Title: My Dream

By: kaisooxoxo

Cast: Kyungsoo, Kai, Chanyeol, Luhan

Rated: T

Disclaimer: Cerita ini asli pemikiranku. Aku yakin tidak akan ada orang yang akan plagiat cerita membosankanku ini...

Warning: Yaoi, BL, BxB, Typo, Crackpair (mungkin), Alur yang berantakan.

Note: Kalian... Aku tahu sih kalian pasti membayangkan cerita yang gempak-gempak begitu tapi aku cuba semampuku ya kerana aku takut mengecewakan kalian. Kaliankan semangatku... Hahaha... untuk chap ini, aku harap kalian gak bosan aja bacanya.

Last ENJOY!!!

Disaat kamu merasa Tuhan sangat menyayangimu, disitu kamu salah besar. Disaat kamu merasa sangat sempurna, disitu seseorang mencari kelemahanmu. Disaat kamu merasakan kebahagiaan, disitu Tuhan memberi kamu kesakitan. Disaat kamu bangga dengan segala kejayaan yang kamu punya, disitu ada manusia yang akan merosakkannya. Semuanya tidak seperti yang kamu harapkan kerana kita hanya bisa merancang selebihnya hanya Tuhan dan waktu yang menentukannya.

Seperti saat ini, aku hanya diam membisu saat aku merasa hyung tidak menginginkanku, malah aku yakin Tuhan sekalipun tidak menerima kehadiranku didunia kejam ini. Tidak terhitung berapa puluh kali cecair bening keluar dari mata bulatku ini sampaikan aku merasa air mataku sudah kering.

Flashback on

"Hyung... hiks jangan tinggalkan aku." Kyungsoo menatap pilu hyungnya yang akan beranjak pergi meninggalkannya.

"Maafkan hyung, Soo tapi hyung harus pergi. Suatu saat nanti, kau akan mengerti kenapa hyung melakukan semua ini." Pria yang dipanggil hyung itu menarik pegangan Kyungsoo pada tangannya dan beranjak meninggalkan Kyungsoo keseorangan.

"HYUNG! TIDAK, KAU TIDAK BISA MENINGGALKANKU BEGINI! HYUNG! HIKS... TIDAK! HYUNG, AKU BERSUMPAH KALAU KAU MENINGGALKANKU, AKU TIDAK AKAN PERNAH HIKS... HYUNG! HIKS~ JANGAN HYUNG!" Kyungsoo berteriak histeria. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya sudah merembes sedari tadi. Menatap iba punggung hyungnya yang tidak menghirau satupun perkataannya dan terus melangkah pergi.

"Aku bersumpah hyung, kau tidak akan pernah hidup dengan gembira kerana meninggalkanku. Aku akan pastikan hiks... Aku akan melihat kau tersiksa hanya keranaku hyung. Hanya kerana ku..." Kyungsoo bergumam sendirian dengan penuh kebencian.

Flashback off

Kejadian sepuluh tahun yang lalu masih melekat di dalam ingatannya dan Kyungsoo bisa melakonkan semula setiap scene disitu. Setiap ayat yang terlontar olehnya dan hyungnya saat itu dia bisa mengucapkan semuanya tanpa tertinggal satupun perkataan. Kalau bertanya untuk apa saat ini Kyungsoo masih tetap hidup, hanya satu alasannya. Dendamnya kepada hyungnya sendiri. Menghancurkan hidup hyungnya. Dia tidak peduli walau hidup yang sedang dihancurkan olehnya itu hidup hyungnya sendiri. Dia tidak peduli.

"Kyungsoo... kau mendengarkan apa yang aku bicarakan?!" Kyungsoo mendongak dan memandang datar songsaengnim tua itu.

Bisa dibilang songsaengnim cukup beruntung kerana Kyungsoo masih betah di kelasnya kerana ada ketika sosok Kyungsoo tidak kelihatan langsung di kelas. Menghilangkan diri kemana entah dan mengabsenkan diri tanpa alasan. Dan dia masih tidak peduli hukuman apa yang dia akan dapat nanti. Toh itu pun kalau dia masih mau menjalankan hukuman itu.

Sret... Kyungsoo berdiri, menendang mejanya sebelum beranjak meninggalkan kelas yang sangat membosankan baginya. Melangkahkan kaki mugilnya ke salah sebuah gudang kecil. Mendobrak pintu gudang kasar sebelum melemparkan tubuh mugilnya di sofa. Gudang kecil yang sepatutnya klub muzik gunakan terpaksa dipindahkan ketempat lain hanya kerana pria yang bernama Kyungsoo. Kadang orang tidak habis pikir kenapa namja imut nan cantik seperti Kyungsoo bisa menjadi sangat menyeramkan.

