Prewarning: contained some mature scenes, curse, and an unnecesarilly-explained-ever imagination.

.

.

MJ PROJECT

"LUCIDSCAPE"

Starring: MarkJin.

-Chapter 2-

.

.

"Mobil berwarna merah?"

"Ayolah, kau pasti mengenalnya"

"Sebentar, kurasa yang kau maksud adalah YoungJae"

"YoungJae?"

"Choi YoungJae. Hanya dia yang mempunyai mobil berwarna merah. InHa University, Sains Terapan"

"Y-youngJae? Ketua senat?"

"Kau mengenal YoungJae?"

"Kurasa dia ketua senatku"

"Apa dia orangnya?"

"Bukan. aku melihat ada orang lain sedang menunggunya di mobil itu. Apa YoungJae mempunyai teman yang sering datang menjemputnya?"

"Aku tidak tahu soal itu. Jackson, apa yang terjadi?"

"Bukan masalah besar. JinYoung hanya sedang mencari seseorang."

"Aku juga baru melihat JinYoung-ssi"

"Ah ya, aku belum lama bergabung"

"Jin, kurasa sebaiknya kau menemui YoungJae"

Disinilah kemudian JinYoung berdiri, tepat di depan pintu kamar ketua senat Choi YoungJae.

Sejujurnya JinYoung benar-benar terpaksa melakukan ini semua kalau bukan lelaki yang selalu datang mengganggu tidurnya. JinYoung menarik nafas panjang. Dari beberapa orang yang dia tanyakan akhirnya JinYoung berkesimpulan kalau YoungJae memang sedang ada di kamarnya.

Sebelum tiga kali ketukan pintu kayu itu terbuka. JinYoung sudah siap, dengan segala resiko yang mungkin akan ditanggungnya. Well, who knows kalau nantinya semua asumsi dia salah dan YoungJae mencapnya sebagai penguntit.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya YoungJae begitu melihat JinYoung menatapnya intens.

"Uhm ya, namaku JinYoung. Park JinYoung."

"Well, JinYoung-ssi.. "

"Ada yang ingin kutanyakan soal kau yang bergabung di klub dream sharing"

Youngjae diam sebentar. Alisnya terangkat. Dia memperhatikan JinYoung sekilas sebelum menarik nafas pelan "Masuklah."

.

.

Jelas sekali kalau ketua senat memiliki lebih banyak fasilitas di kamarnya. JinYoung merasa kalau sebenarnya YoungJae mendapat hak penuh untuk satu kamar, tidak seperti dirinya yang harus berbagi dengan mahasiswa lain namun sepenglihatannya YoungJae seperti tidak sendirian di ruangan ini.

"Kau mengikuti kegiatanku?" tanya YoungJae lagi sambil menaruh dua buah kaleng jus di depan JinYoung.

"Tidak, hanya kebetulan aku juga bergabung di klub itu" jawab JinYoung. Sesekali dia melirik ke arah ranjang yang ada di samping ranjang milik YoungJae.

"Benarkah? Sejak kapan? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya" kata YoungJae lagi.

"Memang aku masih tergolong baru."

"Lalu?"

"Aku ingin hertemu denganmu karena ada yang ingin kutanyakan padamu"

"Tentang apa?"

"Tentang orang yang bersamamu kemarin. kau tinggal sendirian di sini?"

"Uhm, maksudmu?"

"Aku sedang mencari seseorang dan dialah alasanku mengapa aku bergabung dengan klub lucid dream. Kemarin aku melihatnya berada di dalam mobilmu"

Di sana JinYoung merasa Youngjae sedang berfikir keras. berkali-kali YoungJae menatapnya dengan ragu sebelum akhirnya dia kembali menarik nafas.

"Aku tidak tahu soal itu" ucapnya pelan.

"Kau pasti tahu. kau juga mengikuti klub lucid dream karena suatu alasan bukan?" desak JinYoung dengan intonasi yang begitu yakin. YoungJae tidak menjawab, lelaki itu berdiri sambil mengamit beberapa buku di tangan.

"JinYoung-ssi, kurasa aku tidak bisa lagi menemanimu mengobrol. Aku.."

