.
.
.
SENJAKU JINGGA
.
.
.
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto.
Story Written by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 1
11 tahun kemudian...
Cuaca yang panas. Aahhh... Cuaca begini yang membuat orang-orang malas keluar rumah. Untungnya hari ini libur karena kelas XII sedang menghadapi UN sehingga aku tidak perlu berpanas-panasan di luar. Aku bisa seharian tidur-tiduran di rumah sambil membaca komik.
"Lagi-lagi ceritanya begini. Membosankan!" Di tanganku tergenggam sebuah komik remaja yang baru saja selesai kubaca. Ceritanya klise. Tentang seorang perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki yang disukainya. "Apa tidak ada variasi? Selalu saja perempuan yang mengejar laki-laki. Merendahkan derajat perempuan saja."
Yah, beginilah keadaan jaman sekarang. Perempuan sudah tiak ada rasa malu lagi. Kalau suka, ya langsung tembak saja. Emansipasi katanya. Aku yang masih agak kolot ini sebetulnya agak kurang setuju dengan pendapat itu. Karena itu aku bertekad sesuka apa pun aku pada seorang laki-laki, aku tidak akan mengejar-ngejar dia. Apa lagi sampai 'nembak'. Amit-amit deh, ucapku dalam hati.
Let it go.. Let it go.. Cant hold it back anymore…
Terdengar lagu Let It Go milik Demi Lovato. Handphoneku berdering. Dari Ino.
"Halo, Pig," sapaku, yang langsung disambut teriakan dari sebrang.
"Ya ampun Jidat, kau di mana? Aku dan Hinata sudah di Konoha Square."
Ya Tuhan, aku lupa bahwa aku punya janji nonton dengan dua sahabatku.
"Aduh, maaf aku lupa," kataku, merasa bersalah.
"Dasar pikun. Kita kan sudah janji mau menonton Stand by Me Doraemon. Cepat ke sini. Lima menit lagi filmnya dimulai."
"Yah, aku tidak jadi ikut saja deh. Sudah tidak sempat. Aku masih di rumah."
Terdengar gerutuan di sebrang. "Sakura-chan," kali ini suara Hinata yang terdengar, "kau kan sudah janji mau menraktir kami atas kemenanganmu dalam lomba esai kemarin," katanya kesal. "Pokoknya kami tidak mau tau, setelah selesai nonton kami akan langsung ke restoran Italia tempat kita biasa berkumpul. Kau harus sudah ada di sana saat kami datang, atau kami berdua marah. Titik."
Tut.. tut.. tut...
Belum sempat aku menjawab, kalimat Hinata langsung berakhir diikuti putusnya sambungan telepon. Yah, apa boleh buat. Meski pun malas, aku harus pergi. Toh aku sudah janji pada mereka.
.
.
#Senjaku Jingga#
.
.
Restoran Italia ini memang tempat yang paling nyaman untuk berkumpul bersama teman-teman. Suasananya begitu orisinil. Terdengar alunan instrument Jazz di latar belakang.
"Ah, maaf."
Tiba-tiba ada yang tanpa sengaja menabrakku dari belakang. Glek, itu Sasuke.
"Lho, Sakura, sedang apa di sini?" tanyanya terkejut.
"Eh... T-terserah aku dong," kataku gagap. Kekagetan membuat suaraku tidak seketus yang kumaksudkan. "Kau sendiri sedang apa?"
"Ditanya baik-baik malah begitu reaksimu," sahutnya dengan muka cemberut. "Aku baru saja mengantar pacarku berbelanja." Sasuke menggerakkan dagu ke arah seorang perempuan manis berbaju pink yang duduk agak jauh dari tempatku. Aku hanya mengangguk.
"Mau bergabung tidak?" tawarnya. Heh? Tumben dia ramah. Biasanya jahil sekali. "Daripada kau di sini. Kelihatan merana seperti jomblo hopeless." Nah, ini baru sifat aslinya.
