OMG! 0.0 cepet banget reviews-nya XD
Buat para reviewers, makasih beudth ya :3
Ngeliatnya aku jadi semangat bikin yang chapter 2 XD
ZephyrAmfoter: Lightning speed update! :D this is it!
kin-chan: Merci ^^ (sok perancis) ini lanjutannya
yuuaja: sep, boss! Kali ini inggrisnya agak dikurangin dan dibikin lebih simple, tapi geje-nya mulai keliatan XD
Wahyu Nara Namikaze : I simply fell in love with your subtlety XD
.
Bruk!
Dua orang jatuh ke lantai berkarpet tipis dengan rasa sakit yang luar biasa. Nyut-nyut terasa di sana sini membuat Tenten merintih. Meskipun begitu, tak urung juga ia merasakan keempukan di area muka tubuhnya. Rasanya hangat dan nyaman.
"Are you okay, Tenten-san?"
Tenten terkesiap sebentar, dan perlahan membuka kelopak matanya yang ia tutup. Sejenak hatinya lega ketika tangannya ternyata masih menggenggam erat Iphone rampasannya. Tapi saat dia sadar dimana posisi tubuhnya berada, Tenten kalang kabut.
"S-Sensei! Astaga!"
Tenten buru-buru bangun dari posisinya di atas Kakashi-ya, di dalam pelukan, di atas tubuh Kakashi Hatake. Pipi Tenten serta merta berubah warna layaknya tomat segar berwarna merah darah.
Menahan ringisan sakit, Kakashi tersenyum palsu. "Don't mention it. In my heart, I've always forgiven you."
Tenten menganga sambil menggelengkan kepala setengah mati tidak percaya. First: Posisi Tenten benar-benar 'IH WOW' di atas Sensei-nya sendiri, Second: Ia tidak percaya Kakashi baik-baik saja setelah 'little incident' mereka, judging by his face. Third, tidak masuk akal siapapun orangnya akan memaafkannya secepat itu apalagi Tenten memang bersalah. Last, Tenten tidak yakin ia sanggup mengalihkan pandangannya dari bola mata silver Kakashi. Kedua bola mata itu seakan menelan Tenten. Tanpa kacamata dan upclose, Kakashi memang sangat, amat, banget, beudth, tampan. Dan Tenten yang baru kali ini menyadarinya entah kenapa berterimakasih dalam hati pada Tuhan karena telah menjatuhkan kacamata Kakashi entah dimana di tengah kekacauan barusan.
Ah, hormon remaja.
"Still, I'm so sorry! Are you hurt anywhere?" tanyanya panik. Sekeras apapun Tenten melawan rasa deg-degan di dada dan panas di wajah, hatinya terus berteriak 'Keren! Keren! Asli, cakep begete! Luka di mata kirinya bikin tambah cool!'
...
Luka?
"Kenapa, Tenten?"
Tenten tersentak. Ini pertama kalinya ia mendengar Kakashi bicara pakai Bahasa Indonesia. "Ah, itu, nggak, anu...luka?" tanya Tenten terbata-bata. "Eh?"
Kakashi beranjak dari posisi dibawah Tenten, membuat Tenten sadar kalau ia masih memenjarakan sensei-nya. Dengan rada panik, Tenten membantu menyandarkan sensei-nya itu ke dekat kaki kursi. Kakashi mendesah pelan, tangannya meraba mata kirinya.
Darah.
"Aaaah! Maaf! Aku nggak bermaksud-"
"Darah."
"Maaf! Maaf, Sensei! Sepertinya matamu tergores gelangku!"
"Mataku berdarah."
"Maaf!"
Kakashi hanya menghela napas lelah. Ia tidak menyangka wajah tampannya akan jadi rusak begini dalam waktu sehari. Dan semua itu gara-gara bocah satu ini.
"Tenanglah, ini cuma luka gores. Paling-paling hanya membekas seumur hidup."
