Holla…. Fyuuuuhhh… akhirnya selesai juga chapter dua. Tadinya disangkanya bakalan update lama karena Tsuki lagi malesssss…. Dan bingung gimana ngeluarin kesadisan Naruto. Tapi ternyata Tsuki salah….. hahahahahahahaha. Aduduh… dan pembunuhan pertama terjadi di chapter ini. Tsuki sebenernya agak gimana gitu membuat Naruto sangat sadis disini. Tapi biarlah *Kasih kupon makan ramen gratis ke Naruto.* dichapter selanjutnya Tsuki mau Naruto lebih sadis *smirk* tapi… Tsuki berharap feelnya kerasa disini. Tapi Tsuki ga tahu soalnya Tsuki merasakan masih kurang dapet feelnya. /(T.T)\ sudahlah para readers saja yang menentukan…. Saatnya bales review…
Hoshi Yukinua : xixixixixixi ok, ok,ok Tsuki update sekarang… arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
DheKyu : xixixixixixi Tsuki update sekarang.. arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Nasumichan Uharu : Hehehehehehehehe Arigatou… hahahaahaha Tsuki lagi nyoba, tapi ga tau gimana hasilnya. Mau nyobain satu- satu genre. Bikin readers ketawa? udah, nangis? udah, benci sama Tsuki? udah, flame? Udah, dimarah- marahin? Udah. Jadi? mau nyoba gimana bikin para readers merasa DAG DIG DUG…. Hehehehehehe tapi gak tau gimana hasilnya. (=3=")a fanfic sasuke selingkuh? Itu fanfic terbaru Tsuki yang judulnya 'bukan salahku' udah baca kan? Hohohohohoho arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Guest : hehehehehehe arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
AkemyYamato : Cuma nanti diakhir dan itu hanya sedikit dan sebentar banget, soalnya Tsuki merencanakan sesuatu. Hahahahahaha *Smirk* arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Happy reading!
DON'T LIKE? DON'T READ!
Naruto punya Masashi Kishimoto. Bukan punyaku. Tapi kalo dikasih boleh juga. hahahahaha.*di amaterasu Itachi*
Pairing : Sasuke, FemNaru
Warning : TYPO, OOC, pokoknya kesalahan ada dipenulis.
Antara Aku dan Tou-san
Naruto perlahan membuka matanya dan saat matanya terbuka dengan sempurna, Naruto merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia seperti berada didunia lain, semuanya tampak berbeda kecuali bangunan- bangunan yang menjulan tinggi. Naruto menghirup udara disana dalam- dalam.
"Uhuk, uhuk, uhuk." tapi setelah itu dia batuk- batuk. Dadanya sedikit terasa sesak.
"Apa yang dikatakan Tou-san benar. Disini udaranya tidak bersih, bahkan menurutku sangat kotor." Naruto membuka tas pinggangnya dan mengeluarkan sebuah masker. Itu dilakukan karena menurut Naruto itulah satu- satunya cara untuk tetap sehat disini.
Naruto melirik kebelakang dan melihat sebuah rumah simple bercat cream. Entah mengapa Naruto tahu bahwa itu adalah rumahnya. Narutopun berniat masuk untuk mengecek isi rumah itu. tapi belum saja dia masuk sesuatu yang menggelitik terasa di kantong celananya tapi rasa gelitiknya berbeda dan Naruto tahu jenis panggilan apa itu. Naruto mengambil headsetnya dan menyentuh pinggiran headsetnya, tetapi dia memencet yang berwarna merah sehingga dia dapat melihat siapa yang menelfonnya. Dan akhirnya dia melihat Tou-sannya disana, tepatnya berada disampingnya. Naruto melihat Tou-sannya benar- benar ada didekatnya, walaupun Naruto tidak bisa menyentuhnya karena itu semua hanya bayangan belaka. Tapi dilihat dari dahinya yang berkerut Naruto tahu bahwa Tou-sannya sedang merasa aneh dengan dirinya.
"Udara disini kotor, Tou-san." Naruto tersenyum dalam maskernya. Sasuke menatap sayang Naruto lalu tersenyum.