Kutonjok lengannya. "Enak saja. Aku sedang menunggu Ino dan Hinata, tau," kataku sewot. "Aku malas bergabung dengan orang yang asyik pacaran. Gih, sana pergi. Kau ini mengganggu saja."
"Kenapa malah mengusirku. Ya sudah, aku duluan ya. Awas diganggu om-om mesum," katanya, berjalan pergi sambil menyentil pelan jidatku. Aku hanya bisa menjulurkan lidah.
Begitulah Sasuke, teman sekelas sekaligus teman bertengkarku. Hari ini saja dia kelihatan agak ramah. Biasanya.. wuih.. mulutnya sadis sekali. Aku bahkan pernah menangis gara-gara dia. Aku benci dia.
"Hei, sudah lama menunggu?" Kedatangan Ino dan Hinata membuyarkan lamunanku.
"Lumayan."
"Apa yang kau lihat?" kata Hinata, mengikuti arah pandanganku tadi. "Oh, Sasuke. Sedang apa dia di sini?"
"Mana kutahu," jawabku asal.
"Lalu kenapa kau lihat-lihat?" tanya Ino usil. "Aaa, kau cemburu ya?"
"Apa sih. Sembarangan. Sudah, ayo pesan makanan," kataku sambil membuka daftar menu.
Yah, aku akui sebetulnya aku suka Sasuke. Terlalu suka sampai-sampai jadi benci. Aku menyukai dia sejak hari pertama sekolah. Laki-laki itu memikatku dengan ketampanan dan keberaniannya. Dia berani membantah kakak kelas dan membela teman seangkatan yang dikerjai mereka saat masa orientasi dulu. Laki-laki itu, yang pada hari-hari berikutnya selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis pada guru dan sering berdebat dengan teman jika merasa pendapatnya benar (juga berdebat denganku tentunya). Aku suka dia. Tapi aku juga benci karena dia pernah menyakiti hatiku.
"Bisa tidak kalian jangan berisik!" bentaknya kala itu, berusaha menghentikan keributan teman-teman sekelas.
Saat itu, saat presentasi makalah Bahasa Jepang, teman-teman meledekku dan Sasuke. Katanya kami seperti suami-istri yang sering bertengkar tapi mesra (karena sebelumnya lagi-lagi aku dan dia berdebat megenai tugas yang diberikan). Aku sih senang-senang saja walau pun mulutku menggumamkan kata, "Apa sih. Norak."
Tapi ternyata tidak begitu dengan Sasuke. Wajahnya memerah.
"Diam kalian. Jangan menjodoh-jodohkan aku dengan dia. Tidak sudi," katanya sadis dengan intonasi yang tinggi.
Kata-katanya itu membuat teman-temanku semakin semangat menggodanya. Tapi dampaknya padaku...? Jangan ditanya lagi. Sudah pasti aku sakit hati. Apa aku begitu jelek sampai-sampai dia marah begitu, pikirku. Aku tahan rasa sakitku. Dan saat aku sudah sendirian, aku tumpahkan rasa itu dalam bentuk air mata.
Itulah pertama kalinya aku menangis karena Sasuke. Momen kedua (maksudku kedua kalinya aku menangis karena dia) terjadi keesokan harinya saat aku tahu ternyata dia sudah memiliki kekasih.
"Hai, jangan melamun," tegur Ino. "Mau pesan apa kau?"
"Eh.. ano.. Ramen saja deh."
Ino dan Hinata terbengong-bengong. Memangnya ini Ichiraku, pikir mereka.
.
.
#Senjaku Jingga#
.
.
"SASUKEEE...!" Aku berteriak kesal. Bagaimana tidak, tugas kimia yang sudah satu jam ini kukerjakan ketumpahan jus. Pelakunya siapa lagi kalau bukan laki-laki barbar yang bernama Sasuke itu.
"Maaf," sahutnya, lalu pergi begitu saja.
