"Jongin?" Jongin menoleh ketika namanya dipanggil.

"Sehun," suara paraunya memanggil nama Sehun, "mungkin aku hanya pelarian,"

.

.

Am I Still Waiting You? (2/2)

Story by codenameL

Happy reading!

.

.

.

Sehun memberikan secangkir coklat panas dan sebuah selimut untuk Jongin. Dirinya tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Hening, tidak ada perbincangan yang terjadi. Mereka sibuk menatap layar televisi yang menampilkan reality show.

"Ceritakan," ucap Sehun memecah keheningan.

"Tadi aku melihat Baekhyun hyung dengan Chanyeol sedang berbelanja,"

"Mungkin mereka ingin membeli peralatan sekolah,"

"Dan dia bilang bahwa noona-nya yang mengajaknya, bukan Chanyeol!" seketika suara Jongin meninggi. Sehun mengerutkan dahinya. "Kau yakin hanya mereka berdua?"

"Tentu saja, aku cukup lama memandangi mereka. Kurasa kau juga akan berpikir bahwa mereka seperti orang pacaran!" jawabnya gusar. Raut wajah Jongin mulai menegangkan

Sehun tersenyum remeh. "Mungkin itu perasaanmu,"

"Coba kau bayangkan melihat Yixing hyung bersama pria lain dan dia berbohong padamu,"

Sehun tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Pikiran lain menghantui benaknya. Cih, kenapa Jongin harus memberi contoh seperti itu. Setelah meneguk coklat hangatnya beberapa kali, raut wajah Jongin mulai rileks.

"Jadi, menurutmu kau hanya pelarian Baekhyun dari Chanyeol?" tanya Sehun perlahan. Lebih baik berhadapan kepala dingin dengan Jongin. Pemuda berkulit tan itu pun mengangguk.

"Apa menurutmu Baekhyun tidak menyukaimu?"

Jongin menghela nafasnya, menyenderkan kepalanya ke sofa. "Entahlah, kalau dia tidak menyukaiku...untuk apa dia menerimaku, begitu kan menurutmu?"

Sehun tersenyum tipis, raut wajahnya seakan mengatakan 'nah, kau tahu itu.' "Kau hanya cemas bahwa Baekhyun tidak benar-benar menyukaimu," ujar Sehun sambil menepuk pundak Jongin. Tidak ada jawaban dari Jongin, malahan pemuda berkulit tan itu memilih menghabiskan coklat hangatnya.

"Lebih baik besok kau tanyakan saja, besok kalian biasanya pulang bersama kan?"

.

.

.

Hari ini tidak hanya hari di mana Jongin dan Baekhyun pulang bersama tiap minggunya, melainkan hari jadi mereka. Entah angin apa yang merasuki Jongin, dirinya memilih untuk pulang duluan dan menghindari Baekhyun. Niatnya untuk memberikan hadiah hilang sudah. Sampai malamnya, Baekhyun mengirim pesan dan menelepon, Jongin tidak menggubrisnya. Selama beberapa hari, terus seperti itu. Bahkan menjelang kompetisi menari, Jongin tidak menghubungi Baekhyun.

Sebut saja dia bodoh, dia merindukan Baekhyun tapi tidak mau menghubungi pemuda manis tersebut.

"Akh!" Jongin yang sedang melamun di kelas, tiba-tiba dikagetkan dengan pukulan keras di kepalanya. Dia pun menoleh dan mendapati Sehun sedang memegang gulungan kertas, pasti itu alat pemukulnya.

"Aku tidak menyangka memiliki teman sepengecut dirimu," geram Sehun. "Pergilah Sehun, aku sedang malas berdebat," Jongin membuang mukanya dan lebih memilih menatap pemandangan dari jendela. Sehun menghempaskan tubuhnya di kursi, kesal melihat tingkah laku sahabatnya itu.

"Aku kira kau akan lebih berani. Biarkan saja kau dihabisi Park Chanyeol itu, sampai membuat Baekhyun sakit, bodoh," gerutu Sehun.

"Apa kau bilang?" tanya Jongin langsung menoleh. "Baekhyun sakit?"

Kali ini giliran Sehun yang mengacuhkan Jongin.

.

.

Kata-kata Sehun tadi masih terngiang dibenak Jongin, bahkan ketika dirinya sedang menunggu kereta. Dia berharap Baekhyun ada di situ untuk membuktikan omongan Sehun, karena hari ini harusnya mereka pulang bersama.

