Pada zaman dahulu, hidup seorang putri yang sangat cantik, putri itu tinggal disebuah istana yang sangat besar, megah, dan juga indah. Putri itu memiliki semua yang ia inginkan, tapi ada satu hal yang sangat disukai olehnya,
Putri cantik itu senang bermain piano.
Setiap hari alunan indah dari pianonya selalu memenuhi tiap sudut kerajaan. Sang ratu selalu menemani putri kecilnya bermain piano, tetapi tidak dengan sang raja. Karna suatu hari sang raja datang dan memberikan sebuah berita yang tidak diinginkan oleh si putri cantik.
Putri cantik harus berhenti bermain piano.
Mata yang sebelumnya terpejam itu secara spontan terbuka, tersadar setelah dirinya terlelap selama beberapa menit. Tidak ada yang berubah dari sorot mata coklat yang sebelumnya terpejam itu,
Begitu tajam dan menakutkan.
Mengesampingkan rasa pegal pada punggungnya karna tertidur dikursi kerja, pemilik matacoklat itu kemudian beranjak dari duduknya, memperlihatkan tubuhnya yang begitu tinggi dan tegap.
Ia melangkah keluar dari ruang kerjanya dan mendapati keadaan rumahnya yang begitu sunyi dan juga gelap.
Hari telah berlalu senja.
Langkahnya begitu tenang dan pasti. Ia menekan saklar lampu hingga setiap ruangan yang dilewati olehnya berubah terang oleh benda bulat yang menempel disetiap kotak langit-langit rumahnya, menghilangkan suasana kelam yang tidak pernah luntur menemani rasa sepi dan gelap kediamannya.
Sepasang kaki itu berakhir pada sebuah lemari pendingin yang terletak di dapur, membukanya dan mengambil sekaleng soda lalu menyesapnya.
Rasa kantuk itu kini telah hilang sepenuhnya.
Setelahnya ia menyandarkan punggung tegapnya pada pintu lemari dingin dibelakangnya. Coklat tajam itu kemudian menelisik minuman soda yang berada di genggamannya. Tak tertebak dengan apa yang sedang dipikirkan olehnya, namun dilihat dari sorot tajamnya, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal didalam benaknya.
Tanpa melakukan hal lain, ia kemudian membuang kaleng kosong itu kedalam tong sampah, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, dan mengernyit saat jemarinya menyentuh sesuatu didalam sana.
Sebelah tangannya ia keluarkan, dan yang ia dapat setelahnya adalah keberadaan sebuah kunci ditelapak tangannya.
Orang itu kemudian terdiam dan sebelah alisnya terangkat. Mengingat-ngingat kenapa ada kunci disaku celananya, lalu ingatannya terhenti pada kejadian dua hari yang lalu.
Dengan tanang ia kembali melangkahkan kakinya, menyusuri luas rumahnya yang sepi dengan sebuah kunci dalam genggamannya. Langkahnya kembali berakhir, kini pada sebuah pintu. Dari bawah celah pintu, ia bisa melihat cahaya lampu yang menyala, tidak seperti ruangan-ruangan sebelumnya yang termakan gelap, dibalik pintu itu, terlihat cahaya yang memancar berasal dari dalam kamar dengan pintu yang terkunci dari luar.
Orang itu bahkan tidak ingat jika sebelumya ia pernah mendatangi ruangan ini. Tanpa niat, orang itu kemudian memasukkan kunci besi pada lubang pintu lalu memutarnya,
Pintu itu terbuka.
Kembali ia melangkahkan kakinya dengan santai, memasuki sebuah kamar yang lumayan besar dengan cat berwarna merah muda, interior kamar yang sungguh indah dengan beberapa boneka dan sofa yang tersedia dengan warna yang senada.
Orang itu kembali memasukkan sebelah tangannya dan berjalan menuju sebuah ranjang. Diatasnya terdapat seseorang yang tengah tertidur, atau mungkin orang itu mati.
Sprei berwarna peach pucat itu terlihat kusut, terdapat noda merah yang ia ketahui sebelumnya itu adalah darah yang telah mengering sejak dua hari yang lalu. Orang yang berada diatas ranjang itu adalah seorang gadis yang telah dibeli olehnya.
Gadis itu terbaring diatas ranjang, meringkuk seperti bayi dan tidak berbusana.
Kedua tangannya menempel satu sama lain dengan sebuah ikat pinggang yang melingkar dipergelangan tangannya.
Jadi disitu rupanya, ikat pinggang yang sebelumnya dicari-cari olehnya.
Gadis yang tak sadarkan diri itu terlihat begitu menyedihkan,
Bibir tipis itu telah berubah warna menjadi biru keunguan, kulit putihnya terlihat begitu pucat, disekitar pelipis gadis itu terlihat mengkilap karena bulir-bulir keringat yang dihasilkan oleh pori-pori si gadis yang sepertinya masih bernyawa.
Tubuh itu meringkuk seperti sebuah embrio tanpa sehelai benang yang menutupinya. Si pemilik tubuh itu sepertinya berusaha menghangatkan dirinya dengan cara meringkuk, meskipun tetap saja itu tidak membantunya dalam mendapatkan sebuah kehangatan.
Namun orang itu menatapnya tanpa minat. Seolah yang dilihat olehnya hanyalah seseorang yang sedang tertidur pulas diatas ranjangnya yang hangat.
Tangannya terulur untuk melepaskan ikat pinggang yang mengikat pergelangan tangan si gadis, setelahnya, kedua lengan pucat itu terkulai tanpa tenaga diatas tempat tidurnya, iris coklatnya melihat dengan jelas bagaimana garis merah itu menghiasi kulit putih sang gadis. Jerat merah itu membekas, tercipta di kedua pergelangan tagannya. Telapak tangan itu terlihat begitu pucat, mungkin karena peredaran darahnya tersumbat oleh jeratan ikat pinggang yang mengikat kedua tangannya,
Nafas gadis itu terengah-engah dengan kedua belah bibirnya yang terbuka berusaha mengambil nafas, seperti seorang yang tengah sekarat. Bulir-bulir keringat terus bermunculan memenuhi pelipis si gadis dengan kedua matanya yang terpejam rapat.