"Seperti yang Tou-san bilang, bukan? Bagaimana rumahnya? Semua barang-barangmu sudah ada disana. Tou-san sudah menyiapkan kaca mata khusus diatas meja kamarmu. Pakai itu, dan setiap harinya Naru akan menerima informasi tentang siapa yang akan Naru bunuh. Oh ya, buka maskermu didalam rumah. Naru akan merasa seperti disini. Udaranya sama seperti disini." Sasuke menjelaskan. Naruto mengangguk lalu masuk kedalam rumahnya. Kemudian membuka maskernya, benar saja Naruto merasakan udara bersih yang masuk kedalam paru- parunya.
"Naruto?" tanya Sasuke.
"Ya Tou-san, aku disini." kata Naruto sambil menatap kesamping dimana Sasuke yang sedang duduk dan melipat tangannya.
"Tou-san, apakah aku hanya akan membunuh mereka dengan biasa saja? jika begitu, sangat tidak menarik." Naruto duduk di sebelah Sasuke dan menatap malas Sasuke. karena walaupun pekerjaan Naruto pada saat di zamannya membunuh. Tou-sannya tidak pernah mengizinkannya untuk bermain- main dengan korban. Seperti diperintahkan hanya dengan sebuah peluru di pistol, dengan sebuah pisau yang sangat tajam atau bahkan dengan sebuah teknik yang bisa menghentikan detak jentung dengan sekali pukul ditempat tertentu. Dan hal itu membuat Naruto seperti tidak melakukan apa- apa.
"Terserah kau saja, Naru. Misimu hanya membunuhnya, Tou-san tidak peduli dengan bagaimana Naru membunuhnya." Sasuke memberitahu, dia tidak akan menghalangi Naruto untuk menjadi keji untuk membunuh mereka. Naruto yang mendengar itu tersenyum tapi kemudian dikeluarkan sebuah pulpen dari tas pinggangnya.
"Tou-san, Naru menyiapkan sebuah pulpen yang bisa membawa makanan ke tempat Tou-san. Masih ingat bahwa Tou-san tidak boleh makan kecuali masakan tangan Naru?" Naruto menatap Tou-sannya dengan tegas.
"Hn." Sasuke menjawab dengan nada datar, membuat Naruto terkikik.
"Istirahatlah, nanti malam tugas pertamamu. Satu lagi, besok Naru akan bergabung dengan Tou-san dimasa ini. Naru sudah Tou-san masukan kedalam anggotan ilmuwan." Sasuke menambahkan.
"Mengapa aku harus masuk kedalam hal yang membosankan juga? menyebalkan sekali Tou-san itu." Naruto menggembungkan pipinya.
"Naru pasti akan sangat membantu disana. Memang Naru tidak ingin bertemu dengan orang- orang yang tidak boleh Naru bunuh?" tanya Sasuke. tapi dijawab cepat oleh anggukan oleh Naruto.
"Untuk apa bertemu dengan mereka." kata Naruto dengan tidak berselera.
"Bagaimana dengan bertemu dengan Tou-san?" Sasuke memancing ketertarikan Naruto. mendengar kata 'Tou-san' membuat Naruto merasakan bahwa dia harus menarik kata- katanya.
"Aku akan bekerja disana besok." Naruto tersenyum kepada Tou-sannya tapi yang Sasuke tahu, Naruto bukan sedang tersenyum tetapi sedang menyeringai.
"Jangan bercanda dengan Tou-san, Naru-chan. Tou-san bukanlah orang yang menyenangkan dimasa lalu tapi Tou-san yakin kedua orang yang harus Naru selamatkan akan baik sekali denganmu. Mereka orang yang sangat menyenangkan." Sasuke tersenyum kepada Naruto, bahkan senyum yang diberikannya menunjukan perasaan yang sangat mendalam.
"Hn." kata Naruto sambil memutar matanya. Dia merasa sebal karena mengetahui ada orang lain di zaman ini yang bisa membuat Tou-sannya seperti itu, tapi karena melihat begitu tulus senyum Tou-sannya Naruto kemudian membalas senyum tou-sannya itu.
