Take Care of Him
Chapter 2
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), gaje
.
Present~
.
.
Hinata duduk menatapi langit-langit, menggembungkan pipi berulang kali hingga bosan kemudian tiduran. Hinata merasa hidupnya akan menjadi tak biasa setelah kehadiran si tetangga baru yang ternyata adalah orang lama dari hidupnya.
"Apa yang harus aku lakukan Sabaku-san?" Hinata menonjok boneka koalanya yang ia beri nama Sabaku-san. Sengaja.
Sementara langit lamat-lamat mulai menampakkan warna merah yang semakin merangkak ke atas, Hinata baru sadar bahwa dirinya tidak tidur semalaman. Sial, dia masih harus mengawasi ujian hari ini!
.
.
.
Ponsel hitam itu berdering di atas nakas berlapis kaca, membuat si empunya mengerang keras karena jam tidurnya terganggu.
"Halo? Oh ibu. Ya, aku memang sudah libur besok. Belum, aku belum bisa pulang, pekerjaanku masih banyak, mungkin sebulan lagi. Iya aku sehat kok di sini. Hah, pacar? Belum, aku belum berniat mencari pacar dulu. Iya, baiklah aku akan cari pacar besok supaya tidak jadi perawan tua. Sudah ya bu, aku mengantuk sekali."
Bunyi klik menandai sambungan telepon yang telah terputus. Hinata jadi sensitif sekali tentang pertanyaan kencan dari seluruh anggota keluarga di rumah. Ini semua salah Kiba yang memutuskan hubungan mereka hanya karena jarak tempat kerja yang tak bisa ditolerir.
Aneh sekali, bukankah harusnya cinta tidak memandang jarak? Mereka bahkan sudah lama pacaran. Ah entahlah, lagipula Hinata juga sudah tidak ingin berhubungan dengan lelaki itu lagi.
Begitu berhenti melamun, Hinata baru sadar bahwa ada yang memainkan bel apartemennya. Ia pun bergegas berjalan menuju pintu.
"Siapa?" Wajahnya kemudian ditekuk saat mendapati si bocah menyebalkan yang kini mengumbar senyum.
Apa lagi sekarang?
"Kak, aku main ya?" Anak itu masuk begitu saja dengan menggenggam sebuah compact disk.
"Pamanmu belum pulang?" Shikadai mengangguk, kemudian berjalan ke arah televisi.
Hinata kemudian iseng bertanya tentang paman si anak kecil.
"Hei, kau tidak ingin cerita lagi tentang pamanmu? Aku penasaran tahu."
Mata si anak langsung berkilat mendengar ucapan sang ehm*calon bibi*ehm.
"Ada, aku punya satu cerita yang menarik tentang pamanku. Jadi, dia itu pernah mengambil gambarmu saat kau sedang menunggu lift, dan dia sebenarnya selalu berjalan di belakangmu saat berangkat kerja, tapi kakak mungkin tidak pernah menyadarinya."
Hah? Jadi anak ini serius tentang ucapannya?
"Ah, kau kebanyakan membual."
"Aku serius, kakak bisa memastikan sendiri ucapanku, besok saat berangkat kerja, cobalah untuk sering menengok ke belakang. Dan tentang fotomu, dia menjadikannya wallpaper ponsel. Aku lihat, sumpah." Hinata membelalak kaget.
"Bagaimana? Kakak masih tidak percaya padaku?"
Hinata menggigiti bibir bawahnya.
"Oh iya kak, aku mengambil cd pamanku, dia menonton ini kemarin malam." Shikadai lalu meminta Hinata untuk memutar video di tv.
"Bukan video macam-macam kan? Awas kau-"
"Bukan kok, aku yakin hanya ada banyak gadis yang menari-nari."
Hinata menganga begitu video diputar, ia jadi bertanya-tanya apakah Gaara menyukai idol group yang sering digemari banyak orang itu?
"Kakak bisa menari seperti mereka?"
Hinata membelalak, mengisyaratkan bahwa ia sudah bukan gadis muda lagi.
"Oh jadi kakak tidak bisa? Sayang sekali, paman Gaara suka perempuan yang bisa menari."
Hinata berpikir, menimbang-nimbang dan akhirnya...
"Ayo kita coba!" Menyeret Shikadai untuk ikut menari bersamanya, biarlah mereka menggila bersama saat ini, yang penting ia bisa jadi wanita idaman Sabaku Gaara. Musik berlanjut, mereka masih bergerak mengikuti alunan lagu saat bel berbunyi untuk ke dua kalinya di hari ini.
"Shikadai, berhenti menari dan matikan videonya." Hinata melesat menuju pintu, mengabaikan si anak yang tak mendengarkan titahnya sama sekali.
"Hai?" Gaara ada di depan pintu, melongok sekilas ke dalam apartemen Hinata dimana ada Shikadai yang sedang menari di depan televisi.
"Dia ke sini lagi ya? Ah, maafkan aku." Gaara nampak mengusap tengkuk.
"Loh, bukannya kau ke sini memang untuk menjemput keponakanmu?"