Tanpa ada niatan menolong, sang pemilik iris coklat membalikkan badannya dan keluar dari ruangan bernuansa merah muda tanpa menoleh kebelakang. Dirinya kembali keruangan yang seharusnya, dengan sebuah ikat pinggang pada tangannya, hingga lima belas menit setelah ia melakukan panggilan, sebuah teriakan ia tangkap dari seseorang, bersumber dari dalam ruangan yang terakhir kali ia tinggalkan.
Sudut bibirnya terangkat naik, menghasilkan sebuah seringaian yang mengerikan.
- Unfortunate Soul -
"Ibu.. bukankah ini terlihat cantik?"
"Tentu saja sayang, kau terlihat seperti putri saat mengenakannya."
"Eiyy.. tentu saja, bukankah anak ibu ini memang seorang putri? Jja- ibu juga harus mengenakannya."
Wanita itu terkekeh saat putri satu-satuya memasangkan sebuah flower crown yang berhasil mereka buat bersama-sama, ia merasa bahagia karena akhirnya bisa melihat putri cantiknya kembali tertawa,
"Wahh, ibu terlihat sangat-sangat cantik! Dengan begitu ibu adalah seorang ratu dan aku putrinya."
Ucap putrinya yang kembali tersenyum bahagia hingga kedua matanya terpejam, menghasilkan lengkungan indah yang diwariskan darinya.
"Aigoo, apa kau begitu senang hm? ceritakan pada ibu, apa semuanya berjalan lancar?"
Putri satu-satunya itu kini memajukan bibir bawahnya, ekspresinya berubah seraya ia melingkarkan kedua tangannya, menciptakan sebuah pelukan pada pinggang ibunya, memeluknya erat dan menyandarkan kepala berhias mahkota bunga itu pada bahunya.
"Tidak ada yang berjalan lancar bu.. semuanya begitu menyeramkan, aku merasa tersiksa, sepertinya akan lebih baik jika aku mati saja, dengan begitu aku bisa bersama ibu selamanya."
Putrinya kian memeluk pinggangnya erat saat ia memberikan sebuah usapan halus pada punggung sempit anaknya, hembusan angin sejuk menemani mereka disebuah padang rumput yang begitu luas dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah.
"Heyy.. kenapa anak ibu menangis? Tidak ada yang lebih menyakitkan dari yang ibu rasakan sekarang Baekhyunnie.. ibu lebih merasa sakit jika melihatmu seperti ini.. kuatlah, bukankah anak ibu itu seorang putri yang kuat?"
"Tapi aku tidak bisa melanjutkannya ibu.. itu sungguh menyakitkan, bukankah dunia terlalu kejam padaku? Bagaimana aku bisa hidup tanpa ibu? Dan bagaimana aku bisa hidup dengan orang itu? Apa ibu tau anak ibu ini dibeli seperti barang? Dan apa ibu tau jika anak ibu dijual akibat perbuatan yang dikukan oleh ayahnya?"
Putrinya kini menangis, bening air itu mengalir membasahi kedua pipinya, memperlihatkan betapa tersiksanya dia, ia tidak bisa menahan semua ini, teralalu menyakitkan untuk dilanjutkan, bukankah ia lebih baik mati daripada harus menerima semua siksaan yang kini ia rasakan?
"Sayang.. ibu bahkan kehilangan nyawa atas perbuatan ayahmu, dan ibu tidak ingin itu terjadi padamu, bertahanlah, itu tidak akan terjadi untuk selamanya, bertahanlah untuk ibu, ibu tau anak ibu tidak pantas mendapatkannya, tapi ibu tidak ingin jika anak ibu berakhir disebuah tempat mengerikan dimana orang lain bisa dengan bebas menjamah tubuhmu.."
"Orang itu bahkan merenggut sesuatu yang paling berharga bagiku bu, dan aku tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, mungkin dia akan menyiksaku atau membunuhku."
"Selalu ada alasan atas apa yang terjadi padamu sayang, hanya percayalah jika Tuhan telah memberikan pilahan yang terbaik untukmu.."
"Dengan membiarkanku sekarat?"
"Tidak sayang- dia tidak membiarkanmu sekarat, kau akan baik-baik saja.."
"Tetap saja aku ingin bersama ibu.. kumohon.. biarkan aku bersama ibu disini.."
Wanita itu kemudian mengusap lelehan bening yang tanpa henti mengalir membasahi pipi anak satu-satunya, ia mengecup kening anaknya lembut, menangkup kedua pipi anaknya lalu tersenyum,
"Hey bagaimana dengan bermain piano? Bukankah anak ibu sangat menyukai piano?"
"Itu terlalu mahal bu, bukankah aku sudah berhenti mengikuti les piano saat liburan musim dingin tahun lalu? Kita tidak punya cukup uang untuk melanjutkan biaya privatnya, aku tidak menyukainya lagi."
"Jadi anak ibu sudah pandai berbohong hm? ibu tau jika kau masih menyukainya sayang.. katakan pada ibu, bukankah kau mengetahui judul dari melodi ini?"
"Hm melodi apa?"
Putri cantiknya terdiam untuk beberapa saat, mencermati apa yang dikatakan oleh ibunya, melodi apa yang dimaksud oleh ibunya? Hingga setelahnya samar-samar ia bisa mendengar sesuatu lain menemani mereka disana, sebuah melodi yang berasal dari tuts piano..
"Oo.. seseorang bermain piano? Kupikir hanya kita berdua yang berada disini bu.."
"Hmm ibu tidak yakin, ingin mencari tau siapa yang bermain piano hm?"
"Tentu, mari kita cari bersama-sama!"
Ibunya tersenyum saat kembali menyaksikan anaknya yang begitu antusias ketika mereka mendengar sebuah melodi yang berasal dari sebuah piano, ia kemudian beranjak dari duduknya, menggenggam erat tangan putrinya dan mulai berjalan ditengah hamparan padang rumput dengan berbagai bunga yang indah disetiap langkahnya.
Tetaplah hidup Baekhyunnie..