"Tidurlah. Tou-san akan pergi sekarang. hati- hati ya, Tou-san menyayangimu." Sasuke berpamitan kepada Naruto.
"Selamat tinggal, Tou-san. Naru juga sangat sangat sangat menyayangi Tou-san." Naruto ingin memeluk Tou-sannya tetapi Tou-sannya telah pergi dan dia berada di zaman yang berbeda dengannya.
"Yosh! Aku akan istirahat dulu."
Naruto meregangkan tangannya lalu masuk kedalam kamar barunya dan tidak lama kemudian Naruto sudah terlelap tidur.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto membuka matanya setelah beberapa jam tertidur. Setelah bangun dari tidur nyenyaknya dan melihat bahwa jam sudah menunjukan pukul 05.00 PM. Naruto segera masuk ke dalam kamar mandi karena dirinya akan segera bersiap untuk memasak makan malam dan misi pertamanya.
Ketika jam menunjukan 07.30 PM, Tou-sannya yang menemaninya makanpun sudah menghilang dari pandangannya walaupun Tou-sannya hanya ada didalam kaca genggamnya. Naruto masuk kedalam sebuah ruangan yang hanya bisa terbuka dengan kornea matanya.
CKLEK
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan banyak sekali senjata dan beberapa benda tajam lainnya. Naruto membuka laci mejanya dan menemukan beberapa pisau disana, diambilnya pisau itu dan dirinya dengan teliti melihat ketajaman pisau yang ada ditangannya.
SET
Naruto melempar pisau itu kearah boneka percobaan yang bergerak ke kanan dan ke kiri yang ada 200 meter dari dirinya. setelah itu Naruto melihat bagaimana hasilnya dan bibirnya sedikit naik keatas setelah melihat pisau itu tepat mengenai kepala boneka itu. Naruto melangkah kedepan, mengambil sebuah pistol hitam yang sangat disukainya. Dirabanya pistol itu, lalu dalam sebuah gerakan cepat.
DOOORRR
Sebuah peluru melesat cepat keluar dari pistol itu menuju sebuah jantung yang tidak benar- benar ada, karena sasarannya hanyalah sebuah boneka. Naruto kembali mengangkat bibirnya. Diambilnya pistol itu dan ditaruhnya didalam jaketnya. Dirinya cukup yakin bahwa hanya dengan satu peluru dirinya bisa membunuh sasaran dengan perfect, tapi berhubung dia akan sedikit main- main. Disediakan penuh peluru didalam pistol itu dan sebelum dirinya keluar dari ruangan itu, Naruto mengambil lima buah pisau dan menaruhnya didalam jaketnya juga. tapi kemudian Naruto mengambil pistol yang lain yang berisi penuh peluru untuk sebuah persiapan untuk membunuh korbannya yang lain.
Naruto sudah bersiap sekarang, penampilannya yang sekarang adalah baju, celana panjang dan jaket panjang selutut berwarna hitam. Baju dan celana itu memang didesign oleh Tou-sannya untuk seperti ini. kelenturan dari baju dan celanya sangat dipertimbangkan sehingga tidak akan memberi tekanan yang terlalu besar terhadap penggunanya. Kesehatan dan aktivitas adalah modal utama untuk menentukan apakah pakaian itu layak dipakai atau tidak.
Naruto masuk kembali ke kamarnya dan mengambil sebuah wig dari laci paling bawah lemarinya dan mengambil lensa dari laci pertama lemarinya. Setelah memasang semuanya dengan benar, Naruto mengambil kaca mata yang telah dikatakan manfaatnya oleh Tou-sannya saat dirinya baru datang di zaman ini. Naruto memakainya dan melihat dirinya dicermin. Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya dan beberapa saat kemudian sebuah seringai muncul dibibirnya dan perlahan mata birunya yang tertutup lensa berwarna coklatnya yang cerah berubah menjadi hitam kelam dan tidak bernyawa lagi, hanya ada kegelapan dan kehampaan yang tinggal disana. Aura membunuh dari tatapan matanya menguar keseluruh kamar, Naruto yang sekarang bukanlah Naruto yang ada di zamannya. Karena Naruto yang sekarang adalah seorang wanita yang ditugaskan ke zaman empat puluh yang lalu untuk membunuh siapapun yang terlihat dikaca matanya dan seorang wanita berdarah dingin yang tidak mempunyai hati atau rasa kasihan untuk mengasihani korbannya atau segan untuk membunuh siapapun yang menghalanginya. Karena tugasnya disini adalah untuk membunuh. Naruto mengambil kunci mobilnya dan dirinya segera menuju korban pertamanya.
