Chapter 2
Sehun menggeliat pelan saat merasakan hangat yang asing namun menyenangkan. Tidak berniat untuk bangun. Tapi semakin merapatkan tubuhnya pada sumber kehangatan itu.
Kepalanya masih sangat pusing, badannya terasa remuk.
Ia masih ingin tidur untuk beberapa jam kedepan di kasur empuk miliknya ini. Tapi rasa kering pada tenggorokannya sangat mengganggu.
Pantatnya terasa kebas dan perih. Apakah ia baru saja jatuh ?
Matanya di paksa terbuka. Rasa kantuknya ternyata kalah dengan rasa haus.
Ia mengerjab beberapa kali untuk menghilangkan pusing. Menyapu pandangan ke sekeliling kamar. Ini bukan desain kamar miliknya.
Sehun terbangun dalam dekapan seseorang yang asing. Ia terkejut saat menyadari tubuh mereka yang sama-sama telanjang. Ia mengintip di balik selimut. Benar telanjang. "Menyingkir kau, brengsek!" Sehun menendang tubuh lelaki tanned itu hingga tersungkur ke lantai. Berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Terus mengais-ngais kain tebal itu agar dapat membalut tubuhnya dengan sempurna.
"Sial, sial." Sehun masih sangat terkejut dengan kondisinya saat ini.
"Bang-" Kai menahan umpatannya di udara saat melihat lelaki putih itu sibuk dan panik menutupi matanya. Punggungnya masih sangat sakit karena terjatuh dari atas ranjang. Tapi yang lebih menyakitkan adalah menghadapi kenyataan bahwa ia kini sedang telanjang juga.
"K-kenapa.. Yak yak yak ! Kenapa aku telanjang ? Kenapa kau telanjang ?"
"Pakai bajumu sialan ! Kau menodai mataku bodoh." Sehun sedikit berteriak tanpa membuka matanya. Kai menyambar kain sprei untuk menutup tubuhnya.
"Kau siapa ?" "Kau siapa ?" 2 lelaki itu berbicara serempak.
"Kenapa kita bisa seperti ini ? Namaku Kim Jongin, panggil saja Kai."
"Namaku O-oh Sehun.. Apa semalam kita mabuk ?" Kai hanya mengangguk, tapi sungguh tidak bisa mengingat apapun setelahnya. Ingatannya hanya sampai pada saat dirinya menyeret kursi Sehun.
"A-apa… Kita…" Sehun menggigit bibirnya khawatir karena ini adalah pengalaman pertamanya tidur telanjang dengan lelaki lain. Ingatkan jika dia adalah si lurus.
"Aku tidak ingat apapun Oh Sehun. Berhenti bertanya, aku juga pusing. Kau lupa telah menendangku sampai jatuh tersungkur ?" si Kim sibuk mengelus punggung hingga pantatnya setelah bangkit.
"Tolong yakinkan aku jika kita tidak melakukan apapun." raut Sehun mulai berubah sendu. Takut-takut kemungkinan itu memang terjadi.
"Aku tidak tau.. Semalam kita mabuk berat. Dan siapa yang memindahkan kita kesini ?"
"Aaahhhh… Sakiiitthh…" Sekelebat suara itu menyusup masuk ke dalam otaknya. Itu seperti suaranya. Tapi kapan ia pernah mendesah seperti itu ? Sehun menggeleng-geleng tanpa luput dari perhatian Kai.
"Apa kau mengingat sesuatu ?" Sehun bertambah pening saat melihat noda darah yang terlihat banyak namun sudah mengering. Menempel rapi pada kain seprei putih yang sedang digunakan Kai untuk menutupi badannya.
"Kai… Kau tidak mengingat apapun ?" Kai menggeleng lagi.
"I-itu darah apa ?"
-KH-
Dua orang yang masih tenggelam dalam pikirannya itu menciptakan suasana sunyi. Masih sama-sama mencari ingatan yang mungkin tersisa, tapi sia-sia.
"Jika memang itu terjadi, lantas siapa yang menusuk dan ditusuk ?" Sehun tidak main-main jika sekarang ia sangat frustasi. Melebihi rasa frustasinya saat mendengar dari mulut Baekhyun bahwa dia memiliki rahim.
"Kau gila ya ? Aku tidak pernah bercinta dengan lelaki sebelumnya."
"KAU FIKIR AKU PERNAH ?!" Sehun berteriak saat Kai melontarkan nada ragu.
Lagi, mereka tenggelam dalam keterdiaman sebelum Sehun memilih bangkit dan berteriak kalap "ARGGH !" Kai yang panik reflek berlari meninggalkan kain penutupnya. Ia telanjang.
"Kau kenapa Sehun ?"
"Pantat ku, pantat ku... perih, sakit, nyeri. Siaaaallll ! Arrggghhh."