"Aku hanya ingin bertemu dengan orang itu dan memintanya pergi dari mimpiku tapi jika kau tidak menginginkan aku bertemu dengannya atau mungkin dia memintamu untuk merahasiakan itu katakan saja padanya untuk secepatnya pergi dari mimpiku. Aku sangat muak dengan semua ini. kau tahu benar bukan? aku memiliki hak asasiku sebagai manusia bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia mimpi." Potong JinYoung dengan tegas.

YoungJae tidak menjawab dan JinYoung tidak merasa kalau dia membutuhkan jawaban. lelaki itu kemudian bangkit dan mengambil tasnya.

"Maaf sudah mengganggu waktumu. Jika bukan karna bajingan itu, aku juga segan untuk lagi-lagi membuang waktuku pada hal yang tidak kusukai"

"Dia sepupuku. Mark."

JinYoung menoleh setelah beberapa langkah. "Mark?"

"Aku tidak setuju jika kau memanggilnya bajingan tapi akan kukatakan pesanmu padanya"

"Aku ingin bertemu dengannya" kata JinYoung lagi namun tidak kembali mendekat ke arah YoungJae.

"Kau bisa bertemu dengannya di mimpimu bukan?"

YoungJae berjalan mendekat, menarik lengan JinYoung dan membawanya keluar kamar.

.

.

"Mark!"

Lelaki itu menoleh. JinYoung memejamkan matanya sesaat sebelum dia kembali menatap lelaki itu. tepat seperti yang dia lihat di dalam mimpi. Semua bentuk wajahnya, caranya dia menatap seseorang dan tingkahnya yang seperti bajingan. JinYoung yakin ini bukan mimpi.

"Maaf?"
JinYoung hampir saja terbelalak. Telinganya masih berfungsi dengan benar untuk mendengar kata yang baru saja dia dengar. "Maaf? Kau tidak mengenalku?"

"Tidak sama sekali" ucap lelaki itu singkat. Dia hampir berjalan melangkah sewaktu JinYoung menghalanginya.

"Hei! Kau datang ke mimpiku setiap malam" sungut JinYoung sebal. Lelaki itu menarik nafas dan menatap Jinyoung dengan datar.

"Sepertinya kau salah orang"

"Salah orang? Tapi kau sudah dengan jelas menoleh begitu aku memanggilmu"

"Aku menoleh karena memang namaku Mark"

"Dan kau juga yang telah datang ke mimpiku bukan?" tambah JinYoung lagi.

"Sudah kubilang kau salah orang"

"Apa maksudmu memperlakukan aku seperti ini? Mengapa kau tidak bisa berkata 'ya' dan mengakui kesalahanmu?"

"Kesalahan?"

"Benar. kau sudah datang seenaknya ke dalam mimpiku dan itu adalah sebuah kesalahan"

"Dengar, aku tidak mengenalmu. Jadi, jangan halangi jalanku" ucap Mark sambil menghempas tubuh JinYoung sedikit ke arah dinding lorong asrama.

"Sepupumu sudah mengakui kalau kau memang orangnya dan aku sudah memutuskan untuk mengeluarkanmu dari mimpiku bagaimanapun caranya"

Lelaki itu berhenti berjalan namun tidak menoleh.

"Kau tidak akan bisa melakukannya"

.

.

Ini mimpiku.

Aku menyukai padang rumput yang luas, aku menyukai lautan yang terlihat hijau karena ganggang yang hidup di dalamnya masih sangat alami.

Aku menyukai saat aku berada di antara bunga yang bermekaran. Aku menyukai semua itu

Jadi kupastikan ini hanya mimpi.

Aku yang berada di padang rumput penuh bunga ini hanya bagian dari mimpiku.

JinYoung bangkit. Dia berjalan mencari seseorang yang biasa hadir di mimpinya.

"Mark?" panggilnya

Biasanya lelaki itu sudah menyambutnya lebih dulu. Biasanya Mark sudah ada di sana sambil tersenyum dengan begitu menyebalkan. Namun tak urung biasanya juga JinYoung mendekat dan mendengarkan semua yang Mark ceritakan padanya.

