Chapter 2 ini diambil dari episode terakhir di season 1 nya Kaichou wa Maid-sama!
Disclaimer: Karakter-karakternya milik Atlus dan ceritanya milik Kaichou wa Maid-sama!, tp ceritanya sedikit diubah.
Sifatnya Akihiko, supaya saya gak merinding sndiri, saya ubah balik walaupun masih agak ke-Usui-Usui-an, takut sama sifatnya Usui T_T
Trus soal Shinji yang di chapter sebelumnya jadi Kanou, di sini udah nggak, soalnya kalau jadi Kanou lagi kemunculannya dikit, dan gak ada yang bilang ke Mitsuru soal enduring ituu..
Nahh, enjoy!
Chapter 2
-Akihiko-
"Senpai! Di sini!" panggil Yukari, Fuuka, dan Minako
"Ya!" jawab Mitsuru.
"Lho, Akihiko-senpai juga ikut?" tanya Fuuka.
"Ehh... Dia mau sih, jadi kubawa..." jawab Mitsuru lagi...
"Minako-chan juga, dia dapat sms dari Shinjiro-senpai, katanya Shinjiro-senpai akan datang juga."
"Oh, jadi itu alasan utama untuk ikut ya, 'Aragaki' Minako?" ledek Yukari.
"Nggak juga, aku juga mau ke festival sekali-sekali."
Oh ya, lupa tulis, ceritanya lagi ada cultural festival gitu di sekolah lain.
"Nah, ayo jalan," ajak Yukari.
Karena keramaian yang luar biasa ini, aku dan Mitsuru terpisah dari yang lainnya. Ditambah lagi, ketika sedang berusaha keluar dari gerombolan orang-orang, banyak siswi sekolah itu yang menjaga stand, memberikanku banyak barang-barang jualannya secara gratis: kalung bunga, topeng, hair band telinga kucing, & makanan...
"Akhirnya kita keluar juga ya, Akihiko-" Mitsuru terkejut sedikit. "Sempat-sempatnya kau beli benda-benda itu..."
"Aku nggak beli, dikasih oleh siswi-siswi yang jaga stand itu. Ah, aku dikelilingi lagi, ayo kabur!" Aku membawa Mitsuru kabur ke belakang gedung."
"Cowok keren itu pergi ke mana?" siswi-siswi itu mencariku.
"Di sini kita aman." Lalu aku memakaikan Mitsuru hair band berbentuk telinga kucing yang tadi kudapat. "Wah cocok!"
Wajah Mitsuru memerah.
"Ehh, kalau begini, jadi seperti kencan ya?"
"Hm? Akihiko! Bagaimana kau bisa tahu isi pikiranku?"
Aku tertawa kecil. "Maaf, Mitsuru."
Lalu ia berdiri dan pergi.
"Mitsuru, mau pergi ke mana?"
"Ke-kemana saja. Kita kan tidak mungkin di situ sampai festival selesai."
"Ah ya, sepertinya tidak mungkin gabung dengan yang lain sekarang ya, di tempat seluas ini sulit untuk mencari mereka. Kita jalan-jalan saja yuk."
"Baiklah, sayang juga kalau kita pulang sekarang."
Lalu ketika kita masuk ke gedung, ada siswi yang mempromosikan permainan yang dia adakan kepada kita. "Wah, kalian cocok sekali ya! Kalian terlihat hebat, bagaimana kalau main Love Game ini untuk menguji cinta kalian?"
"Ka-kami bukan pasangan!" Mitsuru panik.
Siswi itu tetap ngomong panjang lebar saja tanpa mendengar penjelasan Mitsuru. "Peraturannya mudah, hanya selesaikan permainan ini, tapi kalian tidak boleh melepaskan pegangan tangan kalian!"
"Baiklah, kami ikut." Aku memutuskan seenaknya untuk menghabiskan waktu.
"Akihiko! Masa kau mau ikut ini?"
"Yah, untuk menghabiskan waktu, lumayan kan?"
"Iya sih, tapi masa kita harus pegangan tangan sampai akhir?"
"... Maaf, aku terlanjur daftar..."
Mitsuru tak bisa menjawab apa-apa...