Sayup-sayup alunan melodi itu membuatnya membuka kedua mata yang terasa begitu berat, ia tidak bisa merasakan seluruh persendian tubuhnya, bagaikan lumpuh, ia merasa begitu lemah, pandangannya terlihat begitu buram, hingga setelah ia mengedipkan matanya untuk beberapa kali, langit-langit kamar adalah objek pertama yang ia lihat.
Satu hal yang membuatnya tersadar adalah dentingan melodi yang masih terdengar olehnya sekarang, melodi yang membuatnya tersadar dari tidurnya yang panjang.
Alunan yang menjemputnya dari mimpi indah, oleh seseorang yang tengah memainkan piano.
Sayu sorot itu membungkus berbagai macam perasaan yang tidak bisa digambarkan, kosong tatapan itu terlihat begitu putus asa dengan makna yang tidak bisa diungkapkan.
Ibu.. aku masih hidup.
Menyerah dengan rasa lemah yang masih melumpuhkan dirinya, ia memilih untuk kembali memejamkan mata, ditemani oleh alunan melodi yang begitu indah, bunyi nyata yang bukan berasal dari alam bawah sadarnya. Menyerahkan kembali seluruh tubuhnya pada sebuah mimpi indah yang merupakan tempat paling aman untuknya.
Keesokan harinya ia terbangun dengan keadaan yang jauh lebih baik, masih dengan rasa lemas pada sekujur tubuhnya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengedipkan matanya dan menyadari kenyataan bahwa dirinya masih hidup.
Ia ingat betul dengan suasana kamar ini, dirinya sepenuhnya yakin jika ia masih berada ditempat yang sama seperti terakhir kali ia memiliki kesadarannya.
Ngomong-ngomong soal itu, berapa lama ia tak sadarkan diri? Dan siapa yang menolongnya? Sesuatu lain ia rasakan mengalir kedalam tubuhnya, sesuatu lain yang berasal dari cairan infus, dibuktikan dengan pergelangan tangannya yang terasa pegal.
Oh, atau mungkin itu karena ikat pinggang yang selama ini mengikat kedua tangannya?
Taklama dari itu, inderanya mendengar pintu terbuka, dan respon tubuhnya dengan otomatis bergetar diiringi dengan rasa takut dan perasaan terancam yang tak bisa ia ungkapkan. Jantungnya berdegup kencang, dan seketika ia bisa merasakan keringat kembali mengalir melalui pelipisnya. Ia kehilangan keberanian untuk menolehkan kepalanya sekedar untuk melihat siapa yang berkunjung memasuki ruangan yang ia tempati sekarang. Sosok lelaki itu berbekas dalam ingatannya, membuatnya berakhir dengan sekujur tubuhnya yang bergetar oleh rasa rakut.
"Yatuhan! Anda sudah sadar?"
Namun yang ia dengar setelahnya hanyalah suara pekikan dari seorang perempuan, sedikit membuat jantungnya behenti berdetak sedetik karna perasaan lega yang menenangkan seluruh sendinya yang kaku, maka dari itu ia menolehkan kepala lemasnya dan menyadari seseorang berseragam berdiri diambang pintu.
"Tunggulah sebentar, aku akan kembali dengan membawa sarapan."
Perempuan itu terlihat panik dan segera berlalu menutup pintu ruangan, melenggang pergi hingga ia tidak bisa mendengar apapun dan kembali larut dengan keheningan ruangan yang mengurungnya seorang diri.
Jika ia sudah memiliki tenaganya kembali, ingin sekali rasanya ia segera pergi meninggalkan tempat ini.
- Unfortunate Soul -
"Bung, kau tau? Terakhir kali kau mengabaikan panggilan dan pesanku, aku berakhir dengan tidur dijalanan, bisakah kau membantuku sekali ini saja? Kau selalu membuatku dalam keadaan sulit."
Lelaki dengan bentukan rahang tajam itu terus melaporkan kejadian yang dialaminya pada sosok yang tengah sibuk dengan pekerjaan dikedua genggamannya. Orang yang menjadi lawan bicara nampak tidak peduli dengan apa yang diterima oleh pendengarannya, terbukti dengan tidak adanya sebuah respon yang ia berikan pada seseorang yang tengah duduk berhadapan dengannya di meja kerja.
"Lihat itu, kau bahkan tidak mendengarkanku, apa aku sesuatu yang tidak berwujud disini?"
"Pergilah."
"Dan apa yang mengharuskanku pergi dari sini?"
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, pulanglah."
"Baiklah, akupun tidak memiliki urusan denganmu, jadi.. dimana sekertarismu?"
Respon dingin yang ia terima dari orang dengan rentan umur yang berbeda darinya itu bukanlah sebuah ancaman yang akan membuatnya pergi, terhitung ribuan kali ia mendapatkan perlakuan seperti ini dan itu bukanlah alasan yang akan membuatnya kapok untuk tidak kembali.
"Apa yang mengharuskanku mengetahui dimana keberadaan sekertarisku?"
"Whoa- lihat ini, kau mengalami kemajuan dalam menjadi tuan membosankan, ayolah bung, sampai kapan kau akan seperti ini? Bukankah ini sudah berlangsung selama dua bulan?"
"Tiga minggu."
"Baiklah, tiga minggu, terserah kau saja. Jadi beri aku password rumahmu dan aku akan segera pergi dari sini."
"Bahkan jika kau bersujud dikakiku, aku tetap tidak akan memberikannya padamu, pergi."
"Menyebalkan sekali, lagipula kau terlalu berlebihan dengan mengganti password rumahmu, bahkan jika kau menyembunyikan sekarung berlian didalamnya, aku tidak akan tertarik, aku bahkan memiliki lebih banyak darimu, jadi beritau aku jika sekertarismu sudah kembali, kau bisa malakukannya untukku kan sajangnim? Senang mengetahui kau masih hidup."
Sederet kalimat yang mengandung beberapa topik pembicaraan itu menemani si lelaki yang akhirnya bangkit. Tubuhnya menjulang tinggi, namun sepertinya tinggi badannya tidak mengalahkan seseorang yang masih terduduk dimeja kerjanya. Lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan ruangan besar yang berada pada lantai teratas perusahaan mewah yang didatangi olehnya.