"Mark aku tahu kau di sana"

JinYoung sudah melihat Mark yang sedang duduk di balik pohon. Dia pikir Mark kini sedang bersembunyi namun begitu JinYoung menghampirinya, dia melihat Mark sedang tertidur sambil bersandar di pohon yang besar.

"Mark" panggil JinYoung pelan. mata itu terbuka dan seperti biasa Mark tersenyum.

"Kau sudah datang?" sapa Mark dengan lembut.

"Mengapa kau tidak mengaku tadi?"

"Bisakah kita tidak membicarakan itu?"

"Mark, keluarlah dari mimpiku"

"Kenapa kau selalu membicarakan hal itu?"

"Karena aku berhak memiliki privasi"

"Hanya karena itu?"

"Mark, apa kau tahu? mimpi itu bunga tidur. Di dalam mimpiku aku ingin bisa melakukan apa saja. aku juga ingin kekasihku ada di mimpiku bukan kau"

Mark berdecih "Hanya karena itu?"

"Lalu kau ingin menonton mimpi basahku dengan kekasihku?"

"Setahuku, akulah orang yang ada di mimpi basahmu bukan kekasihmu"tambah Mark dengan sedikit seringaian di wajahnya. JinYoung mengepalkan jemarinya dengan kuat-kuat. Jika saja dia bisa menghajar lelaki ini.

"Kau benar-benar menguji kesabaranku. Dengar, aku akan melakukan apa saja agar kau bisa keluar secepatnya dari dalam mimpiku"

"Lakukanlah kalau kau bisa. Biarkan aku beristirahat di sini. Kau pergilah"

JinYoung bangkit lalu berjalan menjauh dari Mark sambil terus bersumpah serapah.

"Mark, aku benar-benar membencimu"

.

.

.

"Kau sudah siap?"

"Jackson terima kasih kau mau membantuku"

"Bukan masalah. Sekarang bawa aku ke lingkungan asramamu"

JinYoung memutuskan untuk meminta bantuan Jackson agar Mark bisa keluar dari pintu mimpinya. Malam ini JinYoung tidur di tempat Jackson lalu dia akan membawa Jackson masuk ke dalam pintu mimpinya.

"Aku sudah mencobanya tapi aku belum pernah berhasil melakukannya" ucap Jinyoung sedikit sebal.

"Kau pasti bisa maka saat Mark tertidur nanti, dia akan ada di dalam kamarmu dan kita hanya harus mengeluarkannya dari pintu mimpimu"

"Aku belum pernah menemukan pintu mimpiku"

"Pintu mimpimu adalah pintu kamarmu"

"Berarti aku dan Jaebum mempunyai pintu yang sama?"

"Kau masih ingin bertanya-tanya soal itu sekarang? cepat lakukan"

"Baik"

Mereka berjalan dengan cepat dan JinYoung menemukan asramanya. Sebuah gedung yang cukup besar sama seperti aslinya. Hanya saja begitu sepi dan agak gelap.

"Disini gelap" kata JinYoung. Bulu kuduknya sedikit berdiri, hal itu membuatnya cukup takut.

"Karena hanya kau dan YoungJae penghuni yang bisa mengunjungi asrama dalam mimpi. Jadi ini mirip seperti gedung kosong."

"Kurasa YoungJae tidak pernah berjalan kesini"

"Mungkin dia juga sama seperti sepupunya, lebih suka bermain di mimpi orang lain. who knows"

"Kau bisa juga seperti itu" kata JinYoung sedikit meledek.

"Hanya menduganya"

"Jackson.. itu kamarku. Pintunya tertutup"

"Mark yang menutupnya" jawab Jackson singkat.

"Mark? Kenapa dia bisa melakukan itu?"

"Tentu agar dia tidak bisa keluar"

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Buka pintu kamarmu. Kau tentu tahu passwordnya"

"Sama seperti di dunia nyata?"

Jackson berdecak sebal."Memangnya bisa berbeda?"