Ugh, dia pasti iri padaku karena tugasku sudah hampir selesai, sedangkan miliknya dimulai saja belum. Sekedar informasi, hari ini kami memang mulai bersekolah lagi dan saat ini kelasku sedang tidak ada guru karena kebetulan guru yang bersangkutan ada urusan keluarga. Beliau hanya meninggalkan tugas 20 soal yang harus dikumpulkan besok.
"Sudah lah, Jidat. Dia kan tidak sengaja," kata Ino, yang merangkap sebagai teman sebangkuku, jadi pusing mendengar gerutuanku.
"Tidak sengaja bagaimana? Jelas-jelas dia niat sekali menumpahkan jusnya ke bukuku. Masih mendingan kalau itu air putih. Tinggal dikeringkan. Sedangkan ini, biar pun sudah kering, bekasnya pasti masih ada."
"Ya kau salin saja kalau begitu. Kan dikumpulnya besok. Masih banyak waktu."
"Terpaksa deh. Padahal aku paling tidak suka menumpuk pekerjaan," kataku sewot.
Pluk.
Sebuah penghapus mendarat sukses di jidatku.
"SASUKEEEE!"
"Ups, maaf lagi. Salahkan Naruto yang melempar terlalu jauh."
.
.
#Senjaku Jingga#
.
.
"…..kura. Sakura!"
"Ya?"
"Kau itu ya, dipanggil dari tadi malah chatting terus," omel Ino yang sebal karena dari tadi dicueki. "Memangnya chatting dengan siapa?"
"Daisuke," sahutku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari layar HP.
"Lagi?" tanya Ino. "Ini 'Uke' yang kemaren atau 'Uke' yang lain lagi?"
"Mmm… Beda lagi." Aku meringis malu menghadapi pelototan sahabatku.
"Ya ampun, Sakura… Mau sebanyak apa sih 'Uke' yang kau koleksi. Setiap ada yang nama akhirannya '-uke' pasti kau dekati, kau ajak chatting. Ini sudah 'Uke' yang ke berapa? 20? 30?" Ino yang sudah hafal kebiasaanku hanya bisa ngomel sambil geleng-geleng kepala.
"Siapa yang mengoleksi 'Uke'," sahutku geli mendengar istilah Ino. "Aku hanya mengajak chatting '-uke' yang sesuai kriteriaku. Lagi pula, menurut feelingku yang ini pasti orang yang aku cari."
"Feeling, feeling… Kemarin-kemarin juga kau bilang begitu. Dan lihat, sejak kapan feelingmu benar?" lanjut Ino. Aku cuma bisa mencibir. "Aku tidak pernah melarangmu mengingat-ingat masa lalu, tapi kalau sudah sampai 'terobsesi' begini, aku rasa tidak baik juga lho, Sakura."
Here we go… "Aku tidak terobsesi. Aku hanya ingin bertemu dengan pahlawan kecilku, ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang. Siapa tau yang kali ini benar orang yang aku cari selama ini."
Ya, memang sampai sekarang aku masih teringat peristiwa saat aku kecil, saat seorang anak laki-laki menggendongku pulang ke rumah karena kakiku cidera. Karena itulah jika aku bertemu dengan seseorang yang nama akhirannya "-uke", atau ada kenalannya kenalanku yang namanya begitu, aku kadang-kadang—oke, oke, aku ralat, hampir selalu—mendekatinya untuk mencari tau apakah dia orang yang aku cari.
"Itu sama saja," kata Ino tidak mau kalah. "Ngomong-ngomong, kenapa 'Uke' yang satu itu tidak masuk hitungan?" tanya Ino sambil menunjuk Sasuke yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Yang itu sih sudah pasti bukan orang yang aku cari. Pahlawanku orangnya cute and gentleman, sedangkan yang itu…" Aku membentuk ekspresi lelah di wajahku untuk menunjukkan betapa hopelessnya dia.
"Ah, tidak juga. Menurutku wajahnya tampan kok, sikapnya juga tidak terlalu jelek."
"Ya, ya, terserah kau. Sudah ah, aku mau lanjut chatting lagi," tandasku, membiarkan Ino kembali mengomel sendirian.
.
.
.
TBC
Review please?
