Luffy terbangun ketika malam tiba. Ia mengerang kesakitan saat bangkit ke posisi duduk. Sisi sebelah kiri abdomennya yang paling sakit disusul bagian ulu hatinya. Rasa sakit itu menyadarkannya sekaligus membuatnya teringat kejadian tadi siang. Ia ingat Pamannya begitu marah. Bahkan mengingat ekspresinya saja membuat tubuhnya merinding.

Susah payah Luffy berdiri, sambil tangannya meraba dinding mencari sekering lampu. Tak lama lampu kekuningan temaram menerangi kamarnya. Luffy merasakan bibirnya kelu, dan lidahnya asin karena darah. Ia pun tertatih-tatih pergi ke kamar mandi yang terletak di sisi dapur untuk berkumur.

Tepat ketika tangannya meraih gagang pintu kamar mandi, pintu itu terbuka. Menampakkan Sabo yang langsung terkejut mendapati Luffy di depannya. Sabo menatap Luffy bingung, tetapi ekspresinya berubah menjadi terkejut lagi saat melihat darah di sudut bibir Luffy.

"Kau berdarah!" Sabo hampir berteriak. Cepat-cepat Luffy menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"B..bukan..I..ini hanya saus tomat" Luffy berbohong

"Coba kulihat" Sabo meraih tangan Luffy tetapi Luffy semakin menutupinya "Buka!" Sabo bersikeras hingga ia akhirnya berhasil menarik tangan Luffy.

"Ini darah sungguhan. Apa yang terjadi? Pipimu memar Luffy! Siapa yang memukulmu?"

"T..tidak..tidak! A..aku hanya menabrak pintu saja tadi" Kegugupan Luffy begitu mencurigakan

"Jangan bohong padaku" Sabo memincingkan matanya. Sejenak Luffy terdiam kaku.

"Aku tidak bohong" Luffy menyunggingkan topeng andalannya. Tersenyum

Luffy pikir Sabo takkan percaya, tapi nyatanya justru sebaliknya. Sabo menasihatinya agar berhati-hati saat berjalan dan menawarkan obat pereda rasa sakit pada Luffy. Luffy pun mau dan berjanji akan pergi ke kamar Sabo sehabis ke kamar mandi.

Luffy segera masuk dan mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat. Ia tak mau seseorang mendapati lukanya lagi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berkumur dan berkaca, menatap memar di pipinya yang susah untuk ditutupi. Mungkin ia bisa sedikit menutupinya dengan hoodienya besok. Ia tercekat ketika menarik nafas panjang. Sisi tubuh dan perutnya terasa semakin menyakitkan setiap kali ia mengambil nafas. Pelan-pelan ia menarik bajunya ke atas dan benar saja. Di sana terdapat memar baru berwarna biru tua bercampur keunguan, sakit sekali saat disentuh. Ia tak ingat berapa kali Pamanya memukulinya sampai-sampai menghasilkan memar sialan itu.

Tertatih-tatih Luffy berjalan ke kamar Sabo yang ada di lantai atas. Tak lupa ia memperhatikaan keadaan sekitar karena kamar Paman, Bibinya, Ace dan Law ada di atas juga. Dengan pelan ia mengetuk pintu kamar Sabo. Tak butuh waktu lama Sabo membukanya, mempersilahkannya masuk tetapi Luffy menolaknya. Ia hanya ingin meminta pereda nyeri. Sabo memberikannya 4 tablet. Luffy dengan senang berterimakasih pada Sabo. Ia beruntung sekali ada seseorang yang mempedulikannya.

"Sabo, maafkan aku ya soal buku mu" Sesal Luffy

"Maafkan aku juga. Aku sudah berlebihan terhadapmu. Lagipula itu hanya buku" Sabo tersenyum pada Luffy.

Mereka mengakhiri percakapan dan Luffy menuruni tangga sambil kesakitan. Pergi ke kamarnya, meminum tablet itu, menyetel jam beker dan tidur.


"Dimana sarapannya?" Bibi Luffy bergumam kesal pagi hari itu. Biasanya sarapan mereka sudah tersaji di meja makan. Tapi meja makan itu kosong dan tak tampak Luffy yang biasanya sedang sibuk membersihkan dapur.

"Dimana Luffy?!" Tanyanya pada suaminya yang mendatanginya.

"Suruh anak-anak makan di kantin sekolah sekarang" Perintah Paman Luffy "Berani-beraninya anak sialan itu.." Paman Luffy pergi ke kamar Luffy sambil bergumam geram.

