Chapter 2

-Rahasia Mama Seokjin-

Sejak ada acara ngambeknya Yoongi sama ortunya—terutama sama Mama Seokjin yang lagi hamil dedek baru—acara kumpul keluarga di Minggu pagi sudah jadi sejarah. Yoongi sekarang lebih sibuk sama dirinya sendiri. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi, dia bakal ngunci diri di kamar. Sekalinya keluar cuma buat pup atau pergi main congklak sama si Mino yang gak tahu kenapa jadi sering banget namu ke rumah.

Ayah Namjoon sampai senewen mikirinnya, takut Yoongi hamil di luar nikah.

"Gak mungkin lah, Yah. Jangan overprotektif, ah. Yoongi itu anak baik-baik, bukan cabe-cabean." Seokjin mendekati Namjoon yang sibuk merhatiin anak sulungnya yang udah minggat lagi ke taman sama Mino. "Daripada khawatiran begitu, mending Ayah bantuin Mama mandiin si kembar. Mereka mau ikut Mama belanja ke supermarket habis ini."

"Ngapain mereka ikut?" Namjoon noleh mendadak. "Terus Ayah ditinggal berdua gitu di rumah sama si Hosi? Ih, Ayah gamau. Ayah mau ikut belanja sama Mama."

"Iya, Ayah sama Hosi di rumah. Soalnya nanti kalau Ayah ikut, Hosi pasti maksa ikut juga. Emangnya Ayah mau kalau dia ilang lagi? Hosi kan suka ikut joget-joget kalau liat badut yang mangkal di depan Mekdi. Badutnya jalan ke mana juga dikintilin. Nanti repot nyariinnya kalau udah ilang."

"Haduh. Yaudah, yaudah, Ayah di rumah sama Hosi." Namjoon akhirnya ngalah, apa boleh buat, Ibu Negara sudah bertitah. "Sekarang mana si Chim sama Mphi? Udah di kamar mandi?"

"Bel—"

Baru saja Jin mau jawab pertanyaan Namjoon, si Hosi udah lari-lari dari belakang sambil masang tampang horor. "Mamaaa! Ayaaah! Mphi mau mati! Mphi mau mati! Mphi didorong sama Chim sampai kejungkal terus kepalanya masuk air! Mphi idupnya udah gak lama lagi!"

"Astaga, anakku! Mphi!" Seokjin langsung syok, "Ayah buruan tolongin Mphi! Buruan, Ayah!"

"Mphi!" Namjoon buru-buru masuk kamar mandi dan narik badan anaknya yang udah kebalik kayak jambu monyet. Kepala di dalam bak, tapi kakinya di atas, gerak-gerak terus kayak sirip duyung.

Karena badannya masih boncel, Mphi gak bisa nyelametin diri sendiri dan pasrah aja kalau emang harus sekarat. Mungkin dia emang udah bosan idup gara-gara kemarin ditakut-takutin sama Yoongi, takut dijadiin anak sapi beneran kalau adik bungsu mereka lahir nantinya.

"Mphi, ya ampun kenapa bisa nyungsep begini kamu, Mphiii!" Ayahnya langsung narik Mphi dari posisi kebaliknya. Mama Seokjin langsung repot bawain haduk dan nyiumin Mphi sambil nangis-nangis. Khawatir kalau anaknya yang absurd itu mati beneran.

"Chim."

Ayah langsung mandang Chim—kembaran Mphi itu lagi sibuk shampoan. Dia bener-bener gak peduli kalau tadi Mphi sempet nyungsep dan hampir tewas di dalam bak.

"Chim, Mphi kamu apain sampai kejungkal begini?" Ayah langsung ngadain sidang paripurna detik itu juga. "Chim! Jawab Ayah, Chim!"

"Mphi makan sabunnya Chim!" si kembar yang lebih tua (beberapa menit) itu langsung nunjuk frontal ke muka Mphi yang masih digendong Ayah. "Mphi ngunyah telus nelen sabunnya Chim makanya Chim malah sama Mphi dan cebulin dia!"

"HAH?!" Namjoon sama Seokjin langsung syok. "Mphi! Mphi! Kamu makan sabun, nak!? Mphi! Jawab, Mphi! Kamu nelen sabunnya kakak Chim?!"