Sepasang langkahnya terhenti pada sebuah meja kerja lain tak jauh dari ruagan yang telah dimasuki olehnya. Harusnya ia bisa melihat seseorang dimeja itu, namun meja itu masihlah tak berpenghuni seperti saat ia menginjakkan kaki pada bangunan tinggi ini.
Orang itu, tidak berbuat macam-macam pada sekertarisnya sendiri kan?
Disisi lain, disebuah ruangan dimana seseorang tengah terduduk dikursi kepemimpinan nya, berkutat dengan beberapa lembar kertas dan komputer yang menyala, memperlihatkan betapa sibuk dan banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan, sesuatu lain bergetar ia rasakan dimeja kerjanya, itu berasal dari ipad putih miliknya. Ia menghentikan pekerjaannya untuk sementara, meraih ipad putihnya dan mengerutkan alis saat ia melihat notifikasi email pada layarnya.
Seharusnya ia sudah tau dengan apa yang ia dapatkan. Karna setelahnya, ia melihat beberapa photo dari pengirim email yang mengisi penuh inbox miliknya.
Hatinya seketika bergemuruh, bertabuh kencang diiringi emosinya yang memuncak. Lampiran photo pada layar ipad nya merupakan penyebab dari luapan emosi yang tercipta dalam tubuhnya.
Haruskah ia menyebutnya sepasang kekasih? Karna yang dilihat olehnya benar-benar patut dipertanyakan, bagaimana kedua manusia itu bergandengan tangan dengan raut wajah yang begitu bahagia?
Lampiran photo yang dilihat olehya benar-benar membuatnya menggeram marah, sesuatu didalam dirinya timbul menguasi amarahnya, hingga ia melemparkan ipad bersimbol apple itu kedinding ruangannya, menghasilkan suara debuman yang cukup keras dan berakhir dengan ipad mahal yang tergeletak dilantai dengan retakan pada layarnya.
"Berengsek."
Pandangannya seolah gelap akan luapan amarah, ia mengatur nafasnya yang kian memburu, menetralkan dadanya yang naik turun karena bertambahnya emosi. Jemarinya segera meraih ponsel dan melakukan panggilan, hingga panggilan itu tersambung pada dering kedua, memperdengarkan suara dari lawan bicara disebrang sana.
"Buat dia sadar sialan!"
"Di-dia sudah sadar t-tuan.."
Tanpa mengucapkan kalimat balasan, orang itu segera mengakhiri panggilannya secara sepihak dan segera melangkahkan kakinya dengan tergesa, ujung matanya menangkap sosok sekertaris yang telah kembali menempati meja kerja yang sebelumnya ia perintahkan untuk mengerjakan hal lain, wanita berpakaian resmi itu segera bangkit dan memberi hormat, tanpa ada niatan bertanya dan menghentikan atasannya yang secara tiba-tiba meninggalkan ruang kerja tanpa keterangan apapun.
Tentu saja wanita itu tidak akan bertanya, siapa yang berani menegur pemilik perusahaan dengan segala kekuasaan yang berada di genggamannya?
Disebuah kamar, gadis itu terduduk diatas ranjang dengan sprei yang lebih bersih dan rapih dari sebelumnya, orang lain berada disana menemaninya, seorang perempuan lain mengenakan gaun hitam dan apron putih seperti pakaian maid yang selalu ia lihat dalam televisi.
"Saya yakin anda belum mengisi perut anda sejak beberapa hari yang lalu, kumohon nyonya, setidaknya makanlah bubur ini sedikit saja."
Perempuan itu dengan sabar membujuk gadis yang bahkan tidak mengeluarkan sebuah suara sejak gadis itu membuka matanya, ia memang tidak tau apa yang telah gadis ini alami sebelumnya, namun pertemuan pertama mereka sungguh menyedihkan, ia mendapat panggilan dari majikannya, ketika ia tidak begitu yakin dengan perintah majikannya untuk membersihkan dan mengurus orang yang berada pada sebuah kamar yang belum pernah ia masuki sebelumnya, disanalah ia melihat gadis yang taksadarkan diri meringkuk dengan keadaan yang begitu menyedihkan.
Seorang dokter memberitaunya jika gadis ini mengalami dehidrasi, kondisinya yang tak sadarkan diri tanpa busana, jika dibiarkan lebih lama bisa saja menimbulkan gejala hipotermia juga keadaan perutnya yang kosong membuatnya kelaparan bisa saja membuatnya mati pada saat itu juga.
Pelayan itu memperhatikan gadis yang tanpa bosan menatap kosong pada balutan selimut yang menutupi bagian perut hingga ujung kakinya, seperti orang linglung yang tidak bisa diajak berkomunikasi, gadis ini terlihat mengkhawatirkan dengan setetes air mata yang entah karena apa mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"K-kumohon.. keluarkan aku dari sini.."
Gadis yang kini mulai menangis itu kemudian menolehkan kepalanya pada orang yang berada dipinggiran ranjang dengan semangkuk bubur dipangkuan tangannya, bibir pucat pasi itu mulai bergetar ketika kembali mengeluarkan sebuah suara,
Sebuah permintaan yang terdengar begitu putus asa.
"Kumohon.. keluarkan aku.."
Gadis itu memohon, dengan kulitnya yang terlihat semakin pucat dan air mata yang semakin sering keluar dari kedua matanya, memohon untuk sebuah pertolongan pada orang asing yang tidak dikenalnya, sebuah harapan yang mungkin saja bisa menyelamatkan sisa hidupnya,
Perempuan lain disana menatapnya haru tanpa kuasa yang bisa ia berikan untuk mengabulkan permintaan sederhana gadis yang terlihat begitu terluka, seorang pelayan sepertinya tidak bisa berbuat apapun selain mencoba menenangkan gadis yang kini menggenggam erat tangannya dengan kalimat berulang yang terus diucapkan olehnya, gadis itu menyerah dengan kenyataan yang ia hadapi dan mulai melakukan sebuah penolakan atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Nyonya- kumohon tenanglah.."