"Harrrggghhh!!!!" Kyungsoo berteriak tapi terdengar sangat menyedihkan. Dia tidak peduli ada orang akan mendengar teriakan pilunya. Dia membencinya. Orang melihatnya sebagai pria yang sangat menyeramkan dan menakutkan tapi tidak bagi dirinya sendiri. Dia melihat dirinya sebagai seorang yang sangat menyedihkan layaknya mayat hidup.

Seperti biasa, dia akan memeluk tubuhnya dan menekuk wajahnya diantara lututnya. Menangisi dirinya yang sangat brengsek. Setiap hari, dia pasti akan menangis. Kau bisa bertanya padanya apa dia pernah tersenyum tulus maka jawapannya adalah tidak pernah semenjak kejadian itu. Dia juga sudah lupa gimana caranya mahu tersenyum.

"Kyung~" Seseorang pria mengusap pelan pundak Kyungsoo menyadarkannya dari tidur.

"Ughh..." Kyungsoo tersentak dari tidurnya dan menatap pria dihadapannya nyalang.

"Bangun. Ini sudah sore. Kau harus pulang." Pria itu masih mengucapnya lembut.

"Jangan sok-sok perhatian padaku, sialan! Aku tidak butuh perhatian kau. Bukan aku pernah bilang, haram untukmu menginjakkan kaki ke sini!" Kyungsoo bangkit menyentap tas ranselnya dan langsung melangkahkan kaki pergi.

Grep...

"Duduklah dulu. Ada yang aku mau tanya." Pria itu menahan pergelangan tangan Kyungsoo dan menuntunnya untuk duduk disampingnya.

Jangan perlakukanku dengan baik. Tidak, aku tidak butuhkan rasa kasihan kau. Lepaskan tanganku. Kau tidak layak memperlakukan ku dengan lembut. Aku membencimu...

"Kyungsoo..." Pria itu memanggil Kyungsoo lembut.

Kyungsoo hanya menatap datar pria itu. Dia tidak sadar kapan dia sudah mendudukkan dirinya di samping pria itu.

"Jangan buang-buang waktuku brengsek!" Kyungsoo membentak pria itu tapi dia terlihat sudah terbiasa dengan perlakuan Kyungsoo.

"Kau tahu... aku paling suka saat melihat dirimu lagi marah. Kau terlihat sangat imut." Pria itu mengucapkannya tulus.

"Enyahlah dari hidupku, SIALAN!" Kyungsoo muak lagi-lagi pria yang sama menganggu hidupnya.

Pria itu menghembus nafas pelan sebelum mengalah. "Baiklah, aku akan hantar kau pulang."

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Kyungsoo sudah bangkit dan langsung bergegas keluar dari gudang kecil itu. Tapi pria itu, dia masih membuntuti Kyungsoo dan memerhati pria itu ke halte bus sampailah Kyungsoo lenyap dari pandangan. Menghela nafasnya pelan sebelum bergegas pergi.

"Chanyeol, kemana saja kau?" Suara parau dari sang kakak menghentikan langkahnya. Dia sangat berharap tidak dilihat oleh kakaknya tapi tuhan tidak menyebelahinya.

"Urmm, aku punya kelas tambahan." Chanyeol bercakap asal tanpa berniat melihat hyungnya.

"Aku sedang bicara denganmu, Chan. Jangan kurang ajar."

"Hyung maaf, aku capek." Chanyeol berucap lirih. Menatap hyungnya sebentar sebelum kembali mengalihkannya.

"Kau tidak membohongiku kan?!" Hyungnya bergerak mendekat kearah Chanyeol dan menatap lekat Chanyeol.

"Hyung~~" Chanyeol merengek manja. Apa pantas laki setampan dan sekeren Chanyeol merengek seperti itu. Aishh, aku tidak bisa bayangkan.

"Yah! Kau merengek?! Sudah, pergi..." Hyungnya paling tidak suka Chanyeol merengek kerana baginya Chanyeol tidak pantas untuk merengek sebegitu.

Chanyeol terkekeh sebelum beranjak meninggalkan hyungnya. Baginya, rengekan yang dibuatnya adalah kelemahan hyungnya. Dan dia suka melakukan itu kalau hyungnya selalu ingin bertanya lebih.

