Disclaimer: Tokyo Ghoul & Tokyo Ghoul :Re by Ishida Sui. Cover is not ours.

Warning: Canon setting, still IC or OC depends on prompt, implicit adult scene for certain prompt.

Full Summary: Kata orang, cinta itu manis, bahagia, indah, hangat, penuh kekuatan, dan sulit dipercaya. Namun tidak hanya itu. Kaneki menjadi saksi bahwa cinta bisa juga penuh dengan kekerasan hati, gairah, kecemburuan, dan kemarahan sehingga salah satu pelakunya kehilangan respek—membuat sang pujaan menunggu kata maaf dari rasa berdosa. Namun itu semua bukan kegagalan. Diawali dari undangan kencan, secangkir kopi, dan gantungan kelinci. Akhirnya Kaneki berhasil memberikan bisikan mesra di telinga sang pujaan hati, "Menikahlah denganku, Touka."


.

Complete Puzzle

~duapuluh hal yang menghubungkan Kaneki Ken dan Kirishima Touka~

[bagian kedua]

.


11# unbelievable (ii)

.

Touka berjalan beriringan dengan Yoriko. Mereka baru saja pulang dari salah satu toko baju. Sebenarnya tempat itu adalah pilihan terakhir yang diinginkan Touka untuk menghabiskan masa karena Yoriko—sahabatnya—pagi-pagi sekali datang ke apartmennya untuk mengajaknya pergi, akhirnya Touka hanya bisa menurutinya.

"Touka-chan, bagaimana perkembangan dengan pacarmu?" pertanyaan mendadak Yoriko sukses menghentikan langkah Touka.

"H-hah?"

"Pacarmu, yang berambut hitam itu."

Ah, Kaneki ternyata. Touka hanya bisa tersenyum menanggapinya. Senyum yang terkesan dipaksakan.

"Touka-chan, kau baik-baik saja?" tanya Yoriko khawatir.

Touka mengangguk, "Akhir-akhir ini aku tidak bertemu dengannya. Mungkin dia belajar untuk mempersiapkan diri masuk universitas."

"Sou ka, Touka-chan juga harus bisa memasuki universitas yang sama dengan pacarmu. Ganbatte ne!"

Sekali lagi Touka tersenyum menanggapinya. Mereka berpisah saat menemukan persimpangan jalan, Yoriko melambaikan tangannya pada Touka yang disambut lambaian juga dari gadis berambut biru gelap itu. Touka melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Ia mengeratkan syalnya saat udara dingin mulai menusuk kulitnya. Langkah kakinya pun berhenti saat tiba di sebuah kafe—Anteiku.

Sampai sekarang masih sulit dipercaya. Kaneki Ken, pemuda setengah ghoul itu, pergi meninggalkan Anteiku. Touka tidak tahu apa yang membuatnya pergi meninggalkan Anteiku. Tapi, Touka percaya, gadis itu percaya, suatu saat Kami-sama akan mempertemukan mereka kembali. Dan di saat itu, Touka akan memastikan Kaneki Ken tidak akan pergi kemana-mana.

.


12# power

.

Kaneki tahu, ia butuh lebih kuat, jauh lebih kuat dari Kaneki yang sebelumnya. Ia berpikir menjadi lemah akan membawa kesulitan bagi yang lain, dan karena ia ingin Touka tak perlu melindunginya lagi.
Mungkin, penyiksaan oleh Yamori yang pemuda itu sempat alami sebelumnya—telah membuka mata batinnya, bahwa untuk menjadi baik tidak selalu terus menjadi pihak yang menerima rasa sakit.

Hal itu kemudian diakuinya menjadi sesuatu yang konyol.

Mengapa ia tidak mengambil pilihan lain saja? Yakni, mencoba menerima kekuatan Rize sehingga ia akan menjadi kuat, dengan menjadi kuat maka ia akan dapat melawan pihak yang jahat, dan dengan menjadi kuat maka ia akan dapat melindungi Touka. Bukankah itu sebuah pilihan yang benar?