Gadis yang telah menyerah saat mengetahui bahwa dirinya masih bernafas memutuskan untuk melakukan perlawanan dan berniat untuk segera pergi menjauh dari kediaman mengerikan yang berhasil menghancurkan dirinya,
Jemari tangannya yang masih bergerak lemah berusaha melepaskan sebuah jarum yang menusuk tepat pada uratnya, menyalurkan obat pada tubuhnya, ia mencoba melepaskan selang infus yang tertanam pada tangannya, namun siapa sangka hal itu malah membuatnya berada pada sebuah awal permasalahan?
Entah sejak kapan lelaki yang paling ditakuti olehnya menerobos masuk dengan kilat detik, tangan kasar itu mencengkram kedua pipi yang membuat Baekhyun bahkan kehilangan keterkejutannya dengan kedua matanya yang melotot takut.
"Kau pikir kau bisa keluar dari sini hah? Aku yang berkuasa atas dirimu, kau adalah milikku, dan aku menukar uangku tidak untuk melihat ini sialan!"
Cengkraman itu terasa semakin kuat dikedua pipinya, terasa seperti menembus kulit tipis pipi miliknya hingga menekan kuat bagian dalam giginya. Sebuah getaran dari tubuhnya tercipta akibat perasaan terancam sebagai satu-satunya respon yang ia berikan, menggantikan air matanya yang seolah tertahan dan enggan keluar saat dengan jelas ia mendengar bagaimana lelaki itu menyerukan perintah penuh atas kuasa dirinya. Sama seperti dirinya, satu-satunya pelayan yang sebelumnya membujuk dirinya untuk makan menahan jeritan dan nafasnya saat melihat majikannya itu datang dan segera melakukan hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Jadi apakah ini sisi lain dari orang yang memberikan gaji untuknya?
Yang memberi pekerjaan untuknya itu memang terlihat menyeramkan bahkan dari luarannya yang minim menyerukan suara, menggambarkan jika orang itu penuh dengan ancaman dan intimidasi.
Gadis dengan cengkraman pada pipi itu meliriknya dengan harapan pertolongan dari sudut matanya yang bergenang air mata, dirinya bahkan tidak tau harus melakukan apa sebelum majikannya berbalik dengan sorot mata yang terasa begitu mengancam dan menyeramkan.
"Kau masih disini hah? Keluar!"
Mutlak perintah itu tidak bisa ditolak olehnya, tubuhnya secara otomatis terkesiap dan segera menunduk memberikan hormat dan bergegas keluar dengan nampan yang berisi semangkuk bubur hangat yang tidak tersentuh sedikitpun.
Menyelipkan sebuah doa saat ia menatap kembali mata bersedih itu ketika menutup pintu kamar, merasa menyesal karna dirinya tidak bisa memberikan perlawanan apapun pada tuannya itu, dan memohon pada Tuhan untuk memberikan keselematan pada gadis yang tidak diketahui namanya.
Hari buruknya telah berlalu, seorang pelayan seperti biasa melakukan pekerjaannya, mengambil alih hunian yang bukan miliknya untuk dibersihkan, sekaligus membuatkan sebuah jamuan sarapan untuk orang asing yang menggajinya.
Tidak ada suara.
Tidak ada perbincangan seperti kebanyakan hunian lain yang saling berbincang sebelum memulai kegiatan mereka masing-masing.
Karna tuannya ini hidup seorang diri.
Tanpa kerabat ataupun orang tua yang tidak pernah ia temui selama ia mengabdikan dirinya sebagai pelayan disini. Identitas mengenai majikannya bahkan hanya secuil yang ia ketahui, ia diberitau jika pemilik hunian megah dengan hamparan halaman luas dan berbagai penjagaan ketat disetiap sudutnya adalah seorang pemimpin sekaligus pemilik dari sebuah perusahaan ternama dinegerinya. Pekerjaan yang dilakukannya adalah menunjuk sesuatu dan beratus-ratus orang akan melakukan apa yang diperintahkan olehnya. Lelaki muda yang sukses, namun terlihat begitu kesepian dengan rutinitas kehidupannya yang begitu monoton dan membosankan.
Tambahan pekerjaannya adalah, ia diminta untuk mengurus orang lain yang entah sejak kapan resmi tinggal dirumah besarnya.
Seperti dua hari lalu, ia kembali memasuki kamar yang sebelumnya selalu dalam keadaan tertutup dan tidak dibiarkan dimasuki oleh siapapun. Kamar itu kini dihuni oleh seorang gadis yang kembali menjalani sebuah pemeriksaan setelah sebelumnya diperiksa dalam keadaan sekarat. Setelah dua hari berlalu, dokter itu mengatakan jika kini ia bisa melepas selang infus yang menusuk kedalam nadinya, kesehatannya semakin membaik, yang perlu ia lakukan adalah mengisi perutnya dengan makanan secara rutin agar ia tidak kembali berada dalam keadaan sekarat akibat kelaparan.
Sebuah lemari penuh dengan berbagai gaun berwarna merah muda, beberapa diantaranya dihiasi dengan pita dan renda yang cantik.
Sepotong gaun ditarik keluar, dengan lengan panjang transparan yang akan memperlihatkan kulit penggunanya, roknya sedikit mengembang dengan kain tipis dibagian paling luar, panjangnya hingga bagian atas lutut.
Gaun yang sangat indah.
Baekhyun tidak pernah melihat gaun seindah itu selama hidupnya, gaun yang hanya memenuhi imajinasinya saat dirinya hanya seorang anak kecil yang berperan sebagai seorang puteri kerajaan.
"Anda ingin memakai yang ini?"
Pelayan itu bertanya dan membiarkan gaun itu dilihat dengan jelas oleh Baekhyun.
Gaun yang sangat cantik, namun entah kenapa Baekhyun tidak ingin mengenakannya.
"Anda harus mengganti pakaian anda nyonya."
Pelayan itu mulai bingung karna yang dilihatnya adalah Baekhyun yang terdiam dengan tatapan kosongnya memandangi sepotong gaun yang dipegang olehnya.
Tidak begitu yakin dengan apa yang ada dalam isi kepala gadis itu, dan tidak ingin mendapat resiko terkena amarah tuannya saat menyadari perintahnya tidak dilaksanakan, maka ia berinisiatif untuk membantu gadis yang masih dalam lamunannya itu melepaskan pakaian dan menggantinya dengan sepotong gaun pilihannya.