"Show time!" kata Naruto sebelum dirinya meninggalkan rumah barunya.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto memakirkan mobilnya dalam radius 1km dari apartemen yang diinformasikan oleh kaca matanya. Itu adalah apartemen milik korban pertamanya. Nama korban pertamanya adalah Tayuya, seorang cewek berambut merah marun yang senang sekali memainkan suling. Dia adalah salah satu ilmuwan yang sudah banyak menemukan penemuan dibidang musik. Naruto kemudian menyetop taksi dan turun didepan apartemen itu. Naruto menyebutkan bahwa dia adalah teman dari salah satu penghuni disana, yang untungnya sudah dipersiapkan oleh Tou-sannya.
Naruto masuk kedalam lift dan naik ke lantai 5. Tapi setelah itu Naruto naik kembali lift yang berada disebelahnya dan turun kelantai dasar dimana tempat parkir berada. Naruto berjalan mengikuti yang lain. Dirinya kemudian mengambil kaca genggamnya dan menekankan sesuatu sehingga peta ruangan apartemen itu terlihat. Naruto menekan ruangan pengawas dan sebuah petunjuk ruangan terlihat. Naruto mengikutinya dan tidak berapa lama sampailah Naruto didepan ruangan pengawas tersebut.
TOK TOK TOK
Naruto mengetuk pintunya dan tidak berapa lama keluar seorang pria.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pengawas itu.
TAK!
Naruto memukul titik dimana orang itu akan mati seketika.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" tanya pria yang lainnya yang melihat temannya yang jatuh kelantai. Naruto menyeringai sambil mengeluarkan pistolnya.
"Hanya membunuh temanmu." Naruto berkata dengan innocentnya.
"CEPAT! BUNYIKAN ALARM PERINGATAN…" kata pria itu cepat setelah mengetahui bahwa Naruto bukanlah orang baik. tapi gerakan pria yang lain yang mau memencet alarm itu ternyata lebih lambat dari gerakan pistol Naruto.
DOORRR! DOOOR! DOOOR!
Dan tiga orang yang ada disana langsung jatuh tidak bernyawa karena timah panas telah bersarang di jantung mereka.
"TO-TO-TOLONG! Jangan bunuh saya. Saya mohon…" kata seorang pria memohon belas kasih Naruto. Naruto menatap orang itu kasihan lalu tersenyum.
"Baiklah aku tidak akan membunuhmu sekarang." Naruto berbalik lalu menyeringai dan setelah melangkah satu langkah, Naruto berbalik dengan pistol yang masih ditangannya.
DOOORR! BRUK!
"Aku memang tidak akan membunuhmu tadi karena aku akan membunuhmu setelah satu langkah ku berjalan." Naruto menyeringai dan mengijak salah satu korban yang telah tewas ditangannya karena korban itu telah menghalanginya berjalan menuju tempat dimana pengaturan semua kamera pengawas berada. Naruto duduk disalah satu kursi. Dan setelah itu dengan cepat tangannya bermain, menghapus semua gambar yang telah memperlihatkan dirinya.
"Sang tikus sudah masuk kedalam jebakan." kata Naruto setelah melihat Tayuya masuk kedalam parkiran. dan setelah itu dimatikan semua kamera pengawas yang ada di seluruh apartemen itu.
Naruto membuka permen lolipopnya lalu segera berjalan menuju tempat parkiran kembali.
"Aku akan membunuhnya sebelum permenku habis." kata Naruto sebelum dirinya terkikik dan memakai sarung tangannya.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto terus berjalan sampai akhirnya dia berada di parkiran.
TIN
Terdengar suara mobil dikunci, Naruto bersandar disalah satu mobil sambil mengamati Tayuya dari pisau yang ada ditangannya.