Dengan kekuatannya, ia akan tidak akan perlu lagi menjadi orang yang selalu Touka lindungi. Hei, Kaneki laki-laki, tentu akan dikemanakan harga dirinya jika seorang gadislah yang terus-terusan melindunginya dari marabahaya.

"Biarkan aku yang kini melindungimu dengan kekuatanku, Touka-chan."

Dan sang gadis yang tengah berada dalam gendongannya itu, hanya mampu tertegun.

.


13# rabbit

.

Ya, awalnya Kaneki terheran, mengapa dari semua binatang, Touka harus memilih kelinci sebagai identitas penyamarannya terhadap para Merpati. Maksud Kaneki, bukannya kelinci adalah binatang jinak dan lemah? Kenapa bukan hewan lain yang bisa melambangkan kekuatan, seperti Elang yang dipakai oleh ghoul pemimpin Aogiri?

Namun kini Kaneki paham. Ia mengerti. Kelinci adalah binatang yang jinak dan tidak berbahaya—seperti itulah Touka, bahkan ketika ia tengah marah atau mengumpat kesal, Kaneki alih-alih takut, ia justru selalu tertawa.

Meski demikian, kelinci adalah hewan yang bisa berubah kasar dan agresif ketika mendapat ancaman-demikianlah Touka, yang pernah membuat Kaneki tertegun ketika gadis itu menghajar habis-habisan Tsukiyama hanya untuk melindunginya, atau ketika menghajar Merpati tua yang mencoba melukai Hinami kecil mereka.

Dan terlebih, pandangan Kaneki melembut tatkala mengingat iris jelaga itu. Senyum itu. Suara itu.

Diambilnya gantungan berbentuk kelinci sebelum ia berjalan menuju kasir. "Hanya ini," ujarnya ketika hendak membayar.

... Entah sejak kapan, Touka membuatnya merasa seperti kelinci yang bisa saja mati jika terlalu lama terpisah dari pasangannya.

.


14# kopi

.

Kaneki Ken hanya seorang pemuda biasa yang menyukai kopi. Yah kopi ... kopi yang setiap hari disuguhkan oleh gadis cantik berambut biru gelap—pelayan salah satu kafe yang sering dikunjunginya di kala senggang.

Kaneki menyeruput kopi hitamnya sembari melihat gadis berambut pendek yang tengah melayani pelanggan lain. Semburat merah tipis menghiasi pipi Kaneki Ken saat melihat senyum bak malaikat gadis tersebut. Touka namanya.

"Kau menyukainya ya, eh Kaneki?"

Hampir aja Kaneki menyeburkan kopi yang ada di dalam mulutnya. Dia hampir lupa, kalau dia tidak sendiri. Hide—sahabatnya—ada bersamanya saat ini.

"A-apa yang kau bicarakan, Hide?"

"Jangan mengelak, wajahmu menunjukkannya dengan jelas," ujar Hide sambil menyeringai. Kaneki Ken hanya bisa terdiam, sahabatnya ini memang yang paling tahu dirinya.

"Tunggu apa lagi, ajak dia kencan!"

"Apa?!" teriakan terkejut Kaneki menginterupsi kegiatan pelanggan yang lain termasuk gadis bernama Touka itu.

Dengan anggun Touka menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Touka dengan ramah.
Kaneki panik—salah tingkah.

"Iie ... sahabatku ini meminta nomor teleponmu, Touka-chan."

Bohong! Hide bohong! Sialan. Kaneki tidak tahu lagi semerah apa wajahnya.

"Sou, ini nomorku." Touka mencatat nomor ponselnya di sebuah kertas kecil. Kaneki tercengang, tidak menyangka akan diberikan semudah ini.

"Kalau tidak ada lagi, saya permisi," ujar Touka lembut.

Kaneki tidak tahu, saat Touka membalikkan badannya, wajah manis itu pun memerah dengan hebat.