Tenten meringis. Terkadang sarkasme Kakashi sangat menyesakkan hati. Tapi Kakashi malah tersenyum melihat Tenten merasa bersalah. Lucu juga, pikirnya.
Tenten yang merasa diliatin jadi salting, dan ia pun buru-buru agak menjaga jarak.
"ADUH!"
Kakashi terkaget, "A-ada apa?"
Dari sudut pandang Kakashi, Tenten terlihat menunduk dan seolah bergetar. Jangan-jangan...
"S-sensei...rambutku sepertinya nyangkut...di kancing bajumu..."
. . .
"Eeh! Masa'?"
Tenten mengangguk-angguk cepat, rasa sakit di kepalanya terasa tiap ia bergerak. Kakashi pun sweat dropped. Apa boleh buat.
Tiba-tiba, tangan kuat Kakashi merangkul Tenten. "Uwah?"
"Jangan bergerak. Biar kuambilkan."
Tenten spontan mematung. Wajahnya panas menempel di dada bidang Kakashi. Di jarak sedekat ini detak jantung Kakashi terdengar, dan ternyata sangat cepat. Hangat.
'Te-terlalu dekaaat~!'
"Rambutmu ternyata panjang juga, ya."
"Hhi-hyaaa..." sahut Tenten lemas.
"? Ada apa, Tenten?"
Tenten gemetaran, belum pernah ia merasakan kehangatan begini intens. Belum pernah juga Neji sehangat ini kalau dia sedang memeluk Tenten. Rasanya saja sudah jauh berbeda...entah bagaimana kalau...
"Tenten?"
Pelan-pelan, Tenten mengangkat wajahnya. Ia menggigit bibirnya gugup, membuat Kakashi mengalihkan pandangannya dari mata Tenten ke bibir yang kissable itu. 'Panas...terlalu panas...'
Mata malas Kakashi semakin menurunkan kelopak matanya. Entah kapan, tangan Kakashi sudah berpindah ke dagu Tenten, menarik Tenten perlahan ke arah dirinya. Hidung Tenten penuh dengan bau parfum Kakashi yang seolah-olah menghipnotis Tenten untuk mendekatkan kepalanya ke arah kepala Kakashi sembari sang sensei merendahkan kepalanya. Semuanya terasa begitu lambat, waktu seakan berhenti berjalan bagi mereka berdua. Tidak satupun dari dua orang itu yang menutup mata seutuhnya; mereka ingin mengabadikan dengan mata setengah tertutup detik-detik sebelum merasakan kelembutan, keindahan dan rasa memiliki dari-
"Kakashi?"
. . .
"!"
"Kakashi, kau disini?"
Tangan Kakashi menutup mulut Tenten begitu ia mendengar langkah kaki mendekat. Dengan isyarat ia menaruh jari telunjuk di bibir Tenten, pertanda bagi si brunette untuk diam. "Kakashi?"
'Suara ini...Asuma-sensei!'
Terdengar suara langkah kaki Asuma mendekat dan mendekat, membuat Kakashi dan Tenten panik. Mengendap-endap Kakashi menyeret Tenten dalam pelukannya ke bawah meja. Disana ia masih menutup mulut murid kesayangan no.2 Gai itu. Bau rokok terang saja memadati ruangan gelap Kakashi. Suara samar puntung rokok berjatuhan dan suara napas mereka terasa terlalu kencang seperti lagu dangdut di mantenan pinggir jalan saking tegangnya keadaan, dan-"Sepertinya tidak ada."
'Eh?'
Langkah kaki sang guru perokok pun menjauh, meninggalkan 2 orang di bawah meja menghela napas lega.
"...di bawah meja."
Napas Kakashi dan Tenten tercekat. Lagi-lagi suara langkah kaki berat Asuma kembali terdengar, dan kali ini terlalu dekat!
Brak!