"Kenapa lagi ?!"
"Pakai bajumu Kai !" Sehun hampir menangis saat merasakan pantatnya yang mungkin saja sudah sobek. Tapi kenapa ?
"Sehun…" Kai urung menolong Sehun untuk bangkit. Urung juga mengambil kain penutupnya yang jatuh.
"Sepertinya aku tau siapa yang ditusuk dan menusuk disini."
"Huh ? J-jadi maksudmu… Kita memang…" melihat anggukan Kai, Sehun mendadak menjadi lemas.
"Sehun kau menangis ?" tidak perlu jawaban, karena kenyataannya Sehun memang menangis dan menjatuhkan dirinya ke lantai.
"Tidak usah dijawab. Aku sudah tau jawabannya dari pantatku."
-KH-
Kai memandang iba dan merasa bersalah. Untuk pertama kalinya ia menyesal karena mabuk.
"Bisakah kita lupakan saja, Kai ?" Kai menghampiri Sehun. Memungut kemejanya yang tercecer di lantai. Kemeja berwarna biru muda itu di pasangkan pada tubuh putih Sehun yang telanjang.
"Maafkan aku. Aku tidak berniat melupakan ini, aku memang tidak ingat apapun. Maaf." Kai berbicara tanpa meninggalkan kegiatannya memakaikan Sehun kemeja miliknya. Mengaitkan satu per satu kancingnya. Memandangi wajah manis Sehun yang sedikit sembab.
"Tak apa.." Sehun bangkit perlahan di bantu Kai.
Mereka berdua sama-sama canggung setelah mengetahui fakta bahwa mereka sudah melakukan hal yang melewati batas.
Sehun mengembalikan kemeja milik Kai. Ia telah selesai dengan acara mandinya. Dengan bathrobe yang disediakan. Sehun menunduk, memunguti pakaiannya sendiri. Meski rasa perih masih terasa nyata di lubang pribadinya.
"Ini kemejamu ?" Kai hanya mengangguk. Menyambarnya, untuk di kenakan sebelum memasang jas
"Celana mu kotor."
"Ini karena kau muntah semalam, sebelum akhirnya kita tertidur." Sehun mengangguk, melihat Kai yang sudah rapi dengan stelan jas nya yang sedikit lusuh.
"Aku harus ke kantor."
Sekarang ia merasa seperti seorang jalang yang ditinggalkan setelah dipakai semalaman. Melihat sinis ke arah Kai yang sibuk mengenakan dasinya.
"Sehun kau tidak berniat meminta bayaran kan ?" bola mata Sehun berubah menyala dengan kilatan amarah. Memang semiskin apa dirinya sampai berharap bayaran dari Kim Jongin ?
"Jika iya, apa kau mampu membayar ku ?" Kai meletakkan handuknya ke atas kursi diujung kamar. Memandang penuh teliti ke arah Sehun.
"Kau minta berapa ?" Sehun semakin emosi. Ini dinamakan pencemaran nama baik. Apa Kai tidak tau jika Sehun adalah salah satu model brand fashion ternama ? atau ia pura-pura tidak tau ? padahal jelas wajah Sehun hampir memenuhi semua iklan di televisi.
"Kau mampu membayarku berapa ?" lelaki berkulit eksotis itu tiba-tiba terserang gugup saat menyaksikan Sehun berada di dekatnya dalam radius sedekat ini. Jika mungkin semalam mereka memang tidur bersama dalam keadaan yang tidak sadar. Maka sekarang, Kai benar-benar berada dalam kondisi terbaiknya. Sangat sadar untuk mengakui jika Sehun itu… yeah. Cukup manis.
"Aku minta mobil sport edisi terbaru." Sehun bersedekap dada dan berdiri angkuh menantang.
-KH-
Bar masih sangat sepi di siang hari seperti ini. Dan di halaman parkir Bartender milik Chanyeol hanya ada satu sepeda motor yang berdiri disana. Satu-satunya yang tersisa di antara lengangnya area parkir.
Sehun terus mengumpat dalam hati saat ia lupa membawa mobil semalam. Ia hanya menumpang pada Baekhyun yang kebetulan datang ke bar untuk mengunjungi si pemilik.
"Kau meminta mobil sport ? Sedangkan aku hanya memiliki itu." Sehun hampir tidak percaya. Matanya jatuh untuk memperhatikan Kai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tidak bisa munafik, jika Sehun iri dengan tubuh atletis milik Kai. Tentu saja Kai lebih pantas naik turun mobil daripada menggunakan scooter kecil yang mungkin membuat kaki panjangnya tertekuk saat mengendarainya.
"K-kau bukan CEO atau direktur ?" Kai tidak tersinggung ataupun marah. Ia malah tertawa mendengar Sehun mengajukan pertanyaan itu.