WWUUSSHHH!
Naruto melemparkan pisau itu ke tempat Tayuya berada. Karena gerakan itu terlalu cepat, Tayuya tidak menyadari bahwa tangannya telah terkena pisau itu. dan setelah beberapa detik ketika cairan merah keluar merembes dari bajunya dan sebuah rasa hangat dan perih keluar dari tangannya Tayuya berteriak.
Tayuya POV
"Aaaa…" aku merasakan panas bercampur perih dari tanganku dan setelah aku melihat tanganku, bajuku sudah sobek dengan darah yang sudah merembes dari bajuku.
TAK TAK TAK
Aku mendengar seseorang berjalan.
"SIAPA ITU?" tanyaku berteriak. Aku harap dia bukanlah orang yang telah membuatku begini. Aku berjalan kedepan mobilku dan melihat seorang wanita dengan rambut putih panjang yang sedang memainkan pisaunya. Dan firasatku mengatakan bahwa aku harus menjauh dari dirinya.
"Siapa kau?" aku menanyakannya lagi dengan keringat dingin yang keluar dari wajah dan badanku. Otakku tidak sependapat dengan firasatku, aku masih penasaran dengan wanita itu. wanita itu menatapku dan matanya yang kelam dan penuh dengan aura membunuh menatapku.
"Maafkan aku, tanganku terpeleset tadi." katanya sambil tersenyum. Tapi aku tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah senyum yang memang senyum. Karena bulu kudukku berdiri melihat senyum itu.
"Ah.. tidak apa." kataku melaluinya, tidak ingin bermacam- macam dengannya.
DOOOR!
Dan aku mendengar sebuah tembakan. Akupun berbalik dan menghadapnya yang sedang mengacungkan pistolnya kearahku. Dan rasa panas dan perih itu kembali terasa dibahuku.
"Aaa…" dan aku kembali berteriak kesakitan.
"AH…. Maafkan aku kembali, Nona. Sepertinya tanganku sering meleset sekarang." wanita itu kembali tersenyum kepadaku. Aku yang tidak bisa menarik senyum dari bibirku segera menyuruh otakku untuk mengirim pesan kepada kakiku untuk segera pergi dari sana. Akupun segera berlari menjauhinya dan berteriak.
"TOLONG… TOLONG…"
DOOOORR! BRUK!
Aku terjatuh karena kehilangan keseimbanganku ketika kakiku merasakan sakit yang luar biasa sampai akhirnya mati rasa. Akupun segera melihat kedua kakiku, ternyata tembakan itu telah mengenai kaki kiriku. Aku segera berbalik lagi untuk menatapnya.
"Si-si-siapa kau? Kau tidak mungkin mengatakan bahwa tanganmu kembali terpeleset, bukan?" kataku menatapnya takut.
"Aku akui yang tadi memang tepat sasaran." katanya dengan nada sedikit bersalah.
"Si-si-siapa kau sebenarnya?" tanyaku lagi. Dan hal itu membuat sebuah seringai yang sangat mengerikan terlihat diwajahnya.
"Aku? Aku adalah seseorang yang membantu tugas dewa kematian yang akan mengambil nyawamu." kata wanita itu melihatku.
"A-a-apa salahku? Jika aku punya salah. Aku minta maaf kepadamu. Aku mohon.. lepaskan aku…" kataku memohon belas kasihan kepadanya.
TAK TAK TAK
Wanita itu mendekatiku lalu berjongkok kearahku. Aku tidak bisa kabur karena tangan kananku dan kaki kiriku serasa mati rasa. Dia mengamati wajahku dengan menempelkan pisaunya kewajahku.
"Ah…" aku dapat merasakan dinginnya pisau itu di wajahku.
"Kau menanyakan salahmu? Dan kau memohon kepadaku?" wanita itu berbalik bertanya kepadaku dengan suara yang seperti berbisik.
"I-i-iya." kataku kembali terbata dengan nafas yang memburu, menahan sakit dari segala luka yang telah ditimbulkan olehnya.