Kyungsoo menyandarkan punggungnya di bangku dekat taman sambil memerhati gelagat anak kecil yang berkejaran. Dia hanya menatap datar tidak tersirat keterujaan saat melihat mereka.

Seketika tubuhnya menegang. Dia benci mengingat bahawa dia tidak pernah merasai tawaan seperti anak-anak kecil itu. Yang pernah dirasa olehnya hanya keterlukaannya. Sepuluh tahun sejak kejadian itu berlalu tapi dia masih dapat merasai kesakitannya sehingga saat ini.

"Kyung~" Chanyeol menepuk pundak Kyungsoo saat menyedari pria itu melamun.

Kyungsoo sedikit tersentak dan menolehkan kepalanya melihat pelakunya dan menghela nafas berat.

"Sialan, berhenti menganggu hidupku. Kau tidak tahu betapa aku membencimu." Kyungsoo langsung bangkit dan Chanyeol tidak menanggapi ucapan Kyungsoo dan ikut mengikuti Kyungsoo.

Chanyeol memeluk pundak Kyungsoo dan mengeratkan pelukannya sebelum berkata "Aku yakin kau akan menerimaku suatu saat nanti. Aku cuma perlu sentiasa mendekati kau. Gampang, namja seimut dirimu pasti akan jatuh cinta pada namja tampan sepertiku. Aku- hmpptt... "

Kyungsoo menempelkan bibirnya dibibir Chanyeol menghentikan omongan kosong pria menjengkelkan seperti Chanyeol. Chanyeol langsung membelalakkan matanya tidak menyangka Kyungsoo akan berbuat sedemikian tapi langsung mengambil alih ciuman itu.

Kyungsoo berniat untuk melepaskan ciuman sialan itu tapi tangan Chanyeol yang memegang tengkuknya dan semakin memperdalamkan ciuman mereka."

"Hmmmpt... hmpttt... Uggh...!" Kyungsoo mencuba mendorong dada bidang Chanyeol yang semakin mendekat. Sial, dia salah mengambil jalan ini untuk mendiamkan pria itu.

CUP...

"Aaaah... aaahhh..." Kyungsoo mengatur nafasnya yang tiba-tiba memberat. Yah! Brengsek kau Chanyeol, dia itu manusia butuh oksigen. Kalau saja Kyungsoo mati...

BUGH...

Kyungsoo menumbuk telak wajah tampan Chanyeol yang sangat diagung-agungnya. Benar-benar menumbuk dan Chanyeol yang tidak bersedia, langsung tersungkur ke tanah.

"Kau. Pria. Sialan. Kedua. Yang. Aku. Temui. Didunia. Ini." Kyungsoo kembali menendang perut datar Chanyeol yang masih dalam posisi tersungkur.

Beberapa tendangan sebelum Kyungsoo meninggalkan Chanyeol yang masih mengaduh sakit di perutnya.

"Luhannie~ aku mau kau sentiasa menemani Kyungsoo."

"Ye sayang. Aku tau tugasku. Kau jangan khawatir kerana aku juga sangat menyayanginya seperti aku menyayangimu Kai-ah." Luhan membalas sambil matanya masih menatap tv.

"Hei, jangan mengambil mudah hal ini sayang. Kyungsoo tidak seperti yang kau bayangkan." Kai sedikit cemberut melihat Luhan yang hanya menjawab asal ucapannya.

"Aku tau, Kai." Kali ini Luhan menatap tepat Kai. Dia malas kalau Kai kembali mengomelinya. Bermula dari nol sampai semuanya akan dia ceritakan tentang Kyungsoo. Kadang dia aneh, apa di otak idiot Kai hanya penuh dengan yang nama Kyungsoo?

"Gomawo chagiya~" Kai tersengih sebelum mengecup pipi Luhan.

"Kyungsoo datang keruanganku sekarang." Songsaengnim mengarahkan Kyungsoo ke ruangannya.

"Untuk?!" Kyungsoo bertanya dingin belum tentu dia akan mengikut arahan songsaengnim tua ini.

"Cukup sekadar kau ikut ke ruangan ku dan setelah itu kau akan tahu sendiri." Songsaengnim itu masih terlihat tenang.

Usai sampai di ruangannya, Kyungsoo dengan selamba mendudukkan dirinya disofa dan meletakkan kakinya di meja kecil depannya.

"Wah, ternyata kau kurang sopan sekali!"

DEG...

Kyungsoo tidak mahu menoleh. Tidak, bukan saat yang tepat.

"KYUNGSOO! JANGAN BIADAP!"