"Oh baiklah"

JinYoung menekan beberapa tombol lalu pintu terbuka. Perlahan dia masuk ke dalam dan menemukan ada orang lain yang berada di kamarnya. Tidak. dua orang yang tengah bercinta di kamarnya. JinYoung menutup telinganya begitu dia mendengar satu desahan.

"Kurasa timingnya sedang tidak tepat" bisik Jackson pelan.

"Sejak kapan JaeBum berkencan dengan seorang pria?" guman JinYoung

"Itu bukan urusanmu. Lagipula, kehadiranmu tidak akan memberikan pengaruh apapun di mimpinya"

"Bukankah kita berada di pintu yang sama?"

"Tidak. Pintu mimpi JaeBum ada di sana" kata Jackson sambil menunjuk ke arah toilet.

"Pintu toilet?"

"Kau benar"

"Tapi mengapa aku bisa melihatnya sedang bercinta dengan laki-laki di sini dan... dia..."

"Sudah kubilang, itu hanya imajinasi JaeBum saja. Dia sedang bermimpi kalau dia sedang bercinta di ranjangnya. Maka itu kau bisa melihatnya di ranjang, jika dia sedang bermimpi tengah berada di gurun, tentu kau tidak akan bisa melihatnya kecuali kau membuka pintu kamar mandimu" jelas Jackson.

"Jadi pintu mimpi tidak hanya terpaku pada pintu kamar? Berarti aku mempunyai dua pintu mimpi?"

"Ya, satu lagi ada di rumahmu. Satu hal yang membuat Mark bisa masuk ke dalam mimpimu, karna pintu mimpimu ada di pintu kamarmu. Jadi dia bisa dengan mudah masuk"

"Bagaimana dia tahu? mungkin karna dia langsung melihatmu ada di padang rumput saat dia membuka pintu ini"

"Sekarang kau bisa melihat kasurmu kosong karena kau tidak tidur disini. Kau tidur di rumahku, kau datang kesini melalui pintu mimpiku."

"Lalu bagaimana aku bisa mengeluarkan mark?" tanya JinYoung lagi.

"Dia akan melihat kita"

Jackson mengajaknya untuk sedikit bersembunyi agar tidak terlihat. Beberapa saat kemudian mereka mengintip untuk melihat seseorang tiba-tiba duduk di tepian ranjang.

"Dimana kau tidur?" lelaki itu berbisik pelan seakan tidak peduli desahan yang mengalun dari ranjang JaeBum

"Tolong!"

"Jin?"

Dengan panik Mark menoleh ke arah sekelilingnya untuk menemukan sumber suara.

"Mark, tolong aku!"

"Jin, kau dimana?" tanya Mark setengah berteriak.

"Aku di sini"

Mark berlari dengan cepat keluar kamar dan menemukan JinYoung tengah meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Mark menatap JinYoung dengan panik.

"Kau? bagaimana kau bisa keluar dari pintu mimpimu? Apa mereka melukaimu?" tanya Mark dengan kesal. JinYoung menatap tidak mengerti.

"Mark?"

"Katakan apa yang mereka lakukan padamu!" tanya Mark lagi dengan suara lebih keras.

"Aku.. "

BLAM!

"Pintumu sudah terkunci Jin. Aku sudah mengganti passwordnya"

Tentu mereka berdua bisa mendengar kata-kata Jackson barusan. Mark menatap JinYoung tidak percaya. Tidak percaya kalau lelaki itu baru saja mempermainkannya.

"Kau.."

"Aku sudah bilang kalau aku akan mengeluarkanmu bagaimanapun caranya" potong JinYoung dengan senyum penuh kemenangan.

Mark menoleh ke arah orang yang sedang berbicara pada JinYoung dan seketika dia membeku.

"Jackson?" gumamnya pelan dan begitu juga terjadi pada Jackson.

"MT?

"Jackson, bawa aku pergi sekarang" pinta JinYoung tanpa memperdulikan ekspresi keduanya.

"Baik"

.

.

.

"Berhasil" JinYoung berseru senang. akhirnya rencanya untuk mengeluarkan Mark dari ruang mimpinya berhasil namun begitu melihat ke arah Jackson, JinYoung menarik kembali senyumannya. Lelaki itu tampak sedikit kacau.