SREET
"Aaaa…" teriakku ketika tangannya yang dilapisi sarung tangan itu menarik paksa rambutku kebelakang yang menyebabkan wajahku sedikit menekan pisau itu. darahpun kembali keluar dari sana, tapi sekarang diriku dapat mengamati wajahnya dengan jelas. dia adalah wanita yang sangat cantik.
"Apakah seorang dewa kematian harus mengatakan siapa dirinya sebelum mengambil nyawa seseorang, HAH?" katanya sambil terus menambah kekuatannya untuk menjambakku.
"Aaaa… LEPASKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU DAN LEPASKAN AKU JIKA KAU TIDAK TAHU APA SALAHKU!" kataku berteriak kepadanya tapi sebuah seringai muncul diwajah cantiknya.
"Tapi aku harus membunuhmu walaupun sebenarnya akupun tidak tahu apa yang telah kau perbuat sehingga perbuatan itu disebut salah oleh Tou-sanku." Wanita itu terlihat seperti berpikir sejenak. Inilah saatku.
BUGH!
Aku memukul wajahnya dengan tangan kiriku yang bebas. Dan itu berhasil membuatnya melepaskan tangannya dari rambutku.
"TOLONG… TOLONG… TOLONG AKU…." aku berteriak sekeras mungkin berharap ada seseorang yang mendengarku.
"SHIT!" dirinya mengumpat dan menatap tajam diriku. Aku segera mengesot menjauh darinya. Tapi kemudian dia berjalan kearahku dan menginjak kakiku yang terkena peluru hingga aku merasakan bahwa peluru itu semakin dalam di kakiku.
"Aaaa… Maafkan aku…" aku kembali berteriak dengan air mata yang keluar dari mataku.
"Kau lupa bahwa wajah itu sangat penting bagi wanita?" tanya wanita itu marah. Aku mencoba melihat wajahnya yang terlihat sangat menyeramkan sekarang. owh… Kami-sama…
BUGH! BUGH! BUGH!
Wanita itu memukul wajahku berkali kali. Lalu setelah merasa puas dengan wajahku dan aku tergeletak ditanah tidak berdaya dia mulai menginjak- nginjak badanku aku merasakan tubuhku akan segera remuk. aku tidak mengerti apa yang sebenarnya aku lakukan sehingga dia begini. Dia terus menyiksa tubuhku sampai diriku tidak merasakan lagi bagaimana rasanya diinjak oleh sepatunya. Aku tahu bahwa lebam sekarang sudah merata di tubuhku. Dan yang aku lakukan hanya berteriak lemah meminta tolong kepada siapapun dan memohon belas kasihan kepada dirinya. Kami-sama… Tolong aku….
KRAUK KRAUK KRAUK
Dan bunyi permen yang dikunyah mengakhiri injakan sepatunya. Kau telah menolongku Kami-sama. Aku bersyukur dalam hati karena injakan itu terhenti dan aku harap berhenti pula penderitaan ini.
"Ah… permenku habis. Baiklah. Kita akhiri saja permainannya." katanya menatap kearahku dengan pistol ditangannya. Sepertinya aku telah salah sangka bahwa penderitaan ini akan berakhir tapi aku lebih baik mengakhiri hidupku sekarang daripada menerima siksaan ini terus menerus.
DOOR! DOOR! DOOOR!
3 peluru menembus tubuhku.
"Aaaa…. DASAR WANITA PEMBUNUH… SIAPAPUN TOLONG AKU…." kataku berteriak dengan rasa sakit yang menyetrum seluruh tubuhku. Karena dirinya tidak menembak mati diriku tetapi malah mengenai perut, tangan kiri dan dada sebelah kananku. Dia hanya ingin mendengar kesakitan dan penderitaan diriku.
"KENAPA KAU TIDAK LANGSUNG MEMBUNUHKU? AKU INGIN MATI! CEPAT BUNUH AKU!" aku sudah tidak tahan menerima ini semua. aku tidak kuat. Entah berapa darah yang telah aku keluarkan dan berapa jeritan yang telah aku teriakan. Tubuhku terasa sangat lemas, aku tahu bahwa diriku akan segera mati.
JLEB
Dan sebuah pisau menancap ke telapak tanganku.