"Aku hanya staff biasa dibagian pemasaran. Jangankan membeli mobil sport. Membeli mobil box pun aku tak akan bisa." Sehun menggigit bibirnya, sedikit merasa bersalah dan takut menyinggung.
"Ayo.. Bukankah kau ingin ku antar ke agensi, model Oh ?" Ia juga sangat terkejut ketika Kai memasangkan helm pada kepalanya.
"Kau tidak menggunakan helm juga ?" yang ditanyai hanya menggeleng dan tersenyum. Sudah duduk rapi di atas sepeda motornya menunggu Sehun duduk di belakang.
"Aku tau kau tidak terbiasa menggunakan motor. Lagipula helmnya hanya satu."
Sehun duduk canggung dibelakang Kai. Ini pengalaman pertamanya menaiki motor. Ia terlalu lama menjadi anak manja dengan seluruh fasilitas mewah dari orang tuanya. Kehidupan mewah itu terus berlanjut dan bertambah gemerlap dengan profesinya sebagai model sukses sekarang.
"Sehun… Apa masih sakit ?"
"Huh ? Apanya ?" Sehun masih mampu mendengar pertanyaan Kai di antara angin yang berhembus.
"Itu… Ehm… Bagian belakang mu ?" pukulan ringan bisa dirasakan Kai pada tengkuknya. Tentu saja itu ulah Sehun yang sudah memerah karena mendengar pertanyaan yang memalukan itu.
"Fokus pada jalanan saja. Aku tidak ingin mati konyol karena jatuh dari motor bersamamu."
Hening kembali terjadi, hanya terdengar riuh kendaraan lain yang lalu lalang. Sehun merasa panas tubuhnya semakin menjadi karena sinar matahari yang meyengat kulitnya secara langsung.
"Kai…"
"Hm ?"
"Aku tidak bercanda tentang memintamu melupakan apapun yang kita lakukan semalam." Kai terdiam, meski tidak ada satupun ingatan yang tersisa. Ia tidak ingin melupakan apapun yang terjadi diantara mereka pagi ini. Saat melihat Sehun menangis, melihat Sehun mengomel dengan rentetan makian untuknya. Dan duduk berdua diatas motor bututnya. Kai tidak akan lupa. Tapi biarlah ia menyimpan ingatan itu sendiri, dan hanya mengangguki permintaan Sehun.
Sehun memang berniat menumpang pada Kai agar di antar ke kantor agensi, karena siang ini ia ada pemotretan untuk fashion store di pusat Gangnam. Ia tidak menyangka bahwa Kai sesederhana ini. Apa adanya. Sehun menggigit bibir lagi, mengamati rahang tegas Kai yang sedang sibuk mengendalikan kemudi melalui pantulan kaca spion. Sampai ia tidak sadar jika saat ini mereka sudah berhenti di depan kantor 'Reliable Ent'.
"Turunlah… Kita sudah sampai. Maaf untuk semua Oh Sehun. Aku akan melupakan semua sesuai keinginanmu." Sehun memang sudah turun. Tapi berdiri mematung melihat Kai yang masih bertengger tenang di tempat duduknya. Kenapa Kai sangat tampan dengan senyum seperti itu ? Kenapa Sehun sangat terobsesi mendengar suara itu ?
"Sehun… Jika kita bertemu lagi suatu hari nanti. Aku pastikan itu karena takdir. Bukan aku yang sengaja mencarimu, atau kau yang sengaja mencariku."
Sehun merasakan kepalanya tidak di bebani helm karena sudah dilepas si pemilik. Masih tidak mampu menjawab apapun. Hatinya memberat untuk alasan yang tidak di ketahui. Harusnya ia biasa saja, karena nyatanya melupakan semua adalah permintaannya.
"Masuklah.. Maaf, terimakasih, dan selamat tinggal." senyum Kai tersungging penuh teduh. Tangannya terulur untuk mengusak ringan rambut model itu. Sebelum ia menghilang dengan sepeda motornya. Menyisakan Sehun yang merasa sedikit kehilangan. Merasa kosong setelah kebersamaan singkat mereka selama satu malam hingga pagi ini. Mungkin Sehun masih mabuk. Hingga ia merasa aroma tubuh Kai masih setia menempel di seluruh badannya.
Tbc
CUAPS : Terima kasih terima kasih untuk antusiasnya. Tidak menyangka . ahaha
Maaf ya ngga bisa bls satu per satu. Tapi rata-rata perasaan kalian hampir sama seperti aku. Haus asupan ff KaiHun. Teruntuk authornim KaiHun tercinta, tulung segera comeback jika ada waktu. Tulung di hidupkan kembali pairing tergemash ini. :)
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH FOLL, FAV, REVIEW. KU CINTA KALIAN :*
Salam Secret Love - KaiHun