Kekesalannya semakin memuncak saat mendapati Luffy masih tertidur lelap di matrasnya. Pikirannya sekali lagi mengeruh. Apa saja yang dilakukan Luffy selalu saja salah.'Anak tolol itu benar-benar tak tahu diri' Pikirnya. Dengan rahang terkatup Pamannya mendekatinya. Tangannya terangkat dan terayun, menampar pipi Luffy yang masih memar. Segera saja Luffy tersadar. Matanya membelalak ketika melihat sosok Pamannya yang marah.

Pamannya belum juga merasa puas. Ia menarik kerah jaket Luffy dan melempar Luffy ke lantai. Luffy yang tubuhnya di penuhi memar hanya bisa mendengking kesakitan. Tangan pamannya memutar tubuh Luffy yang telungkup lalu menduduki perutnya. Tangannya dikepalkan dan dihantamkan ke wajah Luffy. Luffy mengangkat kedua tangannya yang gemetar untuk melindungi kepalanya.

"Kenapa. Kau. Tidak. Menyiapkan. Sarapan?!" Pamannya memukulnya bertubi-tubi di setiap kata yang ia ucapkan.

Luffy terbatuk-batuk, hidungnya mengeluarkan darah segar "A..alarm..nya..t..tidak..bunyi" Luffy berkata dengan lirih.

"Jangan beralasan! Kau pemalas!" Pamannya menamparnya. Sejenak Luffy melihat bintang berputar.

Pamannya berhenti memukuli Luffy. Dengan kasar melempar tas sekolah ke wajah Luffy. Ia menarik tangan Luffy sampai Luffy berdiri lalu menyeretnya ke pintu depan dan mendorongnya keluar.

"Jangan tunjukkan wajahmu sampai sekolah berakhir!" Teriak Pamannya.

Bergegas Luffy pergi meninggalkan rumah itu. Ia bahkan tak sempat memakai hoodie nya. Tangannya memegangi memar di sisi tubuhnya yang terasa semakin sakit akibat menghantam lantai tadi. Detak jantungnya memburu karena ketakutan. Kepalanya juga pusing. Darah di hidungnya belum juga berhenti menetes tak peduli berapa kalipun ia mengusapnya dengan lengan jaketnya. Ia tak bisa ke sekolah dengan penampilan seperti itu. Orang-orang akan bertanya-tanya, yang paling berbahaya jika gurunya bertanya. Pamannya tak akan suka jika harus datang ke ruang BK karena Luffy. Jadi, Luffy tak berjalan ke sekolah melainkan ke hutan pinggir kota untuk sekedar beristirahat.

Membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke sana. Tetapi Luffy sudah biasa berjalan jauh, jadi itu bukan masalah untuknya. Meskipun ia mengernyit setiap kali menarik nafas terlalu dalam. Dan perutnya mulai menggeram meminta untuk di isi. Ia singgah sebentar ke sebuah taman kota sehingga bisa mengisi botol minumannya dengan air keran.

Tak lama kemudian ia memasuki lokasi yang dipenuhi semak dan hutan yang berderet. Ketika ia menemukan sungai kecil, ia meletakkan tas nya di sisi sebuah pohon besar. Ia pergi ke sungai kecil itu dan membasuh wajahnya, terutama hidungnya. Air sungai yang jernih langsung ternodai merahnya darah. Segera setelah itu Luffy mengorek isi tasnya, mengeluarkan 2 buah plester berbeda ukuran. Ia tak punya lebih banyak lagi karena belakangan ia tak punya uang untuk membelinya. Kemudian ia berjalan menyusuri sungai dimana tak jauh dari tempatnya semula, ia menemukan bagian sungai yang cukup tenang. Ia bisa melihat cerminan dirinya di sana. Mata cokelat gelapnya membalas tatapannya. Luffy mengernyit ketika melihat wajah pucatnya dipenuhi memar. Di tulang pipi atas, kedua rahang kecilnya, dan pelipisnya. Di dahi kananya terdapat luka lecet, jadi ia menempelkan plester kecil disana. Sementara plester besarnya ia tempelkan di rahang kiri nya, untuk menutupi sekaligus membatasi gerak kulitnya agar tidak terlalu sakit.

Luffy lalu bangkit, berjalan kembali ke pohon besar. Ia duduk bersandar ke batangnya. Tangannya meorgoh tas lagi untuk mengeluarkan botol minum dan obat pereda nyeri. Ia menenggaknya dengan bantuan air. Ia mendesah lega setelahnya. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menolong tubuhnya saat ini.

*Kruuk*

Perutnya mengamuk lagi. Luffy pun meminum air dari botol sebanyak-banyaknya dengan harapan rasa laparnya berhenti.