Tubuhnya benar-benar menegang saat ini. Teriakan itu, tidak suara itu, dia mengetap rahangnya keras tapi tidak matanya. Air matanya menakung dikantung matanya siap untuk menumpah.

"Songseangnim, tinggalkan aku dengannya sebentar." Setelah peninggalannya, ruang kembali sepi. Kyungsoo masih mematung. Mengetap kuat rahangnya dan menutup matanya pelan. Bulir-bulir kecil yang menakung di matanya mengalir pelan menuruni pipinya.

"Kyungsoo, aku tidak mengajar kau kurang ajar begini! Sebaiknya turunkan kakimu dan duduk dengan sopan." Kai mencuba bersikap lembut dengan Kyungsoo. Mungkin dengan cara ini, sikapnya akan sedikit membaik.

Kyungsoo tersenyum miris. Kau yang mengajarku untuk menjadi seperti ini Kai. Kau yang membuatku jadi begini Kai. Kau yang mengubahku jadi begini Kai. Kau... kau yang merosakkan segalanya. Sadarlah brengsek!

"Kyungsoo!" Kai mula menaikkan nada bicaranya saat Kyungsoo masih tidak mengubah cara duduknya.

"Untuk apa kau datang kesini, brengsek?!" Kyungsoo bertanya datar tapi terkesan kasar.

"Brengsek? Kau benar-benar tidak siuman Kyungsoo. Apa aku meninggalkanmu sekejap ini dan kau langsung berubah menjadi setan?" Nadanya terlihat kecewa.

Sekejap?

S.E.K.E.J.AP? Sepuluh tahun sekejap? Kau memang hyung sialan.

"Aku setan dan kau kakak setan. Oh, maaf aku tidak pantas dan tidak akan pernah mau menjadi adikmu, Kai." Kyungsoo menyeka air matanya kasar. Dia benci cengeng.

Kai tidak tahu kenapa terlintas di pikirannya untuk melawat adiknya di sekolah. Dia mendapat banyak info dari Luhan, Kyungsoo benar-benar bermasalah.

Sret... Kyungsoo meletakkan kakinya ke lantai dan menendang kasar meja itu sehingga terbalik sebelum melenggangkan kakinya keluar dari ruangan itu. Kai melotot tidak percaya dengan perlakuan Kyungsoo barusan. Kyungsoonya, telah berubah. Adik kecil nan imutnya benar-benar berubah.

"Maafkan aku, Kyungsoo~ Pasti kau sangat membenciku." Gumam Kai sebelum ikut meninggalkan ruangan itu.

Saat kakinya ingin menuruni anak tangga, dia melihat Kyungsoo bersama seorang pria tinggi.

'Chanyeol? Apa dia kenal Kyungsoo?' Kai mengernyit heran saat Chanyeol terlihat bersemangat mengikuti Kyungsoo walaupun pada dasarnya dia tidak melihat dengan jelas seperti apa raut wajah Kyungsoo kerana membelakanginya.

"Aku akan tanya langsung padanya saat dia pulang nanti." Kai kembali menyambung langkahnya yang sempat terhenti.

"Aku tidak tahu apa masalahmu tapi aku berharap kau mati secepatnya! Berhenti mengangguku brengsek..." Kyungsoo sudah berniat untuk melayang tumbukan telak ke arah Chanyeol kalau saja dia tidak melihat kelibat Luhan di situ.

"Lulu~" Kyungsoo berlari kecil ke arah Luhan. Chanyeol mengernyit heran melihat tingkah Kyungsoo yang berubah imut kalau ini bersangkutan dengan Luhan.

"Ya, Kyungsoo." Luhan cuba untuk tersenyum. Walaupun mereka dalam tingkat yang sama, Luhan tidak lah terlampau rapat dengan pria bernama Kyungsoo. Kerana pacarnya, Kai dia terpaksa melayan pria ini.

"Luhanie~ temankan aku ke kantin. Pria ini mengangguku terus. Aku risih sekali." Kyungsoo memelas pada Luhan. Dia sudah menanggapi hal ini sejak dia tidak sengaja tetabrak pria imut ini. Aigoo, Luhan jadi menyesal telah tetabraknya.

"Urmm, a-aku..." Luhan ingin menolak tapi mengingat Kyungsoo sangat dingin terhadap orang lain kecuali dirinya membuat dia sedikit merasa kasihan. Ditambah lagi dengan cerita dari Kai membuatnya dia ikhlas ingin sentiasa disisi Kyungsoo.