Mphi cuma ngangguk sambil ngusep ingusnya yang mulai turun dari hidung. Efek kepala kerendam air jadi langsung pilek.

"Aduh bagaimana ini, Yah?" Mama Jin udah hampir nangis lagi. "Mphi nelen sabun, Yah …"

"Ah!" Ayah Namjoon yang jenius langsung punya ide cemerlang, "Hosi! Hosiii! Ambilin Mphi air, Hosi! Mphi harus minum banyak-banyak biar gak keracunan sabun! Hosiii! Cepetaaan!"

"Siap, Yah!" Hosi ngambil gayung terus nampung air keran banyak-banyak. "Ini, Yah!"

Kalau gak ditampar Mama Jin, Ayah Namjoon pasti udah nyekokin air gayung itu ke mulut Mphi.

"AYAH! MANA ANAK KITA MAU DIKASIH MINUM AIR MENTAH!? BUANG SEKARANG!"

"Eh iya juga ini air mentah," Namjoon baru sadar. Mungkin otak jeniusnya lowbatt kalau lagi kondisi darurat. "Hosi kalau kasih minum adek Mphi jangan pakai gayung begini dong, ah!" Namjoon mulai nyalahin anak keduanya yang sebenernya gak tau apa-apa.

"Kalau gitu Hosi ambilin yang pakai gelas, Yah!"

Hosi lari ke dapur dan ngambil mug kecil punya Mphi. Dia gak ngisi mug itu dengan air galon. Hosi tetep nyalain keran dan menampungnya sampai penuh. Jadi sekalipun udah ganti wadah dari gayung jadi mug, isinya tetep air mentah.

"Ini, Yah!"

Dasar Ayah Namjoon nggak peka, dia langsung minumin air itu ke Mphi sambil komat-kamit gak jelas.

"Gimana, Mphi?" Mama Seokjin nangisnya belum reda. "Pengin muntah gak? Perutnya sakit nggak?"

Mphi gelengin kepala.

"Hosi, tambah lagi airnya!"

"Siap, Yah!"

Hosi ambilin air lagi. Namjoon minumin lagi air itu ke Mphi sampai perutnya kembung.

"Sekarang udah baik?" Mama Jin goyang-goyangin badan kecilnya Mphi. "Kalau Mphi pengin muntah, muntahin aja sekarang, Mphi. Biar keluar semua sabunnya …"

"Mphi nggak pa-pa," Mphi berkata sambil menatap Mama dan Ayah bergantian. "Mphi udah seling makan sabun. Gak cuma sekali ini kok."

Wadefak.

"Udah sering?" Ayah Namjoon berharap pendengarannya salah. "Ngapain Mphi makan sabun? Apa nasi dari Mama gak enak? Mphi, sabun itu bukan makanan manusia … Sabun itu bahaya kalau dimakan, Mphi …"

"Mphi cuma gosok gigi," Mphi membuat pengakuan. "Pasta gigi yang dibeliin Mama suka ilang sendili jadi Mphi gosok gigi pakai sabun. Pas Mphi lasain, sabunnya enak jadi Mphi telen, kan sayang kalau enak tapi nggak dimakan."

Wadefak (2).

"Ilang ke mana?" Kening Namjoon berkerut. "Kok bisa ilang? Bukannya tiap minggu Mama belanja pasta gigi?" Dia mandang istrinya, "Ma?"

"Mama nggak tahu, Yah!" Mama Jin bikin tanda 'peace' pakai telunjuk dan jari tengah. "K-kalau gitu mending Mama habis ini antar Mphi ke dokter, siapa tahu di perutnya masih ada busa sabun, atau mungkin ketelen sama kemasannya … k-kalau beneran masuk lambung bisa bahaya."

Mama buru-buru guyur Chim yang kepalanya penuh busa shampo dan ngangkat kembarannya Mphi itu keluar dari kamar mandi.

"Ayah gantiin Mama pergi belanja selama Mama nganterin Mphi ke dokter, ya? Jangan lupa ajak Chim juga." Mama Jin natap suaminya yang masih mematung curiga sambil menggendong Mphi, kemudian matanya beralih ke Hosi. "Kakak Hosi main ke taman dulu ya selama Mama dan Ayah pergi sama adek-adek? Mau kan?" bujuknya.