Siswi tadi memberikanku kalung dengan liontin berbentuk hati, katanya itu tanda peserta dan setelah selesai boleh dibawa pulang. Aku memakaikannya pada Mitsuru. "Mitsuru, cocok tuh..."
Wajahnya memerah lagi, sepertinya aku terlalu sering membuatnya menjadi merah...
"Mitsuru, ayo kita mulai." Aku memberikan tanganku padanya, ketika dia menerima, wajahnya semakin merah.
Lalu seorang siswa lain memperlihatkan kami peta, "kalian harus ke stand ramen di kelas 2-1 kurang dari sepuluh menit, siap? Mulai!"
"Kita harus sampai kurang dari sepuluh menit, ayo cepat, Mitsuru!" aku menarik tangannya dan mulai berjalan cepat ke kelas itu. Aku tidak berani berlari karena kalau berlari dalam gedung sekolah (kecuali di Tartarus) mana pun, pasti dimarahi.
Kami sampai dalam waktu 3 menit... Aku meledeknya sedikit, "Ah, 3 menit, kalau aku sendiri saja sih pasti hanya 1 menit..."
Mitsuru membalas, "kalau aku sendiri hanya butuh 30 detik..."
Lalu siswa yang berjaga di sana menjelaskan peraturannya, "salah satu dari kalian harus makan ramen porsi besar ini sampai habis tapi tetap tidak boleh melepaskan pegangan tangan. Ingat, hanya boleh satu orang ya!"
"Akihiko, kau yang makan ya."
"Aku masih kenyang, Mitsuru, kau saja, dari tadi kau belum makan kan?"
"Tapi porsinya sebesar ini..."
"Coba sajalah!"
"Bukannya biasanya cowoknya yang makan ya?" komentar siswa itu ditambah dengan sweatdrops...
"Ya, sudahlah, kucoba..." Mitsuru akhirnya menyerah. "Ehh, boleh ganti tangan?" tangan kanan Mitsuru yang kugenggam.
"Tidak boleh, hihihi..." jawab siswa itu dengan senyum iseng...
"Haah, kau merepotkanku, Mitsuru. Biar kusuapi... Jangan eksekusi aku."
"Hah? Tidak usah, akan kucoba pakai tangan kiri!"
"Sudahlah, sudah dimulai tuh. Nah, Mitsuru, aaaaam..."
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil..."
Akhirnya dia memakannya sampai habis, awalnya aku salut sama dia... Lalu ke permainan selanjutnya permainan kartu, kami menang dengan kecepatan setan, selanjutnya permainan tenis meja, kami menang dengan kecepatan cahaya... dst...
Sampai permainan terakhir, quiz balon... Setelah mencari balon yang ada tulisan "dapat", kami harus memecahkannya dan menjawab pertanyaan di dalam.
"Mitsuru, ayo kita lomba, siapa yang lebih cepat dapat balonnya."
"Ya!" Mitsuru antusias, karena dia menarik tanganku ketika sedang kesulitan berjalan di atas kolam balon, aku menjadi malu, dan tanpa sadar aku hanya memperhatikannya sambil tersenyum. "Akihiko?"
(Meanwhile... Yukari, Minako, Fuuka sentences with Italic)
Yukari bertanya, "Minako-chan, apa yang kau sukai dari Shinjiro-senpai?"
"Eh? Umm, bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata ya? Begini... Dia keren, dan aku mengaguminya... Tanpa disadari, perasaan cinta itu muncul dari segala tempat..."
"Ayo cepat kita pecahkan!" Aku memecahkan balonnya...
"Ha? Jangan terlalu dekat!"
"Begitu perasaan itu muncul, sudah tidak bisa dihentikan lagi..."
"Telingaku sakit, Akihiko!"
"Maaf, maaf!" Aku tertawa dengan sangat semangat.
"Biarpun kelakuan melawan perasaan itu, perasaan itu tidak akan bisa hilang..."
Wajah Mitsuru menjadi saat merah dan aku menepuk kepalanya dengan lembut.
"Itu adalah perasaan yang hangat..."
-Mitsuru-
"Akhirnya selesai, ya." Kata Akihiko.
Kami menang, dan mendapat tiket khusus untuk menonton kembang api malam ini. Tapi ketika Akihiko melepas genggaman tangannya, perasaan nyamanku tadi hilang...
"Mitsuru, aku beli jus dulu ya. Kau mau yang apa?"