"Jackson, kau mengenal Mark?" pancing JinYoung sambil duduk di sampingnya.

"Aku tidak percaya kalau dia adalah MT.." gumam Jackson pelan. JinYoung mengangkat aslinya.

"MT?" tanyanya tidak mengerti.

"Aku baru mengingatnya. MT, Mark Tuan"

"Siapa dia?"

Jackson menoleh dan menatap ke arah JinYoung. "Semua orang mengiranya sudah mati"

"Semua orang?"

"Semua orang yang bisa melakukan Lucid dream"

"Kenapa?"

"Mark adalah seseorang yang bisa melakukan lucid dream. Kami memulai sebuah pelatihan. Kau masih ingat Kim Yugyeom yang pernah kau temui saat kau mencari YoungJae bukan? Yugyeom, aku, dan Mark bekerja sama. setelah tempat pelatihan kita terkenal, ada sekelompok orang yang juga berlatih ingin melakukan dream sharing untuk tujuan yang salah dan Mark menentangnya. Mark mengeluarkan mereka dari anggota pelatihan. Saat itu tahap Lucid dream mereka belum setinggi Mark. Setelah itu dalam mimpinya, Mark bertemu lagi dengan mereka. Mereka ingi membalas dendamnya pada Mark.

Kau tahu, jika kau terbunuh dalam mimpimu atau kau pingsan dan tidak sadarkan diri, kau tidak akan pernah bisa bangun dari tidurmu. Awalnya aku mengira Mark masih berada di Los Angeles" jelas Jackson.

"Jadi dia belum lama tinggal di Seoul?"

"Tidak. Orang tuanya berada di Los Angeles tapi dia dibesarkan di sini. Kupikir sejak dia dikejar oleh orang-orang itu, dia kembali pulang ke Los Angeles dan tidak kembali lagi"

"Lalu mengapa dia ada di sini? Untuk melarikan diri?"

"Entahlah tapi kurasa begitu karena pasti dia menemukan pintu mimpimu untuk bersembunyi"

"Dia pernah mengatakannya"

"Kurasa juga YoungJae mempelajari ini untuk membantu MT"

JinYoung diam sebentar. Tiba-tiba saja ada perasaan bersalah menggelayutinya. "Lalu.. apa yang harus aku lakukan?"

"Kau sudah melakukan hal yang benar. setidaknya kau bisa tidur dengan tenang sekarang" ucap Jackson sambil tersenyum ke arahnya.

.

.

"Kau menyukai buku roman?"

"Seperti yang kau lihat"

"Setidaknya kau tidak perlu membaca di dalam mimpi. Kau bisa melakukan itu di dunia nyata"

"Pergilah"

"Hidupmu akan terlalu membosankan jika kau begitu"

"Hidupku sudah menyebalkan sejak aku bertemu denganmu"

JinYoung menoleh ke arah sampingnya. Biasanya Mark akan mengelus rambutnya ketika dia datang. Mark akan tersenyum. JinYoung merasa padang rumputnya begitu sepi dan dia sama sekali tidak bisa membayangkan SuJi sedang bersamanya. Entah mengapa pikirannya selalu terpusat pada Mark. Meski dia yakin Mark tengah bermain di ruang mimpi orang lain, hanya saja JinYoung merasa ada yang sedikit berbeda darinya.

"Aku rasa aku harus meminta SuJi untuk mempelajari lucid dream" gumamnya pelan.

.

.

JinYoung baru saja selesai mengurus sisa-sisa kegiatan laboraturiumnya hari ini begitu dia melihat dua orang lelaki berjalan beriringan menuju asrama.

"Jackson? YuGyeom?" gumam JinYoung

JinYoung mempercepat langkahnya. Menghampiri kedua lelaki itu, menepuk bahu Jackson untuk menyapanya.

"Apa yang kau lakukan di sini Jackson?" tanya JinYoung begitu Jackson tersenyum singkat kepadanya.