"Ke taman?" Hosi masang tampang bingung. "Ngapain Hosi harus ke taman?" tanyanya.

"Di sana ada Bang Yoongi," jawab ayahnya, seketika bersemangat. "Hosi ke sana aja, ya! Di sana Bang Yoongi lagi main congklak sama temennya yang tampangnya kayak playboy itu."

"Jadi intinya Bang Yoongi mau disuruh jagain aku gitu?" Hosi berusaha ngambil kesimpulan. "Tapi Hosi kan udah besar, Yah. Di rumah sendirian juga nggak takut kok!"

"Bukan. Bukan Bang Yoongi yang jagain Hosi, tapi Hosi yang dapat tugas buat jagain Bang Yoongi," mamanya akhirnya menengahi. Ayah Namjoon hanya melempar senyum penuh cinta karena maksudnya telah terwakili. "Gitu kan mau Ayah?"

"Betul, Ma!" Namjoon ngiyain pake semangat 69. "Tolong ya, Hosi harus pastikan kalau Bang Yoongi nggak dipegang-pegang sama Kak Mino. Terus kalau mereka mau duduk deketan, Hosi harus langsung duduk di tengah-tengah mereka biar Bang Yoongi sama Kak Mino gak nempel-nempel. Terus kalau Kak Mino mau nyium-nyium Bang Yoongi, Hosi harus ngedorong Kak Mino sampai nyungsep di comberan, kalau hidungnya ilang lebih bagus. Biar gak ganteng lagi. Biar Bang Yoongi gak kintil lagi sama Kak Mino." Ayah Namjoon ngomong sepanjang itu gak pakai mikir, sampai Mama Jin geleng-geleng kepala dan masang pandangan 'wis lah sakarepmu'.

"Ya sudah kalau gitu Hosi ke taman sekarang, ya," kata Mama Jin, "Mama mau gantiin baju adek Chim dan Mphi …"

"Oke!" Hosi udah lari ke pintu depan saat Chim merosot turun dari dekapan mamanya dan menyusul Hosi. Bocah 4 tahun itu lari-lari limbung nyusulin Hosi. Dia belum pake apa-apa. Cuma pake celana popok. Biarpun tahun depan sudah masuk TK, Chim masih ngompolan.

"Kak Hosi!" panggil Chim. "Kakak!"

"Apa, dek?" Hosi balik badan. "Adek jangan ikut Kak Hosi, adek kan harus ikut Ayah belanja."

"Bukan," Chim gelengin kepala kecilnya. "Chim mau titip pesen buat temennya Bang Yoongi."

Alis Hosi naik, "Titip pesen apa?"

"Pesennya," Chim bersidekap, meniru orang dewasa, "Kak Mino, fak yu."

.

.

.

"Ya baru kali ini orang ganteng disuruh belanja kayak ibu-ibu," Namjoon ngedumel sendiri sambil ngedorong troli belanjaan. Chim sudah duduk dengan tenang di dudukan troli sambil ngedot. Paling bentar lagi ketiduran kalau nggak diajak ngomong.

"Daging sapi 5 kilo. Daging ayam 5 kilo. Daging onta 5 kilo—buset di mana ada daging onta?"

Ayah Namjoon baca daftar belanjaan yang dikasih sama Mama Seokjin. Daftarnya panjang banget udah kayak daftar absen anak sekolahan.

"Deterjen bubuk, ah ini dia. Pempersnya Chim dan Mphi masing-masing yang isi 20, kok nggak ada ya? Oh, aku beliin yang isi sepuluh aja tapi belinya 4 pak. Beres. Terus ini … daun bawang. Lah, emangnya bawang ada daunnya, ya? Bukannya bawang cuma bulet-bulet gitu ya," Maklum Namjoon sama sekali gak ngerti urusan dapur. "Ntar ajalah nanya. Sekarang nyari kecap dan garam"—tanpa sengaja mata Namjoon menemukan jajaran botol kecap asin—"lah, kalau udah ada kecap asin kenapa harus beli kecap dan garam? Dasar Mama kurang cerdas. Sukanya yang ribet-ribet. Yaudah aku ambil aja kecap asin lah. Lebih praktis dan irit. Iya kan, Chim?"

Krik. Krik.

"Chim?"

Krik. Krik. Krik.

"Yah, nih bocah kenapa molor beneran sih?"