"Aku nggak usah."
Lalu handphoneku berdering, ada telpon dari Yukari dan yang lainnya. "Ya, dengan Mitsuru."
"*telpon* Senpai, kami sudah bertemu dengan Shinjiro-senpai, tapi dia ke tempatmu sebentar untuk berbicara, katanya. Sudah ya, ramai nih. Nikmati waktumu dengan Akihiko-senpai ya!"
Yukari menutup telponnya. Menikmati apanya... Ketika melihat ke belakang, Shinjiro sudah ada di situ.
"Shinjiro? Mau bicara apa?"
"Hanya sebentar. Mitsuru, kau membuat Aki menahan diri kan?"
"Hah?"
"Sebaiknya jangan membuatnya menahan diri terlalu lama. Sudah ya."
Dia langsung pergi. Menahan diri? Akihiko menahan diri?
"Maaf membuatmu menunggu lama." Aku memperhatikan Akihiko sebentar. "Apa? Kau mau jus?"
"Tidak... umm, Akihiko?"
"Hm?"
"Mau menemaniku menonton kembang api?"
"... Boleh."
Ketika sudah hampir waktunya, aku dipakaikan kostum Juliet dari klub drama. Ternyata tiket itu khusus untuk menonton kembang api berdua dari gedung sekolah dengan kostum Romeo & Juliet...
"Juliet, Romeo sudah menunggu!"
"Ehh, bagaimana ya?" Akihiko kelihatannya malu. "Kau... Kau cocok, Mitsuru!"
"Hentikan, Akihiko... Aku malu..."
"Ah, maaf... Sepertinya kalau kita menonton pertunjukan kembang api dari kelas ini bisa lebih bagus."
"Eh? I-Iya. Uhh, memangnya boleh masuk ya?"
"Mungkin boleh? Asal kita tidak merusak..."
Aku tetap memikirkan, apa Akihiko menahan diri? Sebaiknya kutanya saja lah... "Akihiko, kau menahan diri?"
"Kembang api? Tidak terlalu kok."
"Bukan itu yang kumaksud. Maksudku tentang aku, dan banyak hal lagi."
Akihiko terdiam sesaat. "Kau mau tahu, Mitsuru? Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku, kenapa wajahmu saat ini sangat merah?"
"Tidak merah kok!"
"Mitsuru, kau tahu, di saat seperti ini, kau terus membohongi perasaanmu sendiri. Kau sendiri, menahan diri?"
Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
"Maaf, Mitsuru, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Ayo, kita pindah ke kelas lain."
Aku memegang tangannya agar dia tidak pergi. Dan kuputuskan untuk mengakuinya saja. "Kau benar, Akihiko, aku menahan diri. Sejak bermain permainan itu, aku jadi sadar kalau sudah sejak lama aku ingin berpegangan tangan dengan Akihiko! Kenapa Akihiko? Aku sendiri tidak mengerti. Padahal selama ini kau pasti merasa, aku hanya sebatas teman biasa saja, karena itu tadi kau tidak malu untuk berpegangan tangan denganku, karena kita akrab. Kukira perasaan ini sepihak. Aku sendiri bingung, kenapa hanya Akihiko? Hanya Akihiko, yang bisa mengacaukan hatiku..."
Lalu Akihiko melepas genggaman tanganku, kukira dia menolakku, tapi ternyata dia malah menggenggam tanganku juga, dengan erat. "Kalau kau bertanya, aku menahan diri tentang apa, terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sebenarnya aku mendaftar untuk ikut permainan itu, karena aku ingin melihat reaksi Mitsuru yang manis. Aku menyukai reaksi-reaksimu, Mitsuru, tetapi kadang berbahaya juga karena membuat jangtungku berdegup kencang. Kalau aku boleh berhenti menahan diri, saat ini aku..."
Ketika kembang api sudah dimulai, Akihiko dan aku berciuman, aku tidak peduli lagi tentang kembang api itu.
"Mitsuru, aku menyukaimu."
Wajahku terasa sangat panas. Lalu kami keluar dari kelas itu, sambil berpegangan tangan.
-The End of Chapter 2-
Selesai!
Wahahaha.. akhirnya... pegel ngetiknya nih.
Kalau berkehendak, tolong review, thanks :D