Rasanya begitu lembut.
Kain itu terasa begitu lembut dan ringan saat membungkus tubuhnya, tatapan kosongnya beralih pada sebuah cermin yang menampilkan betapa sempurnanya ukuran itu menutup lekuk tubuhnya dengan indah.
Jemarinya merasakan betapa halusnya gaun yang kini ia kenakan, sekelebat rasa bahagia memenuhi rongga kepalanya, namun detik itu juga perasaannya kembali terluka ketika ia menyadari satu-satunya keinginan yang ada adalah menunjukan gaun cantik ini pada ibunya. Perasaan bahagia yang ia rasakan membuatnya selalu teringat pada orang paling berharga dalam hidupnya.
Hanya ibunya.
Satu-satunya orang yang ingin ia ajak untuk berbagi kebahagian telah berada disurga sana. Lalu saat itu juga perasaan bahagianya pupus begitu saja.
Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana ibunya akan berdecak kagum dengan pakaian indah yang membuatnya seperti puteri sungguhan, namun kini relung sedih itu kembali mengisi hatinya yang telah hancur, tidak ada yang bisa ia tunjukkan lagi pada ibunya, setiap kali ia mengenakan pakaian bagus, tidak bisa ia tunjukkan pada ibunya, dan setiap kali ia mengenakan pakaian bagus, memory menyakitkan tentang awal kehancuran hidupnya akan berputar kembali didalam benaknya.
"Saya- maafkan saya jika saya berbuat lancang nyonya, saya ingin meminta maaf karna saya tidak bisa membantu nyonya saat itu, saya hanya bekerja sebagai seorang pelayan disini, dan saya tidak bisa melawan perintah tuan saya, apakah setelah itu nyonya baik-baik saja?"
Baekhyun berkedip dalam posisinya, apakah orang yang sedang membantunya mengenakan pakaian itu berbicara pada dirinya?
Tapi kenapa yang Baekhyun dengar sejak tadi adalah panggilan nyonya?
"A-apa kau berbicara padaku?"
Baekhyun membalikkan tubuhnya dengan ragu, dan yang ia dapat adalah perempuan itu yang segera menundukkan kepalanya hormat.
Baekhyun tidak mengerti dengan perlakuan yang ia dapatkan, hanya ada mereka didalam ruangan ini, kenapa perempuan ini memberi hormat padanya?
"Maafkan saya nyonya, seharusnya saya tidak berbicara lancang."
Perempuan itu kembali menunduk dan Baekhyun kembali bingung.
"T-tidak, jangan seperti ini, aku- aku bukan nyonya.."
Tangannya terulur dengan ragu, ingin mengangkat pundak yang sedari membungkuk hormat padanya,
"Na-namaku Baekhyun.. Byun Baekhyun.."
Kalimat perkenalan itu akhirnya berhasil membuat perempuan yang sedari menundukkan kepalanya memutuskan untuk menatap dirinya.
"Nyonya, tidak seharusnya anda-"
"Siapa namamu?"
Kalimat itu terpotong saat Baekhyun mendengar kembali sebutan nyonya yang dilontarkan untuknya. Baekhyun tidak menyukainya. Baekhyun tidak menyukai saat orang lain menghormatinya begitu patuh sedangkan dia bukanlah siapa-siapa disini.
"Namaku Minseok, Kim Minseok."
"Hai Minseok, mau berteman denganku?"
Perempuan yang akhirnya diketahui bernama Minseok itu sedikit membulatkan mata runcingnya tidak percaya atas apa yang nyonya-nya itu ucapkan,
"Ta-tapi.. saya tidak-"
"Kumohon jangan panggil aku Nyonya."
Hingga percakapan itu berlanjut dengan Baekhyun yang terus mangajaknya berbincang ditengah rutinitas harian yang harus ia kerjakan. Sejak insiden dua hari yang lalu, dimana ia tidak bisa menolong Baekhyun saat dicengkram oleh tuannya, saat itu pula Minseok tidak memiliki keberanian untuk membuka suara saat sedang mengurus Baekhyun yang terbaring penuh, beristirahat total diatas ranjang.
Minseok hanya mengurus Baekhyun.
Menyuapinya, mengganti pakaiannya dan mengganti selang infusnya.
Namun hari ini sepertinya sebuah awal baru.
Ternyata sosok Baekhyun ini adalah sosok gadis polos yang terdengar begitu ceria dan lugu. Minseok masih enggan untuk bersikap layaknya seorang teman pada Baekhyun, karna mau bagaimanapun, gadis ini adalah nyonya-nya dan ia diharuskan untuk melayani gadis ini.
Ia pun masih enggan untuk bertanya bagaimana bisa Baekhyun berakhir ditempat ini, dengan tuannya yang memperlakukan Baekhyun secara kasar.
Selama ini Minseok tidak pernah melakukan komunikasi berdurasi lama dengan tuannya itu, karna ia selalu tidak memiliki topik untuk diucapkan. Bahkan ia merasa jika ia tidak memiliki hak untuk menanyakan bagaimana kabar tuannya itu setiap kali ia menyiapkan sarapan dikediamannya. Tuannya juga terlihat sedikit aneh, dengan aturan mutlak yang mengharuskannya mengenakan pakaian kerja yang terlihat berlebihan hanya untuk seorang pelayan seperti dirinya. Dirinya diharuskan mengenakan sebuah gaun saat bekerja, sebuah gaun dengan jahitan rapih disetiap jengkalnya, perwujudan gaun yang sering dilihatnya didalam telivisi, sebuah gaun khas yang dikenakan pelayan kerajaan. Ia tidak tau jika gaun itu masih dikenakan oleh seorang pelayan dizaman maju seperti ini.
Hal itu semakin mencolok dengan fakta baru jika selama ini tuannya itu menyembunyikan sebuah ruangan yang setiap inchi dindingnya berlapis cat berwarna merah muda, isinya didukung dengan berbagai macam properti dan juga boneka yang seolah-olah kamar itu di design sebagai kamar megah putri kecil. Baekhyun-pun sama seperti dirinya, diharuskan untuk mengenakan sebuah gaun mungkin untuk setiap harinya. Belasan gaun cantik itu berjejer rapi didalam lemari, Minseok tidak pernah tau jika itu telah dipersiapkan sebelumnya, yang jelas Baekhyun pun kini tampil dengan penampakannya bak seorang putri, dengan gaun merah muda, rambut panjang bergelombang, dan sedikit hiasan diatas kepalanya.
