupun ia juga tidak tahu tujuan pastinya. Ini hari Minggu. Hari bersenang-senang. Tetapi mengapa hatinya mendadak redup? Semangat yang biasanya berkobar kini semakin meredup. Tambah redup lagi ketika ia memikirkan sahabat-sahabatnya.

Kushina menggeleng-gelengkan kepala, menjernihkan pikiran. Dan ia sampai.

Menghempaskan sepedanya ke balik semak belukar, berlari kencang ke arah sebuah pohon, sampai akhirnya, ia meringkuk di atas dahan tertinggi. Daun-daun dengan gradasi indah yang menenangkan—cokelat, kuning dan merah—membuat rambutnya terkamuflase di atas sana.

Mata biru langitnya menatap pemandangan di bawah, hamparan padang rumput sejuk beserta pohon-pohon yang mencapai puncak keguguran. Di sudut paling jauh, ia melihat sekelompok anak-anak kecil tertawa-tawa riang, berkejaran satu sama lain dengan teman-temannya. Di sisi yang lainnya juga, ia melihat dua pasang remaja seumurannya sedang bergandengan tangan. Si perempuan memegang setangkai bunga dan dengan malu-malu si laki-laki mulai menggandeng tangannya.

Kushina menghela napas, berat. Sesak.

Jika sahabat-sahabatnya pergi… Apa yang harus dia lakukan? Siapa lagi yang mau berteman dengannya? Berteman dengan perempuan yang bukan perempuan? Berteman dengan tukang pukul?

Gadis itu merasa lebih baik saat angin sore menyapanya dari atas. Angin sore di sini adalah angin yang paling menenangkan. Ia tahu karena ayahnya adalah orang pertama yang mengenalkannya pada padang rumput ini. Salah satu tempat favoritnya.

Telinga Kushina menajam ketika suara-suara yang familiar menyeruak. Suara-suara itu berasal dari jalanan, dan semakin mendekat ke pohon tempatnya duduk.

"Kushina dimana ya?"

"Kata ibunya dia main."

"Main? Menurutmu kemana lagi tempat bermain Kushina?"

Kushina mencibir. Sahabat-sahabatnya di sini sekarang. Apa ia harus turun dan bermain dengan mereka? Mereka menyebalkan, memang, tapi merekalah satu-satunya teman yang ia punya.

Tidak Kushina! Jangan turun sekarang!

"Dia kan biasanya ke sini kalau sedang galau."

"Memangnya kapan Kushina galau?"

"Tidak tahu. Anak perempuan kan sering galau. Ya kan, Shikaku?"

"Mana aku tahu. Merepotkan."

"Barangkali ia sedang memikirkan si pirang itu."

Suara-suara tak berdosa itu terus mengoceh, mengoceh dan mengoceh. Jika dibiarkan, mereka akan terus melanjutkan pembicaraan hingga merembet topik yang bisa saja di luar nalar Kushina. Dan Kushina baru sadar sepedanya masih di bawah.

"Si pirang? Nami… kaze itu maksudmu?"

"Siapa lagi kalau bukan dia."

"Minato di kelasnya anak-anak jenius itu bukan?"

"Mungkin. Oh, jadi namanya Minato…"

"Memang. Kau baru tahu? Payah."

Tidak. Mereka tidak menyadari bahwa sepeda Kushina berada persis di depan mereka. Sepeda itu tertutup dedaunan, dan Kushina lebih bersyukur lagi akan hal itu.

"Yah, biasanya yang lebih update gosip-gosip terbaru itu kan Inoichi, bukan aku. Jadi jangan salahkan aku."

Kushina mengintip kurcaci-kurcaci itu lagi. Mereka belum pergi sejak tadi. Di sana ada Chouza dan Inoichi yang sedang mengobrol dengan menggebu-gebu—yang Kushina yakin topiknya adalah anak baru berwajah putih itu—dan Fugaku serta Shikaku yang bersandar pada pohon. Bagaimana ia bisa turun kalau mereka tidak pergi-pergi juga? rutuknya dalam hati. Langit masih merah, tapi ia yakin ini sudah hampir jam makan malam. Cepatlah pergi… Ayo…. Ia terlalu malu bertemu dengan sahabatnya.

Sialnya, Kushina lupa kalau ia memakai topi. Dan alhasil, benda itu hampir saja jatuh saat angin besar lewat dihadapan Kushina. Ia berhasil menangkapnya, tapi hal itulah yang membuat keseimbangannya goyah dan… ia berteriak.

"Bukannya k—"

"Hei, apa itu?"

Kushina menggigit bibir keras-keras. Mengutuk mulut toa-nya yang tidak bisa berhenti menjerit dalam situasi seperti ini. Mereka pasti mendengarnya. Pasti. Tidak mungkin tidak. Ia menutup mulut dengan kedua tangan rapat-rapat. Percuma saja, pasti terlambat.

"Siapa itu?"

"Hei, siapa di sana?"

"Apa itu kau, Kushina?"

"Kushina?"

"Masa itu Kushina?"