"..Jam beker sialan! Seharusnya ia membangunkan aku agar aku dapat makanan" Gumamnya kesal. Jika seorang pemotong kayu menyalahkan kapaknya, maka Luffy menyalahkan jam beker tuanya.

"Meow"

Luffy menoleh saat mendengar suara tamu tak di undang. Di sisinya berdiri seekor anak kucing Tabby liar. Kucing itu cukup jinak untuk dikatakan liar, karena ia semakin mendekat ketika Luffy menyentuh kepalanya.

"..Kau tersesat?" Kucing itu hanya menatap Luffy sambil menyorongkan kepalanya ke tangan Luffy. Mulutnya melebar seolah-olah ia sedang tersenyum kepada Luffy. Luffy pun membalasnya dengan sebuah senyuman polos.

"Kau juga sendirian ya disini?" Luffy bertanya lagi. Kucing itu melompat ke perutnya yang dipenuhi memar membuat Luffy tersentak.

"Sakit tahu!" Luffy merutuk tetapi kucing itu tak memperdulikannya, melainkan mengendus dagu Luffy. Ekspresi kesal Luffy memudar dan ketika kucing itu menggigit daun telinganya, Luffy tertawa.

"Apa kau lapar?" Luffy memegang tubuh kucing itu sehingga si kucing bisa menatapnya "Aku… juga lapar" Ujar Luffy "Jika aku punya makanan, aku pasti membaginya denganmu" Si kucing mengeong seperti memahami perkataan Luffy "Maaf ya" Kata Luffy sedih.

"Orang tuamu mana? Atau kau di buang?" Kucing itu mengeong dan Luffy tak memahaminya. Tetapi ketika Luffy sedikit mendongak ke arah datangnya kucing itu, tepatnya di balik semak-semak, terdapat sebuah kotak kardus berisi koran. Benar, kucing ini dibuang oleh pemiliknya.

"Teman-temanmu mana? Kau benar-benar sendirian? Bagaimana kau bisa hidup tanpa orang tua mu?" Kucing itu hanya memandanginya dengan mata emasnya.

"…Apa kau kesepian?"

Luffy tertegun, mendapati pertanyaan-pertanyaannya. Ia seolah bertanya pada dirinya sendiri. Nyatanya ia yang selama ini begitu kesepian. Ia bahkan tak tahu kenapa orangtuanya meninggalkannya. Ia benar-benar sendirian. Tak punya siapapun untuk bergantung. Dan ia menanti seseorang yang akan menanyakannya seperti pertanyaannya barusan.

Air mata menggenangi pelupuk mata Luffy. Bibir pucatnya terkatup gemetar. Luffy memeluk kucing itu ketika akhirnya tangisannya terpecah. Si kucing mengeong tetapi tak begitu banyak bergerak dalam pelukan Luffy. Di hutan itu terdengar sayup-sayup suara tangisan Luffy. Yang baru menyadari kesedihan yang selama ini ia sembunyikan.


Sabo dan Ace baru saja sampai di depan rumah ketika Luffy membuka pintu pagar. Sabo langsung melihat Luffy dengan tatapan horror ketika memar semakin bertambah di wajah Luffy. Luffy yang terlarut dalam lamunan berjalan sambil menunduk mendekati mereka.

"Apa yang terjadi padamu?!" Suara panik Sabo membuat Luffy tersentak lalu kebingungan. Hampir saja ia melompat saking kagetnya.

"Luffy?" Ace yang baru saja membuka pintu tidak jadi masuk ke dalam rumah.

"Wajahmu kenapa?" Sabo bertanya lagi.

"A..ah..t..tidak apa-apa" Jawab Luffy gugup.

"Seseorang pasti memukulimu! Aku tahu itu" Ujar Sabo Yakin. Ia menatap Ace seolah meminta persetujuan. Tetapi Ace hanya diam. Matanya memincing curiga.

"Aku tak melihatmu di sekolah tadi. Kau kemana saja?" Tanya Ace dengan nada mengintimidasi.

"A..aku tadi jatuh dari tangga sekolah. Lalu aku istirahat di UKS" Luffy tertawa gugup.

"Bohong. Kapan kau jatuh? Pukul berapa?" Sabo benar-benar tak percaya.

"Kau.. tahu kan aku selalu telat? Dan saat aku membersihkan lantai 2 dekat tangga, aku terpeleset" Luffy mengarang bebas disertai senyuman topengnya. Dengan itu Sabo terdiam, mulai mempercayai ocehan polos Luffy.