"Oh Jin, nanti saja ya. aku sedang buru-buru" ucap Jackson sambil melanjutkan langkahnya

JinYoung mengikuti Jackson dan YuGyeom, tidak perduli akan jam kuliah selanjutnya. Dia terus berjalan sampai dia melihat YoungJae di depan pintu asramanya. JinYoung melihat YoungJae tengah menatapnya ragu.

"Bagaimana?" tanya YuGyeom.

"Dia belum juga bangun. Apa yang harus aku lakukan?" jawab YoungJae frustasi. Lelaki itu membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan mereka masuk.

"Apa yang terjadi Jack?" tanya JinYoung setelah mereka duduk di ruang tamu.

"Dia belum terbangun sejak kau mengeluarkannya dari pintu mimpimu" YoungJae menjawab nada yang putus asa.

"Tidak mungkin, dia hanya tinggal kembali ke pintu mimpinya"

"Pintu mimpinya bukan di pintu kamarku" jawab YoungJae lagi.

"Maksudmu?"

"Pintu mimpinya tidak pernah berubah. Ada di Seoul tempatnya tinggal selama ini. Beberapa orang terus mengejarnya di dalam mimpi, mereka ingin membuat Mark seakan koma dan tidak pernah bisa bangun lagi di dunia nyata. Maka dari itu, dia bersembunyi. Dia sudah pergi ke Los Angeles tapi tetap saja mereka masih mengejar Mark karena mereka sudah berhasil masuk ke dalam pintu mimpi Mark" jelas YuGyeom.

"Bagaimana bisa?"

"Kau lupa kalau mereka pengkhianat?" tambah Jackson.

"Dalam mimpinya lalu dia mencari pintu mimpiku namun dia tidak menemukannya. Dia bercerita kalau dia berlari di semua lorong asrama dan akhirnya dia menemukan pintu mimpimu. Karena keadaan yang mendesak dia lalu masuk ke dalam untuk bersembunyi"

"Apa mereka akan menemukan Mark?" tanya JinYoung lagi.

"Tidak selama Mark bisa bersembunyi dengan baik. Maka itu aku berusaha untuk bisa mendalami lucid dream seperti dia agar aku bisa menolongnya" ucap YuGyeom.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" kali ini YoungJae bertanya dengan ragu.

"Selama Mark belum bisa mengeluarkan mereka dari pintu mimpinya maka dia tidak akan bisa kembali. Mereka akan selalu mencari Mark. Mungkin sekarang Mark sedang bersembunyi atau kemungkinan terburuk mereka sudah menemukannya" kata YuGyeom sambil menyeruput cola-nya.

"Jika Mark dibunuh oleh mereka apa artinya Mark tidak bisa kembali?"

"Jika kau tidak sadarkan diri kau tidak akan pernah bisa mendengar alarm pagimu bukan Jin?" sungut Jackson.

"Apa rencanamu Jackson?"

"Karna terakhir kali dia berada di asrama, artinya Mark masih di sekitar pintu mimpimu Jin"

"Kau bisa membantuku Jin?"

.

.

Bawa dia kembali ke dalam ruang mimpimu. Bukalah pintu mimpimu dan jangan lupa untuk menutupnya. Temukan Mark, di tempat yang bisa dipakainya bersembunyi. Mungkin di kamar YoungJae karena dia mengingat password kamar ini tentunya. Mark tidak bisa menemukan pintu mimpi YoungJae bahkan YoungJae pun sekarang sedang mencoba mencari pintu mimpinya. Kesimpulanku, Mark sedang tidak ada di mana-mana. Dia terlalu jauh untuk kembali ke pintu mimpinya dan tidak mungkin dia melakukan itu.

Padang rumput.

Dan JinYoung harus menemukan pintu mimpinya. Sedikit berlari dia mencoba mengingat tempat-tempat yang sering dipakainya duduk dengan Mark. JinYoung belum pernah mencoba ini. belum pernah sama sekali.

"Dimana pintu mimpiku? Ya Tuhan susah sekali menemukannya"

'Mengapa kau suka sekali duduk di bawah pohon besar ini'

'Aku menjaga pintumu Jin. Aku tidak ingin mereka masuk'

JinYoung berlari cepat. Pohon besar itu. Pohon yang selalu dipakai Mark untuk beristirahat atau sekedar menunggunya datang.