Tidak lama setelah itu, Jongin merasakan seseorang menariknya lalu memberikan hantaman keras di wajahnya. Hal itu membuat Jongin tersungkur dan membuat beberapa orang yang ada di sana terkejut.

"Bangun,"

Suara berat yang Jongin kenal ditambah dengan tubuh tinggi menjulang. Ya, tidak salah lagi orang itu adalah Park Chanyeol, yang baru saja memberikan bogeman mentah untuknya.

"Kenapa kau–" belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya Chanyeol memberikan hantaman lain di pelipisnya. Kesal menerima perlakuan seperti itu, Jongin balas memukul. Pertarungan mereka tidak berlangsung lama, karena petugas stasiun segera datang dan mau tidak mau mereka harus kabur. Tanpa sadar Jongin ikut ke mana Chanyeol menariknya.

"Apa kata-kataku waktu itu kurang jelas?!" hardik Chanyeol begitu mereka sampai di tempat aman. Jongin masih berusaha mengatur nafasnya sehabis berlari. "Sudah kubilang jangan mematahkan hati Baekhyun!"

"Seakan kau tidak pernah mematahkan hatinya saja," balas Jongin mencibir. Chanyeol kembali memukul Jongin. "Lagipula aku tidak mematahkan hati siapapun," seringaian masih terpampang jelas di wajah Jongin. Chanyeol semakin geram mendengarnya, ingin dia memukul Jongin lagi, tapi dia menahannya. "Kau hanya tidak menyadari telah melakukan hal itu," ucap Chanyeol lirih.

"Benarkah? Bukankah aku yang hatinya kalian hancurkan?" Jongin tertawa keras seakan ucapan Chanyeol tadi adalah lelucon yang sangat lucu. Chanyeol mengerutkan dahinya, menatapnya heran.

"Ya, berlaku seperti teman di depanku, tapi di belakang kalian seperti orang kasmaran," ujar Jongin masih tertawa. Kebingungan semakin meliputi Chanyeol. "Berbelanja bersama noona katanya, cih. Aku tidak tahu noonanya berubah menjadi pria,"

Hening untuk beberapa saat sampai Chanyeol mengerti perkataan Jongin. Kali ini giliran Chanyeol yang tertawa. "Tidak kusangka Baekhyun memilih pacar bodoh sepertimu!"

"Apa?" tanya Jongin mendelik ke arah Chanyeol.

Pria jangkung itu pun berjalan ke arah kursi panjang yang ada di dekat situ. "Duduklah, kita perlu bicara tentang kesalahpahaman ini,"

Yeah, lebih baik berbicara empat mata daripada baku hantam. Berkelahi tidak menyelesaikan apapun.

"Baekhyun sakit," kata pertama yang meluncur dari bibir Chanyeol. Mata Jongin membulat mendengar hal tersebut.

"Parah kah?" tanya Jongin ragu-ragu. "Hanya demam karena kelelahan," jawab Chanyeol. Jongin mengerutkan dahinya. Apa ujian di sekolah Baekhyun sangat berat ya?

"Dan itu semua karena ulahmu," tunjuk Chanyeol. Jongin mengedipkan matanya beberapa kali, heran. "Kalau saja kau waktu itu datang di hari jadi kalian, atau kalau saja kau membalas pesan dan teleponnya, dia tidak akan sakit,"

Seketika itu dada Jongin serasa dipukul keras dengan palu.

"Aku tahu kecemasanmu, kau tidak yakin apa Baekhyun benar-benar menyukaimu," Chanyeol memandang ke arah langit sore yang mulai menunjukan warna indahnya. "Ketahuilah, dia benar-benar menyukaimu, ah tidak...dia mencintaimu,"

Chanyeol pun menceritakan apa yang Baekhyun lalui beberapa minggu lalu.

.

.

.

"Kau sedang merajut syal? Tumben,"

"Ah, jangan! Ini belum selesai,"

"Untukku ya?"

"Kalau untukmu minta pada noonaku, ini untuk Jongin,"

"Arraseo, tapi urus dulu mata pandamu,"

"Eh? Kelihatan kah?"

.

.

.

"Hari ini tidak pulang bersama Jongin?"

"Tidak, katanya dia akan pulang lebih lama. Hei, Chanyeol-ah kau membantuku?"

"Bantu apa?"

"Bikin spanduk untuk menyemangati Jongin! Sebentar lagi dia mengikuti lomba,"

"Malas ah,"

"Aish, bantu aku atau kau tidak akan kurestui dengan noonaku!"