Tidak salah jika setelah ini Minseok harus sering memutar otak dengan sifat tersembunyi dari majikannya. sepertinya masih banyak hal misterius yang tersimpan aman didalam pribadi yang telah memberinya pekerjaan selama kurang lebih empat tahun terakhir itu.
Perbincangan kecil mereka berakhir dengan Minseok yang memberitau jika sebentar lagi tuannya akan datang untuk makan pagi, saat itu juga Baekhyun berubah menjadi pucat pasi, ia diberitau untuk duduk pada sebuah meja makan dengan Minseok sebagai kokinya, ia pikir Minseok sengaja mempersiapkan masakan untuk dirinya, karna terakhir kali Baekhyun selalu memakan makanannya dengan disuapi diatas ranjang. Namun ternyata yang harus dihadapinya adalah suasana menakutkan saat langkah kaki lain mulai terdengar hingga sosok orang itu ikut bergabung pada meja makan yang hanya ditempati oleh dirinya.
Suasananya semakin terasa menyeramkan saat Minseok undur diri dan pergi entah kemana.
Baekhyun tidak bisa mengangkat kepalanya, matanya lebih memilih motif yang tergambar pada bagian rok dipahanya.
Orang itupun tidak membuka mulutnya, yang Baekhyun dengar hanya bunyi tubrukan dari alat makan yang dipakai oleh lelaki itu.
Pertama kali setelah dua hari Baekhyun tidak melihat keberadaan lelaki ini. Entah bagaimana lelaki itu seolah menghilang dan Baekhyun tidak pernah melihat lelaki itu lagi setelah terakhir kali orang itu mengatakan jika Baekhyun adalah 'miliknya'.
"Mulai saat ini kau akan tinggal disini, untuk seterusnya. Semua pakaian dan kebutuhanmu telah kusiapkan. Kau sudah bertemu dengan pelayan disini? Jam kerjanya adalah saat pagi hingga aku kembali bekerja, menyiapkan makan malam, lalu pulang. Kau ingin melanjutkan sekolahmu? Kau akan mendapatkannya, disini. Ada yang ingin kau tanyakan?"
Kepalan tangannya meremas kain lembut diatas pahanya, masih tidak memiliki keberanian untuk mengangkat kepala dan berujar membalas ucapan lelaki asing yang telah menyelesaikan sarapannya, lain dari itu semua, Baekhyun menyimpan satu pertanyaan besar yang selalu tertahan diujung lidahnya, hingga dagu itu ia angkat secara perlahan dan disanalah ia kembali melihat mata coklat yang menyorot tajam pada dirinya.
"A-aku.. bisakah aku keluar dari sini?"
Baekhyun mengerti jika dirinya berakhir disebuah pelelangan dan orang ini adalah orang yang berhasil membawanya keluar dengan cara membeli dirinya, tapi hingga saat ini Baekhyun belum pernah keluar dari tempat ini, yang dilakukan selama ini olehnya adalah berbaring diatas tempat tidur dan itu cukup membuatnya merasa bosan.
"Tentu, tapi tidak dengan melewati gerbang dan memasuki ruangan yang terkunci."
"Ada.. ada sebuah tempat yang ingin ku kunjungi, itu rumah-"
"Tidak. Rumah mu disini, tidak ada rumah lain yang bisa kau kunjungi. Kau mengerti?"
Kalimatnya diselesaikan dengan sebuah pernyataan seolah tidak ada kesempatan baginya untuk menolak dan mengharuskannya untuk menuruti setiap kalimat yang keluar dari belah bibir itu.
Pandangannya terlalu tajam hingga Baekhyun berakhir menciut dan kembali menunduk.
"Kau pikir aku akan pergi sebelum kau menyelesaikan makan pagimu? Habiskan."
Kalimat perintah itu lagi.
Untaian kata yang selalu terdengar menakutkan bagi Baekhyun, tidak ada perlawanan yang bisa ia berikan, maka dari itu Baekhyun akan kembali tunduk dan melakukan apa yang lelaki itu serukan padanya.
- Unfortunate Soul -
Lelaki itu masuk dengan tubuhnya yang terhuyung, dengan setengah kesadaran membuat orang itu menggelengkan kepalanya sebanyak dua kali. Sudut bibirnya terangkat menyadari ia masuk pada kamar yang tepat.
Gadis itu meringkuk diatas ranjangnya, terlelap nyenyak didalam gulungan selimut hangatnya.
Kedua tangannya dengan terburu melepas ikat pinggang pada bagian celananya, menarik lepas dengan detik berikutnya membiarkan kain berbentuk celana itu turun melewati garis pahanya. Sebelah kakinya mulai menaiki ranjang dimana gadis itu masih tidak menunjukan keterbangunan atas kehadiran dirinya. Bukan sebuah gerakan lembut dan hati-hati saat tangan itu menarik sebelah kaki dari dalam selimut hingga tubuh terlelap itu merosot akibat tarikan dari bawah kakinya, membuat seseorang yang terlelap terkesiap dengan seluruh kesadarannya.
Rasa takut terlalu menjalari setiap nadi dalam tubuhnya, hingga air mata yang akan segera keluar itu mewakili rasa sakit yang akan segera ia dapatkan. Lelaki dibelakangnnya itu nampak bergumam, dengan bau alkohol yang menyeruak melesak memenuhi penciumannya. Sebelah pantatnya mendapat tamparan begitu keras, bibir bawahnya refleks ia gigit untuk menahan jeritan perih yang mulai terasa. Tubuhnya mulai bergetar saat tangan kasar itu mengangkat tinggi gaun tidur yang dikenakannya, menarik lepas kain yang menutupi kesuciannya, dan detik berikutnya adalah sebuah benda mengerikan sekeras kayu yang siap menerobos merobek kembali miliknya.