Gaara diam, terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Aku, aku sebenarnya aku ingin mengajakmu keluar sebentar, tapi mungkin nanti saja saat Shikadai sudah tidur."
Hinata mengangguk, mempersilahkan pujaan hatinya menyeret Shikadai yang meronta-rota tidak mau pulang.
"Paman, biarkan aku di sini lebih lama, lagipula kita bertetangga, kenapa terburu-buru?"
"Kak Hinata mungkin sedang lelah, dan kau mengganggunya."
Hinata terkekeh melihat perdebatan pria dewasa dengan anak kecil dihadapannya, lucu sekali ketika ia menyadari wajah Gaara yang justru berubah imut saat mengomel.
"Hei, kau bisa main lagi besok, ini sudah malam, cepatlah tidur." Senyum manis yang Hinata sodorkan luntur tatkala bom peledak mencorengnya.
Wajahnya langsung berubah merah menahan marah.
"Kakak ini sangat manis di depan paman, tapi berubah galak saat denganku, hahaha- aduh sakit!" Shikadai benar-benar diseret kali ini, telinganya yang jadi sasaran akibat perkataan tak sopannya.
"Dasar bocah. Memangnya kapan aku pernah galak padanya?" Hinata mendesis. Ia masuk, mematikan televisi yang masih menampilkan gadis penari dan tiduran di sofa.
Ia kemudian berpikir tentang rencana liburannya besok pagi, sebelum bergulat dengan nilai ada baiknya dia me-refresh otak sebentar. Hampir saja Hinata terlelap kalau saja bel tidak berbunyi.
"Eh? Apa dia sudah tidur?" Si pria jangkung menggeleng.
"Belum, dia sedang menonton kartun robot di kamar, sebentar lagi juga mengantuk. Oh iya, mau keluar denganku?"
Hinata tidak bisa menolak tentu, jadilah ia mengambil jaket tebal mengingat hari-hari belakangan sangat dingin.
Gaara dan Hinata berjalan berdampingan, memecah belah keheningan malam dengan bunyi tapak kaki mereka. Pemberhentian mereka adalah kedai kopi yang kebetulan lumayan sepi malam ini, tempat itu tak jauh dari apartemen mereka.
"Mau minum kopi denganku?"
Hinata mengangguk, mulai berjalan memasuki kedai. Malam semakin dingin kala mereka meneguk kopi hangat yang baru saja disiapkan pelayan.
"Maafkan aku karena Shikadai bertingkah tidak sopan padamu." Tiba-tiba keheningan dipecahkan perkataan Gaara.
"Tidak apa, dia masih anak-anak. Kudengar kita sama-sama dosen sekarang, selamat untukmu."
"Begitulah, selamat juga untukmu, eh... pasti dia sudah cerita banyak padamu, apa dia selalu membicarakanku?"
Hinata terkekeh geli. "Ya, begitulah. Seperti kau yang selalu pergi pagi pulang malam dan itu membuatnya bosan."
Gaara ikut terkekeh, lucu sekali ketika menatap Gaara dari dekat begini.
"Aku juga sudah bilang pada kakakku untuk menitipkan anaknya ke orang lain saja, karena aku sangat sibuk."
"Oh ya, memangnya orang tua dia kemana?"
Gaara lantas bercerita tentang kakak perempuan beserta kakak iparnya yang ada tugas penting dari kantor untuk pergi ke Singapura selama satu minggu penuh, dan itu tidak mungkin membawa serta merta anaknya yang masih kecil.
"Dan, aku sebenarnya ingin meminta bantuanmu satu kali ini." Gaara nyengir, sementara Hinata menatap antusias.
"Katakan saja."
"Besok aku ada acara sampai tengah malam, kemungkinan baru pulang pagi. Jadi, aku mau menitipkan Shikadai padamu, boleh ya?" Gaara nampak sangat berharap, hanya saja raut wajah Hinata menampilkan rasa tidak rela yang kentara.
Dua jam bersama anak itu saja sudah membuatnya pusing, apalagi seharian penuh! Tapi tak apa, demi kedekatannya dengan si pria idaman. Ia akan melakukannya.
"Baiklah, lagipula aku sudah libur besok." Gaara menghembuskan napas lega.
"Terima kasih."
Hinata mengangguk.
"Aku juga libur besoknya, mau jalan-jalan?"
Hinata membelakkan mata mendapati tawaran Gaara yang begitu menggiurkan. Mereka berdua akan jalan-jalan untuk yang pertama kalinya. Berdua saja lo-
"Kemana tempat yang bagus untuk anak-anak ya? Shikadai pasti akan suka jalan-jalan sebelum pulang."
Senyuman di wajah Hinata luntur.
.
.
.
Rinai hujan membasahi jalan setapak yang Hinata tengok dari jendela apartemen, mengeluh kecewa tentang pagi yang tak mengijinkannya keluar barang sebentar. Shikadai sudah ada di ruang tamu menonton televisi, meneguk susu coklat sambil selimutan. Gaara sudah pergi pagi-pagi sekali hari ini. Huft, padahal hari ini cocok sekali untuk jalan-jalan sebentar.