Sedikit terengah-engah, JinYoung mencari sesuatu yang bisa meyakinkannya kalau dahan besar itu adalah pintu mimpinya.

Bingo.

"HUWA!"

Seperti terserap, Jin menghilang setelah berhasil memutar sebuah dahan kecil yang ada di dahan besar.

Lalu semuanya gelap. Jin menoleh ke sekeliling, dia berada tepat di depan pintu kamarnya. Dia berhasil keluar. dengan cepat Jin bangkit dan mengunci kembali pintu kamarnya.

"Mark.." panggil Jin pelan dan tentu saja tidak ada jawaban, hanya gema suaranya di lorong asrama.

Jin mendengar beberapa derap langkah dan itu berhasil membuatnya sedikit ciut. Bulu kuduknya berdiri tiba-tiba namun dia tetap berjalan menyusuri lorong sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Mungkin aku harus mencari kamar YoungJae, ada kemungkinan Mark bersembunyi di sana"

JinYoung memutuskan untuk berbalik arah dan menjangkau lantai paling atas. Perlahan melangkah menjaga suaranya. Jin baru saja berbelok sewaktu dia melihat beberapa orang berdiri di depan pintu kamar YoungJae.

"Oh tidak. mereka menjaganya."

Jin bersembunyi, menutup mulutnya. Hatinya berdegup begitu keras. Jin tidak sempat untuk memperdulikan rasa takutnya, begitu ada suara derap langkah yang mendekat, Jin berlari sekencang mungkin. mereka sudah menyadari kehadirannya.

"Mark, aku sangat takut. Dimana kau.."

Jin dengan cepat menuruni tangga, mengambil ke arah pintu kamarnya. Dia hampir menyerah. Dia ingin kembali ke pintu mimpinya. Dia hanya ingin kembali, dia sangat takut. Jin hampir meraih gagang pintunya sewaktu dia mengingat sesuatu.

"Salah orang? Tapi kau sudah dengan jelas menoleh begitu aku memanggilmu"

"Aku menoleh karena memang namaku Mark"

"Lorong kanan setelah pintu asrama barat. Jalan pintas menuju kampus, ada sebuah lorong lagi, kemudian di dekatnya ada sebuah gudang tempat buku-buku yang tidak lagi dipakai.

Di depan gudang itu. aku bertemu dengannya pertama kali di dunia nyata.

Mark di sana. Aku yakin."

JinYoung tidak berfikir dua kali. Dia kembali berlari menuju arah pintu asrama barat. Dia bisa mendengar derap langkah mereka yang mengejar Mark. Mereka berjumlah empat orang. Mereka mengejarnya. Mereka tahu JinYoung akan menyelamatkannya atau juga mungkin mereka menyangka JinYoung adalah Jackson atau YuGyeom.

"Sedikit lagi Jin. Berlari lebih cepat."

BRAK!

JinYoung berlutut, terengah-engah. Hampir saja mereka menemukannya. JinYoung melihat ke sekeliling. Gudang ini sedikit luas dan akan memakan sedikit waktu untuk mencari Mark. Belum lagi kemungkinan kalau JinYoung salah menebak.

"Mark.." panggil JinYoung pelan. sambil terus mencari di lorong-lorong rak buku.

"Mark, ini aku JinYoung"

Sesaat setelah JinYoung berlutut lagi untuk menarik nafasnya dan mulai menyerah. Dia mendengar sebuah rintihan. JinYoung kembali berdiri dan berjalan menuju sumber suara.

"Ya Tuhan! Mark!"

JinYoung menemukan Mark terbaring lemah di ujung gudang, di belakang tumpukan buku usang. Lelaki itu bisa melihat ada darah kering di ujung bibir Mark. JinYoung mengusap kepala Mark perlahan.

"Mark.. bangunlah" JinYoung sedikit mengguncang tubuh Mark agar lelaki itu tersadar. Beberapa saat kemudian Mark mulai membuka matanya.

"Jin..Young.." panggilnya lemah.

