Hai dear readers! Terimakasih untuk sudah me-review chapter pertama saya. Yah, mohon dimaafkan kalau typo sedikit, karena saya menulis di laptop dan karena keyboardnya pendek, saya sering kepleset.

Tentang Fanfic ini, ini di dunia nyata, alias dunia si "aku" yaitu OC-saya. Tapi Ulquiorra tetap Espada. Untuk penjelasan mengapa Ulqui tiba-tiba jatuh dari langit, akan dijelaskan di chapter berikutnya.

Disclaimer: Bleach dan karakternya milik Tite Kubo

Saya cuma punya gantungan kunci bergambar Ulquiorra Chibi

Warnings: Lot of blood, gaje.

Now, on with the story!


Chapter 2

Aku menjeblak pintu kamarku terbuka dan keluar dari kamar, berlari hingga sampai di wastafel dan mencuci darah dari kamarku.

Dengan cepat aku mengambil P3K sekotak-kotaknya dan sebaskom air, lalu berjalan dengan langkah cepat ke kamarku, tidak mempedulikan air yang tumpah ke lantai karena langkah cepatku.

Sesampainya di kamar aku berlutut disamping tempat tidurku melempar pandangan khawatir padanya.

Mengerahkan sekuat tenagaku, aku meraih kerah bajunya yang sedikit terbuka dan merobeknya sampai pada bagian bawahnya, lalu acuh tak acuh melempar kain bernoda merah itu ke lantai.

Ulquiorra mengeluarkan nafas cepat dan bergetar sedikit, tapi aku mengacuhkannya.

Aku mengambil air dari baskom menggunakan handuk putih kecil lalu mulai membersihkan lukanya, berhenti sebentar saat melihat lubang Hollow-nya dan tato nomor 4 di dada kirinya.

Saat aku melanjutkan ke luka-luka yang lebih kecil, air di baskom tidak memerlukan waktu lama untuk berubah dari jernih ke merah tua.

Mataku melebar dengan ngeri saat sayatan di dadanya terlihat dengan jelas, dugaanku benar lagi, sayatan itu sampai ke tulang.

Buru-buru, aku membuka tutup kotak P3K dan mengeluarkan alkohol, kapas, dan bergulung-gulung linen putih.

Aku menuangkan alkohol ke kapas, lalu mencoba mengusapkannya pada luka yang kecil.

Ulquiorra seketika tersentak, lalu menjauhkan lengan kanannya yang tadi kubersihkan.

Maaf, aku otomatis berbicara pada diriku sendiri. Aku tidak punya pilihan lain, semoga dia tidak membunuhku.

Aku mengambil katana-nya lalu menaruhnya di lantai, untuk berjaga-jaga jika dia menyerangku secara refleks.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, aku menuangkan alkohol ke kapas baru dan mengusapkannya ke sayatan itu dengan tiga gerakan cepat.

Hasilnya sungguh tidak terduga.

Secepat kilat, Ulquiorra mengulurkan tangan kanannya kearahku, mencengkeram leherku.

Cengkeramannya luar biasa, aku sama sekali tidak bisa bernafas di genggamannya.

Lalu terlihat olehku mata zamrud cemerlangnya yang setengah terbuka, tidak terfokus menatapku.

"H-hentikan…itu-", Sakit, ya, aku tahu itu.

Sesaat setelah aku tidak tahan dengan paru-paruku yang tanpa udara, cengkeraman di leherku menghilang dan dia kembali tidak sadar.

Aku melanjutkan membersihkan luka-lukanya, mengabaikan erangan-erangan kesakitan darinya.

Seketika aku selesai, lukanya menutup sedikit. Regenerasi. Tapi dia belum mempunyai cukup tenaga untuk menyembuhkan semua lukanya.

Lalu aku melilitkan kain linen putih di lukanya sebagai pengganti perban.

Akhirnya selesai juga, aku membereskan semuanya dan memasukkan ke tempat sampah.

Aku mengambilbaskom dan kotak P3K lalu berjalan keluar dari kamar.

Setelah merenggangkan tubuhku yang pegal, aku menuangkan air yang kemerahan dari baskom, menyaksikan air yang bercampur darah itu mengalir ke lubang di wastafel.

Aku mengisi baskom dengan air dan handuk yang baru, mencemplungkan handuk putih itu ke dalam baskom, lalu membawanya ke dalam kamarku.

Aku berlutut lagi di samping tempat tidurku, mengambil handuk basah dari baskom dan memeras airnya lalu menaruhnya diatas kepalanya.

Setelah itu selesai aku berjlan keluar kamar, mengepel lantai yang kotor dengan air dan darah.

Sehabis itu aku mandi, membersihkan noda-noda darah yang membuatku tampak seperti aku baru saja membunuh dan memutilasi seseorang. Ya, itu pikiran yang mengerikan.

Aku berdiri lama di kamar mandi, membiarkan air menetes dari rambut hitamku ke lantai kamar mandi.

Di luar, suara hujan rintik-rintik berubah kencang menjadi hujan deras.

Baguslah, setidaknya hujan itu akan dapat menghapus jejak-jejak darah di jalan. Kalu tidak, orang-orang bisa heboh, dikira ada seseorang yang dibunuh dan mayatnya dipindahkan dari tempat itu, sementara jejak-jejak tersebut dengan jelas mengarah ke rumahku. Bagaimana jika polisi datang ke rumahku? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan jika melihat Ulquiorra.

Aku benar-benar bingung sekarang ini. Ini pasti mimpi, ini pasti mimpi, aku bisa terbangun beberapa saat lagi. Aku mencubit diriku, rasanya sakit, berarti bukan mimpi.

Aku menggeram dengan frustasi, menggenggam sisi kepalaku dengan kedua tangan, dua butiran jernih mengancam menetes dari kedua sudut mataku.

Kenapa harus dia yang muncul? Aku tidak berharap dia muncul di hadapanku, bukan? Tidak, tungggu.. "Kuharap dia benar-benar ada…", kata-kataku seakan terpantul dari dinding kamar mandi. Aku yang mengharapkan dia, aku, AKU!

Argh! Orang bilang kata-kata adalah doa, sekarang aku mengerti apa maksudnya.

Apa yang harus kulakukan jika dia bangun nanti? Aku tahu benar dia mampu membunuhku, sangat mampu membunuhku.

Astaga! Aku benar-benar bingung!

Sekujur tubuhku bergetar kedinginan. Aku mendesah, setidaknya aku harus keluar dari kamar mandi terlebih dulu.


Okay, Chapter 2 selesai. Sebetulnya mimpi saya cuma sampai disini, tapi akan saya coba lanjutkan.

Feel free to review! (Kritik dan saran diterima).