Jangan mendekat. Jangan mendekat. Kumohon, jangan… Ia tidak bisa banyak berharap saat sahabat-sahabatnya mulai memusatkan perhatian ke atas pohon, walaupun Kushina tidak tahu, mereka tidak dapat melihat sosok Kushina dalam dedaunan yang mulai gugur.

Kushina terus menutup mulut rombengnya hingga tidak bisa bernapas. Takut kalau-kalau tanpa sepengetahuannya mulut itu mengeluarkan pernyataan atau jeritan bodoh yang aneh.

"Apa itu Kushina?" itu suara Inoichi.

Gadis itu menggeleng-geleng di balik dedaunan. "Bukan! Ini bukan Kushina! Jangan ke sini! Pergilah! PERGIIII!"

"Kami tahu itu kau, Bodoh."

Tamat. Tamatlah. Itu suara Fugaku. Masalah paling besar yang Kushina pernah temui adalah Fugaku ada dalam saat-saat seperti ini. Fugaku adalah kunci dari semua masalah, sekaligus masalahnya.

Inoichi dan Chouza berpandangan persis orang-orang yang tidak tahu apapun, sementara Shikaku cukup menguap lebar-lebar sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.

"Kami tahu itu kau, Kushina. Cepatlah turun. Kau tidak pernah merasakan sakit ya?"

Fugaku mendengus. Inoichi mendongak ke atas. Jelas Inoichi tidak dapat menemukan Kushina di sana—yang dilihatnya hanya ribuan daun berwarna merah, cokelat dan kuning serta dahan pohon yang warnanya cokelat juga, jadi bukan tidak mungkin Inoichi sempat mengernyitkan dahi.

Shikaku membuang muka lagi dan berkata, "Apa yang lakukan di sana, heh? Kau akan menunggu sampai Minato menjemputmu? Kurasa kau harus…"

Kushina, di atas. Yang sekarang kesal, marah, kaget, gugup, khawatir, dan berbagai macam persepsi semrawut di otaknya—berusaha keras menutupi dirinya di daun-daun yang jelas-jelas tak membantu, karena teman-temannya sudah di sini sekarang dan pekerjaan selanjutnya adalah turun dan pulang dan mulai berhenti memikirkan gadis-putih-anak-baru tersebut. Tapi, Kushina masih bertahan.

Sebelum cabang pohon serupa sulur yang panjang mencekat kakinya, saat ia berusaha mengangkat kaki yang satunya lagi.

"Kau harus—"

Perkataan Shikaku terputus. Kushina menjerit—lagi.

.

.

.

"Memangnya kau mau ngapain?"

Gadis merah berdarah tidak menjawab pertanyaan Chouza. Sudah tiga menit sejak cabang yang kuat melilit kedua kakinya membuatnya tergantung terbalik. Sekitar dua meter dari tanah. Cukup sakit jika ia memberontak lalu melepaskan diri. Dan dihadapannya, sahabat-sahabatnya seperti tidak berniat untuk menolongnya. Chouza dan Inoichi baru saja akan memanjat pohon, tapi Shikaku menahan mereka.

Kushina akhirnya menunjuk sembarang arah—ke atas. Dalam keadaan menentang gravitasi begini, terlalu susah untuk sekedar menunjuk ke atas. Fugaku dan yang lain mengikuti tangan Kushina. Melihat benda yang ditunjuk: daun merah darah diujung tangkai teratas. Paling merah diantara yang lainnya.

"Tak kusangka kau terobsesi juga pada rambutmu," seringai Shikaku. Semakin tertawa ketika Kushina melotot dan mengacungkan kepalan tangan dengan posisi terbalik. Ekspresi Kushina terlihat seperti anak kecil.

"Kau mau aku yang mengambilkannya atau harus kupanggilkan Minato dulu?" Kali ini bocah berambut nanas itu benar-benar tergelak, sehingga Fugaku harus memukul punggungnya dulu agar bisa berhenti.

Kushina merengut. Ia tidak mau bicara—bukan, ia tidak bisa bicara. Tepatnya, malas bicara. Entah kenapa ia malas meladeni Shikaku hari ini. Kakinya sakit, kepalanya pusing, dan sekarang, rambut panjangnya hampir sama seperti tirai merah yang menjutai dari dahan yang tinggi sampai tanah.

"Kau masih waras kan, Shina?" tanya Inoichi dari bawah. Gadis itu bisa melihat sosok sahabat pirangnya walau dengan kepala di bawah dan kaki di atas.

Tapi Kushina tetap bungkam.

"Hei, jawab aku! Kau tidak perlu susah-susah naik ke sana dan berpura-pura tidak bisa turun agar Minato mau menjemputmu," ujar Shikaku. "Aku bisa memanggilnya kok, dan kau—"

"Diamlah ttebane!"

Shikaku diam. Kushina melihat Chouza melangkah ke pohon dan bersiap-siap mengangkat kaki ke batang pohon yang licin ketika suara Fugaku terdengar.

"Aku pulang." Katanya. Kemudian terdengar langkah kaki yang menjauh.

"Aku ikut."

Tanpa disangka, Shikaku ikut berbalik dan menyamai langkah Fugaku. Kushina hanya bisa ternganga, juga berharap agar Shikaku tidak akan bilang macam-macam kepada Minato Namikaze itu.