"Baiklah. Aku hanya aka-" Kyungsoo,langsung menarik lengan Luhan. Luhan yang mendapat tarikan dari Kyungsoo hanya menggeleng.

Usai sampai ke kantin, Kyungsoo dan Luhan mendudukkan dirinya secara bersebelahan. Luhan hanya memerhati Kyungsoo yang sedang asyik makan. Kadang, dia sangat mengagumi pria imut ini kerana masih bertahan hidup walaupun tanpa siapa-siapa.

"Luhan, terima kasih~" Kyungsoo mengucapnya tulus. Niat awalnya mendekati Luhan adalah untuk menghancurkan hidup Kai tapi dia sedikit ciut melihat bertapa sayangnya Kai kepada Luhan. Tapi, dendam mengaburinya.

Keadaan hening seketika. Luhan menelan ludahnya payah saat tanpa sadar matanya dari tadi memerhati gerak-geri Kyungsoo yang terlihat sangat imut. Saat mata Kyungsoo tiba-tiba memandangnya, jantung berdetak tak keruan. Dia tidak pasti kenapa dia merasakan itu dan dia rasa perasaan ini salah. Dia masih punya Kai dan dia menyayangi Kai. Ya, dia masih menyayangi Kai. Menolehkan kepalanya kesamping untuk mematikan pandangan itu.

"Lulu~ aku mau ceritakan sesuatu." Ucap Kyungsoo dengan nada memelasnya.

"Uh~ apa Kyungsoo-ah?" Luhan benar-benar akan menguburkan dirinya kalau dia jatuh cinta pada Kyungsoo. Tidak, Kyungsoo itu adik kepada pacarnya dan tidak mungkin dia selingkuh. Tapi, wajahnya benar-benar membuatnya cair.

"Kau tahu aku punya seorang hyungkan? Aku sangat menyayanginya. Sangat menyayanginya sampai suatu saat dia meninggalkan ku. Aku tidak tahu kenapa dia meninggalkan ku. Aku hiks... kenapa? Kenapa hyungku meninggalkan ku? Hiks..." Kyungsoo mengucapnya pelan sambil terisak. Setiap kali dia mengingatnya, dia pasti akan menangis tapi kemudian dia akan membencinya.

"Kenapa?! Aku hiks... sangat mencintainya. Apa kerana seorang pria sialan dia sanggup meninggalkan aku sebagai adiknya?! Hiks, aku membencinya,Lu..." Kyungsoo menumpahkan semuanya. Dia membentak Luhan disampingnya. Luhan sedikit tersentak dan hatinya nyeri saat Kyungsoo berkata 'pria sialan yang membuatkan dia meninggalkan Kyungsoo.'

"Aku akan membunuh pria yang merampas hyungku. Kemudian hiks... aku akan- hmpptt..."

Luhan mencium bibir Kyungsoo menghentikan ucapan Kyungsoo. Kalau Kyungsoo tahu, Luhanlah pria yang telah membuat hyungnya meninggalkannya, Kyungsoo pasti akan sangat membencinya. Dan Luhan tahu Kyungsoo sangat mencintai hyungnya.

"Kau tidak bisa bicara seperti ini Kyungsoo. Mungkin dia punya alasan yang lebih kukuh kenapa dia harus meninggalkanmu." Luhan mengelap pelan kesan liur dibibir Kyungsoo dengan jemarinya.

'Huh, kau membela diri, Lu. Aku tidak peduli apa alasannya sialan! Kai harus merasa kehilangan orang yang disayangi.'

"Maaf aku membentakmu. Aku cuma merasa sedih kerana dia meninggalkan ku sendirian." Kyungsoo menunduk.

"Gwenchana. Kau bisa mengeluarkannya padaku. Aku senang kerana Kyungsoo yang menyeramkan bisa menjadi saangat rapuh bagini. Maaf." Luhan mengusap pelan pundak Kyungsoo menenangkannya.

Kyungsoo meneguk ludahnya. Kenapa Luhan baik sekali padanya? Tidak, aku tidak bisa menyerah begini. Dan untuk apa kau meminta maaf sialan? Apa kau terasa dengan ucapanku? Kau merasa aku mengatai diri kau?

"Kajja. Bel sudah berbunyi. Aku akan menghantarkanmu sampai ke kelas ya." Luhan mengenggam jemari Kyungsoo dan menuntunnya ke kelas. Sebelum menapak ke dalam kelas, Kyungsoo mengelap sisa air matanya yang masih menempel di pipi gembulnya.

"Chanyeol..."

SHIT!