.

.

.

"Baekhyun, ini sudah kereta terakhir dan bocah itu tidak muncul," gerutu Chanyeol sambil berkacak pinggang. "Tu-tunggu sebentar lagi Chanyeol, mu-mungkin dia ada kegiatan di sekolahnya," jawab Baekhyun berusaha tersenyum walaupun badannya sudah menggigil, tangan satunya masih erat memegang hadiah untuk Jongin.

Chanyeol menuruti, tapi hampir satu jam dan bocah bernama Jongin itu pun tidak muncul.

"Lebih baik kita pulang saja, kau bisa menghubunginya nanti,"

.

.

.

"...dan semenjak itu Baekhyun menunggumu setiap harinya sampai kereta terakhir,"

Jongin terdiam. Dia merasa seluruh pasokan udaranya terhambat, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Dia memang bodoh. Dia pengecut, pantas Sehun mengatakan seperti itu. Jongin hanya tidak berani bertanya, karena dia takut. Takut mendengar jawaban Baekhyun.

"Dan sebagai informasi, Baekhyun memang pergi bersama noonanya dan aku menemani mereka. Mungkin kau kurang lama memperhatikan,"

Jongin tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya. "Ah, pantas aku dibilang pengecut dan bodoh," Chanyeol tersenyum tipis. "Kalau boleh jujur, memang iya,"

Mereka saling berpandangan lalu tertawa pelan. "Sebenarnya kalau dibilang, aku cukup terpukau dengan usahamu. Kau sampai membuat Baekhyun jatuh cinta seperti itu," Chanyeol meregangkan badannya, "dan kurasa dia pun tidak peduli kalaupun harus merasakan sakit walaupun harus menunggumu. Cinta memang membuatmu buta, ya,"

Chanyeol pun berdiri dan berjalan ke arah mesin penjual minuman, mengambil dua kaleng kopi dan menyerahkan satunya kepada Jongin.

"Di mana Baekhyun hyung sekarang, h-hyung?"

.

.

.

Perlahan Jongin membuka pintu kamar tersebut, Jongin dapat melihat lipatan spanduk di dekat tempat tidur Baekhyun dan sebuah kotak yang Jongin tebak berisi syal berada di atas meja, lalu di sanalah Jongin melihat Baekhyun tergeletak dengan lemahnya. Orang yang ingin sekali Jongin peluk.

Jongin duduk di samping tempat tidur, memandangi tiap inchi wajah Baekhyun. Wajahnya yang memerah diakibatkan panas, poni yang terkulai lemas dikarenakan basah oleh keringat.

Ingin sekali Jongin membelai rambut kekasihnya, namun ekspresi Baekhyun seketika berubah, dahinya mulai mengerut. Sepertinya Baekhyun bermimpi buruk. Tanpa sadar, Baekhyun membuka matanya dan segera memeluk orang yang ada dihadapannya.

"Cha-chanyeol!"

Bahu Jongin tersentak mendengar nama itu. Baekhyun memeluknya dengan erat. "Jangan pukul Jongin, dia tidak salah! Aku...aku...seharusnya menjaga kesehatanku..."

Sepertinya Baekhyun mengira kalau dirinya adalah Chanyeol. Sorot mata Jongin mulai melembut, dia pun membalas pelukan Baekhyun.

"Dia...dia...sebentar lagi akan mengikuti lomba, kalau badannya sakit itu tanggung jawabmu Park Chanyeol!"

Jongin tidak menjawab, namun tangannya perlahan membelai punggung Baekhyun. Berusaha menenangkannya.

"Bagaimana kalau nanti dia membenciku?" Jongin menaikan alisnya. Baekhyun sepertinya mulai ngelantur. "Bagaimana kalau dia meninggalkanku? Aku tidak mau...kau tahu kan dia satu-satunya, ka-kalau dia hilang...aku harus bagaimana? Katakan Chanyeol, aku harus bagaimana?!"

Isak tangis mulai terdengar, Jongin meringis dalam hati.

"Aku tidak tahu kenapa dia tidak mau menemuiku, aku tidak tahu kenapa dia memutuskan...untuk...untuk bertemu seminggu sekali, apa salahku Chanyeol?" Air mata Baekhyun mulai membasahi seragam Jongin. "Padahal aku ingin bertemu dengannya tiap hari, aku merindukannya,"

Jongin merutuki dirinya. Membuat orang yang dicintainya menangis, bagus sekali Kim Jongin.

