Melihat berbaring di situ, memilin rambutku dengan jemarimu tanpa tuju, membuatku terpikir akan suatu frasa untukmu: menyedihkan. Sekali ini, di dalam kamar berlangit mendung ini, aku tak dapat mengenalimu. Aku tak menemukan sosokmu yang kukira aku kenal sepenuhnya.
Waktu telah mengikis kejayaan masa mudamu, meninggalkan hanya seonggok raga yang kini menghadap langit senja. Membujur di hadapanku, tak lagi sanggup bergerak kecuali anggota gerak atasmu.
Kamu berubah. Aku pun juga berubah. Masa dunia terus melangkah ke depan dan terkadang aku merasa kamu bersikap hiperbolis ketika kamu berkata tak ada dari diriku yang tidak berubah. Ayolah, lihat kenyataannya.
Namun jika aku boleh berandai-andai, hanya matamu yang tidak berubah. Tajam, intens, selalu penuh dengan makna ganda. Ya, matamu yang tak kenal malu untuk menatapku lekat-lekat di keramaian maupun dalam sepi. Yang membuatku teringat akan seekor singa yang siap menjerat mangsanya. Tatapan yang kini (sekali lagi) kau berikan padaku.
Sepertinya aku pernah bilang padamu kalau aku tidak menyukainya. Rasa yang muncul bila dirimu mencoba menembusku dengan tatapanmu, membuatku tidak nyaman. Yang kuingat hanyalah hatiku rasanya siap terbang ke angkasa dan meledak menjadi serpihan kembang api. Kehangatan yang merasuk di sekujur relung tubuh, membuatku gelisah namun nyaman. Tidak. Mana mungkin aku sanggup menjelaskannya padamu tempo dulu saat kamu menanyakan alasannya. Sekarang saja aku pun masih kesulitan mendeskripsikannya.
Karena itulah aku pernah membencimu. Karena kamulah penyebab diriku seperti ini.
(Bukannya sekarang aku tidak kurang membencimu. Kamu jelas sudah lama mengenalku untuk memahami maksudku, 'kan?)
Aku tak tahu harus bagaimana. Tentangmu. Saat ini.
Kubiarkan saja dirimu menghirup aroma kulit tanganku. Diriku, yang biasanya akan langsung menarik tanganku karena risih, hanya bisa diam di tempat. Membiarkanmu melakukannya sesukamu. Seharusnya aku tak menuruti nuraniku. Seharusnya aku menampikmu dan membiarkanmu istirahat.
Tapi tidak, aku tidak menarik tanganku. Aku ingin kamu terus menghirupku, memelukku, menciumku—
(—terutama, aku ingin kamu terus hidup di sisiku.)
Aku bukan orang baik, Tetsurou. Karenanya, aku menolak untuk membenarkan isyarat-isyarat yang tersirat tentangmu. Aku berusaha untuk tidak satu kata dengan alam, takdir, apa yang akan Tuhan putuskan untukmu. Rasanya seperti mencoba melawan arus sungai, awalnya berhasil melawan namun pada akhirnya juga hanyut bersamanya.
Jika kamu hanyut bersama arus transisi kehidupan, mungkin kamu akan menerimanya karena itulah jalan yang sekarang ditentukan untukmu. Tapi aku tidak. Haha, orang boleh bilang selera humorku memang brutal tapi Dia lah yang sesungguhnya Maha Kejam. Ketika aku berada pada titik hidup dimana kurasakan dunia dalam genggaman, akan selalu ada sesuatu yang berani-beraninya merenggut itu semua dariku.
Aku tidak terima. Aku tidak terima.
Tapi kamu akan membuatku menerima realitanya, 'kan, Tetsurou?
"Aku rindu padamu. Aku ingin bertemu lagi."
(Dan setelah hitungan mundur enam puluh angka itu berlalu, dendam yang kuharapkan akan singgah justru tidak ada.
Apakah itu terjadi karena kamu telah berjanji padaku?)
note. dilanjutin karena yes this is so sappy but idc dan tsukki perlu digali apa isi kepalanya dan uhm bye