Akhirnya, Namjoon terpaksa manyun sendiri nerusin belanja karena Chim udah ketiduran dalam posisi duduk di troli.

"Sekarang cari pasta gigi …" Kening Namjoon berkerut. "Hah, 30 bungkus pasta gigi buat apaan?"

Sebenarnya gak masuk akal, kecuali kalau Seokjin mau buka toko kelontong di rumah. Tapi, ya sudah lah ya, biar pun aneh, tetap saja Namjoon berbaik hati membelikan pasta gigi sesuai pesanan Seokjin. Mungkin istrinya kelewat trauma karena tadi Mphi makan sabun gara-gara kehabisan pasta gigi.

"Selamat siang, ada yang bisa dibanting?"

Ini siapa lagi pramuniaga kok kurang ajar banget.

"Eh, Mas jangan songong ya," Namjoon langsung kesel. "Jangan mentang-mentang mirip G-Dragon BigBang terus Mas bisa ngomong sembarangan sama pelanggan."

"Ah saya bukan G-Dragon," si Mas tertawa, gatau kenapa dia imut banget. Imut-imut sangar. "Banyak sih yang bilang saya mirip dia, tapi saya bukan dia. Kenalin nama saya Jiyong," si Mas lalu natap Chim yang lagi tidur.

"Aduh, lucunya. Ini anaknya apa cucunya?"

"E, kurang ajar emangnya muka saya setua itu ya," Namjoon masih kesel, tapi mendadak keinget sesuatu. "Eh, Mas Jiyong bukannya yang suka selfie-selfie sama istri saya ya? Mas Jiyong yang suka poto berdua sama Seokjin kan? Yang menuhin galeri hapenya pake foto-foto monyong kayak ikan cupang? Wah pantes Seokjin setiap Minggu pagi pasti ke sini dan gak mau ke supermarket lain, Mas Jiyong kan yang suka godain istri saya?"

"Seokjin? Kim Seokjin?" Mas Jiyong nginget-inget. "Lho, emangnya Kim Seokjin udah punya suami? Kim Seokjin kan masih single. Ngakunya sama saya belum ada yang punya."

"HAAAH!? APPPWHHHAAA!?"

Seketika petir menggelegar di latar belakang Namjoon, ditambah dengan siluet Yoongi yang memperbanyak diri dengan jurus 1000 bayangan, sambil ngerap lagunya Kangen Band "Antara Aku, Kau dan Dia".

Pokoknya sendu.

"S-saya nggak nyangka Seokjin tega nggak ngakuin saya," Namjoon mulai ngelap ingus yang menetes. "Padahal dulu saya bela-belain ngelamar dia di Namsan Tower …"

Mas Jiyong terpana, "Di puncaknya?"

"Bukan. Di tempat parkirnya."

"Oh, kirain."

"Kami udah punya empat anak dan mau tambah satu, kurang jantan apa saya? Anak kami yang pertama udah SMP, yang kedua udah SD, yang ketiga dan keempat kembar … ini yang satu dia ini, yang lagi molor. Calon anak kelima kami masih otw lahir delapan bulan lagi … Sekarang masa iya saya mau ditinggal selingkuh? Udah ngebela-belain berjalan dari Timur ke Barat …"

"Pasti Mas pengembara, ya?"

"Bukan, itu cerita film Kera Sakti."

"Oh …" Jiyong jawsdrop. "Kirain."

"Intinya Mas Jiyong jangan berani-berani deketin istri saya lagi. Dia lagi hamil dan saya nggak mau dia kenapa-kenapa."

"Memangnya Mas yakin kalau nanti anak kelimanya lahir nggak mirip saya?"

JDHUEEEERRRR!

Namjoon berasa langsung kena samber gledek.

"A-apa? I-itukan anak s-saya b-bukan anaknya situ!"

"Emangnya yakin saya bukan pacar rahasianya Seokjin?"

JDHUEEEERRRR! (2)

"Y-yakinlah! Istri saya gak mungkin selingkuh!"

"Ya namanya selingkuh masa bilang, Mas. Pasti dirahasiakan."

JDHUEEEERRRR! (69)

Saking kerasnya ada efek samber gledek, Chim sampai terbangun dan ngucek-ucek mata.