Sebelah kakinya di silangkan dari belakang, ribuan tetes air mata itu terus bertambah dengan rasa menjijikan saat kelamin berurat itu menggesek belahan pantat yang kembali berakhir pada vaginanya. Jika Tuhan memberinya sedikit tenaga untuk melawan, mungkin Baekhyun akan memberanikan dirinya untuk bangkit dan menghancurkan benda mengerikan itu agar tidak kembali memasukinya. Namun doanya dibalas dengan sebuah geraman berat bersamaan dengan benda keras itu melesak masuk dalam sekali hentak.
Baekhyun bahkan kehilangan suaranya.
Begitu sakit.
Rasa sakit yang masih sama seperti saat itu, namun kini ia tidak bisa berteriak karna rasa takutnya. Iblis itu dimanjakan dengan rasa nikmat dari perih yang ia rasakan, tanpa malu bergerak untuk menorobos dirinya lebih dalam dengan tonjolan urat-urat dari benda yang semakin mengembung didalam dirinya.
Dorongan-dorongan dari lelaki dibelakangnya membuat Baekhyun hanya bisa meremas kuat sprei yang ditidurinya, mengigit kuat bibir bawahnya, dan menahan nyeri dengan air matanya. Benda panjang itu semakin membesar dan setiap kali Baekhyun menahan rasa sakitnya, otot kemaluannya akan mengerut menjepit kelamin lelaki dengan gurat urat disetiap permukaannya yang menggaruk nikmat dinding lembab vaginanya.
"Ashh.. sialan.."
Baekhyun merasa jijik pada dirinya saat kembali sebuah tamparan keras ia dapatkan pada sisian pantatnya, tamparan itu entah kenapa membuatnya ingin mengeluarkan sebuah suara sama seperti lelaki yang terus mengeram nikmat dibelakangannya.
Dorongannya semakin kuat, membuat tubuhnya tersentak dari belakang.
Lebar telapak tangan itu menumpu pada kedua pantatnya, meremasnya secara kuat dibarengi kesakitan yang masih belum berakhir menyiksa dirinya. Hingga Baekhyun merasakan sebuah denyutan yang berasal dari penis yang sedari tadi keluar masuk vaginanya, semuanya terasa kosong saat lelaki itu menarik lepas penisnya, menempelkan kepala penis yang terasa basah itu pada lubang kemaluannya hingga semprotan cairan asing Baekhyun rasakan dibibir vaginanya.
"Ahhh- sial."
Kaliamat itu berakhir dengan desisan panjang dibarengi dengan sebuah nafas yang terengah-engah. Satu remasan kuat Baekhyun dapatkan pada permukaan pantat kirinya, setelahnya adalah ranjangnya yang bergerak akibat sebuah pergerakan dari si lelaki yang turun dari ranjangnya, dibarengi dengan suara tarikan resleting dari celana yang orang itu kenakan. Baekhyun menahan nafasnya hingga suara pintu kamarnya tertutup.
Bibir bawahnya mengeluarkan darah karena terlalu kuat digigit olehnya, remasan pada sprei perlahan merenggang dengan tangannya yang bergetar, dan air matanya kembali mengalir dengan sebuah isakan yang lolos setelah susah payah ia tahan untuk tidak dikeluarkan.
Rasanya berkali-kali lebih sakit karna Baekhyun hanya bisa berpura-pura terlelap saat lelaki itu kembali melecehkan dirinya, meninggalkannya begitu saja dalam keadaan menyedihkan.
Pinggulnya kembali terasa pegal dan perih kembali menyerang daerah selangkangannya.
Dengan air mata yang masih enggan berhenti mengalir, Baekhyun menaikkan kembali kain yang menutupi organ kemaluannya, menutup kembali paha dengan gaun tidurnya, membungkus kembali tubuh bergetarnya dengan hangat selimut yang sebelumnya membuatnya nyaman pada indahnya mimpi. Kini Baekhyun harus mengejar kembali mimpi indahnya dengan air mata dan rasa sakit diseluruh bagian bawah tubuhnya. Terisak seorang diri tanpa ada orang lain yang bisa menolongnya,
Berharap ia bisa kembali menemui ibunya dalam mimpi.
Malamnya masih belum berakhir, Baekhyun kembali terbangun ditengah sunyinya malam dalam sebuah hunian besar yang bukan miliknya. Seperti dejavu, Baekhyun kembali mendengar melodi itu, melodi yang sama seperti malam sebelumnya,
Dentingan piano yang terdengar begitu menyedihkan berhasil menariknya keluar dari dunia mimpi, namun lagi, Baekhyun tidak bisa mendengarnya lebih lama lagi karena setelahnya ia kembali terlelap diiringi alunan piano yang kian memudar dengan kesadarannya yang kembali menghilang.
Hari baru Baekhyun jalani dengan rutinitas yang sama, benar jika Minseok akan kembali pada saat sarapan seperti yang lelaki itu bilang sebelumnya, semuanya seperti reka ulang dengan setiap kegiatan rutin yang Baekhyun jalani, lengkap dengan gaun lain yang dikenakan oleh Baekhyun.
Namun kini bukanlah jam makan malam, namun pintu itu terbuka dengan si lelaki yang kembali dengan orang lain dibelakang langkahnya.
Lelaki tinggi berkulit putih.
Matanya sipit, hidungnya mancung, bibirnya sedikit tipis namun terlihat begitu tampan dengan garis rahangnya yang begitu tajam.
Lelaki lain itu terdiam dan menatap dirinya yang tengah memainkan beberapa alat makan dimeja makan, sorotnya menelisik keberadaan dirinya, membuat Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Wah jadi sekarang kau memelihara seekor anak anjing?"
- ToBeContinue -
Malu cuap-cuap nya juga HEHEHEHEHE.
Cuman mau bilang, kalau lupa, boleh dibaca chap sebelumnya ya ehehe. Lanjut atau klosdon nih?
Sebagai hadiah biku kasih tau lagu apa yang selalu Baekhyun denger pas dia kebangun.. biku share nanti di ig.. sooooo jangan lupa follow ignya WKWKWKW
IG: biikachu_
Antrean selanjutnya: A Half Life
See you guysss! I LOVE YOU 3
Please leave some constructive criticism and suggestions on the Review box : ))
PYEONG!