Kakashi dan Tenten terloncat dari posisi mereka setelah Asuma memukul meja. Setelah beberapa menit bersikeras tidak keluar dari persembunyian mereka, Asuma yang sejak awal tahu ada orang dibawah meja tersenyum tipis. "Sepertinya memang tidak ada orang...aku pulang saja."
Kejadian yang sama terulang lagi; langkah kaki yang perlahan menjauh dan untuk beberapa saat suasana senyap seperti tak ada orang. Tidak mau dikerjai untuk kedua kalinya, Kakashi mengeluarkan handphone-nya dan menelepon Asuma. Tenten meringis ketika Kakashi secara tidak sadar mendekap Tenten kembali ke dalam pelukannya-tidak kuat, tetapi cukup untuk menahan Tenten pergi ke manapun. "Mmmf! Ohpf!"
Kakashi tidak menghiraukan pukulan yamg dilancarkan Tenten ke dadanya dan justru mendengarkan suara di seberang. Hampir secara instan terdengar ringtone hape Asuma di luar ruangan Kakashi dekat pintu. "Halo? Asuma? Kau dimana?" bisik Kakashi ke hapenya. "Kakashi? Tapi..." Asuma mengintip ke ruangan Kakashi mendapati tak ada yang aneh. Tapi ia sangat yakin..."Aku harus ke rumah sakit jadi tidak bisa pulang denganmu ke Ichiraku. Kau ajak Naruto saja kenapa, dia kan yang paling demen."
Dengan satu pandangan curiga terakhir, Asuma pun beranjak dari tempatnya berdiri ke arah koridor utama. Ia menggaruk-garuk kepala, "...ya sudahlah. Kalau begitu aku mau pulang sekarang. Ini saja aku barusan dari ruanganmu."
"Oh begitu, ya? Sudah, ya!" penutupnya, Kakashi tersenyum dibuat-buat sendiri. "Huf...dasar. Bikin kaget sa-"
"FUWAH!"
Kakashi terloncat kaget dari posisi duduknya. O la la, sudah lupa ternyata ia akan murid perempuan yang nyaris mati kehabisan nafas ia bekap. "Pa-panas!" teriak Tenten, tangannya menariknya keluar dari bawah meja yang pengap. Atau lebih tepatnya, mendidih.
Melihatnya, Kakashi tersenyum nakal. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Tenten dan menariknya kembali ke bawah meja. "Kyaaa?"
"Where are you going? I'm not finished yet."
Muka Tenten memerah sejadi-jadinya, dan ia pun memukuli guru mesum satu itu. "Berisik! Lepaskan aku! Kakashi-sensei bodoh!"
"H-hey! Stop!"
"Apa maksudmu memeluk seenaknya? Dan lagi...ci-ci-ci...!"
"Cium?"
"Bodoh! Aku nggak mau tahu lagi!" Tenten langsung beranjak meninggalkan si guru mesum kedua setelah wakil kepala sekolah Jiraiya, kali ini memastikan tidak akan tertangkap lagi untuk kedua kalinya. "Ah! Hey!" panggil Kakashi, tetapi Tenten tidak menghiraukan, menoleh saja tidak.
Kakashi bersegera berdiri, tapi ia lupa kalau di atasnya ada meja dan benar saja, kepalanya menghantam meja dengan suara dan rasa sakit yang tidak kecil. Ia memegangi kepalanya kesakitan, berpikir betapa jeleknya pasti peruntungannya hari ini. Peruntungan...ramalan...bukannya itu semua kesukaan Tenten?
Kakashi mendongakkan kepalanya ke atas, untuk entah keberapa kalinya menghela nafas lelah. Tubuhnya kembali bersender ke meja, tangannya turun untuk menutupi matanya. Samar terasa luka gores di kelopak mata kirinya yang tampaknya memang tak akan hilang bekasnya. Yap, another thing related to Tenten.
'Why is all of a sudden my head filled with her...?'