"Mama, tete~"

Sebenernya itu cuma refleksnya Chim aja, spontanitas yang udah terekam di alam bawah sadar. Nggak sampai setengah menit, dia udah mulai sadar kalau dia lagi di supermarket sama ayahnya. Mamanya lagi nganterin Mphi ke dokter gara-gara insiden nelen sabun.

"Ayah?"

Chim manggil. Pertama ngelihat Namjoon, lalu ngelihat Jiyong yang senyum manis banget.

Chim hanya kedip-kedip nggak ngerti.

"Chim," ayahnya langsung manggil. "Ayah sama Mas Jiyong gantengan mana?" Dia nunjuk Jiyong. Minta diberi pengakuan sama anaknya. "Chim, jawab, Chim."

"Ayah lebih ganteng," jawaban Chim langsung membuat Namjoon berbunga-bunga.

" … tapi boong."

.

.

.

"Ayah dan Chim pulang!"

"Selamat datang." Mama Seokjin tersenyum lebar, "Ayo makan siang."

Mphi yang disuapi oleh mamanya langsung ndusel ke leher Jin saat melihat Chim. Trauma diceburin. Hosi yang sudah pulang dari taman dan berhasil menyeret Yoongi untuk ikut pulang juga, makan sambil main robot. Nasinya berserakan ke mana-mana.

"Gimana kata dokter?" Namjoon meletakkan belanjaan dan melepas sepatunya. "Apa Mphi ada gangguan kesehatan gara-gara nelen sabun?"

"Nggak, Mphi baik-baik saja. Perutnya ajaib. Kayak alien. Kalian sendiri gimana? Acara belanjanya sukses?" Seokjin bertanya, mendudukkan Chim di sampingnya. Mphi langsung pucat pasi.

"Chim sayang tadi sudah minum susu?" tanya Mama Jin.

"Sudah," Chim mengangguk. "Mama, tadi Chim ketemu Mas ganteng di supelmalket, lho."

"Mas ganteng?" mata Jin melebar. "Siapa?"

"Yang tampangnya mirip G-Dragon tuh," Namjoon berkata dengan asemnya, "Si Jiyong."

"Oh," Jin hanya mengerling cantik, "cemburu sama Jiyong?"

Namjoon mencibir. Sekali-sekali tsundere. "Siapa juga. Males."

"Bukan Ayah yang cembulu. Mphi yang cembulu kalau punya adik balu." Mphi nyamber tiba-tiba. Bocah itu males banget duduk deketan Chim, langsung pindah dari pangkuan mamanya ke pelukan Yoongi. Tumben-tumbenan Yoongi mau diuselin dan nggak ngelempar Mphi ke tempat sampah. Biasanya dia alergi banget kalau diduselin si alien.

"Memangnya kenapa sih kalau punya adik baru?" Ayah Namjoon bertanya, "Kan enak. Rame."

"Pokoknya Mphi gak suka." Mphi bersikeras. Namjoon curiga racunnya Yoongi udah berhasil mengambil alih otak minimalis Mphi. "Mphi tetep mau jadi yang paling kecil. Paling disayang."

"Siapa juga yang sayang sama kamu." Chim langsung nyamber. "Chim sayangnya sama abang."

Hosi langsung berbinar. "Sama aku? Makasih!"

"Bukan," Chim menggeleng, "sama Abang Yoongi."

Mphi manyun. Dia memeluk Yoongi lebih erat. "Pokoknya Mphi gak mau punya adek. Mphi nggak mau punya adek jelek, telus ngompolan, telus nakal, telus suka gangguin Mphi. Mphi gak mau tete-nya Mama dikasih sama adek. Mphi mau nyingkilin adek kalau udah lahil."

"Nyingkirin?" Namjoon gak ngerti lagi darimana Mphi belajar kosakata kayak gitu. Oh, mungkin ajaran Yoongi. "Nyingkirin gimana?"

"Adek mau Mphi usil pakai sapu."

Namjoon dan Seokjin berpandangan.

"Memangnya adek kecoa?" Hosi menimpali. Dia yang paling waras kalau masalah adek baru.

"Adek nggak bisa diusir pakai sapu," Seokjin pening betulan. "Adek kan manusia."

"Kalau begitu Mphi pakai cala lain!"

"Gimana?"

"Dibunuh."

Jleb.