"Ya hyung. Ada apa lagi?!" Chanyeol sedikit membentak. Sebal dengan hyungnya.

"Hei, aku baru memanggilmu sekali tapi kau membentakku seperti aku sudah memanggilmu puluhan kali. Dasar adik menyebalkan."

Chanyeol memutar matanya malas. Semakin dia membentak Kai, semakin lambat dia bisa naik ke atas dan membaringkan tubuh lelahnya di ranjang.

"Apa kau kenal Kyungsoo?" Kai memandang lekat wajah Chanyeol.

"Kyungsoo? Hahaha, namja menyebalkan yang mengataiku brengsek dan menumbuk wajah tampanku. Aishh, dan dia menendang perut abs ku. Untung dia itu namja mugil kalau tidak sudah aku hajar dia secukupnya." Chanyeol menutur dengan panjang lebar tanpa jeda. Raut wajahnya tidak menampakkan yang dia membenci pria itu tapi terlihat sangat menyukainya.

"Aku bertanya empat patah saja Chan dan kau malah menjawabnya panjang sekali dengan senyuman! Aneh..."

"Kau tahu hyung, dia itu menyebalkan tapi aku suka. Dan aku tahu dia tidaklah seteruk yang hyung pikirkan." Chanyeol kembali menyambung.

"Aigoo... Chan, sudah. Aku hanya tanya apa kau kenal Kyungsoo. Makanya yang harus kau jawab iya atau tidak. Itu saja, Chan. Selebihnya aku tidak mau tahu." Kai menyindir Chanyeol.

"Kenal. Dan dia bakal pacarku. Aku akan membuatnya menjadi milikku, hyung. Hehehe..." Chanyeol terkekeh sebentar sebelum mendapat tatapan aneh dari Kai.

"Apa dia akan menerimamu sebagai pacarnya? Jangan terlalu percaya diri Chan."

"Ceh, aku akan mendapatkannya, hyung. Tunggu saja. Da, aku naik dulu~" Chanyeol menepuk pundak Kai sebelum beranjak meninggalkan Kai yang masih mematung.

'Apa Kyungsoo benaran akan menerima pria menyebalkan seperti Chanyeol? Kalau itu terjadi, maka kiamatlah dunia ini.' Kai menggeleng kepalanya.

"Kyungsoo~" Chanyeol menyapa Kyungsoo yang melamun sendirian.

Kyungsoo berdecak sebal. Apa pria yoda ini tidak punya kerja lain selain menganggu hidupku? Memalingkan wajahnya ke samping agar tidak bertatapan dengannya.

"Soo~ apa kau sudah siap tugasan dari Choi songsaengnim?"

"Aku tidak peduli apa ada tugasan atau tidak. Jangan gangguku." Kyungsoo tidak tahu kenapa Chanyeol suka sekali menganggunya. Kadang dia capek harus marah terus.

"Kau selalu saja memarahi ku, Kyung. Apa salahku? Aku cuma mau berteman. Tapi... kau selalu saja salah anggap padaku~" Chanyeol membuat nada merajuk.

"Yah! Berhenti merengek. Aku tidak mau berteman sama makhluk menyebalkan seperti dirimu. Nyahlah dariku." Kyungsoo mendorong Chanyeol menjauh darinya tapi Chanyeol masih bersikeras disitu.

"Urmm, maaf." Chanyeol berucap lirih. Dia tahu Kyungsoo itu sangat tertutup orangnya kecuali dengan Luhan. Apa yang Luhan punya, tapi dia tidak ada?

"Aku akan memaafkanmu kalau kau berambus dari hidup ku." Kyungsoo membalasnya datar.

"K-kau... mengugutku?" Kyungsoo menelah ludahnya melihat raut wajah memelas Chanyeol. Dia terlampau tampan untuk melakukan hal begitu.

Chanyeol tersenyum melihat wajah Kyungsoo yang sangat damai walaupun dia selalu bersikap kasar. Dengan gerakan pelan, Chanyeol mengelus punggung tangan Kyungsoo dan mengenggamnya lembut.

DEG... Tubuh Kyungsoo menegang sempurna. Cara Chanyeol mengenggam tangannya membuatkan dia lupa cara untuk bernafas.

"Kau..." cicit Kyungsoo.

"Shh... Kyung, aku benar-benar ingin menjadi kekuatan kepada kelemahanmu. Aku ingin menjadi kesempurnaan dalam kecacatanmu. Aku ingin menjadi senyuman dalam kesedihanmu. Tapi aku tahu, kau lebih mempercayai Luhan ketimbang diriku. Aku mengerti Kyung... tapi kau harus mengerti aku tidak bermaksud sama sekali mencampuri urusan peribadimu."