"Aku tak bodoh. Kau pasti dipukuli. Aku tahu" Ace berkata dengan dingin. Nada kemenangannya membuat Luffy terdiam. Ia memutar otaknya agar mereka berdua mempercayainya. Apapun itu, ia harus mengarangnya.

Kemudian, senyum Luffy mengembang "M..maaf. Aku sudah bohong" Luffy menggaruk kepalanya "Sebenarnya, tadi aku bertemu preman. Dan aku dipalak. Karena aku tak punya uang, mereka pun memukuliku" Luffy mengangkat kedua pundaknya disertai tawanya. Mengakhiri percakapan.

"Astaga" Sabo menghembuskan nafas seolah ia sudah menahannya dari tadi "Kupikir kau kenapa" Lanjutnya sambil menatap Luffy muram.

"Jangan terlalu di permasalahkan. Aku tak apa-apa. Aku hanya perlu meminum Obat dari mu Sabo" Ujar Luffy sambil nyengir.

Dalam diam mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Luffy seperti biasanya langsung mengganti bajunya lalu mengerjakan tugas hariannya dengan perut keroncongan. Sabo mengajak Ace bermain Play Station di ruang tengah sementara Luffy bolak balik ruangan itu membersihkan segala sudut. Ace diam-diam mengamati Luffy. Ia sama sekali tak mempercayai alasan Luffy. Tak masuk akal jika alasan yang semula jatuh dari tangga sekolah menjadi dipukuli preman. Kenapa ia harus berbohong? Lagipula Luffy selalu terdiam cukup lama ketika mereka menanyakannya tadi. Semakin lama Ace semakin banyak mendapati keanehan pada tingkah laku Luffy.


Keesokan harinya Luffy masuk sekolah. Ia menggunakan alasan yang sama untuk menjelaskan peyebab luka-lukanya. Hanya beberapa guru yang menanyainya. Sementara teman sekelasnya tak ada yang memperdulikannya sama-sekali. Atau bahkan tak menganggapnya ada. Dari kemarin Luffy tak dapat makan. Paman dan Bibinya masih marah karena kemarin ia mengacaukan segalanya. Bukan masalah besar untuk Luffy karena ia sudah sering menjalani hari hanya dengan meminum air keran. Meskipun itu berat untuk dijalani.

Sabo mengajak Luffy untuk pulang bersama lagi. Dan mereka bertiga (Ditambah Ace) pulang bersama ke rumah menggunakan bis. Ace yang biasanya menanggapi pembicaraan Sabo dengan semangat kali ini terdiam sepanjang perjalanan. Luffy menyadarinya dan merasa telah menggangu kebersamaan mereka.

"Maaf, aku telah menggangu kalian" Luffy berkata lirih, seketika Ace yang duduk di dekat jendela dan Sabo di sisinya menengok.

"Oh, tidak. Bukan begitu Luffy!" Kali ini keduanya menengok ke Ace "Aku hanya sedang kesal karena masalahku di sekolah tadi" Lanjutnya sambil nyengir.

"Ya. Kita kan sudah biasa pulang bersama. Kau sama sekali tidak mengganggu" Sabo menambahi. Luffy tersenyum, membuat pipi memarnya terasa sakit. Tapi ia tak memperdulikannya.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah. Semuanya tampak sama kecuali keberadaan Law yang sedang berdiri menatap mereka bertiga dengan ekspresi tak sabar. Ia tak berhenti menatap Luffy ketika ketiganya mendekatinya. Tiba-tiba Law melempar 3 buah buku ke arah Luffy dan mengenai bagian perutnya yang memar. Luffy mengerang kesakitan. Tangannya langsung memegangi perutnya yang sakit.

"Apa masalahmu Law?!" Sabo langsung memarahi Law. Law hanya meliriknya sekilas seolah Sabo hanyalah angin lalu. Kemudian mengembalikan tatapan kesalnya ke Luffy yang masih membungkuk menahan sakit.

"Kerjakan tugas-tugasku. Besok pagi harus sudah selesai. Awas saja kalau ada yang salah" Kata Law disertai tatapan mengancam.

"Kau ini seenaknya saja!" Amarah Ace tersulut "Kenapa kau tidak mengerjakannya sendiri?! Lagipula itu soal-soal kelas 2!" Ace menatap Law geram.

"Kenapa aku harus mengerjakannya?" Law mengulang pertanyaan Ace seolah itu adalah lelucon yang lucu "Mahluk ini kan sudah menumpang di rumah kita. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk kita. Tanpa Ayah dan Ibu ia takkan bisa sekolah! Daripada ia tidak berguna seperti 2 hari yang lalu. Ia hanya tidur-tiduran di kamarnya! Lama-lama ia akan kurang ajar" Law menyindir dengan tajam.