"Ku dengar ini hari ke lima kau di sini ya? Sayang sekali sebentar lagi kau pulang." Hinata memukuli pelan punggung keponakan Gaara itu dengan jemari lentiknya, membuat si kecil tersedak minuman.
"Benar, padahal aku masih ingin di sini."
Lantas Hinata menanyakan alasannya.
"Aku ingin melihat perkembangan hubungan paman dan calon bibiku, hehe."
"Dasar, kau ini. Tapi jujur saja, ada banyak hal yang tidak boleh kau lihat tentang perkembangan hubungan kami, itu urusan orang dewasa." Hinata mengelap susu coklat yang menggantung di sudut bibir si kecil.
"Benarkah? Apa saja itu?" Shikadai meletakkan gelas kosongnya di meja, menatap penasaran ke arah Hinata yang hanya mengendikkan bahu kemudian berlalu.
"Kak, beri tahu aku!"
'Blam!'
Pintu kamar Hinata tertutup, dan Shikadai cemberut di depan televisi.
Hujan kian reda seiring jam dinding yang menunjukkan pukul 12.00, Hinata keluar dari kamar, baru tidur. Entah apa yang ada di pikirannya sampai pergi tidur dengan meninggalkan bocah berumur 12 tahun di ruang tamunya.
Ia hanya lelah, malam sebelumnya ia tak bisa benar-benar tidur karena terlalu fokus pada nilai mahasiswanya. Snack berantakan di sofa, disusul soda yang tak sedikit tumpah di meja, dan anak kecil yang menari-nari di depan televisi.
"Ya ampun, Shikadai!"
Yang dipanggil hanya nyengir, kemudian lari tunggang langgang ke arah toilet, dan Hinata berusaha keras mengejarnya.
"Bersihkan kekacauan ini, lalu kita akan pergi belanja, kau tidak mau?"
Belum sempat masuk toilet untuk bersembunyi, Brian balik arah mendengar kata belanja.
"Aku mau es krim!"
.
.
.
Pukul 23.00
'Ting tong'
Hinata dan Shikadai tengah menahan kantuk di sofa begitu bel berdentang, membuat keduanya melirik satu sama lain untuk membukakan pintu.
"Baiklah, aku yang buka. Siapa sih yang bertamu tengah malam begini?" Hinata menggerutu selagi terseok-seok menuju pintu. Sementara Shikadai terlihat merapatkan selimut, siap tidur.
"Eh, kau tidak jadi pulang pagi?"
Gaara menyambutnya di depan pintu.
"Tidak, aku minta ijin pulang." Lelaki itu nampak menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Dia sudah tidur?"
"Kurasa begitu."
"Aku ingin ngobrol sebentar, mau keluar denganku?"
Hinata membelalak, hingga tak menyadari tangannya telah digenggam si pria jangkung itu ke kursi panjang depan apartemen mereka, ditemani lampu-lampu hias yang selalu menerangi malam di sana.
"Ini untukmu."
Eh?
Hinata kian membelalak saat seorang Sabaku Gaara menyodorkan setangkai mawar merah padanya, rasanya deja vu.
"Terima kasih, tapi untuk apa?"
"Ehm, kau ingat sesuatu tentang mawar?" Gaara meliriknya sekilas.
Tentu saja Hinata ingat, memori itu belum sirna sedikitpun, masih lekat sampai detik ini.
Dengan itu Hinata mengangguk.
"Kupikir kau akan menyatakan cinta saat itu." Gaara berkelakar, yang sialnya justru membuat wajah Hinata memerah.
"Kau minta bunga dariku kan saat itu? Maaf aku tidak sempat memberinya, kau kelihatan terburu- buru."
Hinata menggaruk tengkuk, malu sekali mengulang masa lalu, ya walaupun sebenarnya itu sangat sia-sia untuk dilupakan.
"Jadi, jelaskan padaku kenapa kau pergi saat itu?"
Hinata gugup. "Eum, aku ada ujian waktu itu, hehe."
"Kau tidak akan pergi lagi setelah bicara denganku kan?"
Hinata menggeleng. Mana mungkin ia akan pergi setelah menemukan belahan hatinya di sini. Tapi ia tetap dengan sopan bertanya mengapa Gaara bicara seperti itu.
"Karena aku belum sempat berterimakasih padamu waktu itu."
Setelahnya, ia dapat merasakan kepala si lelaki mendarat di bahunya, kemudian menguap.
"Aku lelah sekali, aku pinjam bahumu sebentar ya?"
Hinata tak tahu harus bagaimana. Hanya saja jantungnya tengah saling memukul seperti genderang perang. Meski tubuh Gaara lebih berat darinya, Hinata tak keberatan sama sekali meminjamkan pundaknya. Yang terpenting Gaara merasa nyaman dengannya, dan ia juga perlahan mulai merasakan kebahagiaan dengan menutup mata serta menggenggam erat setangkai bunga yang harusnya ia dapatkan 6 tahun lalu.
TBC
A/N : Terima kasih yang sudah klik favorit dan follow, dan juga yang komen, terima kasih banyak. ^^
Keep RnR, please?