"Hen-hentikan!" Kyungsoo tidak tahu kenapa dia sedikit ciut dengan cara Chanyeol menuturkannya. Terlihat sangat tulus tapi Kyungsoo tidak mahu terlibat dengan hubungan konyol begini. Matlamat Kyungsoo hanya untuk menghancurkan hidup Kai. Itu saja setelah itu, baru lah dia akan mati dengan tenang.

"Tidak, sebelum aku tahu kenapa kau bersikap begini kepadaku Kyung. Aku tidak akan menganggumu setelah aku tahu alasannya." Chanyeol menatap Kyungsoo seksama. Dia inginkan jawapan. Jawapan yang bisa membuatnya menjauhi Kyungsoo tapi sehingga saat ini dia masih tidak mendapatkannya.

"A-aku tidak kenal kau. Lepaskan aku..." Nada Kyungsoo terdengar bergetar. Tangannya cuba melepaskan dari genggaman Chanyeol.

"Tidak mau... Jebal Kyung, beri aku peluang menjadi temanmu." Chanyeol semakin mengenggam erat jemari Kyungsoo.

"Chan- jangan desak aku!" Akhirnya, Kyungsoo memanggil juga nama Chanyeol dan Chanyeol tidak dapat menahan senyum dibibirnya.

"Aigoo... Akhirnya, kau memanggil namaku juga. Aku tidak menyangka kau mengetahui namaku. Terima kasih Kyung~" Chanyeol mengecup pipi gembul Kyungsoo singkat tapi setelahnya Kyungsoo menatapnya tajam.

"Aku membencimu, jangan merosakkan pertahananku, Park Chanyeol!" Kyungsoo berdesis marah. Pertahanannya runtuh dan sialnya disebabkan oleh pria menyebalkan bernama Chanyeol.

Chanyeol tidak peduli berapa kali Kyungsoo mengatainya brengsek, sialan sekalipun asalkan dia bisa mendapat sosok imut ini. Dia sudah terjatuh pada pesona Kyungsoo dan dia akan memperjuangkannya.

"Disebabkan aku sudah berjaya merosakkan pertahananmu, ayuh kita raikan persahabatan kita..." Chanyeol menyilangkan jemarinya ke jemari Kyungsoo dan menuntunnya.

Kyungsoo masih cuba mencerna apa yang berlaku. Tidak, kau tidak bisa merosakkannya. Aku menahan sebuah hubungan sampai Kai tersiksa tapi kenapa kau merosakkannya.

'Baiklah, aku akan sedikit mengubah diriku. Mungkin menerima kehadiran seorang Chanyeol bisa membuat hidupku sedikit membaik. Entah, tapi hatiku mendesakku menerimanya. Biarkan dia hanya menjadi temanku dan aku hanya perlu mendapatkan Luhan. Setelahnya, membuangnya.'

"Hai Luhannie~" Kyungsoo menyapa mesra Luhan yang sedang menyusun buku-buku di perpustakaan.

"Kyungsoo~" Luhan menghentikan gerak tangannya dan memberi perhatian sepenuhnya kepada Luhan.

"Hyung... apa kau masih sibuk?" Kyungsoo menyandarkan punggungnya di atas salah sebuah meja.

"Tidak. Ada apa Kyungsoo? Tumben sekali kau ke sini?" Luhan ikut mendudukkan dirinya disamping Kyungsoo.

"Aku berpikir untuk ke mall sepulang ini membeli beberapa bahan membuat kue. Kau mau menemaniku sebentar?" Ajak Kyungsoo.

"Aku harus menyiapkan tugasan ku. Kau bisa menunggu ku sebentar?"

Kyungsoo tersenyum sambil mengangguk imut seperti anak kecil yang dijanjikan untuk dibawa ke taman permainan. Membuntuti Luhan sehingga ke meja kosong dan mendudukkan dirinya disamping Luhan.

Tidak sampai lima belas minit, Kyungsoo terlihat tertidur pulas bersandar di pundak Luhan. Walaupun bahu Luhan merasa pegal, dia tidak sampai hati untuk membangun Kyungsoo.

"Kyungie~" Luhan mengusap pelan punggung Kyungsoo menyedarkannya.

"Uhhh..." Kyungsoo mengerjap lucu. Luhan gemas melihatnya. Ingin saja dia mencubit pipi tembam itu.