"A-apa?"

"Dimutilasi."

Anjir. Seokjin mulai merinding. Jangan-jangan Mphi ini diam-diam punya bakat psiko. Bukankah kejadian nyata bahwa dia makan sabun dan gak kenapa-kenapa udah jadi bukti yang kuat untuk mempertanyakan kodrat kemanusiaan Mphi?

Jangan-jangan dia beneran alien.

"M-Mama harus ke kamar mandi dulu. Mphi dan Chim disuapi Ayah, ya."

Kayaknya Jin beneran merinding gara-gara otak absurd-nya Mphi. Namjoon mengambil alih piring dan langsung menyuapi si kembar sambil mikir.

Bagaimana jadinya kalau Mphi beneran ngebunuh adek barunya? Gimana kalau adeknya nanti disuapin sabun sama Mphi? Gimana kalau adeknya digelindingin ke tambak lele dan ditenggelemin sampai mati? Gimana kalau adeknya dimutilasi pakai pisau dapur dan potongan tubuhnya disebar serentak di 32 provinsi?

Namjoon kelamaan mikir sampai gak sadar kalau Jin udah lama banget di kamar mandinya.

"Ma?"

Namjoon mengoper tugas nyuapin Chim dan Mphi pada Hosi. Ia bangkit berdiri.

"Ma?"

Karena nggak ada jawaban, Namjoon mendorong pelan pintu kamar mandi dan menemukan pemandangan yang sama absurd-nya dengan kenyataan Mphi ketahuan nelen sabun.

"Mama?"

Like mother, like son.

Seokjin berdiri ngadep kaca, lagi ngemil pasta gigi dengan nikmatnya.

Namjoon lemes, "Mama …"

Pantesan pasta giginya anak-anak habis semua.

"Ma?"

Awalnya nggak denger. Setelah ngabisin hampir setengah bungkus pasta gigi baru, Jin baru sadar kalau ada Namjoon yang lagi ngintipin dia dari balik pintu.

Si Mama langsung kaget.

"Eh? A-Ayah!" Jin langsung kelabakan nyembunyiin pasta gigi 160 gram yang tinggal separo. "K-kenapa Ayah di sini?" Salting parah.

"Ayah cuma ngelihatin Mama, kok. Kayaknya nyemilnya enak banget."

Namjoon memaksakan senyum sekalipun diam-diam mengutuk diri, dosa apa yang kuperbuat hingga kau turunkan keanehan separah ini pada keluarga hamba, ya Tuhan?

"Enak ya Ma makan begituan?" Namjoon bertanya lesu, "Mama ngidam makan pasta gigi? Pengin banget, ya?"

"I-iya, Yah." Seokjin menjawab malu-malu. "M-maaf ya, Yah. Mama selalu makanin pasta giginya Ayah dan anak-anak … I-ini bawaan bayi, Yah. Mama sendiri j-juga nggak ingin makan pasta gigi. T-tapi kalau gak diturutin, takut bayi kita ngiler …"

"Nggak papa, kok, Ma. Cuma pasta gigi ini … Kalau Mama ngidam makan deterjen baru Ayah jantungan."

Jin terpana, "Eh, beneran nggak papa?"

"Nggak papa, kok. Ya, semoga aja biar pun Mama ngidamnya nyamilin pasta gigi, anak kita nanti giginya gak besar-besar kayak kelinci ya kalau sudah lahir …"

"Hehe," Seokjin nyengir cantik, "sebenarnya sih Mama mulai bosen nyamilin pasta gigi. Mungkin sebenernya nyidamnya Mama mulai ganti, Yah. Tapi Mama gak berani bilang …"

"Bilang aja, Ma." Namjoon langsung memegang tangan Jin, "Mau apa? KFC? AW? Mekdi? Hokben? Solaria? Warteg?"

"Um …"

"Apa, Ma? Bilang sama Ayah. Semua bakal Ayah iyain. Asal jangan minta si Jiyong aja …"

"Um," Jin malu-malu, "janji nih bakal diiyain?"

"Janji!"

"Mama ngidam mau makan itu …"

Namjoon tak sabar, "Apa?"

"Itu …"

"Itu apa, Ma?"

"Boleh nggak Yah kalau Mama makan deterjen?"

Deg.

Namjoon langsung jantungan.

CUT