.


15# angry

.

Sesungguhnya ada sebuah perasaan berkecamuk dalam diri Kaneki ketika melihat gadis itu diserang sang adik. Bagaimana mungkin? Ayato tega menyerang dan tak segan melukai kakaknya sendiri—satu-satunya saudari yang dimilikinya itu. Kaneki pun tak mengerti dengan jalan pikiran Ayato. Yang Kaneki tahu, ia sesungguhnya geram saat melihat Touka diserang.

Manusia setengah ghoul itu rasanya ingin sekali meninju Ayato dan memukulinya hingga pemuda serampangan itu terjatuh, tertatih menahan nyeri—supaya Ayato menyadari bahwa menyerang kakaknya sendiri adalah perbuatan keliru.

Namun, nyatanya Kaneki tak sanggup.

Semarah-marahnya Kaneki Ken, ia tak akan pernah sanggup melukai Ayato, adik dari gadis yang dicintainya. Karena baginya, melukai Ayato sama dengan secara tidak langsung melukai Touka. Dilematis memang.

.


16# hangat

.

Perapian bukanlah hal yang asing bagi Touka. Saat ia kecil, ia suka sekali menghabiskan banyak malam musim dingin di depan perapian bersama dengan ayah, ibu, dan adik tunggalnya. Api yang tampak meliuk memancarkan kehangatan yang sangat ia suka dan menyelamatkannya dari rasa beku musim dingin. Namun kini, saat ia berusia enambelas tahun, ia mengerti definisi lain dari kehangatan. Bukan hanya dari perapian. Namun kehangatan yang berbeda, jauh lebih nyaman, ketika kedua mata Kaneki menatap dalam-dalam dua iris jelaganya.

Kopi adalah minuman yang paling ia suka. Cairan itu mengguyur melalui tenggorokannya dan memberi kenyamanan dalam setiap tetes yang ia telan. Harumnya saja sudah demikian menggoda, apalagi jika ia meminumnya. Tiap ia membutuhkan sesuatu untuk mengusir rasa beku dan dingin, kopilah yang akan selalu Touka butuhkan.

Namun sekarang tidak. Ia cukup meminta Kaneki Ken untuk datang ke apartemennya, menginap, duduk di sofa berbalut selimut berdua, dan menikmati tayangan TV sembari menyandarkan kepalanya di dada itu. Hanya dengan demikian, Touka bisa mengusir rasa dingin jauh lebih baik ketimbang dengan sekedar meminum kopinya.

Matahari adalah alasan Touka menyukai musim panas. Terbebas dari bekunya musim gugur dan ìa bisa melihat dunia seolah kembali hidup. Meski tak banyak yang tahu, namun gadis itu suka mendongakkan kepala dan menengadahkan wajahnya. Memejamkan mata, dan menikmati sentuhan sinar mentari yang terasa begitu hangat di kulitnya. Itu dulu. Karena kini bahkan dalam musim dingin yang paling beku pun, ia bisa merasakan kehangatan yang luar biasa. Menggelora—di setiap sentuhan jemari Kaneki di tubuhnya, setiap kecupan yang bagaikan jejak percikan api di tiap porinya, dan bisikan di telinganya tiap kali pemuda itu berkata...

''Aku mencintaimu, Touka."

.


17# jealous

.

Touka tidak mengerti apa yang dirasakannya saat tidak sengaja ia melewati kamar Kaneki dan mendengarnya menyebutkan nama seorang gadis dalam tidurnya.

"Rize..." Begitulah Kaneki menyebut namanya.

Kesal, sedih, marah semuanya bercampur jadi satu. Touka tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Touka bukannya tidak tahu siapa Rize. Rize adalah cinta pertama Kaneki. Wanita yang membuat Kaneki menjadi manusia setengah ghoul. Dan ternyata setelah semua yang terjadi, Kaneki belum bisa melupakan wanita itu.