"Lulu~" Suara serak Kyungsoo membuatkan Luhan menegang. Suaranya sangat seksi.

"I-iya..." Luhan menoleh sebentar sebelum kembali mengemas tas ranselnya.

"A-aku haus..." Luhan seharusnya tahu kalau Kyungsoo sengaja berbuat begitu untuk meruntuhkan pertahanan cinta Luhan tapi Luhan ini terlampau baik untuk berfikiran buruk.

"Sedikit lagi... Selepas ini, kita ke cafe ya. Aku traktir." Dan Kyungsoo hanya tersenyum dengan smirknya.

Usai selesai tugasan, Kyungsoo dan Luhan langsung ke salah sebuah cafe. Mendudukkan diri dipojok sementara pesanan sampai.

"Aku tidak tahu kau suka ke cafe ini. Aku selalu ke cafe ini bersama pacarku, Kyung."

'Jelaslah aku tahu, sialan. Aku tahu semuanya tentang hyungku. Termasuk tentang kau, Xi Luhan.'

"Pacar?! Kau sudah punya pacar? Urm, apa aku tidak punya kesempatan?" Kyungsoo mendesah frustrasi.

"Kyungie~ kalau aku bilang Kai itu pacar aku apa kau akan percaya?"

"K...kai?! Hyungku?" Kyungsoo terkejut. Dia tidak menyangka Luhan akan sejujur ini padanya.

"Hurm... Dan-" Luhan berhenti sebentar. Sebenarnya dia ragu untuk memberitahu Kyungsoo tapi dia tidak mahu Kyungsoo akan semakin membenci hyungnya.

"Janganlah membenci hyungmu. Dia sangat menyayangimu, Kyung." Luhan berucap lirih.

"Jeongmal?!" Bodohnya Kyungsoo kalau kau mempercayai ucapan Luhan barusan. Sudah jelas Kai meninggalkannya.

"Ya Kyung... Aku mohon jangan membenci hyungmu. Dia punya alasan kenapa dia meninggalkan dirimu." Luhan bergumam pelan. Dia tidak mahu Kyungsoo semakin membenci hyungnya sebab itu dia memberitahu semuanya.

"Tapi Lu, a-aku hiks... kenapa? Kenapa dia tidak memberitahuku sendiri? Kenapa hiks harus kau? Apa dia tidak mau ketemu sama aku? Hiks..." Kyungsoo terisak. Dia benci terima kenyataan ini. Biarkan dia menjadi egois kali ini.

"Tidak sayang. Aku juga tidak tahu alasannya Kyung. Jebal, jangan membenci hyungmu. Dia mencintaimu." Luhan menepuk pundak Kyungsoo saat Kyungsoo mengertap rahangnya keras. Dia tahu Kyungsoo melalui fasa yang menyakitkan dan dia tidak mahu Kyungsoo tersakiti lagi.

"Tenanglah, aku akan sentiasa ada disisi kau Kyung."

Kyungsoo tersenyum palsu. Setelah, Kyungsoo hanya termenung memikirkan rencana seterusnya kerana baginya apa yang sudah diperbuat olehnya harus diselesaikan. Tidak peduli apa cara sekalipun.

TBC...

Apa aku harus membuat watak Kyungsoo disini sangat kejam? Dan pada akhirnya akan menyerah dengan perasaannya? Dan apa kalian tidak keberatan kalau Kyungsoo bakal jadi seme? Kerana menurutku, Kyungsoo gak pantas untuk menjadi seme kerana dia sangat imut. Haha, aku gak bisa bayangkan kalau dia jadi seme feelnya gak bakalan sampai nih.

Alurnya juga aku pikir berantakan sih. Dan perjalanan ceritanya kaya gak jelaskan? Aku mengetiknya udah setengah lalu aku pikir setiap scenenya seperti membosankan. Apa kalian merasa chap ini sangat panjang??

Maaf kalau ff ini gak seperti yang kalian bayangkan. Aku cuma mencuba sesuatu yang baru menurutku. Untuk genre ini, sebenarnya aku gak punya idea tapi aku akan mengambil ini sebagai satu cabaran untukku.

Terima kasih untuk kalian yang sudah ngefavourite dan ngefollow ff ini. Dan untuk kalian yang ngereview ff ini juga, aku berterima kasih sekali. Hehehe... Harap kalian dapat kasi saran, sokongan, dokongan, kritikan, cadangan untuk chap ini. apa aja deh asalkan buat aku semangat nulisnya.

Last REVIEW!!! Tunggu aku di chap selanjutnya... Da~