"Ia sudah membersihkan rumah kita! Ia juga memasak makanan kita! Ia sudah melakukan banyak hal untuk kita! Kau buta?!" Sabo membentak Law. Dengan keji Law meninju wajah Sabo. Sabo terguling karena kuatnya pukulan Law. Luffy dan Ace dibuat tak percaya dengan kelakuan Law.

"Kau gila!" Ace langsung menarik kerah baju Law. Mata cokelat gelapnya menjadi nyalang. Tetapi Law tidak terlihat gentar sama sekali.

"Lihatlah! Sabo jadi kurang ajar karena selalu ada di dekat anak sialan itu! Aku hanya memberinya pelajaran!"

*BUKK*

Ace mengakhiri kata-kata Law dengan tonjokan keras ke wajah Law. Law terduduk di lantai dengan tatapan kemarahan yang mengerikan. Ace hendak memukulnya lagi jika saja Luffy tidak berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan Ace.

"Hentikan Ace! Ia adikmu sendiri! Jangan pukuli dia!" Kemarahan Ace teralihkan oleh Luffy. Bahkan ia merasa bingung karena orang yang juga dibelanya malah melindungi Law.

"Tapi ia memerintahmu seenaknya!" Ujar Ace.

"Sudah…aku akan mengerjakan tugasnya. Tak apa-apa, aku sedang tak ada PR hari ini." Luffy berbisik pada Ace sembari sedikit mendorongnya agar menjauhi Law.

Luffy berhasil menyadarkan Ace dari amarah butanya. Dengan nafas memburu Ace menarik Sabo ke dalam rumah. Sementara Law menghampiri Luffy yang berjongkok memunguti buku. Tatapannya menjadi kesal ketika menatap punggung Luffy. Ketika Luffy berdiri dan membalik badannya, ia langsung mematung karena terkejut. Keberadaan Law sangat mengintimidasinya. Seperti Pamannya.

"Tak usah sok suci. Kau benci padaku kan?" Tanya Law, saking dekatnya Luffy bisa merasakan hembusan nafas Law di dahinya.

"Tidak" Jawab Luffy yakin. Mata besarnya menatap Law polos.

"Gara-gara kau, Ace dan Sabo membenciku"

"Bukan. Itu karena kau sendiri" Luffy berkata tanpa mengubah ekspresinya.

*BUKK*

Luffy tak siap dengan tinju yang di layangkan Law. Punggung Luffy menghantam dinding dengan keras. Ia jatuh berlutut di hadapan Luffy dengan hidung yang menteskan banyak darah. Alisnya mengernyit karena rasa sakit baru yang terasa di wajahnya.

"Kau akan menyesali kata-katamu" Dengan itu Law berjalan meninggalkan Luffy.


Luffy baru selesai beres-beres pukul 11 malam lewat. Badannya pegal-pegal disertai letih karena terus-terusan digunakan tanpa mendapat energi yang cukup. Ia langsung mengerjakan tugas sekolahnya dan tugas sekolah Law sambil menahan kantuk. Ia takut besok bangun kesiangan karena baterai jam nya belum di betulkan. Tugas sekolah milik Law sulit sekali. Ia sama sekali belum mempelajarinya karena ia masih kelas 1. Bahkan ia tak akan pernah mempelajarinya karena ia adalah anak IPS. Beberapa soal ia jawab sebisanya dengan melihat contoh di buku paket Kimia Law. Jikapun salah, setidaknya ia sudah berusaha.

Cukup lama Luffy berkutat dengan buku-buku itu. Ia bahkan tak sadar telah tertidur di tumpukan kardus berisi buku-buku tua yang ia gunakan sebagai meja belajar. Ia melupakan rasa lapar di perutnya. Ia melupakan kekhawatiran yang menghantuinya.


Hai Minna! ^-^

Terimakasih sudah membaca FF One Piece pertamaku!

Aku sampai membaca comment nya berkali-kali saking senangnya :D

Dan aku juga senang bisa meramaikan FF rated M di fandom One Piece.

Aku suka sekali Luffy, ia salah satu Char favorit ku karena kepolosannya.

Aku tak tahu ceritanya akan Update setiap kapan, tapi aku akan berusaha secepat mungkin

Meskipun ada kalanya Author semacam aku Hiatus ^.^;

Aku menerima saran ataupun kritik, tapi jangan pedas-pedas ya.

NB: Terimakasih sebesar-besarnya yang sudah Follow, Favorite dan Comment :')

You're the real MPV!

Hidup Fujoshi!

Arigato ^-^