"Aaaa…." hanya teriakan lemah yang bisa kuberikan kepadanya, aku tidak mempunyai tenaga lagi untuk berteriak keras.
"Aku menghukum tangan yang telah memukul wajahku." katanya sambil menyentuh wajahnya yang akibatnya darah menempel diwajahnya.
"Tapi… jika kau ingin segera mati… aku akan menurutinya. Jika itu memang maumu!"
Aku menatap dirinya sendu karena nyatanya mataku sudah tidak kuat untuk terbuka lebar.
Tayuya POV end
Naruto mengeluarkan pisaunya dan menatap Tayuya yang sudah pucat pasi akibat kehilangan banyak darah.
WWWUUUSSSHHH!
Naruto melemparkan pisaunya dan…
JRAAAT!
Darah muncrat keluar bersamaan dengan tertancapnya pisau itu dikepala Tayuya.
Dan setelah itu Tayuya tidak bernyawa lagi, cairan merah yang memang sudah dari tadi keluar dari tubuhnya mengelilingi tubuhnya yang telah tidak bernyawa. Naruto hanya mempercepat kematiannya dengan menancapkan pisau ke kepala Tayuya. Karena tanpa Naruto lakukan itupun Tayuya pasti akan segera mati karena kehabisan darah. Naruto menginjak tubuh Tayuya dengan perasaan puas dalam dirinya.
"Jika kau tidak memukulku. Aku akan bermain lebih lama denganmu. Kau beruntung secepat ini kau mati." Naruto mengambil salah satu pulpen dari kantongnya dan berjalan menjauhi Tayuya. Dia memencet salah satu tombol disana dan pulpen itu mengelilingi Naruto dengan sinar. Dan penampilan Naruto kembali seperti semula. Tanpa darah sedikitpun yang menempel pada dirinya.
"Aku akan pergi sekarang." kata Naruto masuk kedalam lift setelah memfoto bagaimana keadaan Tayuya.
Naruto sampai di lantai 5 kemudian Naruto kembali turun. Seorang satpam membukakan pintu untuk Naruto dengan sebuah senyum. Tidak mengetahui betapa kejam dirinya yang telah membunuh banyak orang di apartemen itu. Naruto berjalan keluar dari wilayah itu sebelum dirinya mendengar teriakan dari dalam parkiran karena melihat tubuh Tayuya dan sebelum para satpam bergegas cepat memeriksa semuanya dan menelfon polisi.
Naruto memberhentikan taksinya didekat mobilnya, kemudian masuk kedalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dia merasakan capek dari seluruh badannya.
"Tadaima." Naruto masuk kedalam rumahnya dan segera masuk kedalam kamarnya, dia mandi dan segala sesuatu yang tadi dipakainya kecuali kaca matanya ditaruh didalam tong sampah dan dipencetnya tombol berwarna hitam, membuat semua yang ada disana berubah menjadi abu.
Setelah tubuhnya kembali segar Naruto melangkah menuju kasurnya, tapi sebelum dia terlelap tidur dikirimnya dulu foto Tayuya yang telah tewas kepada Tou-sannya yang ada disana. Membuat Sasuke yang ada di berbeda zaman tertawa puas melihat betapa jeniusnya putrinya itu.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Esoknya Naruto bekerja di tempat Tou-sannya bekerja. Dia sangat senang akan bertemu dengan Tou-sannya itu.
"Sasuke!"
Naruto mendengar nama Tou-sannya disebut. Naruto segera melihat kebelakang dan melihat dua orang pemuda dengan seorang wanita. Pemuda dengan rambut berwarna kuning dan bermata biru, seorang wanita berambut merah marun panjang dengan mata berwarna hijau dan seorang pemuda yang dia yakin adalah Tou-sannya. Seorang pemuda dengan rambut berwarna biru donker dan bermata Onyx.
Naruto diam ditempat menatap mereka bertiga. Dan saat tiga orang itu melewatinya Naruto hanya diam. Tapi ternyata wanita berambut merah marun itu berhenti lalu menatap dirinya dengan pandangan senang. Membuat dua orang lainnya ikut berhenti dan menatap dirinya.