"Mark.. kau baik-baik saja?" tanya JinYoung dengan cemas. Mark terlihat mencoba mengulas sebuah senyuman.

"Entahlah.. aku sangat haus"

"Mengapa kau ada di sini? Mengapa tidak kembali?"

"Aku.."

"Kau harus pulang sekarang. biar aku memapahmu"

"Kau mau membawaku kembali ke mimpimu?"

"Untuk sementara hanya itu yang bisa kulakukan."

"Mereka akan melihat kita"

"Aku akan mengalihkan perhatian mereka sebentar"

"Jin..aku.."

"Nanti saja Mark. Aku bahkan belum menyelamatkanmu. Jangan ucapkan terima kasih sekarang"

Mark sedikit terkekeh. "Kalau begitu selamatkan aku"

JinYoung tersenyum dan mengangguk. Sedikit berlari dia meraih pintu gudang lalu keluar. dia berlari ke arah pintu asrama timur, mengambil sebuah batu besar lalu memecahkan jendela salah satu kamar di asrama timur.

Jin berlari kembali ke dalam gudang, menghampiri Mark lalu mulai memapahnya.

"Mark, berjuanglah bersamaku. Kau harus selamat"

Susah payah JinYoung memapah Mark sambil terus mengawasi derap langkah empat orang yang sedang mencari mereka.

Hampir sampai sedikit lagi.

BLAM!

Padang rumput. JinYoung membuka mata dan melihat Mark ada di sampingnya.

"Mark, kau harus bertahan. Alarm-ku akan berbunyi sebentar lagi Mark. Kau harus bangun"

Perlahan Mark mulai membuka matanya, menatap ke arah JinYoung sambil tersenyum simpul. "Kau berhasil Jin"

.

.

PIIIP
PIIIP

Dengan sigap JinYoung tersadar. Lelaki itu bangkit dari tidurnya dan dengan satu gerakan berlari menuju pintu kamar. JaeBum memperhatikan dengan aneh namun dia tidak punya waktu untuk mengomentari JinYoung, lelaki itu sudah dengan cepat berlari ke arah kamar YoungJae

"Kau berhasil Jin! Dia terbangun"

JinYoung menarik nafas lega. Menerima sebuah pelukan dari YoungJae.

"Jin, aku harus pergi sekarang. Jackson dan YuGyeom akan menemani Mark nanti. apa kau ada kuliah hari ini?"

"Kebetulan kuliahku kosong hari ini"

"Kalau begitu temani Mark sebentar untukku"

"Baiklah"

Selepas YoungJae pergi, Jin mendekat ke arah ranjang Mark. Lelaki itu tampak seperti tidur. Mark tengah demam. Jin bisa melihat sebuah handuk yang tengah mengompres kepala Mark.

"Syukurlah kau kembali" gumam Jin pelan dan dia tidak menyangka kalau Mark akan membuka matanya.

"Kupastikan kau langsung berlari ke sini begitu alarm-mu berbunyi. Kau begitu mengkhawatirkan aku?"

"Cih! Jangan membuatku menyesal sudah menolongmu"

"Kau hanya perlu menjawab 'ya' dan tidak perlu merasa rugi setelah mengatakannya"

"Tentu saja aku khawatir. Hampir seminggu kau berada di gudang. Aku cukup merasa bersalah padamu"

"Merasa bersalah?"

"Karena aku sudah mengeluarkanmu dengan kejam dari pintu mimpiku"

"Apa kau merindukan aku di dalam mimpimu?"

"Aish!"

Mark tertawa lebar "Terima kasih Jin"

"Setelah kupikir-pikir, di dunia nyata ini kau tidak seburuk lelaki bajingan yang ada di mimpiku"

Mark tertawa lagi. Mengelus wajah Jinyoung lembut sebelum mendekat dan menghabiskan waktu untuk menyesap bibirnya lembut. Mark hampir melepas ciumannya sewaktu JinYoung membalas.

.

.

.

Unfinished

Oh so, this is the 2nd chapter. How was it?

Hope you enjoy it.

And for my 6 reviewers, thankyou so much for sparing your time to add a comment here.

Im so glad if this story inspired you all.

Last, see ya next chapter.