Touka mengepalkan tangannya dan meninju kaca kamar mandi yang berada di depannya hingga pecah. Sama dengan kondisi hatinya yang pecah berkeping. Touka cemburu. Dari sekian banyak hal yang ia lakukan bersama pemuda setengah ghoul itu, kenapa tidak juga dapat menghapuskan perasaan Kaneki terhadap wanita itu?

Touka meremas baju di bagian depan dadanya. Sakit sekali rasanya. Dia bukan gadis yang cengeng, tapi jika itu menyangkut pemuda bernama Kaneki Ken, terkadang logikanya terabaikan. Lelah dengan segala perasaannya yang berkecamuk, Touka tertidur di kamar mandi.

Kaneki Ken bertugas membersihkan toilet pagi ini dan matanya membulat lebar saat melihat seorang gadis yang ia kenal tertidur di lantai kamar mandi.

"Touka-chan..." dengan sigap Kaneki menggendong Touka ala bridal style. Lalu membawanya ke ruang tengah kafe dan menidurkan tubuh Touka di sofa. Ketika tidak sengaja Kaneki melihat tiga kancing baju Touka terbuka dan menampakkan bagian tubuhnya yang tersembunyi, ia memalingkan wajahnya yang sudah terlihat sangat memerah.

Pemuda itu berpaling—membelakangi Touka yang masih terlelap. Menghela nafas pelan, Kaneki pun mulai membuka suaranya.

"Touka-chan, tadi malam aku bermimpi. Rize ... aku memimpikannya," sejenak Kaneki menghentikan ceritanya, lalu kemudian melanjutkan, "aku tahu aku lemah, Touka-chan. Jadi aku meminjam kekuatan darinya. Kekuatan untuk bisa melindungi Anteiku. Kekuatan untuk melindungi Touka-chan."

Kaneki tersenyum saat menceritakannya. Kemudian ia pergi meninggalkan Touka yang masih tertidur, setelah sebelumnya mengucapkan, "Mimpi indah, Touka-chan."

Touka tersenyum dalam tidurnya. Entah apa yang membuatnya tersenyum. Tapi, sepertinya ia sedang bermimpi indah.

.


18# respect

.

"Touka-chan, aku ... aku mencintaimu!" Kaneki menggeleng frustrasi. "Arghhh, apa yang harus aku katakan?!"

Sudah lebih dari satu jam Kaneki berdiri di depan cermin, melatih dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya pada sang pujaan hati. Namun hasilnya tidak memuaskannya. Kalimat pernyataan cintanya terkesan terlalu mainstream. Padahal, ia ingin kalimat yang nanti diucapkannya pada Touka adalah kalimat yang tidak biasa, yang membuat Touka terus teringat sepanjang hidupnya.

Jarum jam dinding berdetak dengan saat kencang, seolah-olah mengejek wajah frustrasi Kaneki. Tik tok tik tok.

"Apa yang harus kulakukan?" Kaneki mencengkeram rambutnya.

Tiba-tiba perkataan Hide muncul kembali di ingatannya. "Tak perlu ucapan, cukup tindakan!" Kaneki tersenyum. Dia memejamkan kedua matanya dengan erat. Muncul bayangan dirinya dan Touka yang sedang berduaan di taman penuh bunga. Tanpa ragu Kaneki memeluk erat Touka. Setelah pelukannya terlepas, Touka memejamkan kedua bunga, semilir angin yang menyejukkan, ditambah suasana yang mendukung, Kaneki pun memberanikan diri untuk mencium Touka.

Touka yang asli sedang memandang Kaneki dengan tatapan aneh. Touka melihat Kaneki sedang bercermin, menutup matanya, lalu memajukan bibirnya sendiri ke arah cermin.

Kaneki tidak pernah tahu kalau dia harus bersiap-siap kehilangan respek dari gadis yang disukainya.

.


19# sorry

.