"Jangan macam-macam Shika." Shikaku menoleh dan menyeringai.

"Memangnya kenapa?" balasnya.

"Aku bersumpah akan menghajarmu jika kau berkata macam-macam tentangku kepada…" kata-kata Kushina terhenti. Entah kenapa rasanya aneh ketika akan mengucapkan nama itu.

"Minato Namikaze, bukan? Tenang, aku akan bilang kau suka kepadanya. Bukan begitu, Kushina Uzumaki? Aku tahu kok."

"Tunggu! Shikaku!" Kushina tergagap. "H-HEI!"

"Jaaa Kushina!"

Lalu Shikaku menghilang setelah berbelok dengan sangat cepat di tikungan. Gadis itu sebenarnya ingin berontak dan mengacungkan tinjunya, seperti yang biasa ia lakukan kepada berandalan-berandalan yang mengejeknya. Tapi, ia sadar, semakin ia bergerak, semakin sakit kakinya, dan ia bersumpah akan membuat Shikaku menutup mulut sialannya itu besok… dan… dan… Dan apa ya?

"Inoichi! Bantu aku membuka ikatan ini! Jangan diam saja!"

Seakan baru tersadar dalam alam tidur, Kushina melihat ke atas, ke atas kakinya yang posisinya terbalik dan mendapati Chouza sudah berdiri di dahan. Sejak kapan? Sulit percaya kalau badan besar itu tidak menghalangi Chouza memanjat.

Inoichi tergopoh menyusul Chouza dan memastikan posisi Chouza dulu sebelum memeluk batang pohon.

"Tunggu aku," ujarnya.

Dan keduanya berhasil di atas, sedang bahu-membahu membuka lilitan sulur panjang serupa tali tambang yang melilit kaki Kushina.

"Apa kau percaya dengan kata-kata Shikaku, Kushina?" tanya Chouza sambil memotong beberapa sulur.

Kushina termenung sejenak. "Tidak. Untuk apa harus percaya?"

"Tapi kau kelihatan sangat percaya," komentar Inoichi.

Chouza memandang Inoichi sebentar. "Kalau kau tidak percaya, kau tidak perlu mencak-mencak seperti tadi kan."

Kali ini, Kushina yang diam. Otaknya mencerna yang dikatakan Chouza, dan memasangkannya pada kejadian beberapa menit lalu. Ya, jika ia tidak percaya sama sekali, buat apa ia mencak-mencak dan bersumpah akan menghajar Shikaku? Tapi, dirinya khawatir! Bagaimana kalau Shikaku benar-benar mengadukannya kepada Namikaze itu? Mau ditaruh di mana mukanya nanti? Apa reaksi Namikaze itu nanti?

Kushina sibuk berpikir sampai-sampai ia tidak mendengar Inoichi menjerit kepadanya.

"Kushina! Sudah selesai!"

"Apa? Sudah selesai? Cep—UWAAAA!"

"Tadi kan sudah kubilang pegang dahan ini kalau sudah selesai," sungut Inoichi.

.

.

.

Gadis dengan rambut menyala bagai api masuk ke kelas dengan wajah dan semangat yang sangat bertolak belakang. Dua kali terjatuh dari pohon yang tidak pendek membuatnya hampir remuk ketika sampai rumah, itupun sudah dengan bantuan Chouza dan Inoichi, jika tidak, ia pasti sudah roboh di tengah jalan. Untungnya juga, ibunya merasa tidak ada kejadian "mengesankan" yang menimpa putrinya, jadinya ia tidak curiga. Tapi sialnya, kalau bukan karena omelan ibunya, ia berharap akan bolos saja hari ini.

Bak manusia tulang dan kulit tanpa semangat, ia menggeletakkan tasnya di meja. Dan duduk tanpa selera. Hatinya sudah berniat dari rumah, akan menghajar Shikaku jika ia menjumpai rambut jabrik nanas itu, tetapi, badannya tidak mau diajak kompromi.

Melihat yang duduk di sebelahnya bukan manusia berambut gelap—Fugaku, Kushina bagai tersengat listrik ribuan volt, matanya yang sendu mendadak membulat.

Memasang tampang tak berdosa, Shikaku tersenyum semanis mungkin kepada Kushina. Menatap sahabat perempuannya dengan binar bahagia.

"Bagaimana Kushina? Apa kau sudah menerimanya?"

Sementara Kushina tergeragap. Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.

"A-apa? Menerima apa?" Otak Kushina yang letih dipaksa bekerja lagi, mengingat-ingat hal apa saja yang perlu diterimanya.

"Menerima cinta Minato," senyum Shikaku terkembang lagi. "Bukankah dia ke rumahmu kemarin?"

"Oh, bodoh."

Kushina membuang muka. Ia rasa tenaganya benar-benar terbuang percuma gara-gara manusia nanas satu ini, jadi ketika ia membuka mata lagi, ia berharap wajah itu akan menghilang dan Fugaku akan segera datang.

Shikaku… pasti salah minum obat.

Juga over dosis.

Pasti.

.

.

.

To be continued?