"Ka-kalau nanti menemuinya tanyakan kabarnya, tapi...jangan bilang kalau aku sakit,"

"Kenapa jangan bilang?" tanya Jongin akhirnya.

"Nanti, kalau dia khawatir ba-bagaimana...dia tidak bisa fokus lomba," jawab Baekhyun masih terisak.

"Bodoh, aku lebih mengkhawatirkanmu daripada lomba itu," balas Jongin mengecup puncak kepala Baekhyun. Seakan tersadar, Baekhyun segera menoleh dan matanya terbelalak melihat Jongin.

"J-jongin?"

Tanpa basa basi Jongin segera mencium bibir Baekhyun. Hangat, itu yang pertama kali Jongin rasakan dan entah kenapa lama kelamaan menjadi manis. Kenapa bibir Baekhyun terasa manis sekali? Jongin seakan mabuk dibuatnya. Dia pun semakin melumat bibir bawah Baekhyun. Mereka melepaskan pagutan itu ketika merasa butuh pasokan udara.

"Kau tahu hyung...kata orang, ciuman bisa menyembuhkan demam," bisik Jongin sambil tersenyum.

"Bodoh," balas Baekhyun sambil tertawa pelan. Jongin pun mendekatkan kedua dahi mereka. "Ya, aku memang si bodoh yang sampai membuat pacarnya sakit,"

"Bukan salahmu kok..." gumam Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya. Jongin menggeleng sambil meletakan telunjuknya di bibir Baekhyun.

"Hyung, dengarkan aku kali ini," Jongin menarik nafasnya lalu menghembuskan. "Maafkan aku membuatmu seperti ini...aku sangat menyesal. Aku tidak membencimu. Aku meminta kita untuk bertemu seminggu sekali, karena aku tidak tahan melihatmu kelelahan menungguku apalagi kau suka tertidur di stasiun, bagaimana kalau ada orang jahat? Kau terlalu manis,"

Baekhyun tersenyum mendengar itu. Jongin pun melanjutkan perkataannya. "Aku pun ingin melihatmu setiap harinya dan aku tidak akan meninggalkanmu. Itu mimpi buruk bagiku. Aku mencintaimu, B," ujarnya sambil tersenyum tulus, untuk beberapa saat mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Baekhyun menarik Jongin dan kembali menciumnya.

"Aku juga mencintaimu, Jongin,"

Sekarang, jika sekali lagi pertanyaan itu terlintas di pikiran Jongin. Sudah selesaikah dia menunggu?

Jawabannya iya. Karena sejak awal Baekhyun sudah menoleh ke arahnya. Hanya saja, Jongin baru menyadarinya sekarang.

END

.

.

.

"Selamat atas kemenangan kalian!" sahut Baekhyun sambil memberikan karangan bunga. Jongin pun segera membuka tangannya dan menyambut Baekhyun dalam pelukan. "Selamat atas kemenanganmu, bocah!" ucap Chanyeol sambil menepuk punggung Jongin.

"Tapi kau jahat sekali Chanyeol, memukul wajah tampannya," gerutu Baekhyun sambil mengelus-ngelus wajah Jongin. Chanyeol dan Jongin saling berpandangan lalu sama-sama tertawa. "Kan sudah kubilang jangan dipukul!"

"Hanya ingin membuatnya sadar saja," balas Chanyeol sambil mengangkat bahu. "Dia terlalu cemas soalnya hyung, lebih baik dipukul saja," timpal Sehun.

"Cemas? Soal apa?"

"I-itu..."

"Kau mau tahu Baek? Rahasia pria," gurau Chanyeol. Baekhyun mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya. "Yak, aku juga pria!"

"Oh, maksudku rahasia pria manly!" ucap Chanyeol sambil tertawa. "Lalu kau kira aku tidak manly?!" Baekhyun mendelik ke arah Chanyeol. Mereka tertawa melihat ekspresi Baekhyun. Hal itu makin membuat Baekhyun kesal dan berakhir di pelukan Jongin, sambil bergumam 'mati sana kau, park chanyeol'

Setidaknya semua berakhir dengan indah, untuk Jongin dan Baekhyun.

.

.

.


A/N: waa maaf baru update ;-; tapi happy end buat mereka \o/ makasih untuk readers yang udah baca dan review fic ini, love youuuu *throws sarang to readers* sebenarnya ada spin-off lagi buat bagian sehun, tapi kalau kalian juga tertarik sih hehehe