Kaneki Ken mulai sekarang resmi menjadi anggota Aoigiri. Meninggalkan Anteiku, meninggalkan orang-orang yang sudah dianggapnya keluarga adalah pilihan yang sulit baginya. Tapi, dia punya tujuan khusus di Aogiri.

Dan untuk masuk sebagai anggotanya, meninggalkan Anteiku adalah sebuah bayaran yang sangat mahal.

"Hei! One-eyed-patch! Mulai sekarang kau adalah partner-ku!" ujar seorang pemuda berambut biru gelap—Ayato.

Ah ... mirip. Pemuda di hadapannya ini mirip sekali dengan gadis yang entah sejak kapan sudah menempati tempat yang khusus dihatinya.

"Touka-chan..." bisiknya lirih.

Hari ini dia akan menjalani misi pertamanya. Tidak tahu sampai kapan dia akan berada di Aogiri, tapi yang pasti sampai tujuannya tercapai. Kaneki mendongakan kepalanya keatas, bintang bersinar terang pada malam ini. Sama dengan saat itu, saat ia meninggalkan Anteiku, saat ia meninggalkan Touka.

"Maaf, Touka-chan..."

Untuk saat ini, biarlah Kaneki Ken menjadi alat pembunuh nomor satu, tapi ... suatu saat dimana semuanya berakhir, dia akan kembali ke Anteiku. Kembali pada gadis berambut biru gelap itu.

Pasti.

.


20# whisper

.

Setiap mereka melakukannya, hal yang paling membuat Touka merasa begitu terlena adalah bisikan yang terucap oleh Kaneki. Sentuhannya memang membuat sekujur kulitnya serasa tersengat api. Cumbuannya memang membuatnya seakan tak peduli pada apapun lagi.

Namun, ketika pemuda itu mulai membuka mulut dan menggumamkan namanya di antara deru napasnya yang memburu, Touka merasa telah terhempaskan ke awang-awang indah tak bertepi.

"Touka ... Touka."

Namanya terbisikkan seiring dengan kereta cinta yang masih mereka kendarai dengan cepat. Napas pemuda itu memburu, tubuh berbasuh peluh, namun gerakannya tak sedikit pun melambat.

"Touka ... Touka," bisiknya berulang bagai menghapal mantera. Dalam, hangat, seakan untuk hati Touka langsunglah Kaneki berucap, agar hanya gadis itu yang mendengar—bukan yang lainnya.

Touka ingin menjawab. Ia ingin membalas. Namun ia tahan, karena ia ingin mendengar bisikan itu lagi dan lagi tanpa adanya suara gangguan. Cukup deritan ranjang saja yang menyela perlahan.

Namun, di hari itu, di waktu dini hari pertengahan musim semi, ketika peluh dan deru napas menjadi sisa puncak kenikmatan yang teraih, Kaneki membisikkan kata terindah yang pernah Touka dengar. Bisikan terhangat yang pernah ia ucapkan. Bisikan lirih, namun yang paling mampu menyentuh nurani Touka dari semua bisikan yang telah pemuda itu berikan padanya.

"Menikahlah denganku, Touka."

.

.

.

[prompt 11-20 completed]

.end.


A/N: Akhirnya selesai~ 20/20 drabble yang kami buat dengan penuh kehebohan dan kerempongan di FB selama dua hari, mungkin agak susah ya menebak author siapa membuat prompt yang mana :D karena memang tidak urut dan random, tapi semoga bisa terhibur~. Meski yang ngedit dan publish adalah saya tapi fic ini milik kami berempat *kecup Ageha Hanazawa, Ay, & yukeh*, ide prompt kami pikirkan bersama, judul dibuat yukeh, cover fic dicari Ageha, dan summary dibuat Ay :)

Terimakasih ya udah baca~ kalau sempat silakan cek fic mereka bertiga, bagus-bagus lho XD.

Jangan lupa review dan tetap cintai KaneTouka~

Salam,

Yori \(^o^)/