"Apa kau Uchiha Sasuke?" tanya Naruto memotong ucapan yang akan keluar dari wanita berambut merah marun itu.
"Hn." jawab Sasuke datar. Membuat Naruto tersenyum gembira mendengarnya.
"Hey! Siapa dirimu? Mau berkenalan?" tanya wanita berambut merah marun akhirnya.
"Tou-san…" Naruto berlari lalu memeluk Sasuke, mengabaikan pertanyaan yang diajukan kepadanya. membuat dua orang lainnya dan Sasuke sweatdrop.
Tapi setelah sadar, Sasuke yang dipeluk secara paksa langsung melepaskan pelukan Naruto.
"Gila. Kau wanita gila jangan menyentuhku. Aku tidak mau tertular penyakitmu. Dan jangan menyentuhku sembarangan karena kau adalah orang asing." Sasuke kembali mengucapkan kata- kata datar tak berperasaan. Naruto terdorong kebelakang tapi bukan ekspresi marah ataupun sedih yang diperlihatkan kepada Sasuke melainkan ekspresi senang dengan sebuah senyum mengembang dibibirnya.
"HEY… kau tidak mendengarkanku? Siapa namamu?" wanita itu kembali menarik perhatian Naruto. bahkan wanita itu menggenggam tangan Naruto.
"Jauhkan tangan kotormu dari tanganku." kata Naruto yang tak kalah datar dengan Sasuke sambil menatap tajam wanita itu. Membuat wanita itu dan pemuda berambut kuning membelalakan matanya. Menyadari sifat yang dikeluarkan oleh Naruto berbeda saat Naruto berbicara kepada Sasuke dan menyadari bahwa Naruto memiliki sifat yang sama dengan Sasuke.
"Kau yang harus bertanya kepadanya, Sasuke. lihatlah! Kushina sampai ingin menangis." Pemuda berambut kuning berbisik kepada Sasuke. Sasukepun melihat kearah Kushina, benar saja matanya kini sudah berkaca- kaca. Akhirnya Sasukepun mengalah dan menghela napas.
"Siapa dirimu?" tanya Sasuke kepada Naruto. Dia tidak ingin sahabatnya atau bisa kita panggil Kushina menangis. Naruto kembali menatap Sasuke dengan mata yang berbinar.
"Ah… aku… Uchiha Kawai. anakmu dari masa depan…" kata Naruto dengan suara ramah dan menggemaskan. Dirinya disuruh memakai nama itu disini oleh Tou-sannya.
KRAK KRAK PRANG
Semua orang menatap cengo Naruto. ambang batas kesadaran telah dihancurkan oleh kata- kata Naruto. membuat semua roh keluar dari raga ketiga orang itu.
"Ayo Tou-san, mulai saat ini kita akan bekerja bersama.. aku akan membantu apapun yang Tou-san katakan. Sama seperti dulu." Naruto menggandeng tangan Sasuke dan menggeretnya berjalan, mengabaikan yang lainnya yang masih belum sadar akibat ucapan Naruto. Tetapi Naruto berfikir sejenak sebelum dirinya berhenti dan mengeluarkan kaca genggamnya untuk mengubahnya menjadi sebuah kamera untuk berfoto dengan Sasuke, dia akan mengirimnya nanti kepada Tou-sannya. Sasuke yang kembali sadar menatap Naruto tapi kemudian menatap kaca yang ada ditangan Naruto dan matanya langsung membulat melihat kaca itu.
"Kaca itu…." kata Sasuke terkejut sambil menatap kaca yang dipegang Naruto.
To be continued
Bagaimana? Sudah sadiskah? Sudah kerasa feelnya kah? Tsuki sengaja menjadikan Tayuya POV. Agar apa yang dirasakan Tayuya terlihat dan terasa. Tapi… kalo ternyata kurang… Tsuki minta maaf… (T.T) Tsuki akan lebih menambah kesadisan Naruto di chapter selanjutnya deh. Tapi gak tahu bakalan dapet feelnya ga… hua…. Maafkan Tsuki… dan satu lagi Tsuki tunggu reviewnya… ~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
